Ciri-Ciri Dai Sesat

October 20th 2010 by Abu Muawiah |

12 Dzulqa’dah

Ciri-Ciri Dai Sesat

Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu anhuma berkata:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan sementara aku biasa bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan aku terkena keburukan itu. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu kami dalam masa jahiliah dan keburukan, lantas Allah datang dengan membawa kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi?” Nabi menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Apakah sesudah keburukan itu akan ada kebaikan lagi?” Beliau menjawab, “Ya, tapi ketika itu sudah ada kabut.” Saya bertanya, “Apa yang anda maksud dengan kabut itu?” Beliau menjawab, “Adanya sebuah kaum yang memberikan petunjuk dengan selain petunjuk yang aku bawa. Engkau kenal mereka namun pada saat yang sama engkau juga mengingkarinya.” Saya bertanya, “Adakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan lagi?” Nabi menjawab, “Ya, yaitu adanya dai-dai yang menyeru menuju pintu jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka, niscaya mereka akan menghempaskan orang itu ke dalam jahannam.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, tolong beritahukanlah kami tentang ciri-ciri mereka!” Nabi menjawab, “Mereka memiliki kulit seperti kulit kita, juga berbicara dengan bahasa kita.” Saya bertanya, “Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu?” Nabi menjawab, “Hendaklah kamu selalu bersama jamaah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka!” Aku bertanya, “Kalau pada waktu itu tidak ada jamaah kaum muslimin dan imam bagaimana?” Nabi menjawab, “Hendaklah kamu jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok) itu, sekalipun kamu menggigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu dalam keadaan kamu tetap seperti itu.” (HR. Al-Bukhari no. 7084 dan Muslim no. 1847)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ: إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuatkan kami satu garis kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau menggaris beberapa garis dari sebelah kanan dan sebelah kirinya, lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalan-jalan, yang pada setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat, “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” (HR. Ahmad no. 4143 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/59)

Penjelasan ringkas:
Jalan Allah Ta’ala adalah satu lagi tidak berbilang dan lurus lagi tidak ada kebengkokan padanya. Dan satu jalan ini telah dipaparkan secara jelas dan tegas oleh Allah dan Rasul-Nya dalam wahyu yang diturunkan kepada manusia. Di sisi lain, jalan setan dan kesesatan jauh lebih banyak dan beraneka ragam, karenanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya juga telah menjelaskannya dengan penjelasan yang gamblang, sebagaimana ketika menjelaskan jalan Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dari semua jalan yang ada, hanya satu jalan yang bermuara kepada surga sementara jalan lainnya merupakan pintu-pintu untuk memasuki neraka jahannam.

Kenyataan ini diperparah bahwa ternyata pintu-pintu jahannam ini tidak dipampangkan begitu saja, akan tetapi ada dai-dai yang lahiriahnya mengajak kepada Islam akan tetapi hakikatnya dia mengajak kepada kemaksiatan dan bid’ah. Sehingga siapa saja yang menerima seruan dai semacam ini maka dai ini akan mendorong mereka untuk masuk ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billah.

Akan tetapi bukan Islam namanya jika menyebutkan masalah tapi tidak menyebutkan solusinya. Pada kedua hadits di atas tersurat dan tersirat solusi agar setiap muslim bisa selamat dari banyaknya jalan kesesatan dan bisa menempuh satu jalan yang benar tersebut. Solusinya adalah berpeganga teguh dan senantiasa bersatu bersama keumuman kaum muslimin serta tetap mendengar dan taat kepada penguasa mereka ketika itu. Kalaupun ketika itu kaum muslimin tidak mempunyai pemimpin, maka yang Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menganjurkan mereka untuk berebut kepemimpinan, akan tetapi beliau memerintahkan mereka untuk menjauhi semua sekte, kelompok, komunitas yang ada dan hanya beribadah kepada Allah Ta’ala di rumahnya tanpa berpihak atau condong kepada pihak manapun.

Sebagai tambahan, ketika Imam Ahmad ditanya tentang siapakah pemimpin dalam suatu negara? Maka beliau menjawab, “Dia adalah orang yang jika penduduk negeri tersebut ditanya siapa pemimpin mereka maka mereka akan menunjuk orang tersebut.” Maka dengan demikian pemimpin di setiap negara adalah kepala negaranya, batillah setiap kepemimpinan selainnya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, October 20th, 2010 at 4:41 pm and is filed under Manhaj, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

9 responses about “Ciri-Ciri Dai Sesat”

  1. orang awam said:

    Assalamu’alaikum.
    Afwan, buat awam kaya saya, ciri-cirinya tidak terlalu jelas dalam tulisan ini. Paling kalimat “ada dai-dai yang lahiriahnya mengajak kepada Islam akan tetapi hakikatnya dia mengajak kepada kemaksiatan dan bid’ah” yang bisa ditangkap tapi sekalil lagi bagi awam mesti ada penjelasan lagi ttg mereka.
    minimal ada penjelasan dalam satu tulisan ini apa itu dai yg sebenarnya? bagaimana penerapan istilah ini di indonesia? apa itu bid’ah ? batasannya ? memang ada DAI yang ngajak maksiat ? gitu deh kurang lebih.

    barokallahu fikum

    Waalaikumussalam
    Terima kasih atas sarannya, sebagiannya sudah kami bahas dalam artikel-artikel yang telah lalu. Sisanya insya Allah menyusul pada tempatnya.

  2. Titi said:

    Assalaamu’alaikum warahmatulloh..
    Bagaimana dengan ‘tayangan rohani’ di televisi yang banyak sekali peminatnya, yaitu acara pengobatan atau konsultasi kesehatan (saya juga kurang paham) mungkin dua2nya. Di majelis itu banyak jamaah berkonsultasi dng sang ustadz mengenai penyakitnya/penyakit orang lain dan ingin sang ustadz menasihati/mengobati(?)Jika ada seorang jamaah menanyakan ttng penyakitnya, kemudian dengan ceramah yang penuh guyonan/gurauan sang ustadz berkata (‘menebak’/seolah-olah tahu apa yang pernah dialami di masa lalu oleh si penanya) di depan para jamaah bahwa si penanya dulunya sering ini itu, penanya mudah ini itu, penanya suka ini itu, dan dibenarkan oleh si penanya. Kemudian sang ustadz mengatakan bahwa penyakit yg diderita adalah karena kebiasaan2 si penanya di masa lalu yang tadi di’tebak’nya. Kemudian si penanya disuruh taubat sebenar2nya (taubat nashuha), dan pada waktu itu juga sang ustadz bertanya pada si penanya, bagaimana dengan sakitnya, apakah sudah berkurang, dan dibenarkan oleh si penanya tadi.
    Bagaimana menurut pandangan ustadz mengenai hal ini? Terima kasih, jazakalloh khoyron..

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Sudah dimaklumi bersama bahwa dosa-dosa itu selain melemahkan jiwa juga melemahkan tubuh sehingga bisa menyebabkan penyakit. Hanya saja kalau suatu dosa dikhususkan menjadi penyebab penyakit tertentu tanpa ada pembuktian dari sisi medis maka itu lebih mendekati tathayyur/pamali. Dan sudah jelas dalam hadits-hadits yang shahih bahwa thiyarah/pamali adalah syirik kecil, wallahu A’lam.

  3. Ciri – ciri Da’i Sesat ! « lulungu said:

    […] Sumber: http://al-atsariyyah.com/ciri-ciri-dai-sesat.html […]

  4. Fahrul said:

    Assalamu`alaikum
    Kok ana jadi malas ya menuntut ilmu di kajian salaf baik internet maupun kajian rutin setiap hari ribut aja antr ustadz dan saling membanth yng sati bilang kalian sururi dan satu lagi bilang loh kalian kok jadi sembarngan nuduh sururi karena hanya bermuamlah dengan sebuah yayasan Kuwait sih. Pusing2 akh ustadz gmana nih?

    Waalaikumussalam.
    Kenapa harus pusing, itukan bukan masalah kita. Yang menjadi masalah kita sebagai penuntut ilmu adalah belajar. Insya Allah kita tidak berdosa kalau tidak ikut2an mentahdzir tapi sudah dipastikan kita berdosa kalau tidak menuntut ilmu yang benar.

  5. Juhandi Yahya said:

    Semoga Allah merahmati kita semua dengan istiqomah dijalan-NYa…

    amiin

  6. cinta Hidayah said:

    alhamdulillah ana setuju tapi ada kejanggalan,bagai mana jika pemimpin yg dipilih adalah akibat dari kebodohan thd agama sehingga memilih pemimpin serta berhukumnya dengan selain yg datang dari wahyu.apakah kita tetap taat,atau kita berlepas diri ,

    Ia tetap wajib mendengar dan taat walaupun pemimpinnya bodoh terhadap agama. Kecuali jika dia memerintahkan maksiat maka tidak ada ketaatan kepadanya.

  7. zhori666 said:

    izin kopas (beserta link)

    jazakumullah khair

  8. abu muhammad said:

    assalaamu’alaikum ustadz,saya izin copy paste. jazaakallahukhoir.

  9. abu abdirrahman said:

    السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

    Alhamdulillaah, kolom komentar sudah diaktifkan. Saya mau bertanya mengenai perkataan Imam Ahmad di atas mengenai pemimpin. Boleh tahu sumbernya, ustadz?

    جزاك الله خيرا

    waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Kami sudah sering mendengarkan ucapan ini dr guru kami, ust. Dzulqarnain hafizhahullah. Qaddarallah sampai skrg kami blum menemukan referensinya. Wallahu A’lam.