Celakanya Para Pelawak

June 17th 2010 by Abu Muawiah |

04 Rajab

Celakanya Para Pelawak

Dari Abdullah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata:
دَعَتْنِي أُمِّي يَوْمًا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ فِي بَيْتِنَا فَقَالَتْ هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ قَالَتْ أُعْطِيهِ تَمْرًا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ
“Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di dalam rumah kami. Ibuku berkata, “Hai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bertanya kepada ibuku, “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ibuku, “Ketahuilah, jika kamu tidak jadi memberikan sesuatu kepadanya, maka itu akan ditulis sebagai kebohongan atasmu.” (HR. Abu Daud no. 4991 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 748)
Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990, At-Tirmizi no. 2315, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7136)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang (dianggap) berbohong apabila dia menceritakan semua yang dia dengarkan.” (HR. Muslim no. 5)
Abu Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ زَعَمُوا
“Seburuk-buruk bekal yang dimiliki oleh seseorang (dalam berbicara) adalah ungkapan ‘menurut sangkaan mereka’.” (HR. Abu Daud no. 4872 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 866)
Maksudnya: Dia menyampaikan berita kepada orang lain hanya berdasarkan berita yang tidak jelas atau sangkaan-sangkaan orang saja.

Penjelasan ringkas:
Berdusta adalah dosa besar dan telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya pada seluruh keadaan. Baik itu berdusta kepada orang dewasa maupun kepada anak-anak, baik orang yang mendengar belum tahu itu dusta maupun orang yang mendengar sudah tahu itu dusta (misalnya cerita lucu yang semuanya sudah paham kalau cerita itu hanya karangan), baik dustanya menyebabkan orang lain terzhalimin maupun tidak. Semuanya merupakan kedustaan yang diharamkan atas setiap muslim untuk terjatuh di dalamnya.

Di antara kedustaan yang biasa tersebar di tengah-tengah manusia dan dianggap enteng oleh kebanyakan di antara mereka adalah:
1.    Berdusta kepada anak kecil dengan anggapan mereka masih kecil.
Termasuk di dalamnya mengingkari janji kepada anak kecil atau menjawab pertanyaan anak kecil dengan jawaban dusta.

2.    Menceritakan kedustaan kepada orang lain, baik sesuatu yang lucu maupun tidak. Baik di dalamnya mengandung pelajaran yang baik maupun tidak. Semua bentuk cerita fiktif atau karangan atau dongeng atau yang semacamnya tidak boleh diceritakan karena isinya merupakan kejadian yang tidak pernah terjadi, karenanya ceritanya dikatakan kedustaan.
Alasan di dalam kisahnya terdapat pelajaran dan nilai pendidikan tidaklah bisa menjadikan kedustaan itu menjadi halal.

3.    Melawak dengan menceritakan cerita dusta, baik orang yang mendengarnya tertawa maupun tidak, baik pendengar mengira itu adalah cerita sungguhan maupun mereka sudah tahu kalau cerita itu adalah dusta.

4.    Berdusta dalam ucapan keseharian agar dirinya tidak kena marah atau agar dirinya tidak dihina oleh manusia.

5.    Menceritakan semua kabar yang dia dengar. Hal itu karena dalam kehidupan sehari-hari dia pasti akan mendengarkan kabar yang benar dan kabar yang benar. Karenanya tatkala dia menceritakan semua yang dia dengar, maka pasti suatu ketika dia akan terjatuh dalam kedustaan dengan menceritakan kabar yang tidak benar.

6.    Menceritakan sesuatu yang belum jelas sumbernya atau belum jelas benar tidaknya.

Incoming search terms:

  • hukum pelawak
  • azab bagi seorang pelawak yang
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, June 17th, 2010 at 5:14 am and is filed under Akhlak dan Adab, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Celakanya Para Pelawak”

  1. fulan said:

    maaf bertanya lagi
    la terus hukumnya film atau sinetron di televisi (seperti islam ktp atau opera van java gimana….?

    Gimana apanya?

  2. Jagalah Lisanmu! Celakanya Para Pelawak | Artikel Islam said:

    […] http://al-atsariyyah.com/celakanya-para-pelawak.html […]

  3. ibnusunni said:

    “Semua bentuk cerita fiktif atau karangan atau dongeng atau yang semacamnya tidak boleh diceritakan karena isinya merupakan kejadian yang tidak pernah terjadi, karenanya ceritanya dikatakan kedustaan.”

    Saya pernah membaca fatwa syaikh utsaimin tentang bolehnya menceritakan cerita fiktif untuk mengambil pendidikan. Contoh cerita tentang kancil dan buaya…tolong dicek.

    Afwan, kewajiban antum yang mengecek kembali, karena antum yang menisbatkan sesuatu kepada seorang alim.

  4. wahid said:

    Ustadz, bagaimana kalau anak kecil yang bermain boneka. Kadang2 dia bermain peran seakan2 boneka itu adalah adiknya yang bisa disuapi , diajak bicara dan bermain2. Dan kadang juga orang tuanya ikut2 an berperan seakan2 bonekanya tsb bisa berbicara. Apakah permainan yang demikian untuk anak kecil diperbolehkan atau masuk keumuman larangan berbohong ?

    Bermain boneka bagi anak-anak insya Allah dibolehkan dan itu bukanlah bentuk kebohongan.

  5. May said:

    Bagaimana dg novel dan cerpen.? apa hukumnya.? apa termasuk dusta.?

    Jika istrinya murni fiksi dan karangan, maka itu jelas kebohongan.

  6. Fitrah said:

    Assalamu’alaikum..
    Afwan, ana mau tanya, jika kita memberitahukan anak kecil tentang suatu hal yang belum tentu itu benar tapi itu termasuk hal yang baik yang dimana dia akan merasa takut, itu hukumnya bagaimana ?
    Syukran sebelumnya.

    Waalaikumussalam.
    Itu tetap termasuk kebohongan.

  7. Fitri said:

    Wah artikel ini mejawab pertanyaan saya, tentang menceritakan dongeng pada anak2. Saya kira itu berarti mengajarkan kebohongan pada anak ya,,, apalagi ceritanya dibumbui dengan magic2.

    Ya, itu termasuk di dalamnya. Apalagi magic itu hukumnya syirik, sehingga dosanya bertambah besar.