Archive for the 'Zikir & Doa' Category

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

October 30th, 2014 by Abu Muawiah

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak menjaharkan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat sejumlah adab dan etika berkaitan dengan dzikir kepada Allah Ta’âlâ.

Berikut uraiannya.

Pertama: dalam ayat di atas, termaktub perintah untuk berdzikir kepada Allah. Telah berlalu, pada tulisan sebelumnya, berbagai perintah untuk berdzikir beserta keutamaan berdzikir kepada Allah dan besarnya anjuran dalam syariat untuk hal tersebut. Seluruh hal tersebut memberikan pengertian akan pentingnya arti berdzikir dalam kehidupan seorang hamba.

Kedua: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu,” mengukir sebuah etika yang patut dipelihara dalam berdzikir kepada llahi, yaitu dzikir hendaknya dalam diri dan tidak dijaharkan. Yang demikian itu lebih mendekati pintu ikhlas, lebih patut dikabulkan, dan lebih jauh dari kenistaan riya. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Namun, penafsiran kedualah yang lebih tepat berdasarkan dalil kelanjutan ayat “… dan dengan tidak menjaharkan suara,” sebagaimana yang akan diterangkan.

Ketiga: firman-Nya, “dengan merendahkan diri,” mengandung etika indah yang patut mewarnai seluruh ibadah, yaitu hendaknya dzikir dilakukan dengan merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Hal yang demikian lebih mendekati makna ibadah yang mengandung pengertian merendah dan menghinakan diri serta tunduk dan bersimpuh di hadapan-Nya. Dengan menjaga etika ini, seorang hamba akan lebih mewujudkan hakikat penghambaan dan lebih mendekati kesempurnaan rasa tunduk kepada Allah Jallat ‘Azhamatuhu. Kapan saja seorang hamba berpijak di atas kaidah ini dalam seluruh ibadahnya, niscaya ia akan semakin mengenal jati dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, sebagai seorang hamba yang harus bersikap tawadhu dan membuang segala kecongkakan. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | Comments Off

Bolehkah Mendoakan Anak Non Muslim?

January 14th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Bolehkah kita mendoakan anak orang kafir yang baru lahir dan mengucapkan selamat kepada orang tuanya?

Jawab:
Insya Allah tidak mengapa. Kita mendoakan semoga anaknya mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat dengan cara memeluk islam, dan kita doakan semoga anak ini bisa menjadi sebab orang tuanya mendapat hidayah kelak. Atau kita doakan dengan doa-doa kebaikan lainnya. Hal itu karena bagaimana pun juga, asalnya anak ini dilahirkan di atas fitrah.
Lagipula, jika mendoakan orang kafir yang sudah dewasa agar dia mendapatkan hidayah itu diperbolehkan, maka mendoakan bayi orang kafir agar dia mendapat hidayah, itu jelas lebih dibolehkan lagi.
Kemudian patut dicatat, bahwa mendoakan anak mereka dalam kondisi seperti di atas, insya Allah bisa menjadi sarana guna memperlihatkan keindahan adab Islam kpd non muslim. Wallahu a’lam

Category: Seputar Anak, Zikir & Doa | Comments Off

Status Doa Pernikahan dari Nabi kepada Ali dan Fathimah

September 12th, 2013 by Abu Muawiah

Status Doa Pernikahan dari Nabi kepada Ali dan Fathimah

Kisah pernikahan antara Ali dengan Fathimah -radhiallahu anhuma- telah shahih dalam beberapa hadits. Hanya saja yang kami bahas di sini adalah status doa pernikahan yang masyhur di tengah-tengah masyarakat:

جمع الله شملكما ، وأعز جدكما ، وأطاب نسلكما  وجعل نسلكما مفاتيح الرحمة ومعادن الحكمة ، وأمن الأمة ، وبارك الله لكما ، وبارك فيكما ، وبارك عليكما ، وأسعدكما ، وأخرج منكما الكثير الطيب

“Semoga Allah mengumpulkan yang terserak dari kalian berdua, memuliakan usaha kalian, memperbaiki anak keturunan kalian, dan menjadikan anak keturunan kalian sebagai pembuka pintu-pintu rahmat, sumber hikmah, dan keamanan bagi umat. Semoga Allah memberkahi untuk kalian berdua, memberkahi kalian, memberkahi atas kalian, memberikan kebahagiaan kepada kalian, dan memberikan kepada kalian keturunan yang banyak lagi baik.”

Doa semisal di atas diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam At-Talkhish, Abu Al-Hasan Ali bin Syadzan -dan Ibnu Abdil Hadi[1] dari jalannya- dan Ibnu Asakir dari jalur Muhammad bin Nahar bin Abi Al-Mahyah dari Abdul Malik bin Khiyar putra paman Yahya bin Main dari Muhammad bin Dinar dari Husyaim dari Yunus bin Ubaid dari Al-Hasan dari Anas dengan lafazh:

جمع الله شملكما وبارك عليكما  وأخرج منكما صالحا طايبا

زاد في رواية ابن شاذان: وجعل نسلكما مفاتيح الرحمة ومعادن الحكمة

“Semoga Allah mengumpulkan yang terserak dari kalian berdua, memberkahi atas kalian, dan mengeluarkan dari kalian berdua keturunan yang saleh lagi baik.”

Dalam riwayat Ibnu Syadzan ada tambahan, “Dan menjadikan anak keturunan kalian sebagai pembuka pintu-pintu rahmat dan sumber hikmah.”

Dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Qani’ dan selainnya dari jalur Muhammad bin Dinar di atas dari Jabir bin Abdillah. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • semoga alloh mengumpulkan yang terserak

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Zikir & Doa | 1 Comment »

Doa dan Dzikir Duduk Di Antara Dua Khutbah

October 29th, 2012 by Abu Muawiah

Doa dan Dzikir Duduk Di Antara Dua Khutbah

Pertanyaan:

Afwan ustadz, apakah ada doa/dzikir yang shahih yang diucapkan ketika khatib duduk di antara dua khutbah? Mohon pencerahannya ustadz.

Jawaban:

Pada hari Jum’at, ada satu saat yang doa seorang muslim akan mustajab bila mencocoki saat tersebut. Seluruh waktu sepanjang hari Jum’at adalah masa tempat waktu mustajab tersebut diharapkan. Hanya saja, yang paling diharapkan di antara seluruh waktu itu adalah setelah shalat Ashar hingga Maghrib. Demikian kesimpulan waktu mustajab pada Jum’at berdasarkan hadits-hadits shahih dalam hal ini.

Adapun hadits yang menjelaskan bahwa waktu mustajab tersebut adalah pada waktu khutbah, konteksnya adalah, “Waktu itu adalah antara saat imam duduk hingga (pelaksanaan) shalat selesai.” (Diriwayatkan oleh Muslim). Namun, sejumlah ulama, seperti Ad-Dâraquthny, Ahmad, dan selainnya, mengkritik keabsahan hadits itu.

Tiada doa dan dzikir khusus pada saat khatib duduk di antara dua khutbah sebagaimana penegasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan selainnya. Wallahu A’lam.

[source: http://dzulqarnain.net/doa-dab-dzikir-duduk-di-antara-dua-khutbah.html]

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Zikir & Doa | Comments Off

Doa Penting Bagi Para Musafir

August 18th, 2012 by Abu Muawiah

Doa Penting Bagi Para Musafir

Salah satu adab safar yang sering dilupakan oleh para saudara kita, ucapan doa yang disyariatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan diajarkan kepada para sahabat. Doa yang amat dibutuhkan oleh seorang dalam safar dan kehidupannya, baik di dunia, maupun di akhirat.

Seorang ulama tabi’in, Qoza’ah bin Yahya Al-Bashriy -rahimahullah- menuturkan,

قَالَ لِى ابْنُ عُمَرَ هَلُمَّ أُوَدِّعْكَ كَمَا وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

Ibnu Umar pernah berkata kepadaku, “Kemarilah!! Aku akan mengucapkan selamat kepadamu sebagaimana halnya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengucapkan selamat kepadaku,

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kepada Allah agama, amanah dan penutup-penutup amalmu “. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (no. 2600), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok ala Ash-Shohihain (2/97/no. 2476), Ahmad dalam Al-Musnad (2/25/no. 4781) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (49/314-316)]

Hadits yang agung ini mengajarkan kepada kita doa yang amat bermanfaat dalam safar kita, doa perlindungan bagi seorang yang bersafar.

Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata, “Sabdanya, “Aku titipkan kepada Allah…”, ia merupakan permintaan penjagaan titipan. Di dalamnya terdapat semacam penitipan. Seseorang menjadikan agama dan amanahnya sebagai barang titipan. Karena, safar itu di dalamnya manusia akan tertimpa sesuatu berupa perkara yang memberatkan dan rasa takut, sehingga hal itu menjadi sebab bagi penelantaran sebagian urusan agama. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan pertolongan dan taufiq bagi orang yang safar”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/284)] Read the rest of this entry »

Category: Zikir & Doa | 1 Comment »

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

April 10th, 2012 by Abu Muawiah

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

1.    Mengangkat kedua tangan setelah sholat-sholat wajib.
Hal ini termasuk dalam kategori bid’ah jika dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Yang merupakan sunnah setelah sholat-sholat wajib adalah berdzikir dengan beristighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir serta berdo’a dengan do’a-do’a yang warid (dalam sunnah) tanpa mengangkat kedua tangan. Inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangan beliau dalam berdo’a setelah sholat-sholat wajib. Maka perbuatan ini hendaknya tidak dikerjakan karena menyelisihi sunnah dan komitmen (membiasakan) dengannya adalah bid’ah.

2.    Mengangkat (baca: menengadahkan) kedua tangan di tengah-tengah sholat wajib.
Seperti orang yang mengangkat kedua tangannya ketika bangkit dari ruku’ seakan-akan dia sedang qunut, dan yang semisal dengannya. Hal ini termasuk dari perbuatan-perbuatan yang tidak disebutkan dalam sunnah dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah (yang empat) dan tidak pula oleh para sahabat, dan perbuatan apa saja yang seperti ini sifatnya maka dia termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 “Barangsiapa yang memunculkan perkara baru dalam perkara (agama) kami ini, yang perkara ini bukan bagian darinya (agama) maka dia tertolak”. Muttafaqun ‘alaihi
Dan dalam riwayat Muslim.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • zikir yg dikerjakan rasulullah sesudah sholat wajib

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | 13 Comments »

Zikir-Zikir Pagi Dan Petang (Lengkap)

December 24th, 2011 by Abu Muawiah

Zikir-Zikir Pagi Dan Petang

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

“Barang siapa, ketika pagi dan sore, membaca doa: SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dan itu.[1]” (HR. Muslim)

            Dan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا: أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ

“Apabila sore hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan do’a yang berbunyi: “AMSAYNA WA AMSAL MULKU LILLAHI WALHAMDU LILLAH. LAA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU. LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QADIR. RABBI AS`ALUKA KHAYRA MAA FII HADZIHIL LAILAH, WA KHAYRA MAA BA’DAHA. WA A’UDZU BIKA MIN SYARRI MAA FII HADZIHIL LAILAH, WA SYARRI MAA BA’DAHA. RABBI A’UDZU BIKA MINAL KASALI WA SUU`IL KIBARI. RABBI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZABIN FIN NAARI WA ‘ADZABIN FIL QABRI (Kami memasuki sore hari dan pada sore ini jagad raya tetap milik Allah. Segala puji bagi Allah tiada sembahan yang haq selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah semua kekuasaan dan pujian, dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari kebaikan malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada pada malam ini dan kejahatan sesudahnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kesengsaraan di masa tua. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan azab di dalam kubur).”

Apabila pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengucapkan doa tersebut dengan diganti bagian pertamanya menjadi: ASHBAHNA ASHBAHAL MULKU LILLAHI (Kami memasuki pagi hari dan pada pagi hari ini jagad raya dan seisinya adalah milik Allah).[2]” (HR. Muslim)

            Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

قَالَ: وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sayyid al-istighfar (pimpinan doa istighfar) adalah kamu mengucapkan: ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU. ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABUU`U LAKA BIDZANBI FAGHFIRLI. FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ-DZUNUUBA ILLA ANTA (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu).”

Beliau bersabda: “Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.[3]” (HR. Al-Bukhari) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • doa dzikir malam dalam bahasa latin
  • zikirpagi

Category: Fadha`il Al-A'mal, Zikir & Doa | 10 Comments »

Anjuran Memperbanyak Zikir

August 25th, 2011 by Abu Muawiah

25 Ramadhan

Anjuran Memperbanyak Zikir

Zikir dan mengingat Allah adalah amalan yang sangat agung, karenanya Allah Ta’ala telah memerintah kaum mukminin dengannya dan juga memerintah agar mereka memperbanyak berzikir kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكراً كثيراً وسبحوه بكرةً وأصيلاً هو الذي يصلي عليكم وملائكته ليخرجكم من الظلمات إلى النور وكان بالمؤمنين رحيماً
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 41-43)
Allah Ta’ala berfirman:
واذكر ربك في نفسك تضرعاً وخفيه
“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut.” (QS. Al-A’raf: 205)
Dan Allah Ta’ala telah menjadikan zikir kepada Allah merupakan sebab datangnya keberuntungan di dunia dan di akhiart. Allah Ta’ala berfirman:
واذكروا الله كثيراً لعلكم تفلحون
“Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45)
Dan di antara bentuk keberuntungan tersebut adalah ampunan dan pahala yang berlimpah ruah dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
والذاكرين الله كثيراً والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجراً عظيماً
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
Bahkan keberuntungan yang terbesar dari zikir adalah Allah Ta’ala akan balik mengingat diririnya. Dan siapa yang sudah diingat oleh Allah Ta’ala niscaya Dia tidak akan menelantarkannya. Allah Ta’ala berfirman:
فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152) Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day, Zikir & Doa | 1 Comment »

Sebab-Sebab Ditolaknya Doa

August 24th, 2011 by Abu Muawiah

24 Ramadhan

Sebab-Sebab Ditolaknya Doa

Allah Ta’ala berfirman:
ادعوني أستجب لكم
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيبُ دعوة الداعِ إذا دعان
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa doa adalah amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan amalan yang sangat dianjurkan. Dan ini menunjukkan bahwa doa itu adalah ibadah dan amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Karenanya telah shahih dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud no. 1264, At-Tirmizi no. 2895, dan Ibnu Majah no. 3818)
Dan dalam hadits Abu Dzar radhiallahu anhu: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
“Hai hamba-hambaKu, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas dataran yang sama, lalu mereka semua memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuhi permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti air yang melekat pada jarum jika dia dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 4674) Read the rest of this entry »

Category: Quote of the Day, Zikir & Doa | 9 Comments »

Jika Lupa Membaca Zikir di Awal Amalan

July 20th, 2011 by Abu Muawiah

Jika Lupa Membaca Zikir di Awal Amalan

Tanya:
Bismillah. Afwan ust yg mdh2n Alloh beri barokah atas ilmu krn mndakwahknnya.
Ana  bertnya ttg hadits u mmbc klmt ‘bismillah fi awali wa akhiri’ jk qt lupa mmbc bismillah di awal makan, ap ucapan tsb jg brlaku untuk amalan lain? Syukron jawabannya, smg Alloh beri banyak kebaikan untuk para ustadz
Zul [um_muadz@yahoo.com]

Jawab:
Dari Aisyah radliallahu ‘anh, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebutkan nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan: BISMILLAAHI AWWALAHU WA AAKHIRAHU (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).” (HR. Abu Daud no. 3767, At-Tirmizi no. 1858, Ibnu Majah no. 3264, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Nampak jelas dalam hadits di atas bahwa zikir tersebut hanya dikhususkan bagi mereka yang lupa membaca basmalah di awal makannya. Karenanya tidak disyariatkan untuk membaca zikir di atas pada amalan-amalan lain selain makan, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan keumuman tersebut. Wallahu a’lam.

Category: Akhlak dan Adab, Jawaban Pertanyaan, Zikir & Doa | Comments Off