Archive for the 'Nawaqidh al Islam' Category

Pembatal Islam Kedua: Beribadah Kepada Perantara

October 27th, 2014 by Abu Muawiah

asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

Pembatal Islam Kedua:
Siapa saja yg mengangkat perantara antara dirinya dgn Allah, dimana dia berdoa kpd perantara itu, memohon syafaat kpd mereka, dan bertawakal kpd mereka, maka dia telah kafir berdasarkan ijma’.

 

Syarh asy Syaikh Sa’ad al Qahthani:

Pembatal Islam (kedua) ini sebenarnya sudah termasuk dalam kategori pembatal Islam yang pertama, karena pembatal Islam kedua ini juga merupakan kesyirikan.
Namun penulis rahimahullah menjadikannya pembatal Islam yang berdiri sendiri karena urgennya hal ini dan karena sangat seringnya pembatal ini terjadi di tengah-tengah kaum muslimin.

Ucapan penulis:
Siapa saja yang mengangkat perantara antara dirinya dengan Allah.

Perantara dalam hal ini ada 2 macam:

Yang Pertama: Bermakna penyampaian risalah.
Yaitu anda mengangkat seorang perantara antara anda dengan Allah dalam penyampaian risalah. Perantara yang dimaksud di sini adalah para rasul dan para nabi yang menjadi perantara antara manusia dengan Rabb mereka.
Perantara seperti ini adalah benar adanya, dan ditunjukkan oleh al Kitab dan as Sunnah. Hal itu karena kita tidak akan bisa mengetahui apa yang datang dari Allah kecuali dengan perantaraan para rasul. Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.” (QS. al Hajj: 75)
Mereka yang Allah pilih ini adalah para perantara antara kita dengan-Nya dalam penyampaian risalah.

Ibnu Taimiah berkata, “Di antara perkara yang disepakati oleh semua penganut agama; kaum muslimin, Yahudi, dan Nashrani adalah: Penetapan adanya para perantara antara antara Allah dengan para hamba-Nya. Mereka adalah para rasul yang menyampaikan perintah dan kabar dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.” (QS. al Hajj: 75)
Karenanya siapa saja yang mengingkari perantara semacam ini, maka dia telah kafir berdasarkan kesepakatan semua penganut agama.”
(Majmù’ al Fatàwa: 1/122 dengan sedikit perubahan) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Pembatal Islam Kedua: Beribadah Kepada Perantara

Nazar dan Menyembelih Adalah Ibadah

October 21st, 2014 by Abu Muawiah

Ucapan penulis: Bernazar untuk mereka.

Maksudnya: Termasuk kesyirikan adalah bernazar untuk selain Allah. Hal itu karena nazar adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Nazar adalah ibadah karena Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang memenuhi nazar. Allah Subhanah berfirman:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. al Insan: 7)

Asy Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas:
“Allah memuji mereka yang memenuhi nadzar, sementara Allah tidaklah memuji suatu amalan kecuali amalan itu adalah amalan yang wajib atau sunnah atau berupa perbuatan meninggalkan yang haram. Dan Allah tidaklah memuji suatu amalan jika itu adalah amalan yang mubah. Pujian ini menunjukkan bahwa amalan itu adalah ibadah. Karenanya siapa saja yang mempersembahkan amalan itu untuk selain Allah dalam rangka bertaqarrub kepadanya, maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.”
(Taysìr al azìz al hamìd hal. 203)

Ibnu Utsaimin berkata tentang ayat ini:
“Allah Ta’ala memuji mereka karena hal itu (memenuhi nazar, penj.) dan menjadikan itu sebagai sebab masuknya mereka ke dalam surga. Sementara tidak ada amalan yang menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam msurga kecuali amalan itu adalah ibadah. Sehingga ini menunjukkan bahwa mempersembahkan nazar untuk selain Allah adalah kesyirikan.”
(al Qaul al Mufid: 1/317) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Nazar dan Menyembelih Adalah Ibadah

Tipuan Setan: Batu dan Kubur yang Berbicara

October 15th, 2014 by Abu Muawiah

Ucapan penulis: Beristighatsah kepada mereka.

Maksudnya: Termasuk syirik adalah seseorang beristighatsah kepada selain Allah.

Istighatsah adalah memohon bantuan dalam meraih suatu kebaikan atau mencegah terjadinya suatu keburukan. Dan istighatsah ini adalah ibadah yang tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.

Namun harus dibatasi bahwa istighatsah nanti menjadi kesyirikan jika permohonannya adalah sesuatu yang selain Allah itu tidak mampu untuk memenuhinya, baik karena selain Allah itu sudah wafat atau karena dia tidak berada di dekat orang yang beristighatsah atau memang pertolongan yang diharapkan tidak ada yang bisa mewujudkannya selain Allah.

Ibnu Taimiah berkata:
“Setelah kita mengetahui agama yang dibawa oleh ar Rasul, kita tentu mengetahui secara pasti bahwa ar Rasul tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya agar mereka berdoa kepada orang yang telah wafat atau kepada para nabi atau kepada orang-orang saleh atau selainnya. Beliau tdak pernah mensyariatkan kepada mereka untuk berdoa, baik dengan lafazh istighatsah atau selainnya, maupun dengan lafazh isti’adzah atau selainnya. Demikian halnya beliau tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya untuk sujud kepada orang yang telah wafat maupun kepada orang yang masih hidup, dan amalan kesyirikian semacamnya. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Tipuan Setan: Batu dan Kubur yang Berbicara

Doa Adalah Ibadah

October 3rd, 2014 by Abu Muawiah

Contoh-Contoh Syirik yang Tersebar:

Ucapan penulis: Di antara bentuk kesyirikan dalam ibadah adalah berdoa kepada orangorang yang telah wafat.

Maksudnya: Di antara bentuk kesyirikan adalah berdoa kepada selain Allah. Hal itu karena doa adalah ibadah, yang tidak mungkin dilakukan kecuali disertai dengan perasaan cinta, pengagungan, perasaan butuh, perendahan diri, dan keyakinan bahwa tempat kita berdoa mampu mengabulkan doa.
Dan maksud doa di sini adalah: Permintaan

Ibnu Taimiah berkata, “Maka siapa saja yang berlebihan dalam mengkultuskan orang yang masih hidup atau seorang yang saleh, dengan menyematkan kepada mereka sifat-sifat uluhiah (sembahan, penj.), misalnya dia mengatakan: Wahai sayyid fulan ampunilah aku, atau rahmatilah aku, atau tolonglah aku, atau berilah rezki kepadaku, atau bantulah aku, atau lindungilah aku, atau aku bertawakal kepadamu, atau engkaulah pemberi kecukupan kepadaku, atau aku dalam kecukupan darimu, atau ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan semacamnya yang merupakan hak-hak eksklusif rububiah (ketuhanan, penj.), yang tidak pantas disematkan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Semua amalan di atas adalah kesyirikan dan kesesatan, yang pelakunya wajib disuruh bertaubat. Jika dia bertaubat maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak maka dia harus dijatuhi hukuman mati. Hal itu karena tidaklah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci kecuali agar kita menyembah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan agar kita tidak mengangkat sembahan lain selain Allah.” (Majmu’ al Fatawa: 3/395) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Doa Adalah Ibadah

Riya dan Sum’ah

September 24th, 2014 by Abu Muawiah

Bentuk Kedua: Syirik Ashghar yang Khafi (tersembunyi).

Bentuk ini ada 2 jenis:

Pertama: Riya.

Riya ada 2 hukumnya:
1. Syirik Akbar.
Yaitu riya yang dilakukan oleh kaum munafik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142)

2. Syirik Kecil.
Seperti beribadah karena mengharapkan pujian orang lain, sehingga tujuan dia dalam beribadah adalah selain Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

أخوفُ ما أخافُ عليكم الشركُ الأصغرُ. فسئل عنه فقال: الرياءُ

“Perkara yang paling saya takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Beliau ditanya tentang itu, maka beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad: 5/428 dengan sanad yang shahih) Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Riya dan Sum’ah

Syirik Kecil

September 15th, 2014 by Abu Muawiah

Jenis Kedua: Syirik Ashghar (Kecil)

Syirik ini ada 2 bentuk:

Bentuk Pertama: Syirik Ashghar yang Zahir (Nampak)

Ini terjadi pada 3 perkara:

Hal Pertama: Syirik Dalam Rububiah

Syirik ini mencakup 3 perkara:

Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti meyakini sesuatu sebagai sebab dalam menolak mudarat atau dalam meraih manfaat, padahal sebenarnya sesuatu itu bukanlah sebab.
Ibnu Utsaimin berkata, “Barangsiapa yang meyakini sesuatu sebagai sebab (padahal bukan, penj.) -walaupun dia meyakini bukan sesuatu itu yang mewujudkan keinginan- maka dia telah berbuat syirik kecil. Hal itu karena tatkala dia meyakini sesuatu sebagai sebab padahal sebenarnya dia bukanlah sebab, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah Ta’ala dalam menghukumi sesuatu itu sebagai sebab, karena Allah Ta’ala tidak pernah menetapkan sesuatu itu sebagai sebab.” (al Qaul al Mufid: 1/208)

Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti orang yang mengenakan jimat atau mengenakan gelang atau benang atau yang semacamnya guna mengangkat atau mencegah bala bencana. Hal itu karena siapa saja yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, padahal Allah tidak pernah menjadikannya sebagai sebab, baik menurut syar’i maupun menurut kauni, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah.

Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Semisal menyandarkan turunnya hujan kepada (rotasi) bintang-bintang, walaupun dia masih meyakini bahwa yang menurunkan hujan sebenarnya adalah Allah Azza wa Jalla. Seperti mengatakan: Jika bintang ini sudah terbenam, maka hujan akan turun. Jika bintang ini sudah terbit, maka hujan akan turun. Sehingga mereka menisbatkan turunnya hujan kepada bintang sebagai sebab, padahal Allah tidak pernah menetapkannya sebagai sebab. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Syirik Kecil

Syirik Akbar

September 6th, 2014 by Abu Muawiah

Pembagian Syirik Kepada Allah:

Nash-nash al Kitab dan as Sunnah menunjukkan bahwa syirik kepada Allah ada 2 jenis:

Jenis Pertama: Syirik Akbar

Syirik ini ada 3 bentuk:

Bentuk Pertama: Syirik Dalam Rububiah.

Syirik dalam rububiah terjadi pada 3 perkara:

Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti keyakinan bahwa ada selain Allah yang mampu mencipta atau menghidupkan atau mematikan atau menguasai atau mengatur alam semesta. Keyakinan ini dihukumi syirik akbar karena semua hal di atas adalah perbuatan yang hanya Allah yang bisa melakukannya, dan karenanya semua perbuatan itu tidak boleh disematkan kepada selainNya.

Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti menggantung jimat, mengenakan gelang (perlindungan, penj.) dan semacamnya. Dimana seseorg meyakini bahwa benda itu lah dengan sendirinya yang mewujudkan apa yg dia inginkan.
Ibnu al Utsaimin berkata, “Jika orang yang mengenakannya meyakini bahwa benda itu dengan sendirinya yang memberikan pengaruh tanpa bantuan Allah maka dia musyrik dengan kesyirikan akbar dalam tauhid rububiah. Hal itu karena dia meyakini adanya pencipta lain bersama Allah.” (Al Qaul al Mufid:1/207)

Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Seperti ucapan bahwa alam ini tidak ada awalnya. Hal itu karena ucapan seperti ini mengandung penolakan terhadap eksistensi Rabb Subhanahu wa Ta’ala dan pengingkaran terhadap al Khaliq Azza wa Jalla. Juga seperti ucapan bahwa semua yang ada adalah satu wujud yg sama, dimana mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah makhluk itu sendiri.

Termasuk syirik bentuk ini adalah kesyirikan sekte al Qadariah yang mengatakan bahwa manusia sendiri lah yang menciptakan perbuatannya tanpa ada kehendak, kemampuan, dan keinginan dari Allah. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Syirik Akbar

Pembatal Pertama: Syirik

August 28th, 2014 by Abu Muawiah

Pembatal Pertama: Syirik

[Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata, memulai penyebutan pembatal keislaman:]

Pertama: Syirik dalam beribadah kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sungguh Allah tidak akan mengampuni kesyirikan terhadapNya, dan Dia mengampuni dosa di bawah daripada itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An Nisa’: 48)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ)

“Sungguh barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka sungguh Allah haramkan surga atasnya dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan tidak ada seorg pun penolong bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Maidah: 72)

Di antara bentuk kesyirikan dlm ibadah adalah berdoa kpd org2 yg telah wafat, beristighatsah kpd mereka, bernadzar untuk mereka, dan menyembelih untuk mereka. Read the rest of this entry »

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Pembatal Pertama: Syirik

Definisi Pembatal Keislaman

August 19th, 2014 by Abu Muawiah

Definisi Pembatal Keislaman

Asy Syaikh Muhammad bin Abdi al Wahhab rahimahullah berkata:

Pembatal-pembatal Islam ada sepuluh.

Syarh:

Penjelasan tentang judul buku ‘نواقض اﻹسلام’
نواقض adalah bentuk plural dari kata ناقض yang bermakna: Perusak.

Islam adalah agama Allah, yang Allah tidak menerima agama lain selainnya. Allah Ta’ala berfirman:

ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه

“Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka agama itu tidak akan diterima darinya.” (QS. Ali Imran: 85)
Definisi Islam adalah: Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya, merealisasikan tauhid itu dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya. (al Ushul ats Tsalatsah hal. 8)

 

Perbedaan antara Islam dengan Iman
Syaikh al Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa makna kata ‘iman’ dan kata ‘islam’ menghimpun semua bagian agama ini. Jika kata ‘iman’ disebutkan bergandengan dengan kata ‘islam’, maka makna ‘islam’ diarahkan kepada amalan2 lahiriah; seperti 2 kalimat syahadat, shalat, zakat, dan haji. Sementara makna ‘iman’ diarahkan kepada keyakinan yang ada di dalam hati, seperti iman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, dan hari akhir. Namun jika kata ‘iman’ disebutkan tersendiri, maka makna kata ‘islam’ sudah tercakup di dalamnya.” (Lihat Majmu’ al Fatawa: 7/5-14)

Sehingga pembatal-pembatal keislaman adalah semua keyakinan atau ucapan atau perbuatan yang menghilangkan dan merusak keislaman.

Kesimpulannya:

Pembatal-pembatal keislaman adalah semua amalan yang membuat seseorang murtad. Pembatal ini bisa berupa ucapan, bisa berupa amalan, bisa berupa keyakinan, dan bisa berupa keragu-raguan. Karenanya, seseorang bisa murtad karena ucapan yang diucapkannya, atau karena amalan yang diamalkannya, atau karena aqidah yang diyakininya, atau karena keraguan yang muncul di dalam hatinya. Pembatal yang bisa mencacati dan merusak aqidah bisa berupa salah satu dari keempat bentuk di atas. (al Qawadih fi al Aqidah hal. 27, karya asy Syaikh Ibnu Baaz)

Category: Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab | Comments Off on Definisi Pembatal Keislaman