Archive for the 'Tanpa Kategori' Category

Buya Hamka: Mereka Memusuhi Wahabi Demi Penguasa Pro Penjajah

December 25th, 2014 by Abu Muawiah

Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan Ummat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh Ummat Islam itu sendiri.

Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?

Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.

Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:

Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Buya Hamka: Mereka Memusuhi Wahabi Demi Penguasa Pro Penjajah

Para Pembaharu Islam Adalah Pewaris Para Nabi yang Sebenarnya

November 18th, 2014 by Abu Muawiah

Dahulu, Bani Israil senantiasa didampingi oleh para nabi, dimana setiap kali seorang nabi meninggal maka dia akan digantikan dengan seorang nabi yang lain. Namun tatkala derajat kenabian ditutup dengan Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam, Allah menjadikan para ulama sebagai pewaris para nabi, yang bertugas untuk memperbaharui ajaran agama umat ini setiap kali bid’ah dan perkara baru dalam agama tersebar luas. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda:
(إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها)
“Sungguh, setiap 100 tahun sekali, Allah mengutus untuk umat ini seseorang yang akan memperbaharui agama mereka.”

Dan di antara para pembaharu itu, yang beliau hidup pada abad XII adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullâh. Saya tidak menyatakan ini hanya berdasarkan perasaan atau sungkan, namun saya katakan: Inilah kenyataan yang ditunjukkan dalam sejarah hidup dan jasa beliau yang terpuji, yang kaum muslimin mempersaksikan pembaharuan beliau yang istimewa dalam bidang akidah. Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Para Pembaharu Islam Adalah Pewaris Para Nabi yang Sebenarnya

Dalang Isu Dibongkarnya Makam Nabi

August 5th, 2014 by Abu Muawiah

Dalang Isu Dibongkarnya Makam Nabi

 

Salam,

Maaf Ustad, apa benar makam Nabi Muhammad SAW mau dibongkar pemerintah Arab Saudi? Mohon pencerahannya. Krn ini sangat meresahkan.

 

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita memohon kepada Allah, semoga Allah menampakkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran, dan memudahkan kita untuk mengikutinya. Dan semoga Allah menampakkan kepada kita kebatilan sebagai kebatilan, dan memudahkan kita untuk menjauhinya.

Karena manusia buta adalah manusia yang memandang kebenaran sebagaimana kebatilan dan memandang kebatilan sebagai kebenaran. Kita berlindung kepada Allah dari manusia semacam ini.

Terkait isu pembongkaran makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, banyak pihak yang memanfaatkannya untuk menyudutkan islam dan kaum muslimin. Terutama masyarakat dan pemerintahan ahlus sunah Arab Saudi.

Kami sendiri kesulitan mencari sumber isu ini, dara mana asalnya. Kami belum pernah mendengar informasi dari pemerintah Saudi tentang itu, maupun media yang berkembang di saudi, yang mereka paling tahu tentang situasi di sana. Bahkan beberapa media saudi menyangkal, adanya isu itu. Memang benar akan ada rencana perluasan Masjid Nabawi sebagaimana yang terjadi di masjidil haram. Hanya saja ke arah utama dan melengkapi beberapa ruangan bagian atas. Anda bisa baca beritanya di:

http://www.alarabiya.net/ar/saudi-today/2014/09/03/نقل-قبر-الرسول-دراسة-باحث-وليس-قرار-حكومي.html

atau

http://www.rumonline.net/index.php?page=article&id=175909

Dalam laman itu, juga disebutkan sumber isu pembongkaran makam tersebut. Ternyata, muaranya kembali pada dua situs berita inggris: dailymail dan independent. Keduanya situs milik orang kafir inggris. Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Dalang Isu Dibongkarnya Makam Nabi

Siapa Bilang Peci Hitam Dilarang ?

March 13th, 2013 by Abu Muawiah

Siapa Bilang Peci Hitam Dilarang ?

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ. ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ عِيسَى، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي زُرْعَةَ، عَنِ الْمُهَاجِرِ الشَّامِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ فِي حَدِيثِ شَرِيكٍ يَرْفَعُهُ، قَالَ: ” مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ زَادَ، عَنْ أَبِي عَوَانَةَ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ “،

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، قَالَ: ثَوْبَ مَذَلَّةٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Iisaa[1] : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah[2] (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Iisaa, dar Syariik[3], dari ‘Utsmaan bin Abi Zur’ah[4], dari Al-Muhaajir Asy-Syaamiy[5], dari Ibnu ‘Umar, ia berkata (secara mauquuf) – dan dalam hadits Syariik ia memarfu’kannya – beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa memakai pakaian syuhrah, niscaya Allah akan memakaikan kepadanya pakaian semisal pada hari kiamat” – dan dalam riwayat Abu ‘Awaanah terdapat tambahan : “kemudian akan dibakar padanya di dalam neraka”.

 

Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami, ia berkata : “Yaitu pakaian kehinaan” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4029].

Abu Haatim Ar-Raaziy mentarjih bahwa riwayat mauquuf lebih shahih.[6] ‘Utsmaan bin Abi Zur’ah  dalam periwayatan marfuu’ telah diselisihi oleh Al-Laits bin Abi Sulaim, sedangkan ia seorang yang dla’iif. Oleh karena itu, riwayat marfuu’ ini mahfuudh. Wallaahu a’lam.

Mengomentari hadits di atas, As-Sindiy rahimahullah berkata :

مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا يَقْصِد بِهِ الِاشْتِهَار بَيْن النَّاس ، سَوَاء كَانَ الثَّوْب نَفِيسًا يَلْبَسهُ تَفَاخُرًا بِالدُّنْيَا وَزِينَتهَا ، أَوْ خَسِيسًا يَلْبَسهُ إِظْهَارًا لِلزُّهْدِ وَالرِّيَاء

“Yaitu : Orang yang memakai pakaian dengan tujuan kemasyhuran/kepopuleran di antara manusia. Sama saja, apakah pakaian itu bagus yang dipakai untuk berbangga-bangga dengan dunia dan perhiasannya, atau pakaian itu hina/jelek yang dipakai untuk menampakkan kezuhudan dan riyaa’ (di hadapan manusia)” [Hasyiyyah As-Sindiy ‘alaa Sunan Ibni Maajah, sumber : http://www.yanabi.com/Hadith.aspx?HadithID=30403].

Asy-Syaukaaniy rahimahullah berkata :

قال ابن الأثير : الشهرة ظهور الشيء والمراد أن ثوبه يشتهر بين الناس لمخالفة لونه لألوان ثيابهم فيرفع الناس إليه أبصارهم ويختال عليهم بالعجب والتكبر

“Ibnul-Atsiir berkata : ‘Asy-Syuhrah adalah tampaknya sesuatu. Maksudnya bahwa pakaiannya populer di antara manusia karena warnanya yang berbeda sehingga orang-orang mengangkat pandangan mereka (kepadanya). Dan ia menjadi sombong terhadap mereka karena bangga dan takabur” [Nailul-Authaar, 2/111 – via Syamilah]. Read the rest of this entry »

Category: Syubhat & Jawabannya, Tanpa Kategori | 1 Comment »

Menyoal Kenabian Saudara-saudara Nabi Yusuf -’alaihis salam-

September 2nd, 2012 by Abu Muawiah

Menyoal Kenabian Saudara-saudara Nabi Yusuf -’alaihis salam-

Disebutkan dalam Surah Yusuf bahwa beliau memiliki saudara-saudara yang pernah menyakitinya, lalu mereka bertobat. Permasalahan yang sering muncul, “Apakah saudara-saudara Yusuf adalah para nabi ataukah bukan nabi?!”

Pertanyaan seperti ini pernah dijawab oleh Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy -rahimahullah-,

“Dalam hal saudara-saudara Yusuf –alaihis salam-, terdapat dua pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang dipijaki oleh mayoritas ulama salaf dan kholaf (belakangan) bahwa mereka bukanlah nabi!! Adapun para salaf, maka tak pernah dinukil dari seorang pun diantara mereka yang menyatakan kenabian mereka. Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah.

Aku tak pernah mengetahui hal itu dari seorang pun diantara para tabi’in. Adapun para tabi’ut tabi’in, maka ternukil dari Ibnu Zaid bahwa ia menyatakan tentang kenabian mereka. Ibnu Zaid diikuti oleh sekelompok kecil atas pendapat ini. Namun pendapat ini diingkari oleh mayoritas tabi’ut tabi’in dan orang-orang setelahnya.

Adapun ulama belakangan, maka para ahli tafsir juga bermacam-macam. Diantara mereka ada yang berpendapat seperti pendapatnya Ibnu Zaid, seperti Al-Baghowiy. Diantara mereka ada juga yang serius dalam membantah (pendapat yang menyatakan kenabian mereka), seperti Al-Qurthubiy, Al-Imam Fakhruddin, Ibnu Katsir. Diantara mereka, ada yang hanya sekedar menyebutkan kedua pendapat itu, tanpa menguatkan (diantara salah satu dari kedua pendapat itu), seperti Ibnul Jawziy. Diantara mereka juga, ada yang tidak menyinggung masalah ini. Hanya saja ia menyebutkan sesuatu yang menunjukkan bahwa status mereka bukan nabi, seperti mereka menafsirkan kata “asbath” (الأَسْبَاطُ) bahwa mereka adalah orang-orang yang diangkat jadi nabi dari kalangan Bani Isra’il, seperti Abul Laits As-Samarqondiy dan Al-Wahidiy. Diantara mereka (para ahli tafsir), ada yang tidak menyebutkan sesuatu apapun. Akan tetapi, mereka menafsirkan kata “asbath” bahwa mereka adalah anak-anak Ya’qub. Karenanya, ada orang yang menyangka hal itu sebagai pendapat yang menyatakan kenabian mereka. Padahal yang dimaksudkan tentang mereka adalah anak cucunya, bukan anak kandung Ya’qub sebagaimana akan datang pemaparan hal itu. Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Menyoal Kenabian Saudara-saudara Nabi Yusuf -’alaihis salam-

Mengenal Hakikat Ijma’

April 4th, 2012 by Abu Muawiah

AL-IJMA’ (KONSENSUS ULAMA ISLAM)

Definisi al-Ijma’ (Konsensus Ulama)

al-Ijma’ dalam makna etimologi berarti keinginan kuat dan kemauan keras akan sesuatu.

Sebagaimana makna ini tercakup dalam firman Allah ta’ala,

فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ

“Maka karena itu bulatkanlah keputusan kalian. “ (Yunus: 71)

Dan Nabi r bersabda,

لاَ صِياَمَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّياَمَ مِنْ اللَّيْلِ

“Tidak sah puasa bagi seseorang yang tidak meniatkan puasa dari malam harinya.”[1]

Juga al-Ijma’ dalam tinjauan etimologi bermakna kesepakatan[2].

Adapun definisi al-ijma’ dalam termis para pakar fiqh Islam, yaitu:

اِتِّفاَقُ فُقَهاَءِ العَصْرِ عَلىَ حُكْمِ الحاَدِثَةِ مِنْ الأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ وَلَمْ يَتَقَدَّمْ فِيْهاَ خِلاَفٌ

“Kesepakatan para fuqaha pada sebuah zaman terhadap suatu hukum di antara hukum-hukum syara’ yang terjadi, tanpa di dahului adanya silang pendapat sebelumnya.”[3]

 

Dasar Acuan al-Ijma’

Dasar acuan (mustanad) al-Ijma’ adalah dalil yang mendasar adanya kesepakatan para ulama mujtahidin. Dan dalil tersebut dapat berupa nash dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan juga dapat berupa qiyas (analogi hukum), ‘urf dan selainnya.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Tidaklah saya mengatakan dan tidak juga seorangpun di kalangan ulama : ‘perkara ini perkara yang disepakati’, kecuali pada persoalan anda tidak mendapati seorang alim kecuali dia mengatakan hal tersebut kepada anda dan dia menhikayatkannya dari alim sebelumnya, semisal –tentang- shalat dhuhur empat raka`at, pengharaman khamar dan yang serupa dengan perkara ini …”[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Tidaklah didapati suatu permasalahan yang disepakati, kecuali terdapat penjelasan dari Rasulullah. Hanya saja terkadang penjelasan tersebut tersembunyi bagi sebagian kaum manusia (yaitu sebagian ulama), dan dia mengetahui adanya ijma’ lantas berargumen dengan al-ijma’. Sebagaimana seseorang yang tidak mengetahui inferensi dalil syara’ lalu berdalil dengan nash syara’.

al-Ijma’ adalah dalil kedua setelah nash syara’, sebagaiman beberapa contoh di dalam al-Qur`an. Demikian pula al-Ijma’ adalah dalil yang lain, seperti dikatakan: Hal itu telah ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah dan al-Ijma’.”

Lalu beliau rahimahullah melanjutkan, “Karena segala persoalan yang ditunjukkan oleh al-ijma’, juga al-Kitab dan as-Sunnah telah menunjukkan hal tersebut. Dan segala hukum yang ditunjukkan oleh al-Qur`an, maka Rasulullah r akan menyadur darinya … dan tidaklah di dapat suatu permasalahan yang terdapat ijma’, kecuali pada permasalahan tersebut terdapat nash …”

“Ibnu Jarir dan selain beliau mengatakan: Tidaklah ijma’ menjadi valid kecuali di dasari oleh nash yang mereka –para ulama- kutip dari Rasulullah r seiring dengan pengakuan mereka akan validitas al-qiyas. Dan kami tidak mensyaratkan agar semua ulama mengetahui keberadaan nash syara’. Lalu mereka mengutip nash tersebut secara makna sebagaimana hadits-hadits diriwayatkan, akan tetapi kami telah menelusuri dengan metode al-istiqraa` setiap tempat yang terdapat –klaim- ijma’, hingga kami mendapati seluruhnya terdapat keterangan nash. Dan sebagian besar ulama tidaklah mengetahui keberadaan nash syara’ …”[5] Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | 2 Comments »

Mengenal As-Sunnah

April 2nd, 2012 by Abu Muawiah

Mengenal As-Sunnah

Definis as-Sunnah

Secara etimologi:

الطَّرِيْقَةُ المُعْتاَدَةُ الَّتِيْ يَتَكَرَّرُ العَمَلُ بِمُقْتَضاَهاَ

“Jalan yang telah dikenali/baku karena konsukuensi jalan tersebut telah sering kali di amalkan.”

Makna ini sebagaimana diisyaratkan di dalam al-Qur`an,

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

 “Sunnah Allah pada orang-orang yang telah ada sebelumnya. Dan engkau tidak akan mendapati pengganti pada sunnah Allah tersebut.”  (al-Ahzab: 62)

Dan pemakaian kata `sunnah’ yang berarti jalan/titian berlaku mutlak, yang baik maupun yang buruk[1].

Adapun as-sunnah dalam termis para fuqaha Islam,

ماَ صَدُرَ عَنْ النبي غَيْرِ القُرْآنِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ المُخْتَصُّ بِالأَحْكاَمِ الشَّرِيْعَةِ

“Segala sesuatu yang disadur dari Rasulullah selain al-Qur`an baik berupa ujaran, perbuatan atau pengakuan/taqrir beliau yang khusus seputar al-Ahkam asy-Syariah.”[2]

As-Sunnah sebagai dasar Hukum

Al-Qur`an telah menunjukkan eksistensi as-Sunnah sebagai salah satu dasar hukum syariat. Di antaranya di sebutkan dalam beberapa ayat,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

 “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. “ (al-Ahzab: 34)

Dan firman Allah ta’ala,

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dan dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah.” (al-Jumu’ah: 2)

asy-Syafi’i, Yahya bin Katsir, Qatadah dan selainnya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-hikmah tiada lain adalah as-Sunnah. Karena yang dilantunkan di rumah-rumah Rasulullah r adalah al-Qur`an atau as-Sunnah[3].

Firman Allah ta’ala

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia mengucapkan sesuatu dari hawa nafsu, melainkan tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan –kepadanya-.” (an-Najm: 3-4)

Dan firman-Nya:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sekali-kali tidak demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman hingga mereka menjadi engkau sebagai penentu keputusan atas segala perselisihan diantara mereka. Kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan di dalam diri-diri mereka atas keputusanmu, dan menerimanya dengan sebenar-benar penerimaan.” (an-Nisaa`: 65)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa yang mentaati Rasulullah maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa`: 80)

Dan firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi seorang yang beriman laki-laki dan wanita, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, lalu mereka memiliki pilihan –lain- dari perkara mereka. Dan barang siapa yang berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Dan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya –yaitu Rasulullah- berhati-hati, karena akan ditimpakan kepada mereka fitnah atau akan ditimpakan bagi mereka adzab yang pedih.” (an-Nuur: 63) Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Mengenal As-Sunnah

Nasehat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Kepada Para Pemuda Kaum Muslimin

February 2nd, 2012 by Abu Muawiah

Nasehat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
Kepada Para Pemuda Kaum Muslimin

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du,
Sesungguhnya kita umat Islam, Allah telah mengistimewakan (baca : melebihkan) kita di atas ummat-ummat yang lain bahwasanya kita memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Allah -Ta’ala- berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS. Ali Imran: 110)
Dan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa yang di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaknya ia ubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak sanggup maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim)
Dan Rabb kita telah membebankan (baca: mewajibkan) atas kita agar senantiasa tegak di atas keadilan. Allah -Ta’ala- berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu”. (QS. An-Nisa’ : 135)
Dan Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan dan melarang kita dari tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah -Ta’ala- berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah : 2)
Dan Allah juga memerintahkan jihad dalam rangka menyebarkan dan membela agama Allah, jihad dengan pedang dan tombak. Dan (juga) telah memerintahkan kita untuk berjihad dengan bayan (penjelasan), hujjah (argumen yang kokoh), dan burhan (keterangan dan dalil), dan ini adalah adalah jihadnya para nabi -‘alaihimus salam-.
Allah memerintahkan untuk berlaku jujur dan menjunjung kejujuran serta melarang kita dari dusta dan senantiasa menghindarinya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu mengantar kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantar ke surga dan senantiasa orang itu berlaku jujur dan terus menerus berlaku jujur sehingga dicatat di sisi Allah selaku orang yang jujur. Dan janganlah kalian berlaku dusta, sebab dusta mengantar kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu mengantar kepada neraka, dan senantiasa orang yang berdusta dan terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan beliau telah memperingatkan dari sangkaan dusta, beliau -‘alaihis sholatu wassalam- bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Hati-hati kalian dari berprasangka, karena sangkaan itu adalah ucapan yang paling dusta”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | 1 Comment »

Memberi Kemudahan Adalah Sifat Dasar Syariat Islam

January 5th, 2012 by Abu Muawiah

Memberi Kemudahan Adalah Sifat Dasar Syariat Islam

Ada banyak dalil dari Al-Qur`an dan as-sunnah yang menunjukkan hal ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Juga pada firman Allah Ta’ala:
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu.” (QS. An-Nisa`: 28)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78)

Adapun dari as-sunnah, maka ada beberapa hadits yang menjelaskan tentangnya, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit).” (HR. Al-Bukhari no. 38)
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu secara marfu’:
بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Aku diutus dengan membawa agama yang bertauhid lagi mudah.” (HR. Ahmad: 5/266 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2924)
Dari Abu Qatadah dari seorang Badui yang mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ
“Sebaik-baik perkara agama kalian adalah yang paling mudah urusannya, sungguh sebaik-baik perkara dien kalian adalah yang paling mudah urusannya.” (HR. Ahmad: 3/852 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 124) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • dalil memberi kemudahan

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Memberi Kemudahan Adalah Sifat Dasar Syariat Islam

Tabligh Akbar Masyaikh 2011

June 28th, 2011 by Abu Muawiah

Tabligh Akbar Masyaikh 2011

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu’alaihi wasallam hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, sebuah kabar gembira bagi kaum Muslimin di Indonesia. Pada tahun 1432 H (2011 M) ini, kembali akan dilaksanakan majelis ilmu bersama para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Timur Tengah.

Di antara masyayikh yang insya Allah akan hadir adalah:

1. Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri
2. Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri
3. Asy Syaikh Muhammad Ghalib
4. Asy Syaikh Khalid bin Abdirrahman Jad

Tema: “AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DALAM ISLAM BUKAN ANARKISME”

Adapun pelaksanaannya sebagai berikut:

Hari : Sabtu—Ahad,
Tanggal : 14—15 Sya’ban 1432 H/ 16—17 Juli 2011 M
Waktu : 09.00—selesai
Tempat : Masjid Agung Manunggal, Bantul, Yogyakarta.

Penyelenggara:

Panitia Majelis Ilmu Nasional Ahlus Sunnah wal Jamaah
Jl. Godean KM. 5 Gg. Kenanga 268, Patran Rt.01/01 – Banyuraden-Gamping-Sleman-DI. Yogyakarta
Info Contact: 085747566736 Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Tabligh Akbar Masyaikh 2011