Archive for the 'Tanpa Kategori' Category

Mengenal Hakikat Ijma’

April 4th, 2012 by Abu Muawiah

AL-IJMA’ (KONSENSUS ULAMA ISLAM)

Definisi al-Ijma’ (Konsensus Ulama)

al-Ijma’ dalam makna etimologi berarti keinginan kuat dan kemauan keras akan sesuatu.

Sebagaimana makna ini tercakup dalam firman Allah ta’ala,

فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ

“Maka karena itu bulatkanlah keputusan kalian. “ (Yunus: 71)

Dan Nabi r bersabda,

لاَ صِياَمَ لِمَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّياَمَ مِنْ اللَّيْلِ

“Tidak sah puasa bagi seseorang yang tidak meniatkan puasa dari malam harinya.”[1]

Juga al-Ijma’ dalam tinjauan etimologi bermakna kesepakatan[2].

Adapun definisi al-ijma’ dalam termis para pakar fiqh Islam, yaitu:

اِتِّفاَقُ فُقَهاَءِ العَصْرِ عَلىَ حُكْمِ الحاَدِثَةِ مِنْ الأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ وَلَمْ يَتَقَدَّمْ فِيْهاَ خِلاَفٌ

“Kesepakatan para fuqaha pada sebuah zaman terhadap suatu hukum di antara hukum-hukum syara’ yang terjadi, tanpa di dahului adanya silang pendapat sebelumnya.”[3]

 

Dasar Acuan al-Ijma’

Dasar acuan (mustanad) al-Ijma’ adalah dalil yang mendasar adanya kesepakatan para ulama mujtahidin. Dan dalil tersebut dapat berupa nash dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan juga dapat berupa qiyas (analogi hukum), ‘urf dan selainnya.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Tidaklah saya mengatakan dan tidak juga seorangpun di kalangan ulama : ‘perkara ini perkara yang disepakati’, kecuali pada persoalan anda tidak mendapati seorang alim kecuali dia mengatakan hal tersebut kepada anda dan dia menhikayatkannya dari alim sebelumnya, semisal –tentang- shalat dhuhur empat raka`at, pengharaman khamar dan yang serupa dengan perkara ini …”[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Tidaklah didapati suatu permasalahan yang disepakati, kecuali terdapat penjelasan dari Rasulullah. Hanya saja terkadang penjelasan tersebut tersembunyi bagi sebagian kaum manusia (yaitu sebagian ulama), dan dia mengetahui adanya ijma’ lantas berargumen dengan al-ijma’. Sebagaimana seseorang yang tidak mengetahui inferensi dalil syara’ lalu berdalil dengan nash syara’.

al-Ijma’ adalah dalil kedua setelah nash syara’, sebagaiman beberapa contoh di dalam al-Qur`an. Demikian pula al-Ijma’ adalah dalil yang lain, seperti dikatakan: Hal itu telah ditunjukkan oleh al-Kitab, as-Sunnah dan al-Ijma’.”

Lalu beliau rahimahullah melanjutkan, “Karena segala persoalan yang ditunjukkan oleh al-ijma’, juga al-Kitab dan as-Sunnah telah menunjukkan hal tersebut. Dan segala hukum yang ditunjukkan oleh al-Qur`an, maka Rasulullah r akan menyadur darinya … dan tidaklah di dapat suatu permasalahan yang terdapat ijma’, kecuali pada permasalahan tersebut terdapat nash …”

“Ibnu Jarir dan selain beliau mengatakan: Tidaklah ijma’ menjadi valid kecuali di dasari oleh nash yang mereka –para ulama- kutip dari Rasulullah r seiring dengan pengakuan mereka akan validitas al-qiyas. Dan kami tidak mensyaratkan agar semua ulama mengetahui keberadaan nash syara’. Lalu mereka mengutip nash tersebut secara makna sebagaimana hadits-hadits diriwayatkan, akan tetapi kami telah menelusuri dengan metode al-istiqraa` setiap tempat yang terdapat –klaim- ijma’, hingga kami mendapati seluruhnya terdapat keterangan nash. Dan sebagian besar ulama tidaklah mengetahui keberadaan nash syara’ …”[5] Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • ijma
  • zakat profesi alatsariyyah

Category: Tanpa Kategori | 2 Comments »

Mengenal As-Sunnah

April 2nd, 2012 by Abu Muawiah

Mengenal As-Sunnah

Definis as-Sunnah

Secara etimologi:

الطَّرِيْقَةُ المُعْتاَدَةُ الَّتِيْ يَتَكَرَّرُ العَمَلُ بِمُقْتَضاَهاَ

“Jalan yang telah dikenali/baku karena konsukuensi jalan tersebut telah sering kali di amalkan.”

Makna ini sebagaimana diisyaratkan di dalam al-Qur`an,

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

 “Sunnah Allah pada orang-orang yang telah ada sebelumnya. Dan engkau tidak akan mendapati pengganti pada sunnah Allah tersebut.”  (al-Ahzab: 62)

Dan pemakaian kata `sunnah’ yang berarti jalan/titian berlaku mutlak, yang baik maupun yang buruk[1].

Adapun as-sunnah dalam termis para fuqaha Islam,

ماَ صَدُرَ عَنْ النبي غَيْرِ القُرْآنِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ المُخْتَصُّ بِالأَحْكاَمِ الشَّرِيْعَةِ

“Segala sesuatu yang disadur dari Rasulullah selain al-Qur`an baik berupa ujaran, perbuatan atau pengakuan/taqrir beliau yang khusus seputar al-Ahkam asy-Syariah.”[2]

As-Sunnah sebagai dasar Hukum

Al-Qur`an telah menunjukkan eksistensi as-Sunnah sebagai salah satu dasar hukum syariat. Di antaranya di sebutkan dalam beberapa ayat,

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

 “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. “ (al-Ahzab: 34)

Dan firman Allah ta’ala,

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Dan dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah.” (al-Jumu’ah: 2)

asy-Syafi’i, Yahya bin Katsir, Qatadah dan selainnya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-hikmah tiada lain adalah as-Sunnah. Karena yang dilantunkan di rumah-rumah Rasulullah r adalah al-Qur`an atau as-Sunnah[3].

Firman Allah ta’ala

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia mengucapkan sesuatu dari hawa nafsu, melainkan tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan –kepadanya-.” (an-Najm: 3-4)

Dan firman-Nya:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sekali-kali tidak demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman hingga mereka menjadi engkau sebagai penentu keputusan atas segala perselisihan diantara mereka. Kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan di dalam diri-diri mereka atas keputusanmu, dan menerimanya dengan sebenar-benar penerimaan.” (an-Nisaa`: 65)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa yang mentaati Rasulullah maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa`: 80)

Dan firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi seorang yang beriman laki-laki dan wanita, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, lalu mereka memiliki pilihan –lain- dari perkara mereka. Dan barang siapa yang berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Dan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya –yaitu Rasulullah- berhati-hati, karena akan ditimpakan kepada mereka fitnah atau akan ditimpakan bagi mereka adzab yang pedih.” (an-Nuur: 63) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • mengenal as sunnah

Category: Tanpa Kategori | No Comments »

Nasehat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali Kepada Para Pemuda Kaum Muslimin

February 2nd, 2012 by Abu Muawiah

Nasehat Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali
Kepada Para Pemuda Kaum Muslimin

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau. Amma ba’du,
Sesungguhnya kita umat Islam, Allah telah mengistimewakan (baca : melebihkan) kita di atas ummat-ummat yang lain bahwasanya kita memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Allah -Ta’ala- berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS. Ali Imran: 110)
Dan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa yang di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaknya ia ubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak sanggup maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim)
Dan Rabb kita telah membebankan (baca: mewajibkan) atas kita agar senantiasa tegak di atas keadilan. Allah -Ta’ala- berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu”. (QS. An-Nisa’ : 135)
Dan Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan dan melarang kita dari tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Allah -Ta’ala- berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah : 2)
Dan Allah juga memerintahkan jihad dalam rangka menyebarkan dan membela agama Allah, jihad dengan pedang dan tombak. Dan (juga) telah memerintahkan kita untuk berjihad dengan bayan (penjelasan), hujjah (argumen yang kokoh), dan burhan (keterangan dan dalil), dan ini adalah adalah jihadnya para nabi -’alaihimus salam-.
Allah memerintahkan untuk berlaku jujur dan menjunjung kejujuran serta melarang kita dari dusta dan senantiasa menghindarinya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu mengantar kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantar ke surga dan senantiasa orang itu berlaku jujur dan terus menerus berlaku jujur sehingga dicatat di sisi Allah selaku orang yang jujur. Dan janganlah kalian berlaku dusta, sebab dusta mengantar kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu mengantar kepada neraka, dan senantiasa orang yang berdusta dan terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan beliau telah memperingatkan dari sangkaan dusta, beliau -’alaihis sholatu wassalam- bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Hati-hati kalian dari berprasangka, karena sangkaan itu adalah ucapan yang paling dusta”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • nasehat pemuda

Category: Tanpa Kategori | 1 Comment »

Memberi Kemudahan Adalah Sifat Dasar Syariat Islam

January 5th, 2012 by Abu Muawiah

Memberi Kemudahan Adalah Sifat Dasar Syariat Islam

Ada banyak dalil dari Al-Qur`an dan as-sunnah yang menunjukkan hal ini. Di antaranya firman Allah Ta’ala:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Juga pada firman Allah Ta’ala:
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu.” (QS. An-Nisa`: 28)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78)

Adapun dari as-sunnah, maka ada beberapa hadits yang menjelaskan tentangnya, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit).” (HR. Al-Bukhari no. 38)
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu secara marfu’:
بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Aku diutus dengan membawa agama yang bertauhid lagi mudah.” (HR. Ahmad: 5/266 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2924)
Dari Abu Qatadah dari seorang Badui yang mendengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ
“Sebaik-baik perkara agama kalian adalah yang paling mudah urusannya, sungguh sebaik-baik perkara dien kalian adalah yang paling mudah urusannya.” (HR. Ahmad: 3/852 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 124) Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | No Comments »

Tabligh Akbar Masyaikh 2011

June 28th, 2011 by Abu Muawiah

Tabligh Akbar Masyaikh 2011

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu’alaihi wasallam hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, sebuah kabar gembira bagi kaum Muslimin di Indonesia. Pada tahun 1432 H (2011 M) ini, kembali akan dilaksanakan majelis ilmu bersama para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Timur Tengah.

Di antara masyayikh yang insya Allah akan hadir adalah:

1. Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri
2. Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri
3. Asy Syaikh Muhammad Ghalib
4. Asy Syaikh Khalid bin Abdirrahman Jad

Tema: “AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DALAM ISLAM BUKAN ANARKISME”

Adapun pelaksanaannya sebagai berikut:

Hari : Sabtu—Ahad,
Tanggal : 14—15 Sya’ban 1432 H/ 16—17 Juli 2011 M
Waktu : 09.00—selesai
Tempat : Masjid Agung Manunggal, Bantul, Yogyakarta.

Penyelenggara:

Panitia Majelis Ilmu Nasional Ahlus Sunnah wal Jamaah
Jl. Godean KM. 5 Gg. Kenanga 268, Patran Rt.01/01 – Banyuraden-Gamping-Sleman-DI. Yogyakarta
Info Contact: 085747566736 Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • tabligh akbar

Category: Tanpa Kategori | No Comments »

Tabligh Akbar Nasional Bersama Ulama Ahlussunnah dari Timur Tengah

April 14th, 2010 by Abu Muawiah

Tabligh Akbar Nasional Bersama Ulama Ahlussunnah dari Timur Tengah

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله
وبعد

Segala puji hanya bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan shahabat beliau, serta yang mengikuti jalan beliau hingga hari akhir.

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah semata, tahun ini Allah memberikan kenikmatan kepada kaum muslimin di Indonesia secara khusus dengan rencana kehadiran para ulama dari Timur Tengah, insya Allah.

Kehadiran para ulama ini dikemas dalam acara Kajian Ilmiah Nasional Ahlus Sunnah wal Jamaah yang telah beberapa kali diselenggarakan,
walhamdulillah.

Berikut ini rincian waktu dan tempat pelaksanaannya. Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | 2 Comments »

DAURAH FIQIH NASIONAL

December 28th, 2009 by Abu Muawiah

DAURAH FIQIH NASIONAL
(Makassar, 6-15 Maret 2010 / 1-10 Rabiul Awwal 1431 H)
(Info Update : 28 Desember 2009)

Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | 1 Comment »

Pemuda Dalam Islam

March 27th, 2009 by Abu Muawiah

Pemuda Dalam Islam

Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)
Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda dan para pemuda. Karenanya berikut sedikit keterangan mengenai pemuda dalam pandangan islam. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hadist tentang pemuda
  • hadits tentang pemuda
  • pemuda dalam islam
  • peran pemuda dalam islam
  • hadits pemuda

Category: Tanpa Kategori | 3 Comments »

Info Al-Atsariyyah

December 28th, 2008 by Abu Muawiah

Info Al-Atsariyyah

1. Insya Allah akan segera terbit Jurnal Islami Al-Atsariyyah, yang terbit tiap bulan -insya Allah-.
Ketebalan sekitar 24 halaman yang berisi rubrik: Aqidah, Fiqhi, Mabhats, Ensiklopedia Hadits Lemah, Musthalah Al-Hadits, Ushul Al-Fiqhi, Al-Qawaid Al-Fiqhiah dan Bahasa Arab (Nahwu & Sharaf).

2. Insya Allah sekitar bulan Shafar akan dibuka Ma’had Al-Atsariyyah yang berlokasi di Vila Nusa Indah 2 blok Y13 no. 12, Bojong Kulur, Jati Asih, Bekasi. Info hubungi: 0813 5544 1994 (Abu Muawiah)

Category: Tanpa Kategori | 1 Comment »

Nasehat Akhir Tahun

December 2nd, 2008 by Abu Muawiah

Nasehat Akhir Tahun

Sesungguhnya setiap umat mempunyai hari raya tersendiri yang setiap tahun mereka kembali kepadanya, dimana hari raya tersebut mencerminkan aqidah, akhlak dan prinsip kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Setiap umat, Kami jadikan untuk mereka mansak.” (QS. Al-Hajj: 34) Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan mansak adalah hari raya.

Adapun kita wahai umat Islam, maka kita mempunyai dua hari raya tahunann, tidak ada hari raya yang ketiga bagi kita, yaitu: Idul fithr dan idul adhha. Dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- tiba di Madinah sedangkan mereka ketika itu mempunyai dua hari yang mereka bergembira di dalamnya pada masa jahiliah. Maka Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- bersbada, “Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian hari raya yang lebih baik daripada keduanya: Hari al-adhha dan hari al-fithr.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai) Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | No Comments »