Archive for the 'Tahukah Anda?' Category

Bagaimana Seorang Anak Bisa Mirip Orang Tuanya ?

April 24th, 2013 by Abu Muawiah

Bagaimana Seorang Anak Bisa Mirip Orang Tuanya ?

Jika kita baca ilmu pengetahuan kontemporer, khususnya di bidang biologi dan kesehatan, akan didapatkan beberapa teori yang mencoba menjawab permasalahan di atas. Namun, tahukah Anda bahwa Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas ? Saya ajak Anda – para Pembaca budiman – untuk memperhatikan beberapa hadits berikut :

1.        Hadits Tsauban radliyallaahu ‘anhu.

Ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang permasalahan anak. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

“ماء الرجل أبيض وماء المرأة أصفر. فإذا اجتمعا، فعلا مني الرجل مني المرأة، أَذْكَرَا بإذن الله. وإذا علا مني المرأة مني الرجل، آنثا بإذن الله”

“Air (mani) laki-laki warnanya putih, sedangkan air mani wanita warnanya kekuning-kuningan. Apabila keduanya berkumpul (melalui satu persetubuhan) yang ketika itu air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita, maka anak yang akan lahir adalah laki-laki dengan ijin Allah. Namun apabila air mani wanita mengalahkan air mani laki-laki, maka anak yang akan lahir adalah wanita dengan ijin Allah” [HR. Muslim no. 315, Al-Baihaqiy 1/169, Ibnu Khuzaimah no. 232, dan yang lainnya]. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah, Seputar Anak, Tahukah Anda? | 2 Comments »

Bermain Catur – Playing Chess !!

March 6th, 2013 by Abu Muawiah

Bermain Catur – Playing Chess !!

Tanya : Apa hukum bermain catur ?
Jawab :
Pada asalnya, semua permainan adalah mubah (boleh) selama tidak melalaikan. Fenomena orang yang bermain catur pada umumnya akan tergambar hal-hal sebagai berikut :
1. Menghabiskan waktu dengan sia-sia (dan ini yang utama).
2. Mengundur-undur waktu shalat
3. Mengeluarkan perkataan-perkataan yang kurang terpuji (terutama ketika mengalami kekalahan).
4. (Kadang) disertai dengan judi.

Dari gambaran tersebut, maka dapat diketahui bahwa sebenarnya catur bukanlah merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi jiwa ataupun badan. Atas dasar itu, banyak ulama terdahulu yang sangat membenci permainan catur. Diantaranya adalah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :
وإذا قدر خلوها من ذلك كله ‏(‏يريد الشغل عن الواجبات وفعل المحرمات‏)‏ فالمنقول عن الصحابة المنع من ذلك وصح عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه مر بقوم يلعبون بالشطرنج فقال‏:‏ ‏(‏ما هذه التماثيل التي أنتم لها عاكفون‏)‏ شبههم بالعاكفين على الأصنام كما في المسند عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال‏:‏ ‏(‏شارب الخمر كعابد وثن‏)‏ والخمر والميسر قرينان في كتاب الله تعالى وكذلك النهي عنها معروف عن ابن عمر وغيره من الصحابة‏.‏ والمنقول عن أبي حنيفة وأصحابه وأحمد وأصحابه تحريمها‏.‏ وأما الشافعي فإنه قال‏:‏ أكره اللعب بها للخبر واللعب بالشطرنج والحمام بغير قمار وإن كرهناه أخف حالا من النرد ‏……
“Misalnya kita tetapkan bahwa permainan catur itu bebas dari itu semua – maksudnya tidak melalaikan kewajiban dan tidak akan melakukan hal yang haram – maka larangan perbuatan itu ditetapkan oleh shahabat. Sebagaimana yang shahih dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu, bahwa beliau pernah menjumpai kaum yang sedang bermain catur. Lalu beliau mengatakan : “Mengapa kamu beri’tikaf berdiam merenungi patung-patung ini?”. Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu menyamakan mereka itu seperti orang yang ber-i’tikaf kepada patung, sebagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Syaaribul-khamru ka-‘aabidi watsan” (= Peminum khamr itu seperti penyembah patung). Padahal khamr dan judi itu selalu bergandengan disebut di dalam Al-Qur’an. Demikian itu juga larangan itu dinyatakan oleh Ibnu ‘Umar dan yang lain. Begitu pula yang ternukil dari Abu Hanifah serta shahabatnya, dan Imam Ahmad bersama shahabatnya yang mengharamkan permainan catur. Adapun Asy-Syafi’i beliau pernah berkata : “Permainan yang paling kubenci yaitu obrolan, permainan catur, dan permainan burung dara sekalipun tanpa perjudian. Sekalipun kebencian kami kepada permainan itu lebih ringan daripada permainan dadu….”

Selanjutnya beliau mengatakan :
‏والبيهقي أعلم أصحاب الشافعي بالحديث ذكر إجماع الصحابة على المنع منه – أي الشطرنج – ولم يحك عن الصحابة في ذلك نزاعا ومن نقل عن أحد من الصحابة أنه رخص فيه فهو غالط‏)‏‏.‏‏
“Dan Al-Baihaqi adalah orang yang paling tahu tentang hadits di antara para pengikut Asy-Syafi’iy. Beliau menyebutkan bahwa para shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah sepakat mengharamkan permainan catur ini. Tidak ada seorang pun yang menentang pendapatnya dalam hal ini. Siapa yang mengatakan bahwa ada salah seorang shahabat membolehkan permainan ini, maka itu adalah salah” [Lihat selengkapnya dalam Majmu’ Fatawaa Ibni Taimiyyah 32/216–245]. Read the rest of this entry »

Category: Tahukah Anda? | Comments Off on Bermain Catur – Playing Chess !!

Malaikat Termasuk Laki-Laki ataukah Perempuan ?

December 13th, 2012 by Abu Muawiah

Malaikat Termasuk Laki-Laki ataukah Perempuan

Ada beberapa nash dalam Al-Qur’an yang berkaitan dalam permasalahan ini, yaitu :

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ سُبْحَانَهُ وَلَهُمْ مَا يَشْتَهُونَ

“Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki)” [QS. An-Nahl : 57].

أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلائِكَةِ إِنَاثًا إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلا عَظِيمًا

“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya)” [QS. Al-Israa’ : 40].

فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ * أَمْ خَلَقْنَا الْمَلائِكَةَ إِنَاثًا وَهُمْ شَاهِدُونَ * أَلا إِنَّهُمْ مِنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ * وَلَدَ اللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ * أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ

“Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan (nya)?. Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?” [QS. Ash-Shaaffat : 149-153].

وَجَعَلُوا الْمَلائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban” [QS. Az-Zukhruf : 19].

إِنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلائِكَةَ تَسْمِيَةَ الأنْثَى * وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran” [QS. An-Najm : 27-28].

Sebagian ulama mengambil mafhum mukhalafah dari ayat-ayat di atas dan menyatakan bahwa malaikat adalah laki-laki.

Asy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziiz bin Baaz rahimahullah pernah ditanya :

“Kami membaca dan mendengar dari banyak manusia, buku-buku mereka, dan sya’ir-sya’ir mereka yang mensifatkan dalam buku dan sya’irnya bahwa perawat/bidan itu (seperti) malaikat rahmah. Bagaimana pendapat Anda tentang pensifatan ini, dan apakah diperbolehkan tentang hal tersebut ?. Berilah kami fatwa, jazaakumullahu khairan. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh”. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | Comments Off on Malaikat Termasuk Laki-Laki ataukah Perempuan ?

Matahari Pernah Berhenti

September 5th, 2012 by Abu Muawiah

Matahari Pernah Berhenti

Di antara sejarah yang sudah dilupakan oleh kalangan sejarawan dunia, kisah seorang nabi yang sholih, yaitu Nabi Yusya’ bin Nun -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Disebutkan sejarahnya oleh Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhoriy dalam kitab Shohih-nya dan Imam Muslim juga dalam kitab Shohih-nya bahwa ketika Nabi Yusya’ hendak melakukan jihad melawan kaum kafir yang menguasai Baitul Maqdis, maka ia memberikan nasihat kepada semua pasukannya. Kemudian beliau pun melakukan perjalanan dalam memerangi kaum kafir. Ketika beliau melihat perang belum usai, sedang matahari hampir tenggelam, maka ia pun memohon kepada Allah agar matahari ditahan. Akhirnya, Allah -Azza wa Jalla- menahan matahari sampai Nabi Yusya’ menyelesaikan perang dan mengalahkan kaum kafir.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ لِبَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Sesungguhnya matahari tak pernah ditahan untuk seorang manusia pun, selain untuk Nabi Yusya’ di hari beliau melakukan perjalanan menuju Baitul Maqdis”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/325) dari Abu Hurairah. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 202)]

Ahli Hadits Negeri Yordania, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa matahari tak pernah ditahan (oleh Allah), selain untuk Yusya’ –alaihis salam-. Di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang lemahnya sesuatu yang diriwayatkan bahwa hal itu juga (terjadi) bagi selain beliau”. [Lihat As-Silsilah Ash-Shohihah (no. 202)] Read the rest of this entry »

Category: Tahukah Anda? | Comments Off on Matahari Pernah Berhenti

Sahabat Periwayat Hadits Terbanyak

April 12th, 2012 by Abu Muawiah

Sahabat Periwayat Hadits Terbanyak

Tahukah anda nama-nama sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan hadits? Dan tahukah anda berapa jumlah hadits yang telah mereka riwayatkan?

Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Al-Muntaqa min Fara`id Al-Fawa`id hal. 157-158:

Para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits:
1. Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 5374 hadits.
2. Aisyah radhiallahu anha, beliau meriwayatkan 2210 hadits.
3. Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 2286 hadits.
4. Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 6160 hadits[1].
5. Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 2630 hadits.
6. Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 1540 hadits.
7. Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 1170 hadits.
8. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, beliau meriwayatkan 848 hadits.
9. Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma, beliau meriwayatkan 700 hadits. Read the rest of this entry »

Category: Tahukah Anda? | 1 Comment »

Ucapan ‘Malaikat Kecilku’ Kepada Anak Wanita

January 25th, 2012 by Abu Muawiah

Ucapan ‘Malaikat Kecilku’ Kepada Anak Wanita

Kita biasa mendengarkan seorang ayah atau ibu berkata tentang anak wanitanya dengan mengatakan ‘malaikat kecilku’. Dan tidak jarang kita mendengarkan ucapan ini dari seorang yang beragama Islam.
Akan tetapi tahukah anda bagaimana sebenarnya Islam memandang ucapan seperti di atas?

Berikut penjelasannya secara ringkas:
Menyebut atau memanggil anak wanita dengan ucapan ‘malaikat kecilku’ bukanlah termasuk dari kebiasaan kaum muslimin dari zaman dahulu sampai belakangan, dan sama sekali bukan termasuk dari adab Islam terkhusus dalam perkara memuliakan para malaikat. Karenanya ucapan ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang muslim.

Dalam artikel ‘Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat’ telah kami sebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum menamakan atau menyebut seseorang dengan nama malaikat. Dan di sana kita sebutkan bahwa yang lebih utama adalah menggunakan nama yang lain selain nama malaikat. Maka kalau bernama dengan nama para malaikat saja itu lebih utama ditinggalkan, maka bagaimana lagi jika langsung menyebut seseorang atau anak itu dengan penyebutan ‘malaikat’, maka ini lebih utama untuk dijauhi.

Ditambah lagi, kelihatannya ucapan ‘malaikat kecil’ ini  -wallahu a’lam- berasal dari kebiasaan kaum musyrikin, dimana kebiasaan ini lahir dari aqidah mereka yang rusak terhadap para malaikat. Mereka meyakini bahwasanya para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah Ta’ala -Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan-. Karenanya mungkin dari akidah kafir ini pulalah, mereka menyifati anak-anak wanita mereka dengan sifat ‘malaikat’, wallahu A’lam. Dan memang jika demikian kenyataannya dan asal-muasalnya, maka mengucapkan ucapan ‘malaikat kecil’ kepada anak, bukan lagi menyangkut masalah adab dan kebiasaan, akan tetapi itu sudah merambah sisi aqidah, yang hukum minimal dari hal tersebut adalah syirik lafzhi. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 3 Comments »

Siapakah Ahli Bait?

December 12th, 2011 by Abu Muawiah

Siapakah Ahli Bait?

1. Yang paling pertama masuk ke dalam kategori ahli bait Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah jelas istri-istri beliau, baik istri yang meninggalnya sebelum beliau maupun sebelum beliau radhiallahu anhunna. Istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah:
a. Khadijah bintu Khuwailid.
b. Aisyah bintu Abi Bakar.
c. Saudah bintu Zam’ah.
d. Hafshah bintu Umar.
e. Zainab bintu Khuzaimah.
f. Ummu Salamah Hindun bintu Abi Umayyah.
g. Zainab bintu Jahsy.
h. Juwairiah bintu Al-Harits.
i. Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan.
j. Shafiyah bintu Huyay.
k. Maimunah bintu Al-Harits.
Semoga Allah Ta’ala meridhai mereka seluruhnya.
Dalil bahwa para istri Nabi shallallahu alaihi wasallam termasuk ahli bait adalah ayat ke-33 dari surah Al-Ahzab. Allah Ta’ala berfirman tentang para istri Nabi shallallahu alaihi wasallam:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

”Dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahli bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

2. Termasuk dalam ahli bait beliau adalah seluruh anak-anak keturunan beliau, baik yang meninggal setelah beliau maupun yang meninggal sebelum beliau shallallahu alaihi wasallam. Seperti: Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu dia berkata:

وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: { فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ }. دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَقَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي

“Tatkala turun ayat: “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain lalu bersabda: “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.” (HR. Muslim no. 4420)

3. Termasuk ahli bait yang disebutkan oleh para ulama adalah kerabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dari Bani Hasyim, yaitu: Keluarga Ali bin Abi Thalib,  keluarga Al-Abbas bin Abdil Muththalib, keluarga Ja’far bin Abi Thalib, keluarga Uqail bin Abi Thalib, dan keluarga Al-Harits bin Hisyam bin Abdil Muththalib. Hal ini sebagaimana yang Ini disebutkan oleh sahabat Zaid bin Arqam dalam hadits riwayat Muslim no. 4425

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 1 Comment »

Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

November 30th, 2011 by Abu Muawiah

Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

Pertanyaan:
Bolehkan orang yang dikubur disifati dengan kalimat: ‘Memasuki tempat peristirahatan terakhirnya’ atau kalimat-kalimat semacamnya?

Jawab:
Kita baru saja mendengar kabar-kabar orang yang meninggal yang disiarkan oleh sebagian radio-radio Arab, yaitu dengan menyebutkan nama-nama orang yang meninggal tersebut. Misalnya dalam hal ini dikatakan: Telah meninggal fulan bin fulan dan seterusnya, dan dia akan dibaringkan di tempat peristirahatan terakhirnya pada jam sekian pada hari sekian.
Sudah dari dahulu saya sudah memberikan catatan terhadap ucapan ini dan terkadang saya mengingatkan bahwa ungkapan semacam ini ‘peristirahatan terakhir’ bukanlah termasuk dari ungkapan-ungkapan syar’iyah. Hal itu karena ungkapan seperti ini bisa keluar dari mulut seorang mukmin yang beriman akan adanya kebangkitan dan bisa juga keluar dari mulut seorang mulhid (kafir) yang tidak mengimani adanya kebangkitan.

Hanya saja jika ungkapan seperti ini diucapkan oleh seorang mukmin, maka ungkapan ini sangat kurang. Berbeda halnya jika diucapkan oleh seorang mulhid, maka dia sebenarnya tengah mengungkapkan sendiri penyimpangannya, karena dia tidak mengimani bahwa setelah tempat peristirahatan atau tempat kembali terakhir ini masih ada kehidupan yang lain. Tatkala sudah dipahami bersama bahwa seorang muslim itu harus berbeda dalam seluruh ucapan dan amalannya dari orang-orang yang bertentangan dengannya dalam hal pemikiran dan akidah, maka sudah sepantasnya juga dia wajib untuk menjauhi ungkapan-ungkapan semacam ini, yang mana ungkapan ini mengesankan pengingkaran kepada kebangkitan. Maka sepatutnya dikatakan -misalnya-: ‘Tempat peristirahatan terakhirnya di dalam kubur’ atau ‘di alam barzakh’ atau ungkapan-ungkapan semacamnya, yang jelas harus diberikan pembatasan. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 2 Comments »

Kapan Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram?

November 22nd, 2011 by Abu Muawiah

Kapan Wanita Boleh Safar Tanpa Mahram?

Hukum asal bagi seorang wanita adalah tidak boleh bersafar atau tinggal di suatu tempat yang jaraknya jarak safar, kecuali harus bersama mahramnya. Dan mahram yang dimaksud di sini adalah lelaki dewasa yang tidak boleh dinikahi selama-lamanya. Hanya saja, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, bahwa tidak ada satu hukum atau kaidahpun kecuali pasti ada pengecualian padanya. Dan masalah ini di antaranya.

Nah, tahukah anda, kapan saja seorang wanita boleh melakukan safar tanpa mahram? Berikut kami bawakan ucapan Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata:

“Semua safar walaupun jaraknya dekat, maka seorang wanita wajib ditemani oleh mahramnya. Kecuali pada empat keadaan:
Pertama: Jika mahramnya meninggal di tengah perjalanan, sementara dia telah jauh meninggalkan tempat asalnya.

Kedua: Jika wanita itu wajib berhijrah.

Ketiga: Jika dia berzina sehingga dia dihukum dengan pengasingan (pengusiran), sementara dia tidak mempunyai mahram.

Keempat: Jika hakim mengharuskan untuk mendatangkan dia setelah tuduhan dijatuhkan kepadanya, sementara dia tidak berada di situ ketika itu.”

[Diterjemahkan dari Al-Muntaqa Min Fara`id Al-Fawa`id hal. 44-45]

Sekedar sebagai tambahan penjelasan:
Keadaan kedua dimana ketika dia wajib berhijrah adalah semisal ada wanita yang masuk Islam di negeri kafir, dan terpenuhi padanya kemampuan untuk berhijrah sehingga dia wajib berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam. Hanya saja ketika itu dia tidak mempunyai mahram. Maka dia tetap diwajibkan berhijrah walaupun tanpa disertai mahram.

Keadaan ketiga maksudnya jika wanita itu belum menikah. Karena jika dia telah menikah maka hukum had baginya adalah rajam dan bukan pengasingan.

Category: Muslimah, Tahukah Anda? | 11 Comments »

Membaca Ta’awudz Ketika Melintasi Kuburan

November 18th, 2011 by Abu Muawiah

Membaca Ta’awudz Ketika Melintasi Kuburan

Membaca ta’awudz atau meminta perlindungan kepada Allah ketika melintasi kuburan atau tempat-tempat yang dianggap keramat dan membahayakan, sekilas terkesan merupakan amalan yang disyariatkan bahkan mungkin ada sebagian yang menganggapnya sebagai ibadah. Karenanya ketika seorang muslim -bahkan sebagian penuntut ilmu- mendengar amalan ini maka mereka serta merta akan membenarkannya. Atau bahkan mereka sendiri mungkin mengamalkannya.

Akan tetapi tahukah anda bahwa di dalam amalan ini -yakni membaca ta’awudz ketika lewat atau berada di tempat-tempat menyeramkan- terdapat ‘sesuatu’?

Sebagai catatan pertama terhadap amalan ini kami katakan: Yang menjadi tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika melewati kuburan atau berada di kuburan adalah mengucapkan salam, bukannya membaca ta’awudz. Di antara lafazh salam yang disyariatkan adalah:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

“AS SALAAMU ‘ALAIKUM AHLAD DIYAARI MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN ASALULLAHA LANAA WALAKUMUL ‘AAFIYAH (Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insya Allah akan menyulul kalian semua. Saya memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian keselamatan.” (HR. Muslim no. 1620 dari Buraidah radhiallahu anhu)
Maka berta’awudz ketika melalui atau berada di kuburan adalah menyelisihi sunnah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • boleh tidak jalan melewati kuburan
  • Faedah memberi salam ali kubur

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | 2 Comments »