Archive for the 'Tahukah Anda?' Category

Cara Mengobati Penyakit Lupa

January 18th, 2015 by Abu Muawiah

قال الإمام ابن عثيمين – رحمه الله –

فإن قال قائل هل للنسيان من علاج أو دواء ؟
قلنا : نعم له دواء – بفضل الله – وهي الكتابة ولهذا امتن الله عز وجل على عباده بها فقال : ( اقرأ باسم ربك الذي خلق * خلق الإنسان من علق * اقرأ وربك الأكرم * الذي علم بالقلم )
فقال ” اقرأ ” ثم قال : ” الذي علم بالقلم ” يعني اقرأ من حفظك،فإن لم يكن فمن قلمك فالله تبارك وتعالى بين لنا كيف نداوي هذه العلة،وهي علة النسيان وذلك بأن نداويها بالكتابة

Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
“Jika ada yang bertanya: Apakah sifat lupa itu bisa disembuhkan atau ada obatnya?
Maka kami menjawab: Ya, ada obatnya -dengan keutamaan Allah-, yaitu dengan cara menulisnya. Karenanya Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kemampuan menulis ini kepada para hambaNya. Allah berfirman:
اقرأ باسم ربك الذي خلق * خلق الإنسان من علق * اقرأ وربك الأكرم * الذي علم بالقلم
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal daging. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena.”
Allah berfirman, “Bacalah,” kemudian berfirman, “Yang mengajarkan dengan pena.” Maksudnya: Bacalah dari hafalanmu, dan jika tidak (mampu) maka dari tulisanmu. Allah Tabaraka wa Ta’ala menjelaskan kepada kita bagaimana cara mengobati penyakit ini, yakni penyakit lupa, yaitu kita mengobatinya dengan menulisnya.”
Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Ilmu al-Qur`an, Tahukah Anda? | Comments Off on Cara Mengobati Penyakit Lupa

Manfaat ‘Insya Allah’ Setelah Bersumpah

January 10th, 2015 by Abu Muawiah

قـال الشيخ العلامـة ابن عثيمين – رحمه الله -:

أشير عليكم بأمر مهم !!
وهـو أنـك إذا حلفـت على يميـن فـقـل بعدهـا : ( إن شـاء الله ) ولو لـم يسمعهـا صاحبـك. لأنـك إذا قلـت : إن شـاء اللـه ، يَسَّـر الله لـك الأمـر حتـى تَبـرَّ بيمينـك. وإذا قُـدَّر أنـه مـا حصـل الـذي تريـد فـلا ؛ كَـفَّـارة عليـك .

وهـذه فائـدة عظيمـة. فلـو قلـت مثـلاً لواحـد : واللـه مـا تَذبـح لـي ثـم قلـت بينـك وبيـن نفسـك : ( إن شـاء الله )، ثـم ذبـح لـك ، فـلا عليـك شـيء ، ولا عليـك كفـارة يميـن. وكذلـك أيضـاً بالعكـس.
لو قلت : والله لأذبـح ، ثم قلت بينك وبين نفسك : ( إن شاء الله ) ولـم يسمـع صاحبـك , فإنـه إذا لـم تذبـح فليـس عليـك كفـارة يميـن. لقـول النبي صلى الله عليه وسلم : ” مـن حلف علـى يميـن فقـال : إن شـاء الله لـم يحنـث “

وهـذه فائـدة عظيمـة اجعلهـا علـى لسانـك دائمـاً، حتــى يكـون لـك فائدتـان :
* الفائـدة الأولـى : أن تيـسّـر لـك الأمـور الفائـدة .
* الثانيـة : أنـك إذا حنثـت فـلا تلزمـك كفـارة يميـن .

Asy Syaikh al ‘Allàmah Ibnu Utsaimìn rahimahullah berkata:
Aku ingin menunjukkan kepada kalian satu masalah yang penting!!
Yaitu jika kamu bersumpah, maka ucapkanlah setelahnya ‘insya Allah’ (jika Allah menghendaki), walaupun temanmu tidak mendengarnya. Karena jika kamu mengucapkan ‘insya Allah’, niscaya Allah akan memudahkan urusan itu sehingga kamu akan mampu memenuhi sumpahmu. Namun jika apa yang kamu ingin lakukan dalam sumpahmu ditakdirkan tidak terwujud, maka kamu tidak ada kewajiban membayar kaffarat.
Ini adalah pelajaran yang sangat bermanfaat. Jadi seandainya kamu berkata kepada seseorang, “Demi Allah kamu tidak usah menyembelih untuk aku,” kemudian kamu mengucapkan ‘insya Allah’ (dengan suara pelan) dimana hanya kamu sendiri yang mendengarnya, kemudian ternyata orang itu menyembelih untukmu, maka kamu tidak mempunyai kewajiban apa-apa dan kamu tidak wajib membayar kaffarat. Demikian pula sebaliknya (jika ternyata dia menuruti sumpahmu). Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Tahukah Anda? | Comments Off on Manfaat ‘Insya Allah’ Setelah Bersumpah

Shalat Sunnah 4 Rakaat Setelah Isya

June 24th, 2014 by Abu Muawiah

Shalat Sunnah 4 Rakaat Setelah Isya

Sudah sejak lama kami menerima pertanyaan dari teman-teman mengenai sunnahnya shalat 4 rakaat setelah shalat Isya, dan bahwa pahalanya setara dengan pahala lailatul qadr (demikian yang tertulis dalam chat dan inbox teman-teman yang menanyakan masalah ini). Namun pada saat itu kami tidak menjawab karena memang kami belum mengetahui tentang pahala tersebut. Memang, sudah masyhur dalam riwayat al-Bukhari bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah shalat 4 rakaat setelah shalat isya, dan itu beliau lakukan ketika beliau telah berada di rumah beliau. Namun yang menjadi ganjalan di benak kami waktu itu adalah: Apakah benar pahala shalat sunnah 4 rakaat setelah isya ini setara dengan pahala lailatul qadr?! Demikianlah masalah ini kami biarkan sementara tanpa mengomentari pertanyaan-pertanyaan yang masuk seputar ini, karena memang waktu itu kami belum ada kelapangan untuk mencari tahu tentangnya.
Setelah ada kelapangan, kami mulai mencari pembahasan-pembahasan seputar masalah ini, dan alhamdulillah ada banyak ulama dan penuntut ilmu yang telah berkomentar dalam masalah ini. Setelah mengumpulkan beberapa pembahasan berbahasa arab yang membahas tentangnya, kami awalnya berniat untuk merangkum pembahasan-pembahasan tersebut dalam 1 tulisan ringkas. Namun alhamdulillah, ternyata sudah ada pembahasan ringkas yang ditulis oleh ust. Abu al Jauza` -jazahullahu khairan- yang sudah mewakili sebagian besar dari maksud kami. Karenanya, berikut kami bawakan pembahasan beliau, dan kemudian akan kami tambahkan di akhirnya beberapa point yang tidak sempat dibawakan oleh beliau:

Di antara sunnah yang banyak ditinggalkan kaum muslimin saat ini adalah shalat sunnah empat raka’at setelah ‘Isyaa’. Di antara dasar dalilnya adalah:

حَدَّثَنَا آدَمُ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَكَمُ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا، فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ نَامَ، ثُمَّ قَامَ، ثُمَّ قَالَ: نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا، ثُمَّ قَامَ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ خَطِيطَهُ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “

Telah menceritakan kepada kami Aadam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam, ia berkata : Aku mendengar Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkara : “Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah bin Al-Harits, istri Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam; dan ketika itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumah bibi saya itu. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ‘Isya’ (di masjid), kemudian beliau pulang, lalu beliau mengerjakan shalat sunnah empat raka’at. Setelah itu beliau tidur, lalu beliau bangun dan bertanya : ‘Apakah anak laki-laki itu (Ibnu ‘Abbas) sudah tidur ?’ – atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna dengan itu. Kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau untuk bermakmum. Akan tetapi kemudian beliau menjadikanku berposisi di sebelah kanan beliau. Beliau shalat lima raka’at, kemudian shalat lagi dua raka’at, kemudian beliau tidur. Aku mendengar suara dengkurannya yang samar-samar. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun, lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 117]. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Tahukah Anda? | Comments Off on Shalat Sunnah 4 Rakaat Setelah Isya

Dosa Dilipatgandakan di Bulan Haram

May 3rd, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamu ‘alaikum. Afwan ana mau tanya ustadz, apa keterangan yg shahih kalau kita berbuat zalim di bulan haram dosanya dilipat gandakan? Jazakallah khoir

Jawab:
Waalaikumussalam.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya:
“Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu,” maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana dosa maksiat di negeri al haram juga dilipatgandakan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25) Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Tahukah Anda? | Comments Off on Dosa Dilipatgandakan di Bulan Haram

Istri-Istri Nabi Muhammad

December 25th, 2013 by Abu Muawiah

Istri Rosulullah shollallahu ‘alahi wa sallam ada 11. Berikut cara agar mudah mengingatnya:
1. Ada 4 org yg urutannya sesuai dgn tarikh (yg lbh awal dinikahi oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam):
Khodijah
Saudah
Aisyah
Hafshoh

2. Ada 2 org yg dikenal dgn kun-yah:
Ummu Habibah
Ummu Salamah

3. Ada 2 org yg bernama Zainab:
Zainab bintu Jahsy
Zainab bintu Khuzaimah

4. Kemudian 3 org yg lainnya:
Juwairiyyah
Shofiyyah
Maymunah
rhodhiyallahu ‘anhunna. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah, Tahukah Anda? | Comments Off on Istri-Istri Nabi Muhammad

Lebah Juga Diberi Wahyu

December 21st, 2013 by Abu Muawiah

Ada makhluk yg diberi wahyu oleh Allah, namun mereka bukan manusia, bukan jin, dan bukan pula malaikat.
Siapakah mereka?

Jawaban:
Makhluk yg dimaksud adalah lebah.
LAllah Ta’ala berfirman:
(وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ) [Surat An-Nahl : 68]
“Dan Rabb-mu telah mewahyukan
kepada lebah, “Buatlah rumah- rumah di bukit-bukit dan pada
pohon-pohon dan pada kisi-kisi yang mereka buat.”

Category: Dari Grup WA, Tahukah Anda?, Teka Teki Diniah | Comments Off on Lebah Juga Diberi Wahyu

Antara Al Haitami, Ibnu Hajar Al Asqalani, dan Ibnu Hajar Al Haitami

November 11th, 2013 by Abu Muawiah

Perbedaan Antara Al Haitsami (الهيثمي), Ibnu Hajar Al Asqalani (ابن حجر العسقلاني), dan Ibnu Hajar Al Haitami (ابن حجر الهيتمي).

Al Haitsami (الهيثمي) bernama Ali bin Abi Bakr bin Sulaiman. Beliau lahir pd tahun 735 H dan wafat tahun 807 H. Beliau adl rekan sekaligus murid dan menantu dr Al Hafizh Al Iraqi. Di antara murid beliau yg terkenal adalah Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani.

Ibnu Hajar Al Asqalani (ابن حجر العسقﻻني) nama beliau: Abu Al Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar. Beliau lahir pd tahun 773 H dan wafat pd tahun 852 H. Beliau adl murid dr Adz Dzahabi, Al Hafizh Al Iraqi, dan Al Haitsami yg tersebut di atas. Dan di antara murid beliau adl Al Hafizh As Sakhawi. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • al haitami dan al asqalani
  • Ibnu hajar al atsqolany dan alhaitamy

Category: Dari Grup WA, Siapakah Dia?, Tahukah Anda? | Comments Off on Antara Al Haitami, Ibnu Hajar Al Asqalani, dan Ibnu Hajar Al Haitami

Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

July 28th, 2013 by Abu Muawiah

Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah ditanya :

هل الحجامة داخلة في السنن الفعلية للنبيّ صلى الله عليه وسلم ؟

Apakah bekam termasuk dalam sunnah fi’liyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Syaikh hafidzahullah menjawab :

الحجامة مباحة, فهي علاج مباح لا يقال إنه سنة وأن الذي لا يتحجم تارك للسنة . . لا. هذا من المباحات والعلاج والأدعية من الأمور المباحات.

Bekam adalah perkara mubah. Ia termasuk pengobatan yang mubah. Tidak dikatakan bahwa ia sunnah, sehingga orang yang tidak melakukan bekam berarti telah meninggalkan sunnah. Tidak dikatakan demikian. Bekam termasuk perkara mubah. Dan pengobatan termasuk salah satu dari perkara mubah.

Sumber : Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Tahukah Anda? | Comments Off on Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

Kuasa Allah Meletakkan Bumi pada Satu Jari

June 20th, 2013 by Abu Muawiah

Kuasa Allah Meletakkan Bumi pada Satu Jari

Allah itu begitu Maha Besar dan Maha Agung. Makhluk begitu kerdil dibandingkan dengan kebesaran Allah. Hadits yang kita kaji kali ini menerangkan pula bahwa orang yang menyekutukan Allah dengan sesembahan yang lain tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – قَالَ جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ ، إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ ، وَسَائِرَ الْخَلاَئِقِ عَلَى إِصْبَعٍ ، فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ . فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ( وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ )

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, ia berkata, “Salah seorang pendeta Yahudi pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seraya berkata”, Wahai Muhammad, sesungguhnya kami dapati (dalam kitab suci kami) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Allah berfirman, “Akulah Penguasa (raja)”, maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tertawa (lebar) sampai nampak gigi geraham beliau dalam rangka membenarkan ucapan pendeta Yahudi tadi, kemudian beliau membacakan firman Allah (yang artinya), “Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat.” (QS. Az Zumar: 67). (HR. Bukhari no. 4811 dan Muslim no. 2786).

Beberapa faedah dari hadits di atas: Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | Comments Off on Kuasa Allah Meletakkan Bumi pada Satu Jari

Apa Makna “Menghitung Asmaaul-Husna” Sebagaimana Dimaksud dalam Hadits ?

May 26th, 2013 by Abu Muawiah

Apa Makna “Menghitung Asmaaul-Husna” Sebagaimana Dimaksud dalam Hadits ?

 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إن لله تسعة وتسعين اسما، مائة إلا واحدًا، من أحصاها دخل الجنة

“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 (sembilan puluh sembilan) nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang ‘menghitungnya’, niscaya ia masuk surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677, dari hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata :

ومعنى (أحصاها) أي: عرفها لفظاً، وعرفها معنى، وتعبد لله بمقتضاها، وليس المراد أن تحفظها فقط، بل لابد من حفظ اللفظ وفهم المعنى، والتعبد لله بها بمقتضاها،

“Makna ‘menghitungnya’ (al-asmaaul-husnaa) adalah : mengetahui lafadhnya dan maknanya, serta beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut. Bukanlah yang dimaksud dari hadits tersebut hanyalah menghafalnya saja, akan tetapi mencakup menghafalkan lafadhnya, memahami maknanya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan penunjukannya” [Tafsiir Al-‘Allamah Ibni ‘Utsaimin, juz 4 – www.islamspirit.com].

Asy-Syaikh Asyraf bin ‘Abdil-Maqshud hafidhahullah berkata :

إحصاؤها: حفظها لفظا، وفهمها معنىً، وتمامه: أن يتعبد لله تعالى بمقتضاها.

“Menghitungnya (al-asmaaul-husnaa) maknanya adalah : menghafal lafadhnya dan memahami maknanya. Dan untuk kesempurnaannya : beribadah kepada Allah ta’ala sesuai dengan penunjukan nama-nama tersebut” [Al-Qawaaidul-Mutslaa, hal 14; Universitas Islam Madinah, Cet. 3/1421 H – www.islamspirit.com]. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Tahukah Anda? | Comments Off on Apa Makna “Menghitung Asmaaul-Husna” Sebagaimana Dimaksud dalam Hadits ?