Archive for the 'Syubhat & Jawabannya' Category

Taqiyyah

May 4th, 2012 by Abu Muawiah

Taqiyyah[1]

Di antara kesesatan mereka adalah: Mereka mewajibkan taqiyyah. Mereka meriwayatkan dari Ash-Shadiq radhiallahu anhu bahwa dia berkata, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.[2]” Padahal tidak mungkin beliau mengucapkan ucapan seperti ini. Dan sebagian dari mereka ada yang menafsirkan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS. Al-Hujurat: 13)

Maksudnya: Siapa di antara kalian yang paling banyak taqiyyahnya dan yang paling takut kepada orang-orang. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur`an dengan pendapatnya maka sungguh dia telah kafir.[3]

Para ulama mereka telah menukil dari salah orang yang terpercaya di antara mereka bahwa dia berkata, “Ja’far Ash-Shadiq radhiallahu anhu pernah tidur pada suatu malam bersama kami di tempat ‘menyendiri’ khusus miliknya, dan tidak ada seorangpun yang bersama beliau pada malam itu kecuali orang-orang yang sudah tidak kami ragukan akan syi’ah (pertolongan) nya. Lalu beliau bangun untuk shalat tahajjud, beliau berwudhu seraya mengusap kedua telinga beliau dan mencuci kaki beliau. Lalu beliau shalat dengan bersujudkan hamparan yang kusut dengan menyimpul kedua tangannya. Kami mengatakan, “Mungin kebenaran adalah ini,” sampai kami mendengar suara teriakan. Lalu kami melihat seorang lelaki yang merebahkan dirinya pada kedua kaki beliau seraya menciumi keduanya sambil menangis dan meminta maaf. Maka dia ditanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, “Khalifah dan anggota pemerintahannya meragukan anda, dan saya dahulu termasuk anggota mereka. Maka saya pun berjanji untuk mencari tahu mazhab anda. Saya menunggu kesempatan beberapa lama hingga akhirnya saya berhasil untuk memasuki rumah anda malam ini, saya bersembunyi sehingga tidak ada seorang pun yang tahu saya di sini. Maka alhamdulillah yang telah menghilangkan keraguan dariku, memberikan kepadaku keyakinan yang baik tentangmu wahai anak putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Dia tidak membiarkan saya di atas prasangka buruk terhadapmu.” Asy-Syaikh berkata, “Maka kita meyakini kalau Allah tidak menyembunyikan apa pun dari Al-Ma’shum (Ash-Shadiq, pent.), dan kita meyakini kalau ini merupakan taqiyyah dari beliau.” Selesai Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • meninggalkan syubhat disebut

Category: Kesesatan Syi'ah, Syubhat & Jawabannya | No Comments »

Syiah dan Al-Qur`an

April 26th, 2012 by Abu Muawiah

Syiah dan Al-Qur`an

Di antara kesesatan mereka adalah apa yang mereka sebutkan dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab mereka lainnya, yaitu bahwa Utsman radhiallahu anhu mengurangi sesuatu dari Al-Qur`an. Karena pada surah “Bukankah Kami telah melapangkan …” (QS. Asy-Syarh: 1) pada bagian setelah firman Allah Ta’ala, “Dan Kami telah meninggikan penyebutanmu,” (QS. Asy-Syarh: 4), dulunya setelah itu ada ayat, “Dan Kami jadikan Ali sebagai menantumu.” Tapi Utsman lalu menghapuskan kalimat tersebut karena dia hasad Ali juga menjadi menantu Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Mereka berkata: Panjang surah Al-Ahzab sebenarnya sama seperti panjang surah Al-An’am. Akan tetapi Utsman menghilangkan darinya ayat-ayat yang berkenaan dengan keutamaan kerabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Disebutkan bahwa orang-orang Syiah di zaman ini memunculkan dua surah baru yang mereka klaim keduanya dahulu merupakan bagian dari Al-Qur`an yang disembunyikan oleh Ustman, masing-masing dari kedua surah ini panjangnya seperti satu juz. Mereka mengikutkan kedua surah baru ini di bagian akhir mushaf. Mereka menamakan salah satu surah dengan nama An-Nurain dan yang lainnya adalah surah Al-Wala`[1]. Read the rest of this entry »

Category: Kesesatan Syi'ah, Syubhat & Jawabannya | 1 Comment »

Syiah Rafidhah Mengkafirkan Para Sahabat

April 24th, 2012 by Abu Muawiah

Syiah Rafidhah Mengkafirkan Para Sahabat

Al-Kissy[1] -dan dia di kalangan syiah adalah orang yang paling berilmu dan paling terpercaya dalam masalah perawi hadits dan selainnyap- meriwayatkan dari Imam Ja’far Ash-Shadiq[2] radhiallahu anhu bahwa beliau berkata -padahal tidak mungkin beliau mengatakan hal ini-:

لَمّا ماتَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم, اِرْتَدَّ الصَّحابَةُ كُلُّهُمْ إلاَّ أَرْبَعَةَ: اَلْمِقْدادُ, وَحُذَيْفَةَ, وَسَلْمانُ, وَأبُوْ ذَرٍّ رضي الله عنهم. فَقِيْلَ لَهُ: كَيْفَ حالُ عَمّارِ بْنِ ياسِرٍ؟ قالَ: حاصَ حَيْصَةً ثُمَّ رَجَعَ

“Tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, semua sahabat murtad kecuali empat orang: Al-Miqdad, Hudzaifah, Salmad, dan Abu Dzar radhiallahu anhum. Maka ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana dengan keadaan Ammar bin Yasir?” Beliau menjawab, “Awalnya dia berada dalam kebingungan, kemudian dia rujuk.”

Keumuman ucapan di atas mengharuskan murtadnya Ali dan seluruh ahlul bait, tapi mereka tidak berpendapat dengannya. Ucapan dia atas adalah ucapan yang menghancurkan dasar-dasar agama. Hal itu karena dasar agama ini adalah Al-Qur`an dan hadits. Sehingga jika dianggap semua sahabat yang meriwayatkan (Al-Qur`an dan hadits) dari Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kafir, kecuali sekelompok kecil yang khabar mereka tidak mencapai jenjang mutawatir, maka itu bisa membuat kita meragukan kebenaran Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan kita berlindung kepada Allah dari meyakini keyakinan yang menghancurkan agama seperti ini. Read the rest of this entry »

Category: Kesesatan Syi'ah, Syubhat & Jawabannya | No Comments »

Aqidah Syi’ah Dalam Wasiat Kekhalifahan

April 16th, 2012 by Abu Muawiah

Aqidah Syi’ah Dalam Wasiat Kekhalifahan

 Salah seorang mufid (baca: pengajar) Syi’ah yang bernama Ibnu Al-Mu’allim[1] berkata dalam kitabnya Raudhah Al-Wa’izhin[2]:

“Sesungguhnya Allah pernah menyuruh Jibril untuk turun menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah beliau meninggalkan Madinah, di tengah perjalanan menuju haji wada’. Jibril berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengirimkan salam kepadamu dan Dia berfirman kepadamu, “Jadikanlah Ali sebagai imam dan ingatkan umatmu akan kekhalifahannya.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wahai Jibril saudaraku, sesungguhnya Allah telah membuat para sahabatku membenci Ali. Karenanya saya khawatir mereka akan berkumpul untuk memudharatkan saya (jika saya melakukannya, pent.). Maka mintakanlah maaf untukku kepada Rabbku.” Jibril kemudian naik lalu menyampaikan jawabannya itu kepada Allah Ta’ala. Maka Allah Ta’ala mengutus kembali Jibril, tapi Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap mengatakan jawaban yang sama, dan beliau meminta dimaafkan sebagaimana sebelumnya. Kemudian Jibril naik dan mengulangi jawaban Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Allah. Maka Allah memerintahkan Jibril untuk turun dengan membawa teguran dan sikap keras dari Allah kepada Nabi-Nya dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah: 67)

Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengumpulkan para sahabatnya lalu bersabda, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya Ali adalah amirul mu`minin dan khalifah Rabbil alamin. Tidak ada seorang pun yang berhak menjadi khalifah sepeninggalku selain dia. Dan siapa saja yang saya adalah penolongnya maka Ali adalah penolongnya. Ya Allah, tolonglah siapa saja yang menolong Ali dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.” Selesai ucapannya Read the rest of this entry »

Category: Kesesatan Syi'ah, Syubhat & Jawabannya | No Comments »

Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid

February 8th, 2012 by Abu Muawiah

Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid

Di antara dalil yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kisah salah seorang tokoh dalam kesyirikan yakni Abu Lahab. Berikut uraiannya:
As-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy (1/196-197), “Lalu saya melihat Imamul Qurro`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi berkata dalam kitab beliau yang berjudul ‘Urfut Ta’rif bil Maulid Asy-Syarif’ dengan nash sebagai berikut, “Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meningalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”, dia menjawab, “Di dalam Neraka, hanya saja diringankan bagiku (siksaan) setiap malam Senin dan dituangkan di antara dua jariku air sebesar ini -dia berisyarat dengan ujung jarinya- karena saya memerdekakan Tsuwaibah ketika dia memberitahu kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena dia telah menyusuinya.”
As-Suyuthi berkata, “Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang Al-Qur`an telah turun mencelanya, diringankan (siksaannya) di neraka dengan sebab kegembiraan dia dengan malam kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana lagi keadaan seorang muslim yang bertauhid dari kalangan ummat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam?!, saya bersumpah bahwa tidak ada balasannya dari Allah Yang Maha Pemurah, kecuali Dia akan memasukkannya berkat keutamaan dari-Nya ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.”
Kisah ini juga dipakai berdalil oleh Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam risalahnya Haulal Ihtifal bil Maulid, hal. 8 tatkala dia berkata, “Telah datang dalam Shahih Al-Bukhari bahwa diringankan siksaan Abu lahab setiap hari Senin dengan sebab dia memerdekakan Tsuwaibah ….”.

Bantahan:
Penyandaran kisah di atas kepada Imam Al-Bukhari adalah suatu kedustaan yang nyata sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh At-Tuwaijiri dalam Ar-Raddul Qawi  hal. 56. Karena tidak ada dalam riwayat Al-Bukhari sedikitpun yang disebutkan dalam kisah di atas.
Berikut konteks hadits ini dalam riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 4711 secara mursal dari Urwah bin Az-Zubair -rahimahullah- dia berkata:
وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
“Tsuwaibah, dulunya adalah budak perempuan Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya, lalu dia menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tatkala Abu Lahab mati, dia diperlihatkan kepada sebagian keluarganya (dalam mimpi) tentang jeleknya keadaan dia. Dia (keluarganya ini) berkata kepadanya, “Apa yang engkau dapatkan?”, Abu Lahab menjawab, “Saya tidak mendapati setelah kalian kecuali saya diberi minum sebanyak ini (sedikit) karena saya memerdekakan Tsuwaibah”.

Syubhat ini dibantah dari beberapa sisi:
1.    Hadits tentang diringankannya siksa Abu Lahab ini telah dikaji oleh para ulama dari zaman ke zaman. Akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang menjadikannya sebagai dalil disyari’atkannya perayaan maulid.

2.    Ini adalah hadits mursal sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath (9/49) karena Urwah adalah seorang tabi’i dan beliau tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar kisah ini. Sedangkan hadits mursal adalah termasuk golongan hadits-hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • abu lahab mati
  • pada hari apa abu lahab tidak di siksa

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | 7 Comments »

Betulkah Imam Asy-Syafi’i Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah?

December 26th, 2011 by Abu Muawiah

Betulkah Imam Asy-Syafi’i Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah?

Soal:
assalamu’alaikum.
Afwan y ustd,apakah benar imam Syafi’i tdk pernah berpendapat bhw bid’ah itu dibagi dua? Karena yg saya tahu dari kitab2 klasik banyak yg menerangkan tentang itu. Tapi setelah saya dengar dari ustadz bhw itu hanya kesalahfahaman maka saya pun kaget. Benarkah itu hanya mengada ada atau bgmana? Tolong sampaikan amanat ilmiah yg sejujurnya.
wassalamu’alaikum wr wb.
sofiudin
khaeruljafar@yahoo.com

Jawaban:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Memang betul, pembagian bid’ah menjadi dua ini diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Hanya saja seperti yang kami katakan bahwa itu merupakan kesalahahpahaman. Berikut penjelasan ringkasnya yang kami kutip dari buku kami yang berjudul ‘Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam’ hal. 63-65, ketika kami membawakan dalil-dalil mereka yang berpendapat adanya bid’ah hasanah. Kami berkata pada dalil mereka yang kelima:

Mereka berdalilkan dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah-:
اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ, فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْمٌ
“Bid’ah itu ada dua: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Semua yang sesuai dengan sunnah, maka itu adalah terpuji, dan semua yang menyelisihi sunnah, maka itu adalah tercela.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/113))
Semakna dengannya, apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i (1/469) bahwa beliau berkata:
اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ : مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ, وَمَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
“Perkara yang baru ada dua bentuk: (Pertama) Apa yang diada-adakan dan menyelisihi kitab atau sunnah atau atsar atau ijma’, inilah bid’ah yang sesat. Dan (yang kedua) apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut, maka inilah perkara baru yang tidak tercela”.

Ini dijawab dari tiga sisi:
1.    Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullah- dalam ‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 121 mengomentari kedua perkataan Asy-Syafi’i di atas, “Di dalam sanad-sanadnya terdapat rawi-rawi yang majhul (tidak diketahui)”.
Hal ini karena di dalam sanad Abu Nu’aim terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Muhammad Al-Athasi. Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad dan As-Sam’ani dalam Al-Ansab menyebutkan biografi orang ini dan keduanya tidak menyebutkan adanya pujian ataupun kritikan terhadapnya sehingga dia dihukumi sebagai rawi yang majhul. Adapun dalam sanad Al-Baihaqi, ada Muhammad bin Musa bin Al-Fadhl yang tidak didapati biografinya. Ini disebutkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Al-Bida’ wa Atsaruhas Sayyi` alal Ummah hal. 63.

2.    Andaikan ucapan di atas shahih (benar) datangnya dari Imam Asy-Syafi’i, maka maksud dari perkataan beliau -rahimahullah- [“bid’ah yang terpuji”] adalah bid’ah secara bahasa bukan menurut syar’i. Karena beliau memberikan definisi bid’ah yang terpuji dengan perkataan beliau [“semua yang sesuai dengan sunnah”] dan [“apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut”] sedangkan semua bid’ah dalam syari’at adalah menyelisihi sunnah. Ini disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam (hal. 233). Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bid\ah hasanah menurut imam syafi\i
  • imam syafi\i tentang bid\ah

Category: Jawaban Pertanyaan, Syubhat & Jawabannya | 10 Comments »

Keutamaan Surah Yasin (Final)

November 4th, 2011 by Abu Muawiah

Keutamaan Surah Yasin (Final)

Berikut bagian akhir dari tulisan ini, beserta kesimpulan pembahasannya:

9. Hadits Ma’qil bin Yasar.

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

[ 27 ]

اِقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس

“Bacakanlah Yasin terhadap orang yang akan meninggal dari kalian.”

Diriwayatkan oleh An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no. 10913 dan dalam ‘Amalul Yaum wal lailah no. 1082 dari jalan Ibnul Mubarak dari Sulaiman At-Taimy dari Abu ‘Utsman dari Ma’qil bin Yasar.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/445, Ahmad 5/26,27, Abu Daud no. 3121, Ibnu Majah no. 1448, Ath-Thobarany 20/no. 510 dan Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 5/295/1464 dari jalan Ibnul Mubarak dari Sulaiman bin At-Taimy dari Abu ‘Utsman -dan bukan An-Nahdy- dari ayahnya dari Ma’qil bin Yasar .

Dan diriwayatkan pula oleh Ahmad 5/26, An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no. 10914 dan dalam ‘Amalul Yaum wal lailah no. 1083, Ar-Ruyany dalam Musnadnya 2/323/1284 dan Ath-Thobarany 20/no. 511, 541 dari jalan Mu’tamir bin Sulaiman At-Taimy dari ayahnya dari seorang lelaki dari ayahnya dari  Ma’qil bin Yasar.

Dan diriwayatkan oleh Abu Daud Ath-Thoyalisy no. 931 dari jalan Ibnul Mubarak dari Sulaiman At-Taimy dari seorang lelaki dari ayahnya dari  Ma’qil bin Yasar. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • keutamaansurahyassin
  • manfaat surah-surah allah
  • ما من ميت يقرأ عنده يس إلا هون الله عليه

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | 3 Comments »

Keutamaan Surah Yasin (2)

November 2nd, 2011 by Abu Muawiah

Keutamaan Surah Yasin (2)

Berikut kelanjutan dari penyebutan hadits-hadits lemah seputar keutamaan surah Yasin:

5. Hadits Anas bin Malik

Ada enam jalan bagi hadits Anas bin Malik, pembahasannya sebagai berikut :

Jalan pertama : Dari Jalan Humaid bin ‘Abdurrahman Ar-Ru`asy dari Al Hasan bin Sholih dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil dari Qotadah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

[ 18 ]

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا, وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس. وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

“Sesungguhnya setiap sesuatu ada jantungnya dan jantung Al-Qur’an adalah Yasin dan siapa yang membaca Yasin maka Allah akan menuliskan atas bacaannya (seperti) membaca Al-Qur`an sepuluh kali.”

Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy no. 2887, Ad-Darimy no. 3416, Al-Qadho’iy dalam Musnadusy-Syihab no. 1035 dan Al- Khathib Al-Bagdady dalam Tarikh-nya 4/167.

Pembahasan

Imam At-Tirmidzy setelah meriwayatkan hadits ini, beliau berkata : “(Hadits ini) adalah hadits gharib (asing)”. Dan hadits gharib adalah istilah Imam At-Tirmidzy bermakna hadits lemah. Dan Imam At-Tirmidzy menyebutkan juga bahwa Harun Abu Muhammad yang tertera di dalam sanad adalah seorang rawi yang majhul (tidak di kenal). Dan Imam Adz-Dzahaby dalam biografi Harun Abu Muhammad, mengangap Harun inilah yang Muttaham (tertuduh berdusta) dalam hadits ini. Periksa Mizanul I’tidal.

Adapun Muqatil yang tersebut di sanad, dalam sumber yang tertera di atas disebutkan bahwa ia adalah Muqatil bin Hayyan namun itu hanyalah kesalahan penyebutan sebagian dari rawi, yang benarnya adalah bahwa Muqatil dalam sanad di atas adalah Muqatil bin Sulaiman. Demikian menurut Imam Adz-Dzahaby berdasarkan riwayat Abul Fath Al-Azdy.

Dan Ibnu Abi Hatim bertanya kepada ayahnya Abu Hatim Ar-Razy -pakar ahli hadits dan ‘ilal di zamannya- tentang hadits di atas maka beliau menjawab : “Muqatil ini adalah Muqatil bin Sulaiman, saya melihat hadits ini di awal kitab yang dipalsukan oleh Muqatil bin Sulaiman dan ia adalah hadits BATIL TIDAK ADA ASALNYA”. Periksa Al-’Ilal 2/55.

Ini adalah pernyataan tegas dari Abu Hatim yang merupakan sandaran dalam bidang ini. Karena itulah Syaikh Al-Albany menyimpulkan bahwa hadits dengan jalan di atas adalah hadits palsu. Simak Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no : 169. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | No Comments »

Keutamaan Surah Yasin (1)

October 31st, 2011 by Abu Muawiah

 

Keutamaan Surah Yasin (1)

Berikut kami nukilkan artikel yang sangat bermanfaat dari majalah An-Nashihah yang ditulis oleh Ust. Dzulqarnain -hafizhahullah-, yang menjelaskan LEMAHNYA semua hadits yang menyebutkan keutamaan surah Yasin.

Karena panjangnya tulisan, maka kami membaginya menjadi 3 bagian, selamat membaca:

Ada beberapa hadits yang menyebutkan keutamaan surah Yasin. Diriwayatkan dari beberapa shahabat yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khoththob, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Umar,  Ma’qil bin Yasar, Ubay bin Ka’ab, Abu Darda`, Abu Dzar, dan ‘Abdullah bin Samjaj -radhiyallahu ‘anhum ajma’in-.

 

Berikut rincian hadits-hadits tersebut lengkap dengan penjelasan derajatnya dalam timbangan ahli hadits.

 

1. Hadits Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Hadits Abu Bakar datang dari dua jalan dengan kandungan hadits yang berbeda.

Jalan pertama : Diriwayatkan oleh Al-’Uqaily dalam Adh-Dhu’afa` 2/143, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman 2/481/2465, Al-Khatib dalam Tarikh-nya 2/388 dan Ibnul Jauzy dalam Al-Maudhuat no. 483 (cet Adhwa` As-Salaf) dari jalan Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Bakar Al-Jud’any dari Sulaiman bin Mirqo‘ Al-Junda’iy dari Hilal bin Sholt, sesungguhnya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

[ 1 ]

سُوْرَةُ يس تُدْعَى فِي التَّوْرَاةِ الْمُعِمَّةَ. قِيْلَ : وَمَا الْمُعِمَّةُ ؟ قَالَ : تُعِمُّ صَاحِبَهَا بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَتُكَابِدُ عَنْهُ بَلْوَ الدُّنْيَا وَتَدْفَعُ عَنْهُ أَهَاوِيْلَ الآخِرَةِ. وَتُدْعَى الدَّافِعَةَ الْقَاضِيَةَ, تَدْفَعُ عَنْ صَاحِبِهَا كُلَّ سُوْءٍ وَتَقْضِيْ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ. مَنْ قَرَأَهَا عُدِّلَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ حَجَّةً, وَمَنْ سَمِعَهَا عُدِّلَتْ لَهُ أَلْفَ دِيْنَارٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ, وَمَنْ كَتَبَهَا ثُمَّ شَرِبَهَا أَدْخَلَتْ فِيْ جَوْفِهِ أَلْفَ دَوَاءٍ وَأَلْفَ نُوْرٍ وَأَلْفَ يَقِيْنٍ وَأَلْفَ بَرْكَةٍ وَأَلْفَ رَحْمَةٍ وَنَزَعَتْ عَنْهُ كَلَّ غِلٍّ وَدَاءٍ

“Surat Yasin dalam Taurat disebut “Al-Mu’immah”. Ditanyakan : “Apakah Al-Mu’immah itu ?”, ,maka beliau menjawab : “Yang meliputi pemiliknya kebaikan dunia dan akhirat dan mematahkan darinya petaka dunia dan menolak  darinya kengerian akhirat. Dan (Yasin) disebut sebagai Ad-Dafi’atul Qadhiyah (Penolakan yang pasti menyelesaikan), menangkal dari pemiliknya segala kejelekan dan menyelesaikan segala hajatnya. Siapa yang membacanya dinilai untuknya dua puluh haji dan siapa yang mendengarkannya dinilai untuknya seribu dinar (mata uang emas) di jalan Allah. Siapa yang menulisnya lalu meminumnya maka dimasukkan ke dalam dadanya seribu obat, seribu cahaya, seribu yakin, seribu barakah dan seribu rahmat dan dicabut darinya seribu kedengkian dan penyakit”. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • keutamaan surah yasin

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | No Comments »

Dua Kerancuan Dalam Masalah Keberadaan Allah

June 3rd, 2011 by Abu Muawiah

Dua Kerancuan Dalam Masalah Keberadaan Allah

Sebelum menguraikan beberapa syubhat dan jawabannya, perlu diketahui letak perselisihan antara Ahlus Sunnah dan kelompok-kelompok yang menyimpang dalam masalah ini. Dan uraiannya sebagai berikut :

Tidak ada perbedaan pendapat diantara seluruh kelompok dari kalangan Ahlus Sunnah dan selainnya akan penetapan ‘Uluwul Qadr (Ketinggian derajat/kekuatan) dan ‘Uluwul Qahr (Ketinggian kekuasaan dan keperkasaan).

Letak perselisihan Ahlus Sunnah dan seluruh kelompok yang menyimpang adalah dalam menetapkan ‘Uluwudz Dzat (Ketinggian Dzat). (Lihat Mukhtashor Ash-Showa‘iqh 1/275).

Berikut ini beberapa syubhat dan jawabannya :

Syubhat Pertama

Dan sungguh banyak dari ahli bid’ah yang memahami bahwasanya Ahlus Sunnah menta`wil ayat-ayat ma’iyah (yang menunjukkan bahwa Allah bersama dengan makhluk-Nya) dan memalingkannya dari zhohirnya agar mengharuskan Ahlus Sunnah untuk menyetujui ta`wil (yang mereka lakukan) tersebut atau (Ahlus Sunnah) bergampangan dalam masalah tersebut. Mereka mengatakan : “Bagaimana bisa kalian wahai Ahlus Sunnah mengingkari kami dalam menta`wil apa-apa yang kami ta`wil padahal kalian juga melakukan yang semisalnya (menta`wil) pada apa-apa yang kalian ta`wil ?!”. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Syubhat & Jawabannya | 6 Comments »