Archive for the 'Seputar Anak' Category

Keyakinan ‘Keberatan Nama’ Adalah Pamali

February 16th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Afwan ustadz ana mau tanya:
Apakah ada istilah “keberatan nama” dalam Islam, sehingga anak bisa sakit sakitan memakai nama tersebut, tetapi setelah namanya diganti, sakitnya sembuh.

Jawab:
وعليكم السﻻم ورحمة الله وبركاته
Tidak ada yang seperti itu dalam agama Islam. Keyakinan bahwa nama mempengaruhi kesehatan seseorang adalah murni tathayyur (pamali). Dan pamali ini merupakan syirik kecil jika diyakini bahwa Allah menurunkan penyakit kepadanya karena namanya yang ‘berat’. Namun jika diyakini kalau nama itu lah yang membuat dia sakit, bukan Allah yang membuat dia sakit, maka ini adalah syirik akbar.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dlm hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu:
الطيرة شرك الطيرة شرك
“Thiyarah adl kesyirikan, thiyarah adl kesyirikan.”
Masalah sakit dan sembuhnya si anak, murni ujian dari Allah Ta’ala, tidak ada hubungannya dengan nama anak itu. Wallahu a’lam

Incoming search terms:

  • istilah bayi keberatan nama

Category: Aqidah, Dari Grup WA, Seputar Anak | Comments Off on Keyakinan ‘Keberatan Nama’ Adalah Pamali

Bolehkah Mendoakan Anak Non Muslim?

January 14th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Bolehkah kita mendoakan anak orang kafir yang baru lahir dan mengucapkan selamat kepada orang tuanya?

Jawab:
Insya Allah tidak mengapa. Kita mendoakan semoga anaknya mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat dengan cara memeluk islam, dan kita doakan semoga anak ini bisa menjadi sebab orang tuanya mendapat hidayah kelak. Atau kita doakan dengan doa-doa kebaikan lainnya. Hal itu karena bagaimana pun juga, asalnya anak ini dilahirkan di atas fitrah.
Lagipula, jika mendoakan orang kafir yang sudah dewasa agar dia mendapatkan hidayah itu diperbolehkan, maka mendoakan bayi orang kafir agar dia mendapat hidayah, itu jelas lebih dibolehkan lagi.
Kemudian patut dicatat, bahwa mendoakan anak mereka dalam kondisi seperti di atas, insya Allah bisa menjadi sarana guna memperlihatkan keindahan adab Islam kpd non muslim. Wallahu a’lam

Category: Seputar Anak, Zikir & Doa | Comments Off on Bolehkah Mendoakan Anak Non Muslim?

Syahkah Azan Anak Kecil?

November 27th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamu alaikum. Ustsdz adakah ketentuan atau Dalil jika seorang Muadzin  harus yg sdh Balig? wassalam

Jawab:
Waalaikumussalam.
Azan anak kecil syah, selama dia sdh mumayyiz. Ini adl pendapat yg paling kuat di kalangan ulama, dan ini merupakan pendapat dr Atha’, Asy Sya’bi, Ibnu Abi Laila, Asy Syafii, dan salah satu riwayat dr Ahmad.
Dalilnya adl hadits Abdullah bin Abi Bakr bin Anas dia berkata:
ﻛﺎﻥ ﻋﻤﻮﻣﺘﻲ ﻳﺄﻣﺮﻭﻧﻨﻲ ﺃﻥ ﺃﺅﺫﻥ ﻟﻬﻢ ﻭﺃﻧﺎ ﻏﻼﻡ، ﻭﻟﻢ ﺃﺣﺘﻠﻢ ﻭﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺷﺎﻫﺪ ﻟﻢ ﻳﻨﻜﺮ ﺫﻟﻚ.
Para pamanku pernah menyuruhku untuk mengumandangkan azan, pdhl ketika itu aku masih kecil dan belum balig. Ketika itu Anas bin Malik juga ada di situ, namun beliau tdk mengingkarinya.”
Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughni (1/300), “Kejadian ini terlihat jelas dan tdk samar, namun tdk ada yg mengingkarinya, sehingga ini adl ijma’.”

Category: Dari Grup WA, Fiqh, Seputar Anak | Comments Off on Syahkah Azan Anak Kecil?

Hukum Khitan bagi Wanita

November 7th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Apa hukum khitan bagi wanita?

Jawab:
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum khitan bagi wanita:
1. Khitan dianjurkan bagi mereka. Namun hal itu bukanlah sunnah apalagi wajib. Jika seorg wanita tdk berkhitan, maka dia tdk boleh dipaksa.
Ini adl mazhab Al Hanafiah dan Al Malikiah.
2. Khitan bagi wanita hukumnya adl sunnah.
Ini adl pendapat dr sebagian ulama Al Hanafiah, Al Malikiah, dan Asy Syafiiyah, dan ini merupakan salah satu riwayat dr Imam Ahmad.
3. Khitan bagi wanita adl wajib.
Ini adl pendapat yg masyhur dlm mazhab Asy Syafiiah dan Al Hanabilah. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Muslimah, Seputar Anak | Comments Off on Hukum Khitan bagi Wanita

Hukum Menggabungkan Aqiqah dan Qurban Dalam Satu Sembelihan

September 10th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Menggabungkan Aqiqah dan Qurban Dalam Satu Sembelihan

Sudah banyak pertanyaan yang masuk seputar hukum menggabungkan niat antara menyembelih aqiqah/nasikah dengan menyembelih qurban  di hari idul adh-ha.

Maka berikut pembahasannya:

Sebenarnya, jawaban dari permasalahan ini dibangun di atas salah satu masalah ushuliah, yaitu: Hukum menggabungkan dua ibadah dalam satu niat. Apakah hal ini diperbolehkan atau tidak?

Ringkasnya, para ulama ushul menyebutkan 2 syarat akan bolehnya menggabungkan 2 ibadah dalam 1 niat, yaitu:

  1. Kedua ibadah itu sama jenis dan waktunya. Adapun jika kedua ibadah itu tidak sama jenis dan berbeda waktu pelaksanaannya, maka keduanya tidak boleh digabungkan.
  2. Ibadah yang mau digabungkan itu bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian ibadah itu bisa diwakilkan pelaksanaannya dengan ibadah lain yang sejenis. Adapun jika kedua ibadah itu berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya dituntut pelaksanaannya sendiri-sendiri karena maksud dan tujuan kedua ibadah itu berbeda, maka yang seperti ini tidak boleh menggabungkan keduanya.

Contoh yang memenuhi syarat:

Shalat 2 rakaat setelah azan dengan meniatkannya sebagai sunnah rawatib sekaligus tahiyatul masjid. Tahiyatul masjid bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian tahiyatul masjid adalah shalat 2 rakaat (apapun jenisnya) sebelum seseorang duduk di dalam masjid. Karenanya, kapan seseorang sudah shalat 2 rakaat sebelum duduk, maka dia telah melakukan tahiyatul masjid, apapun jenis shalat 2 rakaat yang dia lakukan itu. Karenanya ketika seseorang mengerjakan sunnah rawatib 2 rakaat sebelum duduk, maka itu sudah teranggap sebagai tahiyatul masjid baginya.

Puasa 6 hari di bulan syawal dengan puasa senin kamis. Yang dituntut dari puasa 6 hari di bulan syawal adalah pokoknya berpuasa 6 hari di dalamnya, hari apapun itu. Karenanya, jika seseorang berpuasa pada hari senin atau kamis di bulan syawal, maka itu bisa sekaligus dia jadikan sebagai puasa syawal baginya. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • pembelihan akikah pada hari raya qurban

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Seputar Anak | 1 Comment »

Bagaimana Seorang Anak Bisa Mirip Orang Tuanya ?

April 24th, 2013 by Abu Muawiah

Bagaimana Seorang Anak Bisa Mirip Orang Tuanya ?

Jika kita baca ilmu pengetahuan kontemporer, khususnya di bidang biologi dan kesehatan, akan didapatkan beberapa teori yang mencoba menjawab permasalahan di atas. Namun, tahukah Anda bahwa Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas ? Saya ajak Anda – para Pembaca budiman – untuk memperhatikan beberapa hadits berikut :

1.        Hadits Tsauban radliyallaahu ‘anhu.

Ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang permasalahan anak. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

“ماء الرجل أبيض وماء المرأة أصفر. فإذا اجتمعا، فعلا مني الرجل مني المرأة، أَذْكَرَا بإذن الله. وإذا علا مني المرأة مني الرجل، آنثا بإذن الله”

“Air (mani) laki-laki warnanya putih, sedangkan air mani wanita warnanya kekuning-kuningan. Apabila keduanya berkumpul (melalui satu persetubuhan) yang ketika itu air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita, maka anak yang akan lahir adalah laki-laki dengan ijin Allah. Namun apabila air mani wanita mengalahkan air mani laki-laki, maka anak yang akan lahir adalah wanita dengan ijin Allah” [HR. Muslim no. 315, Al-Baihaqiy 1/169, Ibnu Khuzaimah no. 232, dan yang lainnya]. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah, Seputar Anak, Tahukah Anda? | 2 Comments »

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part II]

August 6th, 2012 by Abu Muawiah

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part II]

Jangan meyebarluaskan penolakan imunisasi

Merupakan tindakan yang kurang bijak bagi mereka yang menolak imunisasi, menyebarkan keyakinan mereka secara luas di media-media, memprovokasi agar menolak keras imunisasi dan vaksin, bahkan menjelek-jelekkan pemerintah. Sehingga membuat keresahan dimasyarakat. Karena bertentangan dengan pemerintah yang membuat dan mendukung program imunisasi.

Hendaknya ia menerapkan penolakan secara sembunyi-sembunyi. Sebagaimana kasus jika seseorang melihat hilal Ramadhan dengan jelas dan sangat yakin, kemudian persaksiannya ditolak oleh pemerintah. Pemerintah belum mengumumkan besok puasa, maka hendaknya ia puasa sembunyi-sembunyi besok harinya dan jangan membuat keresahan di masyarakat dengan mengumumkan dan menyebarluaskan persaksiannya akan hilal, padahal sudah ditolak oleh pemerintah. Karena hal ini akan membuat perpecahan dan keresahan di masyarakat.

Islam mengajarkan kita agar tidak langsung menyebarluaskan setiap berita atau isu ke masyarakat secara umum. Hendaklah kita jangan mudah termakan berita yang kurang jelas atau isu murahan kemudian ikut-kutan menyebarkannya padahal ilmu kita terbatas mengenai hal tersebut. Hendaklah kita menyerahkan kepada kepada ahli dan tokoh yang berwenang untuk menindak lanjuti, meneliti, mengkaji, dan menelaah berita atau isu tersebut. Kemudian merekalah yang lebih mengetahui dan mempertimbangkan apakah berita ini perlu diekspos atau disembunyikan.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” [An-Nisa: 83] Read the rest of this entry »

Category: Artikel Umum, Muslimah, Seputar Anak, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part II]

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part I]

August 3rd, 2012 by Abu Muawiah

Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part I]

Tuntas bagi kami pribadi, saat ini dan “mungkin” sementara karena bisa jadi suatu saat kami mendapat tambahan informasi baru. Kami hanya ingin membagi kelegaan ini setalah berlama-lama berada dalam kebingungan pro-kontra imunisasi. Pro-kontra yang membawa-bawa nama syari’at. Apalagi kami sering mendapat pertanyaan karena kami pribadi berlatar belakang pendidikan kedokteran. Pro-kontra yang membawa-bawa nama syari’at inilah yang mengetuk hati kami untuk menelitinya lebih dalam. Karena prinsip seorang muslim adalah apa yang agama syari’atkan mengenai hal ini dan hal itu.

Sebagai seorang muslim, semua jalan keluar telah diberikan oleh agama islam. Oleh karena itu kami berupaya kembali kepada Allah dan rasul-Nya.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),” [An-Nisa-59]

Sebelumnya kami ingin menyampaikan bahwa imunisasi dan vaksinasi adalah suatu hal yang berbeda dimana sering terjadi kerancuan.

-Imunisasi: pemindahan atau transfer antibodi [bahasa awam: daya tahan tubuh] secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.

-Vaksinasi: pemberian vaksin [antigen dari virus/bakteri] yang dapat merangsang imunitas [antibodi] dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”.

[Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes] Read the rest of this entry »

Category: Artikel Umum, Muslimah, Seputar Anak, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Permasalahan Imunisasi Dan Vaksinasi Tuntas -Insya Allah- [Part I]

Kiat-Kiat Memiliki Anak Shalih

June 13th, 2012 by Abu Zakariyya

Kiat-Kiat Memiliki Anak Shalih

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan banyak nikmat yang sangat besar atas hamba-hambaNya , dan diantara nikmat tersebut adalah anak yang shalih, ia merupakan amalan shalih bagi kedua orang tuanya semasa hidup dan setelah mereka meninggal, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“jika seorang hamba telah meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya” (riwayat Muslim no.1631)

Oleh karena itu para nabi dan orang-orang shalih terdahulu memiliki perhatian khusus dalam perkara ini, karena didalamnya terdapat kebaikan yang sangat besar.

Allah Ta’ala berfirman menghikayatkan tentang keadaan mereka :

“Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a”. (Ali-Imran : 38)

Juga firmanNya :

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugeraahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqaan : 74)

 Sudah sepantasnya bagi kita untuk turut berusaha dan memperhatikan hal ini, dan diantara kiat-kiat untuk memiliki anak yang shalih sebagai berikut : Read the rest of this entry »

Category: Seputar Anak | 5 Comments »

Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat

December 14th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum memberi nama anak dengan nama malaikat adalah makruh.
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu ketika menjelaskan beberapa nama yang makruh:
ومنها كأسماء الملائكة كجبرائيل وميكائيل وإسرافيل فإنه يكره تسمية الآدميين بها، قال أشهب: سئل مالك عن التسمي بجبريل، فكره ذلك ولم يعجبه.
“Diantaranya adalah nama-nama malaikat seperti Jibraa’iil, Miikaa’iil, dan Israafiil, maka memberi anak Adam dengan nama-nama tersebut adalah makruh.
Berkata Asyhab: Malik ditanya tentang seseorang yang memiliki nama Jibriil? Maka beliau membencinya dan tidak beliau senangi”. (Tuhfatul Mauduud hal:119)
Pendapat ini dirajihkan oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu, beliau berkata:
أما أسماء الملائكة: فمن العلماء من قال: التسمي بأسمائهم حرام. ومنهم من قال: إنه مكروه. ومنهم من قال: مباح. والأقرب الكراهية مثل جبريل، وميكائيل، وإسرافيل، فلا نسمي بهذه الأسماء؛ لأنها أسماء ملائكة.
“Adapun nama-nama malaikat, maka diantara ulama ada yang mengatakan bahwa memberi nama dengan nama-nama mereka adalah haram. Dan ada yang mengatakan makruh, dan ada pula yang mengatakan boleh. Dan pendapat yang lebih dekat adalah makruh, seperti Jibril, Mikail, Israfil, maka kita tidak memberi nama dengan nama-nama ini karena nama-nama ini adalah nama-nama malaikat”. (Asy-Syarhul Mumti’ 7/497-498)
Adapun mayoritas ulama maka mereka mengatakan boleh dan tidak mengapa.
Ma’mar bin Rasyid Al-Azdy (wafat th. 154 H) rahimahullah berkata:
قلت لحماد بن أبي سليمان كيف تقول في رجل يسمى بجبريل وميكائيل؟ فقال: لا بأس به
“Aku berkata kepada Hammaad bin Abi Sulaiman: Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang diberi nama Jibriil dan Mikaaiil? Beliau menjawab: Tidak mengapa. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf 11/40 no: 19850)
Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah:
مذهبنا ومذهب الجمهور جواز التسمية باسماء الانبياء والملائكة
“Madzhab kami dan madzhab jumhur adalah bolehnya memberi nama dengan nama para nabi dan malaikat”. (Al-Majmu’ 8/436) Read the rest of this entry »

Category: Seputar Anak | Comments Off on Hukum Bernama Dengan Nama Malaikat