Archive for the 'Muslimah' Category

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Nabi dan Agamanya

August 19th, 2015 by Abu Muawiah

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Nabi dan Agamanya

A. Tanggung Jawab Kepada Nabinya.

Seorang muslimah wajib mengimani bahwa Muhammad saw. adalah Nabi dan Rasul Allah, serta penutup para nabi. Dia meyakini bahwa beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat, dan Allah telah menghapuskan kegelapan dengan menutus beliau. Meyakini bahwa beliau telah meninggalkan umat ini di atas syariat yang terag benderang, malamnya sama seperti siang. Karenanya tiada yang tersesat darinya kecuali orang yang binasa.

Seorang muslimah harus mengetahui bahwa cintanya kepada Nabi Muhammad saw. merupakan bagian dari tauhid dan keimanan, dimana keimanannya tidak dinyatakan syah kecuali dengannya. Sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangannya. Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintaiku melebihi cintanya kepada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.” (Muttafaqun alaih)

Sebagaimana meneladani beliau juga merupakan tanda cinta Allah dan Rasul-Nya kepada dirinya. Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihimu.” (QS. Ali Imran/3: 31)

Seorang muslimah juga meyakini bahwa Nabi saw. telah menjelaskan syariat ini dengan penjelasan yang sempurna. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan menasehati umat dengan nasehat yang mendalam. Hingga Allah mewafatkan beliau dalam keadaan Dia ridha kepadanya. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Tanggung Jawab Muslimah Kepada Nabi dan Agamanya

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Tuhannya

August 12th, 2015 by Abu Muawiah

Tanggung Jawab Muslimah Kepada Tuhannya

A. Tanggung Jawab Kepada Tuhannya.

Seorang muslimah wajib mengakui Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Pemberi rezki, Pengatur seluruh urusannya, dan hanya kepada-Nya berpulang semua urusan. Hal ini nampak jelas dari ucapan Hajar alaihassalam ketika beliau beserta putranya ditinggalkan oleh Ibrahim alaihissalam di Mekkah, kemudian Ibrahim beranjak pergi. Hajar bertanya kepadanya, “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Maka Hajar berkata, “Kalau begitu Dia tidak akan menelantarkan kami.” (HR. al-Bukhari)

Seorang wanita muslimah mengakui bahwa hanya Allah Ta’ala semata yang berhak untuk diibadahi, karenanya ia hanya menyembah kepada-Nya. Dia bertakwa kepada-Nya dalam keadaan sendirian maupun ketika bersama dengan orang lain dan rasa takut kepada Allah Ta’ala telah tertanam kuat di dalam hatinya. Pada masa Khalifah Umar radhiallahu anhu, ada seorang wanita penjual susu yang tidak menuruti kemauan ibunya untuk mencampur susu dengan air. Itu dia lakukan karena taat kepada Allah kemudian taat kepada Umar, padahal ketika itu Umar tidak melihatnya. Dia tidak mau hanya taat kepada Allah ketika berada di depan publik, namun dia bermaksiat kepada-Nya ketika dia sendirian. Rasa takut ini merupakan penjaga nyata yang ditanamkan di dalam hatinya oleh keimanan. Karenanya Allah Ta’ala memberi taufik kepada wanita tersebut untuk menjadi nenek dari Umar bin Abdil Aziz, sang gubernur yang adil.

Secara umum, akidah wanita muslimah adalah akidah para ulama terdahulu, yaitu: Beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadha dan qadar Allah. Dia menetapkan untuk Allah sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, disertai pemahaman terhadap makna-maknanya. Ia juga meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang hakiki, yang maha sempurna lagi mulia, dan tidak serupa sedikit pun dengan sifat makhluk. Ia meyakini seluruhnya tanpa melakukan takwil (menyelewengkan maknanya), tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk), atau ta’thil (menegasikannya), sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam QS. al-Syura/42: 11, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Tanggung Jawab Muslimah Kepada Tuhannya

Kedudukan Wanita dalam Islam

August 5th, 2015 by Abu Muawiah

Kedudukan Wanita dalam Islam

 

Islam adalah agama yang abadi dan penutup seluruh agama. Dan di antara karakteristiknya adalah universal dan adil, dimana Islam memberikan kepada setiap orang apa yang telah ditetapkan menjadi haknya, termasuk kaum wanita. Islam sangat memuliakan kaum wanita, baik dia sebagai ibu, atau sebagai istri, atau sebagai putri (anak perempuan), maupun sebagai individu masyarakat. Dan kaum wanita tidak mendapatkan perlindungan yang sepantasnya sejak dari usia dini hingga dia meninggal kecuali dalam naungan Islam. Hal ini nampak jelas melalui uraian poin-poin berikut ini:

  1. Islam mengutuk perbuatan kaum jahiliah yang mengubur hidup-hidup putri-putri mereka, dengan mengancam akan mempermalukan pelakunya di hadapan seluruh makhluk. “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (Q.S. al-Takwir/81: 8-9)

Wanita diciptakan karena suatu hikmah, dimana kaum lelaki tidak bisa hidup tanpa mereka, demikian pula sebaliknya mereka tidak bisa hidup tanpa kaum lelaki. Setiap dari lelaki dan wanita telah Allah jamin rezkinya.

  1. Islam memotivasi pemeluknya agar memelihara anak perempuan, dan menjadikan surga sebagai tempat kembali bagi yang memelihara anak perempuan. Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang diuji dengan memiliki anak-anak perempuan, namun dia memperbaiki pengasuhannya terhadap mereka, maka anak-anak itu akan menjadi tirai bagi mereka dari api neraka.” (Muttafaqun alaih)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Barangsiapa yang merawat dua anak perempuan sampai keduanya balig, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan saya dan dirinya dekat seperti kedua jari ini.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah beliau. (HR. Muslim)

Ini adalah motivasi dari Allah yang Maha Pemurah agar mereka memuliakan anak perempuan, merawat mereka, dan memperhatikan pendidikan mereka sampai mereka diserahkan kepada suami-suami mereka kelak. Agar dia bersama suaminya bisa melaksanakan tanggung jawab kehidupan yang telah dibebankan di pundak keduanya. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Kedudukan Wanita dalam Islam

Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia (Part 2)

March 23rd, 2015 by Abu Muawiah

Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia (Part 2)

Tahun 1940 di Solo, dua orang tokoh keturunan Bani Alawi, Idrus Al-Mansyhur dan Ali Bin yahya mulai menggerakkan dakwah pemakaian ‘berguk’ bagi wanita. ‘Berguk’ berasal dari kata Burqa. Di sebuah pertemuan yang dihadiri 60 orang, terdapat keprihatinan di kalangan mereka akan degradasi moral kaum wanita. Ketika itu dibicarakan, sudah banyak wanita yang keluar tanpa kerudung. Sebagai keturunan Rasulullah SAW, mereka merasa telah mengkhianati beliau. Ahmad bin Abdullah Assegaf, Segaf Al Habsyi dan Abdul Kadir Al Jufri sependapat untuk mewajibkan Berguk kepada wanita dikalangan Alawiyyin. Dakwah ini tidak hanya di Solo, namun mulai merebak ke Surabaya dan menimbulkan pertentangan. Namun akhirnya kampanye pemakaian ‘Berguk’ surut dengan sendirinya. Read the rest of this entry »

Category: Artikel Umum, Muslimah | Comments Off on Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia (Part 2)

Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia (part 1)

March 20th, 2015 by Abu Muawiah

Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia (part 1)

Berbicara mengenai jilbab di Indonesia, terutama mengenai sejarahnya bukan perkara mudah.  Tak banyak tulisan yang memuat khusus mengenai itu. Sumber-sumber sejarah yang menyingkap perjalanan jilbab di tanah air pun tidak melimpah, setidaknya jika berkaitan dengan sumber sejarah sebelum abad ke 20. Namun mengingat pentingnya jilbab sebagai bagian dari syariat Islam dalam kehidupan umat Islam saat ini, tulisan ini akan menelusuri perjalanan jilbab di tanah air.
Kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita muslim amat mungkin sudah diketahui sejak lama. Sebab telah banyak ulama-ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Tanah Suci. Ilmu yang ditimba di tanah suci, disebarkan kembali ke tanah air oleh para ulama tersebut. Kesadaran untuk menutup aurat sendiri, pastinya dilakukan setidaknya ketika perempuan sedang sholat . G.F Pijper mencatat, istilah ‘Mukena’, setidaknya telah dikenal sejak tahun 1870-an di masyarakat sunda. Meskipun begitu, pemakaian jilbab dalam kehidupan sehari-hari tidak serta merta terjadi di masyarakat. [1]
Satu hal yang pasti, sejak abad ke 19,  pemakaian jilbab telah diperjuangkan di masyarakat. Hal itu terlihat dari sejarah gerakan Paderi di Minangkabau. Gerakan revolusioner ini, turut memperjuangkan pemakaian jilbab di masyarakat.[2]
Kala itu, mayoritas masyarakat Minangkabau tidak begitu menghiraukan syariat Islam, sehingga banyak sekali terjadi kemaksiatan. Menyaksikan itu, para ulama paderi tidak tinggal diam. Mereka memutuskan untuk menerapkan syariat Islam di Minangkabau, termasuk aturan pemakaian jilbab. Bukan hanya jilbab, aturan ini bahkan mewajibkan wanita untuk memakai cadar[3] Akibat dakwah Islam yang begitu intens di Minangkabau, Islamisasi di Minangkabau telah meresap sehingga syariat Islam meresap ke dalam tradisi dan adat masyarakat Minang. Hal ini dapat kita lihat dari bentuk pakaian adat Minangkabau yang cenderung tertutup.

Read the rest of this entry »

Category: Artikel Umum, Muslimah | Comments Off on Perjuangan Panjang Jilbab di Indonesia (part 1)

Peran Wanita dan Peran Lelaki

November 30th, 2014 by Abu Muawiah

Allah Subhanahu telah menciptakan jenis lelaki dan wanita dari anak keturunan Adam dan dari semua jenis makhluk hidup. Allah juga menuntun setiap dari mereka menuju peran yang sesuai dengan postur fisik dan perilakunya, agar perannya bisa mendatangkan manfaaat dan mencapai target. Sebagaimana firman Allah Ta’ala melalui lisan Musa dan Harun alaihimassalam, tatkala Fir’aun bertanya kepada mereka berdua:
(قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى* قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى)
“Dia bertanya, “Maka siapakah Rabb kalian berdua wahai Musa?” Beliau menjawab, “Rabb kami adalah Yang telah menciptakan segala sesuatu kemudian menuntun mereka.” (QS. Thaha: 49-50)
Maksudnya: Rabb kami adalah Yang menciptakan semua makhluk dan memberikan setiap makhluk postur tubuh yang sesuai. “Kemudian menuntun mereka.” semua makhluk menuju tujuan penciptaannya.
Setiap makhluk berusaha untuk memenuhi tujuan penciptaan mereka, berupa meraih manfaat untuk dirinya dan mencegah terjadinya mudharat dari dirinya. Dan di antara makhluk-makhluk itu adalah manusia. Kaum lelaki mempunyai postur tubuh tersendiri dan perilaku kejantanan tersendiri, dan kaum wanita juga mempunyai postur tubuh tersendiri dan perilaku kewanitaan tersendiri. Kapan setiap dari kedua jenis ini mengingkari peran dan perilaku yang khusus baginya, maka keteraturan alam semesta akan terlantar dan berbagai maslahat akan terbengkalai. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء، ولعن الله المتشبهات من النساء بالرجال”
“Allah melaknat kaum lelaki yang menyerupai wanita dan Allah melaknat kaum wanita yang menyerupai lelaki.”
Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Peran Wanita dan Peran Lelaki

Wanita Haid Bolehkah Berenang?

February 8th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Bagaimana hukumnya bila kita sedang haid tetapi berenang di kolam renang dengan terpaksa untuk nilai Ujian Praktek SMA ? Apakah boleh berenang dalam keadaan haid?

Jawab:
Tidak ada masalah insya Allah. Tidak ada larangan bagi wanita yang haid untuk mandi di dalam air yang diam, seperti kolam renang.
Adapun hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا يغتسِلُ أحدُكم في الماءِ الدَّائم ِوهو جنُبٌ
“Jangan salah seorang dari kalian mandi di dalam air yang diam, dlm keadaan dia junub.” (HR. Muslim no. 283)
Maka hadits ini hanya berlaku bagi orang yang junub.
Dan walaupun haid dan junub sama-sama hadats akbar, namun menyamakan keduanya dalam hukum permasalahan ini adalah kurang tepat, karena adanya perbedaan mencolok di antara keduanya. Yaitu: Junub bisa dihilangkan segera dengan mandi, sementara haid tidak bisa dihilangkan kecuali setelah berhentinya darah haid. Wallahu a’lam

Category: Muslimah | Comments Off on Wanita Haid Bolehkah Berenang?

Jika Suamiku Masuk Neraka …

January 23rd, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Kalau suami kita ternyata masuk ke dalam neraka, apakah istri juga ikut masuk ke dalam neraka mendampinginya?

Jawab:
Saya berasumsi bahwa penanya di sini memaksudkan: Jika istri masuk ke dalam surga namun suaminya masuk ke dalam neraka, apakah istrinya juga ikut ke dalam neraka?
Maka jawabannya:
Jika si istri adalah ahli surga, maka dia tidak akan dimasukkan ke dalam neraka, hanya gara-gara suaminya masuk ke dalam neraka. Karena jika itu terjadi, maka berarti wanita ini telah dizhalimi. Sementara tdk ada kezhaliman pd hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman:
وﻻ يظلم ربك أحدا
“Dan Rabbmu tidak akan menzhalimi siapa pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)
Juga firman-Nya:
وهم ﻻ يظلمون
“Dan mrk tdk akan dizhalimi.” (QS. Al-Ahqaf: 19)

Istrinya atau siapapun dari kerabatnya tdk akan menanggung dosa lelaki tersebut. Allah Ta’ala berfirman:
(أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ)
“Bahwa tidak ada seorang pun pendosa yang menanggung dosa orang lain.” (QS. An Najm: 38) Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on Jika Suamiku Masuk Neraka …

Istri-Istri Nabi Muhammad

December 25th, 2013 by Abu Muawiah

Istri Rosulullah shollallahu ‘alahi wa sallam ada 11. Berikut cara agar mudah mengingatnya:
1. Ada 4 org yg urutannya sesuai dgn tarikh (yg lbh awal dinikahi oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam):
Khodijah
Saudah
Aisyah
Hafshoh

2. Ada 2 org yg dikenal dgn kun-yah:
Ummu Habibah
Ummu Salamah

3. Ada 2 org yg bernama Zainab:
Zainab bintu Jahsy
Zainab bintu Khuzaimah

4. Kemudian 3 org yg lainnya:
Juwairiyyah
Shofiyyah
Maymunah
rhodhiyallahu ‘anhunna. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah, Tahukah Anda? | Comments Off on Istri-Istri Nabi Muhammad

Hukum Perlombaan Memasak

December 13th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamualaikum. Ustad apa hukum lomba memasak?

Jawab:
Waalaikumussalam.
Tidak mengapa mengikuti lomba masak dan makan darinya, selama tdk ada unsur perjudian dan membuang2 harta dan makanan padanya. Wallahu a’lam.
Adapun hadits riwayat Abu Daud dr Ibnu Abbas ttg larangan memakan makanan dr 2 org yg saling mengalahkan, maka:
1. Ada perselisihan dlm keabsahannya. Abu Daud sendiri dan diikuti oleh Adz Dzahabi menyatakan sanadnya mursal (terputus).
2. Kalau pun shahih, maka sebab larangan dlm hadits itu sdh dijelaskan oleh para ulama. Yaitu karena riya, sombong, memakan harta manusia dgn cara yg batil, dan semacamnya.
Sebagian lainnya menafsirkan, ini dlm hal undangan makan dimana ada 2 org yg berlomba mengundang makan, lantas keduanya berlomba dlm memperbanyak makanan agar org2 mendahulukan undangannya dibandingkan yg lainnya, atau hanya menghadiri undangannya, tdk undangan lainnya. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Muslimah | Comments Off on Hukum Perlombaan Memasak