Archive for the 'Manhaj' Category

Fanatik pada Ustadz atau Ulama

February 14th, 2013 by Abu Muawiah

Fanatik pada Ustadz atau Ulama

Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah pernah ditanya :

ما حكم من أحب عالماً أو داعية، وقال : إني أحبه حبًا كثيرًا، لا أريد أن أسمع أحداً يرد عليه، وأنا آخذ بكلامه حتى وإن كان مخالفاً للدليل، لأن هذا الشيخ أعرف منا بالدليل ؟

“Apa hukum bagi seseorang yang mencintai seorang ulama atau da’i, hingga ia berkata : ‘Sesungguhnya aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin seorang pun membantahnya, dan aku mengambil perkataannya meskipun ia menyelisihi dalil, karena syaikh tersebut lebih mengetahui dalil daripada kita’ ?”.

Beliau hafidhahullah menjawab :

هذا تعصب ممقوت مذموم، ولا يجوز.

نحن نحب العلماء –و لله الحمد-، ونحب الدعاة في الله عز وجل، لكن إذا أخطأ واحد منهم في مسألة فنحن نُبَيِّن الحق في هذه المسألة بالدليل، ولا يُنقص ذلك من محبة المردود عليه، ولا من قدره .

يقول الإمام مالك – رحمه الله – : (( ما مِنَّا إلا رادٌ ومردودٌ عليه؛ إلا صاحب هذا القبر )). يعني : رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Sikap ini merupakan kefanatikan (ta’ashub) yang dibenci lagi tercela, tidak diperbolehkan.[1]

Kita mencintai ulama – walillaahil-hamd – , dan mencintai da’i yang menyeru di jalan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi jika salah seorang di antara mereka terjatuh dalam kesalahan dalam satu permasalahan, maka kita menjelaskan kebenaran dalam permasalahan ini dengan dalil. Hal itu sama sekali tidaklah mengurangi kecintaan kita pada orang yang dibantah, dan tidak pula mengurangi kedudukannya.

Al-Imaam Maalik rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pun dari kita kecuali orang yang membantah atau yang dibantah, kecuali pemilik kubur ini”[2] – yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

نحن إذا رددنا على بعض أهل العلم، وبعض الفضلاء؛ ليس معنى هذا أننا نبغضه أو نتنقصه، وإنما نُبَيِّن الصواب، ولهذا يقول بعض العلماء لما أخطأ بعض زملائه، قال : (( فلان حبيبنا، ولكن الحق أحب إلينا منه )). ، هذا هو الطريق الصحيح .

ولا تفهموا أن الرَّد على بعض العلماء في مسألة أخطأ فيها معناه تَنَقُّص لـه أو بُغض، بل ما زال العلماء يرد بعضهم على بعض، وهم اخوة ومتحابون .

ولا يجوز لنا أن نأخذ كل ما يقوله الشخص أخذاً مسلّماً؛ أصاب أو أخطأ، لأن هذا تعصُّب .

“Apabila kita membantah sebagian ulama dan sebagian fudlalaa’ tidaklah bermakna kita membencinya atau merendahkannya. Kita hanyalah menjelaskan kebenaran. Oleh karenanya sebagian ulama berkata ketika sebagian rekannya terjatuh dalam kesalahan : ‘Fulaan adalah orang yang kami cintai, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai daripadanya’[3]. Inilah jalan yang benar.

Janganlah kalian memahami bahwa bantahan terhadap sebagian ulama dalam permasalahan yang mereka jatuh dalam kekeliruan bermakna perendahan atau kebencian. Bahkan para ulama senantiasa memberikan bantahan sebagian terhadap sebagian yang lain, dalam keadaan mereka saling bersaudara dan mencintai. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Fanatik pada Ustadz atau Ulama

Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

February 7th, 2013 by Abu Muawiah

Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

Tanya :

فضيلة الشيخ صالح أحسن الله إليك، هناك فئة من طلبة العلم وبعض الشباب تحزبوا واحتكروا السلفية وبدعوا إخوانهم وتعصَّبوا لآرائهم تعصُّباً شديداً. يقول: ما السلفية؟

Fadliilatusy-Syaikh Shaalih, semoga Allah melimpahkan Anda kebaikan. Terdapat sekelompok penuntut ilmu dan sebagian pemuda yang ber-tahazzub dan memonopoli istilah Salafiyyah, yang kemudian membid’ahkan saudara mereka dimana mereka  sangat fanatik terhadap pendapat mereka tersebut. Sebenarnya, apakah Salafiyyah itu ?

 

Jawab :

السلفية: من كان على منهج السلف قال تعالى:

{وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِن الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ}[التوبة: 100]

وقال تعالى:

{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ} [الحشر: 10]

فالسلفية هي اتباع السلف من الصحابة والتابعين وأتباع التابعين والقرون المفضلة هذه هي السلفية، وليس لأحد أن يحتكرها، فكل من سار على منهج السلف فهو سلفي، فليست خاصة بفئة أو بشخص وإنما هي لمن اتصف بها على الحقيقة.

ثم إني أدعو إلى أن الشباب وطلبة العلم يترفعون عن هذا التنابز بالألقاب : هذا سلفي هذا جامي هذا إخواني هذا كذا … أنا لا أرى هذه الأمور لأنها أصبحت نفَّرت المسلمين وشباب المسلمين وأوقعت الفتنة. وأحثُّ على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله ومنهج السلف الصالح وأن نكون إخوة متحابين في الله عزوجل.

“Salafiyyah adalah siapa saja yang berada di atas manhaj salaf. Allah ta’ala telah berfirman : ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik’ (QS. At-Taubah : 100). Dia ta’ala juga berfirman : ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami” (QS. Al-Hasyr : 10).

Maka Salafiyyah itu adalah mengikuti salaf dari kalangan shahabat, tabi’iin, atbaa’ut-taabi’iin, dan generasi yang utama. Inilah yang dinamakan Salafiyyah. Tidak ada seorangpun yang berhak memonopolinya. Setiap orang yang berjalan di atas manhaj salaf, maka dia itu Salafiy. Salafiyyah tidaklah dikhususkan pada kelompok tertentu atau individu tertentu, karena Salafiyyah itu hanyalah disifatkan untuk setiap orang benar-benar berada di atas manhaj salaf (secara hakiki).

Kemudian aku mengajak para pemuda dan penuntut ilmu untuk menghilangkan saling panggil : ‘Orang ini Salafiy, orang ini Jaamiy, orang ini Ikhwaaniy,…dst… Aku tidak menganggap perkara-perkara ini (termasuk perkara yang bermanfaat), karena hal tersebut akan membuat kaum muslimin dan para pemuda muslim menjauh/lari (dari dakwah), serta menyebabkan terjadinya fitnah. Aku menganjurkan untuk senantisa berpegang teguh pada Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, dan manhaj As-Salafush-Shaalih, sehingga kita menjadi bersaudara yang saling mencintai karena Allah ‘azza wa jalla” [selesai]. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

Dia Bukan Salafiy

January 27th, 2013 by Abu Muawiah

Pertanyaan :
“Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda wahai syaikh,…. Penanya ini berkata : ‘Sungguh akhir-akhir ini telah banyak digunakan kalimat : ‘Fulan bukan salafiyyiin’ atau ‘Ia bukan termasuk salafiyyiin’. Apakah perkataan ini dianggap sebagai tabdii’ dan menjadi keharusan untuk menegakkan hujjah kepadanya ?”.

 

Jawab :
“Demi Allah, aku memperingatkan kalian agar tidak menggunakan ungkapan seperti ini. Yang lebih cocok/sesuai bagi muslim dan juga bagi penuntut ilmu…. bahwa mereka semua berada di atas kebaikan, mereka di atas ‘aqidah salaf. Sebagian mereka mungkin mempunyai beberapa kekurangan dan kebodohan, namun mereka tidaklah dikeluarkan dari lingkup Salafiyyin.
Perkataan ini tidaklah diperbolehkan. Perkataan ini tidak boleh diucapkan antar saudara, antar para penuntut ilmu, antar anak-anak kaum muslimin, dan diucapkan di negeri-negeri muslim… ini tidak diperbolehkan.
Seandainya engkau mengetahui beberapa pokok perselisihan yang terjadi dengan saudaramu, maka seharusnya engkau menasihatinya. Adapun mengatakan : ‘dia bukan dari salafiy’ atau ‘tidak berada di atas salafiyyah’…. mungkin engkau sendiri belum mengetahui apa Salafiyyah itu.
Sebagian dari mereka mengklaim Salafiy, padahal mereka belum mengetahui apa makna Salafiy…. Jika kalian bertanya kepada mereka apa itu salafiyyah dan apa artinya, maka mereka tidak mengetahuinya. Na’am….”.

[selesai – dari penjelasan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah dalam http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/9918].

Category: Fatawa, Manhaj | 1 Comment »

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

March 23rd, 2012 by Abu Muawiah

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

“Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]

“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat]

“Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]

Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”(1) . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid

Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah radhiallahu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini, “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | 10 Comments »

Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah

October 9th, 2011 by Abu Muawiah

Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah

Copas (copy-paste) artikel atau link (dari blog lain) dalam dunia bloging sudah merupakan hal yang lumrah dan merupakan salah satu cara para bloger untuk mengisi content blog mereka. Dan sudah diketahui bersama bahwa ketika sebuah blog menukil artikel atau link dari blog lain, maka itu sama sekali tidak menunjukkan kalau kedua blog tersebut mempunyai koneksi atau hubungan atau kerjasama yang lebih khusus. Dan ini insya Allah yang dipahami oleh para bloger dan para pembaca blog. Hal itu karena terkadang seorang bloger menukil artikel dari blog lain dikarenakan dia setuju dengan isi artikel tersebut dan dia tidak bisa menulis sendiri atau dia tidak mempunyai referensi yang lengkap sebagaimana artikel yang akan dia nukil tersebut. Karenanya kita tidak bisa memastikan dua blog atau lebih itu mempunyai hubungan ‘khusus’ hanya berdasarkan salah satunya menukil artikel atau link dari blog yang lainnya.

Ini jika artikel yang dinukil adalah dalam masalah keduniaan, insya Allah bisa dipahami. Hanya saja permasalahan itu muncul jika artikel yang dinukil itu berkenaan dengan agama, dimana sebagian orang yang tidak jelas lagi jahil serta merta menghukumi dua blog atau lebih itu mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’ hanya karena salah satunya menukil artikel keagamaan dari yang lainnya. Padahal alasan bloger yang menukil dari blog lain biasanya juga sama seperti alasan penukilan artikel keduniaan di atas. Yakni: Karena bloger tersebut memandang isi artikel itu adalah kebenaran dan dia tidak mempunyai waktu untuk menulis seperti itu ataukah dia tidak mempunyai referensi yang dimiliki oleh artikel yang akan dinukil tersebut. Wallahul Musta’an. Dan tentunya, sudah menjadi etika dalam dunia bloging secara umum dan copas secara khusus, bahwa blog yang menukil haruslah menyertakan link asal artikel, sebagai bentuk amanat ilmiah darinya.

Demikian gambaran permasalahannya secara umum. Adapun secara khusus, masalahnya adalah: Ketika sebuah blog ahlussunnah menukil atau copas dari blog selain ahlussunnah, apakah langsung divonis jika kedua blog ini mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’? Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | 48 Comments »

Kewajiban Menaati Pemerintah

August 15th, 2011 by Abu Muawiah

15 Ramadhan

Kewajiban Menaati Pemerintah

Di antara pokok-pokok akidah ahlissunnah adalah mendengar dan taat kepada pemerintah muslim pada perkara-perkara yang bukan maksiat. Allah Ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa`: 59)
Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah pemerintah berdasarkan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Hal ini juga ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barang siapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa metaati seorang pemimpin sungguh dia telah mentaatiku, dan siapa saja bermaksiat kepada seorang pemimpin maka dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 3417)
Dari Nafi’ bin Umar radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah, danbarang siapa mati dalam keadaan tidak berbaiat, maka ia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 3441)
Yakni berbaiat kepada penguasa jika mereka memintanya. Karenanya baiat kepada selain pemerintah merupakan tindakan keluar dari ketaatan kepada mereka. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Manhaj, Quote of the Day | 4 Comments »

Berpegang Teguh Kepada As-Sunnah Dan Menjauhi Bid’ah

August 3rd, 2011 by Abu Muawiah

03 Ramadhan

Berpegang Teguh Kepada Al-Kitab dan As-Sunnah

Allah Azza wa Jalla berfirman:
اليوم اكملتُ لكم دينكم وأتممتُ عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفورٍ رحيم
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ada sebuah kaum yang mengklaim cinta kepada Allah, maka Allah menurunkan ayat (Al-Maidah) ini sebagai ujian kepada mereka.”
Ayat (Al-Maidah) di atas mengandung dalil bahwa siapa saja yang mengklaim bahwa dirinya adalah wali Allah atau dirinya cinta kepada Allah akan tetapi dia tidak mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia bukanlah termasuk wali-wali Allah, bahkan dia termasuk dari wali-wali setan.
Di dalam ayat ini juga terdapat penyebutan ciri-ciri dan tanda cinta kepada Allah, yaitu harus mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Di dalam ayat ini juga terdapat penetapan sifat cinta dari kedua belah pihak, yaitu cinta kaum mukminin kepada Allah dan cinta Allah kepada mereka. Kecintaan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman, itu lebih tinggi daripada sekedar rahmat dan kebaikan-Nya kepada mereka. Read the rest of this entry »

Category: Manhaj, Quote of the Day | 2 Comments »

Iddah Wanita yang Ditinggal Mati Suami

July 13th, 2011 by Abu Muawiah

Iddah Wanita yang Ditinggal Mati Suami

Tanya:
Langsung saja, ayah saya bulan juli kemarin meninggal ( tepatnya 05-07-2010 ), saya pernah dengar ( termasuk lingkungan di sekitar ) katanya sebelum 40 hari ayah saya, mama tidak boleh keluar rumah ( kalau tidak salah itu termasuk dalam masa iddah ). Pertanyaan saya :
1. Dalam islam benarkah itu yang di namakan masa iddah?
2. Keluarga saya hidup dari jualan warung kelontong yang biasa di jaga oleh ayah saya, setelah ayah saya meninggalkan kami, mama buka warung bertepatan hari ke 14 setelah ayah saya meninggal dan waktu itu beliau juga pernah pergi ke pasar guna membeli keprluan warung yang stoknya sudah habis dan belanja untuk tahlilan sebelum puasa ( roah-an ) ( karena saya kerja dan adik2 sekolah ). Bagaiman hukumnya? apakah mama saya sudah melanggar yang harusnya beliau tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari ? ( Jarak antara rumah dan warung kami +/- 50 mtr ). hal ini di lakukan karena menurut mama saya, jika beliau tidak buka warung, kami tidak bisa makan seperti layaknya hari biasa ataupun bayar sekolah, krn memang semua di hasilkan dari hasil jualan di warung
3. Tanggal 10-08-2010, insya allah ummat islam sudah menjalankan shalat tarawih dan puasa keesokan harinya. bolehkan mama saya pergi untuk shalat tarawih yang jaraknya +/- 150 mtr dari rumah?
Terima Kasih sebelumnya, saya sangat ingin jawaban dari Bpk Ustadz
rna [rizki@pelangi-cimandiri.co.id] Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • iddah wajitayg ditinggal mati suami

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Manhaj | 8 Comments »

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-4)

March 4th, 2011 by Abu Muawiah

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-4)

Empat : Mendukung dan memuji aksi-aksi terorisme.

Dasar keempat ini merupakan ciri mereka yang sangat pokok, walaupun sebagian dari mereka kadang tidak menampakkan dukungan tersebut di depan khalayak umum. Namun pembicaraan dan fatwa-fatwa mereka di majelis khusus atau di kalangan mereka sendiri secara lisan maupun tulisan sangat mendukung dan menganjurkan hal tersebut.

Dan setelah kejelasan dari keterangan-keterangan yang telah lalu, kami tegaskan bahwa munculnya aksi-aksi terorisme buah dari pemikiran yang diyakini oleh para pelakunya merupakan bagian dari agama. Dan tiga dasar pokok dari manhaj terselubung yang telah kita sebutkan adalah beberapa tahapan yang membuahkan dasar keempat ini. Sebab berdasarkan penelitian sejarah terhadap berbagai kejadian dan fitnah yang telah terjadi dan apa yang kita saksikan pada masa sekarang ini, ternyata peledakan dan aksi-aksi terorisme tersebut tidak keluar dari tiga tahapan,

Tahapan pertama : Membuat manusia lari dan meninggalkan para ulama dan keluar dari keta’atan kepada penguasa.

Tahapan kedua : Pengkafiran.

Tahapan ketiga : Peledakan dan penghancuran[1].

Berikut ini perhatikan bagaimana para tokoh hizbiyah terselubung ini mendukung dan menyeru untuk melakukan aksi-aksi terorisme. Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme, Manhaj | Comments Off on Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-4)

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-3)

February 28th, 2011 by Abu Muawiah

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-3)

Tiga : Menjatuhkan vonis terhadap individu atau pihak tertentu sebagai orang-orang kafir (Paham Takfîry).

Masalah menjatuhkan vonis kafir adalah suatu hal yang sangat riskan sekali. Betapa banyak orang yang tergelincir dan sesat pemahamannya karena masalah ini. Tidak terhitung berbagai fitnah yang terjadi, darah suci tidak bersalah yang tertumpah, dan sejumlah prinsip agama yang ternodai karena masalah ini. Bahkan bahayanya juga telah mengganggu para ulama dan wali-wali Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Tidaklah darah ‘Utsman bin Affan radhiyallâhu ‘anhu berserakan kecuali karena perbuatan orang-orang khawarij yang memuat pemahaman takfiry. Pemikiran takfiry yang bejat ini telah membuat mereka sangat lancang terhadap ‘Utsman radhiyallâhu ‘anhu yang para malaikat malu kepadanya.

Bayangkan bagaimana rusaknya pemahaman takfiry ini, sehingga ‘Abdurrahman bin Muljim dengan penuh kebencian dan kebejatan berani membunuh ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallâhu ‘anhu saat beliau keluar untuk menunaikan sholat Subuh. Tidak terbatas pada itu saja, penyair Khawarij ‘Imrân bin Hiththôn As-Sadûsy senantiasa memuji sang teroris tersebut. ‘Imran bersenandung, Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme, Manhaj | Comments Off on Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-3)