Archive for the 'Manhaj' Category

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

March 23rd, 2012 by Abu Muawiah

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

“Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]

“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat]

“Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]

Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”(1) . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid

Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah radhiallahu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini, “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | 7 Comments »

Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah

October 9th, 2011 by Abu Muawiah

Menukil Kebenaran Dari Selain Ahlussunnah

Copas (copy-paste) artikel atau link (dari blog lain) dalam dunia bloging sudah merupakan hal yang lumrah dan merupakan salah satu cara para bloger untuk mengisi content blog mereka. Dan sudah diketahui bersama bahwa ketika sebuah blog menukil artikel atau link dari blog lain, maka itu sama sekali tidak menunjukkan kalau kedua blog tersebut mempunyai koneksi atau hubungan atau kerjasama yang lebih khusus. Dan ini insya Allah yang dipahami oleh para bloger dan para pembaca blog. Hal itu karena terkadang seorang bloger menukil artikel dari blog lain dikarenakan dia setuju dengan isi artikel tersebut dan dia tidak bisa menulis sendiri atau dia tidak mempunyai referensi yang lengkap sebagaimana artikel yang akan dia nukil tersebut. Karenanya kita tidak bisa memastikan dua blog atau lebih itu mempunyai hubungan ‘khusus’ hanya berdasarkan salah satunya menukil artikel atau link dari blog yang lainnya.

Ini jika artikel yang dinukil adalah dalam masalah keduniaan, insya Allah bisa dipahami. Hanya saja permasalahan itu muncul jika artikel yang dinukil itu berkenaan dengan agama, dimana sebagian orang yang tidak jelas lagi jahil serta merta menghukumi dua blog atau lebih itu mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’ hanya karena salah satunya menukil artikel keagamaan dari yang lainnya. Padahal alasan bloger yang menukil dari blog lain biasanya juga sama seperti alasan penukilan artikel keduniaan di atas. Yakni: Karena bloger tersebut memandang isi artikel itu adalah kebenaran dan dia tidak mempunyai waktu untuk menulis seperti itu ataukah dia tidak mempunyai referensi yang dimiliki oleh artikel yang akan dinukil tersebut. Wallahul Musta’an. Dan tentunya, sudah menjadi etika dalam dunia bloging secara umum dan copas secara khusus, bahwa blog yang menukil haruslah menyertakan link asal artikel, sebagai bentuk amanat ilmiah darinya.

Demikian gambaran permasalahannya secara umum. Adapun secara khusus, masalahnya adalah: Ketika sebuah blog ahlussunnah menukil atau copas dari blog selain ahlussunnah, apakah langsung divonis jika kedua blog ini mempunyai koneksi dan hubungan ‘khusus’? Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | 46 Comments »

Kewajiban Menaati Pemerintah

August 15th, 2011 by Abu Muawiah

15 Ramadhan

Kewajiban Menaati Pemerintah

Di antara pokok-pokok akidah ahlissunnah adalah mendengar dan taat kepada pemerintah muslim pada perkara-perkara yang bukan maksiat. Allah Ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa`: 59)
Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah pemerintah berdasarkan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Hal ini juga ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barang siapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa metaati seorang pemimpin sungguh dia telah mentaatiku, dan siapa saja bermaksiat kepada seorang pemimpin maka dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari no. 2737 dan Muslim no. 3417)
Dari Nafi’ bin Umar radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah, danbarang siapa mati dalam keadaan tidak berbaiat, maka ia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 3441)
Yakni berbaiat kepada penguasa jika mereka memintanya. Karenanya baiat kepada selain pemerintah merupakan tindakan keluar dari ketaatan kepada mereka. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Manhaj, Quote of the Day | 4 Comments »

Berpegang Teguh Kepada As-Sunnah Dan Menjauhi Bid’ah

August 3rd, 2011 by Abu Muawiah

03 Ramadhan

Berpegang Teguh Kepada Al-Kitab dan As-Sunnah

Allah Azza wa Jalla berfirman:
اليوم اكملتُ لكم دينكم وأتممتُ عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفورٍ رحيم
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ada sebuah kaum yang mengklaim cinta kepada Allah, maka Allah menurunkan ayat (Al-Maidah) ini sebagai ujian kepada mereka.”
Ayat (Al-Maidah) di atas mengandung dalil bahwa siapa saja yang mengklaim bahwa dirinya adalah wali Allah atau dirinya cinta kepada Allah akan tetapi dia tidak mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia bukanlah termasuk wali-wali Allah, bahkan dia termasuk dari wali-wali setan.
Di dalam ayat ini juga terdapat penyebutan ciri-ciri dan tanda cinta kepada Allah, yaitu harus mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Di dalam ayat ini juga terdapat penetapan sifat cinta dari kedua belah pihak, yaitu cinta kaum mukminin kepada Allah dan cinta Allah kepada mereka. Kecintaan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman, itu lebih tinggi daripada sekedar rahmat dan kebaikan-Nya kepada mereka. Read the rest of this entry »

Category: Manhaj, Quote of the Day | 1 Comment »

Iddah Wanita yang Ditinggal Mati Suami

July 13th, 2011 by Abu Muawiah

Iddah Wanita yang Ditinggal Mati Suami

Tanya:
Langsung saja, ayah saya bulan juli kemarin meninggal ( tepatnya 05-07-2010 ), saya pernah dengar ( termasuk lingkungan di sekitar ) katanya sebelum 40 hari ayah saya, mama tidak boleh keluar rumah ( kalau tidak salah itu termasuk dalam masa iddah ). Pertanyaan saya :
1. Dalam islam benarkah itu yang di namakan masa iddah?
2. Keluarga saya hidup dari jualan warung kelontong yang biasa di jaga oleh ayah saya, setelah ayah saya meninggalkan kami, mama buka warung bertepatan hari ke 14 setelah ayah saya meninggal dan waktu itu beliau juga pernah pergi ke pasar guna membeli keprluan warung yang stoknya sudah habis dan belanja untuk tahlilan sebelum puasa ( roah-an ) ( karena saya kerja dan adik2 sekolah ). Bagaiman hukumnya? apakah mama saya sudah melanggar yang harusnya beliau tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari ? ( Jarak antara rumah dan warung kami +/- 50 mtr ). hal ini di lakukan karena menurut mama saya, jika beliau tidak buka warung, kami tidak bisa makan seperti layaknya hari biasa ataupun bayar sekolah, krn memang semua di hasilkan dari hasil jualan di warung
3. Tanggal 10-08-2010, insya allah ummat islam sudah menjalankan shalat tarawih dan puasa keesokan harinya. bolehkan mama saya pergi untuk shalat tarawih yang jaraknya +/- 150 mtr dari rumah?
Terima Kasih sebelumnya, saya sangat ingin jawaban dari Bpk Ustadz
rna [rizki@pelangi-cimandiri.co.id] Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • apakah janda ditinggal mati suami boleh menikah lagi ?
  • IDDAH DITINGGAL MATI SUAMI
  • iddah wanita
  • menikahi wanita yang ditinggal mati suami

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Manhaj | 5 Comments »

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-4)

March 4th, 2011 by Abu Muawiah

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-4)

Empat : Mendukung dan memuji aksi-aksi terorisme.

Dasar keempat ini merupakan ciri mereka yang sangat pokok, walaupun sebagian dari mereka kadang tidak menampakkan dukungan tersebut di depan khalayak umum. Namun pembicaraan dan fatwa-fatwa mereka di majelis khusus atau di kalangan mereka sendiri secara lisan maupun tulisan sangat mendukung dan menganjurkan hal tersebut.

Dan setelah kejelasan dari keterangan-keterangan yang telah lalu, kami tegaskan bahwa munculnya aksi-aksi terorisme buah dari pemikiran yang diyakini oleh para pelakunya merupakan bagian dari agama. Dan tiga dasar pokok dari manhaj terselubung yang telah kita sebutkan adalah beberapa tahapan yang membuahkan dasar keempat ini. Sebab berdasarkan penelitian sejarah terhadap berbagai kejadian dan fitnah yang telah terjadi dan apa yang kita saksikan pada masa sekarang ini, ternyata peledakan dan aksi-aksi terorisme tersebut tidak keluar dari tiga tahapan,

Tahapan pertama : Membuat manusia lari dan meninggalkan para ulama dan keluar dari keta’atan kepada penguasa.

Tahapan kedua : Pengkafiran.

Tahapan ketiga : Peledakan dan penghancuran[1].

Berikut ini perhatikan bagaimana para tokoh hizbiyah terselubung ini mendukung dan menyeru untuk melakukan aksi-aksi terorisme. Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme, Manhaj | No Comments »

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-3)

February 28th, 2011 by Abu Muawiah

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-3)

Tiga : Menjatuhkan vonis terhadap individu atau pihak tertentu sebagai orang-orang kafir (Paham Takfîry).

Masalah menjatuhkan vonis kafir adalah suatu hal yang sangat riskan sekali. Betapa banyak orang yang tergelincir dan sesat pemahamannya karena masalah ini. Tidak terhitung berbagai fitnah yang terjadi, darah suci tidak bersalah yang tertumpah, dan sejumlah prinsip agama yang ternodai karena masalah ini. Bahkan bahayanya juga telah mengganggu para ulama dan wali-wali Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Tidaklah darah ‘Utsman bin Affan radhiyallâhu ‘anhu berserakan kecuali karena perbuatan orang-orang khawarij yang memuat pemahaman takfiry. Pemikiran takfiry yang bejat ini telah membuat mereka sangat lancang terhadap ‘Utsman radhiyallâhu ‘anhu yang para malaikat malu kepadanya.

Bayangkan bagaimana rusaknya pemahaman takfiry ini, sehingga ‘Abdurrahman bin Muljim dengan penuh kebencian dan kebejatan berani membunuh ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallâhu ‘anhu saat beliau keluar untuk menunaikan sholat Subuh. Tidak terbatas pada itu saja, penyair Khawarij ‘Imrân bin Hiththôn As-Sadûsy senantiasa memuji sang teroris tersebut. ‘Imran bersenandung, Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme, Manhaj | No Comments »

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-2)

February 25th, 2011 by Abu Muawiah

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-2)

Dua : Menjelekkan dan menjauhkan umat dari para ulama yang hakiki.

Telah berlalu sedikit penjelasan bahwa sangatlah besar bahaya yang mengancam umat apabila mereka jauh dari para ulamanya. Karena itu salah satu misi penting dari manhaj terselubung ini adalah menjatuhkan para ulama dan menjauhkan umat dari mereka sehingga dengan leluasa umat ini akan digiring kepada kerusakan dan target-target tertentu yang diinginkan oleh para tokoh manhaj terselubung ini.

Perhatikanlah orang-orang khawarij yang membunuh ‘Utsman bin Affan radhiyallâhu ‘anhu dan yang memerangi ‘Ali bin Abi Thôlib radhiyallâhu ‘anhu. Mereka adalah orang-orang yang menolak nasehat para shahabat dan tidak ada seorang shahabat pun dalam barisan mereka. Inilah ciri para pembuat fitnah dan para pemicu kerusakan di setiap zaman, yaitu melecehkan dan menjauhkan umat dari ulama mereka.

Termasuk di zaman kita ini, para tokoh hizbiyah terselubung tersebut juga telah menempuh cara nenek moyang mereka.

Perhatikan bagaimana Sayyid Quthub menjelekkan ‘Utsman bin ‘Affan, Mu’awiyah, ‘Amr bin Âsh dan sejumlah para shahabat yang lainnya radhiyallâhu ‘anhum[1], tuduhan-tuduhan yang keji penuh kedustaan terhadap para shahabat Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam yang merupakan penyampai wahyu dari Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam. Tentunya siapa yang mencerca mereka maka ia telah merubuhkan tonggak Islam. Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme, Manhaj | No Comments »

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-1)

February 21st, 2011 by Abu Muawiah

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-1)

Dasar-dasar pokok manhaj terselubung tersebut dibangun di atas beberapa perkara[1].

Satu : Membuat umat benci kepada para penguasa.

Pelaksanaan dan ciri penganut manhaj terselubung ini pada setiap masa adalah menampakkan kejelekan-kejelekan para penguasa dan membeberkannya di mimbar-mimbar, diskusi, pertemuan dan di berbagai majelis, membuat umat benci kepada para penguasanya dengan berbagai pensifatan “Pengkhianat Bangsa dan Negara”, “Menjual Bangsa dan Negara untuk kepentingan asing”, “Penyebab malapetaka dan bencana untuk rakyat”, dan sebagainya dari kamus cercaan yang belum pernah sampai ke huruf Z. Demikian pula menyembunyikan kebaikan para penguasa serta tidak menampakkannya. Sehingga kebaikan apa saja yang terjadi di suatu negeri berupa penegakan keamanan, terlaksananya sholat-sholat wajib di berbagai tempat, pembangunan masjid-masjid, santunan kepada sebagian orang miskin dan lain-lainnya, tidak akan pernah disebut oleh para pengikut manhaj terselubung ini, para pelaku fitnah yang tidak akan menghafal adanya kebaikan pada siapapun.

Perhatikanlah para pembaca yang terhormat –semoga Allah merahmati engkau-, betapa besar bahaya yang mengancam umat apabila mereka terdidik untuk benci dan menentang para penguasanya. Dan apabila hanya dendam, kebencian, laknat dan anggapan bahwa para penguasa adalah sebab malapetaka dan musibah yang menimpa kaum muslimin yag bercokol dalam hati dan pikiran mereka, maka sungguh hanya kerusakan dan kehancuran yang akan terjadi. Dan Rasulullâh shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam telah mengingatkan,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وُتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ قَالُوْا قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لَا مَا أَقَامَ فِيْكُمُ الصَّلَاةَ لَا مَا أَقَامَ فِيْكُمُ الصَّلَاةَ أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِيْ شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِيْ مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cinta kepada mereka dan mereka (juga) cinta kepada kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka (juga) mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian benci kepada mereka dan mereka juga benci kepada kalian, kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian. Kami bertanya, “Wahai Rasulullâh, tidakkah kita melawan mereka dalam keadaan demikian.” Beliau menjawab, “Tidak, sepanjang mereka masih menegakkan sholat, tidak, sepanjang mereka masih menegakkan sholat. Ingatlah, siapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin lalu ia melihatnya melakukan sesuatu dari kemaksiatan kepada Allah, maka handaknya ia benci kepada maksiat yang dia lakukan dan jangan sekali-kali ia melepas tangan keta’atan.[2]Read the rest of this entry »

Category: Jihad dan Terorisme, Manhaj | No Comments »

Sikap Muslim Menghadapi Fitnah dan Kekacauan

October 22nd, 2010 by Abu Muawiah

14 Dzulqa’dah

Sikap Muslim Menghadapi Fitnah dan Kekacauan

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يَأْتِي عَلَى النّاسِ زَمَانٌ تَكُوْنُ الْغَنَمُ فِيْهِ خَيْرٌ مَالِ المُسْلِمِ يَتْبَعُ بِهَا شَعِفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ القَطَرِ يَفِرُّ بِدِيْنِهِ مِنَ الْفِتَنِ
“Akan datang kepada manusia sebuah zaman dimana harta terbaik yang dimiliki oleh seorang muslim adalah kambing. Dia membawa kambingnya menelusuri puncak-puncak bukit dan tempat-tempat turunnya hujan, untuk menjauhkan agamanya dari fitnah.” (HR. Al-Bukhari no. 3600)
Dari Ahban radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwasiat kepadaku:
سَتَكُوْنُ فِتَنٌ وَفِرْقَةٌ فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَاكْسِرْ سَيِفَكَ وَاتَّخِذْ سَيْفاً مِنْ خَشَبٍ
“Kelak akan ada banyak kekacauan dan perpecahan. Jika sudah seperti itu maka patahkanlah pedangmu dan pakailah pedang dari kayu.” (HR. Ahmad no. 20622)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
سَتَكُوْنَ فِتَنٌ القاعِدُ فِيْها خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ والقائمُ فيها خيرٌ من المَاشِي والماشِي فيها خير من السَّاعِي. مَنْ تَشَرَّفَ لَها تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذاً فَلْيَعِذْ بِهِ
“Kelak akan ada banyak kekacauan dimana di dalamnya orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berusaha (dalam fitnah). Siapa yang menghadapi kekacauan tersebut maka hendaknya dia menghindarinya dan siapa yang mendapati tempat kembali atau tempat berlindung darinya maka hendaknya dia berlindung.” (HR. Al-Bukhari no. 3601 dan Muslim no. 2886)
Dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
اَلْعِبَادَةُ فِي الْهَرَجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Beribadah di zaman haroj seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2984)
Haroj adalah fitnah dan bertubrukannya kepentingan-kepentingan orang.
Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu anhuma berkata:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan sementara aku biasa bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan aku terkena keburukan itu. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu kami dalam masa jahiliah dan keburukan, lantas Allah datang dengan membawa kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi?” Nabi menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Apakah sesudah keburukan itu akan ada kebaikan lagi?” Beliau menjawab, “Ya, tapi ketika itu sudah ada kabut.” Saya bertanya, “Apa yang anda maksud dengan kabut itu?” Beliau menjawab, “Adanya sebuah kaum yang memberikan petunjuk dengan selain petunjuk yang aku bawa. Engkau kenal mereka namun pada saat yang sama engkau juga mengingkarinya.” Saya bertanya, “Adakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan lagi?” Nabi menjawab, “Ya, yaitu adanya dai-dai yang menyeru menuju pintu jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka, niscaya mereka akan menghempaskan orang itu ke dalam jahannam.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, tolong beritahukanlah kami tentang ciri-ciri mereka!” Nabi menjawab, “Mereka memiliki kulit seperti kulit kita, juga berbicara dengan bahasa kita.” Saya bertanya, “Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu?” Nabi menjawab, “Hendaklah kamu selalu bersama jamaah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka!” Aku bertanya, “Kalau pada waktu itu tidak ada jamaah kaum muslimin dan imam bagaimana?” Nabi menjawab, “Hendaklah kamu jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok) itu, sekalipun kamu menggigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu dalam keadaan kamu tetap seperti itu.” (HR. Al-Bukhari no. 7084 dan Muslim no. 1847) Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • menyikapi fitnah

Category: Fadha`il Al-A'mal, Manhaj, Quote of the Day | 2 Comments »