Archive for the 'Manhaj' Category

Kebodohan dan Berdalih Dengannya

November 27th, 2014 by Abu Muawiah

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.
Wa ba’du:

Saat ini tengah ramai diperbincangkan mengenai tema kebodohan dan berdalih dengannya. Dan Ramainya perbincangan seputar ini merupakan salah satu sebab merebaknya sikap meremehkan agama di tengah-tengah manusia. Telah banyak orang yang terjun membahas serta membuat karya tulis dalam tema ini, sehingga memunculkan perdebatan bahkan pelanggaran hak dari sebagian orang atas yang lainnya.
Seandainya mereka mengembalikan permasalahan kepada kitab Allah, sunnah RasulNya, dan para ulama, niscaya semua ketidakjelasan akan sirna dan kebenaran akan Nampak. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
(وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ)
“Seandainya mereka mengembalikannya kepada ar Rasul dan kepada ulil amri (pemerintah dan ulama) di antara mereka, niscaya solusinya akan diketahui oleh orang-orang yang bisa memetik kesimpulan hukum di antara mereka.” (QS. an Nisa`: 83)
Dan jika itu mereka lakukan, maka kita juga tidak akan dibuat bingung dengan banyaknya karya tulis dan pembahasan yang saling berbantahan, yang akhirnya melahirkan chaos ilmiah yang tidak kita butuhkan. Kebodohan adalah tidak adanya ilmu. Dan manusia sebelum terutusnya ar Rasul shallallahu alaihi wasallam berada dalam zaman jahiliah (kebodohan) dan kesesatan. Namun tatkala Allah mengutus rasul ini dan menurunkan kitab suci ini, maka jahiliah secara umum telah sirna, aAlhamdulillah. Allah Ta’ala berfirman:
(هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ)
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al Jumuah: 2) Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | Comments Off on Kebodohan dan Berdalih Dengannya

Sikap Moderat Dalam Islam

November 24th, 2014 by Abu Muawiah

Ceramah Disampaikan di Fakultas Syariah

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau seluruhnya.
Amma ba’du:
Saya datang ke sini bukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan ilmiah kalian, namun saya datang ke sini hanya untuk mengingatkan (apa yang kalian sudah ketahui, penj). Selain itu, saya juga datang sengaja untuk berjumpa dan melihat kalian, karena fakultas ini juga merupakan ibu kami dan rumah pertama bagi kami. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
(كم منزل في الأرض يألفه الفتى *** حنينه أبدا لأول منزلي)
“Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang telah ditinggali oleh pemuda ini, namun kerinduannya selamanya hanya untuk tempat tinggalnya yang pertama.”

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Judul ceramah kali ini -sebagaimana yang telah disampaikan- adalah: Sikap Moderat Dalam Islam.

Judul ceramah ini dipetik dari firman Allah Ta’ala:
(وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً)
“Demikianlah kami menjadikan kalian sebagai umat yang bersikap pertengahan, agar kalian bisa menjadi saksi atas manusia, dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian.”
Para ulama tafsir berkata: Pertengahan maksudnya adalah adil lagi terbaik.
Umat ini -alhamdulillah- adalah umat yang adil lagi terbaik, sebagaimana yang Allah sendiri persaksikan. Hal itu karena umat ini kelak akan menjadi saksi atas semua umat pada hari kiamat, sementara yang namanya saksi dipersyaratkan memiliki sifat adil. Maka umat ini mengemban tugas persaksian karena Allah telah menganugerahkan kepada mereka pengutusan sang Rasul Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Rasul ini menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan hikmah, padahal mereka dahulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
(يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ)
“Rasul ini membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan hikmah, padahal mereka dahulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”
Maka umat ini akan menjadi saksi atas seluruh uat pada hari kiamat. Jika Allah Jalla wa ‘Ala telah mendatangkan semua umat dan nabi-nabi mereka pada hari kiamat, Dia akan bertanya kepada semua nabi, “Apakah kalian telah menyampaikan (risalah)?” Mereka akan menjawab, “Wahai Rabb kami, kami telah menyampaikan apa yang Engkau utus kami dengannya kepada mereka.” Kemudian Allah bertanya kepada umat-umat, “Apakah para nabi ini telah menyampaikan kepada kalian?” Maka mereka semua menjawab, “Tidak.” Allah Ta’ala berfirman:
(فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ)
“Maka kami benar-benar akan bertanya kepada semua umat yang para rasul diutus kepada mereka dan kami benar-benar akan bertanya kepada para rasul.”
Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | Comments Off on Sikap Moderat Dalam Islam

Fenomena Fatwa

November 21st, 2014 by Abu Muawiah

Kaum muslimin membutuhkan orang yang mampu menjelaskan kepada mereka urusan akidah, ibadah, muamalah, dan pernikahan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Inilah yang dimaksud dengan fatwa, yaitu penjelasan mengenai hukum syariat berdasarkan dalil dari al Kitab dan as Sunnah. Mereka juga membutuhkan orang yang mampu menjadi hakim di antara mereka dalam persengketaan dan perselisihan di antara mereka. Dan ini yang dimaksud dengan qadha` (vonis hukum). Dan tidak ada orang yang mampu mengemban kedua tugas yang besar ini kecuali orang yang memiliki kapabilitas ilmiah, ketakwaan, rasa takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kondisinya ketika dia berdiri di hadapan Allah kelak. Karena, baik pemberi fatwa maupun hakim, keduanya adalah orang yang mengabarkan dari Allah bahwa Dia menghalalkan ini dan mengharamkan itu, dan bahwa kebenaran hanya berpihak kepada salah satu pihak dari pihak-pihak yang berselisih. Karenanya, Allah memandang besar kedua tugas ini; memberi fatwa dan vonis dan Dia memperingatkan jangan sampai seseorang menceburkan diri ke dalamnya tanpa ilmu dan pengetahuan serta tanpa sifat adil dan obyektif.
(وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمْ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ* مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.”
Dan Allah berfirman kepada NabiNya:
(وَأَنْ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ)
“Dan berhukumlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Dan wasapadalah jangan sampai mereka memalingkan kamu dari sebagian yang Allah turunkan kepadamu.”
Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | Comments Off on Fenomena Fatwa

Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah

August 9th, 2014 by Abu Muawiah

Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah
Oleh : Ustadz Ibnu Yunushafizhahullah

Berikut ini adalah nasehat yang indah serta faedah yang tak ternilai harganya yang disampaikan oleh Syaikh (Professor) Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, – Semoga Allah menjaga beliau – ,guru besar aqidah pada Universitas Islam Madinah, Kerajaan Saudi Arabia, yang disampaikan oleh beliau sebagai arahan dan nasehat bagi seluruh kaum muslimin dan secara khusus kepada para pemuda Ahlus Sunnah. Kami nukilkan dari buku tulisan beliau yang berjudul   

” النصيحة فيما يجب مراعاته عند الإختلاف و ضوابط هجر المخالف و الرد عليه

(Nasehat tentang perkara-perkara yang wajib untuk dijaga ketika terjadi perbedaan pendapat serta kaedah-kaedah dalam memboikot ahlul bidah dan membantah mereka ) , cetakan pertama, penerbit Daaru Al Imam Ahmad,1424 H/ 2003 M. Selamat menyimak dan semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita untuk dapat mengamalkan nasehat-nasehat indah tersebut,amin.

Berkata Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily – semoga Allah Ta’ala menjaga beliau- :

Aku menutup nasehat ini dengan beberapa arahan yang lembut serta faedah yang banyak yang menurut pendapatku dengan mengamalkannya (kita) akan mendapatkan pahala yang besar serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Aku mengajak saudara-saudaraku untuk mengamalkan dan menjaganya, secara khusus pada zaman-zaman sekarang ini. Zaman dimana fitnah merajalela, hawa nafsu memimpin, serta kejahilan yang menyebar di tengah-tengah manusia, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah dan petunjuk-Nya. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | Comments Off on Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah

Seruan Ulama Besar Arab Saudi Terkait ISIS

June 8th, 2014 by Abu Muawiah

Seruan Ulama Besar Arab Saudi Terkait ISIS

Ulama Besar Arab Saudi, Ahli Hadits Kota Suci Madinah, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr  hafizhahullah berkata dalam risalah “Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah” di website resmi beliau,

 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله وحده وصلى الله وسلم على من لا نبي بعده نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد؛

Sungguh telah lahir di Iraq beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok yang menamakan diri Daulah (Negara) Islam Iraq dan Syam, dan dikenal dengan empat huruf awal nama daulah khayalan tersebut yaitu [داعش] (ISIS), dan muncul bersamaan dengan itu, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang yang mengamati tingkah pola dan pergerakan mereka, sejumlah nama sebagai julukan bagi anggota mereka dengan sebutan: Abu Fulan Al-Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, kuniah (julukan) yang disertai penisbatan kepada negeri atau kabilah, inilah kebiasaan orang-orang majhul (yang tidak dikenal), bersembunyi di balik julukan dan penisbatan.

Selang beberapa waktu terjadi peperangan di Suriah antara pemerintah[1] dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah, bukan untuk memerangi pemerintah, akan tetapi memerangi Ahlus Sunnah yang menentang pemerintah dan membunuh Ahlus Sunnah dengan cara yang sangat kejam, dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.

Dan di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka merubah nama kelompok mereka menjadi “Al-Khilafah Al-Islamiyah”. Khalifahnya yang dinamakan Abu Bakr Al-Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid di Mosul, diantara yang ia katakan dalam khutbahnya, “Sungguh aku telah dijadikan pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Sungguh dia telah berkata benar bahwa ia bukanlah yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuh orang yang mereka bunuh dengan pisau-pisau, apabila pembunuhan itu atas dasar perintahnya, atau ia mengetahuinya dan membolehkannya maka ia adalah yang terburuk di antara mereka (memang bukan yang terbaik), berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” [HR. Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu] Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Seruan Ulama Besar Arab Saudi Terkait ISIS

Bolehkah Berbaiat kepada ISIS atau Kelompok Lainnya dan Apa Kewajiban Pemerintah?

June 4th, 2014 by Abu Muawiah

Bolehkah Berbaiat kepada ISIS atau Kelompok Lainnya dan Apa Kewajiban Pemerintah?

Fatwa Anggota Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Faqih Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah tentang Hukum Baiat kepada Selain Pemerintah dan Apa Kewajiban Pemerintah,

البيعة لمن تكون ؟ وهل يجوز أن يبايع أكثر من واحد ؟

البيعة لا تكون إلا لولي أمر المسلمين، وهذه البيعات المتعددة مبتدعة، وهي من إفرازات الاختلاف، والواجب على المسلمين الذين هم في بلد واحد وفي مملكة واحدة أن تكون بيعتهم واحدة لإمام واحد، ولا يجوز المبايعات المتعددة، وإنما هذا من إفرازات تجوز المبايعات من اختلافات هذا العصر، ومن الجهل بالدين.

وقد نهى الرسول صلى الله عليه وسلم عن التفرق في البيعة وتعدد البيعة، وقال: ((من جاءكم وأمركم جميع على واحد منكم، يريد تفريق جماعتكم، فاضربوا عنقه))[1]، أو كما قال صلى الله عليه وسلم، وإذا وجد من ينازع ولي الأمر الطاعة، ويرد شق العصا وتفريق الجماعة، فقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم ولي الأمر وأمر المسلمين معه بقتال هذا الباغي، قال تعالى: {وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَـأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّه} الحجرات: 9.

وقد قاتل أمير المؤمنين علي بن أبي طالب ومعه أكابر الصحابة، قاتلوا الخوارج البغاة حتى قضوا عليهم، وأخمدوا شوكتهم، وأراحوا المسلمين من شرهم، وهذه سنة الرسول صلى الله عليه وسلم؛ فإنه أمر بقتال البغاة وبقتال الخوارج الذين يريدون شق عصا الطاعة، وذلك من أجل الحفاظ على جماعة المسلمين وعلى كيان المسلمين من التفرق والاختلاف.

Tanya: Untuk siapakah baiat? Bolehkah berbaiat kepada lebih dari seorang (pemimpin)?

Jawab: Baiat itu tidak dilakukan kecuali bagi pemerintah kaum muslimin. Adapun baiat-baiat yang berbilang (terhadap kelompok-kelompok) adalah bid’ah (mengada-ada dalam agama, tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum), serta termasuk sebab yang memunculkan perselisihan. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Bolehkah Berbaiat kepada ISIS atau Kelompok Lainnya dan Apa Kewajiban Pemerintah?

Boikot Ini Bukan Manhaj Salaf

May 7th, 2014 by Abu Muawiah

Fatwa Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad -hafizhahullah-

Penanya:
Syaikh kami –semoga Allah selalu menjaga Anda-, termasuk taufiq yang Allah berikan kepada kebanyakan para penuntut ilmu, yaitu menghadiri (kajian) Muqaddimah Shahih Muslim melalui penjelasan Anda. Akan tetapi nikmat ini, yaitu kaedah-kaedah yang disebutkan oleh Imam Muslim menjadi rancu atas sebagian (mereka). Diantara mereka, ada yang mengaplikasikannya terhadap sebagian saudaranya dari kalangan ahli sunnah.

Apabila ada seorang ulama berijtihad membid’ahkan seseorang, namun (ulama) yang lain menyelisihinya, maka mereka mengharuskan yang selain mereka untuk membid’ahkannya. Kemudian mereka berpindah kepada orang-orang yang menyelisihi mereka, lantas mereka pun memboikotnya dan memperingatkan manusia agar menjauh darinya, dengan keyakinan bahwa inilah manhaj Salaf.

Padahal akidah kedua belah pihak adalah satu dan manhaj keduanya juga satu. Sementara di sebagian besar negeri mereka ini sudah tersebar kesyirikan, perbuatan sihir, dan tasawwuf. Apa nasehat (Syaikh) yang dapat menjelaskan kebenaran dan mempersatukan barisan? Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Boikot Ini Bukan Manhaj Salaf

Mereka Bukan Saudara Kita!

October 14th, 2013 by Abu Zakariyya

Mereka Bukan Saudara kita!!!

 

Asy-Syaikh DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan (ulama besar kota Riyadh) -semoga Allah menjaganya- ditanya sebagai berikut:

 

Penanya : Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan,

 

Sebagian dai dan penuntut ilmu ketika berbicara tentang Syi’ah dan  Rofidhoh, mengatakan: “sesungguhnya mereka adalah saudara kita”.

 

Apakah boleh kita mengatakan demikian? Dan kewajiban apa (yang harus dilakukan) dalam hal itu?

 

Asy Syaikh: “Kita berlepas diri kepada Allah dari mereka, dan kita berlepas diri kepada Allah dari ucapan ini , mereka (Syi’ah Rofidhoh) bukan saudara-saudara kita, demi Allah! Mereka bukan saudara-saudara kita,  bahkan mereka adalah saudara-saudaranya syaithan. Karena mereka mencaci-maki ibu kaum mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah Allah pilih (sebagai istri) nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia (Aisyah) adalah As-Shiddiiqah(wanita jujur) putri As-Shiddiiq(Abu Bakar)

Mereka juga mengkafirkan dan melaknat Abu Bakar dan Umar, mereka mengkafirkan para Shahabat secara menyeluruh kecuali Ahlulbait Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu, sedangkan Ali(radhiyallahu ‘anhu) berlepas diri dari mereka (Syi’ah Rofidhoh), Ali radhiyallahu ‘anhu berlepas diri dari mereka. Ali(radhiyallahu ‘anhu) adalah imam kita dan bukan imam mereka, ia (Ali radhiyallahu ‘anhu) adalah imam Ahlussunnah dan bukan imam (syi’ah) Rofidhoh yang keji.

 

Maka kita berlepas diri kepada Allah dari mereka, mereka bukan saudara-saudara kita, barangsiapa yang mengatakan mereka adalah saudara-saudara kita, maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah dan beristighfar kepada Allah.

Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Manhaj | Comments Off on Mereka Bukan Saudara Kita!

Pembodohan Publik Berskala Internasional

October 10th, 2013 by Abu Zakariyya

Pembodohan Publik Berskala Internasional

Berbohong merupakan sifat yang sangat tercela dalam Islam dan pelakunya terancam dengan api neraka, sebaliknya sifat jujur adalah sifat yang dicintai dan dianjurkan dalam Islam serta dijanjikan surga bagi mereka yang bersifat dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan  mengantarkan kepada surga. Seorang yang terus menerus jujur dan berusaha untuk selalu jujur hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang snagat jujur. Dan jauhilah sifat dusta, karena sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan (pelakunya) kepada keburukan, sedangkan keburukan akan mengantarkan (pelakunya) menuju neraka. Tidaklah seorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim,  No. 6586)

Sudah dimaklumi bersama bahwasanya kebohongan memiliki dampak negatif yang sangat besar dan akan merusak tatanan kehidupan manusia, terlebih lagi jika kebohongan itu mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Beberapa hari lalu ummat Islam Indonesia dibuat gelisah dan kaget dengan sebuah perayaan yang disebut dengan “Hari Raya Ghadir Khum”, banyak dari kaum muslimin tidak mengerti ada apa dibalik perayaan tersebut. Sebenarnya perayaan ini sudah menjadi tradisi agung bagi sebuah kelompok sempalan yang disebut “Syi’ah(Rafidhoh)” yang kini bermarkas induk di Iran. Mereka adalah kelompok yang membenci bahkan mengkafirkan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Baru akhir-akhir ini kaum Syi’ah(Rafidhoh) berani unjuk gigi setelah sebelumnya mereka menyadari bahwasanya kaum muslimiin Indonesia menolak ajaran mereka, dengan perayaan ini kaum Syi’ah mengusik perhatian ummat Islam Indonesia yang mayoritasnya tidak mengenal dengan sebuah perayaan seperti itu.

Read the rest of this entry »

Category: Manhaj | Comments Off on Pembodohan Publik Berskala Internasional

Ada Apa Dengan Ahlul Bait? (Bagian 1)

September 19th, 2013 by Abu Zakariyya

Ada Apa Dengan Ahlul Bait? (Bagian 1)

 Sesungguhnya kalimat ‘Ahlul Bait’ bukanlah sesuatu yang asing lagi di bumi Indonesia, bahkan bagi masyarakat awam sekalipun biasa mendengar dan mengungkapkannya. Tidak sedikit oknum yang mengaku sebagai ‘Ahlul Bait’ atau membentuk organisasi atau jama’ah yang  mengatasnamakan ‘Ahlul Bait’, sedangkan dalam waktu yang bersamaan tidak sedikit pula oknum yang mencela bahkan mengkafirkan ‘Ahlul Bait’. Semua hal di atas bisa jadi muncul dari ketidaktahuan tentang hakikat ‘Ahlul Bait’ atau kedengkian terhadap ‘Ahlul Bait’.

Lantas siapa yang dimaksud dengan ‘Ahlul Bait’? apa keutamaan mereka? dilarangkah seseorang mencela mereka? simak pembahasannya berikut ini;

Definisi Ahlulbait secara etimologi

Sesungguhnya para ilmuwan Bahasa Arab dan Ulama Islam telah menjelaskan makna ‘Ahlul Bait’ secara detail dan gamblang, diantaranya apa yang telah dijelaskan oleh salah seorang ulama bahasa Arab Abul Husain Ahmad Ibnu Faaris dalam kitabnya yang berjudul Mu’jam Maqooyiis Al-Lughoh(1/150):

“Ahlu(keluarga) seorng lelaki adalah istrinya, berkeluarga ertinya beristri dan ahlu(keluarga) seorang lelaki  adalah orang khususnya, dan ahlul bait(orang rumah) adalah penghuni (rumah tersebut) dan Ahlul Islam(orang Islam) adalah orang yang beragama dengan (agama tersebut)”

Abul Qoosim Al-Husain bin Muhammad yang lebih terkenal dengan nama Ar-Rhooghib Al-AshFahaaniy berkata :

“Ahlu(keluarga) seorang lelaki adalah orang yang ia dan dirinya terkumpul dalam satu garis keturunan atau agama atau yang semisal dengan keduanya berupa profesi, rumah dan negeri, dan pada asalnya ahlu(keluarga) seseorang itu adalah orang yang ia dengan dirinya tinggal dalam satu rumah, kemudian (istilah) itu digunakan di luar (makna asalnya) seperti jika dikatakan: Ahli Baitnya seseorang adalah orang yang ia dengan dirinya berada dalam satu garis keturunan, dan jika dikatakan Ahlul Bait, biasanya (istilah itu) untuk keluarga Nabi ‘alaihis shalaatu wassalam secara mutlak sebagaimana dalam firmanNya: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • definisi ahlulbayt

Category: Aqidah, Manhaj, Mengenal Syi'ah Rafidhah | Comments Off on Ada Apa Dengan Ahlul Bait? (Bagian 1)