Archive for the 'Khutbah' Category

Kewajiban Menjaga Amanah

November 15th, 2014 by Abu Muawiah

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah atas keutamaan dan kebaikanNya. Aku bersyukur kepadaNya atas taufik dan nikmatNya, Dia telah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan melarang perbuatan khianat. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya, yang jujur dalam penyampaian dan penjelasan. Shalawat dan salam yang berlimpah dari Allah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau yang senantiasa berpegang teguh kepada kejujuran dan agama yang benar.
Amma ba’du:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa setiap hamba itu memikul amanah antara dia dengan Allah, antara dia dengan pemerintahnya, dan antara dia dengan manusia yang lain. Karena itu hendaknya dia menjadi orang yang terpercaya dan senantiasa menjaga amanahnya.
(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا)
“Sungguh Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah-amanah kepada para pemiliknya.”
Amanah itu sangat banyak lagi berat, dan akan dihisab di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat. Karenanya siapa saja yang menelantarkan amanahnya di dunia lalu dia lolos dari hukuman, maka dia tidak akan lolos dari hukuman Allah di akhirat.
Maka jagalah amanah-amanah kalian dan tunaikanlah ia sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla telah perintahkan kepada kalian. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ* وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya dan mengkhianati amanah-amanah kalian sementara kalian mengetahui. Dan ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian, dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”
Allah menguji hamba-hambaNya dengan amanah ini, agar nampak siapa yang bisa menjaganya dan siapa yang menelantarkan dan meremehkannya. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • jangan sekali kali makan amanah orang

Category: Khutbah | Comments Off on Kewajiban Menjaga Amanah

Penjelasan Rukun Islam

November 12th, 2014 by Abu Muawiah

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah yang telah menyempurnakan agama kita, menggenapkan nikmatNya kepada kita, dan telah meridhai Islam sebagai agama kita. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad dalam hamba dan RasulNya, shalawat dan salam yang banyak dari Allah senantiasa tercurah untuk beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau.
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan bersyukurlah kepadaNya atas hidayah Islam yang telah Dia anugerahkan kepada kalian, dan telah menjadikan kalian sebagai umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk umat manusia. Sesungguhnya Islam dibangun di atas 5 rukun: Syahadat ‘laa ilaaha illallaah’ dan ‘Muhammadur Rasulullah’, penegakan shalat, penunaian zakat, puasa ramadhan, dan haji ke rumah Allah yang mulia bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Di antara kelima rukun ini, ada salah satu di antaranya yang harus senantiasa ada bersama seorang muslim sepanjang hidupnya, seumur hidupnya. Rukun yang dimaksud adalah syahadat ‘laa ilaaha illallaah’ dan ‘Muhammadur Rasulullah’. Rukun ini harus selalu ada bersama seorang muslim sepanjang umurnya, baik ketika dia sedang mukim maupun ketika sedang safar, baik ketika dia terjaga maupun ketika dia tidur, baik ketika dia sedang sehat maupun ketika dia sedang sakit. Seorang muslim dalam setiap keadaannya tidak boleh terlepas dari kedua syahadat ini, dia senantiasa harus mempersaksikan kedua hal ini secara lahir dan batin, untuk selama-lamanya.

Di antara kelima rukun ini ada yang pelaksanaannya berulang pada seorang muslim sebanyak 5 kali sehari, yaitu shalat yang diwajibkan atas setiap muslim yang berulang sebanyak 5 kali sehari semalam, yang didirikan secara berjamaah di masjid-masjid. Dengan shalat wajib ini, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dan menggugurkan dosa-dosa.
(وَأَقِمْ الصَّلاةَ طَرَفِي النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنْ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ* وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ)
“Dan dirikanlah shalat di kedua penghujung siang dan di permulaan malam, karena sungguh kebaikan itu bisa menghapuskan keburukan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau mengingat. Dan bersabarlah karena Allah tidak akan menelantarkan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
Shalat lima waktu ini diserupakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam bagaikan sungai yang mengalir di depan pintu rumah salah seorang di antara kita, dimana dia mandi di dalamnya sebanyak lima kali sehari semalam, maka pasti tidak akan tersisa kotoran atau daki di tubuhnya sedikit pun. Demikian halnya shalat-shalat lima waktu ini, jika seorang muslim menegakkannya, maka tidak akan ada dari dosa-dosa kecilnya yang tersisa karena Allah telah menghapuskannya dan menyucikan dirinya dengan shalat lima waktu ini. Itulah keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian, kelima shalat ini tidak memakan banyak waktu dalam pelaksanaannya dan tidak pula menghalangi seorang muslim dari pekerjaan dan tugasnya, bahkan sebaliknya, shalat ini akan membantu dirinya.
(وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ)
“Dan minta bantuanlah dengan kesabaran dan shalat. Dan hal ini berat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang khusyu’.”
Maka shalat justru membantu seorang muslim, bukannya menjadi penghalang baginya dalam mencari rezki. Shalat tidak menghalanginya dari pekerjaan yang dia butuhkan, namun shalat justru menyucikannya dari dosa-dosa dan membantunya dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam, jika beliau mengalami suatu kesusahan maka beliau bersegera untuk mendirikan shalat. Dan beliau juga pernah bersabda:
“يا بلال أقم الصلاة أرحنا بها، أرحنا بها”
“Wahai Bilal, tegakkanlah (iqamah untuk mendirikan) shalat. Buatlah kami beristirahat dengan shalat. Buatlah kami beristirahat dengannya.”
Beliau tidak mengatakan, “Istirahatkanlah kami darinya.”
Maka shalat adalah ketenangan bagi seorang muslim, bagi siapa saja yang menjaganya, mengetahui kedudukannya, dan senantiasa menegakkannya. Karena shalat akan memberinya kekuatan dan bantuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Read the rest of this entry »

Category: Khutbah | Comments Off on Penjelasan Rukun Islam

Kaum Mukminin Itu Bersaudara

November 9th, 2014 by Abu Muawiah

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah yang telah menjadikan kaum muslimin sebagai saudara yang saling menyayangi. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, al Malik al Haq al Mubin. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya yang jujur lagi terpercaya. Shalawat dan salam yang berlimpah dari Allah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan semua yang mengikuti beliau.
Amma ba’du:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah telah menjadikan kaum mukminin sebagai saudara yang saling menyayangi, mulai dari mukmin yang pertama hingga yang terakhir.
(رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)
“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman sebelum kami, dan jangan Engkau jadikan di dalam hati-hati kami perasaan dengki kepada orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Dan Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan surah al Hujurat, yang di dalamnya Allah menjelaskan semua hal yang bisa merusak kasih sayang ini. Allah melarang semuanya dan memperingatkan darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ)
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang yang fasik dengan membawa berita, maka periksalah kebenarannya. (Jangan sampai) kalian menimpakan (keburukan) kepada suatu kaum tanpa kalian ketahui, yang menyebabkan kalian akan menyesali perbuatan kalian.”
“Jika datang kepada kalian seorang yang fasik.” Orang fasik adalah orang yang tidak diterima persaksian dan pengabarannya karena adanya cacat pada agamanya dengan dia melakukan dosa-dosa besar. Inilah orang yang fasik. Termasuk orang fasik adalah orang yang menyebarkan gosip dan kabar-kabar dusta, dan orang yang mengadu domba untuk merusak persatuan kaum muslimin dan memecah belah mereka. Inilah orang yang fasik. Orang fasik adalah orang yang melenceng dari ketaatan kepada Allah. Sehingga orang fasik adalah orang yang melenceng dari menaati Allah yang telah memerintahkan untuk saling menyayangi, menyambung silaturahmi, dan bersatu padu.
Firman Allah, “Maka periksalah kebenarannya,” maksudnya: Verifikasilah beritanya, apakah itu kabar yang benar atau dusta. Jika itu kabar dusta maka tolaklah dan jika kabar itu benar maka janganlah kalian menyebarkannya, namun sikapilah dengan cara yang lebih bijaksana. Sembunyikan kabar itu guna menjaga kasih sayang di antara kaum muslimin, menutup pintu fitnah, dan mencegah berhasilnya usaha para perusak itu.
Karenanya Allah berfirman, “Kalian menimpakan,” yakni: Jangan sampai “kalian menimpakan (keburukan) kepada suatu kaum tanpa kalian ketahui.” Kalian tidak mengetahui kebenaran kabar itu lantas kalian membenarkannya, kaum itu tidak bersalah.
“Yang menyebabkan kalian akan menyesali perbuatan kalian.” Kalian menyesali perbuatan kalian yang telah menimpakan keburukan kepada orang-orang yang tidak bersalah, hanya karena kabar dusta ini. Kalian akhirnya menyesali perbuatan kalian, namun ketika itu penyesalan sudah tidak bermanfaat. Karena jika hati-hati itu sudah saling menjauh dan membenci maka tidak mungkin untuk mengembalikannya seperti semua, tidak ada yang mampu melakukan hal itu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Read the rest of this entry »

Category: Khutbah | Comments Off on Kaum Mukminin Itu Bersaudara

Tauhid dan Kesyirikan

November 6th, 2014 by Abu Muawiah

Khutbah Pertama:
Segala pujian hanya milik Allah Rabb alam semesta, yang telah menyempurnakan agama kita dan menjadikan kita sebagai kaum muslimin. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan kita tidak menyembah siapapun selain Dia seraya memurnikan ibadah hanya untuk-Nya. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta -semoga shalawat dan salam yang berlimpah senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau, para shahabat beliau, para tabi’in, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat-.
Amma ba’du:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’âlâ dan bersyukurlah atas semua nikmat-Nya atas kalian, tatkala Dia menjadikan kalian sebagai kaum muslimin. Kenalilah makna Islam agar kalian bisa konsisten dengannya di atas ilmu. Dan janganlah kalian tergolong orang-orang yang mengklaim diri sebagai kaum muslimin namun sebenarnya mereka menentang Islam.
Wahai hamba Allah, Islam -sebagaimana yang didefinisikan para ulama- adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.

Inilah tiga hal yang Islam tidak akan terwujud kecuali dengannya:
Pertama: Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya
Yakni dengan beribadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan meninggalkan peribadahan kepada selain-Nya. Banyak orang yang mengaku muslim namun ternyata mereka terjatuh dalam kesyirikan dengan cara beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih. Mereka mendekatkan diri kepada para wali ini, mereka meyakini bahwa para wali ini adalah pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah, dan bahwa para wali ini bisa mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Ini merupakan musibah besar yang ditimpakan oleh syaithan kepada banyak orang yang mengaku muslim namun hakikatnya mereka menyembah kepada selain Allah dengan perbuatan dan keyakinan mereka.

Kedua: Tunduk kepada-Nya dengan ketaatan
Maka siapa saja yang berserah diri kepada Allah, ikhlas kepada-Nya, dan mengikuti Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam, niscaya dia akan tunduk kepada semua perintah Allah dan Rasul-Nya shallallâhu alaihi wa sallam. Dia akan menjalankan apa saja yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dan dia akan meninggalkan apa saja yang Allah dan Rasul-Nya larang. Sehingga jika ada pelanggaran dengan meninggalkan sebagian kewajiban atau melanggar sebagian yang diharamkan, maka pelanggaran itu akan mengurangi kesempurnaan Islam secara terang-terangan, atau bahkan menghilangkannya, wal ‘iyâdzu billâh.
Read the rest of this entry »

Category: Khutbah | Comments Off on Tauhid dan Kesyirikan