Archive for the 'Jawaban Pertanyaan' Category

Betulkah Imam Asy-Syafi’i Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah?

December 26th, 2011 by Abu Muawiah

Betulkah Imam Asy-Syafi’i Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah?

Soal:
assalamu’alaikum.
Afwan y ustd,apakah benar imam Syafi’i tdk pernah berpendapat bhw bid’ah itu dibagi dua? Karena yg saya tahu dari kitab2 klasik banyak yg menerangkan tentang itu. Tapi setelah saya dengar dari ustadz bhw itu hanya kesalahfahaman maka saya pun kaget. Benarkah itu hanya mengada ada atau bgmana? Tolong sampaikan amanat ilmiah yg sejujurnya.
wassalamu’alaikum wr wb.
sofiudin
khaeruljafar@yahoo.com

Jawaban:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Memang betul, pembagian bid’ah menjadi dua ini diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Hanya saja seperti yang kami katakan bahwa itu merupakan kesalahahpahaman. Berikut penjelasan ringkasnya yang kami kutip dari buku kami yang berjudul ‘Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam’ hal. 63-65, ketika kami membawakan dalil-dalil mereka yang berpendapat adanya bid’ah hasanah. Kami berkata pada dalil mereka yang kelima:

Mereka berdalilkan dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah-:
اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ, فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُوْمٌ
“Bid’ah itu ada dua: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Semua yang sesuai dengan sunnah, maka itu adalah terpuji, dan semua yang menyelisihi sunnah, maka itu adalah tercela.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/113))
Semakna dengannya, apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i (1/469) bahwa beliau berkata:
اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ : مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ, وَمَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
“Perkara yang baru ada dua bentuk: (Pertama) Apa yang diada-adakan dan menyelisihi kitab atau sunnah atau atsar atau ijma’, inilah bid’ah yang sesat. Dan (yang kedua) apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut, maka inilah perkara baru yang tidak tercela”.

Ini dijawab dari tiga sisi:
1.    Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullah- dalam ‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 121 mengomentari kedua perkataan Asy-Syafi’i di atas, “Di dalam sanad-sanadnya terdapat rawi-rawi yang majhul (tidak diketahui)”.
Hal ini karena di dalam sanad Abu Nu’aim terdapat rawi yang bernama Abdullah bin Muhammad Al-Athasi. Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad dan As-Sam’ani dalam Al-Ansab menyebutkan biografi orang ini dan keduanya tidak menyebutkan adanya pujian ataupun kritikan terhadapnya sehingga dia dihukumi sebagai rawi yang majhul. Adapun dalam sanad Al-Baihaqi, ada Muhammad bin Musa bin Al-Fadhl yang tidak didapati biografinya. Ini disebutkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Al-Bida’ wa Atsaruhas Sayyi` alal Ummah hal. 63.

2.    Andaikan ucapan di atas shahih (benar) datangnya dari Imam Asy-Syafi’i, maka maksud dari perkataan beliau -rahimahullah- [“bid’ah yang terpuji”] adalah bid’ah secara bahasa bukan menurut syar’i. Karena beliau memberikan definisi bid’ah yang terpuji dengan perkataan beliau [“semua yang sesuai dengan sunnah”] dan [“apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut”] sedangkan semua bid’ah dalam syari’at adalah menyelisihi sunnah. Ini disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam (hal. 233). Read the rest of this entry »

Category: Jawaban Pertanyaan, Syubhat & Jawabannya | 13 Comments »

Posisi Makmum Jika Shalat Berdua

November 12th, 2011 by Abu Muawiah

Posisi Makmum Jika Shalat Berdua

Tanya:
assalamualaikum ustadz.
mau nanya ni masalah posisi makmum kalau hanya satu orang apakah sejajar dg imam atau lebih mundur.dan kalau datang lagi satu orang makmum masbuk dimana posisinya ,apakah disebelah kiri imam atau di belakang
lendi
salamselamat27@yahoo.co.id

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Jika yang shalat hanya berdua, maka makmum berdiri tepat di sebelah kanan imam, tidak perlu mundur sedikit. Ini tentunya berlaku jika keduanya adalah lelaki atau keduanya adalah wanita. Adapun jika si makmum adalah wanita, maka wanita harus berdiri di belakang imam.

Dalil bahwa makmum harus berdiri tepat di sebelah kanan imam jika mereka hanya shalat berdua adalah:

Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:

بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi shalat ‘isya kemudian kembali ke rumah dan shalat sunnat empat rakaat, kemudian beliau tidur. Saat tengah malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau. Kemudian beliau menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur beliau. Setelah itu beliau kemudian keluar untuk shalat (shubuh).” (HR. Al-Bukhari no. 656)

Imam Al-Bukhari rahimahullah memberikan judul bab terhadap hadits di atas:

بَابُ: يَقُوْمُ عَنْ يَمِيْنِ الإمامِ بِحِذائِهِ سَواء إِذا كانا اثْنَيْنِ

“Bab: Makmum berdiri tepat di samping kanan imam jika mereka hanya shalat berdua.”

Incoming search terms:

  • posisi makmum wanita

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 21 Comments »

Hukum Upacara Bendera

October 27th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Upacara Bendera

Tanya:
bismillah, Bgmna Hukum mengikuti upacara kenaikan bendera di mana terdapat penghormatan kepada sangsaka bendera merah putih apakah termasuk syirik kecil atau besar? dan kalau upacra itu haram bgmna seharusnya kami sbg PNS agar selamat dari penghormatan pada bendera merah putih jika mengikuti upacara? krn PNS wajib mengikuti upacra bendera pada setiap hari kemerdekaan?
Abu Zaid siakad
andi.isran@yahoo.co.id

Jawab:
Berikut kami nukilkan jawaban dari Ust. Zulqarnain -hafizhahullah- yang pernah dimuat dalam majalah An-Nashihah:
Di dalam upacara bendera terdapat beberapa kemungkaran :
Pertama : Sering terdapat ikhtilath didalamnya dan banyak dalil yang menunjukkan tentang haramnya ikhtilath.

Kedua  : Menghormati bendera adalah bid’ah dan merupakan bentuk tasyabbuh kepada orang-orang kafir sedangkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka”.(Dihasankan oleh Syaikh Al-AlBany dalam Al-Irwa` no.1269)
Dan apabila ada bentuk pengagungan atau penghormatan terhadap bendera yang menyamai dengan pengagungan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka hukumnya adalah syirik akbar. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Jawaban Pertanyaan | 4 Comments »

Shalat Tasbih

October 25th, 2011 by Abu Muawiah

Shalat Tasbih

Tanya:
Assalamualaikum..
Ustadz saya mau tanya,,maaf kalo agak melenceng dari tema,,bagaimana menurut Ustadz derajad hadits dari shalat Tasbih??karena saya baca di buku Syaikh Utsaimin beliau menganggap tidak disyariatkan karena hadits lemah, juga imam Bukhari dan Imam Syafii..mohon penjelasannya Ustadz..
Wassalamualaikum.
aan
darmawan.sutanto@yahoo.com

Jawab :
Waalaikumussalam Warahmatullah.
Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang sholat tasbih :
1.    Hadits Ibnu ‘Abbas.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ أَلاَ أُعْطِيْكَ أَلاَ أُمْنِحُكَ أَلاَ أُحِبُّوْكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ عَشَرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ تَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وِسُوْرَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقُرْاءَةِ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشَرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تّهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِيْ أَرْبَعِ رَكْعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِيْ كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً  فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُ فَفِيْ كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ عُمْرِكَ مَرَّةً
Artinya :”Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah  bersabda kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Mutholib : Wahai ‘Abbas, wahai pamanku maukah saya berikan padamu?, maukah saya anugerahkan padamu?, maukah saya berikan padamu?, saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu  awalnya dan akhirnya, yang lama maupun yang baru yang tidak disengaja maupun yang disengaja yang kecil maupun yang besar yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Semuanya 10 macam. Kamu sholat 4 rakaat setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan surah-surah. Jika telah selesai maka bacalah Subhanallahi walhamdulillahi walaa ilaaha illallah wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian ruku’ dan bacalah di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam  empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan kalau tidak mampu setiap bulan kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu”. Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Fiqh, Hadits, Jawaban Pertanyaan | 8 Comments »

Jihad Yang Paling Besar

October 15th, 2011 by Abu Muawiah

Jihad Yang Paling Besar

Tanya:
Hadits tentang jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Apakah hadits itu shohih ?

Aswin
Karawang Jawa Barat

Jawab:
Berkata Ibnu Rajab dalam Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam hal. 369 (Tahqiq Thoriq bin ‘Iwadhullah) : “Ini diriwayatkan secara marfu’ dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah, dan lafazhnya :
قَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ قَالَ مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ لِهَوَاهُ
“Kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar. (Mereka) berkata : “Apakah jihad besar itu ?”. beliau menjawab : “Jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya”.”
Dan Syaikh Al-Albany rahimahullah menyebutkan hadits di atas dalam Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah no. 2460 dan memberikan vonis terhadap hadits tersebut sebagai hadits “Mungkar”. Dan dari uraian beliau diketahui bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakr Asy-Syafi’iy dalam Al-Fawa`id Al-Muntaqoh, Al-Baihaqy dalam Az-Zuhd, Al-Khatib dalam Tarikh-nya dan Ibnul Jauzy dalam Dzammul Hawa, dan  juga dipahami bahwa selain dari Ibnu Rajab, hadits ini juga dilemahkan oleh Al-Baihaqy, Al-‘Iraqy dalam Takhrijul Ihya` dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Takhrijul Kasysyaf. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Mengambil Manfaat Dari Sawah Yang Digadaikan

October 13th, 2011 by Abu Muawiah

Mengambil Manfaat Dari Sawah Yang Digadaikan

Pertanyaan:
Ada contoh kasus sebagai berikut : Si A menggadaikan sebidang tanah kepada Si B dengan harga satu juta dengan perjanjian bahwa Si B akan menggarap sawah tersebut selama tiga kali panen setelah itu barulah uang bisa dikembalikan. Jadi ada Si A mampu mengembalikan uang atau tidak maka Si B tetap menggarap sawah tersebut selama tiga kali panen. Dan kalau Si A setelah tiga kali panen belum mampu mengembalikan satu juta maka sawah masih tetap digarap oleh Si B sampai uangnya kembali.
–    Apakah sistem seperti di atas dibolehkan menurut syari’at agama kita ?
–    Bagaimana contoh gadai yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam?
Tolang penjelasannya secara rinci beserta dalil-dalilnya.

Sinardin Baddusa’
Desa Raoda Kec. Lasusua Kab. Kolaka
Sulawesi Tenggara

Jawab :
Sistem seperti yang disebut dalam contoh kasus tidaklah dibenarkan dalam syari’at Islam yang mulia lagi penuh kebijaksanaan. Hal tersebut karena beberapa perkara :
1.    Hal tersebut adalah bentuk kezholiman yang diharamkan dalam syari’at Islam yang luhur dan mulia.

2.    Adanya perjanjian bahwa Si B akan menggarap sawah tersebut selama tiga kali panen setelah itu barulah uang bisa dikembalikan adalah pensyaratan yang terlarang dan bertentangan dengan maksud dari syari’at sistem gadai yang sifatnya hanya sebagai barang jaminan bila si peminjam tidak mampu mengambalikan pinjaman.

3.    Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
الظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُوْنًا وَلَبَنُ الدُّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُوْنًا وَعَلَى الذِّيْ يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ النَّفَقَةُ
“Hewan tunggangan ditunggangi sesuai dengan nafkahnya (baca : biayanya) apabila ia tergadaikan dan susunya diminum sesuai dengan nafkahnya apabila ia tergadaikan. Dan atas orang yang menunggangi dan meminumnya (menanggung) nafkahnya”. Read the rest of this entry »

Category: Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan | 2 Comments »

Kisah 4 Bayi Yang Berbicara

October 7th, 2011 by Abu Muawiah

Kisah 4 Bayi Yang Berbicara

Tanya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustadz yang ingin tanya tentang kisah bayi yang dapat berbicara selain Nabi Isa Alaihissalam, saya ingin tahu seperti apa kisahnya dan bagaimana dengan tingkat keshahihan hadits tersebut.
Jazakallahu khairan.

Dedy
[dysar06@yahoo.co.id]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Sepanjang pengetahuan kami, ada 4 bayi yang tersebut dalam hadits bisa berbicara, yaitu:
1. Isa bin Maryam alaihissalam.
2. Bayi dalam kisah Juraij si ahli ibadah.
3. Bayi yang sedang menyusu kepada ibunya.
4. Bayi yang akan dilempar ke dalam api.

Adapun 3 bayi yang pertama, tersebut dalam hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau telah bersabda:
لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ
وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ وَكَانَ جُرَيْجٌ رَجُلًا عَابِدًا فَاتَّخَذَ صَوْمَعَةً فَكَانَ فِيهَا فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ أَيْ رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَى وُجُوهِ الْمُومِسَاتِ فَتَذَاكَرَ بَنُو إِسْرَائِيلَ جُرَيْجًا وَعِبَادَتَهُ وَكَانَتْ امْرَأَةٌ بَغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بِحُسْنِهَا فَقَالَتْ إِنْ شِئْتُمْ لَأَفْتِنَنَّهُ لَكُمْ قَالَ فَتَعَرَّضَتْ لَهُ فَلَمْ يَلْتَفِتْ إِلَيْهَا فَأَتَتْ رَاعِيًا كَانَ يَأْوِي إِلَى صَوْمَعَتِهِ فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَقَعَ عَلَيْهَا فَحَمَلَتْ فَلَمَّا وَلَدَتْ قَالَتْ هُوَ مِنْ جُرَيْجٍ فَأَتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وَهَدَمُوا صَوْمَعَتَهُ وَجَعَلُوا يَضْرِبُونَهُ فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا زَنَيْتَ بِهَذِهِ الْبَغِيِّ فَوَلَدَتْ مِنْكَ فَقَالَ أَيْنَ الصَّبِيُّ فَجَاءُوا بِهِ فَقَالَ دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ فَصَلَّى فَلَمَّا انْصَرَفَ أَتَى الصَّبِيَّ فَطَعَنَ فِي بَطْنِهِ وَقَالَ يَا غُلَامُ مَنْ أَبُوكَ قَالَ فُلَانٌ الرَّاعِي قَالَ فَأَقْبَلُوا عَلَى جُرَيْجٍ يُقَبِّلُونَهُ وَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ وَقَالُوا نَبْنِي لَكَ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ لَا أَعِيدُوهَا مِنْ طِينٍ كَمَا كَانَتْ فَفَعَلُوا
وَبَيْنَا صَبِيٌّ يَرْضَعُ مِنْ أُمِّهِ فَمَرَّ رَجُلٌ رَاكِبٌ عَلَى دَابَّةٍ فَارِهَةٍ وَشَارَةٍ حَسَنَةٍ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَ هَذَا فَتَرَكَ الثَّدْيَ وَأَقْبَلَ إِلَيْهِ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدْيِهِ فَجَعَلَ يَرْتَضِعُ قَالَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَحْكِي ارْتِضَاعَهُ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ فِي فَمِهِ فَجَعَلَ يَمُصُّهَا قَالَ وَمَرُّوا بِجَارِيَةٍ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ وَهِيَ تَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَتَرَكَ الرَّضَاعَ وَنَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا فَهُنَاكَ تَرَاجَعَا الْحَدِيثَ فَقَالَتْ حَلْقَى مَرَّ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهُ فَقُلْتَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ وَمَرُّوا بِهَذِهِ الْأَمَةِ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَقُلْتَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا قَالَ إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ كَانَ جَبَّارًا فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ وَإِنَّ هَذِهِ يَقُولُونَ لَهَا زَنَيْتِ وَلَمْ تَزْنِ وَسَرَقْتِ وَلَمْ تَسْرِقْ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا
“Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian kecuali tiga bayi: Read the rest of this entry »

Category: Jawaban Pertanyaan, Seputar Anak | 6 Comments »

Hukum Terapi Sengat Lebah dan Sedot Lintah

October 5th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Terapi Sengat Lebah dan Sedot Lintah

Tanya:
assalamualaikum wr wb.
afwan ust. ana mau bertanya
1. hukum berobat dgn sengat lebah (madu)
2. huhum berobat dgn sedot lintah
abu aisyah
[edoysuredoy@yahoo.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Adapun hukum terapi sengat lebah, maka berikut jawaban dari Ust. Abu Zakariya Al-Makassari:
Bismillah, terapi pada dasarnya adalah salah satu upaya/proses mendapatkan kesembuhan. Dan hakikatnya bukanlah satu-satunya proses penyembuhan. Karena itulah, jikalau terapi tersebut mengantarkan seseorang kepada suatu yang terlarang dalam syara’ dan dengan sebab suatu yang terlarang oleh syara’, terapi tersebut sepatutnya dialihkan kepada terapi lainnya yang -setidaknya- mubah/diperbolehkan.
Termasuk juga yang ditanyakan pada soal ini. Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas menyebutkan, “Bahwa Rasulullah Sholalloohu ‘Allaihi Wassalam melarang membunuh semut, lebah, burung hud-hud dan burung shard.”
Dan penyebutannya secara mutlak, yaitu dengan cara apapun yang menyebabkan hewan-hewan diatas terbunuh. Dikecualikan dalam hal ini, jikalau hewan tersebut terbunuh bukan karena maksud untuk membunuhnya (hukum taba’iyah), dan juga jikalau hewan tersebut secara tabi’at mengganggu atau menyakiti maka diperbolehkan membunuhnya untuk menghalau gangguan hewan tersebut. Wallahu a’lam bish-shawab. Read the rest of this entry »

Category: Jawaban Pertanyaan | 2 Comments »

Hukum Program Keluarga Berencana

September 19th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Program Keluarga Berencana

Tanya:
Assalamualaikum, ana mau tanya ustadz,bgm hukum berKB (keluarga berencana) dalam islam,jazakallah khairan ksira..
Ummu fatih asyra [Julianiwidyastuti@ymail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Berikut beberapa fatwa para ulama sunnah berkenaan dengan masalah ini: Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 7 Comments »

Seputar Shalat

September 16th, 2011 by Abu Muawiah

Seputar Shalat

Tanya:
Assalamualaikum Ustad,
saya ingin menanyakan seputar shalat,
1. Jika kita masuk mesjid muazin sedang azan kita boleh shalat attahiyatul mesjid langsung atau mesti menunggu sampai muazin selesai azan kemudian shalat attahiyatul mesjid?

2. apakah di mushalla ada shalat attahiyatul mesjid juga atau tidak ada?

3. Jika kita berwudu di mesjid kemudian ingin melaksanakan shalat, shalat mana yang di dahulukan shalat attahiyatul mesjid atau shalat wudhu?

4. Shalat mana yang kita lakukan, jika waktu Qamat sudah hampir tiba (waktu nya sempit cuma bisa untuk satu shalat sunat saja), kita lakukan shalat sunat qabliatan rawatib atau shalat attahiyatul mesjid,?

5. Jika kita terlambat dalam shalat berjamaah kemudian imam salam, apakah kita mundur menjadi makmum terhadap orang yang disamping kita?

6. Jika kita melakukan shalat sunat badiyah rawatib Magrib atau isya kemudian orang datang dan menjadi makmum, apakah bacaan kita kita keraskan atau tetap di sirkan saja?

mohon maaf banyak pertanyaan saya, karena tidak tau untuk bertanya yang tepat sesuai dengan manhaj salaf.
Wassalam
Deni Rinaldi [dr0611@gmail.com] Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 16 Comments »