Archive for the 'Fiqh' Category

Hukum Makan Daging Kelelawar

November 23rd, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamu’alaikum ustadz bagaimana hukum daging kelelawar apakah halal dimakan?

Jawab:
Waalaikumussalam.
Kelelawar tidak boleh dikonsumsi karena kelelawar adl hewan yg tdk bisa disembelih, yg tdk mempunyai darah yg mengalir. Dan semua hewan yg tdk bisa disembelih, matinya adl bamgkai. Sementara Allah tlh mengharamkan bangkai bagi kita kecuali bangkai belalang dan ikan. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • kelelawar halal atau tidak

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Hukum Makan Daging Kelelawar

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

September 30th, 2013 by Abu Muawiah

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Tanya:
assalamu ’alaikum.
Pak ustadz mau bertanya: Berapakah jumlah rakaat shalat dhuha? Apakah yg sesuai sunnah itu 4 rakaat atau berapa rakaat?
Mohon dijawab dengan dalilnya?

iskandar
dodi.setia97@yahoo.com

Jawab:
Tidak ada perselisihan di antara ulama mengenai jumlah rakaat minimal shalat dhuha, yakni dua rakaat berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan salat dhuha. Namun, mereka berbeda pendapat tentang berapakah jumlah rakaat maksimal shalat dhuha. Dalam hal ini setidaknya ada tiga pendapat:

Pertama, jumlah rakaat maksimal adalah delapan rakaat. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dalil yang digunakan madzhab ini adalah hadis Umi Hani’ radhiallaahu ‘anha, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahnya ketika fathu Mekah dan Beliau shalat delapan rakaat. (HR. Bukhari, no.1176 dan Muslim, no.719).

Kedua, rakaat maksimal adalah 12 rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan pendapat lemah dalam Madzhab Syafi’i. Pendapat ini berdalil dengan hadis Anas radhiallahu’anhu: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • sholat sunnah dhuha 4 rakaat dengan 1 kali salam apakah ada dalilnya

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Hukum Menggabungkan Aqiqah dan Qurban Dalam Satu Sembelihan

September 10th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Menggabungkan Aqiqah dan Qurban Dalam Satu Sembelihan

Sudah banyak pertanyaan yang masuk seputar hukum menggabungkan niat antara menyembelih aqiqah/nasikah dengan menyembelih qurban  di hari idul adh-ha.

Maka berikut pembahasannya:

Sebenarnya, jawaban dari permasalahan ini dibangun di atas salah satu masalah ushuliah, yaitu: Hukum menggabungkan dua ibadah dalam satu niat. Apakah hal ini diperbolehkan atau tidak?

Ringkasnya, para ulama ushul menyebutkan 2 syarat akan bolehnya menggabungkan 2 ibadah dalam 1 niat, yaitu:

  1. Kedua ibadah itu sama jenis dan waktunya. Adapun jika kedua ibadah itu tidak sama jenis dan berbeda waktu pelaksanaannya, maka keduanya tidak boleh digabungkan.
  2. Ibadah yang mau digabungkan itu bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian ibadah itu bisa diwakilkan pelaksanaannya dengan ibadah lain yang sejenis. Adapun jika kedua ibadah itu berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya dituntut pelaksanaannya sendiri-sendiri karena maksud dan tujuan kedua ibadah itu berbeda, maka yang seperti ini tidak boleh menggabungkan keduanya.

Contoh yang memenuhi syarat:

Shalat 2 rakaat setelah azan dengan meniatkannya sebagai sunnah rawatib sekaligus tahiyatul masjid. Tahiyatul masjid bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian tahiyatul masjid adalah shalat 2 rakaat (apapun jenisnya) sebelum seseorang duduk di dalam masjid. Karenanya, kapan seseorang sudah shalat 2 rakaat sebelum duduk, maka dia telah melakukan tahiyatul masjid, apapun jenis shalat 2 rakaat yang dia lakukan itu. Karenanya ketika seseorang mengerjakan sunnah rawatib 2 rakaat sebelum duduk, maka itu sudah teranggap sebagai tahiyatul masjid baginya.

Puasa 6 hari di bulan syawal dengan puasa senin kamis. Yang dituntut dari puasa 6 hari di bulan syawal adalah pokoknya berpuasa 6 hari di dalamnya, hari apapun itu. Karenanya, jika seseorang berpuasa pada hari senin atau kamis di bulan syawal, maka itu bisa sekaligus dia jadikan sebagai puasa syawal baginya. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • pembelihan akikah pada hari raya qurban

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Seputar Anak | 1 Comment »

Definisi Nadzar

August 22nd, 2013 by Abu Muawiah

Definisi Nadzar

Nadzar menurut bahasa bermakna pengharusan dan janji.

Adapun menurut istilah syara’, Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Nadzar adalah kamu mewajibkan atas dirimu sesuatu yang bukan merupakan kewajiban karena adanya suatu kejadian.[1]

Sementara Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam mendefinisikannya, “Nadzar adalah seorang mukallaf mengharuskan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak wajib, karena Allah.”

Maka dari kedua definisi ini kita bisa menarik beberapa kesimpulan dalam definisi nadzar, yaitu:

1. Nadzar adalah mewajibkan diri untuk mengerjakan suatu amalan yang asalnya tidak wajib[2].

Misalnya seseorang mengatakan, “Aku bernadzar untuk Allah akan berpuasa senin kamis pekan ini.” Puasa senin kamis asalnya adalah sunnah, akan tetapi dia mewajibkan hal itu atas dirinya sehingga jadilah puasa sunnah ini hukumnya wajib atas dirinya. Termasuk di dalamnya, menadzarkan ibadah wajib tapi dengan sifat tertentu yang tidak wajib. Semisal seseorang mengatakan, “Saya bernadzar akan mengqadha` puasa ramadhan saya pada bulan Syawal.” Penyebutan nama bulan di sini hanyalah sifat tambahan dari kewajiban qadha` puasa dan tentunya qadha` puasa di bulan Syawal bukanlah kewajiban karena qadha puasa boleh dikerjakan pada bulan-bulan setelahnya. Tapi tatkala dia menadzarkannya maka jadilah qadha` di bulan Syawal sebagai suatu kewajiban.

Karenanya jika dia berkata, “Saya bernadzar akan naik haji jika mampu,[3]” maka ini bukanlah nadzar karena haji bagi yang mampu adalah kewajiban.

Inti dari nadzar ini adalah pewajiban atas diri sendiri sesuatu yang tidak wajib, apapun lafazh yang digunakan. Baik dia mengatakan, “Saya bernadzar …,” atau mengatakan, “Saya berjanji kepada Allah akan melakukan ibadah …,” atau mengatakan, “Wajib atas saya amalan ini karena Allah,” dan seterusnya. Karena semua ucapan ini mengandung makna dia mewajibkan dirinya mengerjakan suatu amalan karena Allah. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • pengertian nadzar

Category: Aqidah, Fiqh | Comments Off on Definisi Nadzar

Shalat Tarawih 4 Raka’at dengan 1 Salam Bid’ah ?

July 25th, 2013 by Abu Muawiah

Shalat Tarawih 4 Raka’at dengan 1 Salam Bid’ah ?

Tanya : Apakah shalat tarawih 4 raka’at 4 raka’at dengan satu salam (lalu witir 3 raka’at) termasuk bid’ah ?

Jawab : Tidak, bahkan kaifiyyah shalat seperti itu shahih dicontohkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa :

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat di bulan Ramadlan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Setelah itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2013 dan Muslim no. 738].

Dhahir hadits ini menunjukkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat empat raka’at dengan satu salam. Inilah pendapat Abu Haniifah, sebagaimana disitir oleh Al-‘Iraaqiy rahimahumallah :

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الْأَفْضَلُ أَنْ يُصَلِّيَ أَرْبَعًا أَرْبَعًا وَإِنْ شَاءَ رَكْعَتَيْنِ وَإِنْ شَاءَ سِتًّا وَإِنْ شَاءَ ثَمَانِيًا وَتُكْرَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ

“Abu Haniifah berkata : “Afdlal-nya shalat malam empat raka’at empat raka’at. Apabila berkehendak, shalat 2 raka’at, apabila berkehendak shalat 6 raka’at, apabila berkehendak shalat 8 raka’at. Dan dimakruhkan menambah raka’at dari itu” [Tharhut-Tatsriib, 3/357]. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Shalat Tarawih 4 Raka’at dengan 1 Salam Bid’ah ?

Apakah Membayar Zakat Fitrah/Fithri dengan Uang Merupakan Satu Kebid’ahan dalam Agama ?

July 22nd, 2013 by Abu Muawiah

Apakah Membayar Zakat Fitrah/Fithri dengan Uang Merupakan Satu Kebid’ahan dalam Agama ?

Tanya : Apakah membayar zakat fitrah dengan uang merupakan satu kebid’ahan dalam agama ?

Jawab : Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Jumhur ulama mengatakan tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah (fithri) berupa uang. Inilah yang dipegang kuat oleh Maalikiyyah, Syaafi’iyyah, Hanabilah, dan Dhahiriyyah. Sedangkan ulama lain, seperti Al-Hasan Al-Bashriy, ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz, Ats-Tsauriy, Abu Haniifah, dan yang lainnya; berpandangan boleh mengeluarkan zakat fitrah (fithri) dengan uang.

Dalil Pokok Madzhab Pertama

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّكَنِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin As-Sakan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jahdlam : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ja’far, dari ‘Umar bin Naafi’, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadlan kepada manusia; satu shaa’ tamr (kurma) atau satu shaa’ gandum atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan wanita dari kalangan umat muslimin. Dan beliau pun memerintahkan agar mengeluarkannya sebelum orang-orang keluar mengerjakan shalat (‘Ied)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1503].

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الْعَامِرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Iyadl bin ‘Abdllah bin Sa’d bin Abi Sarh Al-‘Aamiriy, bahwasannya ia mendengar Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu berkata : “Dulu kami mengeluarkan zakat fithri (sebanyak) satu shaa’ makanan, atau satu shaa’ gandum, atau satu shaa’ tamr (kurma), atau satu shaa’ keju, atau satu shaa’ anggur kering (kismis)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1506].

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمْرَقَنْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْخَوْلَانِيُّ وَكَانَ شَيْخَ صِدْقٍ وَكَانَ ابْنُ وَهْبٍ يَرْوِي عَنْهُ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ مَحْمُودٌ الصَّدَفِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Khaalid Ad-Dimasyqiy[1] dan ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan As-Samarqandiy[2], mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Marwaan[3]– ‘Abdullah berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Yaziid Al-Khaulaaniy[4], ia seorang syaikh yang jujur, dan Ibnu Wahb meriwayatkan darinya : Telah menceritakan kepada kami Sayyaar bin ‘Abdirrahmaan[5]– : Mahmuud berkata : Ash-Shadafiy, dari ‘Ikrimah[6], dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan yang tidak senonoh, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1506; hasan]. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hukum zakat fitrah dengan uang

Category: Fiqh | Comments Off on Apakah Membayar Zakat Fitrah/Fithri dengan Uang Merupakan Satu Kebid’ahan dalam Agama ?

Seputar Waktu dalam I’tikaf

July 21st, 2013 by Abu Muawiah

Seputar Waktu dalam I’tikaf

Dalam artikel ini, ada 4 permasalahan yang akan kita bahas:

  1. Waktu I’tikaf.
  2. Durasi minimal I’tikaf.
  3. Kapan mu’takif (orang yang I’tikaf) memulai I’tikafnya?
  4. Kapan mu’takif selesai dari I’tikafnya?

Berikut uraiannya satu per satu secara ringkas:

A. Waktu I’tikaf.

Mayoritas ulama memandang bahwa I’tikaf disyariatkan kapan saja sepanjang tahun, dan tidak terkhusus dalam bulan Ramadhan saja. Hanya saja, memang lebih utama dilakukan pada bulan Ramadhan, dan lebih ditekankan lagi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Semua ini berdasarkan perbuatan dan kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Seseorang dianjurkan untuk tidak meninggalkan I’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukannya secara berkesinambungan dan beliau mengqadha` jika tidak melakukannya. Sementara amalan apa saja yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rutin melakukannya, maka amalan itu termasuk sunnah mu`akkadah, sama seperti shalat lail.[1]Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Seputar Waktu dalam I’tikaf

Hukum Minyak, Salep, Balsem, dan Patch Terapeutik

July 15th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Minyak, Salep, Balsem, dan Patch Terapeutik

Apa hukum mengoleskan minyak atau salep atau balsem untuk terapi atau tujuan lainnya? Dan apa juga hukum memakai patch untuk terapi?
Permasalahan ini dibahas, karena sebagaimana yang diketahui bersama, kulit akan menyerap bahan-bahan di atas ketika dia dioleskan atau direkatkan ke tubuh. Nah, apakah masuknya bahan-bahan ini ke dalam tubuh melalui kulit, bisa membatalkan puasa?
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah rahimahullah pernah menyebutkan permasalahan ini, dan beliau menyatakan bahwa semua itu tidak membatalkan puasa. Hal itu karena tidak ada satu pun dari bahan-bahan itu yang berfungsi layaknya makanan dan tidak ada satu pun di antaranya yang sampai ke dalam perut.
Inilah hukum yang difatwakan oleh Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami, bahkan sebagian di antara mereka ada mengutip adanya konsensus ulama kontemporer terhadap hukum ini.

[Diringkas dari Al-Mufthiraat Al-Mu’asharah, karya Dr. Khalid bin Ali Al-Musyaiqih]

Category: Fiqh | Comments Off on Hukum Minyak, Salep, Balsem, dan Patch Terapeutik

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Melihat Mushaf?

July 14th, 2013 by Abu Muawiah

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Melihat Mushaf?

Ibnu Abi Daud meriwayatkan dalam Al-Mashahif (193-194) dari jalur Jarir bin Hazim dia berkata, “Saya pernah melihat Ibnu Sirin sedang mengerjakan shalat sambil duduk bersila, sementara mushaf berada di sampingnya. Jika beliau ragu-ragu akan suatu ayat, beliau melihat ke dalamnya.”

Sanadnya shahih.

Dia meriwayatkannya dari jalur yang lain dari Ma’mar dari Ayyub dari Ibnu Sirin:

أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَالْمُصْحَفِ إِلَى جَنْبِهِ، فَإِذَا تَرَدَّدَ نَظَرَ فِي الْمُصْحَفِ

“Bahwa beliau pernah mengerjakan shalat sementara mushaf berada di sampingnya. Jika beliau ragu-ragu akan suatu ayat, beliau melihat ke dalamnya.”

Category: Fiqh, Ilmu al-Qur`an | Comments Off on Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Melihat Mushaf?

Anastesi atau Pembiusan Membatalkan Puasa?

July 7th, 2013 by Abu Muawiah

Anastesi atau Pembiusan Membatalkan Puasa?

Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-“tidak, tanpa” dan aesthētos, “persepsi, kemampuan untuk merasa”), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Anestesi)

Mengenai hukum anastesi -apakah dia membatalkan puasa atau tidak-, perlu dirinci berdasarkan bentuknya. Perinciannya sebagai berikut:
1. Anastesi lokal melalui hidung.
Dimana pasien menghirup gas tertentu yang akan mempengaruhi syarafnya, sampai akhirnya dia terbius.
Hukumnya:
Anastesi seperti ini tidaklah membatalkan puasa, karena gas yang masuk ke hidung bukanlah zat makanan atau menambah daya tahan tubuh.

2. Anastesi lokal Cina (baca: anastesi kering/akupuntur Cina).
dengan memasukkan jarum kering ke pusat syaraf perasa yang ada di bawah kulit sehingga akan menghasilkan semacam kelenjar untuk melakukan sekresi terhadap morfin alami yang ada dalam tubuh. Dengan itu, si pasien akan kehilangan kemampuan untuk merasa.
Hukumnya:
Tidak membatalkan puasa selama anastesinya bersifat lokal, karena tidak ada satu pun zat yang masuk ke dalam perut. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | 1 Comment »