Archive for the 'Fiqh' Category

Shalat Sunnah 4 Rakaat Setelah Isya

June 24th, 2014 by Abu Muawiah

Shalat Sunnah 4 Rakaat Setelah Isya

Sudah sejak lama kami menerima pertanyaan dari teman-teman mengenai sunnahnya shalat 4 rakaat setelah shalat Isya, dan bahwa pahalanya setara dengan pahala lailatul qadr (demikian yang tertulis dalam chat dan inbox teman-teman yang menanyakan masalah ini). Namun pada saat itu kami tidak menjawab karena memang kami belum mengetahui tentang pahala tersebut. Memang, sudah masyhur dalam riwayat al-Bukhari bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah shalat 4 rakaat setelah shalat isya, dan itu beliau lakukan ketika beliau telah berada di rumah beliau. Namun yang menjadi ganjalan di benak kami waktu itu adalah: Apakah benar pahala shalat sunnah 4 rakaat setelah isya ini setara dengan pahala lailatul qadr?! Demikianlah masalah ini kami biarkan sementara tanpa mengomentari pertanyaan-pertanyaan yang masuk seputar ini, karena memang waktu itu kami belum ada kelapangan untuk mencari tahu tentangnya.
Setelah ada kelapangan, kami mulai mencari pembahasan-pembahasan seputar masalah ini, dan alhamdulillah ada banyak ulama dan penuntut ilmu yang telah berkomentar dalam masalah ini. Setelah mengumpulkan beberapa pembahasan berbahasa arab yang membahas tentangnya, kami awalnya berniat untuk merangkum pembahasan-pembahasan tersebut dalam 1 tulisan ringkas. Namun alhamdulillah, ternyata sudah ada pembahasan ringkas yang ditulis oleh ust. Abu al Jauza` -jazahullahu khairan- yang sudah mewakili sebagian besar dari maksud kami. Karenanya, berikut kami bawakan pembahasan beliau, dan kemudian akan kami tambahkan di akhirnya beberapa point yang tidak sempat dibawakan oleh beliau:

Di antara sunnah yang banyak ditinggalkan kaum muslimin saat ini adalah shalat sunnah empat raka’at setelah ‘Isyaa’. Di antara dasar dalilnya adalah:

حَدَّثَنَا آدَمُ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَكَمُ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا، فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ نَامَ، ثُمَّ قَامَ، ثُمَّ قَالَ: نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا، ثُمَّ قَامَ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ خَطِيطَهُ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “

Telah menceritakan kepada kami Aadam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam, ia berkata : Aku mendengar Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkara : “Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah bin Al-Harits, istri Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam; dan ketika itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumah bibi saya itu. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ‘Isya’ (di masjid), kemudian beliau pulang, lalu beliau mengerjakan shalat sunnah empat raka’at. Setelah itu beliau tidur, lalu beliau bangun dan bertanya : ‘Apakah anak laki-laki itu (Ibnu ‘Abbas) sudah tidur ?’ – atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna dengan itu. Kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau untuk bermakmum. Akan tetapi kemudian beliau menjadikanku berposisi di sebelah kanan beliau. Beliau shalat lima raka’at, kemudian shalat lagi dua raka’at, kemudian beliau tidur. Aku mendengar suara dengkurannya yang samar-samar. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun, lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 117]. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • sholat badiyah isya 4 rakaat

Category: Fiqh, Tahukah Anda? | Comments Off on Shalat Sunnah 4 Rakaat Setelah Isya

Jimak Saat Puasa Sunnah

May 27th, 2014 by Abu Muawiah

Jimak Saat Puasa Sunnah

 

Tanya:

Saya mau tanya ustadz.

Jimak ketika sedang berpuasa sunnah, apakah itu berdosa? Jika berdosa, apakah ada kaffaratnya?

Jazakallahu khairan

 

Jawab:

Sudah dimaklumi bersama bahwa jimak merupakan pembatal puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah. Dan juga sudah dimaklumi bahwa siapa saja yang melakukan jimak ketika dia sedang berpuasa di dalam bulan ramadhan, maka dia telah melakukan dosa yang sangat besar, dan dia wajib membayar kaffarat berupa:

1. Membebaskan budak.

2. Jika tidak mampu maka berpuasa 2 bulan berturut-turut.

3. Dan jika tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin.

Demikian yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu riwayat al Bukhari dan Muslim.

 

Kita kembali ke pertanyaan. Apakah semua hukum di atas juga berlaku bagi orang yang melakukan jimak pada saat dia berpuasa sunnah?

Sebelumnya butuh diketahui bahwa -secara umum- seseorang dianggap berdosa jika dia meninggalkan kewajiban tanpa uzur yang dibenarkan. Sementara kaffarat diwajibkan untuk menggugurkan dosa karena meninggalkan kewajiban tersebut.

 

Dari sini, jawaban pertanyaan di atas sudah diketahui yaitu: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • Pertanyaan tentang penguburan jenazah

Category: Dari Grup WA, Fiqh, Jawaban Pertanyaan | Comments Off on Jimak Saat Puasa Sunnah

Hukum Berzikir Dalam WC

May 23rd, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Apa hukumnya menjawab salam dan berzikir di dalam wc?

Jawab:
Ada dua pendapat di kalangan para ulama mengenai hukum berzikir di dalam wc:
1. Makruh.
Ini adalah mazhab al Hanafiah, asy Syafiiah, dan al Hanabilah. Dan pendapat ini dinisbatkan kpd Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.
2. Boleh.
Ini adl pendapat Malik, an Nakhai, Ibnu Sirin, dan asy Sya’bi. Pendapat ini dinisbatkan kepada sahabat Abdullah bin Amr.

Maka dari sini kita bisa melihat, bahwa tidak ada seorang pun ulama yang menyatakan haramnya berzikir di dalam wc. Pendapat yg melarang di sini hanya berpendapat makruhnya. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Hukum Berzikir Dalam WC

Wajibkah Mencuci Anggota Wudhu 3 kali?

April 29th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Apakah jumlah membasuh ketika wudhu harus berjumlah 3x, atau bolehkah hanya mencukupkan sekali saja?

Jawab:
Ada silang pendapat di kalangan ulama dlm permasalahan ini:
1. Disunnahkan mencuci semua anggota wudhu sebanyak 3 kali kecuali kepala, krn kepala cukup diusap sekali.
Ini adl pendapat al Hanafiah, al Malikiah, dan al Hanabilah.
2. Semuanya disunnahkan dicuci 3 kali, termasuk kepala.
Ini adl pendapat asy Syafiiah.
Yg tepat adl pendapat yg pertama. Berdasarkan hadits Utsman bin Affan radhiallahu anhu riwayat al Bukhari dan Muslim, yg menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mencuci semua anggota wudhunya 3 kali kecuali kepala. Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Wajibkah Mencuci Anggota Wudhu 3 kali?

Ringkasan Hukum Diyat Pembunuhan Sengaja

April 9th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Afwan, adakah batasan nilai diyat? Karena ada sebagian orang yang mengkritik mahkamah syariah Saudi karena tidak membatasi diyat maksimal 1000 dinar.

Jawab:
Secara umum, para ulama sepakat bahwa keluarga korban pembunuhan yang disengaja memiliki salah satu dari 3 hak berikut:
1. Menuntut pelakunya dihukum mati (qishash).
2. Atau menggugurkan tuntutan hukuman mati tapi dengan ganti diyat (ganti rugi).
3. Atau memaafkan pembunuh tanpa qishash dan tanpa meminta diyat, dan ini yg lebih utama.

Adapun diyat pembunuhan yang disengaja, maka asalnya adalah 100 ekor onta. Jika tdk ada onta, maka diganti dgn uang 1000 dinar atau yg setara dgnnya dr nilai mata uang di negara tempat keluarga korban.
1 dinar setara dgn 4,25 gram emas. Jika kita asumsikan 1 gram emas sekarang seharga Rp. 500.000,-, maka 1000 dinar itu setara dgn:
Rp. 2.125.000.000,- (Dua milyar seratus dua puluh lima juta). Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • jika pembunuh tidak mampu bayar diyat

Category: Dari Grup WA, Fiqh, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Ringkasan Hukum Diyat Pembunuhan Sengaja

Shalat Sunnah di Tengah Hari Pada Hari Jumat

March 24th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسـم الله
Ustadz, salah satu sunnah menghadiri sholat jum’at yaitu sholat sunnah (mutlak) semampunya sampai khotib naik mimbar. Bagaimana dengan waktu terlarang (matahari tepat di atas) sementara khotib belum naik mimbar apakah harus berhenti sholat (mutlak)?
شكرا ustadz, بارك الله فيـك

Jawab:
Dari Salman al Farisi radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا يغتسِلُ رجلٌ يومَ الجمُعةِ، ويتطَهَّرُ ما استطاع من طُهرٍ، ويدَّهِنُ من دُهنِه، أو يَمَسُّ من طِيبِ بيتِه، ثم يَخرُجُ فلا يُفَرِّقُ بين اثنين، ثم يصلِّي ما كُتِبَ له، ثم يُنصِتُ إذا تكلَّمَ الإمامُ، إلا غُفِرَ له ما بينه وبين الجمُعة الأخرَى .
“Tidak ada seseorg yg mandi pd hr jumat, bersuci semampunya, memakai minyak (rambut), atau memakai wewangian, kemudian dia keluar (menuju masjid). Di masjid, dia tdk memisahkan di antara 2 org (yg duduk). Kemudian dia mengerjakan shalat (sunnah) semampunya. Kemudian dia diam tatkala imam berkhutbah. Tidak ada org yg melakukan semua itu kecuali akan diampuni dosanya antara jumat itu dgn jumat depannya.” (HR. Al Bukhari no. 883)

Hadits di atas menunjukkan bolehnya shalat sunnah mutlak di saat matahari tepat di tengah langit pd hari jumat. Hal itu krn akhir pembolehan shalat sunnah ini adl dgn datangnya imam, yaitu pd saat matahari tergelincir ke barat. Demikian penjelasan dr al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dlm at Talkhish. Wallahu a’lam

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Shalat Sunnah di Tengah Hari Pada Hari Jumat

Kesalahan: Meninggalkan Shalat Karena Belum Mandi Suci

March 20th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Sholat wajib itu tidak ada qodho ya? Sore hari ana baru mandi suci dari haidh dan ternyata sudah bersih semenjak pagi tadi (pagi sebelum berangkat sekolah masih ada kecoklatan) jadi belum mandi suci, sedang pagi sampai sore ana mengajar di sekolah. Jadi gimana ya sholat zuhur dan asar nya?

Jawab:
Pertama, jelas anda telah melakukan kesalahan karena tidak segera bersuci ketika sudah suci dari haid, sehingga anda tidak bisa mengerjakan shalat.

Kedua, jika memang tidak bisa mandi menjadi alasan yang dibenarkan saat itu, maka sebenarnya anda bisa cukup bertayammum kemudian shalat. Apalagi jika anda suci pada saat waktu zuhur hampir habis. Karena seseorang diperbolehkan bertayammum -walaupun ada air- untuk mengejar pelaksanaan suatu kewajiban yang akan habis waktunya, dimana jika dia menunggu mandi/wudhu, waktunya akan habis. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bolehkah meninggalkan shalat karena belum suci

Category: Fiqh | Comments Off on Kesalahan: Meninggalkan Shalat Karena Belum Mandi Suci

Shalat Isya di Akhir Waktu

February 12th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Saya pernah dengar kalau sholat 5 waktu harus tepat waktu kecuali isya, isya harus di akhir waktu. Apakah sholat isya baiknya dilakukan bersamaan dgn sholat tahajjud?

Jawab:
Bukan harus, tapi memang dianjurkan dan disunnahkan untuk mengundurkan pelaksanaan shalat isya, sampai ke akhir waktu isya, dlm hal ini adalah sampai pertengahan malam. Jika kita asumsikan magrib masuk jam 6 pm dan subuh masuk jam 5 am, maka pertengahan malam berarti jam 11:30pm. Tidak boleh shalat isya melewati jam itu, kecuali bagi yg punya uzur.
Karenanya, jika shalat tahajjudnya sebelum pertengahan malam, maka habis shalat isya, dia boleh lanjutkan dengan shalat tahajjud. Tapi jika shalat tahajjudnya pada 1/3 malam terakhir, maka tdk boleh mengundur shalat isya sampai waktu tahajjudnya. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Shalat Isya di Akhir Waktu

Batasan Selesainya Shalat

December 17th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Ustadz, sahkah sholat seorang makmum yang cuma ikut salam pertama  imam, sedang imam salam 2 kali?

Jawab:
Insya Allah tetap syah shalatnya, tp dia berdosa krn tdk mengikuti imam. Wallahu a’lam
Shalatnya tdk batal krn yg menjadi rukun dlm shalat adalah salam yg pertama saja.
al Bihaqi berkata, “Diriwayatkan dr sejumlah sahabat radhiallahu anhum bahwa mereka mengucapkan salam hanya sekali.”
at Tirmizi jg mengutip hal yg sama dr para sahabat. Lalu beliau membawakan ucapan asy Syafii, “Jika mau mk silakan seseorg salam hanya sekali, dan jika mau, maka silakan dia salam 2 kali.”
Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Fiqh | Comments Off on Batasan Selesainya Shalat

Syahkah Azan Anak Kecil?

November 27th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Assalamu alaikum. Ustsdz adakah ketentuan atau Dalil jika seorang Muadzin  harus yg sdh Balig? wassalam

Jawab:
Waalaikumussalam.
Azan anak kecil syah, selama dia sdh mumayyiz. Ini adl pendapat yg paling kuat di kalangan ulama, dan ini merupakan pendapat dr Atha’, Asy Sya’bi, Ibnu Abi Laila, Asy Syafii, dan salah satu riwayat dr Ahmad.
Dalilnya adl hadits Abdullah bin Abi Bakr bin Anas dia berkata:
ﻛﺎﻥ ﻋﻤﻮﻣﺘﻲ ﻳﺄﻣﺮﻭﻧﻨﻲ ﺃﻥ ﺃﺅﺫﻥ ﻟﻬﻢ ﻭﺃﻧﺎ ﻏﻼﻡ، ﻭﻟﻢ ﺃﺣﺘﻠﻢ ﻭﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺷﺎﻫﺪ ﻟﻢ ﻳﻨﻜﺮ ﺫﻟﻚ.
Para pamanku pernah menyuruhku untuk mengumandangkan azan, pdhl ketika itu aku masih kecil dan belum balig. Ketika itu Anas bin Malik juga ada di situ, namun beliau tdk mengingkarinya.”
Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughni (1/300), “Kejadian ini terlihat jelas dan tdk samar, namun tdk ada yg mengingkarinya, sehingga ini adl ijma’.”

Category: Dari Grup WA, Fiqh, Seputar Anak | Comments Off on Syahkah Azan Anak Kecil?