Archive for the 'Fatawa' Category

Menghapus Gambar Dalam Buku

September 3rd, 2013 by Abu Muawiah

Menghapus Gambar Dalam Buku

Sudah jadi pemandangan sehari-hari bagi para pelajar, dimana mereka mendapati banyak gambar makhluk bernyawa di dalam buku-buku pelajaran mereka. Jangankan buku pelajaran umum, dalam buku pelajaran yang berbau agama sekali pun tidak luput dari gambar-gambar seperti ini. Contoh jelas terdapat dalam kitab-kitab muhadatsah (percakapan) berbahasa Arab, dimana di dalamnya pasti disertakan gambar-gambar makhluk bernyawa yang berfungsi sebagai alat peraga untuk memudahkan pembacanya memahami muhadatsah yang dibawakan.

Nah, apakah orang yang membaca buku-buku bergambar seperti ini diharuskan untuk menghapus gambar-gambar bernyawa yang terdapat di dalamnya?

Berikut jawaban dari Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah ketika beliau ditanya dengan teks soal sebagai berikut:

Apakah seseorang diharuskan untuk menghapus gambar-gambar yang terdapat di dalam buku-buku? Dan apakah membuat garis melintang di antara bagian kepala dan tubuh gambar itu, itu sudah cukup untuk menghilangkan hukum haramnya? Read the rest of this entry »

Category: Fatawa | Comments Off on Menghapus Gambar Dalam Buku

Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

July 28th, 2013 by Abu Muawiah

Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah ditanya :

هل الحجامة داخلة في السنن الفعلية للنبيّ صلى الله عليه وسلم ؟

Apakah bekam termasuk dalam sunnah fi’liyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Syaikh hafidzahullah menjawab :

الحجامة مباحة, فهي علاج مباح لا يقال إنه سنة وأن الذي لا يتحجم تارك للسنة . . لا. هذا من المباحات والعلاج والأدعية من الأمور المباحات.

Bekam adalah perkara mubah. Ia termasuk pengobatan yang mubah. Tidak dikatakan bahwa ia sunnah, sehingga orang yang tidak melakukan bekam berarti telah meninggalkan sunnah. Tidak dikatakan demikian. Bekam termasuk perkara mubah. Dan pengobatan termasuk salah satu dari perkara mubah.

Sumber : Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Tahukah Anda? | Comments Off on Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

Tidak Ada Qadha` Bagi yang Sengaja Membatalkan Puasanya

July 18th, 2013 by Abu Muawiah

Tidak ada Qadha` Bagi yang Sengaja Membatalkan Puasanya

 

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata dalam Madarij As-Salikin (1/381):

“Allah Subhanahu telah mensyariatkan untuk mengqadha` puasa Ramadhan bagi orang yang tidak berpuasa karena adanya uzur, seperti: Haid atau safar atau sakit. Namun Allah tidak pernah mensyariatkan qadha` ini bagi orang yang sengaja tidak berpuasa tanpa ada uzur, tidak ada satu pun nash, tidak pula isyarat, tidak pula tanbih (catatan), dan itu juga tidak sejalan dengan aturan-aturan syariat-Nya. Argumen terkuat yang kalian[1] miliki hanyalah menganalogikannya dengan tidak berpuasanya orang yang mempunyai uzur. Padahal aturan-aturan syariat telah baku menetapkan adanya perbedaan antara yang mempunyai uzur dengan yang tidak mempunyai uzur. Bahkan syariat telah mengabarkan bahwa puasa sepanjang tahun pun tidak akan bisa mengqdha` satu hari puasa Ramadhan yang dia tinggalkan tanpa uzur[2], apalagi jika hanya diqadha` dengan satu hari juga.[3]Read the rest of this entry »

Category: Fatawa | Comments Off on Tidak Ada Qadha` Bagi yang Sengaja Membatalkan Puasanya

Fanatik pada Ustadz atau Ulama

February 14th, 2013 by Abu Muawiah

Fanatik pada Ustadz atau Ulama

Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah pernah ditanya :

ما حكم من أحب عالماً أو داعية، وقال : إني أحبه حبًا كثيرًا، لا أريد أن أسمع أحداً يرد عليه، وأنا آخذ بكلامه حتى وإن كان مخالفاً للدليل، لأن هذا الشيخ أعرف منا بالدليل ؟

“Apa hukum bagi seseorang yang mencintai seorang ulama atau da’i, hingga ia berkata : ‘Sesungguhnya aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin seorang pun membantahnya, dan aku mengambil perkataannya meskipun ia menyelisihi dalil, karena syaikh tersebut lebih mengetahui dalil daripada kita’ ?”.

Beliau hafidhahullah menjawab :

هذا تعصب ممقوت مذموم، ولا يجوز.

نحن نحب العلماء –و لله الحمد-، ونحب الدعاة في الله عز وجل، لكن إذا أخطأ واحد منهم في مسألة فنحن نُبَيِّن الحق في هذه المسألة بالدليل، ولا يُنقص ذلك من محبة المردود عليه، ولا من قدره .

يقول الإمام مالك – رحمه الله – : (( ما مِنَّا إلا رادٌ ومردودٌ عليه؛ إلا صاحب هذا القبر )). يعني : رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Sikap ini merupakan kefanatikan (ta’ashub) yang dibenci lagi tercela, tidak diperbolehkan.[1]

Kita mencintai ulama – walillaahil-hamd – , dan mencintai da’i yang menyeru di jalan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi jika salah seorang di antara mereka terjatuh dalam kesalahan dalam satu permasalahan, maka kita menjelaskan kebenaran dalam permasalahan ini dengan dalil. Hal itu sama sekali tidaklah mengurangi kecintaan kita pada orang yang dibantah, dan tidak pula mengurangi kedudukannya.

Al-Imaam Maalik rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pun dari kita kecuali orang yang membantah atau yang dibantah, kecuali pemilik kubur ini”[2] – yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

نحن إذا رددنا على بعض أهل العلم، وبعض الفضلاء؛ ليس معنى هذا أننا نبغضه أو نتنقصه، وإنما نُبَيِّن الصواب، ولهذا يقول بعض العلماء لما أخطأ بعض زملائه، قال : (( فلان حبيبنا، ولكن الحق أحب إلينا منه )). ، هذا هو الطريق الصحيح .

ولا تفهموا أن الرَّد على بعض العلماء في مسألة أخطأ فيها معناه تَنَقُّص لـه أو بُغض، بل ما زال العلماء يرد بعضهم على بعض، وهم اخوة ومتحابون .

ولا يجوز لنا أن نأخذ كل ما يقوله الشخص أخذاً مسلّماً؛ أصاب أو أخطأ، لأن هذا تعصُّب .

“Apabila kita membantah sebagian ulama dan sebagian fudlalaa’ tidaklah bermakna kita membencinya atau merendahkannya. Kita hanyalah menjelaskan kebenaran. Oleh karenanya sebagian ulama berkata ketika sebagian rekannya terjatuh dalam kesalahan : ‘Fulaan adalah orang yang kami cintai, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai daripadanya’[3]. Inilah jalan yang benar.

Janganlah kalian memahami bahwa bantahan terhadap sebagian ulama dalam permasalahan yang mereka jatuh dalam kekeliruan bermakna perendahan atau kebencian. Bahkan para ulama senantiasa memberikan bantahan sebagian terhadap sebagian yang lain, dalam keadaan mereka saling bersaudara dan mencintai. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Fanatik pada Ustadz atau Ulama

Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

February 7th, 2013 by Abu Muawiah

Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

Tanya :

فضيلة الشيخ صالح أحسن الله إليك، هناك فئة من طلبة العلم وبعض الشباب تحزبوا واحتكروا السلفية وبدعوا إخوانهم وتعصَّبوا لآرائهم تعصُّباً شديداً. يقول: ما السلفية؟

Fadliilatusy-Syaikh Shaalih, semoga Allah melimpahkan Anda kebaikan. Terdapat sekelompok penuntut ilmu dan sebagian pemuda yang ber-tahazzub dan memonopoli istilah Salafiyyah, yang kemudian membid’ahkan saudara mereka dimana mereka  sangat fanatik terhadap pendapat mereka tersebut. Sebenarnya, apakah Salafiyyah itu ?

 

Jawab :

السلفية: من كان على منهج السلف قال تعالى:

{وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِن الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ}[التوبة: 100]

وقال تعالى:

{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ} [الحشر: 10]

فالسلفية هي اتباع السلف من الصحابة والتابعين وأتباع التابعين والقرون المفضلة هذه هي السلفية، وليس لأحد أن يحتكرها، فكل من سار على منهج السلف فهو سلفي، فليست خاصة بفئة أو بشخص وإنما هي لمن اتصف بها على الحقيقة.

ثم إني أدعو إلى أن الشباب وطلبة العلم يترفعون عن هذا التنابز بالألقاب : هذا سلفي هذا جامي هذا إخواني هذا كذا … أنا لا أرى هذه الأمور لأنها أصبحت نفَّرت المسلمين وشباب المسلمين وأوقعت الفتنة. وأحثُّ على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله ومنهج السلف الصالح وأن نكون إخوة متحابين في الله عزوجل.

“Salafiyyah adalah siapa saja yang berada di atas manhaj salaf. Allah ta’ala telah berfirman : ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik’ (QS. At-Taubah : 100). Dia ta’ala juga berfirman : ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami” (QS. Al-Hasyr : 10).

Maka Salafiyyah itu adalah mengikuti salaf dari kalangan shahabat, tabi’iin, atbaa’ut-taabi’iin, dan generasi yang utama. Inilah yang dinamakan Salafiyyah. Tidak ada seorangpun yang berhak memonopolinya. Setiap orang yang berjalan di atas manhaj salaf, maka dia itu Salafiy. Salafiyyah tidaklah dikhususkan pada kelompok tertentu atau individu tertentu, karena Salafiyyah itu hanyalah disifatkan untuk setiap orang benar-benar berada di atas manhaj salaf (secara hakiki).

Kemudian aku mengajak para pemuda dan penuntut ilmu untuk menghilangkan saling panggil : ‘Orang ini Salafiy, orang ini Jaamiy, orang ini Ikhwaaniy,…dst… Aku tidak menganggap perkara-perkara ini (termasuk perkara yang bermanfaat), karena hal tersebut akan membuat kaum muslimin dan para pemuda muslim menjauh/lari (dari dakwah), serta menyebabkan terjadinya fitnah. Aku menganjurkan untuk senantisa berpegang teguh pada Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, dan manhaj As-Salafush-Shaalih, sehingga kita menjadi bersaudara yang saling mencintai karena Allah ‘azza wa jalla” [selesai]. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

Dia Bukan Salafiy

January 27th, 2013 by Abu Muawiah

Pertanyaan :
“Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda wahai syaikh,…. Penanya ini berkata : ‘Sungguh akhir-akhir ini telah banyak digunakan kalimat : ‘Fulan bukan salafiyyiin’ atau ‘Ia bukan termasuk salafiyyiin’. Apakah perkataan ini dianggap sebagai tabdii’ dan menjadi keharusan untuk menegakkan hujjah kepadanya ?”.

 

Jawab :
“Demi Allah, aku memperingatkan kalian agar tidak menggunakan ungkapan seperti ini. Yang lebih cocok/sesuai bagi muslim dan juga bagi penuntut ilmu…. bahwa mereka semua berada di atas kebaikan, mereka di atas ‘aqidah salaf. Sebagian mereka mungkin mempunyai beberapa kekurangan dan kebodohan, namun mereka tidaklah dikeluarkan dari lingkup Salafiyyin.
Perkataan ini tidaklah diperbolehkan. Perkataan ini tidak boleh diucapkan antar saudara, antar para penuntut ilmu, antar anak-anak kaum muslimin, dan diucapkan di negeri-negeri muslim… ini tidak diperbolehkan.
Seandainya engkau mengetahui beberapa pokok perselisihan yang terjadi dengan saudaramu, maka seharusnya engkau menasihatinya. Adapun mengatakan : ‘dia bukan dari salafiy’ atau ‘tidak berada di atas salafiyyah’…. mungkin engkau sendiri belum mengetahui apa Salafiyyah itu.
Sebagian dari mereka mengklaim Salafiy, padahal mereka belum mengetahui apa makna Salafiy…. Jika kalian bertanya kepada mereka apa itu salafiyyah dan apa artinya, maka mereka tidak mengetahuinya. Na’am….”.

[selesai – dari penjelasan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah dalam http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/9918].

Category: Fatawa, Manhaj | 1 Comment »

Hukum Mengkopi Program atau Buku

January 20th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Mengkopi Program atau Buku

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Fadlilatusy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :
Tanya : Apakah diperbolehkan mengkopi program komputer yang bersamaan dengan itu, perusahaan dan sistem/peraturan tidak memperbolehkannya ? Apakah hal itu bisa diperhitungkan sebagai satu bentuk monopoli ? Mereka menjualnya dengan harga yang mahal, namun jika mereka menjual dalam bentuk kopian, maka mereka bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah ?
Jawab : Apakah program itu adalah program Al-Qur’an ?

Tanya : Program komputer secara umum.
Jawab : Apakah program itu adalah program Al-Qur’an ?

Tanya : Program Al-Qur’an, hadits, dan banyak program lainnya.
Jawab : Apakah yang engkau maksud adalah isi dari program tersebut ?

Tanya : Ya, apa-apa yang termuat dalam CD-nya.
Jawab : Apabila negara melarangnya, maka tidak diperbolehkan mengkopinya, karena Allah telah memerintahkan kita untuk mentaati waliyyul-amri, kecuali dalam hal kemaksiatan kepada Allah. Dan pelarangan pengkopian bukan termasuk perbuatan maksiat kepada Allah.
Adapun dari sisi perusahaan, maka aku berpendapat bahwa jika seseorang mengkopi hanya untuk dirinya sendiri, maka tidak mengapa. Namun jika ia mengkopinya untuk diperdagangkan, maka tidak boleh, karena itu akan merugikan bagi yang lain. Perbuatan itu menyerupai penjualan terhadap penjualan seorang muslim. Karena jika mereka menjualnya dengan harga seratus, kemudian engkau mengkopinya dan menjualnya dengan harga limapuluh, maka ini namanya penjualan terhadap penjualan saudaramu.

Tanya : Dan apakah diperbolehkan saya membelinya kopian dengan harga limapuluh dari pemilik toko ?
Jawab : Tidak diperbolehkan, kecuali jika engkau ketahui bahwa si penjual telah memperoleh idzin. Namun jika ia tidak punya bukti (bahwa ia telah diijinkan), maka ini termasuk anjuran untuk berbuat dosa dan permusuhan.

Tanya : Apabila ia tidak mempunyai ijin – jazaakallaahu khairan ?
Jawab : Seandainya engkau tidak mengetahuinya, kadang-kadang seseorang memang tidak mengetahuinya, dan ia melewati sebuah toko, lalu ia membeli sedangkan ia tidak tahu; maka tidak mengapa dengannya. Orang yang tidak tahu, maka tidak ada dosa baginya”.
[Silsilah Liqaa’ Al-Baab Al-Maftuuh, juz 178]
http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=348387 Read the rest of this entry »

Category: Fatawa | Comments Off on Hukum Mengkopi Program atau Buku

Hukum Menampilkan Mayat dan Orang-Orang Terluka dari Kaum Muslimin Palestina

January 13th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Menampilkan Mayat dan Orang-Orang Terluka dari Kaum Muslimin Palestina

Soal : Pada beberapa seminar/pertemuan ditampilkan penjelasan tentang (gambaran) luka-luka yang diderita oleh kaum muslimin Palestina dan selain mereka. Di situ ditampilkan gambar tentang beberapa kaum muslimin yang terluka dan yang terbunuh, dan kadangkala mereka menampilkan video. Mereka bertujuan (dengan itu) adalah mendorong kaum muslimin untuk bershadaqah menyumbangkan sebagian hartanya kepada saudaranya (yang teraniaya tersebut). Apakah perbuatan seperti ini diperbolehkan ?

Jawab : Perbuatan ini merupakan perbuatan yang tidak pantas. Tidak boleh menampilkan gambar orang yang terluka. Namun, kaum muslimin hendaknya tetap diajak untuk bershadaqah untuk saudaranya dan disampaikan kepadanya bahwa saudaranya tersebut berada dalam keadaan tertindas. Juga (perlu disampaikan bahwa) mereka dalam keadaan seperti itu akibat ulah kaum Yahudi. Hal tersebut dilakukan oleh mereka tanpa ditampilkannya gambar dan gambar orang-orang yang terluka. Perbuatan itu tidak diperbolehkan karena berkenaan dengan hukum penggunaan gambar (makhluk hidup – yaitu haram). Selain itu juga merupakan perbuatan yang membebani diri (takalluf) pada apa-apa yang tidak diperintahkan Allah ta’ala. Perbuatan tersebut juga dapat mengurangi/menghilangkan kekuatan kaum muslimin; karena jika kalian menampilkan di hadapan manusia gambar orang muslim yang terluka atau terpotong-potong anggota tubuhnya, maka ini termasuk hal yang menakut-nakuti kaum muslimin dan membuat kaum muslimin takut terhadap perbuat yang dilakukan oleh musuhnya (dari kalangan Yahudi dan Nashara). Padahal wajib bagi kaum muslimin untuk tidak menampakkan kelemahan, tidak menampakkan musibah (yang menimpa mereka kepada musuh), dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ini. Justru mereka harus menyembunyikan semuanya itu hingga tidak memperlemah kekuatan kaum muslimin.

Diambil dari Muhadlarah (Ceramah) yang bertema : At-Tauhid : Miftaahus-Sa’aadati fid-Dunyaa wal-Akhirah (Tauhid, Kunci Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat) oleh Asy-Syaikh Shalih bin ’Abdillah Al-Fauzan; dari kitab Al-Ijaabatul-Muhimmah fil-Masyaakilil-Mulimmah. Diterjemahkan dari : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=343294

[source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/05/hukum-menampilkan-mayat-dan-orang-orang.html]

Category: Fatawa | Comments Off on Hukum Menampilkan Mayat dan Orang-Orang Terluka dari Kaum Muslimin Palestina

Hukum Tugas Bertiga Dikerjakan Berdua

July 13th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Tugas Bertiga Dikerjakan Berdua

 

Pertanyaan:

Kami bertiga ditugaskan dalam suatu pekerjaan dimana pekerjaan tersebut sebenarnta bisa dikerjakan cukup oleh dua orang saja. Apakah kami berdosa bila kami bertiga bersepakat untuk absent masing-masing satu hari dalam seminggu secara bergantian?

 

Jawaban:

Ya, kalian berdosa dalam hal ini. Seharusnya masing-masing kalian tetap masuk kerja pada hari-hari kerja dan tidak absent.

 

[Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa li Al-Muwazhzhifin wa Al-Ummal hal. 57-58]

Category: Fatawa | Comments Off on Hukum Tugas Bertiga Dikerjakan Berdua

Hukum Memanfaatkan Kelebihan Masa Cuti

July 10th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Memanfaatkan Kelebihan Masa Cuti

 

Pertanyaan:

Jika saya mendapat cuti sakit selama 10 hari, tapi saya telah sembuh pada hari ketujuh, alhamdulillah. Apakah saya boleh memanfaatkan (baca: tidak masuk kerja) tiga hari sisanya?

 

Jawaban:

Jika anda mengambil cuti 10 hari lalu sembuh sebelum 10 hari, maka hendaknya anda kembali bekerja. Tapi jika memang diizinkan untuk melanjutkan cuti tersebut, maka itu terserah dari pihak yang berwenang. Tapi jika tidak, maka anda harus kembali bekerja.

 

[Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa li Al-Muwazhzhifin wa Al-Ummah hal. 60]

Category: Fatawa | Comments Off on Hukum Memanfaatkan Kelebihan Masa Cuti