Archive for the 'Fadha`il Al-A’mal' Category

Keutamaan Menghafal al-Quran dan Para Penghafalnya

April 22nd, 2018 by Arvan

Keutamaan Menghafal al-Quran dan Para Penghafalnya

 

Hadits Kedua Puluh Satu

Orang Terbaik Adalah Yang Mempelajari dan Mengajarkan al-Quran

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي الله عنه عَنِ النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Dari Abu Abdirrahman al-Sulami dari Utsman bin Affan  dari Nabi  beliau bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran.” (HR. al-Bukhari)

وَفِي رِوَايَةٍ عِنْدَ الْبُخَارِي وَالتِّرْمِذِي عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

Dalam sebuah riwayat al-Bukhari dan al-Tirmidzi dari Utsman bin Affan  dia berkata: Nabi  bersabda, “Yang paling utama di antara kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran.”

Abu Abdirrahman al-Sulami berkata, “Itulah alasan kenapa aku duduk di sini selama ini.” Beliau rahimahullah duduk mengajarkan agama kepada masyarakat di dalam masjid Kufah selama 40 tahun.

 

Hadits Kedua Puluh Dua

Mulianya Ahlul Qur`an Walaupun Dia Seorang Budak

عَنْ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ أَنَّهُ لَقِيَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه بِعُسْفَانَ، وَكَانَ عُمَرُ رضي الله عنه اِسْتَعْمَلَهُ عَلَى مَكَّةَ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: مَنِ اسْتَخْلَفْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِي، فَقَالَ: اسْتَخْلَفْتُ عَلَيْهِمْ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ: وَمَا ابْنُ أَبْزَى؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ مَوَالِينَا، فَقَالَ عُمَرُ رضي الله عنه: اِسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى؟ قَالَ: إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللهِ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ قَاضٍ. فَقَالَ عُمَرُ رضي الله عنه: أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ صلى الله عليه وسلم قَدْ قَالَ: «إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ» رواه مسلم وأحمد واللفظ لأحمد

Dari Nafi’ bin Abdil Harits (dia berkata), bahwa dia pernah berjumpa dengan Umar bin al-Khaththab  di kota Ushfan, dan ketika itu dia adalah gubernur yang ditunjuk oleh Umar untuk kota Makkah. Umar lalu bertanya kepadanya, “Siapa yang kamu tunjuk sebagai pengganti sementara?” Dia menjawab, “Ibnu Abza.” Umar bertanya lagi, “Siapa Ibnu Abza?” Dia menjawab, “Salah seorang budak kami.” Umar  berkata, “Kamu menunjuk seorang budak sebagai penggantimu?!” Dia menjawab, “Dia seorang qari al-Quran, paham tentang ilmu mawaris, dan mampu memberi keputusan dengan benar.” Maka Umar  berkata, “Sungguh Nabi kalian  telah bersabda, ‘Sungguh Allah mengangkat derajat seseorang karena (mengamalkan) kitabullah dan merendahkan (derajat) yang lain karena (berpaling dari)nya.’” (HR. Muslim, Ahmad, dan ini adalah lafazhnya)

Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Ilmu al-Qur`an | No Comments »

Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Membaca dan Mempelajari al-Quran

April 11th, 2018 by Arvan

Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Membaca dan Mempelajari al-Quran

Keutamaan Membaca dan Mempelajari al-Quran

Hadits Pertama

Keutamaan Mempelajari al-Quran

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ» رواه مسلم وأبو داود وغيرهما

Dari Abu Hurairah t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah guna membaca dan mempelajari kitabullah kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut mereka di sisi para malaikat. Siapa yang terlambat (masuk surga) karena amalannya (yang buruk) maka nasab keturunannya tidak akan bisa menyegerakannya.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan selainnya)

Komentar:

Keutamaan dalam hadits ini tidak hanya berlaku bagi ‘kaum’ (sekumpulan orang), tapi juga berlaku walaupun dia seorang diri. Karenanya jika ada satu orang yang berzikir kepada Allah sendirian maka dia telah meraih pahala yang tersebut dalam hadits di atas.

Hadits Kedua

Satu Huruf al-Quran Bernilai Sepuluh Pahala

عَنْ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ (الـم) حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ» رواه الترمذي والدارمي

Dari Abdullah bin Mas’ud t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka dia memperoleh satu kebajikan, sementara satu kebajikan akan diganjar sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan ‘Alif, lam, mim’ itu satu huruf, akan tetapi ‘alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf.” (HR. al-Tirmidzi dan al-Darimi)

Abu Isa (al-Tirmidzi) berkata, “Ini adalah hadits yang hasan shahih gharib.” Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani. Dan aku menanyakan status hadits ini kepada guru kami, Abdullah al-Sa’ad, maka beliau menjawab, “Laa ba`sa bih (baca: Hasan, penj.).” Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Hadits, Ilmu al-Qur`an | No Comments »

Dibangkitkan Sesuai dengan Niat

June 27th, 2013 by Arvan

Dibangkitkan Sesuai dengan Niat

Niat dalam beramal memegang peranan penting. Ketika suatu kaum disiksa dan siksaan tersebut menimpa pula orang-orang sholih, maka nanti yang diperhatikan adalah niatan mereka. Di dunia, mereka bisa jadi mendapatkan azab yang sama. Namun di akhirat, mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.

‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ » . قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ . قَالَ « يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ »

Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka (yakni tidak berniat ikut menyerang Ka’bah)?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari no. 2118 dan Muslim no. 2884, dengan lafazh Bukhari).

Imam Nawawi membawakan hadits di atas dalam kitab Riyadhus Sholihin dalam Bab “Ikhlas dan menghadirkan niat dalam setiap amalan dan ucapan baik yang nampak maupun yang tersembunyi.” Kaitan hadits di atas dengan judul bab adalah pada penggalan hadits, “kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka”. Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Hadits | No Comments »

Mendapat Rezeki Karena Giat Membantu Para Penuntut Ilmu

June 13th, 2013 by Arvan

Mendapat Rezeki Karena Giat Membantu Para Penuntut Ilmu

Adalah suatu keutamaan jika setiap muslim bisa membantu para santri atau para penuntut ilmu agama agar mereka mudah untuk konsentrasi dalam belajar sehingga terus bisa menjaga agama ini. Bahkan orang yang lancar mendapatkan rezeki bisa jadi karena banyak membantu untuk membiayai orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

Keutamaannya tersebut disebutkan oleh Imam Nawawi ketika membahas masalah tawakkal dan yakin dalam kitab Riyadhus Sholihin. Beliau membawakan hadits berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَالآخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua orang bersaudara, yang satu suka datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk menuntut ilmu agama) dan yang lainnya giat bekerja (supaya saudaranya bisa mendapatkan rezeki, -pen). Kemudian orang yang giat bekerja mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan saudaranya itu. Lantas beliau bersabda, “Barangkali engkau mendapatkan rezeki karena sebab saudaramu (yang rajin belajar itu).” (HR. Tirmidzi no. 2345. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Kata Imam Nawawi sanadnya shahih sesuai syarat Muslim). Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal | No Comments »

Sifat-Sifat Surga dalam As-Sunnah Ash-Shahiihah [part 2]

November 25th, 2012 by Arvan

Sifat-Sifat Surga dalam As-Sunnah Ash-Shahiihah

Pemandangan dari Surga

Di surga ada kenikmatan yang kekal, kebaikan yang merata, dan rahmat dari Ar-Rahmaan Ar-Rahiim.

Di sana ada dipan-dipan tinggi yang diliputi kebersihan, sebagaimana diliputi dengan kesucian. Dan di sana terdapat gelas-gelas yang suci yang disediakan untuk diminum. Tidak perlu meminta dan dipersiapkan. Bantal-bantal dan tilam-tilam untuk bertelekan waktu beristirahat. Karpet-karpet dan sajadah-sajadah terhampar dimana-mana untuk perhiasan dan duduk bersenang-senang.

Semua nikmat yang disebutkan dalam Kitabullah atau Sunnah Nabi-Nya ini namanya sama dengan yang dilihat manusia di dunia. Akan tetapi…. ketika disebut benda-benda ini, hanya sebagai penamaan agar dipahami oleh penduduk dunia. Adapun yang sebenarnya dan hakekat kesenangan-kesenangan ini diserahkan kepada Allah Yang Maha Agung, Maha Bijaksana lagi Maha menegakkan langit-langit dan bumi.

Adapun pembawaannya, diserahkan kepada segenap kemampuan mereka di sana. Diserahkan kepada panca indera orang-orang yang diberikan kemampuan oleh Allah. Kehidupan penduduk di surga, semuanya berisi kesejahteraan, diliputi dan dipenuhi kesejahteraan. Para malaikat mengucapkan salam sejahtera kepada mereka dalam suasana yang sentausa. Mereka saling mengucapkan salam, dan mereka dikirimi salam oleh Ar-Rahmaan. Maka semua keadaannya berisi salam kesejahteraan.[17]

a. Kamar-Kamarnya.

عن أبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – : أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إنَّ أهلَ الجنةِ لَتَرَاءَون أَهل الغرفِ مِن فوقهِم كما تتراءَونَ الكَوكبَ الدُّرِّيَّ الغابرَ في الأفقِ من المشرق أو المغرب؛ لتفاضُل ما بينهم)) قالوا : يا رسولَ الله! تلك منازلُ الأنبياء، لا يبلُغها غيرهم ؟ قال : ((بلى، والذي نفسي بيده؛ رجالٌ أمنوا بالله، وصدَّقوا المُرسَلين)).

Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga saling dapat melihat penduduk surga yang terletak kamar di atasnya sebagaimana mereka saling melihat bintang yang bersinar terang di ufuk sebelah timur atau barat, dikarenakan perbedaan keutamaan di antara mereka”. Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kedudukan para nabi itu, apakah tidak dapat dicapai oleh selain mereka ?”. Beliau menjawab : “Tentu saja untuk para Nabi. (Namun) demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, (kedudukan itu dapat dicapai oleh) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul”.[18]

وعن أبي مالكٍ الأشعري : أنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إِنَّ في الجنةِ غُرَفاً يُرى ظاهرها مِن باطنها، وباطنها مِن ظاهرها، أعدَّها اللهُ لمن أطعم الطعام، وألان الكلامَ، وتابع الصِّيام، وصلَّى بالليلِ والناسُ نِيَام)).

Dari Abu Maalik Al-Asyariy : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang dapat dilihat bagian luarnya dari dalam, dan bagian dalamnya dari luar; yang disediakan Allah bagi orang yang memberikan makanan, melembutkan ucapan, selalu berpuasa, dan mengerjakan shalat malam saat orang-orang tidur lelap”.[19]

b. Kemah-Kemah, Taman-Taman, dan Debu-Debu Surga.

عن أبي موسى الأشعري – رضي الله عنه – : أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((إنَّ للمؤمنِ في الجنةِ لخَيمةً من لؤلؤةٍ واحدةٍ مُجوفةٍ، طولها ستون ميلاً، للمؤمنِ فيها أهلونَ يطوفُ عليهم المؤمنُ فلا يرى بعضُهُمْ بعضاً)).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya bagi seorang mukmin diberikan satu kemah di surga yang terbuat dari mutiara yang berongga. Panjangnya enam puluh mil. Dan bagi seorang mukmin disediakan beberapa orang istri yang selalu digilirnya, dimana masing-masing (istri itu) tidak bisa melihat satu dengan yang lainnya”.[20]

Dan dalam hadits Israa’ :

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – : عن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((…..ثم انطلق بي جبريلُ حتى نأتيَ سدرةَ المنتهى، فغَشيَهَا ألوانٌ لا أدري ما هي! قال : ثم أُدخِلْتُ الجنةَ فإذا فيها جنابذ اللؤلؤِ، وإذا ترابُها المِسك)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, beliau bersabda : “….kemudian Jibriil berjalan bersamaku hingga kami sampai di Sidratul-Muntahaa. Ternyata ia dilingkupi oleh warna-warni yang aku tidak tahu apa itu”. Beliau berkata : “Kemudian aku dimasukkan ke surga, yang ternyata di dalamnya ada kemah-kemah dan kubah-kubah dari mutiara. Dan debunya terbuat dari misk”.[21]

وعن أبي موسى الأشعري – رضي الله عنه – أن رسولَ الله – صلى الله عليه وآله وسلم – قال : ((جنتانِ مِن فضَّةٍ آنيتُها وما فيها، وجنتانِ مِن ذهبٍ آنيتها وما فيها، وما بين القومِ وبين أن ينظروا إلى ربِّهِم إلا رِداءِ الكبرياءِ على وجههِ في جنة عدن)).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda : “Dua buah surga terbuat dari perak, juga bejana-bejana dan segala yang terdapat di dalamnya. Dua buah surga terbuat dari emas, juga bejana-bejana dan segala yang terdapat di dalamnya. Tidaklah ada (penghalang) antara satu kaum dengan pandangan mereka kepada Rabb mereka kecuali selendang kebesaran di wajah-Nya di surga ‘Adn”.[22] Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Fadha`il Al-A'mal, Hadits | No Comments »

Sifat-Sifat Surga dalam As-Sunnah Ash-Shahiihah [part 1]

November 18th, 2012 by Arvan

Sifat-Sifat Surga dalam As-Sunnah Ash-Shahiihah

 

Orang yang Pertama Kali Masuk ke dalam Surga

عن أنس بن مالك – رضي الله عبه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((آتي بَاب الجنةِ يومَ القيامةِ فأستفتِح، فيقولُ الخازنُ : مَن أَنتَ ؟ فأقولُ : محمدٌ، فيقولُ : بكَ أُمرتُ لا أفتحُ لأحدٍ قبلَكَ)).

Dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Aku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat kelak, lalu aku minta agar dibukakan. Penjaga pintu bertanya : ‘Siapakah engkau ?’. Aku menjawab : ‘Aku adalah Muhammad’. Ia berkata : ‘Hanya denganmu aku diperintahkan (agar) aku tidak membukanya untuk siapapun sebelummu”.[1]

عن حُذيفةَ قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ((وَلَدُ آدَمَ كلُّهُم تحتَ لوائي يومَ القيامةِ، وأنا أولُ مَن يُفتَح له بابُ الجنةِ)).

Dari Hudzaifah ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa aalihi sallam : “Semua anak Adam di bawah benderaku/panjiku kelak di hari kiamat. Dan aku adalah orang yang pertama kali dibukakan pintu surga”.[2]

Sifat Rombongan yang Pertama Kali Masuk Surga

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : ((إن أول زُمرةٍ يدخلون الجنة على صورة القمر ليلة البدر، والذين يلونهم على أشدِّ كوكبٍ دُرِّيٍّ في السماءِ إضاءةً، لا يبولونَ، ولا يتغوَّطونَ، ولا يتمخطون، ولا يتفلون، أمشاطهم الذهب، ورشحهم المسك، ومجامرهم الألوَّة، وأزواجهم الحُور العِين، أخلاقهم على خلقِ رجلٍ واحدٍ؛ على صورةِ أبيهم آدمَ : ستون ذراعاً في السماء)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam : “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga dalam rupa seperti bulan purnama. Adapun rombongan setelah mereka dalam rupa bintang yang sangat terang di langit yang cerah. Tidaklah mereka buang air kecil, buang air besar, beringus, dan meludah. Sisir mereka terbuat dari emas, keringat mereka adalah misk (minyak wangi), mijmar (wadah minyak wangi) mereka adalah kayu gaharu India, istri-istri mereka adalah para bidadari, dan bentuk tubuh mereka semua sama, yaitu seperti bentuk tubuh ayah mereka Adam sepanjang enam puluh hasta menjulang ke langit”.[3] Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Fadha`il Al-A'mal, Hadits | No Comments »

Shadaqah Penyejuk Iman di Tengah Panasnya Problema [part II]

September 23rd, 2012 by Arvan

Shadaqah Penyejuk Iman di Tengah Panasnya Problema [II]

Shadaqah Penghapus Kesalahan

Setiap anak cucu adam tidak lepas dari kesalahan, namun Allah yang Maha pemurah telah memberikan suatu sebab yang dengannya bisa menghapuskan kesalahan-kesalahan dari anak cucu adam dan sebab tersebut adalah dengan bershadaqah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ

“Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321), dan Abu Ya’laa. Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]

        Shadaqah Pelindung Di Padang Mahsyar

Ketika manusia menanti keputusan di padang mahsyar dan sibuk dengan urusan masing-masing. Manusia pada saat itu tidak peduli lagi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Matahari didekatkan dengan jarak satu mil, pada saat itulah seseorang sangat membutuhkan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia”. [HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)] Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal | No Comments »

Shadaqah Penyejuk Iman di Tengah Panasnya Problema (part I)

September 20th, 2012 by Arvan

Shadaqah Penyejuk Iman di Tengah Panasnya Problema

Krisis demi krisis, musibah demi musibah datang silih berganti menguji keimanan kaum muslimin Indonesia Raya. Belum terlupakan krisis ekonomi, datang berikutnya gelombang Tsunami Aceh, kemudian banjir datang menenggelamkan beberapa daerah.

Kejadian-kejadian dan musibah seperti ini, dan lainnya terkadang membuat kepala  pusing tujuh keliling dalam mencari solusinya. Solusi yang paling utama –setelah seluruh lapisan masyarakat koreksi diri, dan bertaubat-, Allah tawarkan, yaitu ber-infaq dan ber-shadaqah. Oleh karena itu, Allah banyak menganjurkan shadaqah di dalam Al-Qur’an, karena ia merupakan solusi jitu dalam mengatasi musibah dan krisis sebagaimana hal ini telah dipraktekkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , dan para sahabat. Allah -Ta’ala- berfirman dalam menuntun kaum muslimin untuk mengeluarkan shadaqah,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 177)

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”. (QS. Al-Baqarah: 280)

Karena shadaqah dan infaq merupakan solusi jitu, maka dalam risalah ini perlu dibawakan beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan dan pentingnya shadaqah agar orang-orang yang memiliki kelebihan harta bisa tergerak hatinya untuk bersedekah dan berinfaq, entah kepada tetangga, fakir-miskin, masjid, sekolah, majelis ta’lim, majalah, buletin, dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Di antara keutamaan shadaqah:

       Mendapatkan Pahala yang Berlipat Ganda

Yang mana dengan shadaqah tersebut Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memuliakan kaum muslimin, menyucikan harta mereka, serta memberikan ganjaran bagi mereka dengan ganjaran yang berlipat ganda dan menuliskannya disisi-Nya sebagai kebaikan yang sempurna. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245) Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal | No Comments »

Keutamaan Memberi Makan

August 12th, 2012 by Arvan

Fadhilah Memberi Makan
Oleh: Ust. Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhohulloh-

Memberi Makan merupakan sebuah adab yang sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin di hari ini. Padahal di zaman ini banyak diantara kaum muslimin yang membutuhkan makan.

Memberi makan –selain memiliki pahala besar-, ia juga merupakan sebab kedekatan dan eratnya hubungan seorang muslimin dengan tetangga dan saudara serta kerabat-kerabatnya.

Memberi makan kepada manusia (apalagi kepada fakir-miskin) merupakan tanda pedulinya seseorang kepada sesama manusia dan tingginya solidaritas. Tak heran jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menggelarinya sebagai “manusia terbaik”.

Silakan dengarkan kisah berikut ini. Kisah yang menunjukkan keutamaan memberi makan kepada orang lain.

Dari Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu anhu- bahwa ia berkata kepada Shuhaib,

إِنَّكَ لَرَجُلٌ لَوْلاَ خِصَالٌ ثَلاَثَةٌ ، قَالَ : وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ ، وَانْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ ، وَفِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ . قَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، أَمَّا قَوْلُكَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنَّانِي أَبَا يَحْيَى ، وَأَمَّا قَوْلُكُ : انْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ فَإِنِّي رَجُلٌ مِنَ النَّمِرِ بْنِ قَاسِطٍ اسْتُبِيتُ مِنَ الْمَوْصِلِ بَعْدَ أَنْ كُنْتُ غُلاَمًا قَدْ عَرَفْتُ أَهْلِي وَنَسَبِي ، وَأَمَّا قَوْلُكَ : فِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ خَيْرَكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ.

“Sesungguhnya engkau adalah seorang yang lelaki (yang hebat), andaikan bukan karena tiga perkara”. Shuhaib bertanya, “Apa tiga hal itu?” Umar berkata, “Engkau berkun-yah (menggunakan nama sapaan), sedang kau tidak memiliki anak. Kau menisbahkan diri kepada bangsa arab, sedang engkau termasuk orang Romawi dan pada dirimu terdapat sikap berlebihan dalam memberi makan”. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • pahala memberi

Category: Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal | No Comments »

Pentingnya Mengenal Al-Asma` Al-Husna (2)

June 27th, 2012 by Arvan

Pentingnya Mengenal Al-Asma` Al-Husna (2)

Kenam: orang yang benar-benar mengenal Allah ‘Azza wa Jalla akan berdalil dengan sifat-sifat dan perbuatan Allah terhadap segala sesuatu yang Dia perbuat dan segala sesuatu yang Dia syariatkan. Karena, seluruh perbuatan Allah adalah keadilan, keutamaan, dan hikmah, yang telah menjadi konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, tiada suatu apapun yang Dia syariatkan, kecuali sesuai dengan konsekuensi tersebut. Sehingga, segala hal yang Allah beritakan adalah sesuatu yang hak dan benar, sedang segala perintah dan larangan-Nya adalah keadilan dan hikmah.

Misalnya, seorang hamba memperhatikan Al-Qur`an dan segala sesuatu yang Allah beritakan kepada makhluk melalui lisan para rasul tentang nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya serta tentang keharusan menyucikan dan membesarkan Allah terhadap segala sesuatu yang tidak layak. Juga, ia memperhatikan bagaimana perbuatan Allah kepada para wali yang memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan kenikmatan yang mereka peroleh karena itu, ataupun ia memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang menentang-Nya dan kebinasan akibat perbuatan mereka. Berdasarkan hal ini, orang-orang yang memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya akan berdalilkan bahwa Allah adalah satu-satu-Nya Ilah yang berhak diibadahi, “Yang Maha mampu atas segala sesuatu”, “Yang Maha Mengetahui segala sesuatu”, “Yang siksaan-Nya keras”, “Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, “Yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana”, “Yang Maha melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki”, dan seterusnya berupa hal-hal yang menunjukkan rahmat, keadilan, keutamaan, dan hikmah Allah Jalla wa ‘Ala.

Apabila seorang hamba memperhatikan hal di atas, tidaklah diragukan bahwa hal tersebut akan menambah keyakinannya, memperkuat imannya, menyempurnakan tawakkalnya, dan semakin menambah penyerahan dirinya kepada Allah.

 

Ketujuh: mengenal Allah dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah perniagaan yang sangat menguntungkan. Di antara keuntungannya adalah membuat jiwa menjadi tenang, hati menjadi tentram, dada menjadi lapang dan bersinar, merasakan keindahan surga Firdaus pada hari kiamat, melihat wajah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, meraih keridhaan Allah, dan selamat dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Insya Allah, keuntungan-keuntungan tersebut akan lebih tampak lagi pada uraian Al-Asma` Al-Husna yang akan diterangkan dalam tulisan ini secara bersambung. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Fadha`il Al-A'mal | No Comments »