Archive for the 'Ensiklopedia Hadits Lemah' Category

Asy-Syafi’iy Bertabarruk dengan Kubur Abu Hanifah

December 6th, 2012 by Abu Muawiah

Asy-Syafi’iy Bertabarruk dengan Kubur Abu Hanifah

Al-Khathiib Al-Baghdadiy rahimahulah meriwayatkan :

أخبرنا القاضي أبو عبد الله الحسين بن علي بن محمد الصيمري قال أنبأنا عمر بن إبراهيم المقرئ قال نبأنا مكرم بن أحمد قال نبأنا عمر بن إسحاق بن إبراهيم قال نبأنا علي بن ميمون قال سمعت الشافعي يقول اني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم يعني زائرا فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده فما تبعد عني حتى تقضى

Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Qaadliy Abu ‘Abdillah Al-Husain bin ‘Aliy bin Muhammad Ash-Shiimariy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kamu ‘Umar bin Ibraahiim Al-Muqri’, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Mukarram bin Ahmad, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ishaaq bin Ibraahiim, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Aliy bin Maimuun, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : “Sesungguhnya aku akan ber-tabarruk dengan Abu Haniifah. Aku akan datang ke kuburnya setiap hari – yaitu untuk berziarah – . Apabila aku mempunyai satu hajat, aku pun shalat dua raka’at lalu datang ke kuburnya untuk berdoa kepada Allah ta’ala tentang hajat tersebut di sisinya. Maka tidak lama setelah itu, hajatku pun terpenuhi” [Taariikh Baghdaad 1/123].

Kisah ini seringkali dibawakan untuk melegalkan amalan tabarruk kepada orang yang telah meninggal. Namun kisah ini tidak shahih. Asy-Syaikh Al-Albaniy rahimahullah berkata :

فهذه رواية ضعيفة بل باطلة فإن عمر بن إسحاق بن إبراهيم غير معروف وليس له ذكر في شيء من كتب الرجال , و يحتمل أن يكون هو عمرو – بفتح العين – بن إسحاق بن إبراهيم بن حميد بن السكن أبو محمد التونسى و قد ترجمه الخطيب ( 12 / 226 ) . و ذكر أنه بخاري قدم بغداد حاجا سنة ( 341 ) و لم يذكر فيه جرحا و لا تعديلا فهو مجهول الحال , و يبعد أن يكون هو هذا إذ أن وفاة شيخه علي بن ميمون سنة ( 247 ) على أكثر الأقوال , فبين وفاتيهما نحو مائة سنة فيبعد أن يكون قد أدركه .

“Ini adalah riwayat yang lemah, bahkan baathil. ‘Umar bin Ishaaq bin Ibraahiim tidak dikenal, dan tidak disebutkan satupun dalam kitab-kitab rijaal. Kemungkinan ia adalah ‘Amr – dengan fathah pada huruf ‘ain – bin Ishaaq bin Ibraahiim bin Humaid bin As-Sakan Abu Muhammad At-Tuunisiy. Al-Khathiib telah menyebutkan biografinya (dalam At-Taariikh 12/226). Disebutkan bahwa ia orang Bukhara yang tiba di Baghdad pada perjalanan hajinya tahun 341 H. Tidak disebutkan padanya jarh maupun ta’dil, sehingga ia seorang yang berstatus majhuul haal. Namun kemungkinan ini jauh saat diketahui gurunya yang bernama ‘Aliy bin Maimuun wafat pada tahun 247 H menurut mayoritas pendapat. Maka diperoleh penjelasan kematian keduanya berjarak sekitar 100 tahun sehingga jauh kemungkinan ia bertemu dengannya (‘Aliy bin Maimuun)” [Silsilah Ad-Dla’iifah, 1/78]. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Asy-Syafi’iy Bertabarruk dengan Kubur Abu Hanifah

Duduk Sambil Memeluk Lutut Ketika Khatib Sedang Berkhutbah

November 1st, 2012 by Abu Muawiah

Duduk Sambil Memeluk Lutut Ketika Khatib Sedang Berkhutbah

Tanya:

Ustadz, adakah larangan duduk sambil memeluk lutut ketika khatib jumat sedang khutbah?

Jawab:

Memang ada larangan tentang hibwah (duduk sambil memeluk lutut atau dengan menahan kedua lutut dengan kain), dalam hadits Mu’adz bin Anas riwayat Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al-Baihaqy.

Hanya saja terdapat dalam sanadnya rawi yang bernama Abu Marhum Abdurrahman bin Maimun. Ada silang pendapat di kalangan ulama tentang rawi ini, saya lebih condong kepada pendapat yang melemahkannya. Sebagaimana dalam Nailul Authar, Al-Iraqy rahimahullah menyebutkan bahwa kebanyakan ulama memandang hibwah adalah hal yang diperbolehkan dan Al-Iraqy juga menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang larangan hibwah semuanya lemah.

Ibnul Mundzir dalam Al-Ausath juga menyebutkan dari kebanyakan ulama dari kalangan shahabat dan selainnya.

Andaikata hadits larangan hibwah adalah shahih, maknanya diarahkan apabila hibwah tersebut akan menyingkap aurat atau membawa rasa kantuk atau lebih memudahkan untuk keluar angin. Wallahu a’lam.

[source: http://dzulqarnain.net/duduk-sambil-memeluk-lutut-ketika-khatib-sedang-khutbah.html]

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Duduk Sambil Memeluk Lutut Ketika Khatib Sedang Berkhutbah

Doa dan Dzikir Duduk Di Antara Dua Khutbah

October 29th, 2012 by Abu Muawiah

Doa dan Dzikir Duduk Di Antara Dua Khutbah

Pertanyaan:

Afwan ustadz, apakah ada doa/dzikir yang shahih yang diucapkan ketika khatib duduk di antara dua khutbah? Mohon pencerahannya ustadz.

Jawaban:

Pada hari Jum’at, ada satu saat yang doa seorang muslim akan mustajab bila mencocoki saat tersebut. Seluruh waktu sepanjang hari Jum’at adalah masa tempat waktu mustajab tersebut diharapkan. Hanya saja, yang paling diharapkan di antara seluruh waktu itu adalah setelah shalat Ashar hingga Maghrib. Demikian kesimpulan waktu mustajab pada Jum’at berdasarkan hadits-hadits shahih dalam hal ini.

Adapun hadits yang menjelaskan bahwa waktu mustajab tersebut adalah pada waktu khutbah, konteksnya adalah, “Waktu itu adalah antara saat imam duduk hingga (pelaksanaan) shalat selesai.” (Diriwayatkan oleh Muslim). Namun, sejumlah ulama, seperti Ad-Dâraquthny, Ahmad, dan selainnya, mengkritik keabsahan hadits itu.

Tiada doa dan dzikir khusus pada saat khatib duduk di antara dua khutbah sebagaimana penegasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan selainnya. Wallahu A’lam.

[source: http://dzulqarnain.net/doa-dab-dzikir-duduk-di-antara-dua-khutbah.html]

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Zikir & Doa | Comments Off on Doa dan Dzikir Duduk Di Antara Dua Khutbah

Adzan di Telinga Orang Kesurupan

September 17th, 2012 by Abu Muawiah

Adzan di Telinga Orang Kesurupan

Seorang penanya melayangkan pertanyaan, “Apakah ada syariat memperdengarkan adzan kepada orang yang kesurupan/kemasukan jin?” Demikian pertanyaan singkat dari sebagian pembaca.

Menjawab pertanyaan ini, kami katakan,

Sebagian praktisi ruqyah (jampi berupa ayat atau dzikir) di tanah air, ada yang meng-adzani telinga orang yang kesurupan atau orang yang ia ruqyah. Ini merupakan salah satu penyimpangan mereka dalam me-ruqyah, sebab ia merupakan bid’ah (ajaran yang tak berdasar) dalam agama!!

Adzan di telinga orang yang kesurupan merupakan perkara yang lagi tenar di kalangan para pelaku ruqyah. Anda akan temukan di lapangan salah seorang di antara praktisi itu sedang memegang tangan orang kesurupan, lalu meng-adzani telinga kanannya. Perkara seperti ini kami tak tahu dasarnya dalam sunnah yang shohihah. Yang disyariatkan hanyalah me-ruqyahnya dengan Al-Qur’an dan doa-doa yang benar dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Adapun adzan dalam ruqyah, maka ia termasuk perkara yang tak memiliki dasar dan dalil dalam sunnah. Karenanya, kami wasiatkan dan kami ingatkan saudara-saudara kami yang tercinta dari kalangan orang-orang yang biasa me-ruqyah dan lainnya agar meninggalkan kebiasaan buruk ini. Karena adzan adalah ibadah yang harus didasari dalil (tawqifiyyah), tidak dikumandangkan, kecuali untuk sesuatu yang dijelaskan oleh syariat. Kami belum tahu ada sesuatu yang shohih diantara ruqyah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- atau seorang diantara sahabatnya dengan menggunakan adzan dalam me-ruqyah. Jadi, adzan itu tak boleh dikumandangkan, walaupun setan yang merasuk berusaha menyakiti orang yang kesurupan. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | 1 Comment »

Keutamaan Ali Versi Syiah Rafidhah

June 5th, 2012 by Abu Muawiah

Keutamaan Ali Versi Syiah Rafidhah

Di antara kesesatan mereka adalah: Ibnu Al-Muthahhir[1] Al-Hulli berkata[2], “Imamiah telah bersepakat bahwa setelah Nabi kita, Ali lebih utama daripada para nabi selain ulul azmi. Dan dalam masalah apakah Ali lebih utama daripada para rasul ulul azmi ada perbedaan pendapat.” Al-Hulli berkata, “Dan saya termasuk orang-orang yang tawaqquf dalam masalah ini. Dan perbedaan pendapat ini juga berlaku pada imam-imam dari keluarga Ali.”

Ath-Thusi berkata dalam kitabnya At-Tajrid[3], “Ali adalah sahabat yang paling utama karena sangat seringnya dia berjihad …,” sampai ucapannya, “Mu’jizat nampak dari Ali, keistimewaan beliau sebagai kerabat dan saudara Nabi, serta kewajiban untuk mencintai, menolong, dan kesetaraannya dengan para nabi.” Pensyarahnya berkata[4], “Hal ini didukung oleh sabda beliau shalllallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa yang ingin melihat ilmunya Adam, ketakwaannya Nuh, kesabarannya Ibrahim, kewibawaannya Musa, dan ibadahnya Isa, hendaknya dia melihat Ali bin Abi Thalib.” Karena hadits ini menunjukkan kesetaraan sifat Ali dengan sifat-sifat para nabi.” Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Mengenal Syi'ah Rafidhah, Syubhat & Jawabannya | 1 Comment »

Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

April 21st, 2012 by Abu Muawiah

Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

 

Ketika kami menerjemah Risalah fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah hal. 45-52 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab -pada pembahasan pengingkaran Syiah terhadap keabsahan khilafah Abu Bakar-, muhaqqiqnya menyebutkan ada beberapa hadits yang disebutkan oleh Asy-Syaikh rahimahullah di dalamnya. Karenanya jumlahnya ada beberapa hadits, maka kami pisahkan terjemahannya lalu mengumpulkannya dalam artikel tersendiri di sini.

Kemudian, inti kandungan dari semua hadits dha’if yang akan kami sebutkan di bawah adalah penetapan kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Namun kami membawakannya di sini tentu saja bukan untuk tujuan mengingkari kekhalifahan beliau, sebagaimana yang diyakini oleh Syiah. Akan tetapi kami membawakannya di sini agar jangan sampai ada yang menisbatkan hadits-hadits ini kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam padahal beliau tidak pernah mengucapkannya. Karena itu merupakan perbuatan berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan berdusta atas nama beliau shallallahu alaihi wasallam adalah dosa besar, baik isi kedustaannya itu benar maupun salah.

Maka kembali kami tekankan kalau kandungan semua hadits di atas adalah benar karena didukung oleh hadits shahih yang lain, bahkan ijma’ para sahabat. Akan tetapi berhubung sanadnya lemah, maka kita tidak boleh menisbatkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi kita mencukupkan dengan dalil-dalil lain yang shahih. Wallahu a’lam

 

Berikut beberapa hadits dha’if dalam masalah ini:

Hadits Pertama:

Dari Ali radhiallahu anhu dia berkata:

دَخَلْنا عَلَى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنا: يا رسولَ اللهِ, اِسْتَخْلِفْ عَلَيْنا. قالَ: إنْ يَعْلَمِ اللهُ فِيْكُمْ خَيْرًا يُوَلِّ عَلَيْكُمْ خَيْرَكُمْ. فَقالَ عَلِي رضي الله عنه: فَعَلِمَ اللهُ فِيْنا خَيْرًا فَوَلىَّ عَلَيْنا خَيْرَنا أَبا بَكْرٍ رضي الله عنه

“Kami pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, tentukanlah seorang khalifah untuk kami.” Beliau bersabda, “Jika Allah mengetahui pada kalian ada kebaikan, maka Dia akan memilihkan pemimpin untuk kalian orang yang terbaik di antara kalian.” Maka Ali radhiallahu anhu berkata, “Maka Allah mengetahui kalau pada kami ada kebaikan, sehingga Dia memilihkan pemimpin untuk kami orang yang terbaik di antara kami, yaitu Abu Bakar radhiallahu anhu.” (HR. Ad-Daraquthni[1]) Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

Dimanakah Roh Para Nabi?

March 3rd, 2012 by Abu Muawiah

Dimanakah Roh Para Nabi?

Soal:
Apakah para roh dan jasad pada nabi berada di atas langit ataukah hanya roh mereka saja yang di atas langit?

Jawab:
Roh-roh mereka berada di dalam surga. Roh para syuhada`, roh para nabi, dan roh kaum mukminin, seluruhnya di dalam surga. Kalau kaum mukminin saja roh mereka bepergian di dalam surga kemanapun mereka inginkan, maka bagaimana lagi dengan roh para nabi alaihimushshalatu wassalam?! Maka roh-roh para nabi tidak terdapat di dalam kubur-kubur mereka sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang, akan tetapi roh-roh mereka terdapat di dalam surga. Dan jasa tidak akan bersatu dengan roh kecuali pada hari kiamat.
يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً
“Hari ditiupnya sangkakala lalu kalian datang dalam keadaan berbondong-bondong.” (QS. An-Naba`: 18)
Pada hari itulah Allah membangkitkan mereka. Manusia yang paling pertama kali terbuka kuburnya adalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan beliau alaihishshalatu wassalam adalah manusia yang paling pertama dibangkitkan. Adapun hadits:
اَلْأَنْبِياءُ أَحْياءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ
“Para nabi itu hidup di dalam kubur-kubur mereka, mereka mengerjakan shalat.”
Maka walaupun Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan shahihnya, akan tetapi yang benarnya haditsnya sangat lemah. Dan ini adalah hadits pertama yang saya kritisi kepada beliau rahimahullah.

[Diterjemahkan dari Fatawa fi Al-Aqidah wa Al-Manhaj (majelis pertama) soal no. 6 oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah]

Incoming search terms:

  • dimanakah roh para nabi

Category: Aqidah, Ensiklopedia Hadits Lemah, Fatawa | 6 Comments »

Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid

February 8th, 2012 by Abu Muawiah

Antara Abu Lahab Dengan Perayaan Maulid

Di antara dalil yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kisah salah seorang tokoh dalam kesyirikan yakni Abu Lahab. Berikut uraiannya:
As-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy (1/196-197), “Lalu saya melihat Imamul Qurro`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi berkata dalam kitab beliau yang berjudul ‘Urfut Ta’rif bil Maulid Asy-Syarif’ dengan nash sebagai berikut, “Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meningalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”, dia menjawab, “Di dalam Neraka, hanya saja diringankan bagiku (siksaan) setiap malam Senin dan dituangkan di antara dua jariku air sebesar ini -dia berisyarat dengan ujung jarinya- karena saya memerdekakan Tsuwaibah ketika dia memberitahu kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena dia telah menyusuinya.”
As-Suyuthi berkata, “Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang Al-Qur`an telah turun mencelanya, diringankan (siksaannya) di neraka dengan sebab kegembiraan dia dengan malam kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana lagi keadaan seorang muslim yang bertauhid dari kalangan ummat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam?!, saya bersumpah bahwa tidak ada balasannya dari Allah Yang Maha Pemurah, kecuali Dia akan memasukkannya berkat keutamaan dari-Nya ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.”
Kisah ini juga dipakai berdalil oleh Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam risalahnya Haulal Ihtifal bil Maulid, hal. 8 tatkala dia berkata, “Telah datang dalam Shahih Al-Bukhari bahwa diringankan siksaan Abu lahab setiap hari Senin dengan sebab dia memerdekakan Tsuwaibah ….”.

Bantahan:
Penyandaran kisah di atas kepada Imam Al-Bukhari adalah suatu kedustaan yang nyata sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh At-Tuwaijiri dalam Ar-Raddul Qawi  hal. 56. Karena tidak ada dalam riwayat Al-Bukhari sedikitpun yang disebutkan dalam kisah di atas.
Berikut konteks hadits ini dalam riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 4711 secara mursal dari Urwah bin Az-Zubair -rahimahullah- dia berkata:
وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
“Tsuwaibah, dulunya adalah budak perempuan Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya, lalu dia menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tatkala Abu Lahab mati, dia diperlihatkan kepada sebagian keluarganya (dalam mimpi) tentang jeleknya keadaan dia. Dia (keluarganya ini) berkata kepadanya, “Apa yang engkau dapatkan?”, Abu Lahab menjawab, “Saya tidak mendapati setelah kalian kecuali saya diberi minum sebanyak ini (sedikit) karena saya memerdekakan Tsuwaibah”.

Syubhat ini dibantah dari beberapa sisi:
1.    Hadits tentang diringankannya siksa Abu Lahab ini telah dikaji oleh para ulama dari zaman ke zaman. Akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang menjadikannya sebagai dalil disyari’atkannya perayaan maulid.

2.    Ini adalah hadits mursal sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath (9/49) karena Urwah adalah seorang tabi’i dan beliau tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar kisah ini. Sedangkan hadits mursal adalah termasuk golongan hadits-hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • abu lahab diringankan siksaaan setiap hari/swnin

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | 8 Comments »

Penjelasan Lemahnya Kisah Tsa’labah bin Hathib

November 24th, 2011 by Abu Muawiah

Penjelasan Lemahnya Kisah
Tsa’labah bin Hathib

Di antara keyakinan pokok ahlissunnah wal jama’ah yang tertera dalam kitab-kitab aqidah mereka adalah: Wajibnya menghormati dan memuliakan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam serta wajibnya menjaga lisan dari ucapan yang merendahkan mereka. Insya Allah keyakinan ini akan kami bahas pada tempat yang lain.
Hanya saja di sini kami akan menyebutkan sebuah kisah yang ramai dan tersebar di kalangan kaum muslimin, dimana kisah tersebut bercerita tentang kejelekan salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang bernama Tsa’labah bin Hathib radhiallahu anhu. Padahal mereka tidak mengetahui kalau kisah tersebut sebenarnya merupakan kisah yang mungkar dan tidak berdasar, baik dari sisi sanadnya maupun dari sisi matan (isi)nya.
Untuk lebih jelasnya, berikut penjelesannya secara lebih lengkap:

Penjelasan Lemahnya Kisah Ini Dari Sisi Sanad.
Dari Abu Umamah Al-Bahiliy -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Tsa’labah bin Hathib Al-Anshory telah datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta. Maka beliau bersabda, “Celaka engkau, hai Tsa’labah. Harta yang sedikit tapi engkau syukuri lebih baik dibandingkan harta yang banyak tapi engkau tak mampu (syukuri)”.
Lalu ia mendatangi beliau lagi setelah itu seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta”. Maka beliau bersabda, “Bukankah pada diriku ada contoh yang baik bagimu. Demi (Allah) Yang jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan aku ingin gunung-gunung itu berubah jadi emas dan perak untukku, niscaya akan berubah”.
Lalu iapun datang lagi setelah itu seraya berkata,”Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta. Demi (Allah) Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, andaikan Allah memberikan aku harta, niscaya aku akan memberikan haknya orang yang berhaka\”. Maka beliau bersabda (berdo’a), “Ya Allah, berikanlah rezqi kepada Tsa’labah. Ya Allah, berikanlah rezqi kepada Tsa’labah”.
Tsa’labah pun mengambil (baca: memelihara) kambing. Kambing-kambing ini lalu berkembang laksana berkembangnya ulat. Maka ia pun akhirnya hanya bisa melaksanakan sholat zhuhur dan Ashar bersama Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sedangkan sholat-sholat lainnya dia kerjakan di tengah-tengah kambingnya. Kemudian kambingnya semakin banyak dan berkembang. Maka iapun tinggal diam (sibuk) sehingga ia tidak lagi menghadiri sholat jama’ah, kecuali sholat jum’at.
Kambingnya semakin banyak dan berkembang. Ia pun semakin sibuk, sehingga ia tak lagi menghadiri sholat jum’at dan sholat jama’ah. Apabila di hari Jum’at, ia pun menemui manusia untuk bertanya tentang berita-berita.
Pada suatu hari ia disebut-sebut oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata, “Apa yang dilakukan Tsa’labah?”. Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, Tsa’labah telah memelihara kambing yang tidak dimuat oleh satu lembah”. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Oh, celakanya Tsa’labah. Oh, celakanya Tsa’labah. Oh, celakanya Tsa’labah”. Allah pun menurunkan ayat sedakah (baca: zakat).
Kemudian Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengutus seorang dari Bani Sulaim dan seorang lagi dari Bani Juhainah. Beliau menetapkan batasan-batasan umur sedekah (baca: zakat) kepada keduanya dan bagaimana caranya mereka menarik (zakat), seraya bersabda kepada keduanya: “Datangilah Tsa’labah bin Hathib dan seorang dari Bani Sulaim, lalu ambillah zakat dari keduanya”. Maka merekapun keluar sehingga keduanya mendatangi Tsa’labah seraya bertanya tentang zakatnya. Keduanya membacakan surat Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada Tsa’labah. Tsa’labah kemudian berkata, “Ini tiada lain, kecuali jizyah (upeti), ini tiada lain, kecuali semacam jizyah. Pergilah kalian sampai kalian telah selesai (bertugas), lalu kembalilah kepadaku”. Keduanya pun pergi, sedangkan As-Sulamy mendengar tentang keduanya. Dia kemudian melihat kepada umur ontanya yang terbaik dan memisahkannya untuk zakat. Lalu ia mendatangi keduanya dengan membawa (onta-onta) tersebut. Tatkala keduanya melihat onta-onta zakat itu, maka keduanya berkata, “Bukanlah ini yang diwajibkan atas dirimu”. Dia berkata, “Ambillah, karena hatiku merelakan hal itu”. Keduanya pun mendatangi orang-orang dan menarik zakat. Kemudia keduanya kembali kepada Tsa’labah. Tsa’labah lalu berkata, “Perlihatkan surat kalian kepadaku”. Dia pun berkata, “Ini tiada lain, kecuali jizyah. Ini tiada lain, kecuali semacam jizyah. Pergilah sampai aku melihat pendapatku”. Keduanya pun pulang menghadap. Tatkala Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melihat keduanya, sebelum mengajak mereka berbicara, maka beliau bersabda: “Oh, celakanya Tsa’labah”. Kemudian beliau mendo’akan kebaikan bagi As-Sulamy, dan keduanya mengabarkan tentang sesuatu yang dilakukan Tsa’labah. Maka Allah -Azza wa Jalla- menurunkan (ayat):
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ ءَاتَانَا مِنْ فَضْلِهِ
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami…”.  sampai kepada firman-Nya:
وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“…dan juga karena mereka selalu berdusta”. (QS. At-Taubah : 75-77)
Di sisi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ada seorang laki-laki dari kalangan keluarga Tsa’labah telah mendengarkan hal itu. Lalu ia keluar mendatangi Tsa’labah seraya berkata, “Celaka engkau, wahai Tsa’labah. Sungguh Allah -Azza wa Jalla- telah menurunkan demikian dan demikian tentang dirimu. Maka keluarlah Tsa’labah sampai ia datang kepada Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Dia meminta beliau agar menerima zakatnya. Maka beliau bersabda, “Sesunnguhnya Allah -Tabaraka wa Ta’ala- mencegah untuk menerima zakatmu”. Diapun mulai menaburkan tanah di atas kepalanya. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Inilah (hasil) perbuatanmu. Aku telah memerintahkanmu, akan tetapi engkau tidak mentaatiku”.
Tatkala Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi- enggan mengambil zakatnya, maka ia kembali ke rumahnya. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- meninggal, sedang beliau tidak mengambil (zakat) sedikitpun darinya.
Kemudian Tsa’labah mendatangi Abu Bakar -radhiyallahu anhu- ketika ia menjadi kholifah seraya berkata, “Sungguh engkau telah mengetahui kedudukanku di depan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan posisiku di mata orang-orang Anshor, maka terimalah zakatku”. Abu Bakar berkata, “Rasulullah tidak (mau) menerimanya darimu, lantas aku mau menerimanya?”. Abu Bakar pun meninggal sedang beliau tidak mau menerimanya.”
Tatkala Umar berkuasa, Tsa’labah datang kepadanya seraya berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku”. Maka Umar berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tak mau menerimanya, dan tidak pula Abu Bakar, lantas aku mau terima?”. Umar pun meninggal dalam keadaan ia tak mau menerimanya.”
Kemudian Utsman -radhiyallahu anhu- memerintah. Maka Tsa’labah datang kepadanya memintanya untuk menerima zakatnya. Maka Utsman berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tak mau menerimanya, dan tidak pula Abu Bakar dan Umar, lantas aku mau menerimanya?”. Tsa’labah mati di zaman khilafah Utsman”. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | 6 Comments »

Keutamaan Surah Yasin (Final)

November 4th, 2011 by Abu Muawiah

Keutamaan Surah Yasin (Final)

Berikut bagian akhir dari tulisan ini, beserta kesimpulan pembahasannya:

9. Hadits Ma’qil bin Yasar.

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

[ 27 ]

اِقْرَؤُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس

“Bacakanlah Yasin terhadap orang yang akan meninggal dari kalian.”

Diriwayatkan oleh An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no. 10913 dan dalam ‘Amalul Yaum wal lailah no. 1082 dari jalan Ibnul Mubarak dari Sulaiman At-Taimy dari Abu ‘Utsman dari Ma’qil bin Yasar.

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/445, Ahmad 5/26,27, Abu Daud no. 3121, Ibnu Majah no. 1448, Ath-Thobarany 20/no. 510 dan Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 5/295/1464 dari jalan Ibnul Mubarak dari Sulaiman bin At-Taimy dari Abu ‘Utsman -dan bukan An-Nahdy- dari ayahnya dari Ma’qil bin Yasar .

Dan diriwayatkan pula oleh Ahmad 5/26, An-Nasa`i dalam As-Sunan Al-Kubro no. 10914 dan dalam ‘Amalul Yaum wal lailah no. 1083, Ar-Ruyany dalam Musnadnya 2/323/1284 dan Ath-Thobarany 20/no. 511, 541 dari jalan Mu’tamir bin Sulaiman At-Taimy dari ayahnya dari seorang lelaki dari ayahnya dari  Ma’qil bin Yasar.

Dan diriwayatkan oleh Abu Daud Ath-Thoyalisy no. 931 dari jalan Ibnul Mubarak dari Sulaiman At-Taimy dari seorang lelaki dari ayahnya dari  Ma’qil bin Yasar. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | 3 Comments »