Archive for the 'Ensiklopedia Hadits Lemah' Category

Status Hadits ‘Bunuhlah Rafidhah’

November 15th, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Gimana derajat hadist berikut ust. benarkah hadistnya hasan?

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
Wahai Ali, akan muncul sebuah kelompok dari umatku yang berlebihan mencintai kami Ahlul bait, gelar panggilan mereka adalah Rafidhoh. Perangilah mereka karena mereka kaum musyrikin.” (Terjemahannya sdh kami -admin- perbaiki)

(Majma’ Az Zawa’id 10/22, hadist hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al Haithami)

Jawab:
Pertama: Al Haithami tidaklah meriwayatkan hadits itu, namun yg membawakan hadits ini adl Al Haitsami. Itu pun Al Haitsami hanya mentakhrijnya, bkn meriwayatkannya. Karena kitab Majma’ Az Zawaid bukanlah kitab hadits seperti kutub as sittah dan semacamnya, melainkan kitab takhrij. Wallahu a’lam.

Kedua: Lafazh hadits itu dlm bahasa arab sbb:
يا علي، سيكون في أمتي قوم ينتحلون حبنا أهل البيت. ولهم نبز يسمون الرافضة. فاقتلوهم فإنهم مشركون

Ketiga: Status hadits ini: Dhaifun Jiddan (sangat lemah).
Hadits di atas diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (12998) dan Ibnu Al Jauzi (257)
Ibnu Al Jauzi berkata setelah meriwayatkannya, “Hadits ini tdk shahih, kami sdh sebutkan sebelumnya bahwa tdk ada seorg pun yg mendukung Al Hajjaj dalam haditsnya.”
Kami katakan:
Al Hajjaj yg dimaksud di sini adalah Al Hajjaj bin Tamim, yg menjadi sebab lemahnya hadits ini.
An-Nasai berkata, “Tidak tsiqah.”
Al Uqaili berkata, “Tidak ada yg mengikutinya dlm periwayatan.”
Dari ucapan kedua imam ini, Adz Dzahabi menarik kesimpulan beliau ttg Al Hajjaj, “Sangat lemah.” Read the rest of this entry »

Category: Dari Grup WA, Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Status Hadits ‘Bunuhlah Rafidhah’

Status Doa Pernikahan dari Nabi kepada Ali dan Fathimah

September 12th, 2013 by Abu Muawiah

Status Doa Pernikahan dari Nabi kepada Ali dan Fathimah

Kisah pernikahan antara Ali dengan Fathimah -radhiallahu anhuma- telah shahih dalam beberapa hadits. Hanya saja yang kami bahas di sini adalah status doa pernikahan yang masyhur di tengah-tengah masyarakat:

جمع الله شملكما ، وأعز جدكما ، وأطاب نسلكما  وجعل نسلكما مفاتيح الرحمة ومعادن الحكمة ، وأمن الأمة ، وبارك الله لكما ، وبارك فيكما ، وبارك عليكما ، وأسعدكما ، وأخرج منكما الكثير الطيب

“Semoga Allah mengumpulkan yang terserak dari kalian berdua, memuliakan usaha kalian, memperbaiki anak keturunan kalian, dan menjadikan anak keturunan kalian sebagai pembuka pintu-pintu rahmat, sumber hikmah, dan keamanan bagi umat. Semoga Allah memberkahi untuk kalian berdua, memberkahi kalian, memberkahi atas kalian, memberikan kebahagiaan kepada kalian, dan memberikan kepada kalian keturunan yang banyak lagi baik.”

Doa semisal di atas diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam At-Talkhish, Abu Al-Hasan Ali bin Syadzan -dan Ibnu Abdil Hadi[1] dari jalannya- dan Ibnu Asakir dari jalur Muhammad bin Nahar bin Abi Al-Mahyah dari Abdul Malik bin Khiyar putra paman Yahya bin Main dari Muhammad bin Dinar dari Husyaim dari Yunus bin Ubaid dari Al-Hasan dari Anas dengan lafazh:

جمع الله شملكما وبارك عليكما  وأخرج منكما صالحا طايبا

زاد في رواية ابن شاذان: وجعل نسلكما مفاتيح الرحمة ومعادن الحكمة

“Semoga Allah mengumpulkan yang terserak dari kalian berdua, memberkahi atas kalian, dan mengeluarkan dari kalian berdua keturunan yang saleh lagi baik.”

Dalam riwayat Ibnu Syadzan ada tambahan, “Dan menjadikan anak keturunan kalian sebagai pembuka pintu-pintu rahmat dan sumber hikmah.”

Dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Qani’ dan selainnya dari jalur Muhammad bin Dinar di atas dari Jabir bin Abdillah. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Zikir & Doa | 1 Comment »

Telinga Berdengung, Haruskah Kita Bershalawat?

September 5th, 2013 by Abu Muawiah

Telinga Berdengung, Haruskah Kita Bershalawat?

Hadits yang menyebutkan masalah ini adalah:

إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي، وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللهُ بِخَيْرٍ مَنْ ذَكَرَنِي

“Jika berdengung telinga seseorang dari kalian, maka ingatlah aku, dan bershalawatlah atasku. Dan katakanlah: DZAKARALLAAHU BI KHAYRIN MAN DZAKARANI (Semoga Allah menyebut dengan kebaikan orang yang menyebutku namaku).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (1/48/2), Al-Bazzar no. 3125, Ibnu Hibban dalam Adh-Dhu’afa (2/250) dan selainnya. Semuanya dari jalur Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi’dari saudaranya yang bernama Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya dari kakeknya (Abu Rafi’) radhiallahu anhu.
Ini adalah hadits yang dha’if jiddan (sangat lemah), bahkan dinyatakan maudhu’ (palsu) oleh Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhu’at dan Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam Al-Manar Al-Munif (hal. 25), dan Asy-Syaikh Al-Albani sependapat dengan keduanya.

Alasannya adalah adanya perawi yang bernama Muhammad bin Ubaidillah di atas. Dia adalah salah seorang penganut Syiah di Kufah. Al-Bukhari berkomentar tentangnya, “Mungkarul hadits (mungkar haditsnya).” Yahya bin Main berkata, “Laysa bisyay`in (tidak ada apa-apanya).” Dan Ad-Daraquthni berkata, “Matruk lahuu mu’dhalaat (ditinggalkan haditsnya dan mempunyai banyak hadits-hadits yang mu’dhal).” Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • sholawat ketika kuping berdenging

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Telinga Berdengung, Haruskah Kita Bershalawat?

Kritik Terhadap Hadits ‘Shalat untuk Memudahkan Menghafal Al-Qur’an’

July 11th, 2013 by Abu Muawiah

Kritik Terhadap Hadits ‘Shalat untuk Memudahkan Menghafal Al-Qur’an’

At-Tirmizi dalam Al-Jami’ (3570), Ibnu Abi Ashim dalam Ad-Du’a, Ibnu Mardawaih dalam Tafsirnya -sebagaimana dalam An-Nukat Azh-Zhiraf karya Ibnu Hajar (via Tuhfah Al-Asyraf: 5/91), dan Al-hakim dalam Al-Mustadrak (1/16), mereka semua meriwayatkan dari jalur Sulaiman bin Abdirrahman Ad-Dimasyqi (dia berkata): Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami (dia berkata): Ibnu Juraij menceritakan kepada kami dari Atha` bin Abi Rabah dan Ikrimah maula Ibni Abbas dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي تَفَلَّتَ هَذَا الْقُرْآنُ مِنْ صَدْرِي فَمَا أَجِدُنِي أَقْدِرُ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْحَسَنِ أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ وَيَنْفَعُ بِهِنَّ مَنْ عَلَّمْتَهُ وَيُثَبِّتُ مَا تَعَلَّمْتَ فِي صَدْرِكَ قَالَ أَجَلْ يَا رَسُولَ اللهِ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَقُومَ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُودَةٌ وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ وَقَدْ قَالَ أَخِي يَعْقُوبُ لِبَنِيهِ: { سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي }. يَقُولُ حَتَّى تَأْتِيَ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي وَسَطِهَا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي أَوَّلِهَا فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةِ يس وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَحم الدُّخَانِ وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ وَفِي الرَّكْعَةِ الرَّابِعَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَتَبَارَكَ الْمُفَصَّلِ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ التَّشَهُّدِ فَاحْمَدْ اللهَ وَأَحْسِنْ الثَّنَاءَ عَلَى اللهِ وَصَلِّ عَلَيَّ وَأَحْسِنْ وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ وَاسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِإِخْوَانِكَ الَّذِينَ سَبَقُوكَ بِالْإِيمَانِ ثُمَّ قُلْ فِي آخِرِ ذَلِكَ:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّيَ اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِي فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيهِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

يَا أَبَا الْحَسَنِ تَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا تُجَبْ بِإِذْنِ اللهِ وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ مَا أَخْطَأَ مُؤْمِنًا قَطُّ.

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ: فَوَاللَّهِ مَا لَبِثَ عَلِيٌّ إِلَّا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ الْمَجْلِسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي كُنْتُ فِيمَا خَلَا لَا آخُذُ إِلَّا أَرْبَعَ آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهُنَّ وَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ عَلَى نَفْسِي تَفَلَّتْنَ وَأَنَا أَتَعَلَّمُ الْيَوْمَ أَرْبَعِينَ آيَةً أَوْ نَحْوَهَا وَإِذَا قَرَأْتُهَا عَلَى نَفْسِي فَكَأَنَّمَا كِتَابُ اللهِ بَيْنَ عَيْنَيَّ وَلَقَدْ كُنْتُ أَسْمَعُ الْحَدِيثَ فَإِذَا رَدَّدْتُهُ تَفَلَّتَ وَأَنَا الْيَوْمَ أَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ فَإِذَا تَحَدَّثْتُ بِهَا لَمْ أَخْرِمْ مِنْهَا حَرْفًا. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: مُؤْمِنٌ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ يَا أَبَا الْحَسَنِ

“Ketika kami berada di sisi Rasulullah r, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang seraya berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan untuk anda. Al-Qur’an mudah hilang dari hafalanku, dan aku tidak mampu untuk menjaganya.” Maka Rasulullah r bersabda, “Wahai Abu Al-Hasan, maukah kamu saya ajarkan beberapa ucapan yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu dan kepada orang yang engkau ajari ucapan ini kepadanya, serta memantapkan apa yang telah engkau pelajari di dalam dadamu?” Dia berkata, “Mau wahai Rasulullah! Ajarkan kepadaku!” Beliau bersabda, “Apabila tiba malam Jumat dan engkau mampu bangun pada sepertiga malam terakhir, maka ketahuilah bahwa waktu itu merupakan malam yang disaksikan (para malaikat), doa pada saat itu terkabulkan, dan saudaraku Ya’qub telah berkata kepada anak-anaknya, “Aku akan memintakan kalian ampunan kepada Tuhanku,” dan ucapan ini terus beliau ucapkan hingga datang malam Jumat. Jika engkau tidak mampu untuk bangun di sepertiga malam terakhir, maka bangunlah pada pertengahan malamnya. Dan jika engkau tidak mampu maka bangunlah pada awal malam lalu shalatlah empat raka’at, dimana pada rakaat pertamanya hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat Yaasiin. Pada rakaat kedua hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat Ad-Dukhan. Pada rakaat ketiga hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat As-Sajadah. Dan pada rakaat keempat hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Mulk. Kemudian apabila engkau telah selesai dari tasyahud maka pujilah Allah dengan sebaik-baiknya, ucapkanlah shalawat kepadaku dan kepada semua para nabi dengan sebaik-baiknya, mintakan ampunan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan untuk semua saudaramu yang telah beriman sebelummu. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Kritik Terhadap Hadits ‘Shalat untuk Memudahkan Menghafal Al-Qur’an’

Atsar Thaawuus tentang Anjuran Tahlilan 7 Hari Berturut-Turut

June 6th, 2013 by Abu Muawiah

Atsar Thaawuus tentang Anjuran Tahlilan 7 Hari Berturut-Turut

Abu Nu’aim rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا أَبِي، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا الأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ: قَالَ طَاوُسٌ: ” إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا، فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ الأَيَّامِ “

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Al-Qaasim : Telah menceritakan kepada kami Al-Asyja’iy, dari Sufyaan (Ats-Tsauriy), ia berkata : Telah berkata Thaawus : “Sesungguhnya orang yang meninggal akan terfitnah (diuji) dalam kuburnya selama 7 hari. Dulu mereka[1] menyukai untuk memberikan makanan dari mereka (yang meninggal) pada hari-hari tersebut” [Hilyatul-Auliyaa’ 4/11].

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hajar[2] rahimahullah dalam Al-Mathaalibul-‘Aaliyyah no. 834.

Keterangan para perawinya adalah sebagai berikut :

1.     Abu Bakr bin Maalik, namanya adalah : Ahmad bin Ja’far bin Hamdaan bin Maalik bin Syabiib Al-Baghdaadiy Al-Qathii’iy Al-Hanbaliy, Abu Maalik; seorang yang tsiqah. Lahir tahun 274 H dan wafat tahun 368 H [Lihat : Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 16/210-213 dan Mishbaarul-Ariib 1/75 no. 1316].

2.     ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad Asy-Syaibaaniy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Baghdaadiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-12, dan wafat tahun 290 H. Dipakai oleh An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 490 no. 3222].

3.     Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilaal bin Asad Asy-Syaibaaniy, Abu ‘Abdillah Al-Marwaziy; seorang imam yang tsiqahhaafidhfaqiih, lagi hujjah. Termasuk thabaqah ke-10, lahir tahun 164 H, dan wafat tahun 241 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 98 no. 97]. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • dalil 7 hari

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | 2 Comments »

Kelemahan Kisah Al-‘Utbiy tentang Tawassul

May 19th, 2013 by Abu Muawiah

Kelemahan Kisah Al-‘Utbiy tentang Tawassul

Sebagian kalangan berhujjah dengan kisah Al-‘Utbiy untuk melegalkan amalan tawassul mereka di kuburan orang (yang dianggap) shaalih. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya membawakan kisah tersebut sebagai berikut :

وقد ذكر جماعة منهم: الشيخ أبو نصر بن الصباغ في كتابه “الشامل” الحكاية المشهورة عن العُتْبي، قال: كنت جالسا عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فجاء أعرابي فقال: السلام عليك يا رسول الله، سمعت الله يقول: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وقد جئتك مستغفرا لذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول :

يا خيرَ من دُفنَت بالقاع أعظُمُه … فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ …

نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه … فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ …

ثم انصرف الأعرابي فغلبتني عيني، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال: يا عُتْبى، الحقْ الأعرابيّ فبشره أن الله قد غفر له

“Dan telah disebutkan oleh sekelompok ulama, diantaranya : Asy-Syaikh Abu Nashr bin Ash-Shabbaagh dalam kitabnya As-Syaamil sebuah hikayat yang masyhur dari Al-‘Utbiy. Ia (Al-‘Utbiy) berkata : “Aku pernah duduk di sisi kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu datanglah seorang Arab baduwi yang berkata : ‘Assalaamu ‘alaika yaa Rasuulallaah (salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah). Aku telah mendengar firman Allah : Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. An-Nisaa’ : 64). Dan sungguh aku datang kepadamu sebagai orang yang meminta ampun atas dosaku meminta pertolongan melalui perantaraanmu kepada Rabb-ku’. Kemudian ia mengucapkan syair : Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | 1 Comment »

Musyrikin Quraisy Mengingkari ‘Ar-Rahman’

May 5th, 2013 by Abu Muawiah

Musyrikin Quraisy Mengingkari ‘Ar-Rahman’

ولما سمعت قريش رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكر ” الرحمن ” أنكروا ذلك، فأنزل الله فيهم: {وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَن}

Ketika orang-orang Quraisy mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menyebut ‘Ar-Rahmaan’, mereka mengingkarinya. Maka terhadap mereka itu, Allah menurunkan firman-Nya : “Dan mereka kafir kepada Ar-Rahmaan” (QS. Ar-Ra’d : 30).

Keterangan :

Riwayat tentang sababun-nuzul QS. Ar-Ra’d : 30 tersebut dibawakan oleh Ath-Thabari dalam Tafsir-nya (13/101).

Sanad hadits tersebut adalah dla’if karena status ke-mursal­-annya. Asal riwayat ini ada dalam Shahih Al-Bukhari (no. 2731-2732), Musnad Ahmad (4/323,328), Sunan Abi Dawud (no. 2765,4655), dan Sunan An-Nasa’i (5/169-170) tanpa menyebutkan sababun-nuzul ayat.

(Source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/hadits-hadits-dlaif-yang-terdapat-dalam.html)

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Musyrikin Quraisy Mengingkari ‘Ar-Rahman’

Nabi Adam menaati Iblis

April 17th, 2013 by Abu Muawiah

Nabi Adam menaati Iblis

وعن ابن عباس في الآية: “قال لما تغشاها آدم حملت فأتاهما إبليس فقال: إني صاحبكما الذي أخرجتكما من الجنة لتطيعاني  أو لأجعلن له قرني أيل، فيخرج من بطنك فيشقه، ولأفعلن ولأفعلن يخوفهما، سمياه عبد الحارث. فأبيا أن يطيعاه فخرج ميتا، ثم حملت فأتاهما فقال مثل قوله، فأبيا أن يطيعاه، فخرج ميتا. ثم حملت فأتاهما فذكر لهما فأدركهما حب الولد فسمياه عبد الحارث، فذلك قوله {جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا}” رواه ابن أبي حاتم.

Dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut (QS. Al-A’raaf : 190) ia berkata : ”Setelah Adam menggauli istrinya Hawaa’, maka ia pun hamil. Lalu Iblis datang kepada mereka berdua dan berkata : ”Sunguh, aku adalah kawanmu berdua yang telah mengeluarkanmu dari surga. Demi Allah, hendaknya kamu mentaatiku. Kalau tidak, niscaya akan kujadikan anakmu itu bertanduk dua seperti rusa, sehingga akan keluar dari perut istrimu dengan merobeknya. Demi Allah, pasti akan aku lakukan”. Demikianlah Iblis menakut-nakuti mereka berdua. Iblis melanjutkan : ”Namailah anakmu itu ’Abdul-Haarits”. Tetapi keduanya menolak untuk mematuhinya. Ketika bayi mereka lahir, lahirlah ia dalam keadaan mati. Kemudian Hawwa’ hamil lagi. Maka datanglah Iblis kepada mereka berdua dengan mengatakan seperti yang pernah ia katakan sebelumnya. Tetapi mereka berdua tetap menolak untuk mematuhinya, dan bayi mereka pun lahir lagi dalam keadaan mati. Selanjutnya, Hawwa’ hamil lagi. Maka datanglah Iblis kepada mereka berdua dan mengingatkan mereka apa yang pernah ia katakan. Karena Adam dan Hawwa’ lebih menginginkan keselamatan anaknya, akhirnya mereka mematuhi Iblis dengan memberi kepada anak mereka nama ’Abdul-Haarits. Itulah tafsiran firman Allah : ’Mereka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal (anak) yang Dia karuniakan kepada mereka”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Nabi Adam menaati Iblis

Para Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah

March 27th, 2013 by Abu Muawiah

Para Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah

وعن النواس بن سمعان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إذا أراد الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة – أو قال رعدة – شديدة خوفا من الله (؛ فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا، وخروا لله سجدا. فيكون أول من يرفع رأسه جبريل، فيكلمه الله من وحيه بما أراد. ثم يمر جبريل على الملائكة، كلما مر بسماء سأله ملائكتها: ماذا قال ربنا يا جبريل؟ فيقول جبريل قال الحق وهو العلي الكبير فيقولون كلهم مثل ما قال جبريل فينتهي جبريل بالوحي إلى حيث أمره الله)

Dari Nawwaas bin Sam’aan radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Apabila Allah ta’ala hendak mewahyukan perintah-Nya, maka Dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena rasa takut kepada Allah. Lalu apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyu-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit ditanyai oleh malaikat penghuninya : ’Apakah yang telah difirmankan Tuhan kita wahai Jibril ?’. Jibril menjawab : ’Dia firmankan yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan oleh Jibril tersebut. Demikianlah, sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah”.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid (no. 206), Ibnu Abi ’Aashim dalam As-Sunnah (no. 515), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (5/152), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini adalah dla’if karena :

1.    Nu’aim bin Hammaad, ia seorang perawi yang jelek hafalannya. Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam At-Taqriib : ”Shaduuq, yukhthi’ katsiiran (jujur, namun banyak salahnya”.

2.    Al-Waliid bin Muslim. Ia seorang mudallis yang melakukan tadlis taswiyah dengan periwayatan secara ’an’anah.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul-Jannah (hal. 226-227 no. 515) dan Dr. Baashim bin Faishal Al-Jawabirah dalam Tahqiiq wa Takhriij ’alaa Kitaabis-Sunnah li-Ibni Abi ’Aashim (hal. 359-360 no. 527).

[source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/hadits-hadits-dlaif-yang-terdapat-dalam.html]

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Para Malaikat Pingsan Mendengar Firman Allah

Nabi Musa ‘Meremehkan’ Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

March 20th, 2013 by Abu Muawiah

Nabi Musa ‘Meremehkan’ Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah

وعن أبي سعيد الخدري عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “قال موسى: يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به. قال: قل يا موسى: لا إله إلا الله ; قال: يا رب كل عبادك يقولون هذا. قال: يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفة، مالت بهن لا إله إلا الله”. رواه ابن حبان والحاكم وصححه

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Musa berkata : “Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu”. Allah berfirman : “Katakanlah wahai Musa : Laa ilaaha illallaah”. Musa berkata : Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini”. Allah pun berfirman : ”Hai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang ’Laa ilaaha illallaah’ diletakkan pada daun timbangan yang lain; maka ’Laa ilaaha illallaah’ niscaya lebih berat timbangannya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Haakim, dan ia menshahihkannya.

Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6218) dan Al-Mawaarid (no. 2324), serta Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (1/528). Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/327-328), An-Nasa’i dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 834, 1141), Al-Baihaqi dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat (102-103), dan yang lainnya.

Sanad hadits ini dla’if karena perawi yang bernama Darraaj bin Sam’aan. Al-Imam Ahmad berkata : “Hadits-hadits Darraj dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Sa’id Al-Khudriy adalah lemah”.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (9/54-55 no. 6185), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (1/718 no. 1988), dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Shahih Ibni Hibban (no. 6218).

[source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/hadits-hadits-dlaif-yang-terdapat-dalam.html]

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Nabi Musa ‘Meremehkan’ Kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah