Archive for the 'Akhlak dan Adab' Category

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

May 31st, 2014 by Arvan

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأنْزَلَهَا بالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أنْزَلَهَا باللهِ ، فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barangsiapa ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka pasti Allah akan memberi rezeki kepadanya, cepat atau lambat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dan ini adalah lafaz At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu’anhu, Shahihut Targhib: 838]

Dalam lafaz yang lebih shahih,

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍعَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barangsiapa yang ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452, Ash-Shahihah: 2787]

 

Penjelasan Makna Hadits:

Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ أَيْ لَمْ تُقْضَ حَاجَتُهُ وَلَمْ تُزَلْ فَاقَتُهُ وَكُلَّمَا تُسَدُّ حَاجَتُهُ أَصَابَتْهُ أُخْرَى أَشَدُّ مِنْهَا

“Tidak akan tertutupi kesusahannya, maknanya adalah tidak akan terpenuhi kebutuhannya dan tidak akan berakhir kesusahannya, dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka ia akan tertimpa kesusahan yang lebih parah.” [Tuhfatul Ahwadzi, 6/111] Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Hadits | Comments Off on Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Hukum Memasang Batu Nisan

January 31st, 2014 by Arvan

Tanya:
Apakah batu nisan juga yang dilarang dibangun di atas kubur? Jika iya, apa yg menjadi penanda makam?

Jawab:
Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata:
Tidak boleh membuat bangunan di atas kuburan, baik berupa batu nisan ataupun lainnya, dan tidak boleh menuliskan tulisan padanya, karena telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang membuat bangunan pada kuburan dan menulisinya.
Imam Muslim rahimauhullah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk memagari kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya”.
Lagi pula, hal ini merupakan sikap berlebihan sehingga harus dicegah, dan karena tulisan itu bisa menimbulkan akibat yang mengerikan, yaitu berupa sikap berlebihan dan bahaya-bahaya syar’iyah lainnya. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hukum islam tentang makam dibuat nisan

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Hukum Memasang Batu Nisan

Definisi Pakaian ‘Syuhroh’

January 27th, 2014 by Arvan

Tanya:
Seperti apakah ciri2 pakaian syuhroh? Apakah pakaian dengan banyak hiasan (yg membuat terlihat menarik) dan berharga mahal (diatas harga pakaian rata2 pd umumnya) termasuk di dalamnya?

Jawab:
Asy Syaikh Saleh alu asy Syaikh berkata dalam al Minzhar, ketika beliau menyebutkan beberapa kesalahan seputar pakaian lelaki:

Mengenakan pakaian syuhrah. Pakaian syuhrah adalah pakaian yang jarang dipakai dalam kebiasaan kaum muslimin, atau pakaian yang seseorang menjadi pusat perhatian dengannya karena pakaian itu sangat mewah dan membuat orang yang mengenakannya terkenal, dan semacamnya. Demikian halnya dengan pakaian ‘ala zuhud’ yang membuat pemiliknya terkenal dengannya, padahal dia mempunyai pakaian yang lebih bagus dari pada itu. Semua jenis pakaian ini terlarang dikenakan, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ
“Siapa saja yang mengenakan pakaian syuhrah, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya.”
Ini adalah hadits yang hasan. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • apa yg dimaksud pakaian syuhrah

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Definisi Pakaian ‘Syuhroh’

Bolehkah Makan Sambil Duduk Bersila?

December 1st, 2013 by Arvan

Tanya:
Bismillahi,ustad apa ada larangan duduk bersila pada saat makan ? jazakallahukhair

Jawab:
Boleh duduk bersila dlm kegiatan apapun, termasuk makan.
Dari Jabir bin Samurah dia berkata:
كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ  إذا صلَّى الفجرَ، تربَّع في مجلسِهِ، حتى تطلعَ الشمسُ حسناءَ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wasallam telah shalat subuh, beliau duduk bersila di tempat shalatnya sampai matahari terbit dan bersinar terang.” (HR. Abu Daud, dan dinyatakan shahih oleh al Albani)
Bahkan Aisyah radhiallahu anha berkata:
أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لمَّا صلَّى جالِسًا تربَّعَ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam duduk bersila ketika beliau shalat sambil duduk.” (Dinyatakan shahih oleh Ibnu al Mulaqqin)
Jika shalat sambil duduk saja boleh sambil bersila, apalagi hanya pada saat makan. Wallahu a’lam

Category: Akhlak dan Adab, Dari Grup WA | Comments Off on Bolehkah Makan Sambil Duduk Bersila?

Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad hafidzahullah

October 22nd, 2013 by Abu Zakariyya

Seorang penanya berkata: Wahai Syaikh kami, semoga Allah menjagamu.

Di antara taufiq Allah bagi para penuntut ilmu, hadirnya (pelajaran) Muqoddimah Muslim beserta penjelasannya dari anda yang mulia. Akan tetapi nikmat ini, yaitu kaidah-kaidah yang disebutkan oleh Imam Muslim telah menjadi rancu atas sebagian orang, sebagian mereka menerapkannya atas sebagian saudara-saudaranya dari kalangan Ahlussunnah. Jika seorang alim berijtihad membid’ahkan seseorang dan ia diselisihi oleh (seorang alim) yang lain, mereka ini mengharuskan orang lain untuk membid’ahkan orang tersebut, kemudian mereka berpindah kepada orang-orang yang menyelisihi mereka dan  memboikot dan mentahdzirnya dengan keyakinan bahwasanya ini adalah manhaj Salaf, padahal akidah dan manhaj kedua belah pihak adalah satu.

 

Kebanyakan negeri mereka-mereka ini telah tersebar padanya syirik, sihir dan tashawwuf. Apakah ada nasehat(dari anda) yang akan menjelaskan kebenaran dan mempersatukan kalimat?

 

Syaikh: saya katakan, sesungguhnya barangsiapa yang diberikan taufiq oleh Allah, maka hendaknya ia menjelaskan kebenaran dan ia memohon hidayah kepada Allah bagi orang yang telah ia jelaskan. Akan tetapi, tidak boleh setelah itu ia mengintai jika pada orang tersebut tidak terjadi (apa yang diinginkannya), lantas ia memboikotnya dan tidak diajak bicara, sebagaimana yang terjadi pada sebagian penuntut ilmu shigor (yang masih muda).

Sesungguhnya mereka ini tidak mengerti agama sama sekali dan mereka ini ada di Eropah, Timur dan Barat, yakni mereka tidak mengetahui sama sekali perkara-perkara asas dalam agama akan tetapi mereka telah ditimpa musibah dengan mentabdi’ dan memboikot. Yaitu fulan telah membid’ahkan si fulan, maka barangsiapa yang tidak mentabdi’nya maka ia juga adalah mubtadi’  dan diboikot, ini bukanlah jalannya As-Salaf.

Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad hafidzahullah

Mendapat Rezeki Karena Giat Membantu Para Penuntut Ilmu

June 13th, 2013 by Arvan

Mendapat Rezeki Karena Giat Membantu Para Penuntut Ilmu

Adalah suatu keutamaan jika setiap muslim bisa membantu para santri atau para penuntut ilmu agama agar mereka mudah untuk konsentrasi dalam belajar sehingga terus bisa menjaga agama ini. Bahkan orang yang lancar mendapatkan rezeki bisa jadi karena banyak membantu untuk membiayai orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

Keutamaannya tersebut disebutkan oleh Imam Nawawi ketika membahas masalah tawakkal dan yakin dalam kitab Riyadhus Sholihin. Beliau membawakan hadits berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَالآخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua orang bersaudara, yang satu suka datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk menuntut ilmu agama) dan yang lainnya giat bekerja (supaya saudaranya bisa mendapatkan rezeki, -pen). Kemudian orang yang giat bekerja mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan saudaranya itu. Lantas beliau bersabda, “Barangkali engkau mendapatkan rezeki karena sebab saudaramu (yang rajin belajar itu).” (HR. Tirmidzi no. 2345. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Kata Imam Nawawi sanadnya shahih sesuai syarat Muslim). Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal | No Comments »

I Don’t Know….

May 12th, 2013 by Arvan

I Don’t Know….

Itulah jawaban orang yang ditanya saat ia tidak mengetahui jawabannya – dengan edisi bahasa Inggris tentu saja. Kalimat tersebut sebenarnya bukan kalimat yang luar biasa. Bahkan tidak indah menurut sebagian orang. Akan tetapi, kalimat ini menjadi sangat indah ketika dikatakan pada tempatnya.

Berikut akan saya contohkan sedikit nukilan singkat nan indah[1], mereka-mereka yang telah mengucapkannya. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran…..

 

دَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ مَالِكٍ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ عَنْ أَبِي خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ قَالَ سُئِلَ عَطَاءٌ عَنْ شَيْءٍ فَقَالَ لَا أَدْرِي قَالَ قِيلَ لَهُ أَلَا تَقُولُ فِيهَا بِرَأْيِكَ قَالَ إِنِّي أَسْتَحْيِي مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدَانَ فِي الْأَرْضِ بِرَأْيِي

Telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami Hakkaam bin Salm, dari Abu Khaitsamah, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, ia berkata : ‘Atha’ pernah ditanya tentang satu permasalahan. Ia pun berkata : “Aku tidak tahu”. Dikatakan kepadanya : “Mengapa engkau tidak menjawabnya menurut pendapatmu ?”. ‘Atha’ berkata : “Sesungguhnya aku malu kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menjadikan pendapatku sebagai pedoman di muka bumi” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 108, tahqiq : Husain Saliim Asad; Daarul-Mughniy, Cet. 1/1421 – sanadnya shahih].

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الْفَزَارِيِّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ لَأَنْ أَرُدَّهُ بِعِيِّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَ لَهُ مَا لَا أَعْلَمُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Uyainah, dari Abu Ishaaq Al-Fazaariy, dari Ibnu ‘Aun, dari Ibnu Siiriin, dari Humaid bin ‘Abdirrahmaan, ia berkata : “Menjawab dengan jawaban tidak tahu, itu lebih aku sukai daripada harus memaksakan diri menjawab sesuatu yang tidak aku ketahui” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 149 – sanadnya jayyid]. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | No Comments »

Hukum Memanggil Non-Muslim Sebagai ‘Saudara’

November 11th, 2012 by Arvan

Hukum Memanggil Non-Muslim Sebagai Saudara

Pada beberapa kesempatan kita sering mendengar perkataan yang beredar di masyarakat yang mengatakan bahwa : “Kita semua bersaudara”. Padahal di situ bercampur antara muslim dan non-muslim. Atau dalam konflik SARA yang terjadi di beberapa daerah Indonesia, sering disebutkan bahwa masyarakat muslim dan non-muslim itu bersaudara. Atau dalam ungkapan basa-basi sejenis. Mungkin tujuan orang yang mengatakan itu adalah demi menjaga persatuan, etika kehidupan bermasyarakat, dan yang lainnya.

Pada kesempatan ini akan coba dituliskan dari apa yang telah dijelaskan oleh para ulama tentang permasalahan dimaksud ditinjau dari kaca mata syari’at.
Allah ta’ala telah berfirman :
إِنّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujuraat : 10).
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya ketika berkomentar tentang ayat tersebut menyebutkan beberapa hadits, diantaranya :
المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه
”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh mendhalimi dan membiarkannya (didhalimi)” [HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad].
والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه
”Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya”
إذا دعا المسلم لأخيه بظهر الغيب قال الملك آمين ولك مثله
”Jika seorang muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan : Amin, dan bagimu sepertinya”
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتواصلهم كمثل الجسد الواحد, إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota badan akan merasa demam dan susah tidur”
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضاً – وشبك بين أصابعه صلى الله عليه وسلم
”Seorang mukmin terhadap orang mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan yang sebagian dengan sebagian yang lainnya saling menguatkan” Dan pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjalinkan jari-jemari beliau.
Imam Ahmad meriwayatkan, Ahmad bin Al-Hajjaj memberitahu kami, ‘Abdullah memberitahu kami, Mush’ab bin Tsabit memberitahu kami, Abu Hazim memberitahuku, ia berkata : Aku pernah mendengar Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radliyallaahu ‘anhu menceritakan hadits dari Rasulullah shalallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda :
إن المؤمن من أهل الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد, يألم المؤمن لأهل الإيمان كما يألم الجسد في الرأس
”Sesungguhnya (hubungan) orang mukmin dengan orang-orang yang beriman adalah seperti (hubungan) kepala dengan seluruh badan. Seorang mukmin akan merasakan sakit karena orang mukmin lainnya sebagaimana badan akan merasa sakit karena sakit pada kepala” [Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad].
[selesai perkataan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya 4/226]. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Aqidah, Syubhat & Jawabannya | No Comments »

Keutamaan Memberi Makan

August 12th, 2012 by Arvan

Fadhilah Memberi Makan
Oleh: Ust. Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhohulloh-

Memberi Makan merupakan sebuah adab yang sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin di hari ini. Padahal di zaman ini banyak diantara kaum muslimin yang membutuhkan makan.

Memberi makan –selain memiliki pahala besar-, ia juga merupakan sebab kedekatan dan eratnya hubungan seorang muslimin dengan tetangga dan saudara serta kerabat-kerabatnya.

Memberi makan kepada manusia (apalagi kepada fakir-miskin) merupakan tanda pedulinya seseorang kepada sesama manusia dan tingginya solidaritas. Tak heran jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menggelarinya sebagai “manusia terbaik”.

Silakan dengarkan kisah berikut ini. Kisah yang menunjukkan keutamaan memberi makan kepada orang lain.

Dari Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu anhu- bahwa ia berkata kepada Shuhaib,

إِنَّكَ لَرَجُلٌ لَوْلاَ خِصَالٌ ثَلاَثَةٌ ، قَالَ : وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ ، وَانْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ ، وَفِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ . قَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، أَمَّا قَوْلُكَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنَّانِي أَبَا يَحْيَى ، وَأَمَّا قَوْلُكُ : انْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ فَإِنِّي رَجُلٌ مِنَ النَّمِرِ بْنِ قَاسِطٍ اسْتُبِيتُ مِنَ الْمَوْصِلِ بَعْدَ أَنْ كُنْتُ غُلاَمًا قَدْ عَرَفْتُ أَهْلِي وَنَسَبِي ، وَأَمَّا قَوْلُكَ : فِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ خَيْرَكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ.

“Sesungguhnya engkau adalah seorang yang lelaki (yang hebat), andaikan bukan karena tiga perkara”. Shuhaib bertanya, “Apa tiga hal itu?” Umar berkata, “Engkau berkun-yah (menggunakan nama sapaan), sedang kau tidak memiliki anak. Kau menisbahkan diri kepada bangsa arab, sedang engkau termasuk orang Romawi dan pada dirimu terdapat sikap berlebihan dalam memberi makan”. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hadits memberi makan tetangga
  • hadits tentang memberi makan pada orang lain
  • pahala memberi makan

Category: Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal | No Comments »

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

April 10th, 2012 by Arvan

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

1.    Mengangkat kedua tangan setelah sholat-sholat wajib.
Hal ini termasuk dalam kategori bid’ah jika dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Yang merupakan sunnah setelah sholat-sholat wajib adalah berdzikir dengan beristighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir serta berdo’a dengan do’a-do’a yang warid (dalam sunnah) tanpa mengangkat kedua tangan. Inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangan beliau dalam berdo’a setelah sholat-sholat wajib. Maka perbuatan ini hendaknya tidak dikerjakan karena menyelisihi sunnah dan komitmen (membiasakan) dengannya adalah bid’ah.

2.    Mengangkat (baca: menengadahkan) kedua tangan di tengah-tengah sholat wajib.
Seperti orang yang mengangkat kedua tangannya ketika bangkit dari ruku’ seakan-akan dia sedang qunut, dan yang semisal dengannya. Hal ini termasuk dari perbuatan-perbuatan yang tidak disebutkan dalam sunnah dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah (yang empat) dan tidak pula oleh para sahabat, dan perbuatan apa saja yang seperti ini sifatnya maka dia termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 “Barangsiapa yang memunculkan perkara baru dalam perkara (agama) kami ini, yang perkara ini bukan bagian darinya (agama) maka dia tertolak”. Muttafaqun ‘alaihi
Dan dalam riwayat Muslim.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | 13 Comments »