Archive for the 'Akhlak dan Adab' Category

Definisi Pakaian ‘Syuhroh’

January 27th, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Seperti apakah ciri2 pakaian syuhroh? Apakah pakaian dengan banyak hiasan (yg membuat terlihat menarik) dan berharga mahal (diatas harga pakaian rata2 pd umumnya) termasuk di dalamnya?

Jawab:
Asy Syaikh Saleh alu asy Syaikh berkata dalam al Minzhar, ketika beliau menyebutkan beberapa kesalahan seputar pakaian lelaki:

Mengenakan pakaian syuhrah. Pakaian syuhrah adalah pakaian yang jarang dipakai dalam kebiasaan kaum muslimin, atau pakaian yang seseorang menjadi pusat perhatian dengannya karena pakaian itu sangat mewah dan membuat orang yang mengenakannya terkenal, dan semacamnya. Demikian halnya dengan pakaian ‘ala zuhud’ yang membuat pemiliknya terkenal dengannya, padahal dia mempunyai pakaian yang lebih bagus dari pada itu. Semua jenis pakaian ini terlarang dikenakan, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ
“Siapa saja yang mengenakan pakaian syuhrah, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya.”
Ini adalah hadits yang hasan. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Definisi Pakaian ‘Syuhroh’

Bolehkah Makan Sambil Duduk Bersila?

December 1st, 2013 by Abu Muawiah

Tanya:
Bismillahi,ustad apa ada larangan duduk bersila pada saat makan ? jazakallahukhair

Jawab:
Boleh duduk bersila dlm kegiatan apapun, termasuk makan.
Dari Jabir bin Samurah dia berkata:
كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ  إذا صلَّى الفجرَ، تربَّع في مجلسِهِ، حتى تطلعَ الشمسُ حسناءَ
“Jika Nabi shallallahu alaihi wasallam telah shalat subuh, beliau duduk bersila di tempat shalatnya sampai matahari terbit dan bersinar terang.” (HR. Abu Daud, dan dinyatakan shahih oleh al Albani)
Bahkan Aisyah radhiallahu anha berkata:
أنَّهُ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لمَّا صلَّى جالِسًا تربَّعَ
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam duduk bersila ketika beliau shalat sambil duduk.” (Dinyatakan shahih oleh Ibnu al Mulaqqin)
Jika shalat sambil duduk saja boleh sambil bersila, apalagi hanya pada saat makan. Wallahu a’lam

Category: Akhlak dan Adab, Dari Grup WA | Comments Off on Bolehkah Makan Sambil Duduk Bersila?

Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad hafidzahullah

October 22nd, 2013 by Abu Zakariyya

Seorang penanya berkata: Wahai Syaikh kami, semoga Allah menjagamu.

Di antara taufiq Allah bagi para penuntut ilmu, hadirnya (pelajaran) Muqoddimah Muslim beserta penjelasannya dari anda yang mulia. Akan tetapi nikmat ini, yaitu kaidah-kaidah yang disebutkan oleh Imam Muslim telah menjadi rancu atas sebagian orang, sebagian mereka menerapkannya atas sebagian saudara-saudaranya dari kalangan Ahlussunnah. Jika seorang alim berijtihad membid’ahkan seseorang dan ia diselisihi oleh (seorang alim) yang lain, mereka ini mengharuskan orang lain untuk membid’ahkan orang tersebut, kemudian mereka berpindah kepada orang-orang yang menyelisihi mereka dan  memboikot dan mentahdzirnya dengan keyakinan bahwasanya ini adalah manhaj Salaf, padahal akidah dan manhaj kedua belah pihak adalah satu.

 

Kebanyakan negeri mereka-mereka ini telah tersebar padanya syirik, sihir dan tashawwuf. Apakah ada nasehat(dari anda) yang akan menjelaskan kebenaran dan mempersatukan kalimat?

 

Syaikh: saya katakan, sesungguhnya barangsiapa yang diberikan taufiq oleh Allah, maka hendaknya ia menjelaskan kebenaran dan ia memohon hidayah kepada Allah bagi orang yang telah ia jelaskan. Akan tetapi, tidak boleh setelah itu ia mengintai jika pada orang tersebut tidak terjadi (apa yang diinginkannya), lantas ia memboikotnya dan tidak diajak bicara, sebagaimana yang terjadi pada sebagian penuntut ilmu shigor (yang masih muda).

Sesungguhnya mereka ini tidak mengerti agama sama sekali dan mereka ini ada di Eropah, Timur dan Barat, yakni mereka tidak mengetahui sama sekali perkara-perkara asas dalam agama akan tetapi mereka telah ditimpa musibah dengan mentabdi’ dan memboikot. Yaitu fulan telah membid’ahkan si fulan, maka barangsiapa yang tidak mentabdi’nya maka ia juga adalah mubtadi’  dan diboikot, ini bukanlah jalannya As-Salaf.

Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad hafidzahullah

Mendapat Rezeki Karena Giat Membantu Para Penuntut Ilmu

June 13th, 2013 by Abu Muawiah

Mendapat Rezeki Karena Giat Membantu Para Penuntut Ilmu

Adalah suatu keutamaan jika setiap muslim bisa membantu para santri atau para penuntut ilmu agama agar mereka mudah untuk konsentrasi dalam belajar sehingga terus bisa menjaga agama ini. Bahkan orang yang lancar mendapatkan rezeki bisa jadi karena banyak membantu untuk membiayai orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

Keutamaannya tersebut disebutkan oleh Imam Nawawi ketika membahas masalah tawakkal dan yakin dalam kitab Riyadhus Sholihin. Beliau membawakan hadits berikut ini,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَالآخَرُ يَحْتَرِفُ فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua orang bersaudara, yang satu suka datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk menuntut ilmu agama) dan yang lainnya giat bekerja (supaya saudaranya bisa mendapatkan rezeki, -pen). Kemudian orang yang giat bekerja mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keadaan saudaranya itu. Lantas beliau bersabda, “Barangkali engkau mendapatkan rezeki karena sebab saudaramu (yang rajin belajar itu).” (HR. Tirmidzi no. 2345. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Kata Imam Nawawi sanadnya shahih sesuai syarat Muslim). Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal | Comments Off on Mendapat Rezeki Karena Giat Membantu Para Penuntut Ilmu

I Don’t Know….

May 12th, 2013 by Abu Muawiah

I Don’t Know….

Itulah jawaban orang yang ditanya saat ia tidak mengetahui jawabannya – dengan edisi bahasa Inggris tentu saja. Kalimat tersebut sebenarnya bukan kalimat yang luar biasa. Bahkan tidak indah menurut sebagian orang. Akan tetapi, kalimat ini menjadi sangat indah ketika dikatakan pada tempatnya.

Berikut akan saya contohkan sedikit nukilan singkat nan indah[1], mereka-mereka yang telah mengucapkannya. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran…..

 

دَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ مَالِكٍ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ عَنْ أَبِي خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ قَالَ سُئِلَ عَطَاءٌ عَنْ شَيْءٍ فَقَالَ لَا أَدْرِي قَالَ قِيلَ لَهُ أَلَا تَقُولُ فِيهَا بِرَأْيِكَ قَالَ إِنِّي أَسْتَحْيِي مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدَانَ فِي الْأَرْضِ بِرَأْيِي

Telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami Hakkaam bin Salm, dari Abu Khaitsamah, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, ia berkata : ‘Atha’ pernah ditanya tentang satu permasalahan. Ia pun berkata : “Aku tidak tahu”. Dikatakan kepadanya : “Mengapa engkau tidak menjawabnya menurut pendapatmu ?”. ‘Atha’ berkata : “Sesungguhnya aku malu kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menjadikan pendapatku sebagai pedoman di muka bumi” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 108, tahqiq : Husain Saliim Asad; Daarul-Mughniy, Cet. 1/1421 – sanadnya shahih].

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الْفَزَارِيِّ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ لَأَنْ أَرُدَّهُ بِعِيِّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَ لَهُ مَا لَا أَعْلَمُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Uyainah, dari Abu Ishaaq Al-Fazaariy, dari Ibnu ‘Aun, dari Ibnu Siiriin, dari Humaid bin ‘Abdirrahmaan, ia berkata : “Menjawab dengan jawaban tidak tahu, itu lebih aku sukai daripada harus memaksakan diri menjawab sesuatu yang tidak aku ketahui” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 149 – sanadnya jayyid]. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • ucapkan tapi aku ndak tahu

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on I Don’t Know….

Hukum Memanggil Non-Muslim Sebagai ‘Saudara’

November 11th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Memanggil Non-Muslim Sebagai Saudara

Pada beberapa kesempatan kita sering mendengar perkataan yang beredar di masyarakat yang mengatakan bahwa : “Kita semua bersaudara”. Padahal di situ bercampur antara muslim dan non-muslim. Atau dalam konflik SARA yang terjadi di beberapa daerah Indonesia, sering disebutkan bahwa masyarakat muslim dan non-muslim itu bersaudara. Atau dalam ungkapan basa-basi sejenis. Mungkin tujuan orang yang mengatakan itu adalah demi menjaga persatuan, etika kehidupan bermasyarakat, dan yang lainnya.

Pada kesempatan ini akan coba dituliskan dari apa yang telah dijelaskan oleh para ulama tentang permasalahan dimaksud ditinjau dari kaca mata syari’at.
Allah ta’ala telah berfirman :
إِنّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujuraat : 10).
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya ketika berkomentar tentang ayat tersebut menyebutkan beberapa hadits, diantaranya :
المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه
”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh mendhalimi dan membiarkannya (didhalimi)” [HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad].
والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه
”Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya”
إذا دعا المسلم لأخيه بظهر الغيب قال الملك آمين ولك مثله
”Jika seorang muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan : Amin, dan bagimu sepertinya”
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتواصلهم كمثل الجسد الواحد, إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota badan akan merasa demam dan susah tidur”
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضاً – وشبك بين أصابعه صلى الله عليه وسلم
”Seorang mukmin terhadap orang mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan yang sebagian dengan sebagian yang lainnya saling menguatkan” Dan pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjalinkan jari-jemari beliau.
Imam Ahmad meriwayatkan, Ahmad bin Al-Hajjaj memberitahu kami, ‘Abdullah memberitahu kami, Mush’ab bin Tsabit memberitahu kami, Abu Hazim memberitahuku, ia berkata : Aku pernah mendengar Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radliyallaahu ‘anhu menceritakan hadits dari Rasulullah shalallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda :
إن المؤمن من أهل الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد, يألم المؤمن لأهل الإيمان كما يألم الجسد في الرأس
”Sesungguhnya (hubungan) orang mukmin dengan orang-orang yang beriman adalah seperti (hubungan) kepala dengan seluruh badan. Seorang mukmin akan merasakan sakit karena orang mukmin lainnya sebagaimana badan akan merasa sakit karena sakit pada kepala” [Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad].
[selesai perkataan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya 4/226]. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Aqidah, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Hukum Memanggil Non-Muslim Sebagai ‘Saudara’

Keutamaan Memberi Makan

August 12th, 2012 by Abu Muawiah

Fadhilah Memberi Makan
Oleh: Ust. Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhohulloh-

Memberi Makan merupakan sebuah adab yang sudah banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin di hari ini. Padahal di zaman ini banyak diantara kaum muslimin yang membutuhkan makan.

Memberi makan –selain memiliki pahala besar-, ia juga merupakan sebab kedekatan dan eratnya hubungan seorang muslimin dengan tetangga dan saudara serta kerabat-kerabatnya.

Memberi makan kepada manusia (apalagi kepada fakir-miskin) merupakan tanda pedulinya seseorang kepada sesama manusia dan tingginya solidaritas. Tak heran jika Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menggelarinya sebagai “manusia terbaik”.

Silakan dengarkan kisah berikut ini. Kisah yang menunjukkan keutamaan memberi makan kepada orang lain.

Dari Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu anhu- bahwa ia berkata kepada Shuhaib,

إِنَّكَ لَرَجُلٌ لَوْلاَ خِصَالٌ ثَلاَثَةٌ ، قَالَ : وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ ، وَانْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ ، وَفِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ . قَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، أَمَّا قَوْلُكَ : اكْتَنَيْتَ وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنَّانِي أَبَا يَحْيَى ، وَأَمَّا قَوْلُكُ : انْتَمَيْتَ إِلَى الْعَرَبِ وَأَنْتَ رَجُلٌ مِنَ الرُّومِ فَإِنِّي رَجُلٌ مِنَ النَّمِرِ بْنِ قَاسِطٍ اسْتُبِيتُ مِنَ الْمَوْصِلِ بَعْدَ أَنْ كُنْتُ غُلاَمًا قَدْ عَرَفْتُ أَهْلِي وَنَسَبِي ، وَأَمَّا قَوْلُكَ : فِيكَ سَرَفٌ فِي الطَّعَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ خَيْرَكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ.

“Sesungguhnya engkau adalah seorang yang lelaki (yang hebat), andaikan bukan karena tiga perkara”. Shuhaib bertanya, “Apa tiga hal itu?” Umar berkata, “Engkau berkun-yah (menggunakan nama sapaan), sedang kau tidak memiliki anak. Kau menisbahkan diri kepada bangsa arab, sedang engkau termasuk orang Romawi dan pada dirimu terdapat sikap berlebihan dalam memberi makan”. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal | Comments Off on Keutamaan Memberi Makan

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

April 10th, 2012 by Abu Muawiah

Kesalahan-Kesalahan Dalam Berdoa

1.    Mengangkat kedua tangan setelah sholat-sholat wajib.
Hal ini termasuk dalam kategori bid’ah jika dilakukan secara terus menerus oleh pelakunya. Yang merupakan sunnah setelah sholat-sholat wajib adalah berdzikir dengan beristighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir serta berdo’a dengan do’a-do’a yang warid (dalam sunnah) tanpa mengangkat kedua tangan. Inilah yang selalu dilakukan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau tidak pernah mengangkat kedua tangan beliau dalam berdo’a setelah sholat-sholat wajib. Maka perbuatan ini hendaknya tidak dikerjakan karena menyelisihi sunnah dan komitmen (membiasakan) dengannya adalah bid’ah.

2.    Mengangkat (baca: menengadahkan) kedua tangan di tengah-tengah sholat wajib.
Seperti orang yang mengangkat kedua tangannya ketika bangkit dari ruku’ seakan-akan dia sedang qunut, dan yang semisal dengannya. Hal ini termasuk dari perbuatan-perbuatan yang tidak disebutkan dalam sunnah dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pernah dikerjakan oleh para khalifah (yang empat) dan tidak pula oleh para sahabat, dan perbuatan apa saja yang seperti ini sifatnya maka dia termasuk ke dalam sabda beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 “Barangsiapa yang memunculkan perkara baru dalam perkara (agama) kami ini, yang perkara ini bukan bagian darinya (agama) maka dia tertolak”. Muttafaqun ‘alaihi
Dan dalam riwayat Muslim.
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya pada urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak”. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | 13 Comments »

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

March 23rd, 2012 by Abu Muawiah

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

“Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]

“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat]

“Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]

Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”(1) . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid

Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah radhiallahu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini, “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | 10 Comments »

Bolehnya Membaca Al-Qur`an Dalam Keadaaan Berjalan dan Berbaring

February 6th, 2012 by Abu Muawiah

Bolehnya Membaca Al-Qur`an
Dalam Keadaaan Berjalan dan Berbaring

Dalil akan hal itu adalah firman Allah Ta’ala:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
“Orang-orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan dalam keadaan berbaring.“ (QS. Ali Imran: 191)
Dan firman Allah Ta’ala:
لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ. وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ.
“Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kalian mengingat nikmat Rabb kalian, apabila kalian telah duduk di atasnya. Dan suapaya kalian mengucapkan: Maha Suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami hanya kembali kepada Rabb kami.“ (QS. Az-Zukhruf: 13 – 14 )
Dan As-Sunnah juga telah menerangkan hal ini seluruhnya. Dari hadits Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu dia berkata:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الْفَتْحِ
“Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam paha hari penaklukan Makkah, di mana beliau membaca surah Al-Fath di atas tunggangan beliau.“ (HR. Al-Bukhari no. 5034 dan Muslim no. 794)
Dan dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَّكِئُ فِي حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersandar di pangkuanku sementara saya dalam keadaan haidh, lalu beliau membaca Al-Qur`an.“ (HR. Al-Bukhari no. 297 dan Muslim no. 301) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | 3 Comments »