Archive for the 'Akhlak dan Adab' Category

Memperindah Suara Dalam Melantunkan al-Quran

May 6th, 2018 by Arvan

Memperindah Suara Dalam Melantunkan al-Quran

Hadits Ketiga Puluh

Memperbaiki dan Memperindah Bacaan al-Quran Semaksimal Mungkin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالقُرْآنِ» متفق عليه واللفظ للبخاري

Dari Abu Hurairah t dari Nabi r beliau bersabda, “Allah tidak memberi izin akan sesuatu seperti Dia memberi izin kepada nabi untuk melantukan al-Quran dengan indah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafazh al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ» رواه البخاري

Dari Abu Hurairah t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Bukan golongan kami orang yang tidak melantukan al-Quran dengan indah.” (HR. al-Bukhari)

وَعَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ» رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه والدارمي. وصححه الألباني

Dan dari al-Barra` bin Azib t dia berkata: Rasulullah r bersabda, “Hiasilah al-Quran dengan (keindahan) suara kalian.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan al-Darimi. Dinyatakan sahih oleh al-Albani) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Hadits, Ilmu al-Qur`an | No Comments »

Anjuran Untuk Menjaga Hafalan al-Quran dan Selalu Mengulanginya

May 1st, 2018 by Arvan

Anjuran Untuk Menjaga Hafalan al-Quran dan Selalu Mengulang-ulanginya

 

Hadits Kedua Puluh Tujuh
Menjaga Hafalan al-Quran dan Selalu Mengingatnya

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِي رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Musa al-Asy’ari  dari Nabi  beliau bersabda, “Jagalah (hafalan) al-Quran, karena demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat hilang daripa onta yang terikat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

وَعَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ؛ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ» رواه البخاري ومسلم

Dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma (dia berkata): Rasulullah  bersabda, “Penghafal al-Quran itu bagaikan pemilik onta yang terikat; jika dia menjaganya maka dia tetap memilikinya, namun jika dia melepasnya maka onta itu akan pergi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Hadits, Ilmu al-Qur`an | No Comments »

Adab dan Hukum yang Berkenaan dengan al-Quran

April 12th, 2018 by Arvan

Adab dan Hukum yang Berkenaan dengan al-Quran

Hadits Kesebelas

Kecemburuan Positif kepada Ahlil Qur`an

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ» رواه البخاري وأحمد، واللفظ للبخاري

Dari Abu Hurairah t (dia berkata): Rasulullah r bersabda, “Tidak ada kecemburuan kecuali pada dua hal: (1) Seseorang yang Allah ajari al-Quran kemudian dia membacanya sepanjang malam dan siang. Lalu ada tetangganya yang mendengar bacaannya dan berkata, ‘Seandainya aku diberikan anugerah seperti dia niscaya aku akan melakukan seperti yang dia lakukan.’ (2) Seseorang yang Allah beri harta kemudian dia menginfakkannya dalam ketaatan dan kebaikan. Lalu seseorang berkata, ‘Seandainya aku diberikan anugerah seperti dia niscaya aku akan melakukan seperti yang dia lakukan.’” (HR. al-Bukhari dan Ahmad, dan ini adalah lafazh al-Bukhari)

Hadits Kedua Belas

Cara Nabi r Membaca al-Quran

عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه «أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى فَكَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ عَذَابٍ اسْتَجَارَ، وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَنْزِيهٌ لِلَّهِ سَبَّحَ» رواه ابن ماجه وصححه الألباني

Dari Hudzaifah t (dia berkata), “Bahwa Nabi r pernah mengerjakan shalat. Jika beliau membaca ayat tentang rahmat maka beliau meminta rahmat, jika beliau membaca ayat tentang azab maka beliau memohon perlindungan, dan jika beliau membaca ayat yang menyebut kesucian Allah maka beliau bertasbih.” (HR. Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh al-Albani)

وَعَنْهُ رضي الله عنه «أَنَّهُ صَلَّى إِلَى جَنْبِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً فَقَرَأَ، فَكَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ عَذَابٍ وَقَفَ وَتَعَوَّذَ، وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ وَقَفَ فَدَعَا»  رواه النسائي وصححه الألباني

Juga dari Hudzaifah t (dia berkata), bahwa pada suatu malam dirinya pernah shalat di samping Nabi r lalu beliau membaca. Jika beliau membaca ayat tentang azab maka beliau berhenti sejenak dan meminta perlindungan, dan jika beliau membaca ayat tentang rahmat maka beliau berhenti sejenak lalu berdoa. (HR. al-Nasai dan dinyatakan sahih oleh al-Albani) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Hadits, Ilmu al-Qur`an | No Comments »

Teruntuk Para Pencela

April 7th, 2018 by Arvan

Teruntuk Para Pencela

Teruntuk para pencela, kupersembahkan kepadamu nasehat dari al-Faqih al-Ilbiri rahimahullah -seorang ulama dari Andalus, Spanyol-, ketika beliau menasehati putranya yang memiliki kun-yah Abu Bakar:

 

“Wahai Abu Bakar, engkau hanya menyingkap sedikit aibku, namun sebagian besarnya justru kamu tutupi.
Karenanya silakan kamu cela diriku sesuka hatimu, bahkan silakan tambah celaannya berkali-kali lipat, karena sungguh semua celaanmu itu benar adanya.
Betapa pun banyaknya aibku yang engkau beberkan, aku menganggap semua itu sebagai pujian karena aku sangat mengetahui siapa diriku.”

Ketiga bait di atas adalah penggalan dari 112 bait syair beliau, yang dikenal di kalangan penuntut ilmu dengan judul Manzhumah Abi Ishaq al-Ilbiri. Nama lengkap beliau adalah Ibrahim bin Mas’ud al-Tujibi al-Ilbiri (375-460 H).

Maksud ketiga bait di atas adalah beliau mengingatkan putranya bahwa ketika seseorang mencela kita, maka sebenarnya aib yang dia sebutkan itu hanyalah sedikit dari aib kita yang begitu banyak. Dia menutupi (baca: tidak menyebutkan) sebagian besar aib kita karena dia memang tidak mengetahuinya. Karenanya, silakan yang mencela, sebutkan aibku sebanyak yang engkau tahu sampai kamu puas, karena semua aib itu benar adanya. Yakni karena kita selaku manusia yang bergelimang dengan dosa memanglah makhluk yang penuh dengan aib dan kekurangan. Semua aib yang kamu sebutkan itu justru kuanggap sebagai pujian, karena yang kamu sebutkan hanya sedikit. Aku lebih tahu tentang diriku sendiri, bahwa sebenarnya aibku jauh lebih banyak daripada yang kamu sebutkan. Karenanya ketika aib yang kamu sebut hanya sedikit dari aibku yang sangat banyak, maka itu kuanggap sebagai pujian darimu.

Subhanallah, betapa indahnya nasehat ini

Sebuah ucapan yang keluar dari hati yang tulus lagi mengetahui kadar dirinya sendiri

Membaca ketiga bait ini mengingatkan kami akan ucapan Syaikh Muqbil rahimahullah, yang dahulu sangat sering diulang oleh guru kami Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah, yang maknanya, “Adapun kami (jika ada yang mencela) maka diri kami ini tidak layak untuk dibela.”

Category: Akhlak dan Adab | No Comments »

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu

June 3rd, 2015 by Arvan

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi
Tentang Hakikat Hawa Nafsu

Seorang muslim haruslah berfikir dan mengintrospeksi diri terhadap hawa nafsunya. Misalkan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah Shallalluhu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian orang lain lagi mencaci maki Nabi Daud alahissalam, sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar radhiyallahu ‘unhu atau Ali radhiyallahu ’anhu, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, adapun orang yang kelima mencaci maki guru orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama, tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga lebih lunak dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya?

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa pemahaman dari ayat tersebut sesuai dengan ucapan Imammu, kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut, suatu pemahaman yang menyalahi ucapan lainnya dari Imammu tersebut. Apakah penilaianmu mengenai keduanya sama? Yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya pemahamanmu tadi dengan Cara membaca sepintas?
Misalkan engkau mendapatkan dua hadits di mana engkau tidak mengetahui shahih atau dhaifnya, yang satu sesuai dengan pendapat imammu, yang satu lagi menyalahinya, apakah pandanganmu terhadap dua hadits itu sama (dengan imammu), tanpa engkau peduli (untuk mengetahui secara ilmiah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu

Tuntunan Hidup ala Ibnu Utsaimin

April 17th, 2015 by Arvan

Nasehat dari asy-Syaikh Muhammad bin Saleh al-Utsaimin rahimahullah
kepada salah seorang murid beliau mengenai metode yang ditempuh dalam menjalani kehidupan

Bismillahirrahmanirrahim

Dari Muhammad bin Saleh al-Utsaimin kepada putranya hafizhahullah.
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kamu -semoga Allah memberkahimu- meminta saya untuk menjelaskan jalan hidup yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan keseharianmu. Dan saya memohon kepada Allah Ta’ala berkenan memberikan taufik kepada kita menuju hidayah, petunjuk, kebenaran, dan keistiqamahan, dan agar Dia menjadikan kita sebagai para pemberi petunjuk dan kebaikan.

Berikut jawaban saya:
Pertama: Jalan hidup dalam bermualah dengan Allah Azza wa Jalla.
1.    Senantiasa bersama Allah dengan menghadirkan keagunganNya dan memikirkan ayat-ayatNya yang bersifat empirik, seperti penciptaan langit dan bumi, serta semua yang ada pada keduanya yang menunjukkan kedalaman hikmah, kebesaran qudrah, dan keluasan rahmat dan nikmatNya. Juga ayat-ayatNya yang bersifat verbal, yang dengannya Dia mengutus para rasul, terkhusus rasul terakhir, Muhammad صلى الله عليه وسلم .
2.    Penuhi hatimu dengan cinta kepada Allah Ta’ala hingga Dia menjadi sesuatu yang paling kamu cintai. Dia telah melimpahkan nikmat kepadamu dan melindungimu dari bencana. Terkhusus nikmat Islam dan istiqamah di atasnya.
3.    Penuhi hatimu dengan pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla hingga Dia menjadi sesuatu yang teragung bagimu.
Dengan memadukan cinta dan pengagungan kepada Allah Ta’ala di dalam hatimu niscaya kamu akan senantiasa taat kepadaNya. Kamu melaksanakan perintahNya karena cinta kepadaNya, dan kamu meninggalkan larangaNya karena mengagungkanNya.
4.    Ikhlaskan ibadahmu hanya kepada Allah Jalla wa Ala seraya bertawakkal kepadaNya dalam semua keadaan, sebagai realisasi dari firmanNya, “Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” Ingatlah selalu bahwa kamu hanya melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan karena Dia semata. Dengan demikian kamu akan merasakan manisnya ibadah, yang tidak akan kamu rasakan jika kamu melakukannya dalam keadaan lalai. Dan kamu akan mendapatkan bantuan dariNya dalam setiap urusanmu, yang tidak akan kamu dapatkan jika engkau bergantung kepada dirimu sendiri. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Fatawa | Comments Off on Tuntunan Hidup ala Ibnu Utsaimin

Manfaat ‘Insya Allah’ Setelah Bersumpah

January 10th, 2015 by Arvan

قـال الشيخ العلامـة ابن عثيمين – رحمه الله -:

أشير عليكم بأمر مهم !!
وهـو أنـك إذا حلفـت على يميـن فـقـل بعدهـا : ( إن شـاء الله ) ولو لـم يسمعهـا صاحبـك. لأنـك إذا قلـت : إن شـاء اللـه ، يَسَّـر الله لـك الأمـر حتـى تَبـرَّ بيمينـك. وإذا قُـدَّر أنـه مـا حصـل الـذي تريـد فـلا ؛ كَـفَّـارة عليـك .

وهـذه فائـدة عظيمـة. فلـو قلـت مثـلاً لواحـد : واللـه مـا تَذبـح لـي ثـم قلـت بينـك وبيـن نفسـك : ( إن شـاء الله )، ثـم ذبـح لـك ، فـلا عليـك شـيء ، ولا عليـك كفـارة يميـن. وكذلـك أيضـاً بالعكـس.
لو قلت : والله لأذبـح ، ثم قلت بينك وبين نفسك : ( إن شاء الله ) ولـم يسمـع صاحبـك , فإنـه إذا لـم تذبـح فليـس عليـك كفـارة يميـن. لقـول النبي صلى الله عليه وسلم : ” مـن حلف علـى يميـن فقـال : إن شـاء الله لـم يحنـث “

وهـذه فائـدة عظيمـة اجعلهـا علـى لسانـك دائمـاً، حتــى يكـون لـك فائدتـان :
* الفائـدة الأولـى : أن تيـسّـر لـك الأمـور الفائـدة .
* الثانيـة : أنـك إذا حنثـت فـلا تلزمـك كفـارة يميـن .

Asy Syaikh al ‘Allàmah Ibnu Utsaimìn rahimahullah berkata:
Aku ingin menunjukkan kepada kalian satu masalah yang penting!!
Yaitu jika kamu bersumpah, maka ucapkanlah setelahnya ‘insya Allah’ (jika Allah menghendaki), walaupun temanmu tidak mendengarnya. Karena jika kamu mengucapkan ‘insya Allah’, niscaya Allah akan memudahkan urusan itu sehingga kamu akan mampu memenuhi sumpahmu. Namun jika apa yang kamu ingin lakukan dalam sumpahmu ditakdirkan tidak terwujud, maka kamu tidak ada kewajiban membayar kaffarat.
Ini adalah pelajaran yang sangat bermanfaat. Jadi seandainya kamu berkata kepada seseorang, “Demi Allah kamu tidak usah menyembelih untuk aku,” kemudian kamu mengucapkan ‘insya Allah’ (dengan suara pelan) dimana hanya kamu sendiri yang mendengarnya, kemudian ternyata orang itu menyembelih untukmu, maka kamu tidak mempunyai kewajiban apa-apa dan kamu tidak wajib membayar kaffarat. Demikian pula sebaliknya (jika ternyata dia menuruti sumpahmu). Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Tahukah Anda? | Comments Off on Manfaat ‘Insya Allah’ Setelah Bersumpah

Perwujudan Kegembiraan

December 4th, 2014 by Arvan

Kita sering mendengar dan membaca pada momen dua hari raya yang diberkahi -idul fitri dan idul adha-, orang yang menyeru untuk menampakkan kegembiraan dalam menyambut kedua hari raya ini. Dia menyebut bahwa kemungkaran yang bertentangan dengan syariat yang dilakukan oleh sebagian orang awam pada hari raya merupakan perwujuduan kegembiraan yang dibenarkan dan tidak boleh dilarang. Maka kami katakan: Tidak boleh melakukan dan menyetujui kemungkaran, kapan pun terjadinya. Karena mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban, dan meninggalkannya akan mengundang azab dan kemurkaan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Yang saya ingin katakan adalah: Apa yang terjadi pada kedua hari raya ini berupa adanya para penyanyi serta pagelaran sandiwara dan teater, semua ini tidak sejalan dengan kemuliaan bulan ini. Demikian halnya dengan pertunjukan sulap dari para penyulap, berkumpulnya kaum lelaki dan wanita, begadang di malam hari, dan menelantarkan pelaksanaan shalat dari waktunya bersama jamaah di masjid. Karenanya, jika ada pihak berwenang yang berusaha untuk melarang semua kegiatan ini, maka itu sudah menjadi kewajiban mereka dan itu memang sudah merupakan tugas mereka. Kita wajib membantu dan bekerjasama dengan mereka, bukan justru mengkritisi dan menghina mereka melalui makalah-makalah di surat kabar, atau pada obrolan sehari-hari, serta menyifati mereka sebagai ekstrimis. Karena mereka melarang perwujudan kegembiraan semacam ini yang hakikatnya mengotori kesucian hari raya yang Mubarak dan bertolak belakang dengan tujuan syariat dari pelaksanaan hari raya.
Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Perwujudan Kegembiraan

Fenomena Fatwa

November 21st, 2014 by Arvan

Kaum muslimin membutuhkan orang yang mampu menjelaskan kepada mereka urusan akidah, ibadah, muamalah, dan pernikahan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Inilah yang dimaksud dengan fatwa, yaitu penjelasan mengenai hukum syariat berdasarkan dalil dari al Kitab dan as Sunnah. Mereka juga membutuhkan orang yang mampu menjadi hakim di antara mereka dalam persengketaan dan perselisihan di antara mereka. Dan ini yang dimaksud dengan qadha` (vonis hukum). Dan tidak ada orang yang mampu mengemban kedua tugas yang besar ini kecuali orang yang memiliki kapabilitas ilmiah, ketakwaan, rasa takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kondisinya ketika dia berdiri di hadapan Allah kelak. Karena, baik pemberi fatwa maupun hakim, keduanya adalah orang yang mengabarkan dari Allah bahwa Dia menghalalkan ini dan mengharamkan itu, dan bahwa kebenaran hanya berpihak kepada salah satu pihak dari pihak-pihak yang berselisih. Karenanya, Allah memandang besar kedua tugas ini; memberi fatwa dan vonis dan Dia memperingatkan jangan sampai seseorang menceburkan diri ke dalamnya tanpa ilmu dan pengetahuan serta tanpa sifat adil dan obyektif.
(وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمْ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ* مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.”
Dan Allah berfirman kepada NabiNya:
(وَأَنْ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ)
“Dan berhukumlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Dan wasapadalah jangan sampai mereka memalingkan kamu dari sebagian yang Allah turunkan kepadamu.”
Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | Comments Off on Fenomena Fatwa

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

October 30th, 2014 by Arvan

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak menjaharkan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat sejumlah adab dan etika berkaitan dengan dzikir kepada Allah Ta’âlâ.

Berikut uraiannya.

Pertama: dalam ayat di atas, termaktub perintah untuk berdzikir kepada Allah. Telah berlalu, pada tulisan sebelumnya, berbagai perintah untuk berdzikir beserta keutamaan berdzikir kepada Allah dan besarnya anjuran dalam syariat untuk hal tersebut. Seluruh hal tersebut memberikan pengertian akan pentingnya arti berdzikir dalam kehidupan seorang hamba.

Kedua: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu,” mengukir sebuah etika yang patut dipelihara dalam berdzikir kepada llahi, yaitu dzikir hendaknya dalam diri dan tidak dijaharkan. Yang demikian itu lebih mendekati pintu ikhlas, lebih patut dikabulkan, dan lebih jauh dari kenistaan riya. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Namun, penafsiran kedualah yang lebih tepat berdasarkan dalil kelanjutan ayat “… dan dengan tidak menjaharkan suara,” sebagaimana yang akan diterangkan.

Ketiga: firman-Nya, “dengan merendahkan diri,” mengandung etika indah yang patut mewarnai seluruh ibadah, yaitu hendaknya dzikir dilakukan dengan merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Hal yang demikian lebih mendekati makna ibadah yang mengandung pengertian merendah dan menghinakan diri serta tunduk dan bersimpuh di hadapan-Nya. Dengan menjaga etika ini, seorang hamba akan lebih mewujudkan hakikat penghambaan dan lebih mendekati kesempurnaan rasa tunduk kepada Allah Jallat ‘Azhamatuhu. Kapan saja seorang hamba berpijak di atas kaidah ini dalam seluruh ibadahnya, niscaya ia akan semakin mengenal jati dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, sebagai seorang hamba yang harus bersikap tawadhu dan membuang segala kecongkakan. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | Comments Off on Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir