Catatan Penting Seputar Hadits Shahih

October 6th 2014 by Abu Muawiah |

Dua Catatan Penting

Pertama: Semua syarat hadits shahih li dzatihi di atas merupakan kesepakatan di kalangan ulama. Hanya saja, terkadang mereka berbeda pandangan dalam menghukumi sebagian hadits; dimana sebagian di antara mereka menyatakannya sebagai hadits yang shahih, dan sebagian lainnya tidak memandang demikian. Sebab perbedaan ini muncul bukan karena perbedaan mereka dalam penetapan syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam suatu hadits shahih, melainkan dalam hal ada tidaknya syarat-syarat ini dalam suatu hadits. Karenanya, siapa yang memandang semua syarat ini ada pada hadits yang bersangkutan, maka dia akan menghukuminya sebagai hadits yang shahih. Dan siapa yang memandang semua atau sebagian dari syarat-syarat ini tidak terdapat dalam hadits yang bersangkutan, maka dia akan menghukuminya sebagai hadits dha’if atau akan menolaknya.

Dalam hal inilah, al Hafizh Ibnu ash Shalah berkata, setelah beliau menyebutkan syarat-syarat hadits shahih, “Beginilah kriteria hadits yang dihukumi shahih, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun terkadang mereka berbeda pendapat dalam keshahihan sebagian hadits, dimana hal itu dikarenakan perbedaan pendapat mereka dalam hal ada tidaknya syarat-syarat ini dalam hadits yang bersangkutan, atau karena perbedaan pendapat mereka dalam mensyaratkan sebagian dari syarat-syarat ini, sebagaimana yang terjadi dalam kasus hadits mursal.” (Ma’rifah ‘Ulum al Hadits hal. 13)
Maksudnya: Bagi ulama yang memandang hadits mursal bisa dijadikan sandaran argumen.

Kedua: Hadits shahih ada beberapa tingkatan karena adanya perbedaan dalam tingkat terwujudnya syarat-syarat hadits shahih ini. Sebagian hadits shahih ada yang berada di tingkatan shahih yang tertinggi. Hal itu disebabkan syarat-syarat itu terwujud dalam hadits tersebut pada tingkatan yang tertinggi, terkhusus pada hal-hal yang berkenaan dengan keadaan para perawinya. Semisal hafalan para perawinya berada pada tingkatan yang tertinggi, sementara hadits lainnya juga shahih namun para perawinya tidak sama kekuatan hafalannya dengan para perawi di hadits yang pertama. Walaupun kedua hadits ini adalah shahih.

Contoh:
Riwayat Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, digelari dengan ‘silsilah adz dzahab’ (rantai emas) atau ‘ashahh al asanid’ (sanad tershahih). Maka perawi mana saja yang digelari dengan gelar seperti ini, maka tingkatannya tidaklah sama dengan perawi lain yang tidak digelari seperti itu.

Contoh lain:
Para perawi yang terdapat dalam Shahih al Bukhari dan Muslim dengan status ihtijaj (digunakan berhujjah oleh keduanya, penj.) tidaklah sama derajatnya dengan perawi lainnya. Dan demikian seterusnya.

al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam an Nukhbah hal. 29, “Dan tingkatannya -yakni hadits shahih- berjenjang sesuai dengan berjenjangnya sifat-sifat (baca: syarat-syarat) ini.”
as Suyuthi berkata dalam kitabnya Alfiyah hal. 11, dalam menyebutkan tingkatan-tingkatan hadits shahih:

مَرْوِيُ ذَيْنِ فَالْبُخَارِي فَمَا         لِمُسْلِمٍ فَمَا حَوَى شَرْطَهُمَا
فَشَرْطُ أَوَّلٍ فَثَانٍ ثُمَّ مَا            كَانَ عَلَى شَرْطِ فَتًى غَيْرِهِمَا

“Riwayat keduanya (al Bukhari dan Muslim), lalu riwayat al Bukhari, lalu riwayat Muslim, lalu riwayat yang sesuai dengan syarat keduanya, lalu yang sesuai dengan syarat orang pertama (al Bukhari), lalu orang kedua (Muslim), lalu yang sesuai dengan syarat pemuda (baca: periwayat) selain keduanya.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, October 6th, 2014 at 1:35 pm and is filed under al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.