Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid

January 31st 2012 by Abu Muawiah |

Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah:
Boleh Berbaring dengan posisi terlentang di dalam masjid. Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid Al-Mazini:
أنه رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ مُسْتَلْقِيًا وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى
“Bahwa dia pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur terlentang di dalam masjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/446) (10/328) (11/68) dan dalam Al-Adab Al-Mufrad (172), Muslim (6/154), Malik (1/186) serta Abu Daud (2/297) dan An-Nasai (1/118) dari jalannya, Muhammad dalam kitabnya Muwaththa` (398), At-Tirmizi (2/127 -cet. Bulaq), Ad-Darimi (2/282), Ath-Thayalisi (hal. 148 no. 1101), dan Ahmad (4/38, 39, 40) dari beberapa jalan dari Az-Zuhri dia berkata: Abbad bin Tamim mengabarkan kepadaku dari pamannya (Abdullah bin Zaid, pent.) dengan lafazh di atas.
At-Tirmizi berkata, “Hadits hasan shahih.”
Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits Abu Hurairah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Fath (11/68)

Hadits ini adalah dalil dari apa yang kami sebutkan berupa bolehnya tidur terlentang di dalam masjid. Dan dengan inilah, Al-Bukhari dan An-Nasai memberikan judul bab terhadap hadits ini, dan ini pula yang dijelaskan oleh para ulama yang mensyarah Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan selain keduanya.
Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath, “Kelihatannya, perbuatan beliau shallallahu alaihi wasallam adalah untuk menunjukkan bolehnya hal tersebut. Dan hal itu beliau lakukan pada waktu beliau beristirahat sendirian, bukan di hadapan banyak orang, karena sudah menjadi kebiasaan yang diketahui dari beliau bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam selalu duduk-duduk bersama mereka dengan sikap rendah hati yang sempurna. Al-Khaththabi berkata, “Dalam hadits ini terdapat pembolehan bersandar, berbaring, dan posisi istirahat lainnya di dalam masjid.” Ad-Daudi berkata, “Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala yang disebutkan bahwa orang yang tinggal di dalam masjid itu tidak terkhusus bagi orang yang duduk saja, akan tetapi juga didapatkan oleh orang yang tidur terlentang.”

Ketahuilah bahwa telah shahih dalam Shahih Muslim dan selainnya dari hadits Jabir bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seseorang mengangkat salah satu kakinya lalu meletakkannya di atas kaki lainnya, sementara dia berbaring di atas punggungnya.
Suatu hal yang jelas kalau hadits Jabir ini tidak bertentangan dengan pembolehan tidur terlentang secara mutlak. Hanya saja lahiriah hadits ini bertentangan dengan tidur terlentang dengan cara yang tersebut dalam kedua hadits (yakni dengan salah satu kaki di atas, pent.). Para ulama telah memadukan kedua hadits ini dengan cara mereka mengarahkan larangan dalam hadits Jabir ini jika dikhawatirkan hal itu akan membuat auratnya terlihat, dan hal itu dibolehkan jika itu tidak dikhawatirkan terjadi. Wallahu a’lam.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadits Qatadah bin An-Nu’man: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ketika Allah telah selesai menciptakan makhluk-Nya, Dia berbaring terlentang dengan meletakkan salah satu kaki-Nya di atas kaki lainnya seraya berfirman, “Tidak boleh ada seorang pun dari makhluk-Ku yang boleh melakukan seperti ini,” maka keabsahannya masih butuh ditinjau lebih jauh.
Al-Haitsami berkata dalam Al-Majma’ (8/100), “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari tiga orang gurunya: Ja’far bin Sulaiman An-Naufali, Ahmad bin Rusydin Al-Mishri, dan Ahmad bin Daud Al-Makki. Ahmad bin Rusydin adalah perawi yang dha’if, dan dua orang lainnya belum saya ketahui. Dan perawi lainnya adalah perawi Ash-Shahih.”
Saya pribadi menganggap sangat tidak mungkin hadits ini shahih, karena kandungannya mengesankan makna yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Dimana mereka mengatakan, “Allah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari kemudian Dia beristirahat pada hari yang ketujuh,” yaitu hari sabtu. Mereka menamakan hari sabtu ini sebagai hari istirahat. Dan sungguh Allah Ta’ala telah membantah mereka dalam banyak ayat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaf: 38)
Maka dugaan besar saya adalah asal hadits ini berasal dari kisah-kisah israiliyat yang kaum muslimin impor dari sebagian ahli kitab. Kemudian sebagian perawinya keliru sehingga dia menyandarkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, padahal beliau berlepas diri darinya. Dan kasus seperti ini mempunyai banyak contoh berupa riwayat-riwayat. Di antaranya adalah kisah Harut dan Marut, yang sebagian perawi menyandarkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Ahmad. Padahal penyandaran itu keliru, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya dan selainnya.

[Diterjemahkan dari kitab Ats-Tsamar Al-Mustathab jilid 2 pada point 16 dari amalan-amalan yang dibolehkan dalam masjid]

Incoming search terms:

  • hadis larangan tidur di masjid
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, January 31st, 2012 at 1:23 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Bolehnya Tidur Terlentang di Dalam Masjid”

  1. ahmed said:

    assalamu ‘alaikum, yg mau sy tanyakan, apakah boleh tidur terlentang di dalam masjid dg posisi kaki menghadap kiblat, terima kasih.
    Wassalamu ‘alaikum.

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam, tidak ada hadits shahih yang melarang hal tersebut sepanjang pengetahuan kami.

  2. hasan said:

    Bismillah.

    Saya mau tanya untuk kondisi di mana di masjid ditempel peraturan/peringatan “Dilarang tidur-tiduran di dalam masjid”..
    bagaimana sikap kita thd peraturan tsb..?
    Dan apabila posisi kita sebgai takmir apakah dibolehkan memasang aturan yang seperti itu?

    Jazakumullah khairan katsiran..

    Sepantasnya takmir menerapkan aturan di dalam masjid sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh pemilik masjid tersebut yaitu Allah Ta’ala. Maka tidak sepatutnya pengurus melarang hal itu secara mutlak, karena hukumnya boleh jika hanya dilakukan sesekali. Apalagi kalau hanya sekedar beristirahat. Yang dilarang di dalam masjid adalah menjadikannya tempat menginap rutin, bukan menjadikannya tempat beristirahat. Wallahu a’lam.

  3. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, bagaimana hukum ketiduran sewaktu mendengarkan khotbah shaolat jum’at, apakah membatalkan wudhu atau mengurangi pahala sholat jum’at? Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Tidur lelap adalah pembatal wudhu. Jika dia ragu-ragu apakah lelap atau tidak maka dia wajib berwudhu.

  4. redyr said:

    kalau tidur terlentang di masjid diperbolehkan..
    bagaimana dengan tidur tengkurap ustad, apa ada hadis yg menerangkan masalah ini ?

    Ada beberapa hadits yang dihasankan atau dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, yang menunjukkan dilarangnya tidur tengkurap.