Bolehkah Udhhiyah Dimulai 11 Zulhijjah?

November 24th 2009 by Abu Muawiah |

Bolehkah Udhhiyah Dimulai 11 Zulhijjah?

Tanya:
Berhubung tahun ini shalat idul adhha jatuh pada hari jum’at, maka sebagian pengurus masjid yang mengurusi udhhiyah kaum muslimin berinisiatif untuk mengundurkan awal penyembelihan ke hari sabtu, dengan alasan waktunya penyembelihannya mepet karena akan diadakan shalat jum’at pada hari itu di masjid-masjid yang mereka urus. Jika penyembelihan dilakukan pada hari jum’at maka dipastikan tidak akan tuntas semua pengurusannya sebelum jum’at, jika dilanjutkan setelah jum’at maka akan merepotkan, dan jika dilanjutkan keesokan harinya (hari sabtu) maka menurut mereka itu ‘bekerja dua kali’. Karenanya mereka berinisiatif untuk sekalian menyembelih semua udhhiyah pada hari sabtu.
Apakah amalan seperti ini diperbolehkan?
yahya.vila@yahoo.com

Jawab:

Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa awal waktu menyembelih adalah setelah selesainya shalat id sampai dua hari setelahnya (12 Zulhijjah). Lihat pembahasannya di sini.

Adapun jawaban dari pertanyaan di atas maka kami katakan: Kalau masalah boleh tidaknya, maka tidak diragukan akan bolehnya hal tersebut. Karena telah disebutkan bahwa waktu penyembelihan itu dari tanggal 10-12 Zulhijjah, sehingga kapanpun seseorang menyembelih di antara ketiga hari ini maka udhhiyahnya syah, wallahu a’lam bishshawab.

Hanya saja dalam memandang sebuah amalan, terkhusus yang merupakan ibadah, maka tentunya seorang muslim tidak hanya akan memperhatikan boleh tidaknya atau syah tidaknya amalan tersebut. Akan tetapi seorang muslim tentu juga mempertimbangkan mana yang afdhal dan mana yang kurang afdhal, apakah makruh ataukah tidak (walaupun makruh itu boleh dikerjakan dan ibadah tetap syah walaupun makruh).

Maka yang kita bicarakan di sini adalah apakah mengundurkan penyembelihan udhhiyah ke tanggal 11 Zulhijjah (pada tahun ini hari sabtu) adalah hal yang makruh ataukah tidak.
Sangat banyak dalil-dalil baik dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang secara umum memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan serta dalam mencari ampunan dan surga-Nya, berikut di antaranya:
Allah Ta’ala berfirman, “Maka berlomba-lombalah kalian kepada kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148 dan Al-Maidah: 48)
Allah Ta’ala juga berfirman, “Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Al-Hadid: 21)
Dan setelah Allah Ta’ala menggambarkan tentang surga serta semua keindahannya, Dia berfirman, “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)
Maka ketiga ayat ini dan yang semacamnya memerintahkan seorang muslim untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan termasuk di dalamnya menyembelih udhhiyah. Karenanya disunnahkan bagi seseorang untuk bersegera menyembelih udhhiyahnya pada hari pertama sebagai pengamalan terhadap dalil-dalil di atas.
Dan sunnah inilah yang dipahami oleh para sahabat -radhiallahu anhum. Karenanya tatkala  Abu Burdah bin Niyar mengajukan uzurnya kenapa dia menyembelih sebelum shalat id, dia berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ini adalah hari (makan) daging dan saya bersegera menyembelih sembelihanku untuk memberikan makan keluargaku, tetanggaku, dan orang-orang di rumahku.” (HR. Muslim no. 1961)
Dalam riwayat Al-Bukhari no. 912 dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya tadi menyembelih sembelihanku sebelum shalat id karena saya mengetahui kalau hari ini adalah hari makan dan minum dan saya senang kalau kambingku adalah hewan yang paling pertama disembelih di rumahku.”
Maka lihatlah kaum muslimin sekalian -semoga Allah memberikan taufik kepada kita bersama- bagaimana semangat para sahabat untuk berlomba-lomba menyembelih udhhiyah mereka di hari yang pertama, bahkan menjadi yang pertama dari siapapun pada hari itu.

Kemudian, dalil yang kedua akan disunnahkannya untuk menyembelih udhhiyah pada hari pertama adalah disunnahkannya mempersegera memenuhi hak orang-orang miskin. Allah Ta’ala berfirman, “Maka makanlah sebahagian daripadanya (hewan udhhiyah) dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Maka mengundurkan penyembelihan udhhiyah merupakan perbuatan mengundurkan penunaian hak mereka dari hari dimana mereka sepantasnya mendapatkan hak mereka.

Dalil yang ketiga adalah apa yang telah berlalu berupa disunnahkannya tidak makan sebelum berangkat shalat id, tapi hendaknya dia makan setelah shalat id dengan hewan sembelihannya. Buraidah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمُ وَيَوْمَ النَّحْرِ لاَ يَأْكُلُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ نَسِيْكَتِهِ
“Nabi -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali lalu maka sebagian dari hewan korbannya”. (HR. Ahmad: 5/352, At-Tirmizi no. 542, dan Ibnu Majah no. 1756)
Tidak diragukan ini merupakan sunnah fi’liyah (perbuatan) yaitu seseorang makan dari hewan sembelihannya -jika dia menyembelih- setelah pulang shalat id. Maka mengundurkan penyembelihan sampai ke tanggal 11 zulhijjah (tahun ini hari sabtu) menyebabkan ditinggalkannya sunnah ini karena orang tidak bisa memakan sembelihannya sepulang shalat.

Dalil yang keempat adalah bahwa tanggal 10 Zulhijjah dinamakan sebagai idul adhha karena itu adalah hari terjadinya udhhiyah (penyembelihan hewan kurban), karenanya dia juga dinamakan ‘yaum an-nahr’ (hari penyembelihan). Karenanya Ibnu Umar berkata:
اَلْأَضْحَى يَوْمَانِ بَعْدَ يَوْمِ الْأَضْحَى
“Al-Adhha itu sampai dua hari setelah hari adhha.” (Riwayat Malik no. 365)
Maksudnya: Penyembelihan itu berakhir waktunya pada dua hari setelah idul adhha.
Maka tatkala seseorang mengundurkan sembelihan ke tanggal 11 Zulhijjah maka dia telah meninggalkan sunnah udhhiyah di hari dimana seharusnya udhhiyah dikerjakan walaupun dia kerjakan sunnah itu keesokan harinya. Akan tetapi melalui hari adhha (penyembelihan) tanpa adanya satupun penyembelihan adalah perbuatan yang menyelisihi sebab kenapa hari id itu dinamakan idul adhha.

Kesimpulannya:
Berdasarkan semua dalil di atas kami berpendapat mengundurkan penyembelihan ke tanggal 11 Zulhijjah (yang pada tahun ini jatuh pada hari sabtu) adalah hal yang dimakruhkan dengan beberapa sebab:
1.    Tidak berlomba-lomba dalam kebaikan dan mengundurkan waktu penunaian dzimmah (tanggungan).
2.    Mengundurkan penunaian hak orang-orang miskin.
3.    Meninggalkan sunnah makan dari hewan udhhiyah sepulang shalat id.
4.    Membiarkan hari an-nahr (penyembelihan) kosong tanpa adanya penyembelihan.

Solusi:
Ada beberapa cara yang mungkin bisa ditempuh guna menjalankan sunnah:
1.    Menyembelih semua hewan udhhiyah yang sanggup untuk disembelih sebelum jum’at dan dilanjutkan setelah jum’at serta membagikan apa yang sanggup dibagikan pada hari itu. Jika masih ada yang tersisa maka dilanjutkan pada malam hari -selama tidak mengganggu jalannya penyembelihan- atau keesokan harinya. Walaupun ini menurut sebagian orang ‘repot’ karena dipisahkan oleh shalat jum’at, akan tetapi hendaknya seorang muslim berusaha mengerjakan sunnah semaksimal mungkin. Tidaklah pantas seorang muslim meninggalkan sunnah dengan alasan ‘repot’. Apalagi para pengurus masjid yang sudah bersedia menerima udhhiyah kaum muslimin, maka jika dia sudah bersedia menerima amanah tersebut dan itu berarti dia sudah siap menerima semua resiko termasuk di dalamnya lelah, repot, dan semacamnya.
2.    Setiap orang menyembelih udhhiyahnya di rumahnya masing-masing, baik dia sendiri yang menyembelihnya atau dia menyewa tukang sembelih untuk menangani udhhiahnya. Ini tentunya sangat menghemat waktu dan insya Allah satu ekor sapi bisa diselesaikan sebelum jum’at. Yang membuat waktu penyembelihan berlangsung lama di zaman ini adalah karena semuanya disembelih pada satu tempat, satu persatu dan dengan jumlah personil yang terbatas.
3.    Atau penyembelihan bisa dikumpulkan di satu lapangan akan tetapi setiap pemilik udhhiyah mempunyai tukang sembelih tersendiri yang akan memotong dan mengolah (kuliti dan seterusnya sampai tuntas) udhhiyahnya, sehingga semua udhhiyah (kambing/sapi) disembelih dan diolah pada waktu yang bersamaan. Insya Allah semuanya bisa selesai sebelum jum’at, karena disunnahkan pengerjaannya dimulai saat waktu dhuha setelah shalat id.
Wallahu Ta’ala a’lam bishshawab.

Jika Idul Adhha Jatuh Pada Hari Jum’at
Apakah Udhhiyah Boleh Disembelih Hari Sabtu?

Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa awal waktu menyembelih adalah setelah selesainya shalat id sampai dua hari setelahnya (12 Zulhijjah). Lihat pembahasannya di: http://al-atsariyyah.com/?p=1348

Hanya saja berhubung tahun ini shalat idul adhha jatuh pada hari jum’at, maka sebagian pengurus masjid yang mengurusi udhhiyah kaum muslimin berinisiatif untuk mengundurkan awal penyembelihan ke hari sabtu, dengan alasan waktunya penyembelihannya mepet karena akan diadakan shalat jum’at pada hari itu di masjid-masjid yang mereka urus. Jika penyembelihan dilakukan pada hari jum’at maka dipastikan tidak akan tuntas semua pengurusannya sebelum jum’at, jika dilanjutkan setelah jum’at maka akan merepotkan, dan jika dilanjutkan keesokan harinya (hari sabtu) maka menurut mereka itu ‘bekerja dua kali’. Karenanya mereka berinisiatif untuk sekalian menyembelih semua udhhiyah pada hari sabtu.

Masalahnya apakah amalan ini diperbolehkan?
Kami katakan: Kalau masalah boleh tidaknya, maka tidak diragukan akan bolehnya hal tersebut. Karena telah disebutkan bahwa waktu penyembelihan itu dari tanggal 10-12 Zulhijjah, sehingga kapanpun seseorang menyembelih di antara ketiga hari ini maka udhhiyahnya syah, wallahu a’lam bishshawab.

Hanya saja dalam memandang sebuah amalan, terkhusus yang merupakan ibadah, maka tentunya seorang muslim tidak hanya akan memperhatikan boleh tidaknya atau syah tidaknya amalan tersebut. Akan tetapi seorang muslim tentu juga mempertimbangkan mana yang afdhal dan mana yang kurang afdhal, apakah makruh ataukah tidak (walaupun makruh itu boleh dikerjakan dan ibadah tetap syah walaupun makruh).

Maka yang kita bicarakan di sini adalah apakah mengundurkan penyembelihan udhhiyah ke tanggal 11 Zulhijjah (pada tahun ini hari sabtu) adalah hal yang makruh ataukah tidak.
Sangat banyak dalil-dalil baik dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang secara umum memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan serta dalam mencari ampunan dan surga-Nya, berikut di antaranya:
Allah Ta’ala berfirman, “Maka berlomba-lombalah kalian kepada kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148 dan Al-Maidah: 48)
Allah Ta’ala juga berfirman, “Berlomba-lombalah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Al-Hadid: 21)
Dan setelah Allah Ta’ala menggambarkan tentang surga serta semua keindahannya, Dia berfirman, “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)
Maka ketiga ayat ini dan yang semacamnya memerintahkan seorang muslim untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan termasuk di dalamnya menyembelih udhhiyah. Karenanya disunnahkan bagi seseorang untuk bersegera menyembelih udhhiyahnya pada hari pertama sebagai pengamalan terhadap dalil-dalil di atas.
Dan sunnah inilah yang dipahami oleh para sahabat -radhiallahu anhum. Karenanya tatkala  Abu Burdah bin Niyar mengajukan uzurnya kenapa dia menyembelih sebelum shalat id, dia berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ini adalah hari (makan) daging dan saya bersegera menyembelih sembelihanku untuk memberikan makan keluargaku, tetanggaku, dan orang-orang di rumahku.” (HR. Muslim no. 1961)
Dalam riwayat Al-Bukhari no. 912 dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya tadi menyembelih sembelihanku sebelum shalat id karena saya mengetahui kalau hari ini adalah hari makan dan minum dan saya senang kalau kambingku adalah hewan yang paling pertama disembelih di rumahku.”
Maka lihatlah kaum muslimin sekalian -semoga Allah memberikan taufik kepada kita bersama- bagaimana semangat para sahabat untuk berlomba-lomba menyembelih udhhiyah mereka di hari yang pertama, bahkan menjadi yang pertama dari siapapun pada hari itu.

Kemudian, dalil yang kedua akan disunnahkannya untuk menyembelih udhhiyah pada hari pertama adalah disunnahkannya mempersegera memenuhi hak orang-orang miskin. Allah Ta’ala berfirman, “Maka makanlah sebahagian daripadanya (hewan udhhiyah) dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28) Maka mengundurkan penyembelihan udhhiyah merupakan perbuatan mengundurkan penunaian hak mereka dari hari dimana mereka sepantasnya mendapatkan hak mereka.

Dalil yang ketiga adalah apa yang telah berlalu berupa disunnahkannya tidak makan sebelum berangkat shalat id, tapi hendaknya dia makan setelah shalat id dengan hewan sembelihannya. Buraidah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمُ وَيَوْمَ النَّحْرِ لاَ يَأْكُلُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ نَسِيْكَتِهِ
“Nabi -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali lalu maka sebagian dari hewan korbannya”. (HR. Ahmad: 5/352, At-Tirmizi no. 542, dan Ibnu Majah no. 1756)
Tidak diragukan ini merupakan sunnah fi’liyah (perbuatan) yaitu seseorang makan dari hewan sembelihannya -jika dia menyembelih- setelah pulang shalat id. Maka mengundurkan penyembelihan sampai ke tanggal 11 zulhijjah (tahun ini hari sabtu) menyebabkan ditinggalkannya sunnah ini karena orang tidak bisa memakan sembelihannya sepulang shalat.

Dalil yang keempat adalah bahwa tanggal 10 Zulhijjah dinamakan sebagai idul adhha karena itu adalah hari terjadinya udhhiyah (penyembelihan hewan kurban), karenanya dia juga dinamakan ‘yaum an-nahr’ (hari penyembelihan). Karenanya Ibnu Umar berkata:
اَلْأَضْحَى يَوْمَانِ بَعْدَ يَوْمِ الْأَضْحَى
“Al-Adhha itu sampai dua hari setelah hari adhha.” (Riwayat Malik no. 365)
Maksudnya: Penyembelihan itu berakhir waktunya pada dua hari setelah idul adhha.
Maka tatkala seseorang mengundurkan sembelihan ke tanggal 11 Zulhijjah maka dia telah meninggalkan sunnah udhhiyah di hari dimana seharusnya udhhiyah dikerjakan walaupun dia kerjakan sunnah itu keesokan harinya. Akan tetapi melalui hari adhha (penyembelihan) tanpa adanya satupun penyembelihan adalah perbuatan yang menyelisihi sebab kenapa hari id itu dinamakan idul adhha.

Kesimpulannya:
Berdasarkan semua dalil di atas kami berpendapat mengundurkan penyembelihan ke tanggal 11 Zulhijjah (yang pada tahun ini jatuh pada hari sabtu) adalah hal yang dimakruhkan dengan beberapa sebab:
1.    Tidak berlomba-lomba dalam kebaikan dan mengundurkan waktu penunaian dzimmah (tanggungan).
2.    Mengundurkan penunaian hak orang-orang miskin.
3.    Meninggalkan sunnah makan dari hewan udhhiyah sepulang shalat id.
4.    Membiarkan hari an-nahr (penyembelihan) kosong tanpa adanya penyembelihan.

Solusi:
Ada beberapa cara yang mungkin bisa ditempuh guna menjalankan sunnah:
1.    Menyembelih semua hewan udhhiyah yang sanggup untuk disembelih sebelum jum’at dan dilanjutkan setelah jum’at serta membagikan apa yang sanggup dibagikan pada hari itu. Jika masih ada yang tersisa maka dilanjutkan pada malam hari -selama tidak mengganggu jalannya penyembelihan- atau keesokan harinya. Walaupun ini menurut sebagian orang ‘repot’ karena dipisahkan oleh shalat jum’at, akan tetapi hendaknya seorang muslim berusaha mengerjakan sunnah semaksimal mungkin. Tidaklah pantas seorang muslim meninggalkan sunnah dengan alasan ‘repot’. Apalagi para pengurus masjid yang sudah bersedia menerima udhhiyah kaum muslimin, maka jika dia sudah bersedia menerima amanah tersebut dan itu berarti dia sudah siap menerima semua resiko termasuk di dalamnya lelah, repot, dan semacamnya.
2.    Setiap orang menyembelih udhhiyahnya di rumahnya masing-masing, baik dia sendiri yang menyembelihnya atau dia menyewa tukang sembelih untuk menangani udhhiahnya. Ini tentunya sangat menghemat waktu dan insya Allah satu ekor sapi bisa diselesaikan sebelum jum’at. Yang membuat waktu penyembelihan berlangsung lama di zaman ini adalah karena semuanya disembelih pada satu tempat, satu persatu dan dengan jumlah personil yang terbatas.
3.    Atau penyembelihan bisa dikumpulkan di satu lapangan akan tetapi setiap pemilik udhhiyah mempunyai tukang sembelih tersendiri yang akan memotong dan mengolah (kuliti dan seterusnya sampai tuntas) udhhiyahnya, sehingga semua udhhiyah (kambing/sapi) disembelih dan diolah pada waktu yang bersamaan. Insya Allah semuanya bisa selesai sebelum jum’at, karena disunnahkan pengerjaannya dimulai saat waktu dhuha setelah shalat id.
Wallahu Ta’ala a’lam bishshawab.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, November 24th, 2009 at 1:06 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.