Bersuci Dengan Air Hangat

February 25th 2009 by Abu Muawiah |

Bersuci Dengan Air Hangat

Aisyah berkata, “Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- masuk menemuiku sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira (Aisyah) karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni (1/38), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (3/912) dan Al-Baihaqi (1/6) dari jalan Khalid bin Ismail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah.
Ad-Daraquthni berkata setelah meriwayatkannya, “Hadits yang sangat aneh, Khalid bin Ismail adalah rawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya).” Al-Baihaqi berkata, “Tidak shahih.” Ibnu Adi berkata tentang Khalid ini, “Dia sering membuat hadits palsu.”
Khalid didukung oleh empat orang lainnya yang juga meriwayatkan dari Hisyam, yaitu:
1. Wahb bin Wahb Abu Al-Bukhtari. Diriwayatkan oleh Ibnu Adi (3/912) dan Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (3/75). Ibnu Adi berkata, “Wahb lebih buruk keadaannya daripada Khalid.”
2. Al-Haitsam bin Adi. Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam Al-Afrad -sebagaimana dalam Al-La`ali` Al-Mashnuah (2/5). Al-Haitsam ini dihukumi sebagai pendusta oleh Yahya bin Main.
3. Muhammad bin Marwan As-Suddi. Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (5743). As-Suddi ini adalah rawi yang matruk.
Hadits ini mempunyai jalan lain dari Urwah. Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni (1/38) dan Al-Baihaqi (1/6) dari jalan Amr bin Muhammad Al-A’sam dari Fulaih dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah dengan lafazh, “Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melarang kami  untuk berwudhu atau mandi dengan air yang dihangatkan dengan sinar matahari. Dan beliau bersabda, “Itu mengakibatkan penyakit sopak.”
Ad-Daraquthni berkata, “Amr bin Muhammad adalah rawi yang mungkarul hadits (mungkar haditsnya) dan hadits ini tidak benar dari Az-Zuhri.” Ibnu Hibban berkata tentang Amr ini, “Dia sering membuat hadits palsu.”

[Diterjemahkan dari kitab At-Talkhish Al-Habir: 1/140-142 karya Al-Hafizh Ibnu Hajar dengan sedikit ringkasan]

Incoming search terms:

  • mandi junub dengan air hangat
  • Mandi wajib dengan air hangat
  • Mandi besar dengan air hangat
  • bisakah wudhu menggunakan air matang
  • mandi suci pakai air anget boleh tidak
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, February 25th, 2009 at 10:06 am and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Bersuci Dengan Air Hangat”

  1. sso said:

    bismillah.al’afwu kesimpulan dari nukilan diatas bagaimana? mohon ditambahkan dengan penjelasan kesimpulan atau faidahnya,baarokallohu fiikum !

    Barakallahu fiik. Asy-Syafi’iyah berdalil dengan hadits ini dan yang semakna dengannya akan makruhnya bersuci dengan menggunakan air yang dipanaskan dengan matahari. Akan tetapi yang benarnya: Tidak makruh bersuci dengan menggunakan air yang telah dipanaskan, karena lemahnya hadits ini dan semua hadits yang semakna dengannya. Wallahu a’lam.

  2. M.Aziz singkep said:

    السلام عليكم ‎
    Bagaimana hukumnya bersuci dgn air dingin yg dicampur dgn air panas yg sdh dimasak?
    ‎جزاك الله خيرا

    وعليكم السلام ورحمة الله
    Selama air tersebut masih bersifat air mutlak maka dia boleh dipakai berwudhu baik dia panas atau dingin atau hangat. Selama bisa tetap menyempurnakan wudhu dengannya dan tidak menimbulkan mudharat dengan memakai air tersebut. Waiyyakum

  3. nuro said:

    assalamu’alaikum
    pa ustad, bagaimana hukumnya bersuci dengan menggunakan air yang sudah dipanaskan dengan menggunakan kompor gas?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak ada masalah, boleh saja. Hadits yang melarang bersuci dengan air hangat adalah lemah sebagaimana dijelaskan di atas.

  4. jihadi said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Maaf Uztad… kalo pertanyaannya di luar tema.
    Gini, bagaimana bersuci dengan menggunakan air yang sudah pernah dipakai berwudhu (atau bahkan mandi) sebelumnya, tapi airnya masih jernih.

    Pernah saya dengar kalo air yang kurang dari dua KULLAH dalam suatu bak bila terkena najis maka airnya tidak boleh digunakan untuk bersuci. Benarkah hal tersebut????

    Apakah ada penjelasan tentang berapakah ukuran volume air (banyaknya air dalam suatu bak) baru air itu bisa tidak ternajisi sekalipun terkena najis.

    Terima kasih sebelumnya…..

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Air yang sudah dipergunakan sebelumnya dikenal dengan istilah ‘air musta’mal’, sementara air musta’mal adalah suci dan bisa dipakai bersuci menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Kami telah menyinggung masalah ini dalam artikel ‘Bab Air’, silakan disearch.
    Demikian pula masalah air yang kemasukan najis, juga kami telah singgung dalam artikel tersebut.

  5. A.F. masud said:

    Diluar masalah perawi hadist yang kurang kuat, saya personal setuju untuk tidak menggunakan air yang dipanaskan oleh sinar matahari untuk bersuci/wudu dan minum. Pada kondisi tertentu, sinar uv (254 nm) dari matahari akan membunuh bakteri. Masalahnya, spektrum sinar uv di luar
    itu akan menyebabkan perubahan molekul air dan material terlarut lainnya.

    Kalau memang terbukti secara klinis bahwa bersuci dengan air yang dipanaskan dengan sinar matahari bisa menimbulkan efek negatif pada kesehatan, maka kami sependapat akan makruhnya bersuci dengannya. Tapi jika tidak maka kami tidak setuju.

  6. husni said:

    dari penjelasan hadist diatas, bahwa Air yang digunakan adalah Air yang dipanaskan dengan sinar matahari bukan dipanaskan dengan cara dimasak.

    apakah ada hadist lain yang menyebutkan Air panas yang dimasak untuk melakukan wudhu / junub

    wassalam

    Wallahu a’lam. Tapi hukum keduanya sama, keduanya boleh dipakai bersuci jika memang positif aman dari sudut pandang medis.

  7. ibnu mawwaz said:

    ada dalil lain yang menjelaskan boleh nya berwudhu dengan air panas yang dimasak dg api bkan dengan matahari

    1.Diriwayatkan dari Abu Salamah,
    ia berkata ;

    ﻗَﺎﻝَ
    ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ: ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺪَّﻫِﻦُ ﺑِﺎﻟﺪُّﻫْﻦِ ﻭَﻗَﺪْ ﻃُﺒِﺦَ ﻋَﻠَﻰ
    ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَﻧَﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﺑِﺎﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ ﻭَﻗَﺪْ ﺃُﻏْﻠِﻲَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

    “Ibnu Abbas berkata : “Kami (para
    sahabat) menggunakan minyak
    wangi yang dimasak diatas api, dan
    kami juga wudhu dengan air panas
    yang direbus diatas api” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah,
    no.258)

    2.Diriwayatkan dari Ayyub, ia
    berkata ;

    ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﻧَﺎﻓِﻌًﺎ، ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺴَﺨَّﻦِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻛَﺎﻥَ ﺍﺑْﻦُ
    ﻋُﻤَﺮَ ﻳَﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﺑِﺎﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ

    “Aku bertanya pada Nafi’ mengenai
    (penggunaan) air yang dipanaskan,
    beliau menjawab : “Ibnu Umar
    berwudhu dengan menggunakan air
    panas.” (Mushonnaf Ibnu Abi
    Syaibah, no.256)

    Jazakallahu khairan tambahan ilmunya.