Berpuasa Sebelum Ramadhan Karena Ragu

August 6th 2010 by Abu Muawiah |

24 Sya’ban

Berpuasa Sebelum Ramadhan Karena Ragu

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ
“Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnah) maka pada hari itu dia dipersilahkan untuk melaksanakannya”. (HR. Al-Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1802)
Yakni: Jika puasa yang dia biasa kerjakan kebetulan bertepatan dengan sehari atau dua hari sebelum ramadhan maka dia tetap boleh berpuasa.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata;: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal ramadhan) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal syawal). Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh”. (HR. Al-Bukhari no. 1909)
Dari Shilah bin Zufar dia berkata: Ketika kami bersama ‘Ammar bin Yasir lalu dihidangkan kambing yang telah dibakar, dia berkata, “Makanlah.” Maka ada sebagian orang beranjak mundur sambil berkata, “Saya sedang berpuasa.” Maka Ammar berkata:
مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Barang siapa yang berpuasa pada hari syak (yang diragukan) maka dia telah durhaka terhadap Abu Al-Qasim (Rasulullah) shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Abu Daud no. 1987, At-Tirmizi no. 686,An-Nasai no.2159, dan Ibnu Majah no. 1635)
Hari yang diragukan adalah hari yang diperdebatkan apakah hari itu sudah masuk Ramadhan atau masih akhir Sya’ban.

Penjelasan ringkas:
Di antara syarat syahnya niat adalah niat tersebut harus dijazmkan (dipastikan) dan tidak boleh ragu-ragu dalam niat. Hal itu karena semua ibadah dalam Islam dibangun di atas keyakinan, dan karenanya selama seorang muslim belum meyakini sesuatu maka tidak ada kewajiban yang berlaku atasnya.

Termasuk di dalamnya masalah puasa Ramadhan, sungguh tuntunan Islam dalam hal ini sangat mudah. Islam menuntunkan untuk menjadikan hilal sebagai patokan, dan itu sudah lebih dari cukup. Tinggal melihat, jika hilal nampak di tanggal 29 akhir tiap bulan maka berarti besok sudah bulan baru, tapi jika tidak maka bulan tersebut digenapkan menjadi 30 hari dan lusa otomatis sudah masuk bulan baru. Sangat mudah dan insya Allah setiap muslim bisa melakukannya.

Berlandaskan keterangan di atas, maka wajar jika Islam mengharamkan untuk berpuasa sehari atau dua hari sebelum ramadhan dengan niat jaga-jaga kalau-kalau itu sudah masuk ramadhan. Karena itu berarti dia tidak mengerjakan puasa ramadhan di atas keyakinan.

Adapun masalah hilal, maka silakan baca artikel tentang itu di sini: http://al-atsariyyah.com/seputar-hilal.html

Adapun masalah berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan maka:
1.    Diharamkan jika niatnya untuk jaga-jaga atau ragu-ragu. Ini berdasarkan hadits Ammar bin Yasir di atas.
2.    Diperbolehkan jika pada hari itu bertepatan dengan puasa yang biasa dia kerjakan, seperti puasa Daud atau puasa senin kamis. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah di atas.
3.    Larangan pada kedua hadits di atas hanya berlaku untuk puasa sunnah. Adapun bagi yang mempunyai puasa wajib semacam puasa nazar atau puasa qadha` ramadhan tahun lalu, maka dia tetap wajib berpuasa walaupun itu pada sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.
4.    Bagi orang yang tidak biasa memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, maka dia tidak diperbolehkan untuk berpuasa Sya’ban di hari-hari terakhir Sya’ban (yaitu sehari atau dua hari terakhir). Karena amalannya itu bertentangan dengan hadits Abu Hurairah.
5.    Adapun jika dia sudah terbiasa puasa Sya’ban sebulan penuh atau sebagian besarnya setiap tahunnya maka tidak mengapa dia berpuasa di hari-hari terakhir Sya’ban karena itu sudah menjadi kebiasaannya.

Incoming search terms:

  • hukum puasa senin kamis sebelum ramadhan
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, August 6th, 2010 at 4:26 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Berpuasa Sebelum Ramadhan Karena Ragu”

  1. Abu Zaid said:

    BISMILLAH, Ustadz mau tanya teman ana biasa berpuasa tiga bulan penuh yaitu Bulan Rajab, Bulan Syaban dan Ramadhan, apakah puasa tiga bulan ini memang ada dalilnya dan dibenarkan dalam syariat?

    Jazakallahu Kahairan

    Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Rajab dan Sya’ban, akan tetapi jangan sampai satu bulan penuh. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan.

  2. akbar said:

    Asslamaualaikum.. ustadz saya mau tanya.. ada temen saya yang bilan kalo sebulan sebelum puasa ramadhan tidak diperboelhkan puasa sunnah misalnya senin kamis, apakah itu benar ustadz?? tapi kalo saya baca diatas kira2 dua atau tiga hari sebelum ramadhan.. thanks ustadz

    ucapan teman antum keliru karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri banyak berpuasa di Bulan Sya’ban, adapun larangan dalam hadits, itu berlaku sehari atau dua hari sebelum ramadhan khusu bagi yang melakukannya dalam rangka berjaga-jaga, kalau bukan dalam rangka berjaga-jaga maka dibolehkan seperti orang-orang yang memiliki kebiasaan puasa senin-kamis. Baarakallahu fiykum, (MT)

  3. Abu Zaid said:

    Bismillah bgamana ustadz kalau terjadi perbedaan dalam menetapkan 1 ramadhan antara pemerintah indonesia dengan pemerintah arab saudi yang telah melihat hilal dan salah satu ormas islam di indonesia menetapkan satu ramadhan sama dengan arab saudi.
    Pertanyaannya Ustadz :
    1. Apakah keduanya, berpuasa mengikuti pemerintah atau mengikuti ormas islam sesuai dengan arab saudi karena telah melihat hilal ramadhan termasuk berpuasa pada hari yg diragukan untuk berpuasa?

    2. Jika terjadi perbedaan tersebut diatas yang mana seharusnya ana ikuti? sertakan dalilnya ustadz

    Jazakumullahu Khairan

    Berpuasa bersama pemerintah itu lebih utama.