Beriman Kepada Para Nabi dan Rasul Allah

January 19th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Beriman Kepada Para Nabi dan Rasul Allah

Secara bahasa, nabi berarti orang yang mengabarkan dan menyampaikan syari’at dari Allah. Ini adalah definisi kebanyakan ulama bahasa. Adapun secara istilah, nabi adalah hamba Allah yang terpilih, yang diberikan wahyu untuk dia amalkan, baik wahyu yang berupa syari’at baru maupun berupa syari’at nabi sebelumnya. Sedang mengamalkan wahyu adalah dengan menyampaikannya, mendakwahkannya, dan berhukum dengannya.
Adapun rasul, maka kesimpulan para ulama bahasa dalam mendefinisikannya bahwa rasul adalah manusia yang diutus oleh Allah kepada segenap manusia dengan membawa risalah. Secara istilah, rasul adalah hamba Allah yang terpilih yang diberikan wahyu dan diutus kepada kaum yang kafir, terkadang dengan syari’at baru -dan ini kebanyakannya- dan terkadang dengan syari’at rasul sebelumnya.

Kemudian, para ulama menyebutkan ada beberapa perbedaan antara nabi dan rasul. Dan alhamdulillah semuanya telah kami sebutkan di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1292.

Sangat Butuhnya Makhluk Terhadap Terutusnya Rasul
Sesungguhnya kebutuhan makhluk terhadap terutusnya para rasul merupakan kebutuhan yang paling penting yang mengalahkan semua kebutuhan yang paling darurat sekalipun. Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam Zadul Ma’ad (1/15), “… dari sinilah nampak bagaimana betul-betul sangat butuhnya para hamba untuk mengenal sang rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan apa yang beliau bawa, membenarkan apa yang dia khabarkan, dan mentaati apa yang dia perintahkan, karena sesungguhnya tidak ada satupun jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat kecuali melalui perantaraan para rasul, dan tidak ada satupun cara untuk mengetahui yang baik dan yang buruk secara rinci kecuali dari mereka, dan sekali-sekali tidak akan bisa didapatkan ridho Allah selama-lamanya kecuali melalui perantaraan mereka. Maka tidak ada kebaikan dalam semua amalan, ucapan, dan akhlak kecuali tuntunan mereka dan apa yang mereka bawa. Maka mereka adalah tolak ukur yang benar yang mana seluruh akhlak dan amalan (hamba) diukur dengan amalan dan akhlak mereka, dan dengan mengikuti mereka akan nampak mana pengikut kesesatan. Maka kebutuhan (hamba) kepada mereka melebihi kebutuhan badan kepada ruh, kebutuhan mata kepada cahayanya, kebutuhan ruh kepada kehidupannya, dan bagaimanapun mendesaknya dan pentingnya suatu kebutuhan maka kebutuhan hamba terhadap para rasul melebihi semua hal itu. Dan bagaimana menurut kamu mengenai orang yang jika tuntunan dan apa yang datang darinya walaupun sekejap mata maka akan (mengakibatkan) hatimu rusak dan dia (hatimu) akan menjadi seperti ikan jika dia dipisahkan dari air dan diletakkan di padang pasir. Maka keadaan hamba ketika hatinya berpisah dari apa yang para rasul datang dengannya sama seperti (ikan) ini, bahkan lebih parah. Akan tetapi hal ini tidak bisa dirasakan kecuali oleh hati yang hidup karena hati yang mati tidak bisa merasakan sakitnya luka. Jika kebahagiaan hamba di dua negeri (dunia dan akhirat) ditentukan oleh hidayah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- maka wajib bagi setiap orang -yang (mau) menasehati dan menghendaki keselamatan dan kebahagiaan jiwanya- untuk mengetahui petunjuk, sejarah dan keadaan beliau, mengeluarkan dirinya dari jejeran orang-orang yang bodoh terhadapnya (petunjuk Nabi) dan menggolongkan dirinya ke dalam  jejeran pengikut, penolong, dan kelompok beliau. Dan manusia dalam perkara ini ada yang (mendapatkan) sedikit, dan ada yang banyak dan ada yang diharamkan (darinya), dan keutamaan hanya di tangan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Memiliki Keutamaan yang besar”.

Hikmah Terutusnya Nabi dan Rasul
Hikmah Allah yang agung, perhatian Allah yang besar, dan rahmat Allah yang luas mengharuskan adanya hikmah yang sangat mulia dari terutusnya para nabi dan rasul. Di antara hikmah yang Allah nampakkan kepada kita adalah:
1.    Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya, dan tidak mungkin bagi hamba untuk menyembah Tuhan mereka, melaksanakan apa yang dicintai-Nya dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya kecuali melalui tuntunan para rasul, yang mana mereka ini adalah makhluk pilihan Allah dari kalangan manusia.
2.    Sesungguhnya penegakan hujjah atas seluruh hamba akan terjadi dengan terutusnya para rasul. Allah -’Azza wa Jalla- menegaskan:
رُسُلاً مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
“Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (QS. An-Nisa` : 165)
3.    Sesungguhnya akal-akal hamba tidak akan sanggup menggapai perkara-perkara yang gaib, seperti keimanan terhadap kebangkitan, adanya surga dan neraka, para malaikat dan jin, dan yang lainnya. Semua perkara ini hanya bisa diketahui melalui jalur para rasul yang mendapatkan wahyu dari Yang Mengutus mereka, seandainya para nabi dan rasul tidak terutus maka para hamba tidak akan memiliki keimanan terhadap perkara yang gaib.
4.    Jin dan manusia sangat membutuhkan suri tauladan yang baik, yang bersifat dengan sifat-sifat yang paling sempurna yang bisa dicapai oleh seorang hamba, yaitu wahyu dan ‘ushmah (penjagaan dari dosa). Dan tidak ada seorangpun yang bersifat seperti ini kecuali orang-orang yang dipilih oleh Allah, yaitu para rasul, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِرِ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21 )

Nama-Nama Nabi dan Rasul
Yang merupakan aqidah kaum muslimin bahwa tidak ada yang mengetahui jumlah nabi dan rasul secara pasti selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala- yang telah mengutus mereka. Akan tetapi Allah -Ta’ala- telah mengabarkan kepada kita sebahagian dari nama-nama mereka, sehingga kita harus mengimani akan adanya nabi-nabi tersebut secara rinci. Sedangkan nabi-nabi yang tidak Allah khabarkan kepada kita, maka kita wajib beriman kepada mereka secara global.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan:
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ
“Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu”. (QS. An-Nisa` : 164)
Merupakan suatu kaidah yang asasi bahwa tidak boleh menetapkan jenjang kenabian kepada seorangpun kecuali dengan dalil yang shohih dan tegas. Syaikh Muhammad bin ‘Abdilah Al-Imam dalam kitab beliau yang berjudul Tahdzirul Atqiya` min ‘Ibadati Quburil Anbiya` wal Auliya` menyebutkan nama-nama nabi yang tsabit dan yang tidak tsabit dari Al-Qur`an dan Sunnah. Nama-nama nabi dan rasul yang masyhur yang jumlahnya 25 disebutkan oleh seorang penya`ir dalam dua bait sya’irnya:
فِي (( تِلْكَ حُجَّتُنَا )) مِنْهُمْ ثَمَانِيَة            مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَيَبْقَى سَبْعَةُ وَهُمْ
إِدْرِيْسُ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحُ وَكَذَا            ذُوْالْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمُوْا

“Dalam (ayat) “Itulah hujjah Kami” (1)
di antara mereka (para nabi) disebutkan 18 dan masih tersisa 7 (orang).
Mereka adalah: Idris, Hud, Syu’aib, Sholih,
demikian pula Dzul Kifli, Adam, dan semuanya ditutup dengan Sang terpilih (Muhammad)”.

Di antara nabi yang tidak disebutkan namanya oleh penya’ir di atas adalah: Nabi Khidir dan Nabi Yusya’ bin Nun -’alaihimas salam- (HR. Ahmad: 2/325 dari Abu Hurairah)

Para Nabi dan Rasul Adalah Makhluk yang Paling Mulia Secara Mutlak
Bukan perkara yang samar bagi setiap muslim bahwa derajat nabi dan rasul jauh lebih tinggi di atas derajat hamba yang paling sholih dan paling bertaqwa yang bukan seorang nabi atau rasul.
Allah -Ta’ala- menegaskan:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisa` : 69)
Jadi, derajat Ash-Shiddiqin, Asy-Syuhada`, dan Ash-Sholihin seluruhnya tidak akan mencapai derajat seorang nabi, terlebih lagi derajat seorang rasul. Hal ini tentunya jelas, karena tidak mungkin mereka bisa mencapai derajat-derajat tersebut (Ash-Shiddiqin, Asy-Syuhada`, dan Ash-Sholihin) kecuali dengan beriman dan mentaati nabi dan rasul.

Peringatan:
Oleh karena itulah, di antara kebatilan apa yang dinyatakan oleh Ibnu ‘Araby bahwa jenjang tertinggi dalam agama adalah jenjang wali, setelah itu jenjang kenabian, dan yang paling rendah adalah jenjang kerasulan.Apa yang dia nyatakan ini adalah pemutarbalikan hakikat dan tidak tersembunyi kebatilannya dari setiap orang awam dari kaum muslimin, apalagi ulama’nya.

Para Nabi dan Rasul Juga Manusia Biasa
Para Rasul juga adalah manusia yang dicipta oleh Allah, mereka sama sekali tidak mempunyai hak rububiah dan uluhiah. Allah Ta’ala berfirman tentang pimpinan para nabi dan rasul:
قُلْ لاَ أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah (wahai Muhammad): “saya tidak mengatakan kepada kalian, bahwa di sisi saya perbendaharaan Allah, dan tidak (pula) saya mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) saya mengatakan kepada kalian bahwa aku seorang malaikat. saya tidaklah mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”. (Q.S.Al-An’am : 50)
Allah Ta’ala juga memerintahkan beliau untuk berkata:
قُلْ إِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ رَشَدًا
“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Sesungguhnya saya tidak memiliki bagi kalian mudharat dan tidak pula petunjuk”. (QS. Al-Jin: 21)
Dan juga pada firman Allah Ta’ala :
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah (wahai Muhammad) : “saya tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya saya mengetahui yang ghaib, tentulah saya membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan saya tidak akan ditimpa kemudharatan. saya tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188)
Bahkan mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh manusia berupa sakit, mati, makan, minum, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman tentang khalil-Nya, Ibrahim -alaihishshalatu wassalam- dimana beliau berkata, “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).” (QS. Asy-Syu’ara`: 79-81)
Dan Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:
وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي
“Akan tetapi aku ini hanyalah manusia seperti kalian yang bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa, maka jika aku terlupa ingatkanlah.” (HR. Al-Bukhari no. 386 dan Muslim no. 889-893)

Beriman Kepada Para Rasul Mengandung Beberapa Perkara:
Pertama: Mengimani bahwa risalah mereka adalah benar dari Allah Ta’ala. Karenanya barangsiapa yang mengingkari risalah salah seorang di antara mereka maka sama saja dia telah mengingkari risalah semua rasul. Allah Ta’ala berfirman, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’ara`: 105)
Kedua: Mengimani secara terperinci siapa di antara mereka yang kita tidak ketahui namanya, yaitu mereka yang telah kami sebutkan di atas. Adapun yang tidak kita ketahui namanya maka kita beriman kepadanya secara global, sebagaimana di atas.
Ketiga: Membenarkan kabar-kabar dan kisah-kisah tentang mereka selama kabar dan kisah itu benar dan shahih.
Keempat: Mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita, yakni Muhammad -alaihishshalatu wassalam-. Allah Ta’ala berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa`: 65)

Buah Keimanan Kepada Para Rasul
Pertama: Mengetahui rahmat dan perhatian Allah kepada para hamba tatkala Dia mengutus kepada mereka nabi dan rasul yang akan menuntun mereka menuju jalan yang lurus.
Kedua: Bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang besar ini.
Ketiga: Mencintai dan memuliakan para nabi dan rasul -alaihimushshalatu wassalam- karena mereka adalah hamba-hamba yang paling sempurna dalam ibadah kepada-Nya, mereka menyampaikan risalah-Nya, dan menasehati hamba-hambaNya.

____________
(1) Maksudnya adalah ayat 83-86 dari surah Al-An’am, Allah menyatakan:
(( وَتِلْكَ حُجَّتُنَا ءَاتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ. وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ. وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ ))
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada (1)Ibrahim untuk menghadapi kaumnya, Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat, sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan (2)Ishaq dan (3)Ya`qub kepadanya (Ibrahim), masing-masing dari keduanya telah Kami beri petunjuk; dan kepada (4)Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu (5)Daud, (6)Sulaiman, (7)Ayyub, (8)Yusuf, (9)Musa, dan (10)Harun, demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan (11)Zakaria, (12)Yahya, (13)`Isa dan (14)Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan (15)Ismail, (16)Ilyasa`, (17)Yunus, dan (18)Luth, masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)”.
Ini adalah nama 18 nabi, dan sisanya berupa 7 nabi yang lain disebutkan oleh penya’ir tersebut dalam sya’irnya

Incoming search terms:

  • iman kepada nabi dan rasul
  • iman kepada rasul allah
  • iman kepada nabi dan rasul allah
  • nabi dan rasul allah
  • makalah iman kepada nabi dan rasul
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, January 19th, 2010 at 1:06 pm and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

5 responses about “Beriman Kepada Para Nabi dan Rasul Allah”

  1. 'Ammu Hasan el Fawwaz said:

    Assalamu’alaikum,,
    afwan, izin copas artikelnya. buat ana baca offline (ga nyaman kalo baca langsung di layar desktop)

    Waalaikumussalam.
    Silakan.

  2. Qorry Rahmaliya Manurung said:

    Assalamualaikum
    akhi,tlong donk lebih lengkap informasinya… karna ana lg butuh sekali ne.

    Waalaikumussalam.
    Info bagian mananya yang kurang?

  3. fandi said:

    Makasih informasinya

  4. Abu muthmainnah said:

    bismillah

    afwan ustad ada titipan pertanyaan teman, apakah ada nabi atau rasul yang di utus untuk untuk bangsa jin ? Apakah jin juga mempunyai kitab sebagaimana kitab yang di miliki kalangan manusia ?

    Jazakallahu khair atas jawabannya

    Tidak ada nabi dari kalangan jin, menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Mereka tidak mempunyai kitab selain kitab suci nabi mereka masing-masing.

  5. Anggun Kusuma Wardani said:

    Artikelnya bagus.
    ane suka mbaca artikel diiringi dengan suara-suara ayat sucu al quran.