Berdoa setelah shalat wajib

November 7th 2008 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Berdoa Setelah Sholat Wajib

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ ؟ قَالَ : جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ.

“Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Ada yang berkata : Wahai Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, do’a apakah yang paling didengar (mustajabah)?”, beliau menjawab : “(Do’a di) seperdua malam terakhir dan (do’a di) dubur (akhir) sholat-sholat yang diwajibkan”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa`i dalam Sunan Al-Kubro (6/32/9936) dan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (1/186/108) dan Imam At-Tirmidzy (5/526/3499), serta dikeluarkan pula oleh Imam ‘Abdurrozzaq dalam Al-Mushonnaf (2/424/3948) dengan konteks yang agak panjang, semuanya dari jalan Ibnu Juraij –‘Abdul Malik bin ‘Abdil ‘Aziz- dari ‘Abdurrahman bin Sabith dari Abu Umamah Al-Bahily radhiallahu ‘anhu.
Hadits di atas adalah hadits yang lemah karena adanya keterputusan dalam sanadnya, ‘Abdurrahman bin Sabith tidak mendengar dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu.
Yahya bin Ma’in berkata: “Dia (‘Abdurrahman bin Sabith) tidak mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, tidak pula dari Abu Umamah dan tidak pula dari Jabir”. Lihat Jami’ut Tahshil hal. 222.
Yahya bin Sa’id Al-Qoththon –sebagaimana dalam Nashbur Royah (2/235)- berkata: “Dan ketahuilah bahwa apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrahman bin Sabith dari Abu Umamah tidaklah bersambung, akan tetapi riwayatnya terputus, dia (‘Abdurrahman bin Sabith) tidak mendengar darinya”.
Adapun tadlis Ibnu Juraij, maka tidak berbahaya, karena dia telah menegaskan bahwa dia mendengar hadits ini dari ‘Abdurrahman bin Sabith dengan perkataannya “mengabarkan kepadaku ‘Abdurrahman bin Sabith” sebagaimana bisa dilihat dalam riwayat ‘Abdurrozzaq di atas.

Catatan :
Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/273) bahwa Ibnu Abid Dunya meriwayatkan sebuah hadits dengan lafadz :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسلَمَّ فَقَالَ : أَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ ؟, قَالَ : جَوْفَ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ, قَالَ : أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ ؟, قَالَ : دُبُرَ الْمَكْتُوْبَاتِ

“Datang seorang lelaki kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam lalu bertanya : “Sholat apakah yang paling utama?”, beliau menjawab : “(Sholat di) tengah malam yang pertengahan”, dia bertanya (lagi) : “Do’a apakah yang paling didengar (mustajabah), beliau menjawab : “Dubur (akhir) (sholat-sholat) yang diwajibkan”.
Dan kami tidak mendapatkan di mana Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan hadits ini sehingga bisa dilacak, apakah hadits ini juga dari Abu Umamah atau dari yang lainnya. Hanya saja ada kaidah yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa jika sebuah hadits diriwayatkan hanya oleh Ibnu Abid Dun-ya saja maka itu adalah hadits yang lemah. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Incoming search terms:

  • doa setelah sholat
  • doa setelah sholat wajib
  • sholat wajib
  • shalat wajib
  • doa setelah shalat wajib
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, November 7th, 2008 at 11:30 pm and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

28 responses about “Berdoa setelah shalat wajib”

  1. M.Aziz singkep said:

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Apakah bisa kita katakan berdoa setelah sholat wajib itu bid’ah? Bolehkah berdoa pd saat sujud atau tasyahhud akhir sebelum salam menurut kehendak kita? Jazakumullahu khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    1. Jika berdoa setelah shalat wajib dijadikan sebagai sebuah kebiasaan dan hanya membatasi doa hanya pada waktu itu, maka ini adalah bid’ah. Karena para ulama menyebutkan sebuah kaidah yang berbunyi: ‘Mengkhususkan sebuah ibadah yang bersifat umum tanpa dalil yang shahih maka itu adalah bid’ah’. Doa asalnya disyariatkan kapan saja, sehingga tatkala dia hanya dibatasi pada waktu itu dan dijadikan sebagai kebiasaan maka itu adalah bid’ah.
    Dan Syaikh Al-Albani di akhir Ahkam Al-Janaiz juga menyebutkan sebuah kaidah yang berbunyi: ‘Setiap amalan yang berlandaskan pada hadits yang lemah maka amalan itu adalah bid’ah’. Hanya saja penerapan kaidah ini tentunya kembali kepada penilaian seorang alim terhadap hadits yang bersangkutan. Bagi yang menganggapnya shahih maka amalan itu bukan bid’ah dan demikian pula sebaliknya.
    Adapun jika berdoa setelah shalat wajib ini hanya dikerjakan sesekali, tidak dijadikan sebagai kebiasaan dan tidak membatasi doa hanya pada waktu tersebut, maka ini tidaklah dikatakan bid’ah, walaupun dikatakan sebagai perbuatan yang keliru, wallahu a’lam.
    2. Boleh saja berdoa dengan apa saja yang kita kehendaki di dalam semua sujud dan sebelum salam, dengan syarat:
    1. Tidak boleh dari Al-Qur`an, karena Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya saya dilarang membaca Al-Qur`an dalam keadaan saya sujud.”
    2. Harus dalam bahasa arab, karena semua ucapan selain bacaan shalat yang diucapkan dengan sengaja maka itu membatalkan shalat.
    Adapun jika diucapkan dalam hati dalam bahasa indonesia maka itu tidaklah dinamakan doa akan tetapi kalamun nafsi (ucapan dalam diri), karena doa itu harus terlafazhkan, wallahu a’lam.

  2. M.Aziz singkep said:

    Bismillah. Ustadz, ana mau tanya tentang posisi imam pd saat berzikir setelah solat wajib, apakah menghadap kiblat atau samping atau ke ma’mum? Jazaakumullahu khoiron wa baarokallahu fiikum

    Setelah salam, dia baca istighfar 3 kali secara sirr lalu bertakbir dengan suara keras (terserah berapa kali), lalu membaca: Allahumma Anta As-Salam wa minka as-salam tabarakta yaa Dzal jalali wal ikram. Setelah itu baru berbalik ke jamaah dan melanjutkan zikir lainnya.
    Demikian diterangkan dalam hadits Ummu Salamah. Adapun berbaliknya beliau kepada ma’mum untuk berzikir maka banyak hadits yang menunjukan hal itu, sebagiannya ada dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

  3. M.Aziz singkep said:

    Jazakumullahu khairan atas jawabannya, tolong tuliskan teks haditsnya ttg imam menghadap ke jama’ah pd saat berzikir agar saya dapat menunjukkan kpd teman2 ! Baarokallahu fiikum

    Waiyyakum. Hukum ini (berzikir) menghadap jamaah tidaklah terambil dari satu hadits, akan tetapi terambil dari beberapa hadits dimana semuanya menunjukkan setelah shalat Nabi menghadap ke makmum. Di antara lafazhnya adalah dalam hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani riwayat Al-Bukhari no. 810 dan Muslim no. 71:
    فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ
    “Setelah beliau selesai shalat, beliau menghadap orang-orang (jamaah).”
    Juga dari hadits Anas dia berkata:
    ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ بَعْدَ مَا صَلَّى
    “Kemudian beliau menghadapkan wajkahnya kepada kami setelah beliau shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 630)
    Juga dari hadits Samurah bin Jundub dia berkata:
    كَانَ النبي صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ
    “Jika Nabi -shallallahu alaihi wasallam- sudah selesai mengerjakan shalat maka biasanya beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.” (HR. Al-Bukhari no. 809)
    Karenanya berdasarkan hadits-hadits ini yang lainnya, Imam Al-Bukhari membuat satu bab khusus dalam Shahih Al-Bukhari untuk menetapkan sunnah ini, dengan judul: Imam Menghadap Jamaah Selepas Shalat. (jilid 1 hal. 290), setelah itu beliau menyebutkan ketiga hadits di atas. Wallahu a’lam

  4. Iskandar Badrun said:

    Assalamu’alaykum…
    Maaf ustadz… Bukankah Al-Albani menshahihkan hadits tersebut di atas? dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 no.2782.
    Bukankah beliau adalah Muhadits terbaik&terpercaya dlm abad ini?
    Jazakallohu khoir…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak kita ragukan bahwa beliau adalah ahli hadits di zaman ini bahkan tidak berlebihan kalau kita katakan beliau yang terbaik. Hanya saja itu tidak mengharuskan semua hadits yang beliau shahihkan adalah shahih dan demikian pula sebaliknya.
    Jangankan beliau, Imam sekaliber At-Tirmizi, An-Nasai di zaman dahulu, dan juga Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar di zaman belakangan, tidak ada seorang pun dari mereka yang hukumnya terhadap hadits selalu tepat.
    Tidak ada seorangpun yang mengumpulkan semua ilmu, sebesar apapun ilmu seseorang pasti tetap ada yang dia keliru di dalamnya.
    Karenanya barangsiapa yang tidak punya ilmu musthalah maka silakan dia bertaqlid kepada ulama yang dia percayai, dan barangsiapa yang mempunyai ilmu musthalah yang dengannya dia bisa memeriksa sendiri dalil sebuah masalah, maka tidak diperkenankan dia untuk bertaklid kepada siapapun. Dan dalam hal ini kami berpendapat lemahnya hadits tersebut.
    Ini bukan berarti kami menempatkan diri kami setara dengan Asy-Syaikh Al-Albani, tidak sama sekali. Karena perbuatan ini adalah kekurangajaran kepada beliau -rahimahullah-. Hanya saja setiap orang akan dihisab pada hari kiamat sesuai dengan ilmu yang dia miliki, dan dengan ilmu kami, kami berpendapat lemahnya hadits tersebut. Wallahu a’lam.

  5. nur said:

    assalamu’alaikum ..
    ‘afwan ustadz ana mau bertanya tentang berdo’a ketika sedang sujud atau sebelum salam, diantara syaratnya yang diatas 1. Tidak boleh dari Al-Qur`an, karena Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya saya dilarang membaca Al-Qur`an dalam keadaan saya sujud.”
    apakah boleh kita mengambil do’a-do’a dari hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Beliau contohkan untuk kita berdo’a ketika sedang sujud atau sebelum salam?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia boleh, bahkan itulah yang terbaik dibandingkan kita merangkai doa sendiri walaupun dalam bahasa arab. Bahkan imam Ahmad menyatakan harusnya berdoa dengan doa-doa yang telah diajarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dan tidak merangkai doa sendiri. Wallahu a’lam

  6. Wahyu Bin Khutsaim said:

    Assalaamu ‘alaikum
    ‘afwan ana mau bertanya tentang jawaban atas pertanyaan akh M.Aziz di atas. Di situ dijawab bahwa setelah beristighfar, bertakbir dengan suara yang keras(terserah berapa kali). Sepengatahuan ana, bertakbir apalagi dengan suara yang di Jahr kan tidak terdapat dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohon penjelasannya. Syukran.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Alhamdulillah sekarang pengetahuan antum bertambah akan disunnahkannya menjahrkan takbir sehabis shalat wajib, berikut dalilnya:
    Dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- beliau berkata:
    مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بِالتَّكْبِيرِ
    “Kami tidak mengetahui selesainya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dengan suara takbir.” (HR. Muslim no. 918)
    Sebagian ulama menyatakan bahwa waktu itu Ibnu Abbas masih kecil dan sedang berada di luar masjid ketika Nabi sedang shalat. Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa Ibnu Abbas berada pada shaf-shaf terakhir. Dan pada kedua keadaan ini, Ibnu Abbas tidak mengetahui kalau Nabi sudah selesai shalat kecuali dengan suara takbir yang bergemuruh dari dalam masjid atau dari shaf-shaf yang terdepan. Wallahu a’lam

  7. Lagi Belajar islam said:

    Assalamualaikum.Ustadz sya mau bertanya,apa hukumnya kita nton film2 kartun atau animasi, berkaitan ttg haramnya gambar?Bgmn kalau film animasi utk pendidikan/agama.Kalau antum berkenan dikrim juga ke email sya andiairlangga@yahoo.co.id .Syukron.Smoga Allah membalas kebaikan Anda

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Melihat gambar bukanlah hal yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana melihat patung bukanlah hal yang terlarang. Karenanya hukum asal melihat gambar animasi adalah boleh, kecuali jika di dalamnya ada unsur yang melanggar syariat. Wallahu a’lam

  8. Armand said:

    Assalamu’alaikum..
    `afwan ustad mengenai hadits Nabi -shallallahu alaihi wasallam- “Sesungguhnya saya dilarang membaca Al-Qur`an dalam keadaan saya sujud”, kalau diniatkan untuk berdoa bukannya boleh?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Wallahu a’lam, hal itu tetap terlarang walaupun dia niatkan doa selama lafazhnya sama persis dengan ayat Al-Qur’an. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas berlaku umum dan tidak membedakan dalam masalah niat.

  9. ikhwan said:

    Assalamu’alaikum…

    afwan ustadz, bukankah ada doa yang terdapat dalam Al-Qur’an, bolehkah kita membacanya dalam sujud?

    apakah berlama2 untuk berdoa di sujud terakhir sebelum tahiyat akhir itu bid’ah?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Ia ada, tapi yang boleh dibaca hanyalah doa yang terdapat dalam hadits atau yang dikarang sendiri dalam bahasa arab, tidak boleh doa yang berasal dari Al-Qur`an.
    Itu bukanlah bid’ah, hanya saja jangan mengkhususkan doa hanya pada sujud yang terakhir, karena dalilnya berlaku umum pada semua jenis sujud ibadah.

  10. masjoy said:

    ane mw tanya nih, klo doa yg ini blh?
    Setelah selesai tasyahhud akhir disunnahkan untuk berlindung kepada Allah dari empat perkara, sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Apabila seorang dari kami selesai tasyahhud hendaklah berlindung kepada Allah dari empat perkara, yaitu ia berdoa: Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah Al-Masih Dajjal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    klo hadist yg ini:

    Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam juga bersabda tentang berdoa setelah selesai tasyahhud akhir: “…Kemudian hendaklah ia memilih doa yang ia sukai lalu ia berdoa dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    mohon tanggapanya… syukron

    Ia, kedua hadits tersebut sebaiknya diamalkan.

  11. masjoy said:

    jadi klo hadist yg kedua ane sebutin td: Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam juga bersabda tentang berdoa setelah selesai tasyahhud akhir: “…Kemudian hendaklah ia memilih doa yang ia sukai lalu ia berdoa dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    brarti gk harus pake bhs arab? blh doa sesukanya?

    Memilih doa yang dia sukai maksudnya isi doanya terserah dia, akan tetapi tetap harus dalam bahasa arab karena dia sedang berada di dalam shalat.

  12. Amatullah said:

    Setelah salam, dia baca istighfar 3 kali secara sirr lalu bertakbir dengan suara keras (terserah berapa kali), lalu membaca: Allahumma Anta As-Salam wa minka as-salam tabarakta yaa Dzal jalali wal ikram. Setelah itu baru berbalik ke jamaah dan melanjutkan zikir lainnya.
    Demikian diterangkan dalam hadits Ummu Salamah. Adapun berbaliknya beliau kepada ma’mum untuk berzikir maka banyak hadits yang menunjukan hal itu, sebagiannya ada dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

    ‘Afwan Ustadz, bukankah yang dimaksud dengan «”… lalu bertakbir dengan suara keras (terserah berapa kali)”» adalah takbir yang didzikirkan sebanyak 33 kali seperti halnya tasbih dan tahmid dengan jumlah yang sama? Jazakumullahu khairan atas jawaban Ustadz.

    Wallahu a’lam, lahiriahnya berbeda. Karena dalam hadits disebutkan 3 kali sementara hadits zikir itu 33 kali.

  13. ummu 'abdillahi said:

    bismillah.

    assalamu’alaikum, ya ustadz, hafizhakumullah.
    terkait dengan pertanyaan poin ke 2 diatas,
    bagaimana jika yang menjadi imam adalah seorang perempuan (mengimami perempuan lain).
    apakah disyari’atkan baginya untuk menghadap ke makmumnya setelah ia membaca beberapa dzikir diatas (meskipun sang imam berada sejajar dengan makmum)?
    karena ana lihat ada sebaaian orang (perempuan) yang mengimami perempuan lain, setelah membaca beberapa dzikir, ia maju dulu kedepan, baru menghadap ke makmum.
    apakah hal ini masyru’?

    jazakumullahu khairan

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Wallahu a’lam, yang nampak itu hanya disunnahkan jika imam memang berada di depan. Jika dia sejajar dengan makmum maka tidak disyariatkan hal seperti itu karena tidak adanya dalil. Dan menurut saya, imam sengaja maju ke depan hanya agar bisa menghadap ke makmum merupakan amalan takalluf (berlebihan), wallahu a’lam.

  14. arya said:

    Assalamu’alaikum.Ustadz,Apa hukum mengagkat kedua tangan pada saat berdoa,setelah sholat wajib ?

    Waalaikumussalam. Tidak disyariatkan, wallahu a’lam

  15. amintarada said:

    asssalamualaikum wr hb,,ustadz
    saya mau tanya ne

    1. bolehkah kita selesai shalat sunnat,,membaca zikir yg lafaznya sama dgn zikir selepas shalat fardu,,dan berdoa,spt setelah shalat rawatib atau tahiyyatul mesjid,,dan kl mmg tdk boleh amalan apa yg hrs di kerjakan,,stelah shalat sunnat menjelang menunggu berdirinya shalat fardhu?? dan jumat

    2. jika kita wudhu di mesjid trs msk ke mesjid,,mengerjakat shalat sunnat wudhu,,benarkah itu udah otomatis kita mngerjakan shalat tahiyyatul mesjid,,tdk perlu mengrjkn shalat tahiyyatul lg,,dan kt juga ttp berkeinginaan mlakukan shalat tahiyyatul,,apa blh spt itu ustadz,???

    3sewktu mengacungkan jari telunjuk pada saat tahiyyat,,apa kah dari awal bacaan atahiyatul telunju udah acungkan dan di gerakkan,,trs sebelum salam kl kita membaca doa berdoa,,apakah jari telunjuk msh di acungkan jg??

    4. apa betul doa waktu sujud dan sebelum salam tdk blh di ambil dari al-quran,,Jd kl doa sapu jagad,,robbana atina fiddunya………itu jg tdk blh di ucapkan dlm sujud atau sebelum salam. trs ada ustad yg mengatakan tdk masalah kl berdoa dari al-quran pada wkt sujud atau sbelum salam…mohon bimbingan dan pencerahannya.

    5.apa hukumnya bagi laki2 shalat memakai perhiasan yt terbuat dari emas???

    6. berdoa di waktu antara azan dan iqomat adalah waktu yg di anjurkan,,,maksdnya gimana ustadz??? apakah selesai membaca doa setelah azan,,atau setelah shalat qobliyah.

    terimakasi atas bimbingannya

    wassakam

    Waalaikumussalam
    1. Sebaiknya dia berdoa karena doa antara azan dan iqamah itu mustajabah.
    2. Ia betul, shalat sunnah wudhu itu sudah menutupi shalat tahiyatul masjid sehingga dia tidak perlu melakukannya lagi. Kalau dia masih mau shalat maka silakan dia melakukan shalat rawatib qabliah.
    3. Ia, diacungkan sejak dari awal tahiyat sampai akhir doa.
    4. Yang benarnya tidak boleh membaca ayat-ayat Al-Qur`an dalam ruku’ dan sujud. Adapun sebelum salam maka silakan dia membaca doa darimana saja sesuai kehendaknya, karena tidak ada dalil yang melarang dari Al-Qur`an. Wallahu A’lam.
    5. Lelaki diharamkan memakai sesuatu dari emas, baik itu perhiasan atau jam tangan atau selainnya.
    6. Ia, setelah dia membaca doa setelah azan walaupun dia tidak shalat qabliah.

  16. thevy said:

    Asslamuallaikum wr.wr

    ustad bsa tlong jlaskan mksud dri :

    1.”jka mmbca doa stlah shlat wjib di jdikan sbgai kbiasaan dan mmbatasi ayat ny hnya pd wktu itu d sbut bid ‘ ah”,,,,tlong jlasan dg bhsa yg mdah untuk dcrna,soal ny sya tdak mngrti….

    2.jelas bgaimana cra mmbca doa ktka sjud sblum slam yg bnar….dan ap kah ad prbdaan antra brdoa ssdah slam dg brdoa sblum slam,,,,,

    Waalaikumussalam
    Tolong soalnya diperjelas, kami kurang paham.

  17. Ian said:

    Bismillah. Ustadz, sebelumnya saya mohon maaf kalau saya menanyakan pertanyaan yang tidak sesuai dengan artikel yang anda tulis. Saya ingin menanyakan tentang hukum gambar. Gambar seperti apa yang diharamkan dalam islam, bagaimana dengan gambar manusia yang telah dihapus wajahnya? Jazakallohu khoiron.

    Silakan baca artikel ‘hukum menggambar dalam Islam’.

  18. akhifa danie aceh said:

    maaf ustad, saya tambahkan sedikit jawaban tentang pertanyaan dari saudara amintarada tentang dzikir setelah shalat sunat, setahu saya selama saya belajar agama di dayah / pesantren istilah org di luar aceh, dzikir itu boleh dimana dan kapan saja asal bukan tempat yg tidak terpuji, semisal di Toilet dan tempat pengbuangan sampah dan yang seumpama dengan keduanya,
    kedua, masalah mengangkat jari telunjuk pada tahiyat awal dan akhir bukan dari pertama tahayat tapi saat kita mengucapkan syahadat, yaitu di mulai pada kata “illallah’ hingga sampai shalawat pada tahayat awal dan hingga salam pada tahayat akhir, demakian ini lil itba’ mengikuti perbuatan nabi seperti yg di ajarkan dalam kitab fiqh mazhab syafi’i kitab “ianatut thalibin”.
    kemudian masalah hukum menggunakan perhiasan emas bagi laki-laki dalam shalat, menggunakan perhiasan emas bagi lelaki hukumnya haram,kapan saja, baik dlm shalat maupun di luar sholat, jika di gunakan dlam sholat hukumnya sholatnya tetap sah selama emas itu bukan barang bernajis atau tidak mutanajjis, cuma perbuatannya memakai emas haram. namun sholatnya tetap sah, sama hukumnya seperti menggunakan sarung curian untuk shalat, maka mencuri sarung hukumnya haram, sedang kan sholat dengan kain curian tetap sah, karena syarat sah sholat di antaranya mengunakan pakaian dan tempat yg suci, perkara itu pakaian hasil curian, itu masalah lain.
    wallahu’alam bissawab !
    mohon maaf sudah menambahkan

  19. khurotu said:

    Assalaamu’alaikum Wr.Wb.
    Sebelumnya saya mohon maaf. Menanggapi jawaban dari akhifa danie kalau dzikir itu boleh dimana dan kapan saja asal bukan tempat yg tidak terpuji, semisal di Toilet dan tempat pengbuangan sampah. Bagaimana kalau orang yang mmepunyai pekerjaan yang sehari-harinya ditempat sampah. apakah dia (katakannlah pak/bu tukang sampah)tidak boleh berdzikir pada waktu dia bekerja? terimakasih.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja. Para ulama hanya menyebutkan larangan di dalam wc, bukan di tempat pembuangan sampah.

  20. soni said:

    assalamualaikum

    saya mau bertnya ustadz .. jadi kapan kita harus berdo’a ,adakah dalil yang menyuruh kita berdo’a selain ketika akhir shalat/salam.. pada waktu kapankah sehingga do’a kita bisa di jadikan suatu kebiasaan dan tidak menjadi bid’ah
    tolong d jawab besrta dalil”nya

    terimakasih

    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Banyak sekali, di antaranya: Antara azan dan iqamah, setiap 1/3 malam terakhir, ketika safar, jumat sore antara ashar dengan maghrib. Dalil-dalilnya bisa dicari dalam artikel2 tentang doa mustajabah yang sudah kami tulis dalam kategori ‘Zikir dan Doa’.

  21. beni said:

    assalamualaikum

    pak ustadz saya mau bertanya.

    do’a apa sajakah yang rasulullah baca ketika sehabis membaca tasyahud/ akhir salam..

    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Ada banyak doa di situ, silakan baca kitab Sifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.

  22. Fatih said:

    Terimakasih atas pencerahannya, selama ini banyak sekali ternyata ibadah-ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan rasulullah SAW….

  23. Yudha Nhara said:

    Alhamdulillah secara tidak langsung semua pertanyaan yang akan aku tanyakan terjawab sudah.

  24. hasan ibnu said:

    assalamualikum war wab, bagaimana kalau seorang clening servis. dia kerjanya membersihkan tolet setiap hari, apakah sambil kerja tentunya di toilet sambil berzikir itu tidak boleh? terimakasih sblmnya.

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja. Tidak ada dalil yang melarang. Wallahu a’lam.

  25. Agus Wahyudi said:

    Pk Ustadz boleh tidak berdo’a anatar azan iqomah dng tangan diangkat dan dengan do’a pakai bhs indonesia

    iya boleh. (MT)

  26. anoyoms said:

    assalamu’alaykum..

    pak ustadz mau bertanya bolhkan kita berdo’a sesudah shalat tahajud dan dhuha..?
    adakah dalilnya

    terimakasih

    wassalamualaykum..

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, tidak ada masalah.

  27. Masduki said:

    Assalamu’alaikum ustadz..
    1.Saya minta tlg ditunjukkan tentang hadits yg mengacungkan telunjuk kemudian digerak-gerakkan pada tasyahud awal maupun akhir.masalahnya dulu sewaktu saya dipondok LDII,saya diajarkan sholat dg cara demikian (mengucungkan telunjuk sambil digerakkan).tapi saya blm melihat langsung dalilnya.Lalu setelah saya keluar dr sana dan masuk Al Irsyad,saya bru melihat sndr dlm sebuah kitab bahwa ada dalil yg berkaitan dg itu.Akhirnya semenjak itu baru saya yakin untuk mengamalkannya,krn sesuai dg cara Rosullullah.Nah,mslhnya skrg saya sdh lupa bunyi dalilnya.
    2.Dalam kitab yg saya baca sewaktu di Al Irsyad.saya jg melihat dalil yg menyebutkan sholawat yg diajarkan Rosulullah bukanlah “kama shollaita ala ibrohim wa ala ali ibrohim” melainkan “kama shollaita ala ali ibrohim” begitu pula “kama barokta ala ali ibrohim”.Jadi,yg dimaksud bknlah ibrohim melainkan lgsg pada keturunan ibrohim as.
    Mohon minta tanggapannya ya ustadz.Jazakallahu khairon katsiro

    Waalaikumussalam.
    Silakan dibaca penjelasannya ke2 masalah di atas di buku Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Al-Albani. Insya Allah banyak yang bisa didownload di internet.

  28. anoyoms said:

    assalamu’alaykum..

    bolhkah kita sehabis shalat tahajud dan dhuha kemudian berdo’a?

    adakah dalil’a

    Waalaikumussalam.
    Jika shalat tahajjudnya dilakukan di 1/3 malam terakhir, maka 1/3 malam terakhir adalah waktu mustajabah untuk berdoa.
    Adapun setelah shalat duha, maka tidak mengapa berdoa asal tidak dijadikan kebiasaan. Wallahu a’lam.