Bentuk-bentuk Jual Beli

May 15th 2015 by Abu Muawiah |

Bentuk-bentuk Jual Beli

C.    Bentuk-Bentuk Jual Beli.
Transaksi jual beli bisa dibagi menjadi beberapa bentuk, berdasarkan beberapa sudut tinjauan. Berikut uraiannya:
1.    Berdasarkan jenis obyek transaksi, jual beli terbagi menjadi:
a.    Jual beli uang dengan barang. Asal konotasi jual beli merujuk kepada bentuk ini.
Contoh:
Membeli mobil dengan mata uang rupiah.
b.    Jual beli barang dengan barang. Dikenal juga dengan istilah muqayadhah (barter).
Contoh:
Barter buku dengan jam tangan.
c.    Jual beli uang dengan uang. Dikenal juga dengan istilah sharf (transaksi mata uang).
Contoh:
Transaksi mata uang rupiah dengan riyal.

2.    Berdasarkan waktu serah-terimanya, jual beli terbagi menjadi 4 bentuk:
a.    Barang dan uang keduanya diserahkan secara tunai. Ini merupakan bentuk asal jual beli.
b.    Pembayaran dilunasi di muka, sementara barangnya menyusul belakangan pada waktu yang telah disepakati. Jual beli ini dinamakan dengan istilah salam.
c.    Barang diserahkan di muka, sementara pembayarannya menyusul. Jual beli ini disebut juga dengan istilah bai’ ajal.
Contoh:
Membeli barang dengan menggunakan kartu kredit.
d.    Baik uang dan barangnya, keduanya tidak tunai (diserahkan belakangan). Disebut juga dengan istilah bai’ dain bi dain (jual beli hutang dengan hutang).

3.    Berdasarkan cara menetapkan harga barang, jual beli terbagi menjadi:
a.    Jual beli musawamah (tawar-menawar).
Jual beli dimana penjual tidak menyebutkan harga modal barang (kepada pembeli), melainkan langsung menetapkan harga tertentu, namun masih membuka peluang untuk ditawar. Inilah bentuk asal dari jual beli.
b.    Jual beli amanah.
Jual beli dimana pihak penjual menyebutkan harga pokok barang, lalu dia menyebutkan harga jual barang tersebut. Transaksi jual beli seperti ini terbagi lagi menjadi 3 bentuk:
1.    Jual beli murabahah. Dimana penjual menyebutkan harga modal barang dan keuntungannya.
Contoh:
Penjual mengatakan: Barang ini saya beli dengan harga Rp. 10.000,- dan saya jual dengan harga Rp. 11.000,-, atau saya jual dengan keuntungan 10% dari modal.
2.    Jual beli wadh’iyah. Dimana penjual menyebutkan harga modal barang, lalu dia menjualnya di bawah harga modal.
Contoh:
Penjual mengatakan: Barang ini saya beli dengan harga Rp. 10.000,- dan saya jual dengan harga Rp. 9.000,-, atau saya potong 10% dari modal.
3.    Jual beli tauliyah. Dimana penjual menyebutkan harga modal barang, lalu dia menjualnya dengan harga yang sama.
Contoh:
Penjual mengatakan: Barang ini saya beli dengan harga Rp. 10.000,- dan saya jual dengan harga modal.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, May 15th, 2015 at 9:55 am and is filed under Ekonomi Islam. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.