Beberapa Hukum Shalat Tarawih

August 9th 2011 by Abu Muawiah | Kirim via Email

09 Ramadhan

Beberapa Hukum Shalat Tarawih

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa menegakkan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 36 dan Muslim no. 1266)
Makna ‘iman dan mengharap pahala’ adalah membenarkan pahalanya dan menghendaki dengannya wajah Allah, serta berlepas dari riya` dan sum’ah.
Makna ‘diampuni dosa-dosanya yang telah lalu’ adalah semua dosa-dosa kecilnya akan ditutupi dan dia tidak akan disiksa karenanya.

Dari Aisyah radhiallahu anha isteri Nabi shallaallahu ‘alaihi wa sallam dia berkata:
كَانَ النَّاسُ يُصَلُّونَ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ بِاللَّيْلِ أَوْزَاعًا يَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ فَيَكُونُ مَعَهُ النَّفَرُ الْخَمْسَةُ أَوْ السِّتَّةُ أَوْ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ أَوْ أَكْثَرُ فَيُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ قَالَتْ فَأَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ ذَلِكَ أَنْ أَنْصِبَ لَهُ حَصِيرًا عَلَى بَابِ حُجْرَتِي فَفَعَلْتُ فَخَرَجَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ قَالَتْ فَاجْتَمَعَ إِلَيْهِ مَنْ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلًا طَوِيلًا ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ وَتَرَكَ الْحَصِيرَ عَلَى حَالِهِ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ تَحَدَّثُوا بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْ كَانَ مَعَهُ فِي الْمَسْجِدِ تِلْكَ اللَّيْلَةَ قَالَتْ وَأَمْسَى الْمَسْجِدُ رَاجًّا بِالنَّاسِ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتَهُ وَثَبَتَ النَّاسُ قَالَتْ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَأْنُ النَّاسِ يَا عَائِشَةُ قَالَتْ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ سَمِعَ النَّاسُ بِصَلَاتِكَ الْبَارِحَةَ بِمَنْ كَانَ فِي الْمَسْجِدِ فَحَشَدُوا لِذَلِكَ لِتُصَلِّيَ بِهِمْ قَالَتْ فَقَالَ اطْوِ عَنَّا حَصِيرَكِ يَا عَائِشَةُ قَالَتْ فَفَعَلْتُ وَبَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ غَافِلٍ وَثَبَتَ النَّاسُ مَكَانَهُمْ حَتَّى خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصُّبْحِ فَقَالَتْ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ أَمَا وَاللَّهِ مَا بِتُّ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَيْلَتِي هَذِهِ غَافِلًا وَمَا خَفِيَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي تَخَوَّفْتُ أَنْ يُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَاكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا
“Pada malam bulan Ramadhan, orang berbondong-bondong shalat di masjidnya Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap ada orang yang hafal Al Qur’an diikuti oleh lima atau enam orang, atau kurang atau lebih dari itu, mereka melakukan shalat dengan mengikuti shalatnya orang yang hafal Al Qur’an.” Ia berkata; “Pada malam itu, Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku supaya meletakkan tikar untuknya di atas pintu kamarku, aku pun mengerjakannya. Setelah shalat isya’ yang terakhir, beliau keluar.” Ia berkata; “Orang-orang yang ada di masjid pun mengerumuni beliau, lalu Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam dengan panjang bersama mereka. Setelah itu, Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam beranjak masuk (rumah) dan meninggalkan tikarnya seperti semula. Tatkala di pagi hari, orang-orang membicarakan mengenai shalatnya Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang yang bersamanya di masjid pada malam itu.” Ia berkata; “Ketika di sore hari, masjid sudah didesak-desaki oleh orang dan Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat isya’ bersama mereka. Setelah itu, beliau masuk rumahnya sedangkan orang-orang masih tetap di masjid.” Ia berkata; Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan kepadaku; ‘Apa yang terjadi dengan orang-orang tersebut wahai Aisyah? ‘ ia berkata; saya menjawab; “Wahai Rasulullah! Orang-orang telah mendengar shalatmu tadi malam dengan beberapa orang di masjid. Merekapun berkumpul untuk hal itu supaya engkau shalat bersama mereka.” Ia berkata; “Beliau menuturkan; ‘Lipat tikar mu itu wahai Aisyah! ‘ Aku pun mengerjakannya. Rasulullah tetap bermalam di rumah dan bukan karena beliau lupa. Sementara orang-orang tetap berada di masjid hingga Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk melakukan shalat shubuh.” Ia berkata; beliau bersabda: “Wahai manusia, demi Allah, segala puji bagi Allah, pada malam ini aku sengaja lalaikan. Bukannya karena aku tidak tahu tempat kalian, tapi aku khawatir (shalat tersebut) akan diwajibkan kepada kalian. Maka lakukanlah amal perbuatan yang kalian mampu, karena Allah tidak akan pernah bosan hingga kalian bosan.” (HR. Ahmad no. 25103)

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari hadits di atas:
a.    Disyariatkannya shalat tarawih, dan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengerjakannya setelah shalat isya.
b.    Yang menjadikan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak shalat berjamaah tarawih bersama sahabat sampai akhir bulan adalah karena beliau khawatir shalat tarawih akan diwajibkan kepada mereka sehingga akan memberatkan mereka.
Akan tetapi tatkala kekhawatiran ini sirna dengan wafatnya beliau, maka hukumnya kembali ke asal perbuatan beliau shallallahu alaihi wasallam, yaitu disyariatkan shalat tarawih berjamaah.
c.    Semangat para sahabat radhiallahu anhum dalam beribadah dan dalam mencontoh Nabi mereka shallallahu alaihi wasallam.
d.    Semangat beliau untuk memberikan kebaikan kepada umatnya dan sekaligus kasih sayang beliau kepada mereka sehingga beliau tidak ingin menyusahkan mereka. Allah Ta’ala berfirman:
لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah:128)

Disunnahkan shalat tarawih bersama imam sampai selesai shalat witir, karena telah shahih dalam hadits Abu Dzar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya siapa saja yang shalat (malam) bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya seperti bangun (untuk mengerjakan shalat malam) semalam suntuk.” (HR. Abu Daud no. 1167, At-Tirmizi no. 734, An-Nasai no. 1347, dan Ibnu Majah no. 1317 dengan sanad yang shahih)
Hadits ini berlaku umum untuk lelaki dan wanita, jika wanita ikut shalat tarawih di masjid. Hanya saja sudah dimaklumi bersama bahwa shalatnya wanita di rumahnya itu lebih utama karena hal itu lebih aman baginya dan lebih menjauhkannya dari fitnah. Dan kalau kita mengamati keadaan kaum muslimah yang keluar ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih maka sungguh menyuruh mereka shalat di rumah itu lebih mencegah terjadinya kemungkaran. Dari Aisyah radhiallahu anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia berkata:
لَوْ أَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسَاجِدَ كَمَا مُنِعَهُ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat apa yang dilakukan oleh para wanita (sekarang), niscaya beliau akan melarang mereka untuk mendatangi masjid sebagaimana para wanita Bani Israil yang juga dilarang.” (Riwayat Malik dalam Al-Muwaththa` no. 418)
Yang dimaksud adalah para wanita di zaman ini keluar shalat dengan memakai perhiasan, wangi-wangian, pakaian yang indah, dan semacamnya.
Kalau demikian keadaan para wanita di zaman tabi’in yang merupakan salah satu zaman terbaik, maka tidak tahu lagi bagaimana sikap Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika melihat para wanita di zaman ini, zaman yang jauh dari ilmu dan penuh dengan kejelekan. Wallahul Musta’an.

Incoming search terms:

  • Hukum shalat tarawih
  • shalat tarawih
  • sholat tarawih
  • hukum sholat tarawih
  • tarawih
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

Related posts:

  1. Beberapa Hukum Seputar Puasa Ramadhan
  2. Beberapa Hukum Tentang Zakat
  3. Seputar Shalat Sunnah Fajar
  4. Shalat Sunnah Rawatib
  5. Sunnahnya Mengakhirkan Shalat Isya

This entry was posted on Tuesday, August 9th, 2011 at 9:08 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

20 responses about “Beberapa Hukum Shalat Tarawih”

  1. Ryan said:

    Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh
    Mau nanya Afwan,Hukum sholat tarawih pakai Bilal yang sekarang banyak di kalangan masyarakat saat ini,apa di jaman Rosululloh juga ada contohnya?tolong beserta Dalilnya…

    Jazakallohu Khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Bagaimana maksudnya pakai bilal dan apa tugasnya?

  2. iis said:

    ass
    pak ustad jika kita salat tarawih sebelum salat isya boleh tidak (sudah masuk waktu isya) terimakasih wslm

    Tidak boleh dan tidak syah. Patokan bolehnya shalat tarawih adalah sudah shalat isyah, bukan sudah masuk waktu isya.

  3. ellis khairunnisa said:

    Assalamualaikum warahmatullah
    ustadz, ana ingin bertanya, shalat tarawih kan sunnahnya 11 rakaat, sedangkan masjid di dekat rumah ana tarawihnya 23 rakaat, nah, bagaimana hukumnya bila saya shalat di masjid tersebut tapi hanya sampai rakaat ke 8 lalu pulang dan shalat witir di rumah sehingga jumlah shalat tarawih saya 11 rakaat.. bolehkah seperti itu ustad untuk mengikuti sunnah rasulullah?

    mohon sertakan dalilnya ustadz
    syukron.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Belum mengikuti sunnah. Memang yang Nabi lakukan adalah 11 rakaat akan tetapi boleh juga mengerjakan 23 rakaat. Sementara sunnah nabi dalam shalat tarawih berjamaah adalah mengikuti imam sampai selesai shalat (witir).

  4. Andi said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz mau tanya lagi:
    1 Bulan Romadhon ini warga digilir untuk Ronda ketika warga yang lain berjamaah isya dan tarawih. Apakah itu termasuk udzur untuk meninggalkan sholat Isya berjamaah itu.

    2. Selain keliling kampung, petugas ronda juga diperintahkan pemerintah desa untuk mengambil jimpitan dari rumah2 warga. Meski tidak ada hukuman tapi seolah warga diharuskan mengisinya (dgn ditegur/diumumkan). Apakah ini sama dengan memungut pajak. Bolehkah mengambil jimpitan itu?. Jika iya, bagaimana saya harus menghindarinya.

    Waalaikumussalam.
    1. Ya, itu termasuk udzur kalau memang dibutuhkan.
    2. Kalau memang maslahatnya untuk warga sendiri termasuk dirinya maka sudah seharusnya dia mendukung dan ta’awun dalam hal itu.

  5. wafa said:

    an mau tanya, bolehkah menambah sholat tahajud setelah tarawih pada bulan ramadhan? karena dalam hadis yang diriwayatkan oleh aisyah bahwa rosulullah melakukan sholat tidak lebih dari sebelas rakaat, baik didalam maupun diluar ramadhan.B

    oleh saja, asalkan dia tidak witir dua kali dalam 1 malam. Beliau memang tidak pernah lebih dari 11 rakaat akan tetapi beliau juga tidak melarang melakukan lebih daripada itu.

  6. Muhammad Natsir As-Soronji said:

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Tolong dijelaskan pendapat yang paling kuat mengenai hukum mengangkat/tidak mengangkat tangan ketika qunut dalam sholat, termasuk qunut dalam sholat witir. baik ia sebagai imam ataupun sebagai makmum
    Jazakallahu Khoyran.

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam, karena shalat adalah ibadah tersendiri maka dibutuhkan dalil khusus dari setiap amalan di dalamnya. Dan tatkala tidak ada dalil tentang mengangkat tangan saat qunut, maka kami lebih condong untuk tidak mengangkat tangan.
    Hanya saja bagi yang berdalil dengan dalil umum disyariatkannya mengangkat tangan ketika berdoa, lalu dia mengangkat tangan ketika qunut karena dia adalah doa, maka itu juga tidak mengapa insya Allah.

  7. Dedy said:

    Assalamu’alaikum Ustadz

    Tanya masalah shalat tarawih 20 rakaat apakah haditsnya palsu ? dan bagaimana jika seseorang yang melaksanakannya apakah shalatnya sah ?

    Jazaakallahu khairan.

    Waalaikumussalam.
    Shalat tarwih dibolehkan dengan dalil umum, “Shalat lail itu 2 rakaat 2 rakaat.” Maka berapapun rakaatnya boleh asal dikerjakan 2 rakaat 2 rakaat.

  8. aldis said:

    Assalamualaikum ustad.
    Apakah sah jika hanya shalat tarawih sendirian saja? Dan apakah diperbolehkan shalat tarawih 4 rakaat kemudian witir 3 rakaat? Apakah perbedaan shalat tarawih dan qiyamulail?
    Terima kasih atas penjelasannya.
    Waalaikumussalam

    Syah. Boleh. Secara umum tidak ada perbedaan.

  9. abu aisyah said:

    bismillah,Ustadz bagaimana hukumnya shalat tarawih berjama’ah dua gelombang di satu masjid.gel pertama stlh isya, gel kedua pd pertnghn malam.

    Wallahu a’lam. Ana belum pernah mendapat atsar dari salaf ash-shaleh yang mengerjakan amalan seperti itu. Kalau memang ada yang silakan dikerjakan, tapi jika tidak maka sebaiknya ditinggalkan.

  10. Makmun Wawo said:

    Bismillah..
    Adakah do’a, antara tarawih dan witir?
    Syukron

    Tidak ada dalil khusus tentang itu. Hanya saja jika seseorang melakukannya tanpa membiasakannya maka insya Allah tidak mengapa. Namun jika shalat tarwihnya di 1/3 malam terakhir maka disunnahkan berdoa setiap malam.

  11. rinda said:

    assalammuallaikum,,
    Ustad,,apa hukuman bagi orang yg tidak tahu tapi dia melakukan sholat teraweh sebelum sholat isya’,,apakah ia berdosa\

    Waalaikumussalam
    Kalau dia tidak tahu, insya Allah tidak berdosa.

  12. pramudya said:

    ustad apakah hukum qunut pada sholat teraweh dimalam2 terakhir. Syukron tad

    Qunut dalam shalat witir dibolehkan sejak dari malam pertama, hanya saja tidak dianjurkan tiap malam. Tapi terkadang qunut dan terkadang tidak. Wallahu a’lam

  13. fitriana said:

    assalamualaikum
    bolehkah kita sholat tarawih tetapi tidak melakukan ibadah puasa ?

    Waalaikumussalam.
    Boleh.

  14. abu aisyah said:

    Bismillah,Ustazd apa hukumnya membetulkan bacaan imam yang salah atau lupa dalam shalat?

    Disyariatkan bagi yang mampu

  15. abu hikmah said:

    ustad jika pada malam itikaf sholat traweh brjmaah hbs isya 8 rkaat kemudian lanjut setlah tdur di akhir malam 8rkaat dan witir 3rakaat apakah dibolehkan?

    Boleh saja. Hanya saja kalau dia berjamaah maka sebaiknya ikut dengan imam sampai witirnya agar dia mendapatkan pahala shalat semalam suntuk.

  16. Husen said:

    Ustad apakah sholat iftitah(sholat sebelum sholat tarawih 2 rakaat) ada dalil yang menyebutkan, dan apabila tidak ada, dan dikerjakan apakah termasuk dosa bid’ah?
    jazakallah.sukron

    Ada, disebutkan dalam hadits Aisyah riwayat Muslim. Jadi disyariatkan dilakukan.

  17. rosa said:

    ustad bgmn jika mengikuti imam utuk shalat tarawih hingga witir,kemudian pada malam hariny mengerjakan shalat lail,apakah disunahkan mengerjakan shalat witir lagi?
    jazakumullah.

    Tidak, karena tidak ada 2 kali witir dalam satu malam. Jadi dia cukup shalat lail saja tanpa witir.

  18. abdullah said:

    di masjid dekat rmh kami,imamx tarwih 23 rakaat, tp sebelumx jika sdh sampe pada 8 rakaat, imamx mempersilahkan salah seorang jama’ah untuk mengimami shalat witir 3 rakaat,(bagi yg brpendapat tarwih itu 11 rakaat) jadi jumlahx 11 rakaat,kemudian sang imam maju lg untk sholat brsama jamaah yg mau sholat 23 rakaat, nah pertanyaan kami, apakah kami ( yg sholat 11 rakaat) jg mendapat pahala sholat semalam suntuk atau tidak ?
    apakah kami jg dihitung sholat bersama imam atau tidak ??
    jazakallohu khoir atas penjelasannya ustadz…

    Wallahu a’lam, kelihatannya tidak. Karena yang menjadi imam di sini adalah yang 23 rakaat. Maka yang terhitung shalat bersama imam dan mendapatkan pahala semalam suntuk adalah yang shalat bersama imam sampai selesai 23 rakaat.

  19. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Pak Ustadz, Saya sering ketinggalan bacaan shalat terutama saat tasyahud akhir dari imam (karena imam cepat sekali bacanya).
    Apakah boleh saya selesaikan bacaan tasyahud akhir meski imam sudah mau berdiri untuk rakaat berikutnya atau saya ‘harus’ ikuti imam untuk salam/mengakhiri shalat meski belum menyelesaikan bacaan tasyahud?
    Wassalamu alaikum.
    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Apa maksudnya ‘imam mau berdiri untuk rakaat berikutnya’, bukannya itu sudah ‘tasyahud akhir’?

  20. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

    Maaf Pak Ustadz, maksudnya adalah pada shalat tarawih dua rakaat pertama (bukan pada shalat wajib berjamaah), imam sudah salam, tetapi saya masih belum selesai membaca do’a sampai bacaan “Wamin syarri fitnati al masihiddajjal”-padahal saya sudah membaca do’a dengan ‘secepat mungkin’, sedangkan imam siap berdiri untuk dua rakaat berikutnya.
    Apakah boleh saya salam sebelum doa tasyahud akhir selesai, karena saya makmum?

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Ya, doa itu boleh ditinggalkan untuk mengejar salamnya imam.

Tafadhdhal komentari artikel
Beberapa Hukum Shalat Tarawih