Beberapa Hukum Seputar Puasa Ramadhan

August 8th 2011 by Abu Muawiah | Kirim via Email

08 Ramadhan

Beberapa Hukum Seputar Puasa Ramadhan

Berikut beberapa hukum seputar puasa ramadhan secara ringkas:
a.    Tidak syah puasa wajib seperti puasa ramadhan atau qadha` ramadhan atau puasa nadzar kecuali jika dia meniatkannya sejak dari malam hari. Hanya saja niat itu tempatnya di hati sehingga tidak perlu melafazhkannya.
Dalil dari hal ini adalah hadits Hafshah dan Ibnu Umar radhiallahu anhuma:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang tidak memalamkan niatnya sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud no. 2454, At-Tirmizi no. 730, An-Nasai (4/196), dan Ibnu Majah no. 1700)

b.    Wanita haid dan nifas diharamkan berpuasa secara mutlak, akan tetapi dia wajib menggantinya jika puasa yang dia tinggalkan itu adalah puasa wajib.
Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ
“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim no. 508)
Adapun wanita yang mengalami istihadhah, maka dia tetap wajib berpuasa. Hal itu karena istihadhah berbeda dengan haid dari sisi sifat dan hukum.

c.    Jika ada orang yang berniat puasa dalam keadaan junub dan dia tidak mandi junub kecuali setelah subuh, maka puasanya syah. Sebagaimana jika wanita haid suci sesaat sebelum subuh lalu dia berniat puasa dan dia mandi setelah masuknya subuh, maka dia syah berpuasa.
Dalilnya adalah ucapan Aisyah radhiallahu anha:
إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ غَيْرِ احْتِلَامٍ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ يَصُومُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati waktu Subuh dalam keadaan junud karena jima’, bukan karena mimpi di bulan Ramadhan, kemudian beliau tetapi berpuasa.” (HR. Al-Bukhari no. 1796 dan Muslim no. 1867)

d.    Lelaki dan wanita tua yang sudah berat untuk berpuasa, maka mereka tidak wajib untuk berpuasa, demikian halnya orang sakit yang penyakitnya tidak mempunyai kemungkinan untuk sembuh. Mereka boleh berbuka akan tetapi mereka wajib menggantinya dengan fidyah, yaitu memberi makan 1 orang miskin untuk setiap hari dia tidak berpuasa.
Ini adalah pendapat sebagian ulama, dan mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala:
وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Ibnu Abbas radhiallahu anhu menafsirkan ayat di atas, “Ayat ini turun memberikan keringanan kepada lelaki dan wanita tua yang tidak kuat berpuasa, maka keduanya memberikan makan setiap hari kepada 1 orang miskin.”
Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa beliau lemah untuk berpuasa setahun sebelum wafat, maka beliau berbuka dan memerintahkan keluarganya untuk memberi makan 1 orang miskin setiap hari.

e.    Adapun orang yang sakit, maka:
•    Jika sakitnya ringan atau masih ada kemungkinan sembuh, maka dia boleh berbuka tapi dia wajib menggantinya di hari yang lain. Allah Ta’ala berfirman:
ومن كان مريضا أو على سفر فعُدة من أيام اُخر
“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)
•    Jika sakitnya tidak ada kemungkinan sembuh maka dia sejak awal sudah wajib membayar fidyah, berdasarkan pendapat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma di atas.
•    Jika penyakitnya datang tiba-tiba dan berlanjut hingga dia meninggal maka tidak ada kewajiban apa-apa pada keluarganya, tidan fidyah dan tidak pula qadha.

f.    Disunnahkan bagi orang yang ingin berpuasa untuk makan sahur.
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena didalam sahur ada barakah.” (HR. Al-Bukhari no. 1789 dan Muslim no. 1835)

g.    Disunnahkan untuk mengakhirkan makan sahur mendekati azan subuh.
Dari Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhuma dia berkata:
تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
“Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian Beliau pergi untuk melakanakan shalat. Aku bertanya: “Berapa antara adzan (Shubuh) dan sahur?”. Dia menjawab: “Sebanyak ukuran bacaan lima puluh ayat.” (HR. Al-Bukhari no. 1787)

h.    Disunnahkan bersahur dengan memakan korma atau meminum air putih.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
“Sebaik-baik (makanan) sahur bagi seorang mukmin adalah kurma.” (HR. Abu Daud no. 1998)
Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
“Makan sahur itu berkah, maka janganlah kalian tinggalkan meskipun salah seorang dari kalian hanya minum seteguk air, karena sesungguhnya Allah ‘azza wajalla dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad no. 10664)

i.    Sebaliknya dengan berbuka puasa, maka dia dianjurkan untuk disegerakan setelah terbenamnya matahari.
Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Al-Bukhari no. 1821 dan Muslim no. 1838)

j.    Disunnahkan berbuka dengan memakan ruthob sebelum melaksanakan shalat maghrib, kalau tidak ada maka dengan korma, kalau tidak ada maka dengan meminum air.
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berbuka dengan beberapa ruthab (kurma yang belum masak) sebelum melakukan shalat, jika tidak dengan air maka dengan beberapa kurma, dan apabila tidak ada kurma maka beliau meneguk air beberapa kali.” (HR. Abu Daud no. 2009 dan At-Tirmizi no. 632)

Incoming search terms:

  • puasa wajib
  • bayar hutang puasa tapi belum mandi junub
  • kalau mau berpuasa sehabis haid mandi wajib dulu atau sahur dulu
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, August 8th, 2011 at 10:06 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

14 responses about “Beberapa Hukum Seputar Puasa Ramadhan”

  1. salman al-farisy said:

    afwan ustad saya mau bertanya,

    dl dalam satu riwayat dikatakan: “Siapa saja yang meninggal dan memiliki tanggungan shaum, maka digantikan walinya.”

    nah bagaimana dengan orang tua yang sakit, dan sebenarnya masih bisa berpuasa (kadang-kadang). apakah puasanya bisa digantikan oleh anaknya? atau cukup dengan membayar fidyah saja? mohon pencerahannya.

    syukran jazilah ‘ala ihtimam

    Jika memang orang tuanya asalnya masih bisa berpuasa hanya saja sakit sehingga tidak bisa berpuasa, maka dilihat: Apakah dia sempat sembuh dan mempunyai waktu untuk mengqadha`sebelum meninggal atau tidak.
    Jika ya, maka keluarganya wajib membayarnya dengan qadha`.
    Tapi jika tidak, dalam artian sakitnya berlanjut hingga dia meninggal, maka tidak ada kewajiban apa-apa bagi keluarganya. Wallahu a’lam.

  2. abu aisyah said:

    bismillah,ustadz wanita yang tdk berpuasa karna menyusui apakah mengqadha atau membayar fidyah?apabila ketika menyusui bersamaan dgn hari datangya haidh apakah mengqadha puasanya atau membayar fidyah?jazakumullahu khaira.

    Semuanya hanya membayar qadha’.

  3. eka rustoni said:

    bagaimana hukumnya
    apabila setelah imsyak , tapi melakukan sikat gigi ,,,,, tolong jelaskan ,

    Boleh, bahkan boleh sikat gigi di siang hari selama tidak menelan air atau pasta gigi.

  4. Makmun Wawo said:

    Bismillah..
    Apakah kalo kita berdusta dpt membatalkan puasa? Krn ada hadits “BARANGSIAPA TDK MENINGGALKAN UCAPAN DUSTA, MK ALLAH TDK BUTUH DG LAPAR DAN DAHAGAX”

    Tidak membatalkan, adapun maksud hadits itu adalah pahala puasanya terhapus dengan dosa berbohongnya. Sehingga puasanya walaupun syah akan tetapi tidak ada pahalanya. Wallahu a’lam.

  5. vebry said:

    apakah meneteskan obat mata pada waktu berpuasa bisa membatalkan ouasa..karna saya sering naik motor trimakasih

    Insya Allah tidak membatalkan puasa.

  6. abu salim said:

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Ustadz, saat ini istri saya sedang menyusui jika dia berpuasa maka bayi kami sakit, jadi dia tidak puasa demi kesehatan si bayi, lalu apakah harus diganti dengan fidyah atau qadha di hari lain?

    Jazakallahu khairan

    Dia membayar qadha di hari yang lain.

  7. Iza said:

    Asalamualaikum ustaz.
    Apa yang harus dilakukan sekiranya saya terlupa makan sahur, ketika saya bangun dari tidur saya dapati azan untuk solat subuh sudah dikumandangkan

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada masalah insya Allah, dia tetap boleh berpuasa.

  8. dian jatmiko said:

    assalamualaikum..
    istri saya punya hutang puasa ramadhan thun kemarin krn haid,dan blum bsa mengqadha smpai dtangny puasa ramadhan thun ini dkarenakan hamil.apakah bisa qadha stelah puasa ramadhan beriktny?
    mhon penjelasany,trima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Ya boleh, karena anda terhitung mendapat udzur syar’i.

  9. tao said:

    assalamualaikum ustadz

    jika wanita menyusui anaknya puasa ramadhan di khawatirkan sakit pada keduanya, maka di qadha di hari lain,
    yg di maksud hari lain , apakah hari hari bulan setelah ramadhan, atau hari di bulan ramadhan tahun depan ? atau hari di setelah masa menyusui?

    Waalaikumussalam.
    Hari lain di bulan lain setelah selesainya bulan ramadhan.

  10. dendi said:

    pak ustadz diatas dikatakan kalo kita sedang junub karena jima harus mandi setelah shubuh itu maksudnya apa ?!
    dan apabila kalo kita junub karena mimpi saat tidur sebelum sahur dan saat selesai sahur kita belum mandi dan melakukan mandi saat siang hari apakah tetap sah puasa kita ?!
    kalo tidak tau apakah puasa saya tetap batal atau masih sah pak ustadz ?!
    mohon pencerahannya karena saya masih bingung pak ustadz,.

    Saya sebenarnya juga bingung dengan pertanyaan anda. Kalau dia junub di malam hari, kenapa dia mandi siang hari? Apa dia tidak shalat subuh?!

  11. sulthan abu uwais said:

    bismillah… assalamu ‘alaykum
    afwan ustadz ana ada musykilah. istri ana beberapa tahun lalu mendapati ramadhon dalam keadaan nifas setelah melahirkan, namun karena minimnya pengetahuan fiqh kami mengenai masalah membayar fidyah atau mengqodho’, maka pada waktu itu kami putuskan untuk fidyah. belakangan kami baru tau kalau tindakan waktu itu salah, harusnya di qodho.
    pertanyaan ana apakah puasa yang ditinggalkan tersebut harus di qodho kembali meskipun telah di bayar dg fidyah??
    jazaakallah khoyr atas jawabannya. wassalamu ‘alaykum

    Waalaikumussalam.
    Tidak perlu insya Allah. Fidyah yang dahulu sudah mencukupi. Allah menghisab kita sesuai dengan ilmu yang kita ketahui saat itu, bukan ilmu yang akan kita ketahui di masa depan.

  12. Reni said:

    Assalamualaikum ustadz,
    Saya mendapat undangan menghadiri acara silaturrahmi di tempat kerja suami. Namun malam sebelum acara tersebut saya sudah berencana untuk puasa qadha, dan saya melaksanakan puasa tersebut. Apakah boleh saya membatalkan puasa qadha saya karena memenuhi undangan tersebut?

    Mohon penjelasannya ustadz, terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Jika memang harus, insya Allah tidak mengapa diganti di hari yang lain. Wallahu a’lam.

  13. Septi said:

    Assallamualaikum..

    Saya mau sahur bayar puasa ramadhan,
    tapi saya telat sahur ke bangun sudah terdengar berkumandang azan subuh.Tapi saya sudah minum air putih gak nyampe stngah gelas dan langsung baca niat puasa. Pertanyaan saya tetap puasa&syah puasanya atau tidak???

    Terima kasih..

    Waalaikumussalam.
    Kalau setelah azan, anda tetap ambil air minum lalu minum, maka jelas puasanya tidak syah.

  14. erni said:

    bagaimana cara puasanya orang istihadloh

    Sama seperti perempuan yang suci lainnya. Tidak ada perbedaan.