Bayar tilang tanpa sidang dan bukan suap

April 29th 2009 by Abu Muawiah |

Bayar Tilang Tanpa Sidang dan bukan suap

Mungkin di antara kalian ada yang masih ingat tayangan iklan di TV beberapa waktu silam yang menggambarkan ada seorang cewek sedang naik mobil dan akan putar balik. Dia sudah melihat ada rambu dilarang putar balik. Tapi setelah celingak celinguk kiri kanan depan belakang untuk memastikan tidak ada Polisi, barulah dia berani melanggar rambu itu. Eh, nggak tahunya secara tiba-tiba muncul seorang Polisi Lalu Lintas dari semak-semak dengan pakaian yang mirip dengan pohon. Sepintas polisi tersebut mirip semak belukar berjalan. Pritttt…
Polisi memintanya menepi, lalu pak polisi yang berkumis tebel dan bertambang serem itu tanya “gak lihat rambu ya mbak?”
“Lihat sih… tapi pak polisi yang gak terlihat” sambil cengar cengir.
Nah lo… Taat hanya kalo ada yang jaga. Tanya Kenapa….
Di kehidupan nyata, tak jarang kita menemui para Polisi khususnya dari Satuan Lalu Lintas yang suka sembunyi di semak2 dan muncul secara tiba-tiba untuk menghentikan kita saat kita terlihat melakukan pelanggaran. Baik pelanggaran jenis rambu lalu lintas ataupun markah jalan. Untuk lebih singkatnya, pelanggaran di atas kami sebut dengan garkum rambu dan garkum markah ( istilahnya para Polisi Lalu Lintas ). Garkum singkatan dari Pelanggaran Hukum.
Lho, kok ada hukumnya ? Yup, karena semua rambu2 dan markah jalan di jalan raya di buat dengan hukum sebagai payung yang melindungi tata cara pelaksanaanya di lapangan. Tepatnya UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Pembuatan markah dan rambu lalin selalu berpedoman teguh pada hal ini. So, para Polisi juga nggak bisa seenaknya melakukan kewenangannya di jalan raya. Mereka bisa dikenakan pasal lahgun wewenang oleh Polisinya Polisi ( Bid Propam ataupun Unit P3D, orang awam menyebutnya provost). Yup, semua memang ada tata caranya. Ada aturan main yang mengatur bagaimana seharusnya semua ini berjalan.
So, apa yang kalian lakukan seandainya itu menimpa kalian ?
Melarikan diri?
Pura2 gak tahu dan gak merasa bersalah?
atau memelas dan ngasih uang damai ?
Wohoho, yang terakhir jangan deh. Too risky, bisa di tangkap karena berusaha menyuap petugas. So, pilihan satu-satunya ( kalau menurut prosedur sih ) adalah Tilang.

Apa sih tilang itu ?
Tilang adalah singkatan dari Bukti Pelanggaran. Berbentuk seperti kertas berwarna merah ( umumnya yang kita dapat dari Polisi saat kita melakukan pelanggaran ) yang berisi isian berupa nama kita, no sim kita, jenis pelanggaran yang kita lakukan, tempat terjadinya tindak pelanggaran, tanggal dan waktu terjadinya pelanggaran, serta nama + pangkat Polisi yang memberikan selembar kertas berwarna merah / pink itu pada kita.
Semua Polisi Lalu Lintas berhak untuk menghentikan suatu kendaraan yang dianggap melakukan suatu tindak pelanggaran baik rambu2 lalin, markah jalan, maupun terlibat dalam suatu aksi kriminalitas untuk dilakukan pemeriksaan atas kendaraan+pengendara  yang bersangkutan. Dan melakukan tindakan berupa pemberian sanksi berupa Tilang maupun penangkapan dan penahanan kepada pengendara beserta kendaraan yang di kemudikannya demi kelancaran proses penegakan hukum.

Form Tilang terdiri dari beberapa lembar yang berbeda warna.
Yang biasa kita terima adalah kertas berwarna merah / pink untuk kemudian di proses melalui pengadilan setempat dan membayar sejumlah denda kepada Negara sebagai sanksi atas kelalaian kita melakukan pelanggaran Lalu Lintas. Waduh, capek dan nggak ada waktu ke Pengadilan nih… Nggak salah sebagian besar dari kita selalu memilih opsi memberikan Uang Damai kepada petugas yang bersangkutan karena alasan klasik tsb.
Nah, tahukah kalian kalau selain form tilang warna merah, kita bisa juga mendapatkan form warna biru ? Lho… perasaan dari dulu kena tilang nggak pernah dikasih form warna biru deh.

BEDA FORM TILANG WARNA MERAH DAN BIRU
Form tilang yang di serahkan pada kita sebagai bukti bahwa kita telah melakukan pelanggaran berlalu lintas ( juga berfungsi sebagai undangan untuk datang ke Pengadilan buat ngebayar denda + ngambil SIM atau STNK kita yang di tahan pak Polisi sekaligus sebagai Tanda Terima bahwa SIM atau STNK kita telah di sita oleh Pak Polisi ) sebenarnya ada dua warna. Satu berwarna merah dan lainnya berwarna biru.
Form Tilang berwarna merah diberikan kepada kita saat kita melakukan pelanggaran dalam berlalu lintas tapi kita bersikeras tidak mau mengakui kesalahan kita.
Sedangkan Form Tilang warna biru diberikan kepada kita saat kita melakukan pelanggaran dalam berlalu lintas tapi kita tahu, sadar dan bersedia mengakui kesalahan kita.
Karena berbeda warna, berbeda pula proses hukumnya.
Form Tilang warna merah mengharuskan kita datang ke Pengadilan setempat untuk membayar sejumlah denda sesuai dengan jenis pelanggaran yang kita buat. Setelah membayar sejumlah denda, barulah kita mendapatkan SIM ataupun STNK kita kembali yang tadinya di Sita ama Pak Polisi karena kita melakukan pelanggaran. Nah, karena kita nggak merasa bersalah, kita berhak untuk melakukan bantahan2 di pengadilan sebagai upaya pembelaan diri kita. So, apabila tidak terbukti bersalah gimana ? SIM ataupun STNK kita yang di sita ama Pak Polisi akan di kembalikan kepada kita dan kita dibebaskan dari denda sepeserpun. Tapi kalau terbukti bersalah gimana ? Ya udah, bayar aja tuh denda dan SIM atau STNK kita yang disita ama Pak Polisi akan langsung di kembalikan lagi ke kita begitu kita selesai melunasi dendanya. Namun pada penerapannya seringkali kita hanya melakukan pembayaran saja tanpa ada upaya pembelaan.
Form Tilang warna biru tetap mengharuskan kita membayar denda tapi tidak ke pengadilan, melainkan ke Bank BNI atau BRI terdekat. Ntar setelah membayar sejumlah denda pada Bank tsb, kita akan menerima resi sebagai bukti pelunasan pembayaran denda yang akan kita tukarkan dengan SIM ataupun STNK kita yang di sita oleh Pak Polisi tadi. Namun biasanya Pak Polisinya kan keburu pergi ( tiap polisi lalu lintas punya jadwal rotasi pos tiap beberapa jam ), maka kita bisa ambil tuh SIM atau STNK kita pada Polsek yang ada di wilayah kita kena Tilang. Biasanya sih di Form Birunya di tulis nama dan alamat Polseknya. Atau jika kita bayarnya cepat, bisa langsung di ambil di tempat dimana kita kena tilang tadi ( pada Polisi yang sama tentunya ).
Contoh : kalian kena tilang di Layang Mayangkara depan Royal Plaza, Surabaya ( para Polisi menyebutnya Pos Layang Selatan ) karena melanggar markah jalan. Maka jika diberi form warna biru kita harus ngambil ke Polsek Wonokromo karena wilayah dimana kita kena tilang masuk dalam wilayah hukum Polsek Wonokromo.
Trus, kalau nggak di kasih form warna biru gimana dunk ?
MINTA AJA !!!
Itu memang hak kita jika KITA TAHU AKAN KESALAHAN KITA DAN MENGAKUI JENIS PELANGGARAN YANG KITA LAKUKAN.
Kalau tidak, jangan coba2 deh…
Karena hampir sebagian besar polisi lalu lintas bakal marah kalau kalian meminta form biru tapi di awal2 kalian tidak tahu dan tidak mau mengakui kesalahan yang kalian lakukan.

Form biru tidak berlaku jika…
saat itu sedang diadakan giat 21 ( istilah polisi untuk Razia atau Operasi kelengkapan Surat2 kendaraan Bermotor / handak / maupun multisasaran ). Jadi ada benarnya juga jika tuh Polisi bilang bahwa Form Biru tidak berlaku saat diadakan Razia / Operasi.  Namun jangan2 tuh Polisi juga ngawur ( untuk nutupin kesalahannya ), karena dalam penyelenggaraan suatu Razia atau Operasi,harus ada seorang polisi yang bertugas sebagai Padal ( Perwira Pengendali ) dengan pangkat minimal aiptu. Sang Padal ini bertanggung jawab langsung kepada Puskodalops ( Pusat Komando Pengendalian & Operasional ) ataupun kepada Kasatlantas wilayah tempat dia berdinas.  Selain itu dalam sebuah razia atau operasi harus ada Surat Keterangan Pelaksanaan Kegiatan dari komandan yang bersangkutan ( dalam hal ini Bapak Kasatlantas ataupun Wakasatlantas ) yang berisi : Tempat, hari, tanggal, jam, durasi pelaksanaan, target pelaksanaan operasi, penanggungjawab operasi ( nama sang Padal ), daftar nama anggota yang melaksanakan operasi pada hari itu, dan yang memberi ijin pelaksanaan operasi tersebut.
Kalau di Lalu Lintas sih namanya Operasi Zebra ( nggak pakai Cross lho… ).

Kisah diatas merupakan cerita dari teman SD penulis yang sekarang bertugas di Kepolisian.
Identitas kami rahasiakan karena atas permintaan yang bersangkutan. Semoga Allah membalas kebaikannya.
Ditulis ulang oleh : Agam Rosyidi
URL : http://rosyidi.com/bayar-tilang-tanpa-sidang-dan-bukan-suap/
narasumber

Incoming search terms:

  • hukuman tilang polisi
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, April 29th, 2009 at 9:56 am and is filed under Artikel Umum. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

15 responses about “Bayar tilang tanpa sidang dan bukan suap”

  1. Abu Abdillah said:

    Bismillah. Assalamu’alaykum yaa Ustadzana. Mau tanya,
    1. Gimana jika Pak Polisi mengatakan: apa uang dendanya mau titip aja kepada saya?
    2. Tolong info berapa sebenarnya tarif / uang denda yang harus disetor utk setiap pelanggaran?

    Kemudian nasehat kami kepada para Polisi agar berhati2 dari memakan uang haram -dan uang tilang harusnya ke negara, bukan ke Pak Polisi- karena badan yang tumbuh dari harta yang haram, neraka lebih layak baginya.
    Kepada Ikhwan semua yang memiliki keluarga, kawan maupun kenalan Polisi juga berkewajiban menasehatkan mereka.

    Jazaakumullahu khairon.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Kalau antum percaya sama pak polisinya maka tidak ada masalah, tapi kalau tidak maka sebaiknya ikuti prosedur yang berlaku.
    2. Mungkin pertanyaan ini lebih pantas diarahkan ke Pak Polisinya. Karena seingat saya ketika seseorang ditilang, akan diperlihatkan kepadanya data mengenai jenis pelanggaran serta dendanya. Atau mungkin antum bisa tanya ke yang nulis artikel ini, ada alamat situsnya di akhir artikel.
    Jazakumullahu khairan atas nasehatnya.

  2. adinxtm said:

    asslamu’alaykum
    mau ngasih usul jika mau bayar denda mohon bilang”titip untuk negara ya pak!”
    agar amanah yang kita berikan difungsikan dengan baik, ni tadi siang juga abis di pengadilan ambil SIM yang kena tilang..just16ribu..padahal kemaren pak polisinya minta denda 20 ribu..untung aja milih ke pengadilan.

  3. habib said:

    assalamu’laikum ustadz..
    jazakallah atas infonya..

    Waalaikumussalam warahmatullah. Waiyyakum

  4. Abu Ishaq Yusuf bin Shofwan said:

    Subhanalloh, jazakalloh infonya
    di Balikpapan kena tilang “tarif” nya 75.000 lho akhiy, kalo gak bawa SIm, trus kalo gak bawa STNK 75.000, baru aja naik “tarif” nya tahun lalu,
    terkadang ada rasa dongkol kalau kena tilang, tapi sebagai orang yang menisbahkan diri pada salaf ya kita musti menykapi apapun dengan ilmu, dalam hal ini kalo kita salah dan kena denda ya kita bayar, disini disosialisasikan tarifnya, ana sendiri bacanya pas di rumah sakit lagi antar anak imunisasi.
    Mencegah lebih baik daripada membayar, hehehe, bener2 musti taat kita sama aturan lalu lintas, wujud dari pengamalan taat kepada pemerintah dalam hal yang tidak harom/mubah,
    Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -hafizhahullah- dalam suatu majelisnya pernah menjelaskan bahwa mentaati lampu merah dan rambu-rambu yang dibuat oleh pemerintah di jalan-jalan adalah wajib, sekalipun hukum asalnya adalah mubah. Tapi hukumnya berubah karena ada perintah dari penguasa. Sedang jika penguasa memerintahkan sesuatu yang mubah atau sunnah, maka hukum perkara itu jadi wajib berdasarkan ayat dan hadits di atas !!
    pernah juga kita dapat wasiat dari asatidz disini yang namanya Helm, STNK, dan SIM itu wajib bagi yang pake motor, bahkan ada pernah cerita dari ikhwan kalo kita wajib juga menyalakan Lampu Motor disiang hari , kalau di kota itu diatur seperti itu.
    naam itu aja tanggapan saya, mohon dikoreksi jika ada salah,
    kesimpulannya, wajib bagi kita untuk menggunakan Helm, babwa SIM, dan STNK, kalo gak ada n kita nekat bawa motor ya ana sendiri takut sudah termasuk kategori tidak mentaati pemerintah, plus was-was ketilang, biasa rugi beripat kita,
    Jazakumullohu Khoiron katsiiron, wa Barokallohufiikum

  5. kenet said:

    assalamualaikum wr wb

    pak saya mau nanya ? bank apa saja yang mau menerima pembayaran tilang …. mohon infonya

    kalo bisa kirim ke mail saya

    ahmad.plm@gmail.com

    terima kasih sebelumnya

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    di bank BRI atau BNI, sebagaimana yang tersebut dalam atikel di atas

    sukron kasiron kabir jiddan

  6. aria vredofa said:

    berapa jumlah uang denda yang harus di bayar sebenarnya????
    kemarin papa ku kok sampai kena 250 ribu hanya tanpa sim????

    wallahu a’lam, pengalaman pribadi pernah diperlihatkan tabel pelanggaran beserta dendanya, tapi yang jelas tidak ada denda sebesar itu. Lebih jelasnya minta aja ke pak polisinya agar memperlihatkan daftar pelanggaran serta dendanya, pasti ada.

  7. Gading wahyu said:

    assalmualaikum…
    kenapa biasanya tilangan lebih dari uang
    denda sebenarnya??
    apa tidak malu jika itu di sebut uang haram
    terima kasih>>>

  8. eko said:

    assalamu’alaikum,,
    saya minta izin copy untuk semua artikelnya ustadz.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tafadhdhal, wabarakallahu fikum.

  9. Obie said:

    Saya mau tanya. untuk uang denda/tilang apakah besarnya sama antara kita dipengadilan/pake form merah dengan kita membayar di bank/pake form biru?

    Wallahu a’lam, mungkin bisa langsung ditanyakan kepada yang berwajib.

  10. irul said:

    ass.
    mau nanya.

    apa bila kita kena tilang karena tidak membawa sim,apa kita boleh minta form biru saja? tanpa form merah..
    mohon penjelasannya. wassalam

    Ia boleh selama kita tidak mengajukan alasan atau berargumen dengan petugas, tapi pasrah menerima kesalahan yang kita lakukan.

  11. faisal said:

    saya mau nanya

    sya kn di tilang
    lalu surat tilangnya hilang
    sewaktu sya mau ngrus surat kehilangan, sya di suruh mnta no seri surat tilangnya kepada petugas yg nilang
    pas saya mnta no nya
    kta petugasnya smua berkas sudah di desrah kn kepada pusat
    jd sya harus apa?

    Maaf di sini kami hanya menukil artikel dari situs yang ada di akhir artikel, jadi sebaiknya bapak tanya langsung ke situs tersebut karena kami tidak paham masalah seperti ini. Trima kasih

  12. Daftar Hotel Bintang dan Melati Murah said:

    Wah lengkap banget saya jadi banyak tahu sekarang
    terima kasih atas sharingnya

  13. abu rijal said:

    Bismillah
    Ustadz saya juga habis kena tilang. Pak polisi menghentikan saya dan menegur karena tidak menyalakan lampu utama pada siang hari.
    Saya bilang lupa pak. Bliau tanya: apa bpk bisa ikut sidang? Saya jawab tidak pak, karena saya kerja. Lalu Pak polisi menunjukkan pasal pada buku tilang dengan denda maximal 100 ribu, sambil bilang: “itu maksimalnya pak, lebih dari 100 ribu tidak mungkin, tapi kalau kurang bisa”. Saya balik tanya karena saya tidak tahu kalau melanggar dengan sebab lupa itu dendanya berapa: “Kalau kurang itu berapa pak (maksud saya denda minimal, wong penyebabnya adalah karena saya “lupa” ). Pak polisi malah ketawa sambil bilang: “Ya anda kira2 sendirilah.”
    Dalam hati saya heran, lha yang ngerti aturan dia kok malah saya suruh ngira2 hukumannya. Saya diam karena bingung.
    Terus Pak Pol bilang:” Ya dibayar separuh ndak pa-pa.”
    “Wah jangan separuh pak, saya belum makan-e, 20 aja ya pak” jawab saya sambil berharap bebas dari hukuman/dimaafkan..
    Pak Polnya mnaggut2 aja.
    Pertanyaan saya Ustadz:
    1.Apakah saya berdosa karena menawar hukuman (minta diringankan hukuman)?
    2. Saya tidak tahu apakah uang itu masuk kas resmi negara atau masuk kantong Pak Pol, yang jelas saya percaya/husnudzon aja sama bliau karena saya lihat dia catak ID card saya dibuku tilangnya. Tapi apakah saya tetap dianggap melakukan suap meskipun tidak ada niatan menyuap Pak Polisi tersebut.

    Jazakumullohu khoiron atas jawabannya

    Jika memang seperti itu peraturan resminya, maka itu adalah perbuatan suap. Wallahu a’lam

  14. ahmad nico said:

    jazaakallah atas penjelasannya yg sangat komplit lebih komplit dari pada pak polisi yang nilang aku tadi.

  15. mba ita said:

    assalaamualaikum

    mau tanya nih..saya kan tadi habis ketilang, boncengin teman yang tidak pakai helm,karna saya pikir tempatnya dekat dengan kampus,jdi tidak masalah..ee ternyata ketemu sama pak polisi juga, dan karena trburu-buru mau kuliah saya tidak dikasih form tilang sama pak polisinya..
    umpama saya datang ke pos dan minta form biru apakah bisa? ni hari minggu dan bank tutup, apakah dendanya bisa dibayarkan di lain hari kita ketilang(misal hari besoknya)?

    terimakasih..wassalamualaikum..

    Waalaikumussalam.
    Wallahu A’lam ya, apa bisa, kami juga tidak paham detail masalah pertilangan ini.