Bacaan Shalat Zuhur & Ashar
March 12th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email
26 Rabiul Awal
Bacaan Shalat Zuhur & Ashar
Dari Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata:
لَقَدْ كَانَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ تُقَامُ فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقْضِي حَاجَتَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْتِي وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِمَّا يُطَوِّلُهَا
“Sungguh iqamah shalat zhuhur telah dikumandangkan, lalu ada seseorang yang pergi ke Baqi’ untuk buang hajat. Setelah itu dia berwudhu kemudian dia mendatangi (shalat jama’ah) kembali, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih pada raka’at pertama, hal itu karena beliau memperpanjang bacaan padanya.” (HR. Muslim no. 454)
Dari Abu Qatadah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا فَيَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الْأُولَى مِنْ الظُّهْرِ وَيُقَصِّرُ الثَّانِيَةَ وَكَذَلِكَ فِي الصُّبْحِ
“Rasulullah shalat mengimami kami lalu beliau membaca surah al-fatihah dan dua surah dalam shalat zhuhur dan ashar pada dua rakaat yang pertama. Dan terkadang beliau memperdengarkan (bacaan) ayatnya kepada kami. Beliau memanjangkan rakaat pertama shalat zhuhur dan memendekkan yang kedua. Dan demikian juga yang beliau lakukan dalam shalat shubuh.” (HR. Al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 451)
Maksud ‘membaca surah al-fatihah dan dua surah dalam shalat zhuhur dan ashar pada dua rakaat yang pertama’ adalah: Beliau membaca surah Al-Fatihah dan satu surah lainnya pada setiap rakaat.
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَفِي الْعَصْرِ نَحْوَ ذَلِكَ وَفِي الصُّبْحِ أَطْوَلَ مِنْ ذَلِكَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dalam shalat zhuhur ‘Wal-laili idza yaghsya’, dan dalam shalat ashar membaca surah semisal itu panjangnya. Semenara dalam shalat shubuh beliau membaca surah yang lebih panjang dari itu.” (HR. Muslim no. 459)
Penjelasan ringkas:
Bacaan Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam shalat zuhur dan ashar adalah dari salah satu dari surah-surah mufashshal yang panjangnya pertengahan. Beliau biasanya memanjangkan bacaan pada rakaat pertama shalat zuhur, sampai-sampai walaupun setelah iqamah ada orang yang pergi ke daerah Baqi’ untuk buang air besar lalu dia berwudhu dan kembali ke masjid, niscaya dia tidak akan masbuk satu rakaat pun. Sementara pada rakaat yang kedua, beliau membaca surah yang lebih pendek dari itu, semisal surah Al-Lail.
Hadits Abu Qatadah di atas menunjukkan bolehnya imam sekali-sekali menjahrkan satu ayat dari surah yang dia baca setelah al-fatihah, tapi tidak sering. Dan juga menunjukkan bagaimana hikmah Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam masalah panjang dan pendeknya bacaan pada kelima shalat waktu, dimana dalam semua itu beliau mempertimbangkan keadaan jamaah. Wallahu a’lam.
Incoming search terms:
- bacaan sholat zuhur
- Bacaan sholat ashar
- bacaan shalat
- sholat zuhur
- tata cara shalat ashar
Related posts:
This entry was posted on Friday, March 12th, 2010 at 1:49 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








June 21st, 2011 at 9:15 pm
“Terbagi menjadi berapakah tata cara pengucapan imam dalam sholat yaitu secara keras / secara lirih dan terbagi menjadi berapa?”
June 21st, 2011 at 9:19 pm
“Apakah sholat itu terbagi menjadi 2 macam dari tata cara pengucapan imam dan apa saja nama macam tersebut?
September 19th, 2011 at 2:49 am
Pada saat shalat sirriah bolehkah tetap menjahrkan bacaan bilamana tidak ada orang lain yg bersamanya (munfarid), dimaksudkan untuk melatih bacaan dan melagukan surat2nya?
September 26th, 2011 at 5:06 pm
Bismillah
Assalamu’alaykum
Ustadz, apabila saya membaca secara sirriah, kadang bacaan saya tidak terdengar oleh saya sendiri, mungkin karena lisan saya yang kurang terlatih selain juga karena kadang tenggorokan saya ada gangguan. Dengan keadaan yang demikian apakah saya tetap mensirrkan bacaan saya seperti itu atau harus dikeraskan lagi, Ustadz? Bagaimana kalau bacaan saya dikeraskan tapi nantinya mengganggu jama’ah lain?
October 6th, 2011 at 4:04 pm
assalamualaikum,
ustadz, apakah setelah membaca al fatihah di rakaat ke tiga dan ke empat masih dilanjutkan dengan membaca surat lain?
April 21st, 2012 at 5:19 am
Assalamu’alaikum,
ustadz, bolehkah pada ruku’ hanya 1x mebaca SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHZIMI WA BIHAMDIH dan pada sujud 1x juga membaca SUBHAANA RABBIYAL A’LAA WA BIHAMDIH.
wassalam
April 22nd, 2012 at 11:21 pm
ustadz, apakah pada shalat yang jahriyyah namun kita shalatnya sendirian kita tetap disuruh untuk menjahrkan bacaan kita di rakaat pertama dan kedua?