Bacaan Dalam Duduk Tasyahud

March 23rd 2010 by Abu Muawiah |

7 Rabiul Akhir

Bacaan Dalam Duduk Tasyahud

Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dia berkata:
كُنَّا نَقُولُ فِي الصَّلَاةِ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ فَإِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِذَا قَالَهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
“Kami dahulu mengucapkan dalam shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, “Semoga keselamatan atas Allah, semoga keselamatan atas fulan.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami pada suatu hari, “Sesungguhnya Allah Dialah As-Salam, karenanya apabila salah seorang dari kalian duduk dalam shalatnya maka ucapkanlah, “ATTAYHIYATU LILLAHI WASHSHALAWATU WATHTHAYIBAT. ASSALAMU ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAHI WABARAKATUH. ASSALAMU ALAINANAA WA ALA ‘IBADILLAHISH SHALIHIN (Segala penghormatan bagi Allah, shalawat dan juga kebaikan. Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu wahai Nabi dan juga rahmat dan berkahnya. Semoga keselamatan terlimpahkan atas kami dan hamba Allah yang shalih) -Apabila dia mengucapkannya maka doa itu akan mengenai setiap hamba saleh di langit dan bumu- ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH (Saya bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah).” Kemudian dia memilih permintaan doa yang dia kehendaki.” (HR. Al-Bukhari no. 835 dan Muslim no. 402)
Dalam riwayat Abu Daud no. 968, “Kami dahulu mengucapkan ketika kami duduk (tasyahud) di belakang Rasulullah.”
Dari Ka’ab bin Ujrah -radhiallahu anhu- dia berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar melewati kami, maka kami berkata, “Sungguh kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepada anda. Hanya saja bagaimana  cara bershalawat kepada anda?” Beliau bersabda, “Kalian katakanlah: ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA AALI IBROOHIIMA INNAKA HAMIIDUN MAJIID, ALLOOHUMMA BAARIK ‘ALAA MUHAMMADIN WA’ALAA AALI MUHAMMADIN KAMAA BAAROKTA ‘ALAA AALI IBROOHIIMA INNAKA HAMIIDUN MAJIID (Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi shalawat atas keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berilah berkah atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberi berkah kepada keluarga Ibrahim. Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia).” (HR. Muslim no. 406)
Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Jika salah seorang di antara kalian (duduk) tasyahud, maka hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Yaitu dia berdoa: “ALLAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAMA, WAMIN ‘ADZAABIL QABRI, WAMIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAATi, WAMIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAL (Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masih Dajjal).” (HR. Muslim no. 588)
Al-Hafizh berkata dalam Bulugh Al-Maram no. 337, “Dalam sebuah riwayat Muslim, “Jika salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir.”

Penjelasan ringkas:
Dalam duduk tasyahud, ada 4 bacaan yang disyariatkan untuk dibaca di dalamnya:
1.    Tahiyat, yaitu dari kalimat ‘ATTAHIYATU’ sampai bacaan dua kalimat syahadat. Ada beberapa lafazh tahiyat yang disebutkan dalam hadits yang shahih, salah satunya seperti yang tersebut dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas. Lihat lafazh lainnya dalam kitab Sifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. Dan hukum membaca tahiyat ini adalah wajib shalat, berdasarkan perintah dalam hadits di atas.
2.    Shalawat kepada Nabi . Hukum membacanya adalah wajib shalat -menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama-, berdasarkan perintah dalam hadits Ka’ab bin Ujrah di atas. Lafazhnya pun ada beberapa, silakan lihat yang lainnya dalam kitab Sifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.
3.    Berdoa untuk berlindung dari 4 perkara yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah di atas. Hukum membacanya adalah wajib berdasarkan perintah dalam hadits di atas. Dia wajib dibawa baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah, karenanya jika seseorang meninggalkannya karena lupa maka dia digantikan dengan sujud sahwi.
4.    Setelah membaca ketiga bacaan di atas, maka sebelum salam dia disyariatkan untuk berdoa dengan doa apa saja yang dia inginkan. Ini berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud di atas. Hanya saja lebih utama -bahkan Imam Ahmad mewajibkan- jika dia hanya memilih doa yang diajarkan oleh Nabi -alaihishshalatu wassalam-. Silakan lihat doa-doa yang Nabi -alaihishshalatu wassalam- ajarkan di sini dalam kitab Sifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.

Sebagai kelanjutan artikel sebelumnya, perbedaan yang keempat antara tasyahud awal dan tasyahud akhir (lihat 3 perbedaan lainnya pada artikel sebelumnya ‘Duduk Tasyahud’) adalah: Pada tasyahud awal hanya disyariatkan membaca tahiyat sementara pada tasyahud akhir disyariatkan membaca tahiyat dan shalawat kepada Nabi . Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah dan selainnya. Bahkan pada tasyahud terakhir setelah shalawat, wajib untuk berdoa berlindung dari empat perkara dan disyariatkan juga untuk berdoa sebelum salam.

Incoming search terms:

  • bacaan tasyahud akhir
  • bacaan tasyahud
  • bacaan tasyahud awal
  • tasyahud
  • bacaan tasyahud awal dan akhir
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, March 23rd, 2010 at 4:21 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

47 responses about “Bacaan Dalam Duduk Tasyahud”

  1. anwar sanusi said:

    Assalamu’alaikum Pak Ustad, numpang nanya pak ustad, sebenarnya jari2 telunjuk ditergakkan pada saat kapan, apa saat bacaan ” attahayatullillah” atau pada saat bacaan “syahadat” dan nohon hadistnya pak mana yang kuat/ shoheh, terus telunjuk diam ajak dalam keaadaan tegak atau digoyang2 pak, ada nggak sih pak hadistnya. Trimakasih pak. Wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Jari telunjuk diangkat sejak dari awal duduk tasyahud, jadi bukan diangkat nanti pada bacaan syahadat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa telunjuk diangkat pada saat tasyahud, diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi tapi haditsnya lemah, jadi tidak boleh diamalkan.
    2. Untuk masalah jari digerakkan atau tidak, silakan baca di sini:http://al-atsariyyah.com/?p=586

  2. Akh Syam said:

    Assalamu’alaikum

    Ustad, Ana punya problem waktu sholat berjamaah dimana imam sudah pindah gerakannya sementara ana sebagai makmum belum selesai, yang mana sering terjadi ketika pada tasyahud dimana ana membaca tasyahud sampai ke sholawat dan waktu rokaat 3 dan 4 imam terlalu cepat membaca alfatiha

    – apakah sholawat termasuk tasyahud dan wajib atau tidak menyelesaikan bacaaanya
    – Apakah Tasyahud awal dan akhir tu ada perbedaan atau tidak, bacaan sholawat itu wajib atau tidak

    Afwan pertanyaan nya terlalu panjang

    jazakallahu kiron atas penjelasannya

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Jawabannya telah kami sebutkan di atas, silakan baca lagi

  3. Halim said:

    Assalamu’alaykum
    Ustadz, ana mau tanya. Jika sholat 2 rekaat(Subuh dan sunnah), apakah tasyahudnya memakai tashyahud awwal ataukah tasyahud akhir?
    Dan bagaimana jika berjama’ah, dan ada ma’mum yang tertinggal. Apakah tasyahudnya mengikuti imam atau menggunakan tasyahud awwal(ketika imam tasyahud akhir)? terima kasih. Assalamu’alaykum.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Jika shalatnya hanya 2 rakaat maka yang dibaca adalah tahiyat akhir.
    Jika dia masbuk maka dia membaca tasyahud awal karena dia belum duduk tasyahud terakhir. Wallahu a’lam.

  4. ibnu cali said:

    assalamu’alaikum warahmatullah
    usatad,lafad yang benar menurut pendapat jumhur ulama”assalamua alaika nabiyi/assalamu ala nabiyi”
    jazakallah khair.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah hanya membaca ‘assalamu alaika ayyuhan nabiyyi …’, karena begitulah yang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ajarkan. Adapun lafazh ‘assalamu alan Nabiyyi …,’ maka itu adalah ijtihad dari sebagian sahabat. Wallahu a’lam

  5. Andri said:

    Assalamualaikum Ustad…untuk bacaan doa yang berlindung dari 4 perkara tersebut..apa memang wajib…dan apabila tidak dibaca apa sholat kita kurang sempurna…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia hukumnya wajib berdasarkan perintah Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dalam hadits di atas. Jika tidak dibaca maka shalatnya kurang sempurna tapi bisa ditutupi dengan sujud sahwi. Wallahu a’lam

  6. abu tanisha said:

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

    ustadz ana ingin mempertanyakan masalah sholawat, apakah sholawat ini wajib dibaca juga di tahiyat pertama pada sholat-sholat yang memiliki 2 tahiyat?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,
    Wallahu a’lam, pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama adalah bahwa shalawat hanya dibaca pada tahiyat terakhir, dan inilah insya Allah pendapat yang lebih tepat.

  7. maulidi said:

    Assalamualaykum warrahmatullah, Ustadz maaf numpang nanya, apakah bacaan tasyahud dibawah ini boleh dipakai dan berdasarkan dalil yg kuat, karna ini yg biasa saya baca :
    Attahiyatul mubarakatus sholawatu toyyibatulillah, assalamualayka ayyuhannabiyyu warrahmatullah wabarakatuh, assalamualayna wa alla ibadillahis sholihin, asyhadu anla ila hailallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah, allahumma shali alla muhammad wa alla ali muhammad, kamma shalaita alla ibrahim wa alla ali ibrahim, wabarrik alla muhammad wa alla ali muhammad, kamma barrakta ibrahim wa alla ali ibrahim, innaka hamudummajiid, allahumma inni auzdubika min adzabi jahnnama …. dan seterusnya sampai masihiid dajjal.
    Terima kasih.
    ditunggu jawabannya.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatu.
    Ia, insya Allah bacaan itu berdasarkan dalil-dalil yang kuat sehingga boleh diamalkan.

  8. Maulidi said:

    Terima kasih ustadz atas jawabannya, skarang saya sdh tdk was-was lagi kalau shalat.

  9. zhaiful i.nuralam said:

    assalamualaikum ustadz….!!!!
    maaff,,, saya ingin tanya ..???
    bacaan tasyahud yang dipaparkan i2 bener-bener
    betul dan dijamin kesahihannya…………..?????
    karna lebih banyak orang yang pakai doa tasyahud awal selain i2….????
    and apakah benar doa tadyahud awal selain yang dipaparkan beliau ????
    terima kasih…..

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Insya Allah shahih. Ada bacaan tasyahud lain yang boleh dibaca, silakan lihat dalam buku Sifat Shalat Nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.

  10. hasan said:

    Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ana minta ijin mencopy dan print untuk kepentingan dakwa Ahlu Sunnah

    Jazakallahu khairan

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Tafadhdhal wajazakallahu khairan

  11. Luthfi said:

    Assalamu’alaikum ustaz!
    Ana baca buku sifat shalat nabi karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, di situ beliau bilang shalawat nabi dibaca juga di tasyahud awal. jadi tidak ada perbedaan tasyahud awal dan akhir selain cara duduknya. Mana yg benar ustaz??

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Memang ada silang pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini, dan yang lebih tepat menurut kami adalah apa yang kami sebutkan di atas. Wal ilmu indallah.

  12. nur halimah said:

    pak ustad…saya pengen tanya,kenapa dalam sholat yg rokkatnya lebih dari 2 rokaat harus ada duduk tasyahud awal????mohon dijawab ya pak ustad…

    Wallahu a’lam, begitulah petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kita hanya tinggal melaksanakannya walaupun tidak mengetahui hikmahnya.

  13. Abu Muqaffa said:

    Barakallahu fikum.

    Ustadz -rahimakallah-, saya ingin menanyakan mengenai sifat duduk tasyahud dalam beberapa keadaan berikut:

    [1]. Jika kami condong kepada pendapat Imam Ahmad, Ibnu Qudamah, Ibnu Al-Qayyim -rahimahumullah- dan yang sependapat dengan mereka (bahwa sifat duduk tasyahud akhir, pada shalat yang hanya terdapat satu tasyahud, adalah iftirasy), maka bagaimana sifat duduk tasyahud akhir dalam shalat Witir yang satu, tiga dan lima rakaat (dimana tidak duduk tasyahud, melainkan pada tasyahud akhir -yang terdapat salam padanya-); iftirasy ataukah tawarruk?

    [2]. Jika kami masbuk satu atau dua rakaat dalam shalat jamaah yang tiga dan atau empat rakaat -yang terdapat 2 tasyahud padanya-, dan kami mendapati (ikut bersama) imam tasyahud awal, maka pada saat imam duduk tasyahud akhir, duduk apakah yang kami lakukan; iftirasy ataukah tawarruk?

    [Mengingat kami pernah mendapatkan keterangan dari seorang ustadz -jazahullahu khairan- mengenai keadaan pada nomor 2 tersebut, yakni makmum -yang masbuk tersebut- duduk tawarruk]

    Wallahu a’lam.

    Jazakumullahu khairan.

    1. Afwan, antum mungkin bisa bertanya kepada ustad yang berpendapat sama seperti antum pada shalat yang dua rakaat, karena kami sendiri berpendapat disyariatkannya duduk tawarruk pada shalat yang dua rakaat. Bukannya tidak mau menjawab, tapi kami memang tidak mengetahui apa dalil yang mereka gunakan dalam shalat yang 1 atau 3 atau 5 rakaat dengan sekali tasyahud dan salam.
    Ini salah satu kasus yang menunjukkan lemahnya pendapat Al-Hanabilah yang berpendapat duduk iftirasy pada shalat yang 2 rakaat. Adapun pendapat Asy-Syafi’iyah yang berpendapat bahwa cara duduk pada tasyahud akhir adalah tawarruk, baik yang 1 atau 3 atau 4 atau 5 rakaat, maka tidak ada masalah bagi mereka dalam kasus ini. Yang jelas, kapana tasyahudnya tasyahud akhir maka duduk tawarruk dan kapan belum terakhir maka duduk iftirasy. Insya Allah pendapat inilah yang lebih tepat dan lebih menangkan dalam amalan.
    2. Yang wajib diikuti dari gerakan imam hanyalah gerakan yang zhahir dan mudah terlihat. Adapun gerakan yang tidak nampak atau susah diketahui maka tidak wajib mengikutinya, seperti dalam masalah cara duduk saat tahiyat. Karenanya dalam hal ini dia duduk sesuai dengan keadaan dia sendiri (tahiyat awal/iftirasy) walaupun imam sudah tahiyat akhir (tawarruk). Tapi jika ada yang tetap duduk tawarruk karena tetap berpegang pada dalil wajibnya mengikuti imam, maka itu juga tidak bermasalah insya Allah.

  14. ridho said:

    Assalamua’alaikum wr.wb. Ustadz..
    Ana mau tanya, maksudnya “sebelum salam dia disyariatkan untuk berdoa dengan doa apa saja yang dia inginkan” di sini apa bisa berarti berdoa menggunakan bahasa kita (bahasa Indonesia- karena belum bisa berbahasa Arab misalnya) diperbolehkan? Apakah hal ini tidak membatalkan shalat? Selain itu juga pada saat sujud disyariatkan pula untuk memperbanyak doa, apakah hukum dan tata caranya sama dengan doa pada akhir shalat ini?
    Mohon penjelasannya Ustadz..
    Syukron

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Tidak boleh bahkan itu bisa membatalkan shalat, karena hukumnya sama seperti berbicara di dalam shalat. Doa dalam sujud atau sebelum salam harus dalam bahasa arab, dan utamanya doa-doa yang telah diajarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. antum bisa hafalkan sebagian doa-doanya dari kitab hisnul muslim atau semisalnya,
    barakallahufiik.

  15. ridho said:

    Ustadz..
    Apabila permintaan kita (dalam doa sujud maupun akhir shalat) mengenai sesuatu hal yang spesifik, kemudian tidak tersebutkan atau terangkum dalam doa2 yang kita panjatkan dari doa2 peninggalan Rasulullah bagaimana?
    Apakah hukum melafadzkan doa dengan hati maupun dengan lisan itu sama, sehingga antara ucapan dengan keinginan hati harus dihadirkan bersamaan?(misalny : tidak boleh berdoa dengan ucapan A untuk meminta dalam hati perihal B)
    Selain itu pada waktu sujud kita dilarang untuk membaca Qur’an, dalam hal ini apa berarti kita tidak boleh membaca doa dari Qur’an?
    Jazakallahu khoiron ustadz..
    (Afwan atas pertanyaan ana yg mungkin terlalu banyak)

    Tidak mungkin tidak terangkum, karena doa-doa yang beliau ajarkan adalah doa yang sangat luas maknanya. Sebut saja misalnya doa: Robbanaa aatinaa fid dun-ya hasanah …, sampai akhir doa. Ini mencakup semua kebaikan dunia dan akhirat jika itu memang merupakan kebaikan.
    Kalau dia tetap ingin meminta sesuatu yang secara spesifik tidak tersebut dalam hadits, maka dia boleh berdoa dengannya di luar shalat, misalnya antara azan dan iqamah.
    Tidak boleh membaca doa jika doa itu berasal dari Al-Qur`an, berdasarkan keumuman larangan dalam hadits.

  16. indra par said:

    Pa ustad, adakah perbedaan Tahiyat akhir pada shalat sunnah misal rawatib dengan shalat fardhu?
    Karena saya perhatikan rekan2 saya yg salaf jika duduk tahiyat akhir pada shalat sunnah sikap duduknya maaf pantatnya tidak bersimpuh dilantai namun masih menduduki tungkai kiri (tahiyat akhir sperti tahiyat awal diakhiri dgn salam)

    Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah tidak ada perbedaan antara tahiyat akhir shalat yang empat rakaat dengan tahiyat akhir dari shalat yang dua rakaat. Keduanya dilakukan dengan duduk tawarruk (panggul duduk di lantai dan kaki kiri dimasukkan di bawah kaki kanan).
    Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’iyah berdasarkan hadits Abu Humaid As-Sa’idi riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Demikian jawaban ringkasnya, insya Allah masalah ini akan kami bahas lebih luas pada tempatnya.

  17. Ady said:

    Assalamu’alaikum. Ustadz, bgaimana dgan bacaan saat duduk tasyahud tiap dua roka’at pd sholat tarawih. Apakah bacaan tasyahud awal ato akhir?

    Waalaikumussalam
    Karena itu duduk tahiyat akhir maka bacaannya adalah bacaan tasyahud akhir.

  18. fatimah said:

    assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh,,,
    ustadz,, mau tanya,, apa bedanya sholawat menggunakan kata “sayyidina” dan tidak?
    mana yang lebih baik?? dibaca ato tidak dalam sholat?? syukron,,,

    Waalaikumussalam warahmatullohi wabarakatuh
    Sebaiknya tidak menggunakan ‘sayyidina’ karena tidak ada satupun dalil yang menyebutkan kata ‘sayyidina’ dalam shalawat

  19. Abu Zulfa said:

    Bismillah. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyyina Muhammad.

    As-Salamu ‘alaikum wa rahamtullah.

    Maaf Ustadz, ada yang ingin saya tanyakan mengenai jawaban Ustadz yang terlihat berbeda (bertentangan), yakni pada jawaban atas pertanyaan nomor 13 -di atas- dengan jawaban yang ditulis pada artikel lainnya yang berjudul Niat Wudhu dan Duduk Tasyahud (http://al-atsariyyah.com/niat-wudhu-dan-duduk-tasyahud.html).

    Rinciannya, sebagai berikut:

    [1]. Mengenai sifat (cara) duduk tasyahud akhir pada shalat yang hanya terdapat satu tasyahud padanya, Ustadz merajihkan tawarruk -sebagaimana pendapat Syafi’iyah- pada jawaban nomor 13 (point 1) di atas. Sedangkan, pada artikel lainnya (http://al-atsariyyah.com/niat-wudhu-dan-duduk-tasyahud.html), Ustadz merajihkan iftirasy (sebagaimana pendapat Hanabilah dan yang dikuatkan oleh kebanyakan masyayikh di zaman ini, di antaranya Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin dan Al-Wadi’i -rahimahumullah-).

    Jadi, manakah yang rajih, tawarruk ataukah iftirasy? Dan, apakah ada ulama -Ahlussunnah- di zaman ini yang berpendapat tawarruk? Barakallahu fikum.

    [2]. Mengenai makmum yang tertinggal (masbuk) satu atau dua rakaat dalam shalat berjamaah yang tiga dan atau empat rakaat -yang terdapat 2 tasyahud padanya-, dan makmum -masbuk tersebut- mendapati (ikut bersama) imam tasyahud awal, maka pada saat imam duduk tasyahud akhir, Ustadz menyatakan, “Yang wajib diikuti dari gerakan imam hanyalah gerakan yang zhahir dan mudah terlihat. Adapun gerakan yang tidak nampak atau susah diketahui, maka tidak wajib mengikutinya, seperti dalam masalah cara duduk saat tahiyat. Karenanya, dalam hal ini dia duduk sesuai dengan keadaan dia sendiri (tahiyat awal/iftirasy), walaupun imam sudah tahiyat akhir (tawarruk).”

    Sedangkan pada artikel yang lainnya, yang berjudul Niat Wudhu dan Duduk Tasyahud (http://al-atsariyyah.com/niat-wudhu-dan-duduk-tasyahud.html), Ustadz menyatakan, “Dia mengikuti posisi duduk imam. Jika imam iftirasy, maka dia juga iftirasy. Dan jika imam tawarruk, maka dia juga tawarruk, walaupun bagi dia (yang masbuk) duduk tersebut belum duduk tahiyat terakhir. Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam hadits Abu Hurairah (HR. Al-Bukhari pada banyak tempat, di antaranya no. 648 dan Muslim no. 622).”

    Dan, pada jawaban atas pertanyaan nomor dua (pada artikel tersebut), Ustadz juga menyatakan jawaban yang sama, “Adapun yang kami pandang lebih kuat adalah dia tetap mengikuti posisi imam berdasarkan keumuman dalil yang kami sebutkan di atas. Ini juga yang dipahami oleh sahabat Ibnu Mas’ud, dimana beliau ikut shalat 4 rakaat di belakang Utsman di Mina, dimana mereka ketika itu sedang haji (safar). Sementara Ibnu Mas’ud sendiri berpendapat shalat dalam keadaan safar hanyalah dua rakaat (yang rakaatnya 4). Maka, ini menunjukkan beliau memahami dalilnya berlaku umum untuk semua perkara, baik yang imam benar di dalamnya maupun imam salah di dalamnya. Dan, termasuk kesalahan adalah duduk tawarruk pada rakaat kedua pada shalat yang dua rakaat.

    Allahumma, kecuali jika kesalahan imam itu berupa bid’ah atau tidak ada dalilnya, maka tidak boleh makmum mengikutinya. Adapun yang berpendapat tawarruk pada rakaat kedua pada shalat yang dua rakaat, maka mereka juga mempunyai dalil. Karenanya, tetap mengikuti imam dalam hal itu, walaupun kita berpendapat itu salah. Wallahu a’lam.”

    Jadi, yang manakah yang rajih, Ustadz?

    Jazakumullahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Perubahan pendapat dalam masalah fiqhi adalah hal yang biasa, karena seorang muslim itu mengarah kemana dalil mengarah. Dan sebenarnya ini sudah lama ingin kami ingatkan akan tetapi selalu lupa. Kami katakan:
    Jika para pengunjung mendapati ada pendapat yang berbeda dari satu penulis, maka pendapat yang paling terakhir adalah yang paling terakhir keluar, jadi tinggal dilihat saja tanggal keluarnya artikel atau tanggal keluarnya komentar. Wallahu a’lam. Jazakallahu khairan atas komentarnya

  20. Abu Zulfa said:

    Bismillah.

    Al-Hamdu lillah alladzi bini’matihi tatimmash-shalihat. Terima kasih atas faidah dari ant, ya Ustadz. Semoga Allah Ta’ala menjadikan semua kebaikan yang ada pada situs ini sebagai amal shalih yang menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak, baik bagi penulisnya, yang membantu mengolahnya, maupun yang menyebarkan luaskannya. Dan, semoga Allah -‘Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada kita serta membimbing kita (kaum Muslimin) dengan taufiq dari-Nya -Subhanahu wa Ta’ala-. Allahumma amin.

    Mengenai hadits yang dipakai berhujjah oleh ulama -jazahumullahu khairal jaza’- yang berpendapat duduk iftirasy pada duduk tasyahud akhir dalam shalat yang hanya terdapat satu tasyahud -padanya-, apakah semuanya shahih?

    Di antaranya, hadits Aisyah -radhiyallahu ‘anha-:

    (Artinya), “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengawali shalat dengan takbir dan membaca: AL-HAMDU LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN. Dan jika beliau ruku, tidak mendongakkan kepalanya dan tidak juga merendahkan kepalanya, melainkan meluruskannya. Dan ketika bangkit dari ruku, beliau tidak serta merta sujud sebelum berdiri sempurna. Dan ketika beliau bangun dari sujud yang pertama, beliau tidak langsung sujud sebelum duduk sempurna. Dan beliau selalu mengucapkan (bacaan) tahiyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy). Dan beliau melarang duduk sebagaimana duduknya syaithan, yaitu duduk di atas tumit kaki, dan melarang duduk iftirasy dengan meletakkan kedua sikunya seperti binatang buas. Beliau mengakhiri shalat dengan salam.” [Diriwayatkan oleh Muslim (II/54), Abu Awanah (2/49, 96, 164, 189, 222, secara terpisah), Al-Baihaqi (2/113 & 172), Ath-Thayalisi (217) dan Ahmad (6/31 & 194). Lihat Sifat Shalat Nabi (Ashl Shifah Shalah) -shallallahu 'alaihi wa sallam- karya Syaikh Al-Albani -rahimahullah.]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- mengisyaratkan (di dalam Bulugh Al-Maram) bahwa hadits ini ma’lul, dan Syaikh Al-Albani -rahimahullah- juga mengisyaratkan (di dalam Sifat Shalat Nabi) bahwa hadits ini munqathi’ -meskipun terdapat di dalam shahih Muslim-. Yang rajih, sebenarnya hadits ini shahih ataukah tidak, Ustadz?

    Jazakumullahu khairan.

    Allahumma amin.
    Setau kami ada 3 hadits yang dijadikan dalil oleh ulama Al-Hanabilah yang berpendapat duduk iftirasy di rakaat terakhir pada shalat yang 2 rakaat: Hadits Wail bin Hujr, hadits Abdullah bin Az-Zubair, dan hadits Aisyah (yg ini ana ragu). Dan semua dalilnya insya Allah shahih.

  21. www.full-scholarships.com said:

    sukron atas sharingnya

  22. Achmad said:

    Bismillah,

    Ustadz, untuk doa sebelum salam (setelah doa berlindung dari empat perkara), apakah wajib atau mustahab?

    Barakallaahu fiik.

    Hukumnya wajib, karena lafazh haditsnya adalah perintah. Wallahu a’lam.

  23. Azis Lestari said:

    Afwan ustadz izin share!

  24. hamba Allah said:

    ustadz, ketika tasyahud akhir pada rakaat akhir sering2nya imam sholat jama’ah sudah salam duluan,,sdgkan bacaan tasyahud ana saja blm tuntas dan juga blm membaca doa mohon 4 keselamatan,,pertanyaan ana,,apa yg hrs ana lakukan,,apakah lgsg salam saja meski ana blm baca doa mohon 4 keselamatan?

    Dia boleh selesaikan doanya dan boleh juga langsung salam. Wallahu A’lam.

  25. nisa said:

    Assalamualaikum, saya mau tanya ustadz, pada rakaat ke-3 dan ke-4 sholat wajib ketika berdiri dari sujud setelah membaca tasyahud awal, apakah bacaan yang kita baca pada saat berdiri sama seperti rakaat pertama dan ke-2, yaitu Al-Fathihah dan surat pendek? terima kasih sebelumnya atas penjelasan ustadz.

    Jazakumullah.

    Tidak sama. Yang dibaca pada rakaat ke3 dan 4 hanya Al-Faitihah saja, tanpa surah pendek.

  26. Abuhaikal said:

    Assalaamu’alaykum wrwb.
    Ustadz yang dirahmati Allaah, bagaimana hukumnya apabila kita lupa duduk tahiyat akhir pada raka’at terakhir shalat fardu, melainkan duduk tahiyat awal, dan baru disadari setelah melakukan salam? Apakah cukup dengan sujud sahwi saja atau shalat fardu tersebut harus diulangi? Jazakallaah khair.

    Waalaikumussalam.
    Cukup sujud sahwi.

  27. Ibnu Suradi said:

    Bismillaah,

    Assalaamu ‘alaikum.

    Bagaimana dengan bacaan: “Assalaamu ‘alannabii ….” sebagai pengganti: “Assalaamu ‘alaika …..”? Bacaan yang pertama terdapat dalam hadits riwayat siapa di kitab apa dan nomor berapa?

    Wassalaamu ‘alaikum.

    Waalaikumussalam.
    Ada beberapa ulama yang meriwayatkannya, di antara adalah Imam Ahmad dalam Al-Musnad (1/414).

  28. Hamba Allah said:

    Bismillah,
    Assalaamu’alaykum pak ustadz.

    Apakah cara berdoa sesuai yg kita inginkan (diakhir tasyahud dan sebelum salam) berlaku juga didalam sholat2 sunnah ?
    Mohon penjelasannya. Jazakallah khoiir.

    Waalaikumussalam.
    Ya, berlaku untuk semua shalat, berdasarkan keumuman haditsnya.

  29. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, ingin mesmastikan lagi, berarti pada duduk tasyahud jari telunjuk ditegakkan dari awal baca “attahiyatu…” dan pada tasyahud awal bacaanya hanya sampai pada syahadat “ashadu alla…wa’ashadu anna muhamadarosullullah”. Benarkah? terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Ya, sudah benar.

  30. Ukhti said:

    Bismillaah,
    Assalaamu’alaykum.

    Bagaimana dengan berdo’a yg kita inginkan ketika di dalam sujud. Apakah itu juga sunnah pak ustadz ? lalu manakah yg lebih baik, berdo’a ketika di dalam sujud atau ditasyahud akhir ?
    Jazakallah khoiir sebelumnya.

    Waalaikumussalam.
    Ya, doa dalam sujud yg dimaksud adalah sunnah. Tapi zikir dalam sujud adalah wajib. Sebaiknya kita berdoa pada keduanya.

  31. INAAYAH said:

    AFWAN UZTADZ..ANA MAU NANYA GMANA CRA TAHIYATNYA ORANG YANG DI TANGAN KANANNYA TIDAK MEMPUNYAI JARI TENGAH DAN JARI TELUNJUK?? MHON PENJELASANNYA

    Syariat berisyarat dengan jari gugur darinya.

  32. iyar sukandar said:

    Assalaamu’alaykum.
    tentang bacaan assalaamu’alaika ayyuhannabiyu diganti dengan bacaan assalaamu’alaa nabiyu. riwayat aisyah setelah rosullulloh wafat. shahih ga?
    jazakalloh.khoiir

    Waalaikumussalam.
    Shahih, akan tetapi itu murni ijtihad beliau. Karenanya, kita tetap mengikuti bacaan yang Nabi shallallahu alaihi wasallam ajarkan.

  33. ukhty said:

    afwan ustadz, saya ingin bertanya bagaimana dengan bacaan tasyahud pada sholat sunnah seperti rawatib atau tarawih. apakah benar hanya sampai pada bacaan Allahumma sholli ‘ala muhammad tasyahudnya langsung salam ?
    jazakalloh khoir sebelumnya.

    Tidak benar, tapi harus dibaca sampai terakhir. Karena walaupun cuma 2 rakaat, itu terhitung tahiyat terakhir, dan bacaan dalam tahiyat terakhir itu dibaca sampai akhirnya, bukan cuma sampai shalawat.

  34. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz, apakah ada tuntunanya menggerakan jari telunjuk pada saat baca sholawat: “Allahuma sholli ala muhammad….”
    Terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada. Bahkan tidak ada satu pun hadits shahih yang menganjurkan jari untuk digerak-gerakkan.

  35. dymas said:

    Assalamualaikum
    Ustadz, mo nanya jg tntang ap yg dmksd mnegakkan jari tlunjuk? Apakah jari kanan yg lain ttap mnempel pada paha kanan mnghdap kiblat, ataukah jari yg laen dgenggam dan hnya tlunjuk saja yg mngarah kiblat (dtgakkan)?!
    Dmkian ustadz, trima kasih…
    Assalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Jari yang lain digenggam kecuali telunjuk. Wallahu a’lam.

  36. Hamba Allah said:

    Assalamualaikum ustadz.

    Bagaimana jika saat tasyahud akhir membaca tahiyat, lalu sholawat, lalu do’a 4 perkara saja. Kemudian salam. Apa boleh? Masalahnya saya tidak tahu bacaan do’a setelah do’a 4 perkata itu.

    wa’alaikum salam warahmatullah.
    jika sudah baca tasyahud kemudian salam dan berdoa dengan doa itu maka sudah cukup. (MT)

  37. Hamba Allah said:

    Bagaimana jika bacaan imam terlalu cepat? Kadang alfatihah saya belum selesai sudah ruku’. Atau saat tasyahud awal saya belum selesai baca shalawat, imam sudah berdiri.
    1. Apa saya harus mengikuti gerakan imam walau bacaan saya belum selesai? Atau saya harus selesaikan bacaan saya dulu dan tidak mengikuti gerakan imam. Padahal gerakan imam haruslah diikuti.
    2. Jika saat tasyahud akhir saya belum selesai baca tahiyat tapi imam sudah salam. Apa saya harus lanjutkan bacaan saya dulu atau langsung ikut salam?

    Sepatutnya alfatihah juga anda baca dengan cepat agar bisa mengikuti imam. Adapun selain alfatihah, maka anda boleh meninggalkan bacaannya guna mengikuti imam.

  38. Hamba Allah said:

    Apa boleh bacaan do’a sebelum salam itu saya isi dengan “Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo”?

    Boleh.

  39. gio arman said said:

    assalamu wr.wb.

    pak ustad numpng nanya berdoa berlindung dari 4 perkara pada tasyahud akhir doa nya apa ya pak ustad

    wa’alaikum salam warahmatullah

    Doanya sebagai berikut :

    ‏ اللَّهُمَّ إِني أعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيا والمَماتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَة المَسِيحِ الدَّجَّال

    ertinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung denganMu dari azab jahannam, dan dari azab kubur, dan dari fitnah hidup dan mati, dan dari keburukan fitnah masih ad-dajjal”. (MT)

  40. Chandra said:

    Assalamu’alaikum. Ustadz

    Mengenai point yg ke-4 bahwa disyariatkan untuk berdoa dengan doa apa saja yg diinginkan.

    Apakah itu diwajibkan? bgmn kalo setelah berdoa dari 4 perkara terus lgsng salam dan tidak berdoa dengan doa apa saja yang diinginkan. apakah sah sholatnya?

    dan kalo sy ingin berdoa dengan doa apa saja yang diinginkan tersebut, bisa diberi contoh doanya seperti apa? ato ada doa tertentu yg sudah termaktub secara khusus di hadits nabi, mhn diberi contoh.

    Jazakallahu khairan

    Waalaikumussalam
    Tidak wajib, tapi sunnah. Karenanya jika tidak dilakukan, gak ada masalah.
    Pilih doa yang terdapat dalam hadits dan harus dengan bahasa arab.

  41. arief said:

    Ustadz, mohon pencerahan arti kalimat dalam bacaan tasyahud “…wa’ala aali Muhammad,…wa’ala aali Ibrohim,…”, apakah sesungguhnya arti kata “aali” tsb.?
    Karena ada orang yang mengartikan bahwa itu adalah merujuk untuk sahabat Ali bin Abi Thalib, sedangkan yang saya tahu itu artinya untuk ‘seluruh keluarga’.

    Syukron katsiiron.

    Yang dimaksud adalah keluarga (MT)

  42. dicky irawan said:

    pak uztad saat tiap 2 rakaat salat tarawih menggunakan tahiyat akhir atau awal?

    Tahiyat akhir, karena semua duduk sebelum salam adalah tahiyat akhir.

  43. Omar said:

    Ustadz saya mau nanya, klo terlambat sholat dari awal sholat berjamaah, seandainya imam sdh tasyahud akhir, sdgkan sya terlambat bbrp rakaat yg mana sy blm tasyahud akhir, apakah yg harus sy baca mengikuti imam dgn bcaan tasyahud akhir ataukah sy membaca bacaan tasyahud awal, ataukah hnya diam sja ??

    terima kasih,

    Anda hanya membaca tasyahud awal saja, karena itu belum tahiyat akhir bagi anda.

  44. lilik said:

    Assalamu’alaikum Ustadz, saya baca disalah satu website bacaan “ka rika wa husni ibadatika llahuma a innai ‘ala dzikrika wa syadu” ini dibaca setelah sebelum salam, apakah bacaan ini sesuai sunnah nabi”

    Waalaikuussalam.
    Mungkin maksudnya: ALLAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIKA
    Jika ini yang dimaksud, maka ya, disunnahkan membaca zikir ini. Walaupun ada yang mengatakan sebelum salam dan ada yang mengatakan setelah salam.

  45. arianto karim said:

    Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ana minta ijin mencopy dan print untuk kepentingan dakwa Ahlu Sunnah

  46. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, apakah do’a sebelum salam boleh lebih dari satu do’a?
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Boleh.

  47. desi irdiana said:

    assalaamu’alaikum.
    ana mau tanya nih ustadz, kata2 “sayyidina” pada tasyahud artinya apa ya…, sy sering menemukan guru2 ngaji mengajarkan doa tasyahud pada anak2 mengajarkan kata tsb pada “Allahuma ala sayyidina Muhammad….sayyidina Ibrohim….”.
    sy sendiri tdk pernah menggunakan kata tersebut. lantas bagaimana hukumnya….? sy khawatir dg adanya bid’ah yg mungkin sy lakukan ataupun guru2 tsb lakukan. jadi yg benar dan berdasarkan hadits shahih yg mana! jazakallah ustadz.
    wassalam.

    Waalaikumussalam.
    Arti sayyidina adl: Pimpinan kami.
    Maknanya benar, namun tidak dibaca dlm shalawat dlm shalat, karena tidak ada tuntunannya dr Nabi.