Bab Bejana

November 1st 2008 by Abu Muawiah |

Bab Bejana

Tatkala air adalah benda cair yang tidak mungkin untuk menyimpannya kecuali dengan menggunakan bejana, maka para ulama membahas setelah hukum seputar air, hukum yang berkenaan dengan bejana.

Dua Faidah:
1. Para ulama menyebutkan bahwa seluruh hadits yang menjelaskan mengenai sifat wudhu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- menyebutkan bahwa beliau berwudhu dengan menggunakan bejana. Karenanya dari sini mereka mengatakan disunnahkannya berwudhu dengan menggunakan bejana -selama memungkinkan-, tidak berwudhu melalui pancuran air dan semacamnya.
2. Perlu diketahui bahwasanya hukum asal dari bejana -apapun bahan dasarnya- adalah boleh dimanfaatkan, selama tidak ada dalil yang melarangnya. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, “Dialah yang telah menciptakan untuk kalian, semua yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 29). Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ (1/83) karya Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiah (1/19) karya Syaikh Al-Fauzan.
Selanjutnya, berikut uraian beberapa masalah yang berkenaan dengan bejana:

Masalah Pertama: Hukum berwudhu dengan beberapa jenis bejana yang disebutkan oleh para ulama.
A. Yang terbuat dari kulit.
Dalam permasalahan ini ada rincian:
Kalau kulitnya bukan berasal dari bangkai maka dia boleh dijadikan bejana tanpa perlu disamak terlebih dahulu, tapi kalau kulitnya berasal dari bangkai maka para ulama berbeda pendapat mengenai bisakah dia menjadi suci dengan disamak. Yang benarnya, dia bisa menjadi suci dengan disamak, berdasarkan hadits Maimunah -radhiallahu anha-, bahwa sebagian sahabat pernah menyeret seekor kambing mati di hadapan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- lalu beliau bersabda, “Kenapa kalian tidak mengambil kulitnya?!” Mereka menjawab, “Ini adalah bangkai,” beliau bersabda, “Dia bisa disucikan dengan air dan daun qurazh (disamak, pen.).” Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (1/85-89) dan Syaikh Al-Fauzan dalam Al-Mulakhkhash (1/20)
B. Bejana orang kafir.
Syaikh Al-Fauzan berkata, “Diperbolehkan menggunakan bejana-bejana orang kafir yang biasa mereka gunakan selama tidak diketahui dia tidak terkena najis. Kalau diketahui dia terkena najis maka bejananya dicuci terlebih dahulu baru kemudian digunakan.” (Al-Mulakhkhash: 1/20)
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Imran bin Al-Hushain, bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- serta para sahabat beliau pernah berwudhu dari bejana seorang perempuan musyrik. Kalau bejana orang musyrik saja boleh dipakai -padahal sembelihan mereka haram-, maka tentunya bejana ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) -yang sembelihannya halal- lebih pantas untuk diperbolehkan.
Kafir di sini mencakup musyrik, ahli kitab serta orang yang murtad dari Islam. (Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/82-84)
C. Yang terbuat dari emas dan perak.
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Janganlah kalian minum dari bejana emas dan perak, dan jangan pula makan dari piring yang terbuat dari keduanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Huzaifah bin Al-Yaman)
Para ulama berbeda pendapat mengenai pelarangan dalam hadits ini, apakah dia terkhusus untuk makan dan minum saja ataukah juga dikiaskan kepadanya semua bentuk penggunaan -termasuk di dalamnya berwudhu-? Yang dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani, Imam Ash-Shan’ani, Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dan Syaikh Saleh alu Asy-Syaikh adalah bahwa pelarangan dalam hadits ini hanya terbatas pada makan dan minum saja, tidak pada selainnya. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Al-Hanabilah. (Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/75-78, Nailul Authar: 1/83 dan Subulus Salam Syarh Bulughul Maram no. 18)
D. Yang terbuat dari selain emas dan perak, tapi bernilai sama dengan -atau bahkan lebih dari- keduanya, seperti mutiara, permata dan batu berharga lainnya.
Bejana seperti ini boleh dipakai berwudhu, bahkan boleh dipakai makan karena tidak adanya dalil yang melarang, sehingga hukumnya kembali kepada hukum asal bejana, yaitu boleh. Ini yang dikuatkan oleh Imam Asy-Syaukani dalam An-Nail (1/84) dan Ash-Shan’ani dalam As-Subul (hadits no. 18).
E. Yang terbuat dari tembaga atau logam semacamnya.
Hukumnya boleh berdasarkan hukum asal bejana yang telah kami sebutkan. Ini didukung oleh hadits Abdullah bin Zaid riwayat Al-Bukhari dan Muslim -tentang sifat wudhu Nabi-, yang di dalamnya disebutkan bahwa seorang sahabat membawakan untuk beliau air wudhu di dalam sebuah baskom tembaga lalu beliau berwudhu darinya.

Masalah Kedua: Hukum mencelupkan tangan ke dalam bejana yang berisi air.
Para ulama menyebutkan bahwa orang yang akan mencelupkan tangannya ke dalam bejana -baik karena dia mau berwudhu maupun untuk keperluan lainnya-, tidak lepas dari tiga keadaan:
1. Dia yakin kalau tangannya suci dan tidak terkena najis. Maka yang seperti ini dia dibolehkan untuk langsung menyelupkan tangannya ke dalam bejana.
2. Dia yakin kalau tangannya terkena najis. Yang seperti ini, diharamkan atasnya untuk mencelupkan tangannya ke dalam bejana, karena itu bisa membuat salah satu dari tiga sifat air (bau, rasa dan warnanya) bisa berubah yang akhirnya menyebabkan air menjadi najis. Diwajibkan atasnya untuk mencuci dahulu tangannya di luar bejana dan membersihkan najis dari tangannya, baru kemudian dia mencelupkan tangannya ke dalamnya.
3. Dia ragu/tidak yakin apakah tangannya suci atau tidak, misalnya dalam keadaan dia baru bangun dari tidur atau pada keadaan lainnya yang dia ragu padanya. Dalam keadaan seperti ini maka para ulama bersepakat akan disyariatkannya bagi dia untuk mencuci dahulu tangannya di luar bejana sebanyak tiga kali, sebelum dia mencelupkan tangannya.
Hanya saja mereka berbeda pendapat apakah hukum mencuci di luar ini hukumnya wajib ataukah sunnah? Sebab perselisihan mereka adalah adanya hadits yang berbunyi, “Kalau salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka hendaknya dia mencuci kedua tangannya terlebih dahulu sebanyak tiga kali, sebelum dia memasukkannya ke dalam bejana, karena dia tidak mengetahui dimana tangannya bermalam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa perintah dalam hadits ini hanya bermakna sunnah, karena alasan dari perintahnya adalah sesuatu yang masih diragukan, yaitu dia tidak tahu dimana tangannya bermalam (apakah menyentuh najis atau tidak, pen.). Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Sesuatu yang diragukan kewajibannya maka dia tidak wajib untuk dikerjakan dan tidak pula sunnah meninggalkannya, akan tetapi sunnah melakukannya untuk berjaga-jaga.” (Al-Qawaid An-Nuraniah hal. 93)
Karenanya, dimakruhkan baginya untuk langsung memasukkan  tangannya ke dalam bejana, tapi disunnahkan baginya untuk mencucinya terlebih dahulu di luar bejana sebanyak tiga kali. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani dan Ibnu Al-Mulaqqin. Lihat An-Nail (1/165) dan Al-I’lam bi Fawaid Umdatil Ahkam (1/250 dan setelahnya)
Kalimat, “dimana tangannya bermalam,” tidak menunjukkan bahwa sunnah ini hanya berlaku pada tidur malam, karena yang menjadi sebab perintah di sini adalah karena dia ragu akan kesucian tangannya. Karenanya dalam hadits Ibnu Umar dan Jabir -radhiallahu anhum- riwayat Ibnu Majah -dan sanadnya dihasankan oleh Ad-Daraquthni- disebutkan, “Kalau salah seorang di antara kalian bangun dari tidur …,” tanpa ada penyebutan, “dimana tangannya bermalam.”

Masalah Ketiga: Hukum makan dan minum dari bejana emas dan perak.
Telah berlalu hadits Huzaifah bin Al-Yaman pada masalah pertama yang menerangkan haramnya makan dan minum dari bejana emas dan perak, dan An-Nawawi menukil bahwa ini adalah ijma’ di kalangan ulama kecuali segelintir ulama yang tidak diperhitungkan penyelisihannya. Bejana di sini baik murni seluruhnya terbuat dari emas dan perak, atau dia mengandung emas dan perak atau bahkan yang bagian luarnya dilapisi dengan emas dan perak

Masalah Keempat: Boleh menambal bejana yang retak dengan perak.
Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Syarat bolehnya ada empat: (1) Dia hanya tambalan, (2) Yang dipakai hanya sedikit, (3) Hanya boleh dari perak dan (4) ketika diperlukan. Dalilnya adalah hadits yang tsabit dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Anas -radhiallahu anhu-, bahwa bejana Nabi -shallallahu alaihi wasallam-retak lalu beliau mengambil sedikit perak untuk menambalnya.” (Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/78-79)

Masalah Kelima: Disyariatkan menutup bejana (yang berisi makanan).
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Tutuplah tempat air minummu dan bacalah ‘bismillah’, tutuplah bejana tempat makanmu dan bacalah ‘bismillah’, walaupun dengan sekedar meletakkan kayu di atasnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, November 1st, 2008 at 9:36 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Bab Bejana”

  1. Abu Hafshah singkep said:

    Bismillah, bagaimana hukum bejana yg di minum airnya oleh anjing, apakah sama dgn bejana yg dijilati anjing? JAZAKALLAHU KHAIRAN

    Ia sama.