Azan dan Iqamah di Telinga Bayi

October 8th 2009 by Abu Muawiah |

Azan dan Iqomah di Telinga Bayi

Sepanjang pemeriksaan kami, ada lima hadits yang menyebutkan masalah ini, berikut penjelasannya:
1. Hadits Abu Rafi’ Maula Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ

“Saya melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali -seperti azan shalat- tatkala beliau dilahirkan oleh Fathimah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (6/391-392), Ath-Thoyalisy (970), Abu Daud (5105), At-Tirmidzy (1514), Al-Baihaqy (9/305) dan dalam Asy-Syu’ab (8617, 8618), Ath-Thobrony (931, 2578) dan dalam Ad-Du’a` (2/944), Al-Hakim (3/179), Al-Bazzar (9/325), Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (11/273), dan Ar-Ruyany dalam Al-Musnad (1/455). Semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsaury dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari Abi Rafi’ -radhiyallahu ‘anhu-.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thobrany (926, 2579) tapi dari jalan Hammad bin Syu’aib dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dari ‘Ali ibnul Husain dari Abi Rafi’ dengan lafadz:

أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضي الله عنهما حِيْنَ وُلِدَا وَأَمَرَ بِهِ

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain -radhiyallahu ‘anhuma- tatkala keduanya lahir, dan beliau memerintahkan hal tersebut”.
Maka dari jalan ini kita bisa melihat bahwa Hammad bin Syu’aib menyelisihi Sufyan Ats-Tsaury dengan menambah dua lafadz; “dan Al-Husain” dan “beliau memerintahkan hal tersebut(1)”.
Akan tetapi jalan Hammad -termasuk kedua lafadz tambahannya- adalah mungkar, karena Hammad bin Syu’aib telah menyelisihi Sufyan padahal dia (Hammad) adalah seorang rowi yang sangat lemah. Yahya bin Ma’in berkata, “Tidak ada apa-apanya (arab: laisa bisyay`in)”. Imam Al-Bukhary berkata dalam At-Tarikh Al-Kabir (3/25), “Hammad bin Syu’aib At-Taimy, Abu Syu’aib Al-Hummany …, ada kritikan padanya (arab: fiihi nazhor)(2)”. Al-Haitsamy berkata mengomentari riwayat ini dalam Majma’ Az-Zawa`id (4/60), “Ath-Thobrony meriwayatkannya dalam Al-Kabir sedang di dalamnya ada terdapat Hammad bin Syu’aib, dan dia adalah rowi yang sangat lemah”.(3)
Kita kembali ke jalan Sufyan Ats-Tsaury. Di dalamnya sanadnya ada ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dan dia juga adalah rowi yang sangat lemah. Imam Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata, “Mungkar haditsnya dan goncang haditsnya”. Imam Ahmad berkata dari Sufyan ibnu ‘Uyainah (beliau) berkata, “Saya melihat para masyaikh (guru-guru) menjauhi hadits ‘Ashim bin ‘Ubaidillah”. ‘Ali ibnul Madiny berkata, “Saya melihat ‘Abdurrahman bin Mahdy mengingkari dengan sangat keras hadits-hadits ‘Ashim bin ‘Ubaidillah”. Dan hadits ini adalah salah satu hadits yang diingkari atas ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, sebagaimana dalam Mizanul I’tidal (4/8). Lihat juga Al-Jarh wat Ta’dil (6/347) karya Ibnu Abi Hatim dan Al-Kamil (5/225).
Berkaca dari uraian di atas, kita tidak ragu untuk menghukumi hadits ini sebagai hadits yang sangat lemah (arab: dho’ifun Jiddan).

2. Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ يَوْمَ وُلِدَ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan. Beliau mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman (8620) -dan beliau melemahkan hadits ini- dari jalan Al-Hasan bin ‘Amr bin Saif dari Al-Qosim bin Muthib dari Manshur bin Shofiyyah dari Abu Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas.
Ini adalah hadits yang palsu. Imam Adz-Dzahaby berkata -memberikan biografi bagi Al-Hasan bin ‘Amr bin Saif di atas- dalam Al-Mizan (2/267), “Dia dianggap pendusta oleh Ibnu Ma’in, Imam Al-Bukhary berkata, “Dia adalah pendusta””.

3. Hadits Al-Husain bin ‘Ali -radhiyallahu ‘anhuma-.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ وُلِدَ لَهُ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى, لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

“Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, lalu dia mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya, maka Ummu Shibyan (jin yang mengganggu anak kecil) tidak akan membahayakan dirinya”.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Asy-Syu’ab (8619), Abu Ya’la (678), dan Ibnu As-Sunny dalam ‘Amalul Yaum (623) dari jalan Yahya ibnul ‘Ala` Ar-Rozy dari Marwan bin Salim dari Tholhah bin ‘Abdillah dari Al-Husain bin ‘Ali.
Hadits ini bisa dihukumi sebagai hadits yang palsu karena adanya dua orang pendusta di dalamnya:
1. Yahya Ibnul ‘Ala`. Imam Al-Bukhary, An-Nasa`i, dan Ad-Daraquthny berkata, “Dia ditinggalkan (arab: matra ditinggalkan (arab: matruk)”. Imam Ahmad berkata, “Dia adalah pendusta, sering membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Mizan (7/206-207) karya Adz-Dzahaby dan Al-Kamil (7/198) karya Ibnu ‘Ady, dan mereka berdua menyebutkan hadits ini dalam jejeran hadits-hadits yang diingkari atas Yahya ibnul ‘Ala`.
2. Marwan bin Salim Al-Jazary. An-Nasa`i berkata, “Matrukul hadits”, Imam Ahmad, Al-Bukhary, dan selainnya berkata, “Mungkarul hadits”, dan Abu ‘Arubah Al-Harrony berkata, “Dia sering membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Mizan (6/397-399)

4. Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا حِيْنَ وُلِدَا

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengumandangkan azan di telinga Al-Hasan dan Al-Husain -radhiyallahu ‘anhuma- tatkala mereka berdua dilahirkan”.
Diriwayatkan oleh Imam Tammam Ar-Rozy dalam Al-Fawa`id (1/147/333), dan di dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama Al-Qosim bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Hafsh Al-’Umary. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Tidak ada apa-apanya, dia sering berdusta dan membuat hadits-hadits palsu”. Lihat Al-Kasyful Hatsits (1/210)

5. Hadits Ummul Fadhl bintul Harits Al-Hilaliyah -radhiyallahu ‘anha-.
Dalam hadits yang agak panjang, beliau bercerita bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda kepadanya ketika beliau sedang hamil:

فَإِذَا وَضَعْتِيْهِ فَأْتِنِي بِهِ. قَالَتْ: فَلَمَّا وَضَعْتُهُ, أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

“Jika kamu telah melahirkan maka bawalah bayimu kepadaku”. Dia berkata, “Maka ketika saya telah melahirkan, saya membawanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka beliau mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kirinya …”.
Al-Haitsmy berkata dalam Al-Majma’ (5/187), “Diriwayatkan oleh Ath-Thobrany dalam Al-Ausath (4), dan di dalam sanadnya ada Ahmad bin Rosyid Al-Hilaly. Dia tertuduh telah memalsukan hadits ini”.

Sebagai kesimpulan kami katakan bahwa semua hadits-hadits yang menerangkan disyari’atkannya adzan di telinga kanan bayi yang baru lahir dan iqomah di telinga kirinya adalah hadits-hadits yang yang sangat lemah dan tidak boleh diamalkan, wallahu A’lam.

_________
(1) Maka riwayat ini menunjukkan wajibnya mengazankan bayi yang baru lahir, karena asal dalam perintah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah bermakna wajib.
(2) Ini termasuk jarh (kritikan) yang sangat keras tapi dengan penggunaan lafadz yang halus, dan ini adalah kebiasaan Imam Al-Bukhary -rahimahullah-. Imam Al-Bukhary menggunakan lafadz ini untuk rowi-rowi yang ditinggalkan haditsnya. Lihat Fathul Mughits (1/372)
(3) Lihat kritikan lain terhadapnya dalam Al-Kamil (2/242-243) karya Ibnu ‘Ady
(4) Al-Mu’jamul Ausath (9/102/9250)

Incoming search terms:

  • lafadz iqamah
  • adzan di telinga bayi
  • Azan bayi
  • mengazankan bayi baru lahir
  • bacaan adzan untuk bayi baru lahir
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, October 8th, 2009 at 7:27 am and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah, Seputar Anak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

13 responses about “Azan dan Iqamah di Telinga Bayi”

  1. ajie said:

    assalamualaikum..ana minta izin copy…

    waalaikumussalam warahmatullah. Tafadhdhal.

  2. Hukum Adzan dan Qomat Pada Bayi Baru Lahir « ‎ ‎طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi | said:

    [...] Sumber : http://al-atsariyyah.com/?p=950 [...]

  3. faizal makhrus said:

    Dari kelima hadits yang dipaparkan ada yang lemah dan palsu, lalu kesimpulan di bawahnya disebutkan hukum mengadzankan adalah wajib. Yang saya bingungkan hukum wajib itu berdasar hadits yang mana? Atas penjelasan yang diberikan saya mengucapkan Jazakallah khoiron katsir.

    Apa yang terdapat di bawah garis itu bukan kesimpulan tapi catatan kaki dari artikel di atas. Maksudnya, hadits yang diberikan catatan kaki no.1 ini adalah dalil bagi yang berpendapat wajibnya hal itu. Akan tetapi sudah diketahui bahwa haditsnya adalah lemah sehingga tidak boleh diamalkan. Kesimpulan kami adalah apa yang tersebut sebelum garis itu.

  4. ummu yusuf abdurrahman said:

    Bismillah..
    Mau tanya, kalo begitu apa yang seharusnya diucapkan atau dilakukan ketika bayi lahir? adakah pengganti dari adzan dan iqomah tsb? bagaimana tuntunan Rasulullah tentang menyambut kelahiran bayi sesuai qur’an dan sunnah?
    Jazakallohu khoiron

    Tidak ada pengganti azan dan iqamah. Tidak ada ritual khusus pada hari lahirnya bayi. Hanya saja bagi siapa yang ingin men’tahnik’ dan memberi nama kepadanya ketika dia lahir, maka hal itu diperbolehkan berdasarkan amalan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Abdullah, adik Anas bin Malik radhiallahu anhu di hari pertama dia dilahirkan.

  5. Abu Fauzan said:

    bolehkah kita do’akan ketika ia lahir agar menjadi anak yang sholeh?

    Boleh bahkan harusnya orang tua seperti itu

  6. ummu abdillah said:

    Bismillah, Assalamu’alaikum..

    ustadz, apakah bisa anak yang baru lahir diberi nama MUKMIN…apa diperbolehkan? karena ana ada terbaca bahawa memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah diharamkan..

    jazaakallahu khairan

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Boleh. Tidak semua nama Allah tidak boleh dipakai bernama, bahkan kebanyakan nama Allah boleh dipakai bernama kecuali segelintir nama yang disebutkan oleh para ulama, contohnya nama ‘Allah’, ‘Ar-Rahman’.

  7. AKUHAMBA said:

    Semuga bermunafaat buat kajian bersama

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَا أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
    رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
    قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ فِي الْعَقِيقَةِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْضًا أَنَّهُ عَقَّ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ بِشَاةٍ وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَى هَذَا الْحَدِيثِ
    (TIRMIDZI – 1436) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan ‘Abdurrahman bin Mahdi keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ashim bin Ubaidullah dari Ubaidullah bin Abu Rafi’ dari Bapaknya ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan adzan -shalat- pada telinga Hasan bin Ali saat ia dilahirkan oleh Fatimah.” Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Dan pelaksanaan dalam akikah adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari jalur yang banyak, yaitu dua ekor kambing yang telah cukup umur untuk laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Diriwayatkan pula dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Bahwasanya beliau pernah mengakikahi Al Hasan bin Ali dengan satu kambing. Dan sebagian ulama berpegangan dengan hadits ini.”

    Jazakallahu khairan. Tapi sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, hadits ini sangat lemah sehingga tidak bisa dipakai berdalil. Wallahu a’lam

  8. Galang said:

    Assalamualaikum..ustadz,kl begitu doa apa yg kita amalkan kl ibu dlm proses persalinan(caesar)dan doa utk bayi baru lahir dan pelaksanaan akikah benarnya hari ke berapa dan ritualnya akikah apa saja,terimakasih,wassalam..

    Waaalaikumussalam.
    Tidak ada doa khusus. Disunnahkan aqiqah di hari ketujuh, dimana kambing disembelih, rambut bayi dicukur habis, dan diberikan nama.

  9. Galang said:

    Assalamualaikum..ustadz..bgmn hukumnya ikut program jampesal,yang tujuan pemerintah awalnya untuk menekan kematian saat persalinan dan menekan laju pertumbuhan pddk melalui kb sesudahnya sbg syarat mjd peserta jampersal,tp pd praktekny kadang pihak puskesmas ataupun bidan yg ditunjuk tidak mengharuskan kb..apakah boleh mengikuti program tsb.wassalam..

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam kami tidak paham apa program itu. Harap pertanyaannya dilengkapi, karena terkadang kami tidak punya waktu untuk mencari tahu lagi via google.

  10. Galang said:

    Assalamualaikum..menyambung pertanyaan diatas ustad jampersal adl jaminan persalinan gratis untuk umum dr pemerintah,tp dgn tujuan seperti yg sy sebutkan pd pertanyaan sebelumnya,wassalam

    Waalaikumussalam.
    Jika demikian, insya Allah tidak mengapa mengikuti program tersebut, karena itu murni merupakan bantuan dari pemerintah. Wallahu a’lam.

  11. Kamran said:

    Apa hukumnya orang yg meng- adzankan/Iqomah bayi-nya dgn tujuan agar yg pertama kali didengar oleh si anak adalah sesuatu yg baik padahal dari uraian diatas perbuatan tersebut tdk berdasar? Terima kasih.

    Niat yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Sementara amalan yang tidak ada tuntunannya bukanlah amalan dan cara yang baik.

  12. omiyan said:

    Assalamualaikum..ustadz..

    Bisakah akikah dilaksanakan lewat setelah hari ketujuh ….

    adakah batasannya

    Wassalam

    Waalaikumussalam.
    Para ulama menyatakan bolehnya aqiqah setelah hari ketujuh, tanpa ada batasan waktu. Wallahu a’lam.

  13. galih said:

    aqiqoh pada hari ke 7, batasannya hari ke 14 ato 21, berarti ada batasan waktu, bagaimana ustadz?

    Tidak ada batasan waktu, wallahu a’lam. Tapi yang lebih utama hari ke-7