Ayoo Meeniikaah

October 15th 2010 by Abu Muawiah |

07 Dzulqa’dah

Ayoo Meeniikaah

Allah Ta’ala berfirman:
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Rum: 21)
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mu`jizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)”. (QS. Ar-Ra’d: 38)
Allah Ta’ala berfirman:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Di sanalah Zakariya mendo`a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (QS. Ali-‘Imran: 38)
Allah Ta’ala berfirman:
فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ
“Dan nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi, dua atau tiga atau empat wanita.” (QS. An-Nisa`: 3)
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada tiga orang sahabat yang mau memfokuskan untuk beribadah dan meninggalkan hal-hal yang dihalalkan, di antaranya adalah pernikahan:
مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّي
“Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk golonganku”. (HR. Al-Bukhari no. 4675 dan Muslim no. 2487)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah, karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa adalah benteng baginya”. (HR. Al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

Penjelasan ringkas:
Menikah sudah menjadi fitrah yang Allah telah fitrahkan seluruh manusia di atasnya. Bahkan karena keutamaan menikah ini, Allah Ta’ala telah menjadikannya sebagai sunnah para nabi seluruhnya, sehingga tidak ada seorangpun Nabi kecuali Allah Ta’ala telah menetapkan bagi mereka istri yang senantiasa mendampingi mereka. Bahkan Allah Ta’ala mengizinkan setiap lelaki untuk menikahi lebih dari seorang wanita selama dia bisa berbuat adil kepada para istrinya. Di antara keutamaan menikah lainnya adalah bahwa dia merupakan metode terampuh dalam menjaga kemaluan dan kehormatan dan obat termujarab dalam menghilangkan penyakit syahwat. Menikah juga menjadi sebab bertambah banyaknya kaum muslimin, karena dari pernikahan dua orang tua yang muslim akan lahir generasi kaum muslimin berikutnya. Dan sungguh pada hari kiamat Nabi shallallahu alaihi wasallam akan berbangga di hadapan nabi lain karena beliau yang memiliki ummat terbanyak.

Karenanya, siapa saja yang menolak untuk menikah maka sungguh dia telah membenci sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahkan sunnah seluruh nabi sebelum beliau. Dan siapa saja yang membenci sunnah mereka maka sungguh dia tidak berada di atas jalan mereka.

Incoming search terms:

  • keutamaan menikah
  • keutamaan nikah
  • keistimewaan menikah
  • keutamaan menikah dalam islam
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, October 15th, 2010 at 2:42 pm and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Muslimah, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

16 responses about “Ayoo Meeniikaah”

  1. bip said:

    Assalamu’alaikum
    saya maw tanya,
    bolehkah menikah dengan mas kawin, artike-artikel situs Al-Atsariyyah.com yang di print lalu di bendel?
    syukron

    Waalaikumussalam
    Boleh insya Allah.

  2. Aditya Rahmat Pradana said:

    saya ingin menikah namun keadaan memaksa saya untuk tidak.. padahal saya memiliki kesanggupan untuk menikah.. apa hukumnya ustadz

    Makruh hukumnya bagi yang sudah mampu menikah tapi menundanya karena alasan yang tidak syar’i. Tapi jika tidak menikah membuatnya terjatuh ke dalam yang haram maka dia telah berdosa karena tidak menikah segera.

  3. 'Aisyah said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.

    Bagaimanakah sikap yang benar bagi seorang anak perempuan, yang ingin segera menikah, namun di tentang oleh ibu nya. Dengan alasan, jika setelah lulus kuliah langsung menikah, maka ilmu yang di dapat di kuliah menjadi sia2. Dan baru akan di perbolehkan menikah oleh sang ibu, jika sudah bekerja/berwirausaha selama 1 tahun dan sudah bisa merasakan penghasilan sendiri.
    Padahal kondisi yang ada adalah, sudah ada seorang laki-laki sholeh yang insyaAllah siap melamar dan menikahi, begitupun dengan wanita tersebut, sudah cukup umur dan siap berumah tangga. Sementara itu, Ayah nya menyatakan jika ada laki2 sholeh yg baik siap menikah dan datang melamar, maka sang ayah siap menikahkan putrinya.
    Ana mohon nasihat ustadz, bagaimanakah sikap yang syar’i menghadapi persoalan ini? Bolehkah anak perempuan ini menikah, tapi tidak mendapat restu dan keikhlasan ibu nya?
    Jazakumullahu khairan
    Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Selama ayahnya merestui dengan menjadi wali maka nikahnya syah walaupun ibunya tidak setuju.
    Hanya saja tetap dibutuhkan pengertian dari ibu. Karenanya mungkin bisa meminta bantuan kepada pihak keluarga yang setuju dia menikah -termasuk ayah- untuk memahamkan ibu agar dia bisa setuju.

  4. aba yazid said:

    Bolehkah menikah Sirri (tidak tercatat di pemerintah) di negeri ini ?

    Bolehkah anak laki2 menikah tanpa beritahu ke2 orang tuanya? krn sudah terdesak, sementara kedua orang tua belum izinkan krn saya masih kuliah. InsyaAllah saya ada kemampuan menfkahi keluarga

    Kedua hal di atas diperbolehkan secara agama. Akan tetapi untuk menghindari fitnah di masyarakat dan juga untuk kebaikan keduanya dan anak-anak mereka kelak, maka seharusnya mereka menikah dengan izin kedua orang tua dan mencatat pernikahan mereka di KUA.

  5. hamba Allah said:

    Assalamu’alaikum.wr.wb.
    saya mau menikah tapi saya memakai uang pinjamn untuk melakukan resepsi pernikahn,dan di cicil selama 2thn.
    yg sya tnya kan apakah sya berdosa memberikan nafkah yg tidak penuh karna gaji sya telah mendapatkan potongan untuk mencicil hutang sya..??,tapi sya sdh mmbicrakan kepada calon istri sya dan dia bersedia menerima itu semua.
    Syukron,pak ustadz.

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada masalah jika semuanya ridha.

  6. hamba Allah said:

    Assalamu’alaikum wr.wb
    saya mau menikah tapi tidak dirstui oleh keluarga dari calon saya, dengan alasan saya tidak PNS dan bukan satu suku, alhamdulillah saya sudah memiliki penghasilan Rp 2000.000/bln…
    syukron

    Waalaikumussalam.
    Semoga dimudahkan oleh Allah, amin.

  7. Anya said:

    Assalamu’alaikum.wr.wb.
    saya skr sdh berumur 26thn, sy ingin menikah dgn seorang laki2 yg insy.allah sholeh dan slalu mengajak sy kdlm kebaikan…tetapi ayah sy tdk mengizinkan, dgn alasan ayah laki2 tsb kerja di bidang yg rawan korupsix, pdahl ayah sy jg sbnrx bkrja di pemerintahan…alasanx krn ayah sy mgatakan, rezki ayah laki2 itu bxk korupsix dan tdk halal dan anakx psti diberi makan dri uang korupsi, pdahal sy sdh knal dgh kelwrga dya, insy.a tdk sprti yg ayah sy bilang, insy.a ayah sya ada alasan lain tp tdk ingin mngatakanx pd sya, krn kmi dari klwrga lumayan mmpu dan lbh diats dri kelwrga laki2 tsb, mnrut sya ayah sy tdk mw krn status sosial tsb. nah ibu sya sbnrx mengizinkan tp ibu tkut kpd ayah krn ayah orgx arogan, jd ibu sy tdk berani & satu rmh pun tdk ada yg brani mbntah ayah sya. dan skrg sy dan laki2 tsb satu kota bkrja, km sgt ingn mnikah krn takut, bxk godaan2..tp insy.a smpai saat ini km msh mnjaga diri dr dosa2, tp tkut tlalu lama mnjdi lemah keimanan kami, mkax km ptuskan untk mnikah. jdi ptnyaan sy –>
    1. apkah mnrut pndangan agama, ayah sya alasanx benar (syar’i)??
    2. jika sy mmksakan mnikah, tnpa ridho ayah, ttpi ibu ttp rido, apkh boleh sy pke wali lain dr kel ayah sya, tp kptusun tsb apkh sy mnjdi ank durhaka, krn ktax ridox ortu adl ridhox allah swt??
    3. apakah ada doa atw solat khusus yg dpt meluluhkan hati bpa sya, tntux smua dri khendak allah swt??
    mohon dgn sgt nasehat dri ustad…
    alhmdulillah djaza klhu khoiro.

    1. Alasan ayah anda itu tidaklah syar’i.
    2. Boleh saja dan insya Allah nikahnya syah. Hanya saja sebaiknya tidak dilakukan selama masih ada kemungkinan ayah yang menjadi wali.
    3. Tidak ada doa khusus. Silakan berdoa dengan bahasa sendiri sesuai dengan keadaan yang ada.

  8. Anya said:

    boleh gak mas sebutkan apa2 sja, yg termasuk alasan yg syar’i dan tdk syar’i seorang wali nikah ??

    jazakillah…

    Sebaiknya saudari sebutkan apa alasannya/kasusnya beserta keadaannya, baru kita bisa hukumi itu syar’i atau tidak.

  9. Anita said:

    Assalamualaikum.

    Mas, kalo laki2 menikahi hanya membawa mahar seperangkat alat sholat dam cincin kawin sajah. akan tetapi wanita mempunyai hak untuk meminta mahar yg lebih. Pendapat mas bagaimana?
    Waalaikumussalam.

    Ya, itu sudah cukup. Hanya saja memang wanita/pihak wanita berhak meminta mahar sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Namun Islam menganjurkan kepada pihak wanita untuk mempermudah urusan mahar agar pernikahan mereka diberkahi.

  10. ORJIMARU said:

    Ass….
    ustads
    bagaimana hukumnya jika seorang laki-laki yang sudah siap lahir & bati untuk menikah tapi selulu menundah” karena belum dapat yang sesuai….. apakah ini dosaaa
    mohon penjelasanya
    makasihhh

    Tidak berdosa karena hukum asal menikah bukanlah kewajiban. Hanya saja jika karena tidak menikah itu mengantarkan dia kepada perbuatan maksiat (onani/zina), maka dia wajib menikah dan berdosa mengundurkan pernikahan.

  11. jamaah said:

    Asslm ustad yg semoga dirahmati Allah,..
    Maaf sy yg msh awam mau tny,..usia sy 41th,sy sdh menikah lagi (sirri) dgn seorg wanita dan walinya org tuanya laki-laki dan saksi2 dr pihak wanita,.pernikahan tsb tanpa diketahui istri pertama,krn klo ijin tentu tdk diberikan..adapun dasar sy ingin menikah lagi krn istri pertama sdh tdk bs melayani lagi krn sdh lama menderita penyakit yg lama sembuhnya (diabetes/gula darah/tensinya mencapai 300an dan kadang tdk stabil dan sdh berlangsung 2th lbh) dan sy pun kshn jika ingin melayani dgn kondisi tsb,ini yg membuat sy mengambil keputusan menikah lagi krn sy takut berbuat maksiat diluar.,pertanyaan sy,sah kah sy menikah dgn istri ke 2 tsb dan berdosakah sy dgn istri pertama (sebab klo sy ijin tp tdk diijinkan dan ini sdh sy tanya ke dia,tp jwbnya lbh baik pisah klo sy nikah lagi),..mohon dgn sngt jwban dan dalilnya ya pak ustad (perlu diketahui istri ke 2 sy juga sdh mengetahui kondisi sy dan org tua sy juga sdh tahu hal tsb)….
    Insyah Allah dgn jwban pak ustad membuat hati sy tenang…Wass.

    Insya Allah pernikahannya syah, karena tidak disyaratkan ada izin istri pertama untuk syahnya pernikahan kedua. Jika demikian pertimbangannya dan keadaannya, insya Allah anda tidak berdosa. Wallahu A’lam.

  12. jamaah said:

    Asslm pak ustad,terima kasih atas pertnyaan sy direspon no.11 krn Allah Maha Mengetahui niat hati hambanya.
    Mohon maaf klo sy msh bnyk tny mengenai hal itu,..saat ini yg sy tnykan..
    1. Apakah sy bs membuat catatan pernikahan tsb diKUA,krn yg sy tau nikah sirri itu dilarang oleh UU Pemerintah (sdgkan sy hanya dicatat pd secarik kertas bermaterai dgn saksi2,wali hakim,dan wali dr pihak wanita),ini demi menunjukkan niat tanggung jwb sy thd istri ke 2 sy wlwpun dia tdk mempermasalahkan hal tsb,.(adapun nafkah insya allah sy berlaku adil).note,dgn istri pertama sy nikah dijakarta,dan dgn yg ke2 sy nikah didepok,jabar.
    2. Ada dua pertentangan dlm hati sy mengenai hal sy tsb,krn katakanlah sy telah berbohong krn sy menikah lg,tapi yg namanya manusia butuh kebutuhan biologis dan sy pun tdk ingin berbuat maksiat yg dilarang agama,.apa bohong sy termasuk dosa pak ustad?,mohon penjelasan.
    3.dari kesmuanya itu didasari oleh hati sy antara hasrat dan kasih syng kepada semuanya termasuk anak2 dan seandainya jika istri pertama sy tahu hal ini,apa yg harus sy lakukan ya pak ustad?..
    Ya Allah berilah jalan yang terbaik buat diriku, Allahuma ihdinashirotol mustaqim..
    Jazakumullah pak ustad…
    wass.wr.wb.

    1. Seharusnya seperti itu. Sepengatahuan kami hal itu masih memungkinkan pada daerah tertentu atau dengan pengurusan tertentu. Wallahu A’lam.
    2. Ini bukanlah bentuk kebohongan yang dibolehkan dalam hadits. Wallahu A’lam.
    3. Tetap jalani apa yang sudah dilakukan beserta semua resikonya. Karena anda sudah mendapatkan kewajiban tambahan dalam masalah ini.

  13. habibfahmi said:

    assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh
    afwan,.ana mau tanya,.
    ana mahasiswa dan seorang pedagang kecil-kecilan. demi Allooh ana sangat berkeinginan sekali untuk menikah,dan insyaAllooh ana siap untuk bertanggung jawab dalam menikah,namun orang tua ana masih ada keraguan terhadap ana,bagaimana cara ana menasehati dan mesmastikan kepada mereka,.bukankah Alloh telah berfirman :

    وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).
    ana ingin menyelamatkan dari segala macam zina dan juga segala fitnah,.
    mohon nasehatnya,Syukron ^_^

    Waalaikumussalam.
    Masalah pernikahan bukan masalah sepele dan bukan hanya berkenaan dengan tanggung jawab memberikan makan kepada anak dan istri, akan tetapi jauh lebih luas daripada itu. Bagaimana bermuamalah dengan mertua dan keluarga istri lainnya, bagaimana mendidik istri dan anak-anak, bagaimana bermuamalah dengan keluarga lain di sekitarnya, dan seterusnya.
    Kami nasehatkan anda pelan-pelan dan sabar dalam meyakinkan orang tua. Jika tidak maka hendaknya anda bersabar, semoga Allah memberikan kemudahan karena anda telah menaati orang tua.

  14. Pening said:

    Asalamualaikum ustaz, saya sudah berusia 28 tahun tapi sampai sekarang saya tidak mempunyai kekasih ataupun calon untuk di jadikan isteri! , mungkin saya tidak sekacak dan saya bukanlah lelaki yang ganteng, saya sudah cuba mencari kenalan wanita tetapi semuanya akan menghindari diri dari saya walaupun perkenalan itu saya milai dari peringkat perkenalan biasa, seolah2 para wanita ini tak mahu berkawan dengan saya, apatah lagi kalau mahu mencintai… lagipun saya malu, saya mempunyai keinginan untuk menikah setiap hari saya berdoa pd Allah semoga cepat dipertemukan jodoh untuk saya.. Tp dalam masa yg sama saya takut jika akhirnya saya tetap tidak menemui jodoh sehingga akhir hayat saya . Ada seorang teman mengatakan kepada saya bahawa siapa yg tidak menikah org itu bukanlah umat muhammad, hal ini menyebabkan saya di dalam delema, saya juga harus menjaga maruah saya, masakan saya mahu dipanggil lelaki “gatal” hanya kerana saya mahu berteman , beginilah kisah hidup saya ustaz… Cewek saya gak punya, teman cewek pun saya gak punya, pekerjaan saya hanyalah satpam …

    Waalaikumussalam.
    Jalan keluarnya cuma satu, bertakwa kepada Allah dan memperbanyak ibadah. Karena siapa saja yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberikan solusi bagi semua permasalahannya.
    Tapi juga wajib ditekankan bahwa masalah jodoh adalah takdir, dan kita wajib beriman bahwa takdir yang baik maupun yang jelek, semuanya dari Allah. Ada tidaknya jodoh adalah Allah yang menentukan, dan semua ketentuan Allah pasti baik bagi kita.
    Adapun ucapan ‘yang tidak menikah maka bukan umat Muhammad’ maka tidak benar. Jadi tidak perlu dipikirkan.

  15. Asa said:

    Bismillah,
    Ustadz,sy seorang akhwat berusia 23 tahun..
    seorang ikhwan yg setau sy_baik,insyalloh_ berkeinginan keras untuk menikahi sy,,namun tidak untuk saat ini karna beliau masih menunggu kakak bliau yg masih belum menikah..sehingga bliau belum berani memberikan kepastian kpd sy..

    masalahnya juga,,orang tua sy tidak setuju ketika sy dg bliau krn pendidikan formal bliau dibawah sy..
    sy mohon nasehat ustadz…
    apakah sy harus tetap menunggu atau bagimana ?

    jazakallohukhoir

    Tidak ada keharusan. Bahkan seharusnya anda tidak berhubungan dengannya selama tidak ada kepastian atau masih sekedar janji, karena itu hanya akan mendatangkan fitnah yang sangat besar. Apalagi orang tua jelas tidak menyetujui. Sudah kebayang endingnya bagaimana.
    Sebaiknya anda mencari yang lain yang saleh dan orang tua setuju dengannya.

  16. Ana said:

    Bismillah
    ustadz,ada seorang ikhwan yg ingin menikahi ana,tp qoddarollah orang tuanya belum mengizinkan ia menikah sampai lulus kuliah dan bekerja,ia ingin menikah dan menuruti keinginan orang tuanya,saat ini ana memutuskan untuk menunggu,tapi ternyata tidak mudah,orang tua ana sudah setuju dengan ikhwan tersebut dan meminta ana untuk menunggu,sementara ana mulai merasa berat,ana mohon nasihatnya..
    Jazaakallahu khairan

    Gak paham pertanyaannya. Yang jelas, tidak keharusan untuk menunggu, karena menunggu ini bukanlah ikatan apa-apa. Kedua belah pihak masih boleh mencari yang lain.
    Kemudian sepatutnya keduanya tidak berhubungan dan berkomunikasi selama proses penungguan itu untuk menghindari fitnah.