Aturan Pembagian Warisan

October 7th 2010 by Abu Muawiah |

28 Syawal

Aturan Pembagian Warisan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
“Berikanlah bagian fara`idh (warisan yang telah ditetapkan) kepada yang berhak menerimanya. Dan harta yang tersisa setelah pembagian, maka itu bagi pewaris lelaki yang paling dekat (nasabnya).” (HR. Al-Bukhari no. 6235 dan Muslim no. 1615)
Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada saat khutbah haji wada’:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi masing-masing orang haknya, karenanya tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Abu Daud no. 3565, At-Tirmizi no. 2120, Ibnu Majah no. 2704, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1655)
Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
“Orang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (HR. Al-Bukhari no. 6267 dan Muslim no. 1614)

Penjelasan ringkas:
Allah Ta’ala dan Ar-Rasul alaihishshalatu wasallam telah menetapkan hukum dan pembagian warisan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dengan penjelasan yang gambling dan tegas, tidak ada sedikitpun jalan masuk bagi hawa nafsu dan kepentingan manusiawi untuk merubah atau membatalkannya.

Di antara hukum-hukum tersebut secara global adalah:
1.    Allah Ta’ala sendiri yang langsung merinci pembagian warisan ini dalam kitab-Nya dengan pembagian yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Ini menunjukkan mulianya masalah warisan tatkala Allah sendiri yang langsung merinci dan menjelaskannya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu :
a.    bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.
b.    Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.
c.    Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta.
d.    Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak.
e.    Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga.
f.    Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam.
g.    (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
h.    Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.
i.    Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya.
j.    Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak.
k.    Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.
l.    Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.
m.    Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).
(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa`: 11-14)

2.    Setelah semua harta dibagikan kepada ahli waris tapi ternyata masih ada harta yang tersisa, maka diserahkan kepada pewaris lelaki yang paling dekat nashabnya (ashabah).

3.    Pada ayat di atas sudah dijelaskan bahwa pembagian warisan dilakukan setelah pembayaran hutan dan wasiat jika ada.

4.    Kerabat yang mendapatkan warisan tidak berhak mendapatkan bagian wasiat.

5.    Antara muslim dan kafir atau sebaliknya tidak boleh saling mewarisi.

Incoming search terms:

  • pembagian warisan
  • hukum membagi warisan setelah seribu hari mayit
  • pmbagian harta warisan jika orangtua sudah meninggal
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, October 7th, 2010 at 11:31 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

60 responses about “Aturan Pembagian Warisan”

  1. Agung Nurhidayat said:

    Asslm ustadz, apakah boleh kami anak2nya menuntut pembagian harta warisan ibu saya yang telah meninggal 7 tahun yang lalu, dikarenakan ayah kami menikah lagi. Almarhumah sebelum menikah mempunyai (mis: 7 juta) dan pada saat meninggal mempunyai harta bersama(mis:10 juta), kami anaknya ada 5 orang laki2 dan 1 orang perempuan? dan almarhumah mempunyai seorang ibu yang masih hidup. terimakasih ustadz atas informasinya.

    Tentu saja boleh, itu hak anda dan saudara sebagai ahli warisnya. Pembagiannya sbb:
    Suaminya mendapat 1/4 bagian dr total harta karena adanya anak.
    Ibunya mendapat 1/6 bagian.
    Sisanya dibagikan untuk ke6 orang anaknya, dengan ketentuan: Anak lelaki mendapatkan bagian dua kali lebih banyak drpd anak wanita.

  2. Dicky said:

    Assalamu’alaikum Pak Ustadz,
    Dimohon sekali bantuannya. Ayah saya wafat dan meninggalkan harta, anggaplah harta yang ditinggalkannya sebesar 1 Milyard. Ayah saya meninggalkan 1 orang istri, 2 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Sebelum harta warisan dibagikan, tak lama berselang, salah satu dari anak laki-lakinya (abang saya) meninggal dunia dan meninggalkan 1 orang istri dan 3 orang anak laki-laki (anak laki-laki yang ke-3 masih didalam kandungan dengan usia kandungan 6 bulan saat abang saya ini wafat). Mohon dibantu untuk tata cara penguraian pembagian hartanya. Terimaksih Wassalam…

    Waalaikumussalam.
    Pertama-tama yang dibagi adalah harta ayah, sbb:
    Istri mendapatkan bagian 1/8 dr harta karena adanya anak.
    7/8 bagian sisanya dibagikan kpd ke5 anaknya, dengan ketentuan: Anak lelaki mendapatkan bagian dua kali lebih banyak drpd anak wanita.

    Kemudian, harta abang (harta asalnya ditambah warisan dr ayah) dibagikan lagi, sbb:
    Istri mendapat 1/8 bagian karena adanya anak.
    Ibu mendapat 1/6 bagian dar harta.
    Dan sisanya untuk kedua anak lelakinya. Calon anak ke3 belum mendapat warisan karena dia belum lahir.

  3. Nia said:

    Assallamuallaikum Wr. Wb.
    Pak Ustadz Ysh,
    Saudara laki-laki kami wafat saat kami mulai membahas pembagian harta waris peninggalan Ayah kami. Adapun hak waris yg sudah kami perhitungan secara islam untuk saudara kami yang laki-laki ini adalah sebesar kurang lebih 200 juta. Saudara laki-laki kami ini meninggalkan 1 orang istri dan 3 orang anak laki-laki yang masih dibawah umur (yg paling tua berumur 8 tahun). Yang jadi pertanyaan adalah:
    1). Bagaimana cara membagikan 200 juta hak waris tersebut ke istri dan anak-anaknya menurut hukum islam?
    2). Apakah hak waris anak-anak tersebut bisa diwalikan ke saudara kami yang laki-laki satunya lagi untuk dijaga dan diberikan kelak jika anak-anak tersebut sudah dewasa/cerdas dalam mengelolah keuangan hasil harta waris ini? Terus terang, kami sekeluarga punya kekuatiran terhadap Ibu anak-anak tersebut yang selama ini kami anggap boros. Saat ini kami yang men-Support semua kebutuhan anak-anak Yatim dari Saudara laki-laki kami ini tanpa menggunakan harta hak waris tersebut.
    3). Jika boleh diwalikan ke saudara laki-laki kami, apakah harta waris yang menjadi hak anak-anak tersebut bisa dikonversikan/digantikan/dibelanjakan untuk membeli Emas/Tanah yang setara jumlahnya agar nilainya kelak dapat mengikuti perkembangan zaman saat diberikan kepada anak-anak tersebut dikala dewasa?
    4). Siapakah yang menjadi wali wariS anak-anak tersebut dan yang lebih mempunyai hak? Ibu anak-anak tersebut atau Saudara Laki-Laki dari ayah anak-anak tersebut?
    5). Dosakah kami jika kami menolak memberikan hak wali waris kepada Ibu anak-anak tersebut, mengingat perilaku Ibu anak-anak tersebut?
    Demikian. Wassallammuallaikum….

    Waalaikumussalam.
    1. Istrinya mendapatkan 1/8 bagian dr 200 juta. Dan sisanya dibagikan secara rata untuk ke3 anak lelakinya.
    2. Boleh saja, apalagi dgn adanya kekhawatiran seperti di atas.
    3. Jika ada potensi harta anak yatim itu bisa berkurang, maka tdk boleh menginvestasikannya. Tapi jika hartanya itu -dr kebiasaan yg ada- pasti bisa bertambah, maka insya Allah tidak mengapa. Wallahu a’lam. Walaupun membiarkan harta itu seperti adanya, itu lebih utama.
    4. Jika kondisi ibunya seperti yg anda gambarkan, maka paman2nya lebih berhak terhadapnya.
    5. Insya Allah tdk berdosa, karena anda mempunyai alasan syar’i dari perbuatan anda tersebut. Wallahu a’lam.

  4. Budi Fajar said:

    Assalamu ‘alaykum wr. wb.
    Pak Ustadz, bila seorang laki2 wafat dan meninggalkan seorang istri, 3 orang anak laki2, 2 orang anak perempuan, 2 orang cucu laki2, 2 orang cucu perempuan, 1 orang saudara kandung laki2 dan 1 orang saudara kandung perempuan, bagaimana pembagian warisannya ? Jazakalloh.

    Waalaikumussalam.
    Istri mendapat 1/8 bagian dr total harta.
    Sementara 7/8 sisanya dibagikan untuk kesemua anaknya, dengan ketentuan: Anak lelaki mendapatkan bagian 2 kali lebih banyak drpd anak wanita.
    Cucu dan saudaranya tidak mendapatkan warisan karena adanya anak lelaki.

  5. mangsud said:

    Permisi mau nyeletuk….
    Di atas dikatakan “lakukan secepatnya untuk urusan pembagian harta warisan” (mudah mudahan saya gaa keliru membaca jawaban dr pertanyaan2 di atas),
    Lantas bagaimana mengenai “kewajiban” orangtua?? Ternyata si bapak memililiki kewajiban lain, spt utang,,baik itu utang bank ataupun utang dgn pribadi seseorang. Apakah akan diperlakukan sama dengan pembagian warisan??
    Tks

    #maaf cuma bertanya, no offence feeling.

    Harta warisannya digunakan dulu tuk membayar semua kewajibannya berupa hutang, wasiat, dan biaya penyelenggaraan jenazah. Jika setelah itu, masih ada sisa hartanya, maka sisa harta itu yang dibagikan sebagai warisan.

  6. nurlela said:

    assalamu alaikum pak ustad,,,saya mau tanya bagaimana cara membagi warisan dengan ibu tiri yang menikah dengan ayah saya sebelum meninggal mempunyai anak,,,singkat cerita saya 3 bersaudara satu perempuan dan 2 laki laki dan ketika ibu saya meninggal ayah menikah lagi dengan seorang perempuan lalu memiliki anak 6 ( 3 laki laki dan 3 perempuan )…lalu ayah saya meninggal.dan meninggalkan sebuah rumah dan sebidang tanah,,bagaimana cara membagi dengan ibu tiri saya ..

    Waalaikumussalam.
    Ibu tiri anda mendapatkan 1/8 bagian dari harta ayah.
    7/8 sisanya dibagikan untuk ke-9 anaknya semuanya, dengan ketentuan: Anak lelaki mendapatkan bagian 2 kali lebih banyak drpd anak wanita.

  7. nurlela said:

    assalamu alaikum,,,terima kasih

  8. comaria agustina said:

    assalamualaikum…
    saya ingin bertanya,bagaimana pembagian harta warisan jika ayah meninggal.
    meninggalkan ibu dan anak 7orang{4laki2 dan 3 perempuan}1laki2 belum menikah dan masih sekolah.
    masing2 anaknya sudah memiliki anak.

    Waalaikumussalam.
    Kalau tidak ada ahli waris yang lain, maka:
    Ibu mendapatkan 1/8 bagian dr harta.
    7/8 sisanya dibagi untuk ke7 orang anaknya, dengan catatan: Anak lelaki mendapatkan bagian dua kali lipat dari anak wanita.

  9. salvi said:

    Assalamu’alaikum pa ust.
    Ayah sya meninggal 8 thn yg lalu, tp sampe skarag, kami sbgai anaknya 2 lakilaki dan 2 prmpuan tdak pernah menyinggung maslah warisan kepada ibu kami, gmana menurut pa ustd pembagiannya? Gmana jg pmbgianya kepada abg kami yg pling tua dia cacat sejak lahir tidak bisa berkomunikasi secara normal apakah mendapatkan warisan juga/tdak ?
    wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    Harta ayah sebaiknya segera dibagikan, agar urusannya di dunia bisa selesai. Jika sudah dibagi, dan anak2 ingin menyerahkan bagian mereka kepada ibunya, maka itu hak mereka.
    Pembagiannya, jika tidak ada ahli waris yang lain:
    Ibu mendapatkan 1/8 bagian dr harta.
    7/8 sisanya dibagi untuk ke4 orang anaknya, dengan catatan: Anak lelaki mendapatkan bagian dua kali lipat dari anak wanita.
    Cacatnya kakak tidak menghalangi dia mendapatkan warisan, dia tetap berhak mendapat warisan.

  10. ummu yazid said:

    ustadz, ana mau bertanya seputar hukum faraid ini:
    1. ana punya nenek yg masih hidup( janda) namun sedang dalam keadaan sakit. beliau memiliki tanah dan saat ini ada perusahaan yg ingin membelinya sebesar 10 milyar. nenek sudah setuju kalau tanahnya dijual dan nnti dibagi-bagikan kepada anak2nya.
    2. jumlah anak nenek 6 org. 1 anak laki-laki tertua, dan 5 perempuan.
    pertanyaan.
    1. apakah harta tersebut sudah boleh dibagi sekarang pdhl nenek msh ada?
    2. apakah cucu nenek baik laki laki maupun perempuan yg jumlahnya ada 12 boleh dapat bagian? karna keluarga udah sepakat mau membagi sisanya pada cucu-cucu nenek
    3. benarkah jika kalau nenek masih ada, harta tersebut bukan terhitung harta warisan dan harusnya dibagi rata?
    mohon sekali jawabannya ustadz karna ini penting sekali untuk ana sampaikan ke keluarga agr tidak terjadi salah paham.

    1. Belum boleh. Warisan hanya dibagi setelah pemilik hartanya wafat.
    2. Tidak dapat. Semua cucu anak lelaki terhalangi dapat warisan karena adanya anak-anak nenek. Sementara cucu dari anak perempuan, memang pada dasarnya tidak dapat warisan.
    3. Jika itu sifatnya hibah atau wasiat, maka ada aturan lain yang harus diperhatikan.