Aturan Dalam Penguburan Jenazah

October 4th 2010 by Abu Muawiah |

25 Syawal

Aturan Dalam Penguburan Jenazah

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اللَّحْدُ لَنَا وَالشَّقُّ لِغَيْرِنَا
“Lahad adalah untuk kita (muslimin) sementara syaq adalah untuk orang selain kita (non muslim).” (HR. Abu Daud no. 2793, At-Tirmizi no. 1045, An-Nasai no. 1982, Ibnu Majah no. 1543, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5489)
Lahad adalah lubang yang dibuat di samping kubur untuk tempat jenazah. Sementara syaq adalah lubang yang dibuat di tengah kuburan untuk tempat jenazah.
Uqbah bin Amir Al-Juhani radhiallahu anhu berkata:
ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Ada tiga waktu, yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kami untuk shalat atau menguburkan jenazah pada waktu-waktu tersebut: Saat matahari terbit hingga ia agak meninggi, saat matahari tepat berada di pertengahan langit hingga ia telah condong ke barat, dan saat matahari hampir terbenam hingga ia terbenam sempurna.” (HR. Muslim no. 831)
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُدْخِلَ الْمَيِّتُ الْقَبْرَ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mayat memasukkan jenazah ke dalam kubur, maka beliau mengucapkan, “BISMILLAHI WA ‘ALA MILLATI RASUULILLAH (Dengan nama Allah dan di atas agama Rasulullah).” (HR. Abu Daud no. 3213, At-Tirmizi no. 1046, Ibnu Majah no. 1539, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ahkam Al-Jana`iz hal. 152)
Dari Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata:
شَهِدْنَا بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَمْ يُقَارِفْ اللَّيْلَةَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَنَا قَالَ فَانْزِلْ فِي قَبْرِهَا فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا فَقَبَرَهَا
“Kami menyaksikan pemakaman puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di sisi kuburnya. Lalu aku melihat kedua mata beliau mengucurkan air mata”. Kemudian beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian yang tadi malam tidak berhubungan (dengan isterinya).” Abu Thalhah berkata, “Saya”. Beliau bersabda, “Kalau begitu turunlah ke dalam kuburnya!” Maka Abu Thalhah turun ke dalam kuburnya lalu menguburkannya”. (HR. Al-Bukhari no. 1342)

Penjelasan ringkas:
Berikut beberapa aturan yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang akan menguburkan jenazah:
1.    Hendaknya para penggali kubur membuat lahad pada kubur seorang muslim, tempat dimana mayat akan dimasukkan. Sementara jika jenazahnya selain muslim maka penggali kubur membuat syaq.

2.    Dilarang menguburkan jenazah pada 3 waktu terlarang yang disebutkan dalam hadits Uqbah bin Amir di atas.

3.    Adapun shalat yang dilarang pada hadits tersebut adalah shalat sunnah mutlak dan bukan larangan untuk shalat jenazah. Karenanya boleh menyalatkan jenazah pada ketiga waktu terlarang di atas. Karena selain karena tidak ada dalil yang melarang, shalat jenazah adalah wajib, sementara waktu-waktu terlarang itu hanya berlaku untuk shalat sunnah mutlak.

4.    Disyariatkan bagi yang memasukkan jenazah ke kubur untuk membaca zikir yang tersebut dalam hadits Ibnu Abbas di atas.

5.    Hendaknya yang memasukkan jenazah ke kuburnya adalah orang yang tidak melakukan jima’ semalam.

6.    Bolehnya jenazah wanita dikubur oleh yang bukan mahramnya walaupun bukan dalam keadaan darurat. Hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam selaku ayah jenazah tersebut ada di situ, akan tetapi beliau tetap menyuruh Abu Thalhah radhiallahu anhu.

Incoming search terms:

  • penguburan jenazah
  • menguburkan jenazah
  • waktu yang dilarang menguburkan dalam islam
  • bismillahi ala millati rasulillah
  • sunnah dlm penguburan jenazah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, October 4th, 2010 at 3:37 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Aturan Dalam Penguburan Jenazah”

  1. 'Abdullah said:

    Bismillah.

    Istifsaaron ya ustadz: Apa hukumnya mengubur jenazah kaum muslimin dengan Syaqq, karena ana pernah lihat di sebagian wilayah jawa seperti pernah ana lihat di cirebon bahwa lubang untuk jenazah dibuat di tengan bukan menjorok ke dalam di sisi lubang, yang gambarannya seperti huruf “U” dan dibawah “U” dibuat “u” lagi yang lebih kecil, yang disitulah diletakkan jenazah.

    Jazakallahu khairan.

    Hukumnya tasyabbuh kepada ahli kitab.

  2. ummu Nafeeza said:

    Bismillah,
    Afwan ustad ana masih kurang jelas tentang 3 waktu yang tidak diperbolehkannya shalat dan penguburan jenazah.

    Jazakallahu khairan

    Dari sisi mananya yang kurang jelas?

  3. Abu said:

    Kl membaca tahlil takbir tahmid ketika jenazah sedang diturunkan ke liang lahat gmn hukumnya?

    Tidak ada tuntunan sunnahnya, jadi seharusnya ditinggalkan.