Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdi Al-Wahhab

August 26th 2013 by Abu Muawiah |

Risalah Asy-Syaikh Kepada Penduduk Qashim

Tatkala Mereka Bertanya Tentang Aqidah Beliau[1]

Bismillahirrahmanirrahim

Saya mempersaksikan kepada Allah dan kepada siapa yang hadir bersamaku dari para malaikat, dan saya mempersaksikan kepada kalian bahwasanya saya meyakini apa yang diyakini oleh al-firqah an-najiah (kelompok yang selamat) yaitu ahlussunnah wal jamaah, berupa keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada apa yang ditakdirkan, yang baik maupun yang buruk. Termasuk bentuk beriman kepada Allah adalah mengimani semua yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya  tanpa melakukan tahrif (pemalingan makna atau huruf) dan tidak pula ta’thil (mengingkari sifat). Bahkan saya meyakini bahwasanya tidak ada sesuatupun yang semisal dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka saya tidak menafikan dari-Nya apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya dan saya tidak memalingkan kata-kata (sifat Allah) dari makna sebenarnya. Saya tidak melakukan penyimpangan dalam nama-nama dan ayat-ayatNya, saya tidak melakukan takyif (membagaimanakan sifat Allah), dan saya tidak memisalkan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Karena Allah Ta’ala, tidak ada yang setinggi dengannya, tidak ada yang setara dengannya, dan tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya. Karena Allah Subhanah paling mengetahui tentang diri-Nya dan selainnya, paling jujur ucapannya, dan paling baik perkataannya. Dia menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan oleh para penentang dari kalangan pelaku takyif dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk). Dia berfirman, “Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.[2] Al-firqah an-najiah berada di pertengahan -dalam masalah perbuatan Allah Ta’ala- antara Al-Qadariah dengan Al-Jabriah. Mereka berada di pertengahan -dalam masalah ancaman Allah- antara Al-Murjiah dan Al-Waidiah. Mereka berada di pertangahan -dalam masalah iman dan agama- antara Al-Haruriah (Khawarij) dan Mu’tazilah dengan Al-Murjiah dan Al-Jahmiah. Dan mereka berada di pertangahan -dalam masalah sahabat Rasulullah - antara Ar-Rafidhah (Syiah) dengan Al-Khawarij.

Saya meyakini bahwa Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan, bukan makhluk, dari-Nya berasal dan kepada-Nya akan kembali, dan bahwa Dia berfirman dengannya secara hakiki. Dia menurunkannya kepada hamba, Rasul-Nya, orang kepercayaan-Nya dalam wahyu-Nya, dan perantara antara Dia dengan hamba-hambaNya, yaitu Nabi kita Muhammad . Saya juga meyakini bahwa Allah Maha Berbuat apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatupun yang akan terjadi kecuali dengan kehendak-Nya, tidak ada satupun yang keluar dari keinginannya. Tidak ada satupun dalam alam ini yang keluar dari penakdiran-Nya, tidak aka nada satupun yang lahir kecuali atas pengaturan-Nya, dan tidak ada jalan keluar bagi seorang pun dari takdir yang telah dibatasi dan tidak ada sesuatupun yang bisa melampaui apa yang ditetapkan untuknya dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh.

Aku meyakini keimanan kepada semua yang dikabarkan oleh Nabi  berupa semua perkara yang terjadi setelah kematian. Maka saya mengimani adanya fitnah (ujian) dalam kubur dan kenikmatannya, dan dikembalikannya roh-roh kepada jasad-jasad, sehingga seluruh manusia akan berdiri untuk Rabb semesta alam dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, lagi tidak berkhitan, sementara matahari mendekat kepada mereka. Mizan-mizan (timbangan amalan) ditancapkan, yang padanya semua amalan hamba akan ditimbang. Barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya maka mereka itulah orang-orang yang beruntuh, dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri-diri mereka sendiri, kekal di dalam Jahannam. Buku-buku catatan amalan akan disebarkan, maka di antara manusia ada yang menerimanya dengan tangan kanannya dan ada juga yang menerimanya dengan tangan kirinya.

Saya mengimani adanya telaga Nabi kita Muhammad  di pelataran hari kiamat (padang Mahsyar). Airnya lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu, bejana-bejana sebanyak jumlah bintang-bintang langit, dan barangsiapa yang minum darinya sekali niscaya dia tidak akan merasakan haus setelahnya selama-lamanya. Saya juga mengimani adanya sirath (titian) yang akan dipasang di atas pinggir Jahannam, yang seluruh manusia akan melewatinya sesuai dengan kadar amalan-amalan mereka.

Saya mengimani adanya syafaat Nabi  dan bahwasanya beliau adalah pemberi syafaat pertama dan yang pertama kali diberikan syafaat. Tidak ada yang mengingkari adanya syafaat Nabi  kecuali para penganut bid’ah dan kesesatan. Hanya saja syafaat beliau ini tidak akan terwujud kecuali setelah adanya izin dan keridhaan dari Allah. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.[3] Allah Ta’ala berfirman, “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.[4] Allah Ta’ala berfirman, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).[5] Semetara Dia tidak meridhai kecuali tauhid dan tidak mengizinkan kecuali kepada pemiliknya. Adapun kaum musyrikin maka mereka tidak punya sedikit pun bagian dari syafat. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.[6]

Saya mengimani bahwa surga dan neraka adalah makhluk, keduanya sudah ada sekarang, dan keduanya tidak akan fana. Saya mengimani bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka dengan penglihatan mereka pada hari kiamat sebagaimana mereka melihat bulan pada malam purnama, mereka tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya.

Saya mengimani bahwa Nabi kita Muhammad  adalah penutup para nabi dan rasul, dan tidak syah keimanan seorang hamba hingga dia beriman kepada risalah beliau dan mempersaksikan kenabian beliau. Saya mengimani bahwa manusia terutama dari umat beliau adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq, kemudian Umar Al-Faruq, kemudian Utsman Dzu An-Nurain, kemudian Ali Al-Murtadha, kemudian sisanya dari kesepuluh orang lainnya[7], kemudian mereka yang ikut perang Badr, kemudian mereka yang membaiat Nabi di bawah pohon, yang mengikuti baiat Ridhwan, kemudian sahabat lainnya . Saya berloyal kepada para sahabat Rasulullah , menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, mendoakan ‘radhiallahu anhum’ untuk mereka, dan memintaampunkan untuk mereka, serta saya menahan diri dari menyebutkan kejelekan-kejelekan mereka dan diam pada perkara yang mereka berselisih padanya. Saya meyakini keutamaan mereka sebagai pengamalan dari firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.[8] Saya mendoakan ‘radhiallahu anhunna’ kepada ibu-ibu kaum mukminin yang disucikan dari berbagai kejelekan. Saya mengakui karamah para wali dan mukasyafah yang terjadi pada mereka, hanya saja mereka tidak pantas mendapatkan sedikitpun apa yang menjadi hak Allah Ta’ala dan tidak boleh diminta dari mereka sesuatu yang tidak ada yang bisa memenuhinya kecuali Allah. Saya tidak memastikan untuk seorangpun dari kaum muslimin bahwa dia masuk surga dan tidak pula masuk neraka, kecuali orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah . Hanya saja saya mengharapkan orang-orang yang berbuat baik bisa masuk surga dan mengkhawatirkan orang-orang yang berbuat jelek akan masuk neraka. Saya tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin karena suatu dosa yang dia perbuat, dan saya tidak mengeluarkan dia dari lingkup Islam. Saya memandang jihad tetap berlaku bersama setiap penguasa, yang baik maupun yang fajir, dan shalat berjamaah di belakang mereka adalah boleh (syah). Jihad tetap berlaku semenjak Allah mengutus Muhammad  hingga akhir umat ini memerangi Dajjal, jihad ini tidak dibatalkan oleh kejahatan pemimipin yang fajir dan tidak pula keadilannya pemimpin yang adil. Saya menilai wajibnya mendengar dan taat kepada para penguasa kaum muslimin, yang baik maupun yang fajir di antara mereka, selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Siapa saja yang memegang khilafah, manusia berkumpul di bawah kekuasaannya dan mereka ridha terhadapnya, ataukah orang itu menundukkan mereka dengan pedangnya hingga dia bisa menjadi khalifah (secara paksa) maka tetap wajib untuk taat kepadanya dan haram untuk keluar dari ketaatan kepadanya. Saya memandang disyariatkannya memboikot para penganut bid’ah dan menjauhi mereka hingga mereka bertaubat. Saya menghukumi mereka dengan agama (yang bersifat lahiriah) dan menyerahkan rahasia-rahasia mereka kepada Allah. Dan saya meyakini bahwa semua perkara yang dimunculkan dalam Islam adalah bid’ah.

Saya meyakini bahwa iman itu adalah ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota tubuh, dan keyakinan dengan hati, dia bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dia terdiri dari 73 sampai 79 cabang, dimana cabang tertingginya adalag syahadat ‘laa ilaha illallah’ dan yang terendahnya adalah menyingkirkan duri dari jalanan. Saya memandang wajibnya amar ma’ruf dan nahi mungkar sesuai dengan apa yang diwajibkan oleh syariat Muhammadiah yang suci.

Ini adalah akidah ringkas yang saya tuliskan dalam keadaan pikiran saya sedang sibuk, agar kalian bisa mengetahui apa yang pada saya dan Allah yang menjadi wakil atas apa yang kami katakan.

Kemudian tidak tersembunyi dari anda bahwa telah sampai kepadaku kabar bahwa risalah Sulaiman bin Suhaim[9] telah sampai kepada anda, dan bahwa risalah tersebut telah diterima dan dibenarkan oleh sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu di negeri anda. Dan Allah mengetahui bahwa orang ini (Ibnu Suhaim) telah membuat banyak perkara dusta atas nama saya yang tidak pernah saya ucapkan, dan kebanyakannya tidak pernah terbetik di dalam pikiranku.

Di antara bentuk kedustaan tersebut adalah dia mengatakan bahwasanya saya tidak menggunakan kitab-kitab mazhab yang empat, dan bahwasanya saya mengatakan bahwa manusia tidak berada di atas akidah yang benar sejak 600 tahun yang lalu, dan bahwasanya saya mengklaim berijtihan (memunculkan mazhab baru), dan bahwasanya saya tidak mengikuti para ulama, dan bahwasanya saya mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama itu adalah siksaan, dan bahwasanya saya mengkafirkan orang yang bertawassul melalui orang-orang saleh, dan bahwasanya saya mengkafirkan Al-Bushiri karena ucapannya, “Wahai makhluk yang paling mulia,” dan bahwasanya saya mengatakan bahwa jika seandainya saya sanggup untuk merobohkan kubah (yang berada di atas kubur) Rasulullah  niscaya saya akan merobohkannya dan seandainya saya yang berkuasa atas Ka’bah maka saya akan mengganti saluran airnya dengan saluran air yang terbuat dari kayu, dan bahwasanya saya mengharamkan ziarah ke kubur Nabi , dan bahwasanya saya mengingkari ziarah ke kubur kedua orang tua dan selain keduanya, dan bahwasanya saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain nama Allah, dan bahwasanya saya mengkafirkan Ibnu Al-Faridh dan Ibnu Arabi, dan bahwasanya saya membakar kitab Dala`il Al-Khairat dan Raudh Ar-Riyahin dan saya menamakannya Raudh Asy-Syayathin. Jawaban saya atas semua tuduhan di atas adalah, “Maha Suci Engkau ya Allah, itu sungguh merupakan kedustaan yang besar.” Muhammad  dahulu telah dituduh bahwa beliau mencela Isa bin Maryam dan bahwa beliau mencela orang-orang saleh. Maka hati-hati para penuduh ini mirip dengan mengarang kebohongan dan ucapan dusta. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah,[10] hingga akhir ayat. Mereka menuduh beliau  dengan kedustaan bahwasanya beliau mengatakan bahwa para malaikat, Isa, dan Uzair berada dalam neraka. Maka Allah menurunkan ayat dalam masalah ini, “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.[11]

Adapun masalah-masalah lain, yaitu bahwa saya mengatakan, “Islam seseorang tidak akan sempurna hingga dia mengetahui makna kalimat ‘laa ilaha illallah’,” bahwa saya menjelaskannya kepada siapa yang datang kepada saya dengan mengetahui maknanya, bahwa saya mengkafirkan orang yang bernazar jika dia menginginkan dengan nazarnya untuk bertaqarrub kepada selain Allah dan membuat nazar untuk itu, dan bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah kekafiran dan sembelihannya haram dimakan. Maka masalah-masalah ini adalah benar dan saya berucap dengannya. Saya mempunyai dalil dari kalam Allah dan sabda Rasul-Nya yang menunjukkan apa yang saya katakan ini, dan juga dari perkataan para ulama panutan seperti Imam Empat. Jika Allah Ta’ala memudahkan maka saya akan memaparkan jawabannya secara panjang lebar dalam risalah tersendiri insya Allah.

Kemudian pelajarilah dan ambillah pelajaran dari firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya,[12] sampai akhir ayat.


[1] Risalah ini disebarkan pada bagian khusus dalam kitab Ar-Rasa`il Asy-Syakhshiah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, yang dikarang oleh Dr. Muhammad Baltaji, Dr. Sayyid Hijab, dan Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rumi. Dia adalah risalah yang pertama, hal. 7-13. Selesai dinukil dari Ad-Durar As-Sunniah (1/28-31)

[2] QS. Ash-Shaffat: 180-181

[3] QS. Al-Anbiya`: 28

[4] QS. Al-Baqarah: 255

[5] QS. An-Najm: 26

[6] QS. Al-Muddatstsir: 48

[7] Yakni kesepuluh orang sahabat yang dipastikan masuk surga dan tersebut dalam satu hadits. Empat di antaranya adalah khalifah yang empat, sehingga sisanya adalah enam yang lain yaitu: Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Az-Zubair bin Al-Awwam, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Said bin Zaid, Sa’ad bin Abi Waqqash. (pent.)

[8] QS. Al-Hasyr: 10

[9] Salah seorang penduduk Riyadh yang mencela dan memusuhi dakwah. Dia menulis dan mengirimkan tulisannya ke berbagai negeri, yang di dalamnya dia mengarang banyak kedustaan yang tidak pernah diucapkan oleh Asy-Syaikh.

[10] QS. An-Nahl: 105

[11] QS. Al-Anbiya`: 101

[12] QS. Al-Hujurat: 6

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, August 26th, 2013 at 4:01 pm and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.