Apakah Lutut Adalah Aurat?

December 13th 2008 by Abu Muawiah |

Apakah Lutut Adalah Aurat?

Dari Abu Musa dia berkata, ”Sesungguhnya Nabi r pernah duduk di sebuah tempat yang padanya terdapat genangan air, maka beliau menyingkap kedua lututnya atau salah satu lututnya. Tatkala Utsman masuk, beliau segera menutupnya.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7/43), Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi (2/232) dari jalan Sulaiman bin Harb (dia berkata): Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami (dia berkata): Ali bin Al-Hakam dan Ashim Al-Ahwal menceritakan kepadaku, bahwa keduanya mendengar Abu Utsman bercerita dari Abu Musa.

Dalam permasalahan ini ada beberapa hadits lainnya:
Di antaranya adalah dari Abu Ad-Darda` dia berkata, ”Saya pernah duduk-duduk di sisi Nabi r lalu tiba-tiba Abu Bakar datang dalam keadaan memegang ujung pakaiannya hingga dia menampakkan kedua lututnya. Maka Nabi r bersabda, ”Adapun teman kalian ini, maka dia telah tergesa-gesa,” lalu dia mengucapkan salam dan berkata, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah terjadi sedikit perselisihan antara saya dan Ibnu Al-Khaththab, maka  saya terlalu terburu-buru bersikap terhadapnya kemudian saya menyesal. Lalu aku memintanya untuk memaafkan aku akan tetapi dia tidak mau memaafkan aku, maka saya pun bersegera menemuimu,” maka beliau bersabda, ”Allah mengampuni kamu wahai Abu Bakar (tiga kali). Kemudian Umar juga menyesal lalu dia segera mendatangi rumah Abu Bakar dan bertanya, ”apakah Abu Bakar ada?” mereka menjawab, ”Tidak ada.” Maka dia mendatangi Nabi r lalu mengucapkan salam kepada beliau, dan ketika itu wajah Nabi r kelihatan marah sampai-sampai Abu Bakar merasa kasihan (kepada Umar), lalu Umar berlutut di atas kedua lututnya. Dia berkata, ”Wahai Rasulullah r, demi Allah sungguh saya telah menzhalimi (dua kali),” maka Nabi r bersabda, ”Sesungguhnya Allah mengutus aku kepada kalian akan tetapi kalian berkata, ”Kamu berdusta,” sedang Abu Bakar berkata, ”Dia berkata benar.” Dia membantu saya dengan diri dan hartanya. Karena itu bisakah kalian untuk tidak mengganggu sahabatku ini?!” (dua kali), maka setelah itu Abu Bakar tidak pernah lagi diganggu.”
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7/16-17) dan Ath-Thahawi dalam Al-Musykil (2/288) darinya.
Di antaranya adalah riwayat dari Amr bin Asy-Syarid dari ayahnya dia berkata, ”Sesungguhnya Nabi r pernah mengikuti seorang lelaki dari Tsaqif sampai-sampai beliau berlari-lari kecil di belakangnya sampai beliau memegang pakaiannya lalu bersabda, ”Angkat sarungmu,” maka lelaki itu menyingkap kedua lututnya dan berkata, ”Wahai Rasulullah, saya mengalami al-fanaf (al-hanaf adalah jari-jemari kaki yang satu mendekat dan mengarah ke kaki lainnya) dan kedua kedua lututku kecil.” Maka Rasulullah r bersabda, ”Semua ciptaan Allah -Azza wa Jalla- itu baik,” maka setelah itu lelaki itu tidak pernah terlihat kecuali sarungnya tinggi sampai ke pertengahan betis sampai dia mati.”
Diriwayatkan oleh Ahmad (4/390) dia berkata: Rauh menceritakan kepada kami (dia berkata): Zakariya bin Ishaq menceritakan kepada kami (dia berkata): Ibrahim bin Maisarah menceritakan kepada kami bahwa dia mendengar Amr bin Asy-Syarid dan seterusnya.
Ath-Thahawi juga meriwayatkannya dalam Al-Musykil (2/287) dia berkata: Abu Umayyah menceritakan kepada kami (dia berkata): Rauh bin Ubadah menceritakan kepada kami dan seterusnya.
Ini adalah sanad shahih yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim.

Faidah:
Nama lelaki pemilik sarung di atas adalah Amr bin Zurarah,  sebagaimana dalam riwayat Ath-Thabarani dari hadits Abu Umayyah. Dia (Ath-Thabarani) meriwayatkan hadits ini dari beberapa jalan darinya (Abu Umayyah) dan perawi salah satu dari jalan-jalan itu semuanya tsiqah, sebagaimana dalam Al-Majma’ (5/124)
Ahmad juga meriwayatkannya (4/200) dari Amr yang sama, tapi dia menamakannya Amr bin Fulan Al-Anshari.
Sanadnya shahih dan semua perawinya adalah perawi Imam Enam kecuali Al-Walid bin Sulaiman, dan dia adalah rawi yang tsiqah sebagaimana dalam At-Taqrib, dan Al-Haitsami berkata, ”Semua perawinya tsiqah.”
Dalam permasalahan ini juga ada hadits dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Hamzah t memandang kedua lutut Nabi r kemudian memandang pusar beliau, dan selengkapnya akan datang sebentar lagi insya Allah Ta’ala.

Dalam hadits-hadits ini terdapat pendalilan bahwa lutut bukanlah aurat, dan ini bisa ditinjau dari dua sisi:
Pertama: Ar-Rasul r membukanya tanpa ada keperluan yang mendesak.
Sementara ucapan Asy-Syaukani (2/55), ”Sesungguhnya berhujjah dengan hadits ini bahwa lutut bukanlah aurat adalah hujjah yang tidak sempurna, karena beliau membuka lututnya karena adanya uzur, yaitu untuk memasukkan kakinya ke dalam air. Di tambah lagi beliau perbuatan beliau menutupinya dari Utsman memberikan kesan bahwa dia adalah aurat. Seandainya mungkin untuk memberikan alasan lain dari perbuatan beliau menutupinya dari Utsman dengan alasan selain itu, maka paling tidak hadits ini masih mengandung kemungkinan,” ini adalah ucapan yang tertolak (dengan dua alasan, pent.).
Adapun yang pertama: Karena hadits ini menegaskan bahwa beliau -alaihishshalatu wassalam- duduk pada sebuah tempat yang padanya ada air lalu beliau menyingkap kedua  lututnya. Ini berarti bahwa Nabi r duduk sambil menjulurkan kedua kakinya ke dalam air. Kalau begitu apa uzur beliau untuk membukan kedua lutut kalau dia memang aurat? Bukankah Nabi r bisa dengan hanya memasukkan kedua betisnya ke dalam air tanpa membuka auratnya?!
Makna yang saya sebutkan ini didukung dengan keterangan bahwa Imam Ahmad meriwayatkan hadits ini (4/407) dari jalan lain dari Abu Musa dia berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah r pernah berada pada sebuah kebun di Madinah di qaff sumur (yakni: Tempat untuk duduk yang dibuat di sekeliling sumur) sambil menjulurkan kedua kaki beliau. Lalu Abu Bakar mengetuk pintu …,” sampai akhir hadits.
Hadits yang semakna dengannya diriwayatkan oleh Muslim (7/118) dari jalan ketiga dengan lafazh, ”Beliau duduk di tengah qaff sumur lalu membuka kedua betis beliau dan memasukkan keduanya ke dalam sumur.”
Riwayat ini tidak kontradiksi dengan riwayat Al-Bukhari yang tegas menyebutkan bahwa beliau menyingkap lututnya, karena riwayat Al-Bukhari mengandung tambahan lafazh dari rawi yang tsiqah dan tambahan seperti ini diterima berdasaran kesepakatan ulama. Sebagaimana pula tidak ada kontradiksi antara riwayat Al-Bukhari ini dengan riwayat Aisyah dan selainnya yang tegas menyebutkan tersingkapnya paha, dengan sebab dan alasan yang sama. Ini kalau dipandang kejadiannya sama, adapun kalau kejadian seperti ini (duduk di tepi sumur, pent.) berulang maka tidakada permasalahan.
Adapun yang kedua: Karena perbuatan beliau menutup lutut dari Utsman itu hanyalah sebagai perlakuan yang khusus dari beliau r kepada Utsman t karena beliau (Utsman) adalah orang yang sangat pemalu, sebagaimana beliau menutup paha beliau darinya -sebagaimana yang telah berlalu-. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau menutupinya karena dia adalah aurat. Bagaimana tidak, sementara beliau -alaihissalam- telah membuka lututnya di hadapan orang selain Utsman, sebagaimana yang tegas disebutkan dalam hadits Aisyah dan selainnya dan sebagaimana yang nampak dari hadits Abu Musa ini. Karena dia (Abu Musa) meriwayatkan kisah ini yang dia menyaksikannya sendiri dengan mata kepalanya. Maksud saya beliau -alaihissalam- tidak menutup lututnya dari Abu Musa sebagaimana dia menutupinya dari Utsman. Inilah yang bisa saya sampaikan berkenaan kritikan terhadap ucapan Asy-Syaukani.
Seandainya pun kita menganggap bahwa ucapannya itu benar, maka yang menjadi dalil bahwa lutut bukanlah aurat adalah perkara yang kedua: Yaitu Abu Bakar menyingkap kedua lututnya -dan demikian pula Amr bin Zurarah- di hadapan beliau -alahissalam- dan beliau tidak mengingkari keduanya. Seandainya dia adalah aurat, niscaya beliau r akan mengingkari mereka berdua sebagaimana beliau mengingkari Jarhad Al-Aslami ketika beliau bertemu dengannya dan pahanya terlihat, maka beliau r bersabda, ”Tutuplah pahamu karena paha adalah aurat,” -seandainya haditsnya shahih-, akan tetapi hadits ini tidak shahih sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya secara terperinci. Maka diamnya beliau -alaihissalam- terhadap kejadiann tersebut menunjukkan bahwa lutut bukanlah aurat. Karenanya Al-Hafizh berkata (7/17) dalam syarah hadits Abu Ad-Darda`, ”Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa lutut bukanlah aurat.”

Di sina ada dalil yang ketiga: Yaitu kisah dimana Hamzah t memandang lutut Nabi r. Maka dalam kisah ini -dimana beliau -alaihissalam- menyingkap lututnya- ada kejadian orang lain memandang lutut beliau. Seandainya dia adalah aurat, niscaya Allah tidak akan membiarkan Hamzah dan tidak pula selainnya untuk melihat kepadanya, sebagaimana alasan semisal yang dikemukakan oleh Ibnu Hazm dalam masalah pusar, dan ucapan beliau akan datang.

Maka yang benarnya adalah bahwa semua hadits ini adalah dalil yang tegas menunjukkan bahwa lutut bukanlah aurat, dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’i. An-Nawawi berkata (3/169), ”Inilah yang masyhur dari mazhab kami, dan ini adalah pendapat Malik, sekelompok ulama dan salah satu riwayat dari Ahmad. Sementara Abu Hanifah dan Atha` berkata: Dia adalah aurat.”
Ini adalah pendapat yang lemah, bertentangan dengan semua hadits-hadits shahih yang telah berlalu.

[Diterjemah dari kitab Ats-Tsamar Al-Mustathab Bab Shalat: Wajibnya menutup aurat, karya Asy-Syaikh Al-Albani]

Incoming search terms:

  • hukum solat pakai celana robek
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, December 13th, 2008 at 3:45 am and is filed under Hadits. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

16 responses about “Apakah Lutut Adalah Aurat?”

  1. nandikram said:

    bismillah,

    afwan ustadz, ana dapati beberapa pembahasan yang terpotong teksnya sehingga tidak dapat dibaca secara keseluruhan atau bahkan tidak bisa ditampilkan secara utuh, mohon klarifikasinya, apa yang salah pada komputer ana atau pada websitenya ?

    jazakallahu khoir..

    Na’am afwan jiddan atas ketidaknyamanan ini. Alhamdulillah semua artikel yang terpotong telah kami lengkap kembali. Jazakallahu khairan.

  2. Tarmizi said:

    assalamu’alaikum afwan ustadz apa tidak aneh isterinya berjilbab lebar en bercadar lagi sementara suaminya bisa bercelana pendek dengan alasan diatas balas

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Saya tidak habis pikir, apanya yang bermasalah ketika kita mengatakan paha bukanlah aurat. Lantas perbuatan Nabi di atas juga mau dikatakan aneh???
    Hendaknya yang mengatakan paha itu adalah aurat mendatangkan dalilnya. Bukan hanya dengan mengatakan ucapan ‘aneh’ atau yang semisalnya.
    Walaupun kami sepakat bahwa menutup paha itu lebih utama, tapi masalahnya apakah menampakkannya adalah dosa dan aneh? Kalau ia, maka kelazimannya kita mengatakan Nabi telah berbuat dosa berperilaku aneh dengan sengaja di hadapan sahabatnya. Naudzu billahi mindzalik.

  3. Roni said:

    Alhamdulillah ana dapat ilmu lagi. Sejak dulu ana memahami lutut itu adalah aurat makanya ana tidak membuka artikel ini tetapi setelah ana baca dengan seksama ternyata lutut itu bukanlah aurat. Yang jadi pertanyan ana Ustadz, Batasan aurat laki – laki itu dari mana sampai mana? Jazakumullahu khair atas jawabannya.

    Kesimpulannya, yang aurat lelaki adalah kedua kemaluan saja, dan diikutkan padaya paha yang sejajar dengan kemaluannya. Demikian kesimpulan dari Asy-Syaikh Al-Albani -rahimahullah- dan selainnya. Wallahu a’lam.

  4. Roni said:

    Dari jawaban diatas, Bagaimana dengan shalatnya sebagian laki-laki (banyak terjadi di kampung-2) yang pakaiannya cuma sekedar sarung penutup aurat, dada dan perut terlihat karena tidak mengenakan pakaian gamis/koko/kemeja? sahkah shalatnya baik yang ia lakukan di masjid ataupun di rumah? Barakallahu fiikum

    Tidak syah, karena yang dituntut dalam shalat bukanlah menutup aurat tapi menutup apa yang diperintahkan untuk ditutup. Sementara kedua pundak haruslah ditutup dalam shalat berdasarkan hadits Abu Hurairah dimana dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقَيْهِ شَيْءٌ
    “Janganlah salah seorang dari kalian shalat dengan menggunakan satu kain, hingga tidak selembar pun kain yang menutupi kedua pundaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 346 dan Muslim no. 801)

  5. Abu Auza'i said:

    Bismillah.
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Baarakallahu fiik ya Ustadz.
    Sedikit pertanyaan masalah prakteknya ya Ustadz:
    1. Memang kedua paha bukanlah aurat, jika demikian apakah boleh seorang ikhwah SERING memakai celana pendek ketika ke luar rumah?
    Yang menjadi musykilah adalah bahwa:
    * Bukankah Rasulullah shollalahu ‘alaihi wasallam melazimkan dirinya dengan qamish dalam setiap keadaan dan hanya dalam keadaan tertentu terlihat/memperlihatkan paha beliau/lututnya?
    * Bukankah celana pendek datang dari kaum kuffar dan ciri khas mereka ketika suasana santai tertentu?
    * Terlebih ada ‘urf sebagian masyarakat kita yang agak risih ketika ada lelaki yang memakai celana pendek di luar rumah.

    2. Manakah antara dua orang dibawah ini, yang sama2 meyakini bahwa paha bukanlah aurat, yang afdhal?

    Lelaki PERTAMA : tidak pernah sama sekali memperlihatkan pahanya kepada orang selain istrinya, karena sifat malunya atau menjaga muru’ahnya di hadapan orang lain.

    Lelaki KEDUA : sesekali sengaja memperlihatkan pahanya ketika berada di luar rumah untuk menunjukkan kepada manusia bahwa paha bukanlah aurat menurut apa yang diyakininya dari syari’at.

    Jazaakallahu khayran katsiiraa.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Afwan sebelumnya tapi semua yang antum sebutkan di atas adalah dari sudut pandang yang lain, berbeda dengan sudut pandang yang kami pakai sekarang.
    Sudut pandang yang kami pakai sekarang adalah masalah halal atau haram, sementara antum memakai sudut pandang afdhal atau tidak afdhal.
    Dalam masalah halal atau haram maka kami katakan lutut dan paha bukanlah aurat sehingga tidak haram jika dia menampakkanya. Akan tetapi dalam masalah afdhal atau tidak afdhal, maka apa yang antum sebutkan itu sudah tepat.
    Jadi kedua sudut pandang ini butuh dibedakan. Bukankah tidak semua orang yang menghalalkan buaya lantas dia mau makan buaya? Demikian pula orang yang mengatakan paha bukanlah aurat tidak menunjukkan dia akan menampakkan pahanya setiap saat.
    Hal ini sudah pernah kami ingatkan di salah satu komentar dalam artikel ini. Wallahu a’lam.

  6. Abu Rifqah said:

    Ana tidak punya pertanyaan, selain doa buat ustadz di sini, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjaga para ustadz semua dan memberikan berkah atas ilmu yang selalu dibagi di sini.

    Semoga kita semua mendapatkan tambahan ilmu dan bisa menjaganya. Barakallahu fiikum.

    Allahumma amin

  7. mahdi said:

    copas dr komen akh Yulian Purnama:
    Kami dapati artikel yang anda sertakan adalah dari link http://al-atsariyyah.com/?p=669, yang merupakan 100% terjemahan dari kitab Ats-Tsamar Al-Mustathab karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.
    Namun kami temukan, bahwa Syaikh Al Albani pada kitab tersebut men-dhaifkan hadits:
    الفخذ عورة
    “Paha adalah aurat”
    Namun beliau meralat penilaian tersebut, kemudian menshahihkannya dalam Irwaul Ghalil (1/297- 302), keterangan ruju’nya beliau ada dalam Taraaju’at Al Albani (1/7).
    Bahkan dalam Silsilah Ash Shahihah beliau berkata:
    واعلم أنه قد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : الفخذ عورة . وهو مخرج في إرواء الغليل 66 . وهنا يبدو للباحث وجوه من التوفيق . الأول : أن يكون حديث الترجمة قبل حديث : الفخذ عورة . الثاني : أن يحمل الكشف على أنه من خصوصياته صلى الله عليه وسلم فلا يعارض الحديث الآخر ويؤيده قاعدة : القول مقدم على العمل . والحاظر مقدم على المبيح . والله اعلم
    “Ketahuilah bahwa telah shahih Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Paha adalah aurat’ hadits ini terdapat dalam Al Irwa no.66. Dari hadits ini para peneliti hadits memberikan beberapa alternatif memadukan hadits. Pertama, hadits tarjamah itu sebelum hadits ‘paha adalah aurat’. Kedua, kemungkinan Rasulullah membuka paha beliau hanya kepada orang-orang khusus saja. Dengan demikian antara hadits-hadits ini tidak bertentangan, dan lebih dikuatkan lagi dengan kaidah: ‘Perkataan Nabi lebih didahulukan dari perbuatan‘, dan kaidah: ‘larangan lebih didahulukan dari membolehkan’. Wallahu’alam”

    Dengan demikian, jelaslah pendapat yang mengatakan paha bukan aurat adalah pendapat yang lemah. Sebagaimana juga dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baaz dalam fatwanya berikut:
    http://binbaz.org.sa/mat/18236

    Jazakallahu khairan atas tambahan faidahnya.
    Betul, artikel di atas adalah terjemahan dari Ats-Tsamar Al-Mustathab, kan sudah kami sebutkan sumbernya di akhir artikel.
    Selanjutnya, sekedar meluruskan kesalahan terjemahan:
    Kalimat أن يحمل الكشف على أنه من خصوصياته terjemahan yang benarnya: Bahwa bolehnya menyingkap paha termasuk dari hukum yang khusus berlaku bagi beliau.
    Selanjutnya, memang terjadi silang pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini, dalam masalah ini kami lebih condong kepada pendapat yang menyatakan paha bukanlah aurat berdasarkan amalan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tersebut dalam artikel di atas. Adapun menjadikan suatu hukum menjadi kekhususan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak memberlakukan hukum itu kepada umat beliau, maka butuh dalil yang sangat tegas lagi jelas. Karena klaim sebuah hukum hanya berlaku untuk Nabi shallallahu alaihi wasallam mengandung konsokuensi membatalkan hukum/syariat tersebut kepada umat beliau, dan ini tentunya bukan masalah yang sepele. Wallahu a’lam

  8. ajis said:

    ustadz. Jadi shalat yg pake celana hanya sdkit di atas lutut syahkah dan tdk mengurangi pahala nya kan?

    Ya syah insya Allah.

  9. abang said:

    1. )apakah sama, batas aurat laki2 ketika sholat dan di luar sholat ?

    2. ) Saya sering mendapati anak2 ngaji, kalo sholat pakai lengan pendek, lengan bajunya itu agak panjang melebihi siku. Apakah Lengan tangan itu aurat yg harus di tutupi ketika sholat ?

    1. Tidak sama.
    2. Bukan, tidak mengapa ditampakkan.

  10. sigit said:

    Ustadz maw tanya, jd batasan pakaian dalam sholat itu yg bagaimana?memakai qamish itu sunah atau bukan?

    Yang penting menutup semua bagian tubuh yang harus ditutup dalam shalat, maka itu sudah syah. Sisanya adalah tambahan yang semakin rapi maka itu semakin bagus.

  11. abdullah said:

    ustadz, orang yang shalat dengan ujung bawah baju terlalu pendek/mepet ke pinggang, sehingga ketika sujud baju/kaosnya terangkat ke atas dan terbuka punggungnya, apakah shalatnya sah? adapun bagian bawahnya, dia memakai celana. jazakallahu khair

    Wallahu a’lam. Shalatnya tetap syah, karena bagian itu bukan aurat dalam shalat.

  12. suami said:

    berarti tidak berdosa saat berenang menggunakan celana swim suit yang ketat itu ya ustadz?

    Berdosa, karena celana yang ketat sama saja tidak menutup aurat.

  13. abdullah said:

    afwan ustad, apakah hal diatas berlaku apabila diantara sesama laki-laki saja ataukah juga demikian bila dihadapan wanita ajnabi? syukran

    Hanya di antara sesama lelaki saja.

  14. prasetyo said:

    assalamualaikum.

    ustad bagaimana hukumnya jika laki-laki sholat sementara ia memakai kaos, dan kaosnya itu ada yang robek, namun tidaklah terlalu besar, apakah sah solatnya?

    Tergantung di daerah mana sobeknya, apakah di bagian yang harusnya ditutup atau tidak. Trus apakah dari sobekan itu tubuh bagian dalamnya terlihat secara jelas atau tidak.

  15. Anto said:

    Aslmkm ustad, apakh pusar termasuk aurat?.
    Jadi sesama laki2 boleh lihat paha, pusar dan lutut.
    Jadi kalo berenang di kolam renang khusus laki2 boleh pake celana pendek yg memperlihatkan pusar dan lutut?

    Ya, boleh.

  16. anis said:

    celana yang kita gunakan dalam shalat robek d bawah lutut…
    apakh shalat kita sah atau tidak…???

    Tetap syah, tidak ada masalah.