Antara Takbiratul Ihram Dengan ‘Nawaitu’

March 6th 2010 by Abu Muawiah |

20 Rabiul Awal

Antara Takbiratul Ihram Dengan ‘Nawaitu’

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk ke dalam Masjid dan shalat, kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya kemudian bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat!” Orang itu kemudian mengulangi shalat dan kembali datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil memberi salam. Namun beliau kembali bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat!” Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali dan akhirnya, sehingga ia berkata, “Demi Dzat yang mengutus tuan dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarilah aku.” Beliau pun bersabda: “Jika kamu mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur’an. Kemudian rukuklah hingga benar-benar rukuk dengan tenang, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk, Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukanlah seperti cara tersebut di seluruh shalat (rakaat) mu.” (HR. Al-Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397)
Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ
“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar siapa yang memuji-Nya) ‘, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian) ‘. Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” (HR. Al-Bukhari no. 738 dan Muslim no. 390)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah masuk shalat, beliau mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.” (HR. Abu Daud no. 753, At-Tirmizi no. 240, dan dinyatakan shahih oleh Ahmad Syakir dalam tahqiqnya terhadap Sunan At-Tirmizi)
Dan ada yang menafsirkan kata مدّا di sini bermakna: Merapatkan jari-jemari dan tidak memisahkannya.

Penjelasan ringkas:
Takbiratul ihram merupakan salah satu dari rukun shalat -berdasarkan hadits Abu Hurairah di atas-, dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengajari seseorang mengenai tata cara shalat yang benar. Karena dia adalah rukun, maka shalat dinyatakan tidak syah jika seorang meninggalkan takbiratul ihram, baik dia tinggalkan dengan sengaja maupun karena lupa.
Dan hadits Abu Hurairah serta Ibnu Umar  di atas tegas menunjukkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak pernah membuka shalatnya dengan apapun kecuali dengan takbiratul ihram. Karenanya apa yang diucapkan oleh sebagian orang di zaman ini berupa pelafazhan niat dengan mengatakan ‘nawaitu …’ adalah amalan yang keliru dan bertentangan dengan amalan Nabi -alaihishshalatu wassalam-.
Disunnahkan untuk mengangkat kedua tangan ketika membaca takbiratul ihram, sebagaimana disunnahkan untuk mengangkat kedua tangan saat akan ruku’, bangkit dari ruku’, dan ketika bangkit menuju rakaat ketiga. Semuanya berdasarkan hadits Abdullah bin Umar di atas.
Adapun sifat mengangkat tangan, maka jari jemari pada kedua telapak tangan dirapatkan (bukan dikepalkan), lalu diangkat: Bisa sampai sejajar dengan bahu -sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar di atas- dan bisa juga sampai sejajar dengan telinga -berdasarkan dalil lain yang shahih-. Dan jari jemarinya hendaknya menghadap ke arah kiblat.

Incoming search terms:

  • takbiratul ihram
  • takbiratul ihram yang benar
  • nawaitu
  • sholat sunah apakah harus baca takbirrotul ikrom
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, March 6th, 2010 at 8:27 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Antara Takbiratul Ihram Dengan ‘Nawaitu’”

  1. kohar said:

    aslam…
    kalau untuk posisi ketika niat adanya dimana?

    Niat itu adalah maksud dan kehendak maka kapan kehendak dan maksud untuk mengerjakan shalat itu sudah ada maka itulah niatnya. Karenanya, misalnya sekarang jam 10 dan saya berkehendak untuk shalat jumat sebentar, maka berarti niat saya sudah ada, dan itu sudah syah. Wallahu a’lam

  2. Jie_alathfal@yahoo.co.id said:

    maap, bukanya arti niat itu, dikerjakan bersamaan dengan perbuatan

    Maaf, bukan begitu artinya. Niat itu artinya maksud dan kehendak berdasarkan kesepakatan ulama. Karenanya kapan seseorang itu sudah berkehendak mengerjakan sesuatu maka itulah niatnya, walaupun itu sejam sebelumnya. Wallahu a’lam

  3. ummu 'Abdillah said:

    assalamu’alaikum,
    1.jika seseorang menuju kamar mandi karena mau wudhu,berarti niatnya untuk wudhu sudah ada dan mencukupi(sah),apakah seperti itu ustadz?
    2.misalkan telah masuk waktu dhuhur kemudian kita wudhu untuk shalat dhuhur,sebelumnya kita shalat sunnah rawatib dulu,apakah ketika mau melakukan takbiratul ihram untuk shalat dhuhur kita harus membetikkan lagi dalam hati kalau yang akan kita lakukan ini adalah shalat wajib dhuhur?ataukah tidak perlu ustadz?
    3.shaum ada waktunya untuk berniat,yakni ketika tenggelamnya matahari sampai terbitnya fajar. apakah amalan shalat juga ada waktunya untuk berniat?
    jazakallah khoir, barokallahu fiik

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Ia seperti itu.
    2. Tidak wajib. Walaupun kalau dia mau menghadirkan kembali niatnya sebelum shalat zuhur maka itu boleh-boleh saja, tapi tidak harus seperti itu. Dan saya rasa menghadirkan niat di awal ibadah ini biasanya terjadi secara otomatis, tanpa direncanakan.
    3. Shaum mempunyai dalil khusus akan pembatasan waktunya, beda halnya dengan shalat yang tidak mempunyai dalil khusus. Jadi niat keduanya tidak bisa dikiaskan. Wallahu a’lam.

  4. RAHMAT said:

    kalo kaya’ gitu, mana bedanya antara niat dengan cita-cita? lalu niat itu kan wajib, sesuai hadits innamal a’malu bin niat. jadi kalo niat masuk kedalam rukun shalat, gimana dengan status kita yang masih berhadast atau melakukan gerakan yang membatalkan shalat bila kita niatnya di rumah dan shalat di masjid?

    Maaf, maksud pertanyaannya tidak jelas

  5. Andi said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Pak ustadz apakah di setiap rakaat shalat setelah beranjak dari sujud itu kita harus bertakbir atau kita cuman bertakbir di saat memulai shalat dan setelah tasyahud awal karena kebanyakan makmum yang saya lihat itu seperti itu pak ustadz contohnya jika mereka mengerjakan shalat 4 rakaat mereka itu tidak bertakbir lagi di rakaat ke tiga dan ke empat tapi langsung bersedekap atau saya yang salah ya pak ustadz karena setiap bangkit dari sujud saya selalu bertakbir atau sebenarnya yang benar itu kayak gimana pak ustadz?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Mungkin yang anda maksud adalah mengangkat tangan, bukannya takbir. Karena takbir itu dilafazkan pada setiap gerakan kecuali ketika i’tidal. Sementara mengangkat tangan hanya ada 4 tempat:
    1. Takbiratul ihram di awal shalat.
    2. Ketika akan ruku’.
    3. Ketika bangkit dari ruku’.
    4. Dan ketika berdiri dari tahiyat pertama.

  6. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, Jadi kita tidak boleh melafazhkan niat baik secara lisan maupun dalam hati. Dan niat termasuk rukun. Bukankah semua hal2 yg kita lakukan otomatis ada niatnya? seperti mau makan, tidur, dll. Terus bagaimana yg dikatakan tidak berniat sehingga tidak sah ibadah kita? terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Niat yang dimaksud adalah sekedar memunculkan keinginan di dalam hati untuk melakukan sesuatu. Kapan dia sudah punya keinginan maka itulah niatnya.

  7. mencarii kebenaran.... said:

    Assallamualaikum pak ustad….
    Jd pada intinya niat usholi sblum sholat secara lafadz it tidak di ajarkan dan di ada2kan yaa pak ustad.. jd niat sbner nya ada dalam hati manusia it sndr.. apa bgtu pak ustadz…
    Wassalammualaikum wr.wb

    wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh…
    iya, niat di dalam hati, baarakallahu fiykum. (MT)

  8. Suzie said:

    kalau saya dulu diajarin sama guru agama. Sebelum sholat, membaca niat (pakai lisan), setelah itu niat dibaca dalam hati (pakai bahasa jawa) waktu takbiratul ihram. Sekarang saya pikir kenapa harus ribet begitu? Nah kalo orang Madura, orang Inggris gimana? Bukannya takbiratul ihram itu, bacaannya takbir. Kalo dibarengi sama niat dengan bahasa macem2 bukannya tidak sesuai dengan yang dibaca? makanya saya cari2 referensi.