Anjuran Bertaubat dan Menjauhi Dosa

August 23rd 2011 by Abu Muawiah |

23 Ramadhan

Anjuran Bertaubat dan Menjauhi Dosa

Taubat adalah salah satu ibadah terbesar yang Allah Ta’ala perintahkan dalam banyak ayat, di antaranya:
وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Allah Ta’ala juga berfirman:
قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Bahkan karena kemuliaan dan kedudukan taubat dan istighfar ini, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Ayyub radhiallahu anhu bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَوْلَا أَنَّكُمْ تُذْنِبُونَ لَخَلَقَ اللَّهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ يَغْفِرُ لَهُمْ
“Seandainya kamu sekalian tidak mempunyai dosa sedikit niscaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang melakukan dosa untuk diberikan ampunan kepada mereka.” (HR. Muslim no. 4934)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Demi Dzat yang jiwaku di tangannya, seandainya kamu sekalian tidak berbuat dosa sama sekali, niscaya Allah akan memusnahkan kalian. Setelah itu, Allah akan mengganti kalian dengan umat yang pernah berdosa. Kemudian mereka akan memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun pasti akan mengampuni mereka.” (HR. Muslim no. 4936)
Allah Ta’ala Maha Rahmat, karenanya Dia sangat gembira jika ada hamba-Nya yang bertaubat kepada-Nya. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ إِذَا وَجَدَهَا
“Allah Ta’ala sangat gembira menerima taubat seseorang kamu, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang.” (HR. Muslim no. 4928)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
“Sungguh kegembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap hewan tunggangannya di sebuah padang pasir yang luas, namun tiba-tiba hewan tersebut lepas, padahal di atasnya ada makanan dan minuman hingga akhirnya dia merasa putus asa untuk menemukannya kembali. kemudian ia beristirahat di bawah pohon, namun di saat itu, tiba-tiba dia mendapatkan untanya sudah berdiri di sampingnya. Ia pun segera mengambil tali kekangnya kemudian berkata; ‘Ya Allah Engkau hambaku dan aku ini tuhan-Mu.’ Dia telah salah ucap karena terlalu senang.” (HR. Muslim no. 4932)
Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ فَاغْفِرْ لِي فَقَالَ رَبُّهُ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ أَوْ أَصَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَصَابَ ذَنْبًا قَالَ قَالَ رَبِّ أَصَبْتُ أَوْ قَالَ أَذْنَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ لِي فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثَلَاثًا فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ
“Ada seorang hamba yang melakukan dosa -atau dengan redaksi lain; menjalankan dosa-, lantas hamba itu berkata ‘Ya Tuhanku, aku telah melakukan dosa –atau dengan redaksi ‘telah kuperbuat’–, maka ampunilah aku’. Maka Tuhannya berkata: ‘Hamba-Ku tahu bahwa ia mempunyai tuhan yang bisa mengampuni dosa dan menghukumnya, maka Aku mengampuni dosa hamba-Ku.’ Kemudian orang tersebut tinggal berdiam diri (tidak melakukan dosa) Allah berapa lama Ia berdiam diri, kemudian Ia kembali melakukan dosa lagi -atau mengerjakan dosa–, lalu ia pun berkata, ‘Wahai rabbku, aku telah berdosa -atau melakukan dosa-, maka ampunilah perbuatanku.’ Maka Allah berfirman: ‘Hamba-Ku tahu bahwa dia mempunyai tuhan yang bisa mengampuni dosa dan menghukumnya, maka telah Aku ampuni hamba-Ku.’ Kemudian orang itu berdiam diri sekehendak Allah berdiam diri, kemudian ia melakukan dosa lagi -atau dengan redaksi menjalankan dosa-, sehingga hamba itu berkata, ‘Rabbi, telah kulakukan dosa -atau aku berdosa-, maka berilah aku ampunan terhadapnya.’ Maka Allah berfirman: ‘Hamba-Ku tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menghukumnya, maka Aku telah mengampuni hamba-Ku (Allah mengulanginya sebanyak tiga kali), maka hendaklah ia beramal sekehendaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6953)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ
“Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab; ‘Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.’ Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; ‘Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ‘ Orang alim itu menjawab; ‘Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.’ Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; ‘Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.’ Malaikat Azab membantah; ‘Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.’ Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; ‘Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.’ Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.” (HR. Muslim no. 4967)

Kemudian wajib diketahui bahwa Allah Ta’ala tidak akan menerima taubat kecuali setelah terpenuhinya 6 syarat:
a.    Ikhlas kepada dan karena Allah Ta’ala. Karenanya tidak syah bertaubat kepada selain-Nya atau bertaubat karena alasan-alasan duniawiah.
b.    Meninggalkan dosa tersebut. Maka tidak syah taubat jika seorang terus-menerus berada di atas dosa yang telah dia bertaubat darinya.
c.    Menyesali semua dosa yang telah dia lakukan. Maka tidak syah taubat dari orang yang tidak merasa bersalah dengan dosanya.
d.    Bertekad untuk tidak mengulangi dosa yang dia telah bertaubat darinya.
e.    Bertaubat sebelum waktu diterimanya taubat habis. Dan waktu taubat habis pada 3 keadaan:
1.    Sakratul maut.
2.    Matahari terbit dari tempat terbenamnya.
3.    Sebelum datangnya tanda-tanda adzab.
f.    Mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kehalalannya, jika dosanya berkenaan antara hamba dengan hamba lainnya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu: Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang memiliki kezhaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta dihalalkan, sebab dinar dan dirham (dihari kiamat) tidak bermanfaat, kezalimannya harus dibalas dengan cara kebaikannya diberikan kepada saudaranya, jika ia tidak mempunyai kebaikan lagi, kejahatan kawannya diambil dan dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6053)

Incoming search terms:

  • ayat anjuran taubat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, August 23rd, 2011 at 1:46 pm and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Anjuran Bertaubat dan Menjauhi Dosa”

  1. Ryan Hidayat said:

    Assalamu’alaikum afwan.

    Mo nanya Afwan,misal qt berbuat dzalim msalah harta,tpi nda tau brapa bnyak yang dah qt ambil,solusi munurut syariatnya gmna Afwan cara bertaubatnya………

    satu lagi afwan,lo qt punya hutang,tapi melunasi hutang orangnya nda ada/nda tau alamat rumahnya,solusi mnurt syariatnya gmna Afwan….

    Wassalamu’alaikum…….

    Waalaikumussalam.
    1. Kalau orangnya masih bisa dihubungi maka langsung tanya saja. Tapi jika tidak maka dia bisa mengira-ngira jumlah yang terbesar untuk berjaga-jaga. Misalnya dia ragu 100rb atau 200rb, maka dia menjadikannya 200rb.
    2. Dia bisa menunggu hingga orangnya ketemu dengan tetap berusaha mencarinya. Atau dia bisa menyedekahkan uang itu dengan niat pahalanya untuk orang itu.

  2. arif said:

    Assalamuailaikum.Ustadz, mau tanya kitakan di Indonesia yg menggunakan hukum Indonesia apakh hukum Had tetap diberlakukan agar seseorang itu taubatnya sempurna?lalu jika tetap berlaku, siapakah yang berhak/bertugas untuk melaksanakannya..? Jazakallahu khoiron.

    Waalaikumussalam.
    Hukum had hanya berhak ditegakkan oleh pemerintah, karenanya jika pemerintah tidak menegakkannya maka tidak ada seorangpun yang boleh menegakkannya. Dia cukup bertaubat kepada Allah dan memperbanyak amal salehnya.

  3. Akhwat said:

    Assalamu’alaykum warohmatullah, ust
    (1)apakah dalam bertaubat itu harus disebutkan seluruh dosa-dosa yang dilakukan? lantas bagaimana jika ana ingin bertaubat terhadap seluruh dosa2 yg pernah dilakukan, apakah bisa diwakili hanya dg mengucapkan “ampuni seluruh dosaku yang Allah” demikian sj?
    (2) apakah ada doa khusus sbg syarat diterimanya taubat?
    (3)Apakah Allah ttp akan menerima taubat hambaNya yg selalu berulang2 kali melakukan kesalahn namun stelah ia trsadar maka ia benar2 mnyesalinya krn takut pda murka dan adzab Allah Tuhannya?
    (4) apakah status wanita/pria yang telah bertaubat dari perbuatan zina, namun ia khilaf dan berbuat lagi, kemudian ia bertaubat lagi, msih dpt dikatakan bukan seorang pezina. Lantas bagaimanakah ciri-ciri seorang pezina itu.
    Ana mohon dijawab seluruh pertanyaan ana ya ust. Atas kesediaanya ana ucapkan “Barokallahu fiykum”

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Taubat memang seharusnya seperti itu. Boleh diwakili dengan ucapan seperti itu.
    2. Tidak ada.
    3. Tergantung, apakah taubatnya terpenuhi syaratnya atau tidak.
    4. Sama seperti di ata, tergantung taubatnya.

  4. muhammad said:

    afwan ustadz,,jika kita ingin bertobat dari ghibah terhadap orang lain, apakah dengan kita mendoakan kebaikan dan memohon kepada Alloh agar yang bersangkuta diampuni dosanya, syarat2 tobat sudah terpenuhi ustadz ?

    Dan apakah boleh kita mengkhususkan sebelum tidur malam bertobat dari dosa2 selama seharian ?
    Dengan maksud supaya tidak lupa untuk bertobat..

    Jazakallahu ustadz..

    Belum terpenuhi. Syarat taubat tetap harus dilakukan, ditambah dengan amalan yang anda sebutkan.
    Tidak ada masalah insya Allah.