Anak Tanggung Jawab Ayah

April 22nd 2010 by Abu Muawiah |

7 Jumadil Ula

Anak Tanggung Jawab Ayah

Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Para ulama menyatakan: ‘Diri-diri kalian,’ yakni: Anak-anak kalian, karena anak itu merupakan bagian dari diri ayahnya. Dan ‘keluarga-keluarga kalian,’ yakni: Istri-istri kalian.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ
“Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian tidak lain kecuali ujian.” (QS. At-Taghabun: 15)
Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 1829)
Dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu anhu dia berkata: Sesunguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidak ada seorang hambapun yang Allah berikan kepadanya beban untuk memimpin, lalu dia mati dalam keadaan menipu orang-orang yang dia pimpin, kecuali Allah akan mengharamkan surga atasnya.” (HR. Muslim no. 142)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Penjelasan ringkas:
Anak-anak, pendidikannya, serta pengurusannya adalah amanah yang Allah berikan kepada para ayah, karenanya para ayah adalah pimpinan mereka dan penanggung jawab atas keadaan mereka. Wajib atas para ayah untuk menasehati anak-anak mereka dengan kebaikan dan menjadikan pendidikan serta perbaikan mereka merupakan pekerjaan dan urusannya yang paling utama dan paling penting. Tidak boleh bagi seorang ayah untuk hanya memenuhi semua kebutuhan jasad dari anaknya berupa makanan dan pakaian lalu setelah itu dia menganggap kewajibannya hanya itu kemudian menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan dunianya dan tidak mengurusi kebutuhan ruhani dari anak-anaknya. Karena barangsiapa yang mengerjakan hal tersebut niscaya dia akan menyesal pada akhirnya, baik di dunia ketika dia sudah tua dan anak-anaknya juga tidak mau mengurusinya, terlebih lagi di akhirat ketika dia dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang telah dibebankan kepadanya tersebut.

Memenuhi kebutuhan ruhani anak-anak -berupa keimanan dan amal saleh- jauh lebih penting daripada memenuhi kebutuhan jasadnya. Karenanya Allah Ta’ala dalam Al-Qur`an tidak pernah memerintahkan para ayah untuk melindungi anaknya dari panasnya terik matahari atau dari panasnya rasa lapar, akan tetapi justru Allah memerintahkan mereka untuk melindungi anak-anak mereka dari api neraka. Sudah dipastikan bahwa setiap ayah tentu sangat menyayangi dan mencintai anak-anaknya dan tidak akan tega membiarkan anak-anaknya tidak makan atau tidak berpakaian, maka apakah dia tega jika anaknya dijadikan sebagai bahan bakar neraka atau berpakaian dengan pakaian dari api neraka?!

Karenanya Allah Ta’ala mengingatkan bahwa kecintaan kepada anak-anak jangan sampai membuat mereka mencelakai anak-anak mereka sendiri, karena anak-anak itu hanya merupakan ujian bagi mereka. Dengan alasan kasih sayang, dia tidak mau menyuruh anaknya shalat padahal dia sudah berumur 7 tahun, tidak mau memukulnya jika tidak mau shalat padahal anaknya sudah berumur 10 tahun. Tidak mengajari dan menyuruhnya berpuasa padahal puasa sudah wajib atasnya hanya karena alasan kasihan melihatnya kelaparan. Memenuhi semua apa yang anaknya dengan alasan kasih sayang, walaupun permintaan si anak bisa mencelakai anak itu sendiri baik mencelakai jasadnya maupun mencelakai imannya. Intinya, Allah Ta’ala memerintahkan para ayah untuk mencintai dan menyayangi anak-anaknya akan tetapi tetap dalam aturan syariat dan tidak berlebihan dalam memanjakannya hingga menelantarkan pengajaran keagamaan anak-anaknya.

Hendaknya para ayah mengingat bahwa sikap keras -sesekali- kepada anak dan gemblengan keagamaan yang benar kepada mereka -walaupun merupakan amalan yang berat dan melelahkan- akan tetapi amalan ini termasuk dari penentu nasibnya di akhirat kelak. Jika dia berhasil maka dia akan bisa menjawab pertanyaan Allah kepadanya tentang tanggung jawabnya, dan dia senantiasa mendapatkan limpahan pahala dan keutamaan sampai walaupun dia telah meninggal, karena adanya doa dan amal saleh dari anak-anaknya. Tapi sebaliknya jika dia gagal dalam amalan ini karena keteledoran dia atau sikap acuh tak acuh dia terhadap pendidikan keagamaan anaknya, maka dia akan menyesal pada hari kiamat tatkala dia tidak bisa menjawab pertanyaan Allah terhadapnya yang akan menyebabkan dia diharamkan untuk masuk ke dalam surga, wal ‘iyadzu billah. Adapun jika dia telah berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah dalam memenuhi pendidikan keagamaan anaknya akan tetapi Allah dengan takdir-Nya yang penuh hikmah menetapkan anaknya tidak menjadi anak yang saleh, maka insya Allah dia tidak akan dituntut pada hari kiamat karena dia telah menunaikan amanah yang dibebankan kepadanya.

Bukan yang dimaksudkan dengan memenuhi kebutuhan keagamaan anak di sini adalah dengan sekedar memasukkannya ke ponpes atau pondok tahfizh atau SDIT sejak usia dini lalu setelah itu dia berlepas tangan dan tidak mau tahu pokoknya anaknya harus bias ngaji harus hafal Al-Qur`an dan hadits, dan seterusnya dari target-target yang mulia tapi tidak diiringi dengan keseriusan sang ayah dalam mendidiknya kecuali keseriusan dia dalam membayarkan kewajibannya kepada sekolah. Yang dia ketahui hanya wajib membayar SPP setiap bulan lalu menyerahkan sisanya kepada para guru dan penanggung jawab di sekolah. Tentunya bukan tanggung jawab seperti ini yang kami maksudkan, karena bagaimanapun juga peran orang tua di rumah jauh lebih mempengaruhi keadaan sang anak daripada pendidikan para guru. Wallahul musta’an.

Terakhir, sebagai langkah awal bagi setiap ayah dalam memperbaiki keadaan keagamaan anak-anaknya adalah memperbaiki keadaan keagamaan diri sendiri baik sebelum maupun setelah dia menikah, serta wajib atasnya untuk memilih istri yang salehah karena ‘buah biasanya tidak jatuh jauh dari pohonnya’. Wallahul muwaffiq.

Incoming search terms:

  • hukum seorang janda keluar larut malam dan meninggalkan anak2 diruma
  • tanggung jawab ayah
  • tanggung jawab ayah terhadap anak
  • Papa sy sudah mati baru sy yg mati apakah akan bertemu di ahirat ?
  • tanggung jawab ayah terhadap anak istri
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, April 22nd, 2010 at 3:26 am and is filed under Quote of the Day, Seputar Anak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

71 responses about “Anak Tanggung Jawab Ayah”

  1. lia said:

    ass….pak ustad sya mau brtanya, sya bercerai sdh 3th , skrg ank hak asuh sya tpi mntan suami sya tdk memberi nfkah lg buat ank ny, sya merencanakan nikah dgn lelaki yg sdh mempunyai istri n anak… apkah stelah sya nikah dgn laki2 itu hak asuh ank sya akn jtuh ke ayahnya ? wass…..

    Ya, jika ayahnya sanggup mengasuhnya dengan baik.

  2. faruq said:

    asllamualaikum,,,pak ustad ..saya mwu tanya ..saya pernah melihat seseorang ayah tidak menafkahi anak dan istrinya dan terus dia menikah lagi tanpa persetujuan dari anak dan istrinya dan apa hukum seseorang ayah

    tersebut
    Waalaikumussalam.
    Dia adalah ayah yang zhalim dan menelantarkan amanah yang dibebankan kepadanya. Hendaknya dia bertaubat kepada Allah, atau Allah akan menyelimutinya dengan banyak kegelapan pada hari kiamat. Wallahul Musta’an.

  3. Putri said:

    Assalamualaikum..
    Saya ingin brtnya, maaf jika agak melenceng..
    Bgmana hukum seorang ibu tiri yang tdk merawat anak tiri nya, sementara ayahnya telah meninggal? Terima kasih..
    Wassalamualaikum…

    Waalaikumussalam.
    Jelas itu merupakan perbuatan tercela dan perbuatan menelantarkan amanah yang dibebankan kepadanya.

  4. charies said:

    askumb pak ustad…saya mwu bertanya apa hukumnya soerang ayah yang tidak menafkahi seorang anak dan istrinya padahal gajinya perbulan tdak kurang dari 8jt. . . tpi seorang ayah ithu sholat lima waktu terus tiap hari…lha apa hukumnya seorang ayah tersebut. .apakah ayah tersebut tidak berdosa…tolong di jawab secepatnya pak ustad..

    Jelas dia berdosa, karena telah menelantarkan amanah dari Allah dan berlaku zhalim kepada mereka.

  5. nana bndg said:

    aslamu alaikum pa uztad sy mau bertanya kalau istri minta carei sudah 3x terus saya cereikan.padahal kebutuhan se hari hari saya penuhi.saya gak pernah keperempuan lain.berdosa gak untk saya. apa memang harus dicerei.

  6. nana bndg said:

    asslamu alaikum pa ustad istri saya minta cerai sudah 3x terus saya ceraikan.anak saya3.2smp 1smk kls 3.yang paling kecil perempuan kls1. smp.terus rumah hasil kerja bersama.pertanya an saya apakah anak harus ikut bapanyah.dan masalah rumah gimana terika kasih tolong pencerahanyah pa ustad.

    Waalaikumussalam.
    Anak-anak dibiarkan memilih untuk ikut kepada siapa, karena mereka yang lebih berhak dalam penentuannya.
    Rumahnya bisa dimusyawarahkan dengan baik, apakah salah satunya mengalah atau memang rumah itu harus dibagi. Tidak ada masalah.

  7. manusia said:

    Manusia. ass… Ustat, hamil duluan baru nikah,anaknya lahir kata ustad anak haram,karna zina. PERTANYAAN SAYA 1.Apakah anak ini,haram dunia akhirat? 2.apakah anak ini wajib melakukan sholat? 3.Apakah anak ini tidak boleh memeluk agama islam? (Anak ini, tidak pernah meminta dilahirkan dengan cara seperti ini Pak ustad.)

    1. Maksud anak haram adalah anak yang lahir dari hubungan yang diharamkan. Adapun statusnya di dunia dan di akhirat, maka itu tergantung kehendak Allah kemudian amalan dia sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang tuanya.
    2. Jelas wajib. Semua muslim wajib mengerjakan shalat.
    3. Kenapa tidak boleh?! Kalau ibunya adalah seorang muslimah, maka secara otomatis dia terlahir sebagai seorang anak yang beragama Islam.

  8. hamba Allah said:

    assalamualaikum

  9. Dani said:

    Assalamu’alaikum,
    Ustadz bagaimana dengan seorang suami yang tidak menafkahi istri dengan alasan suami tersebut berdakwah ke daerah terpencil, jadi guru ngaji disana? suami juga melarang istri keluar rumah untuk bekerja, jadi terpaksa ayah istrinya yang menanggung kebutuhan hidup istri. bagaimana sarannya untuk hal tersebut ustadz?

    Waalaikumussalam.
    Dia adalah suami yang zhalim dan menelantarkan amanah yang diberikan kepadanya. Semuanya tergantung si istri sekarang.

  10. mukhlizan said:

    assalamu’alaikum ustadz!
    saya sudah bercerai selama 6 ini, dan punya anak 1 org laki2 usia 6 thn, selama masa ‘idah saya kurang memberikan nafkah terhadap mantan istri dan trhadap anak saya, hal ini dikarenakan saya sendri tdk pnya uang dan apa2 lagi, jgnkan u menafkahi utk mkan sehari2 saja sy sulit, sedangkan mntan istri sy guru/PNS.
    1. apakah sy berdosa krn tdk mnafkahi anak dan mantan istri?
    2. apakah dosa sy hijrah ke daerah lain u mncari nafkah sedang anak blum tntu terdidik agamanya dgn baik brsama mntan istri?

    mhon jawabannya ustad, semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya kpd kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin..
    wassalam

    Waalaikumussalam.
    1. Insya Allah tidak berdosa, karena memang anda tidak mampu.
    2. Tidak berdosa insya Allah. Karena pada dasarnya ibu yang lebih berhak untuk mengurus anaknya daripada ayah, selama ibunya belum menikah atau sebelum anaknya balig.

  11. kiki said:

    Assalamualaikum,
    Saya akan menikah bulan desember 2012 ini. Saya baru tahu bahwa saya anak angkat. Bapak kandung saya tdk pernah menafkahi saya selama 28 tahun ini dan saya baru jumpa bapak kandung saya 1 bulan yg lalu. Yg sy mau tanyakan adalah :
    1. Apakah Binti saya harus nama ayah kandung ? Krn keluarga yg mengurus saya ingin binti saya nama bapak angkat. Jika tidak boleh apa hukumnya ?
    2. Apakah ada nama binti memakai nama ibu kandung ustad ?
    Mohon penjelasannya, terima kasih. Wasallamualaikum

    Waalaikumussalam.
    1. Ya, tetap harus dengan nama bapak kandung.
    2. Ada. Tapi dalam pernikahan, hendaknya tetap menggunakan nama bapak.

  12. lilik handari said:

    mau tanya,kalo ortu sdh meninggal,bagaimana cara sedekahnya unt ortu dan bagaimana cara minta maaf kepada beliau

    Cukup bersedekah dan pahalanya diniatkan untuk orang tuanya.
    SUdah tidak bisa minta maaf karena kedua telah meninggal.

  13. amanah ALLAH said:

    ass.ustadz sy ingin bertanya,apakah dosanya seorang bapak yg telah menzholimin mantan istri dgn menebar fitnah mencuri hartanya mantan suami,dan juga tidak memberi nafkah anak kandung (enam tahun ) juga ada 2 anak adopsi yg berusia 13th dan 7 thn…sdgkan ia mempunyai uang lebih dari cukup,dan sewaktu menjadi istrinya sy di suruh melepas hijab dan berhenti untuk shollat,sedangkan sang mantan istri dari kluarga nasrani,tapi alhamdulillah setelah bercerai sang mantan memakai hijab dan lanjut shollat kembali,apa hukumnya pak ustadz,jazakumullah khatsiron

    Jelas dia adalah suami sekaligus ayah yang zhalim dan mengkhianati amanah yang dibebankan kepadanya. Hendaknya dia bertakwa kepada Allah ada anak dan mantan istrinya, dan bertaubat dari semua kesalahannya.

  14. alhakim said:

    Aslkm, ustd
    apa yg harus anak lakukan jika seorang ayah yg tidak mau bekerja, padahal secara fisik beliau masih mampu sedangkan anak sudah berusaha memberikan modal untuk usaha tetapi usahanya selalu gagal karena kemalasan beliau.
    Dan setalah ibu/istri meninggal beliau menikah lagi tanpa persetujuan dari anak2nya namun setelah menikah sifatnya gak pernah berubah, tetap malas, dan malah menyalahkan anak2nya karena gak pernah memberi uang sesuai kemauan dia.
    Padahal anak sudah merelakan rumah dijual untuk biaya hidup dia dengan istri barunya, tpi tetap saja si ayah minta jatah perbulan dari anak2nya tanpa beliau mau bekerja.
    Anak2nya bukan gak mau kasih namun uang yg diminta si ayah terasa tidak mampu bagi keadaan si anak?
    Menurut ustadz disini anak yg salah atau orang tua yg salah
    mohon pencerahannya

    Jelas yang salah di sini adalah si ayah. Hendaknya anak2nya tetap berlaku baik kepadanya, dan bersedekah kpd ayahnya sesuai dengan kemampuan mereka, jangan sampai memberatkan diri-diri mereka. Dan jangan mereka berhenti mendoakan yang terbaik untuk ayahnya.

  15. Haryati said:

    assalamu’alaikum ustadz!
    Saya ingin bertanya, apakah diperbolehkan saya membayarkan zakat fitrah orang tua laki-laki saya/ bapak saya? sedangkan saya masih berumur 19 tahun, dan juga karena mama saya tidak mau menanggung/membayarkan zakat fitrah bapak saya. bagaimana yaa ustadz!

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, tidak ada masalah.

  16. hamba Allah WK said:

    Assalamu’alaikum ustad,
    Saya adalah seorang istri dengan suami yang telah dua kali menduda. pernikahan I sudah 13th lalu berakhir dengan 2 anak ikut ibunya, pernikahan ke 2 sedah 4 tahun lalu berakhir dengan 1 anak ikut ibunya, pernikahan dengan saya sejak tahun lalu belum mempunyai anak. penghasilan suami alhamdulillah cukup untuk hidup kami berdua secara pas-pasan, sehingga untuk sewa rumah dan tambahan2 biaya tak terduga dari tabungan anak saya dengan pernikahan saya sebelumnya. Dengan penghasilan seperti itu bagaimana pembagian nafkahnya untuk anak2nya dan untuk saya sbg istri? beberapa bulan terakhir saya tidak mendapatkan nafkah karena anak2nya memerlukan biaya sekolah (sebenarnya ibunya lebih mampu dari suami saya), shg untuk memenuhi hidup saya sepenuhnya dari tabungan anak saya yang masih kuliah. Apakah betul sesuai syariat Islam yang telah dilakukan suami saya seperti ini terhadap keluarga kami? mohon saran dan nasehat dari pak ustadz serta mohon doa agar saya diberi kesabaran dan kekuatan iman islam dalam menjalani rumah tangga ini hingga Jannahnya. Terimakasih. Wassalam

    Waalaikumussalam.
    Hendaknya masalah ini dimusyawarahkan secara bersama. Namun, anda sbg istrinya sekarang, jelas lebih membutuhkan nafkah dibandingkan anak-anaknya yang jelas bisa dicukupi oleh ibunya. Maka jika suami mempunyai banyak ‘mulut’ yg harus dia nafkahi, hendaknya dia mulai dari yg paling membutuhkan dan paling kekurangan. Jika ada kelebihan harta, baru dia nafkahi yg lainnya.

  17. Semut said:

    Assalamualaykum ustad..

    Saya mau tanya.. Apabila suami istri sudah bercerai.. Apakah di akhirat masi dalam pertanggung jawaban suami nya yg diceraikan? Atau pertanggung jawaban seorang suami diakhirat hanya sampai terakhir mereka bercerai?

    Terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Hanya sampai mereka bercerai saja.

  18. hamba allah said:

    assalamualaikum ustadz mau tanya.apa hukumnya jika seorang suami yang tidak menafkahi ank n istrinya tp memberi uang untuk adik perempuannya.alasannya sudah ad anak laki-laki nya yang memberi uang ke anak yang lain dan istrinya.terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Itu tentunya suatu kezhaliman jika memang anak dan istrinya membutuhkan bantuannya. Bagaimanapun, masalah keluarga seperti ini sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan.

  19. zoul said:

    assalamu’alaikum..
    bgaimna hukum nya bila ada seorang ayah yg menitipkan anak nya di panti asuhan..??
    si ayah sngja mnitipkan anak nya d panti asuhan krna dia tak tau lg hrus berbuat apa..
    (dia khilaf saat hal itu trjadi mka dia mrasa bingung dan akhirnya dia bebuat sprti itu)
    sdngkan pasangannya jg brfkir yg sma dngn suaminya al hasil anak itu lahir di luar nikah..
    tpi ketika 4thun kmudian sang ayah nya tlah bertaubat dan mnyesali per buatan nya,,
    ia pun alhmdlillah mnemukan jdohnya ia akan mnjalin prnikhan dngn prmpuan yg insyllah akan mnjdi istri syah nya…
    nahh saat ini lahh…
    dia mrindukan anak nya kmbali..
    dia mrasa mnyesal tlah mnitipkan anak nya di panti,,
    itu hukum nya bgaimna bgi seorg ayah yg bgtu??
    tndakan apa yang hrus sang ayah lakukan kpda anaknya itu

    Waalaikumussalam.
    Jelas dia telah berdosa besar. Hendaknya dia mengambil kembali anaknya lalu memeliharanya.

  20. zoul said:

    assalmu’alaikum..
    y ustd sya berlanjut dengan pertanyaan saya sblm nya,,
    Tapi jika ayah nya tidak tau dimana alamat anak nya skrg bgaimana??
    afwan y ustadz mnta pnjelasan.. ^_^
    trimkasih sblmnya… :)

    Waalaikumussalam.
    Silakan dilengkapi pertanyaannya dgn sebelumnya. Jangan dipotong seperti ini.

  21. heru said:

    assalamualikum pak kiyai.. tany soal ibdh ni, apkh seorang muslim d trima sholat dan puasanya klo seorang itu setiap hr nya mkan dgn hsl uang haram.. ada seorang bilang klo mknan haram tu sdh mnjd daging. mka ibadah nya gk d trima, ksmpulanya nasinya halal, krna dr ladang sndri bkn dpt bli. sdangkn lauk ama sayur mayurnya dpt bli hasil uang haram. mhon pncrahanya pak kiyai..tmksh wassalam

    Waalaikumussalam.
    Itu kurang tepat. Ibadahnya diterima insya Allah jika dia ikhlas dan tata caranya seperti tuntunan Nabi. Namun yg tidak akan diterima adl doanya jika dia berdoa.