Anak di Ma’had yang Sesat

November 25th 2008 by Abu Muawiah |

Anak di Ma’had yang Sesat

Tanya:
Apa hukum memasukkan anak ke ma’had (tempat belajar) yang nampak darinya kesesatan, dan apakah boleh bagi sang ayah untuk mengeluarkannya?

Abu Habibah (081355??????)

Jawab:
Jika ma’had tersebut, nampak darinya bid’ah dan kesesatan, maka tidak boleh bagi siapapun untuk memasukkan anaknya ke ma’had ini atau ke tempat-tempat lain yang terdapat kerusakan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian dari api neraka”.
Maka engkau diperintahkan untuk menjauhkan keluargamu dari api neraka dan dari semua sebab yang bisa mengantarkan kepada neraka. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”.
[Dijawab oleh Asy-Syaikh Jamil Ash-Shilwi -hafizhahullah-, pengajar di Ma’had Darul Hadits Dammaj]

Incoming search terms:

  • al madinah solo
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, November 25th, 2008 at 10:02 am and is filed under Fatawa, Jawaban Pertanyaan, Manhaj, Seputar Anak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Anak di Ma’had yang Sesat”

  1. abu maulid said:

    Ustadz, masalahnya di Jakarta (dan beberapa kota lain) belum ada sekolah salafy (setingkat SD-SMA). Dan maklum bahwa sekolah umum dan Islam yang ada di negeri ini jarang (mungkin tidak ada) yang tidak ada kemaksiatan, kesesatan, dan kebid’ahannya. Maka ikhwah yang telah memiliki anak usia SD-SMA pun kesulitan utk menyekolahkan anak2 mereka ke sekolah yang baik.

    Kami hanya bisa mengatakan: Ilallahil musytaka (hanya kepada Allah tempat mengadu). Hal itu termasuk dari musibah dan kejelekan zaman ini. Hanya saja -alhamdulillah-, ikhwan salafiyin kini sudah satu persatu mulai membuka sekolahan yang insya Allah lepas dari semua itu, baik yang berdiri sendiri maupun yang berada di bawah naungan Depag dan Depdiknas. Antum bisa cari tahu di situs salafiyin lainnya mengenai tempat-tempatnya.
    Dan ini juga mungkin bisa sebagai bahan pemikiran: Kenapa kita (salafiyin) tidak bahu membahu dan bekerja sama membangun sebuah sekolah Islami di Jabotabek -misalnya-? Kalau orang-orang selain salafiyin bisa, kenapa kita tidak?!
    Ala kulli hal. Allah Ta’ala telah berfirman, “Bertakwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian,” tapi Dia juga berfirman, “Tidak boleh bagi seorang mukmin dan tidak pula mukminah, kalau Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, dia memiliki pilihan lain dalam perkaranya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.”
    Maka sepanjang kita masih mempunyai kemampuan maka kita tidak boleh lemah dan bergampangan dalam menjalankan syariat, kecuali kalau dia betuk-betul tidak sanggup melaksanakannya. Dan hanya Allah kemudian kita sendiri yang mengetahui seberapa maksimal kemampuan yang kita miliki.
    Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Bersemangatlah dalam mendapatkan apa yang bermanfaat bagi kamu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan sekali-kali kamu merasa lemah.” Wallahu a’lam.

  2. ita said:

    Assalamu’allaikum ustadz, kenapa orang2 salafy tidak membuat sekolah di bawah depag atau duknas? karena kita tahu bahwa ijazah dan keahlian saat ini sangat diperlukan, tidak saja ilmu agama. wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Saya rasa di di kalangan salafiyin sudah masyhur akan adanya beberapa asatidz kita yang membuat sekolah seperti itu, dan ana sendiri pernah melihat langsung salah satunya. Yang ana ketahui sekarang: As-Sunnah Makassar di bawah asuhan ust. Zulqarnain, Tanwirussunnah Gowa di bawah asuhan ust. Luqman Jamal Lc, Al-Madinah Solo di bawah asuhan ust. Muhammad Naim, di Parung Bogor juga ada oleh ust. Asasuddin, juga ada di Jogja. Mungkin masih ada yang lain, wallahu a’lam.

  3. Milly said:

    Assalamualaikum ustadz. Saat ini kami tinggal di Bali dan belum mampu hijrah karena faktor finansial. Disini tidak ada sekolah yang mengklaim bermanhaj salaf, meski ada seorang ustadz yang insyaAllaah bermanhaj salaf dan mendirikan sekolah. Hanya saja, biaya masuknya saja sudah mencapai hampir Rp10jt, dan SPP mencapai angka Rp400ribu/bulan. Inginnya saya memasukkan anak-anak saya, qadarallaah, kami belum memiliki dana sebesar itu. Kami hanya mampu menyekolahkan di Muhamadiyah, mengingat sekolah dasar disini muatan hindu nya kental sekali (murid diajarkan membuat canang/piring sesajen, membersihkan pura. Semoga salafiyyin di negara kita ini makin solid. Aamiin

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada masalah insya Allah. Tapi tetap harus diawasi pendidikannya dari rumah dan butuh diluruskan apa-apa yang keliru dalam pendidikannya. Wallahu a’lam.

  4. Deden Rahmatullah said:

    assalamualaikum pak ustadz..
    saya masih belajar tentang agama..
    masih blum paham tentang manhaj salafiah..
    memang apa manhaj salafiah itu?
    dan apa bedanya dengan yang lain?

    terima kasih.
    assalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/ciri-khas-mazhab-as-salaf.html