Akidah Empat Imam Madzhab Terhadap Shahabat -radhiyallahu ‘anhum-

October 18th 2013 by Abu Zakariyya |

Akidah Empat Imam Madzhab Terhadap Shahabat -radhiyallahu ‘anhum.

 

Tidak diragukan lagi, bahwasanya empat Imam madzhab dalam Islam menghormati dan memuliakan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Hal ini dapat dilihat di dalam buku-buku induk dalam akidah yang tersebar di kalangan kaum muslimin.

Semua ini menunjukkan pemulian dan penghormatan mereka kepada para Shahabat radihyallahu ‘anhum yang telah banyak berjasa dalam agama ini, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk menemani Nabi-Nya dan mendapatkan pujian langsung dari Rabb alam semesta sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an.

Bersamaan dengan hal itu, masih ada saja manusia durhaka yang membenci dan menghina bahkan mengkafirkan Shahabat-shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada seorang muslim menyerukan dan menjelaskan kesesatan bahkan kekafiran manusia-manusia durhaka yang telah mencela bahkan mengkafirkan para Shahabat itu, maka tidak jarang ia dituduh dengan berbagai tudingan dan celaan dengan alasan “toleransi”.

Intinya, seorang muslim yang marah dan cemburu jika shahabat radhiyallahu ‘anhum dicela adalah orang yang “intoleransi”?, benarkah demikian? Mari kita simak apa kata empat Imam Madzhab berikut ini:

 

Pertama: Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’maan bin Tsaabit rahimahullah (wafat tahun 150 hijriyyah) mengatakan:

A. “Kami tidak menyebut seorangpun dari Shahabat Rasul kecuali dengan kebaikan.” (Al-Fiqhu Al-Akbar, halaman 304) “kami tidak berlepas diri dari seorangpun dari shahabat Rasulullallah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kami tidak berloyalitas kepada salah seorang dari mereka tanpa yang lainnya.” (ertinya beliau memuliakan seluruh shahabat radhiyallahu ‘anhum). (Al-fiqhu Al-Abshath, halaman 40)

B. “satu jam kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu lebih baik dibandingkan amalan salah seorang di antara kita dalam seluruh umurnya walaupun panjang umurnya. (Manaaqiib Abu Hanifah karya Al-Makkiy, halaman 76)

 

C. “Kami mengikrarkan bahwa sesungguhnya manusia terbaik ummat ini setelah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah; Abu Bakar Ash-Shiddiiq, Umar, Utsman kemudian Ali, semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.” ( Syarh Al-Washiyyah karya Mulla Hasan, halaman 14)

 

D. “Manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah; Abu Bakar, Umar, Utsman kemudian Ali. Kemudian kita menahan (lisan) dari seluruh Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dengan ucapan yang baik.” (An-Nuur Al-Laami’ wa Al-Burhaan As-Saathi’ karya An-Naashiriy, kitab ini masih dalam bentuk manuskrip di Maktabah As-Sulaimaniyyah, Turkiy. Nomor 2973.

 

Kedua: Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (wafat tahun 179 hijriyyah) mengatakan:

A. “Barangsiapa yang merendahkan salah seorang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau dalam hatinya ada kedengkian terhadap mereka, maka ia tidak berhak mendapatkan harta perang kaum muslimin, kemudian beliau membaca ayat : orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan ‘wahai Rabb kami ampunilah dosa kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan dan janganlah Engkau berikan kebencian dalam hati kami.’ (Al-Hasyr: 10). Maka barangsiapa yang meremehkan mereka atau ada kebencian terhadap mereka di dalam hatinya, maka ia tidak berhak mendapatkan harta perang.” (Hilyah Al-Auliyaa wa Thobaqoot Al-Ashfiyaa karya Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy, 6/327)

B. Abu Nu’aim meriwayatkan dari seorang dari Abdullah bin Naafi’, ia berkata: “dahulu kami bersama Malik, mereka pun menyebutkan seorang laki-laki yang merendahkan Shahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, maka (Al-Imam Malik) membaca ayat ini: “Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.” (Al-Fath: 29), kemudian (Al-Imam) Malik berkata: “barangsiapa yang terdapat kebencian dalam hatinya terhadap salah seorang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguuh ayat ini telah menimpanya.”

 

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat 29 dalam surah Al-Fath di atas, berkata:

“dari ayat ini Al-Imam Malik mengeluarkan vonis kafir terhadap (Syi’ah) Rofidhoh yang membenci Shahabat, ia berkata; ‘karena mereka(Syi’ah Rofidhoh) membenci mereka(Shahabat), dan barangsiapa yang membenci Shahabat maka ia adalah kafir berdasarkan ayat ini’, sebagian kelompok dari kalangan ulama menyepakatinya dalam hal tersebut. Dan hadit-hadits tentang keutamaan para shahabat dan larangan menjelekkan mereka sangat banyak, maka cukuplah pujian dan keridhaan Allah atas mereka”. (Tafsir Ibnu Katsir 7/362. Tepatnya pada tafsir ayat di atas).

 

Ketiga : Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy rahimahullah (wafat tahun 204 hijriyyah), berkata:

A. “Allah Tabaraka wa Ta’aala memuji Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Al-Qur’an, Taurat dan Injil, dan telah berlalu dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi berupa keutamaan yang tidak didapatkan siapapun setelah mereka, maka Allah merahmati mereka dan membahagikan mereka dengan mencapai derjat tertingginya orang-orang jujug, para Syuhada dan orang-orang shalih. Mereka menyampaikan kepada kita sunah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka menyaksikan wahyu turun kepada beliau. Mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik secara umum maupun khusus, pasti dan sebagai petunjuk. Mereka mengetahui sunnah-sunnahnya sesuatu yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui, mereka berada di atas kita dalam segala ilmu dan ijtihad, kewaraan, akal dan perkara yang bisa dijangkau dengan ilmu dan diambil pendalilan darinya, pendapat-pendapat mereka lebih mulia bagi kita dan lebih utama untuk kita dibandingkan pendapat-pendapat kita sendiri bagi diri-diri kita, wallahu a’lam.” (Manaaqib Asy-Syaafi’iy 1/442 karya Al-Imam Al-Baihaqiy rahimahullah, cetakan pertama Daar At-Turots tahun 1406 Hijriyyah, Mesir).

B. Dari Robi’ bin Sulaiman berkata: “saya mendengar Asy-Syaafi’iy berkata mendahulukan; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” (Manaaqib Asy-Syaafi’iy 1/432 karya Al-Imam Al-Baihaqiy rahimahullah, cetakan pertama Daar At-Turots tahun 1406 Hijriyyah, Mesir).

C. Dari Muhammad bin Abdullah bin Abdulhakam berkata: saya mendengar Asy-Syaafi’iy berkata “Manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudia Utsman, kemudian Ali -semoga allah meridhai mereka-.” ((Manaaqib Asy-Syaafi’iy 1/433 karya Al-Imam Al-Baihaqiy rahimahullah, cetakan pertama Daar At-Turots tahun 1406 Hijriyyah, Mesir).

D. Dari Yusuf bin Yahya bin Al-Buwaithiy berkata: saya bertanya kepada Asy-Syaafi’iy apakah saya (boleh) shalat dibelakang Rofidhiy? (maksudnya pengikut Syi’ah Rofidhoh), ia (Asy-Syafi’iy) berkata “janganlah engkau shalat di belakang Rofidhiy, Qodariy dan Murji’iy” (ketiga-tiganya adalah penganut ajaran sesat), saya berkata “sebutkan sifat mereka kepada kami”, ia (Asy-Syafi’iy) berkata “barangsiapa yang mengatakan keimanan adalah ucapan (saja) maka ia adalah Murji’iy, dan barangsiapa yang mengatakan ‘sesungguhnya abu Bakar dan Umar bukan Imam(Khalifah) maka ia adalah Rofidhiy, dan barangsiapa yang menjadikan kehendak kepada dirinya maka ia adalah seorang Qodariy.” (Manuskrip Dzammul Kalaam lembaran nomor: 213)

 

Keempat: Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 241 hijriyyah) berkata:

A. “Termasuk dari sunnah menyebut kebaikan seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menahan diri dari menyebut aib mereka serta perselisihan yang terjadi di antara mereka. Barangsiapa yang mencela para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau salah seorang di antar mereka maka ia adalah seorang mubtadi'(Ahlul bid’ah) pengikut (Syi’ah) Rofidhoh yang keji dan zalim Allah tidak menerima taubat dan kewajibannya. Bahkan sebaliknya, mencintai mereka adalah sunnah, mendoakan (kebaikan) bagi mereka adalah ibadah, mencontoh mereka adalah sarana (kebaikan), dan mengambil atsar mereka adalah keutamaan.” (Kitab As-Sunnah karya beliau, halaman 77-78)

B. Al-Imam Ahmad berkata kepada Musaddad: “engkau bersaksi bagi sepuluh (shahabat ) masuk surga; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad, Sa’iid, Abdurahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah bin Al-dan Jarraah beserta orang yang dijamin oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (masuk surga), kami bersaksi bahwa ia masuk surga.” (Manaaqib Al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzy, halaman 170, cetakan Daar Al-Aafaaq Al-Jadiidah).

C. Abdullah bin Ahmad berkata kepada ayahnya: “saya bertanya kepada ayahku tentang para imam(khalifah), ia berkata “Abu Bakar, Umar, Utsman kemudian Ali.” (As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, halaman 235, Daar Ibnul Qoyyim, Dammaam tahun 1406 hijriyyah)

D. Abdullah bin Ahmad berkata: “saya bertanya kepada ayahku tentang suatu kaum yang mengatakan “sesungguhnya Ali bukan Khalifah”, ia berkata “ini adalah ucapan yang buruk dan jelek.” (As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, halaman 235, Daar Ibnul Qoyyim, Dammaam tahun 1406 hijriyyah) “Barangsiapa yang tidak mengakui kekhalifahan Ali, maka ia lebih sesat dari keledai ternaknya.” (Manaaqib Al-Imam Ahmad, halaman 163, cetakan Daar Al-Aafaaq).

Berkata Al-Imam Abu Utsman Ash-Shobuniy rahimahullah: “Barangsiapa yang mencintai dan loyal kepada mereka(para Shahabat) serta mendoakan kebaikan bagi mereka, sungguh ia termasuk orang-orang yang beruntung, dan barangsiapa yang membenci dan mencela mereka serta memvonis mereka dengan vonisnya kaum Rofidhoh dan Khawarij, sungguh ia termasuk orang-orang yang celaka.” (Akidah As-Salaf Ashhaabul Hadits, halaman 90).

[Dikutip dan disusun ulang dari kitab I’tiqod Al-Aimmah Al-Arba’ah, karya Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumaiyyis dan tahqiq Jamal ‘Azzuun terhadap kitab I’tiqod Ahlissunnah, karya Al-Imam Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Ibrohim Al-Ismaa’iliy]

Semoga Allah menjadikan kita seluruhnya termasuk golongan manusia yang mencintai dan menghormati Shahabat Nabi shallallahu radhiyallahu ‘anhum.

Demikianlah sebagian dari ucapan para imam madzhab dalam Islam terkait kecintaan dan penghormatan mereka kepada para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itulah ajaran islam yang sesungguhnya.

Jadi, wajar jika ummat Islam Indonesia marah dan bangkit membela kehormatan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum, juga wajar jika ummat Islam Indonesia menolak dan membasmi ajaran sesat bahkan kufur Syi’ah Rofidhoh, walaupun secara lahiriyyah mereka (Syi’ah Rofidhoh) menampakkan “cinta palsu” kepada ahlulbait sebagai langkah awal untuk melegitimasi ajaran mereka.

 

kutipan di atas menunjukkan tidak adanya toleransi dalam perkara ini, dan tentunya hal ini merupakan kecaman atas agama Syi’ah Rofidhoh yang sering mencela bahkan mengkafirkan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Para ulama Islam dari dulu hingga sekarang mengetahui dan mengerti kejahatan dan bahaya Syi’ah Rofidhoh, sehingga mereka memberi peringatan bagi ummat ini agar tidak tertipu dan ikut-ikutan dengan kaum sesat Syi’ah Rofidhoh.

Kasus Suriah dan penyerangan kampung Dammaj, wilayah Sha’dah, Yaman adalah bukti nyata kejahatan dan bahaya Syi’ah Rofidhoh, mereka menyerang membabi-buta markaz ilmu Ahlussunnah yang didirikan oleh Ulama Ahli hadits negeri Yaman Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah itu.

Bagaimana dengan Indonesia? Tidak menutup kemungkinan! Sejarah hitam mereka tercatat dan tersimpan dengan baik di buku-buku sejarah Ahlussunnah.

 

Masjid Nabawiy, Al-Madinah An-Nabawiyyah, Kerajaan Arab Saudi.

17 Shafar 1435/ 19 Desember 2013

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, October 18th, 2013 at 10:40 pm and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.