Ahkam Shalat Al-Idain (selesai)

November 26th 2009 by Abu Muawiah |

Ahkam Sehabis Shalat Id

Seputar Khutbah
a.    Khutbah Setelah Shalat
Dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dia berkata:
شَهِدْتُ العِيْدَ مَعَ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ -, فَكُلُّهُمْ يُصَلُّوْنَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
“Saya mengikuti shalat id bersama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, Abu Bakar, Umar, dan Utsman -radhiallahu anhu-, maka mereka semua mengerjakan shalat sebelum khutbah.” (HR. Al-Bukhari no. 962 dan Muslim no. 884)
Maksudnya: Beliau mengikuti shalat id sejak dari zaman Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- sampai zaman kekhalifahan Utsman, dan setiap dari khalifah tersebut memulai shalat id sebelm khutbah.
Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- berkata, “Nabi -alaihishshalatu wassalam- keluar pada hari idul fithr dan adhha ke lapangan, maka perkara yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau selesai shalat lalu berdiri menghadap ke orang-orang -sementara mereka duduk di shaf-shaf mereka- lalu beliau memberikan peringatan, wasiat, dan perintah kepada mereka (berkhutbah).” (HR. Al-Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889)
Dan dalam hadits Jabir dia berkata:
أَنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى, فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ, ثُمَّ خَطَبَ. فَلَمَّا فَرَغَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَزَلَ وَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ وَهُوَ يَتَوَكَّأُ عَلَى يَدِ بِلاَلٍ
“Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- berdiri pada hari idul fithr lalu mengerjakan shalat, beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, kemudian setelah itu baru beliau berkhutbah. Setelah Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- selesai berkhutbah, beliau turun dan mendatangi para wanita, lalu beliau memberikan peringatan kepada mereka sementara beliau bersandar pada tangan Bilal.” (HR. Muslim no. 885)
Ibnu Al-Mundzir berkata dalam Al-Ausath (4/271) mengenai shalat sebelum khutbah, “Inilah yang diamalkan (sampai oleh) oleh awwam ulama (ulama pemula) di berbagai negeri. Di antara yang memulai shalat sebelum khutbah adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththab,  Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Al-Mughirah bin Syu’bah, dan Ibnu Mas’ud. Dan ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Ishak, dan ashhab ar-ra’yu …,”

b.    Khutbah Id dua kali khutbah.
Tidak ada hadits shahih lagi tegas yang menunjukkan adanya dua kali khutbah dalam shalat id. Hanya saja para ulama kita memahami adanya dua kali khutbah id dengan berdalilkan hadits-hadits tentang shalat jum’at, seakan-akan mereka berpendapat bahwa kaifiat khutbah id sama seperti khutbah jum’at. Dan mengkiaskan khutbah id ke khutbah jum’at bukanlah kias yang jauh karena keduanya adalah hari raya, keduanya dihadiri oleh banyak orang, dan keduanya dipersyaratkan adanya jamaah.
Karenanya An-Nasai -rahimahullah- no. 1415 memasukkan hadits Jabir bin Samurah tentang dua kali khutbah jum’at ke dalam pembahasan khutbah id. Demikian halnya Ibnu Khuzaimah (2/349) memasukkah hadits Ibnu Umar tentang khutbah jum’at ke dalam bab tentang khutbah id. Apalagi ini (khutbah id dua kali) adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, serta para ulama dan fuqaha` di berbagai negeri, dan tidak ada seorang pun dari kalangan ulama mutaqaddimin yang mengingkari adanya dua khutbah dalam shalat id. Bahkan di antara mereka ada yang mengkiaskannya dengan shalat jum’at dan sebagian di antara mereka bahkan menukil adanya ijma’.
Ibnu Hazm -rahimahullah- berkata, “Jika imam sudah salam (dari shalat id), maka hendaknya dia berdiri lalu berkhutbah di hadapan orang-orang dengan dua kali khutbah dimana dia duduk di antaranya keduanya,” lalu setelah itu beliau menyebutkan beberapa permasalahan lain kemudian beliau berkata, “Semua ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama (dalam hukumnya).” Dan perlu digarisbawahi bahwa Ibnu Hazm termasuk ulama yang sering membantah adanya ijma’ dalam sebuah masalah, maka tatkala di sini beliau menukil ijma’ menandakan bahwa beliau sangat memastikan adanya ijma’ dalam hal ini, wallahu a’lam.
Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata, “Ijma’ itu menunjukkan adanya dalil, tahulah yang tahu, bodohlah yang bodoh.”
Maksudnya: Ketika ada nukilan ijma’ dari seorang ulama yang diperhitungkan nukilannya, maka itu menunjukkan adanya dalil akan ijma’ tersebut, karena sudah dimaklumi bahwa ijma’ bukanlah hujjah yang berdiri sendiri akan tetapi dia harus mempunyai dalil dari nash syariat. Dalil ini ada yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya, atau mungkin saja ijma’ ini lahir dari kumpulan beberapa hadits. Karenanya walaupun kita tidak mengetahui dalil dari sebuah ijma’ maka kita harus berbaik sangka kepada para ulama kita, karena sangat memungkinkan sekali mereka menghafal dalil akan ijma’ tersebut, yang mana dalil tersebut tidak sampai atau tidak dihafal oleh para ulama di zaman belakangan apalagi di zaman ini.
Akan tetapi barangsiapa yang melakukan khutbah satu kali pada shalat id berdasarkan lahiriah hadits-hadits yang ada, maka kami juga tidak mengingkarinya. Wallahu a’lam.

c.    Khutbah dalam keadaan berdiri di atas tanah.
Ini termasuk sunnah yang ditinggalkan oleh banyak khatib jum’at di zaman ini, tatkala mereka melakukan khutbah id di atas mimbar. Abu Said Al-Khudri berkata -sebagai kelanjutan hadits Abu Said di atas-, “Maka terus-menerus kaum muslimin mengamalkan seperti itu (shalat sebelum khutbah dan khutbah sambil berdiri di tanah) sampai saya keluar shalat idul adhha bersama Marwan -dan dia ketika itu adalah gubernur Madinah-. Tatkala kami sudah tiba di lapangan, ternyata sudah ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Ash-Shalt, dan ternyata Marwan hendak naik ke atasnya (untuk berkhutbah) sebelum shalat. Maka sayapun menarik pakaiannya tapi dia melepaskan peganganku, lalu dia naik ke mimbar dan melakukan khutbah sebelum shalat. Maka saya berkata kepadanya, “Demi Allah kami telah merubah (sunnah),” maka dia menjawab, “Wahai Abu Said, sudah pergi apa yang kamu ketahui.” Maka saya berkata, “Apa yang saya ketahui -demi Allah- masih lebih baik daripada apa yang tidak saya ketahui.” Dia berkata, “Orang-orang tidak akan tinggal duduk mendengarkan khutbah kami selepas shalat, karenanya saya menjadikan khutbah sebelum shalat.”
Maka dari hadits ini dipetik faidah tidak adanya mimbar di lapangan id. Karena Nampak dari kisah ini kalau Abu Said mengingkari dua perkara dari Marwan: Didahulukannya khutbah sebelum shalat dan adanya mimbar di lapangan untuk berkhutbah. Karenanya dalam riwayat lain Abu Said berkata, “Engkau mengeluarkan mimbar yang pada zaman Nabi -alaihishshalatu wassalam- dia tidak pernah dikeluarkan.”
Ada beberapa hadits lain yang menunjukkan disunnahkannya berkhutbah sambil berdiri di atas tanah, tanpa menggunakan mimbar.

d.    Membuka khutbah dengan khutbatul hajah, “Innal hamda lillah …”
Tidak ada satupun hadits yang shahih dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- tentang membuka khutbah id dengan takbir, bahkan hadits-hadits umum tentang disunnahkannya membuka khutbah dengan khutbatul hajah berlaku juga pada khutbah id. Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dan Ibnu Al-Qayyim berpendapat disunnahkanya membukan khutbah id dengan khutbatul hajah, karena tidak pernah dinukil dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau pernah membuka khutbah dengan selainnya.
Adapun disunnahkannya bertakbir di awal khutbah pertama dan di awal khutbah kedua, maka itu adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan selainnya, walaupun mereka sendiri berbeda pendapat mengenai berapa kali takbir diucapkan. Sebagian di antara mereka mengatakan 9 kali di awal khutbah pertama dan 7 kali di awal khutbah kedua, dan sebagian lainnya tidak berpendapat demikian. Ala kulii hal, semua ini adalah ijtihad mereka bahkan sebagian di antara mereka menyebutkan beberapa dalil akan hal tersebut.
Karenanya barangsiapa yang bertakbir berdasarkan pendapat mayoritas ulama ini maka khutbahnya syah dan kami tidak mengingkarinya , hanya saja yang lebih selamat adalah mengamalkan sebatas apa yang ditunjukkan oleh dalil, wallahu a’lam.

e.    Hukum mendengarkan khutbah.
Hukumnya adalah wajib dengan dalil:
1.    Para wanita yang dipingit -bahkan yang haid- tidak diberikan uzur untuk tidak keluar shalat dan mendengarkan khutbah. Seandainya khutbah tidak wajib, apa gunanya wanita yang haid diperintahkan ke lapangan padahal sudah dimaklumi mereka tidak akan mengerjakan shalat.
2.    Mengatakan hukumnya sunnah akan membuka mafsadat hilangnya khutbah dalam shalat id. Karena itu berarti tidak mengapa seluruh jamaah pulang setelah mengerjakan shalat karena mendengar khutbah hukumnya hanya sunnah. Karenanya Imam Ahmad berkata, “Sepantasnya bagi dia untuk menunggu (mendengar) khutbah. Bagaimana menurutmu kalau semua orang pulang, kepada siapa imamnya akan berkhutbah?!” Lihat Su`alat Ibni Hani no. 471.
Inilah insya Allah pendapat yang lebih tepat, dan ini merupakan pendapat Malik -dalam salah satu pendapat- dan Imam Ahmad. Tatkala hukum mendengarnya adalah wajib maka dilarang seorangpun untuk berbicara dan mengganggu orang lain selama berlangsungnya khutbah.
Jika khutbahnya berisi kemungkaran dan bid’ah, maka hendaknya dia tidak mendengarkannya tapi dia tetap menyibukkan dirinya sendiri dengan zikir dan tidak mengganggu orang lain dalam zikirnya. Wallahu a’lam.
Adapun hadits Abdullah bin As-Saib yang dijadikan dalil oleh mayoritas ulama akan disunnahkannya menghadiri shalat id, maka dia adalah hadits yang lemah. Lihat penjelasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1381

Hukum tahni`ah (ucapan selamat)
Diriwayatkan dari atsar Abdullah bin Busr, Abdurrahman bin ‘Aidz, Jubair bin Nadhir, dan Khalid bin Mi’dan, “Bahwa diucapan kepada mereka ucapan: Taqabbalallahu minna wa minkum ( semoga Allah menerima amalan kami dan kalian), dan juga mereka mengucapkanya kepada selain mereka.“
(Diriwayatkan oleh Al-Ashbahani dalam At-Targhib (1/381) dengan sanad yang tidak mengapa)
“Dari Abu Umamah Al-Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi -alaihishshalatu wassalam-, bahwa ketika mereka pulang dari shalat id, maka sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain, Taqabbalallahu minna wa minkum.” Sanadnya dinyatakan hasan oleh Imam Ahmad.
Maka berdasarkan semua atsar di atas, dibolehkan seseorang mengucapkan tahni`ah (ucapan selamat) kepada saudaranya dengan lafazh di atas.
Dan tidak mengapa mengucapkan selain lafazh di atas, karena tidak adanya hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan hal tersebut, baik apakah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengamalkanya atau melarangnya. Yang ada hanyalah amalan sejumlah sahabat radhiallahu ‘anhum.
Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -di dalam Majmu’ Al-Fatawa (24/253)- beliau membolehkan dengan ucapan di atas dan juga yang semisalnya.
Adapun Imam Ahmad, driwayatkan bahwa beliau membolehkannya hanya saja beliau tidak memulainya. Namun jika ada yang memulai maka beliau menjawabnya. (Lihat Al-Furu’: 2/150).

Mukhalafah (Menyelisihi) Jalan
Maksudnya, jika seseorang melewati satu jalan (jalur) menuju lapangan, maka ketika pulang disunnahkan baginya untuk melewati jalan (jalur) yang lain.
Jabir bin Abdullah -radhiallahu anhuma- berkata:
كَانَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدِ خَالَفَ الطَّرِيْقَ
“Nabi -shallallahu alaihi wasallam-  jika pada hari ied, beliau mengambil jalan lain”. (HR. Al-Bukhari no. 986)
Abu Hurairah -radhiallahu anhu- berkata:
كَانَ النبي صلى الله عليه وسلم إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيْدِ, رَجَعَ فِي غَيْرِ الطَّرِيْقِ الَّذِي خَرَجَ فِيْهِ
“Nabi -shallallahu alaihi wasallam- jika keluar ied, beliau kembali (pulang) pada selain jalan yang beliau tempati keluar (berangkat)”. (HR. Ahmad: 2/338, At-Tirmizi no. 541, dan Ibnu Majah no. 1301)
Ibnu Rusyd berkata dalam Al-Bidayah (1/514-515), “Mereka (para ulama) sepakat akan disunnahkannya pulang melalui selain jalan yang dia tempuh ketika dia pergi, karena shahihnya hal ini dari perbuatan beliau -alaihishshalatu wassalam-.”

Disunnahkan menampakkan kegembiraan pada kedua hari raya, selama tidak dengan cara yang terlarang.
Diriwayatkan dari Aisyah -radhiallahu anha- bahwa para sahabat ada yang bermain tombak dan perisai pada hari id di dalam masjid. (HR. Al-Bukhari no. 907,944,2750,3337 dan Muslim no. 892) Pada hadits yang sama juga disebutkan adanya dua anak kecil yang menyanyikan lagu sambil memukul rebana di kamar Aisyah, akan tetapi Nabi -alaihishshalatu wassalam- membelakanginya tapi tidak mengingkarinya. Maka ini menunjukkan bolehnya nyanyian dengan beberapa syarat:
1.    Hanya saat hari id.
2.    Biduannya adalah anak kecil.
3.    Hanya dengan menggunakan rebana.
4.    Liriknya tentunya tidak mengandung dan tidak mengajak kepada maksiat.
5.    Hanya diadakan di kumpulan wanita.
Jika salah satu dari kelima syarat ini tidak terpenuhi -apalagi seluruhnya- maka musik dan lagu adalah hal yang diharamkan, tapi bukan di sini tempat pemaparannya.
Adapun berkumpul untuk makan dan minum, maka ini adalah perkara adat yang boleh saja dikerjakan selama tidak mengandung maksiat (misalnya ikhtilat dan menyentuh yang bukan mahram). Kapan diyakini bahwa acara ini merupakan bagian dari agama sehingga tercela orang yang tidak mengikutinya maka keyakinan seperti ini harus dijelaskan kesalahannya, kalau perlu acara seperti ini dihentikan guna menghilangkan keyakinan seperti ini, wallahu a’lam.

Beberapa Kemungkaran Seputar Id
1.    Mengerjakan shalat qabliyah dan ba’diyah menyertai shalat Id
2.     Adzan dan Iqamah sebelum Shalat Id
3.     Ucapan: Ash-Shalat al-Jaami’ah dan semisalnya
4.     Shalat dua rakaat secara khusus di malam Id. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan tentang shalat malam Id adalah hadits-hadits yang maudhu` (palsu) dan sangat dha’if.
5.     Mendahulukan khutbah sebelum pengerjaan shalat Id.
6.     Mengadakan mimbar untuk khutbah Id.
7.     Mengerjakan shalat ‘Ied di masjid tanpa adanya uzur.
8.     Meninggalkan shalat Id di belakang seorang yang dianggap ahli bid’ah (namun tidak sampai pada kekufuran).
9.     Mengerjakan shalat Id di lapangan yang kecil/sedikit menampung jama’ah, sementara ada lapangan terdekat yang dapat menampung banyak jama’ah.
10.    Membuat lapangan Id baru atas dasar hawa nafsu dan tahazzub (fanatisme kelompok), sementara dijumpai mushalla Id kaum muslimin.
11.    Menempatkan shaf laki-laki bergantian dengan shaf wanita, atau shaf laki-laki sejajar dengan shaf wanita.
12.    Keluarnya wanita dengan bertabarruj (berhias) yang tidak syar’i.
13.    Bersenda gurau ketika khutbah Id.
14.    Bertakbir secara berjamaah yang dipimpin oleh satu orang dan di atas satu suara.
15.    Percampurbauran antara lelaki dan wanita (ikhtilath) serta lelaki menyentuh wanita yang bukan mahramnya dan demikian pula sebaliknya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, November 26th, 2009 at 5:16 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Ahkam Shalat Al-Idain (selesai)”

  1. Abu Fizhah said:

    Afwan, Ana mo nanya hukum takbiran setiap selesai sholat fardu pada hari-hari tasryik??
    Jazakumullah khairan..

    Disunnahkan bertakbir sejak dari subuh hari id sampai hari terakhir hari tasyrik. Hanya saja takbirnya bisa dilakukan kapan saja, tidak terikat dengan waktu dan kondisi tertentu. Karenanya sebaiknya takbir dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dikhususkan sehabis shalat saja.

  2. Abu Zahrah As-Soronji said:

    Assalamu’alaykum. Afwan ya ustadz, mengenai perkara dua kali khutbah pada shalat ‘ied di qiyaskan dengan shalat jum’at. Bukankah asal ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang menunjukkinya? kalau di qiyaskan dengan shalat jum’at, apakah tepat? bukankah shalat jum’at ada azan dan iqomah? sedangkan sholat ‘ied tidak ada. padahal azan dan iqomat masuk rangkaian dalam pelaksanaan sholat jum’at. begitu pula dengan takbir tambahan dalam shalat ‘ied, pada sholat jum’at tidak ada. kenapa demikian? sebabnya ada dalil-dalil khusus yang menyatakan perkara tersebut ada. mohon penjelasannya ustadz. Barakallahu fiikum.

    Waalaikumussalam.
    Walaupun demikian, begitulah para ulama salaf -di antaranya An-Nasai- memahaminya, mereka menyamakan status shalat id dengan shalat id dalam hal jumlah khutbah. Lagi pula dalilnya bukan hanya qiyas akan tetapi ada juga ulama yang menukil ijma’ dan tidak ditemukan para ulama salaf terdahulu yang menyebutkan khutbah id itu hanya satu kali.

  3. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, pada point no 14 tentang kemungkaran seputar shalat id; apakah maksudnya takbir: Allahu akbar 3x laa illaha ilalllahu Alllahu akbar, Allahu akbar walillah ilham. dan dipimpin satu orang dan jama’ah menirukan?
    Karena takbir tersebut selalu saya jumpai dimanapun sebelum sholat id didirikan. Apakah hal tsb dilarang? trus apa sebaiknya yg dilakukan sewaktu duduk menunggu sholad id didirikan?
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Ya, itu yang dimaksud sebagai kekeliruan dalam shalat id.
    Takbirnya dilakukan sejak keluar dr rumah sampai imam datang memulai shalat, dan dilakukan sendiri-sendiri.