Adab Sakratul Maut

September 28th 2010 by Abu Muawiah |

19 Syawal

Adab Sakratul Maut

Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Tuntunlah orang mati kalian agar membaca (kalimat) LAA ILAAHA ILLALLAH.” (HR. Muslim no. 916)
Maksud orang mati di sini adalah orang yang akan mati (dalam keadaan sakratul maut), bukan orang yang sudah mati.
Dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’ maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud no. 3116 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6479)
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tiga hari sebelum beliau wafat:
لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
“Jangalah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan ia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

Penjelasan ringkas:
Sebagaimana setiap muslim memulai kehidupannya (di alam ruh) dengan persaksian terhadap tauhid kepada Allah, seorang yang kafir memulai kehidupannya yang hakiki di dunia dengan masuk Islam juga mengucapkan kalimat tauhid, maka sudah seharusnya mereka semua mengakhiri hidup mereka di dunia ini juga dengan mengucapkan kalimat tauhid. Karenanya disyariatkan orang yang sakit parah atau merasa sudah berada dalam sakratul maut untuk banyak-banyak mengucapkan kalimat tauhid ‘LAA ILAHA ILLALLAH’. Adapun bagi mereka yang kesulitan mengucapkannya karena beratnya sakit yang dia rasakan, maka disyariatkan bagi saudaranya yang menjenguknya untuk mentalqin (membacakan) kalimat tauhid kepadanya dengan harapan dia bisa mendengarnya dan mengikutinya. Karena termasuk di antara keutamaan kalimat tauhid ini adalah bahwa siapa saja yang menjadikan kalimat ini sebagai ucapan terakhirnya di muka bumi ini maka Allah Ta’ala dengan rahmat-Nya akan memasukkan dia ke dalam surga.

Ini dari sisi ucapan. Adapun hatinya, maka sudah seharusnya orang yang dalam keadaan sakratul maut untuk berbaik sangka kepada Rabbbnya, karena Allah Ta’ala akan menyikapi seorang hamba sesuai dengan sangkaan hamba tersebut kepada-Nya. Hendaknya dia memperbesar harapannya dan permintaannya kepada Allah, semoga Allah Ta’ala berkenan untuk mewujudkan semya harapan dan permintaannya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, September 28th, 2010 at 2:56 am and is filed under Akhlak dan Adab, Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Adab Sakratul Maut”

  1. Abu Zaid said:

    Bismillah. Ustadz ibu teman ana baru ini telah meninggal dunia dan menceritakan kepada ana keadaan ibunya sebelum meninggal katanya ibunya perintahkan kepada keluarga untuk datang berkumpul ke rumah ibu karena katanya sebentar subuh ibu telah berangkat (meninggal) ternyata tepat jam 04 Wita dini hari ibunya betul meninggal. dari cerita tersebut ibu teman ana seperti mengetahui waktu ajalnya tiba. ustadz ana mau tanya:
    1. apakah betul ada orang mengetahui kapan ajalnya tiba? sementara yg ana ketahui bahwa tak seorangpun manusia mengetahui di belahan bumi mana mereka meninggal
    2. ana tidak percaya dengan cerita teman ana karena ana anggap bahwa: ibu teman ana seakan akan mengetahui perkara gaib atau memang ada tanda-tanda sakratul maut yang Allah Ta’ala beritahukan kepada hambanya sehingga mengetahui waktu ajalnya tiba?

    Jasakumullahu Khairan

    Waalaikumussalam.
    1. Betul tidak ada seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan ajalnya tiba.
    2. Akan tetapi itu tidak menolak akan adanya sebagian orang yang Allah Ta’ala berikan firasat akan kematiannya. Dan dengan firasat tersebut tidak bisa dikatakan dia mengetahui ajalnya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mempunyai firasat.” (QS. Al-Hijr: 75)

  2. Dede Muhidin said:

    tiada kata yang paling indah, tuk di ucapkan kcuali “terima kasih”