Adab Berpakaian dan Berhias

February 23rd 2009 by Abu Muawiah | Kirim via Email

Adab Berpakaian dan Berhias

Allah -Ta’ala- berfirman :
“Wahai bani Adam, telah kami turunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi auratkalian dan juga perhiasan. Sedangkan pakaian takwa , demikian itu lebih baik. Demikian itu adalah salah satu dari ayat-ayat Allah, agar mereka mau mengingatnya. Wahai Bani Adam, janganlah sampai syaithan menimpakan fitnah kepada kalian sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga, dan meninggalkan pakaian mereka berdua sehingga auratnya tersingkap. Sesungguhnya syaithan, dia dan pengikutnya dapat melihat kalian dari tmepat yang kalian tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan para syaithan sebagai wali bagi orang-orang yang tidak beriman.“ ( Al-A’raf : 26 – 27 ).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Makan, minum, bersedekah dan berpakainlah kalian tanpa berlebih-lebihan dan berbuat kesombongan” .

Di antara adab-adab mengenakan pakaian dan berhias : Wajibnya Menutup Aurat

  1. Haramnya Laki-laki Menyerupai Wanita Dan Wanita Menyerupai Laki-laki
  2. Haramnya Menyeret Kain Dengan Kesombongan
  3. Haramnya Pakaian Syuhroh (agar menjadi terkenal karena pakaian tersebut)
  4. Haramnya Emas Dan Sutra bagi Laki-laki Kecuali Ada Udzur
  5. Haramnya Wanita Menampakkan Perhiasannya Kecuali Kepada Mereka Yang Allah Kecualikan
  6. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya shalban (salib) atau gambar.
  7. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih.
  8. Perhiasan Apa Saja Yang Haram Atas Wanita

Adab berpakaian .doc

Incoming search terms:

  • adab berhias
  • adab berpakaian dan berhias
  • berpakain
  • adab berhias menurut islam
  • adab berhias dalam islam
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, February 23rd, 2009 at 9:29 am and is filed under Akhlak dan Adab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

24 responses about “Adab Berpakaian dan Berhias”

  1. Heriyanto said:

    Assalaamu’alaykum,
    Ustadz, didalam Riyadhush shalihiin disebutkan dari Ummu Salamah, bahwa “Pakaian yang disukai oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam adalah pakaian gamis”. Apakah hadits ini shahih?

    Waalaikumussalam warahmatullah. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkan haditsnya dalam tahqiq beliau terhadap kitab Mukhtashar Asy-Syama`il Al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmizi, pada hadits no. 46. Wallahu a’lam.

  2. ADAB BERPAKAIN & BERHIAS (i) : Apakah Paha laki-laki Adalah Aurat? « –(???? ???? ??????) Dokter Pengobatan Nabawi– said:

    [...] SUMBER : http://al-atsariyyah.com/?p=640 [...]

  3. ADAB BERPAKAIN & BERHIAS (iv) : Hukum Cincin, Bersisir, Mengecat uban, Memangkas jenggot & Wewangian « –(???? ???? ??????) Dokter Pengobatan Nabawi– said:

    [...] [33] Al-Adaab As-Syar’iyyah (3/336). SUMBER : http://al-atsariyyah.com/?p=640 [...]

  4. Rahmat Fansurna said:

    Assalammualaikum.wrwb,
    Ustadz saya mau tanya, boleh ga laki-laki kelihatan keduabelah bahunya pada saat sholat?
    karena saya penah ikut pengajian di masjid, di buku Ensiklopedi Islam karangan Ustadz Quraish Shihab, tidak sah sholatnya laki-laki yang keduabelah bahunya pada saat sholat.
    Buat jawabannya aq ucapin Syukron Kasiiron Ustadz. Jazakallah, Wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullah. Ia itu benar. Nabi -shallallahu alaihi wasallam bersabda-, “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian shalat dengan hanya menggunakan satu helai kain, tidak ada sesuatu yang menutupi bahunya.” HR. Al-Bukhari dan Muslim

  5. Abu Muhammad Abdul Malik al Faqir said:

    Assalaamu’alaykum,
    Ummu Salamah menyatakan: “Pakaian yang disukai oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam adalah pakaian gamis”.

    Apakah hadits ini menunujkkan sunnahnya memakai pakaian gamis dan yang semisalnya?
    Mohon penjelasan dari ustadz.

    Baarokallaahu fiykum..

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hadits Ummu Salamah di atas diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan selainnya.
    Kalau hadits ini shahih maka itu menunjukkan disunnahkannya memakai qhamish, hanya saja yang dimaksud dengan qhamish di sini bukan terbatas pada gamis yang kita kenal sekarang, akan tetapi yang dimaksud dengan qhamis di sini adalah semua pakaian yang mempunyai dua lengan dan kantong, dan disebutkan dalam riwayat At-Tirmizi bahwa panjang lengan qhamis beliau adalah sampai ke pergelangan tangan. Adapun panjangnya maka lahiriah hadits-hadits yang ada serta ucapan para ulama menunjukkan bahwa disunnahkan panjangnya sampai ke pertengahan betis dan boleh juga di bawahnya selama tidak melewati mata kaki. Wallahu a’lam. Lihat Aun Al-Ma’bud: 11/47-49

  6. Acha At-Tamini said:

    Bismillah,

    Assalamu’alaykum ustadz,

    mengutip dari perkataan asy-Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau Berkata Faqiihuz Zamaan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah,

    “Apakah makna ittiba’ (meneladani sunnah) (dalam permasalahan pakaian) itu; mengikuti persis seperti apa yang dikenakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam? Ataukah mengikuti jenis yang beliau pakai (yakni beliau mengikuti adat kebiasaan manusia pada waktu itu)? Jawabnya adalah yang kedua, yaitu mengenakan pakaian yang menjadi adat kebiasaan manusia pada waktu itu. Oleh karenanya kami tegaskan bahwa, sunnah dalam hal ini adalah mengenakan pakaian yang menjadi adat kebiasaan manusia, sepanjang tidak haram. Namun jika ternyata yang dikenakan oleh kebanyakan manusia tersebut adalah sesuatu yang diharamkan, maka wajib untuk menjauhinya.” (Syarhu Hilyati Tholibil ‘Ilmi, hal. 118)

    Salah satu faidah yang ana dapatkan, bahwa termasuk perkara penting yang insya Allah bisa lebih mendekatkan dakwah kepada ummat adalah penampilan dan cara berpakaian seorang da’i yang mengikuti adat kebiasaan masyarakat di sekitarnya, sepanjang itu tidak dosa dan tidak bertentangan dengan sifat muruah (menjaga kehormatan).

    Apakah dengan faidah tsb, bisa ditetapkan bahwasanya di negri kita indonesia, dimana kebanyakannya orang memakai sarung ketika shalat, itu lebih mendekati sunnah dibanding memakai gamis, dimana kebanyakan orang masih merasa asing dan yg memakainya terkadang suka diliatin oleh orang2 kebanyakan dan terlihat beda sendiri ketika berada di masyarakat awam. Pengalaman pribadi ana, malah jd terkadang ada bisikan setan, menjadi diri merasa paling sholeh diantara kebanyakan orang. Padahal ilmu masih rendah.

    Mohon penjelasannya ustadz.
    Jazaakallaahu khairan wa barakallaahu fiik.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Jazakallahu khairan atas nukilan di atas, sungguh ucapan tersebut menunjukka kefaqihan dan hikmah dari yang mengucapkannya -rahimahullahu Ta’ala-.
    Seperti yang sudah dimaklumi bahwa jubah bukanlah sunnah secara mutlak, akan tetapi dia adalah sunnah jibilliyah, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama. Maksudnya adalah bahwa pakaian tersebut merupakan adat orang arab lalu Nabi r pun memakainya karena itulah pakaian manusia di zaman tersebut. Karenanya memakai jubah hanya menjadi ibadah dan mendapatkan pahala jika diniatkan untuk mengikuti Nabi r dan hanya bernilai adat (tidak berpahala) jika tanpa diniatkan mengikuti Nabi r.
    Adapun masalah pemakaian sarung dan jubah maka dikembalikan kepada hal di atas, tapi yang jelas termasuk kekeliruan jika yang berjubah menegur dan menyalahkan orang yang pakai sarung, karena selama pakaian itu menutupi aurat dan tidak menyerupai kaum kafir maka insya Allah hal itu diperbolehkan.
    Kembali kepada masalah sarung dan jubah, yang mana yang lebih utama?
    Kita katakan: Ini tentunya dikembalikan kepada setiap tempat dan daerah. Jika di tempat tersebut jubah masih asing maka sepantasnya dan lebih utama dia pakai sarung, dan demikian pula sebaliknya. Wallahu a’lam. Hanya saja yang butuh ditekankan di sini bahwa jubah bagi masyarakat indonesia secara umum -kecuali beberapa daerah- adalah hal yang sudah masyhur. Dari zaman pangeran diponegoro, imam bonjol, bahkan dalam sejarah wali songo yang ditayangkan di TV (terlepas dari benar tidaknya kisah tersebut) yang juga menampilkan pemerannya dengan berjubah, bahkan sampai di zaman ini para habaib dan juga kaum muslimin yang pulang dari haji, mereka semua mengenakan jubah. Maka salah juga kalau dikatakan memakai jubah di indonesia ini tidak sejalan dengan adat kebiasaan manusia, wallahu a’lam bishshawab.

  7. Abu Abdil Halim said:

    Assalamu’alaikum Ustadz,

    Sebagian kaum muslimin berpandangan bahwa dalam kehidupan umum, seorang muslimah wajib mengenakan jilbab (=jubah).

    [[Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah RA, bahwa dia berkata :

    ‘Rasulullah SAW memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata,’Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka Rasulullah SAW menjawab: ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’(Muttafaqun ‘alaihi) (Al-Albani, 2001 : 82).

    Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, Juz I hal. 388, mengatakan : “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar [rumah] jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).]]

    Karena jilbab itu pakaian terusan, maka tidak dibolehkan untuk mengenakan potongan (terdiri dari dua potong: atas dan bawah). Apakah walaupun sudah menutup aurat, seorang muslimah masih harus mengenakan jubah? Kalau tidak, bagaimana kita memahami hadis di atas?

    Baarokallaahu fiikum wa nafa’a bikum.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Jilbab tidak sama dengan jubah. Jilbab kata Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid adalah, “Pakaian tebal yang digunakan wanita dari kepalanya hingga ke kedua kakinya, yang mana jilbab ini menutupi semua tubuhnya dan juga menutupi pakaian serta perhiasan yang ada di dalamnya.”
    Jilbab inilah yang dinamakan mula`ah, milhafah, rida`, ditsar, dan kisa`. Dan inilah yang dikenal dengan aba`ah yang banyak dipakai oleh wanita di jazirah arab.
    Cara memakainya: Seorang wanita memasukkan jilbab ini pada kepalanya, lalu membiarkannya menutupi khimarnya (penutup kepala sampai ke dadanya) serta menutupi tubuh dan perhiasannya, sampai menutupi kedua kakinya. Jadi, khimar di dalam terlebih dahulu baru jilbab di luar.
    Tidak diragukan, cara seperti ini lebih utama. Tapi yang menjadi masalah, apakah cara selain ini tidak diperbolehkan?
    Yang nampak -wallahu a’lam-, yang menjadi tujuan hijab adalah seorang wanita menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya. Karenanya kapan seorang wanita telah menutupi seluruh tubuh dan perhiasannya walaupun dengan menggunakan dua kain atau dua potongan, maka dia telah melaksanakan perintah. Karenanya kami tidak sependapat dengan yang tidak membolehkan memakai dua potongan. Yang benarnya hal itu diperbolehkan insya Allah, berdasarkan dalil-dalil umum akan syariat hijab, dimana dalil-dalil tersebut tidak menyebutkan kaifiat tertentu dalam memakai hijab tersebut.
    Hanya saja kembali kami tekankan bahwa cara yang disebutkan di atas, itulah yang lebih utama. Wallahu a’lam

    O ia, terkait beberapa atsar sebagian sahabat yang antum pertanyakan. Alhamdulillah kami sempat menanyakan hal itu kepada Asy-Syaikh Abdullah Mar’i di makassar kemarin. Ana sudah memahami makna jawaban beliau, akan tetapi sengaja belum ana tampilkan karena ana masih menunggu rekaman nash ucapan beliau untuk ana terjemah. Insya Allah menukil ucapan beliau sesuai lafazhnya itu lebih berberkah.

  8. ummu hanif said:

    assalamu’alaykum, sekarang ini hari jum’at sdh identik dengan hari batik. sementara bagi lelaki muslim ada shalat jum’at. sangat disayangkan sekali teman kantor ana yg biasanya pakai baju koko utk shalat jum’at sekarang ini beralih ke batik dengan alasan hari batik nasional. mohon bantuannya agar ana dapat mengingatkan teman ana dengan ilmu dan santun. jazakallahu khair

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Saya rasa tidak ada yang butuh dipermasalahkan di sini, selama pakaian yang dikenakan untuk shalat adalah menutup apa yang seharusnya ditutup dan dianggap sopan juga oleh manusia. Lagipula baju koko bukanlah pakaian yang diharuskan dalam shalat jumat dan juga shalat selainnya. Bahkan menurut pengabaran beberapa ikhwan, bahwa di bekasi sini ada sebuah tempat dimana umat nashrani datang ke gereja dengan memakai koko dan kopiah hitam. Mereka beralasan bahwa kedua pakaian ini adalah pakaian nasional betawi dan bukan pakaian khusus umat Islam.
    Ala kulli hal, kembali kepada inti permasalahan, tidak ada yang butuh dipermasalahkan dari teman anda yang memakai batik dalam shalat jumat, selama apa yang kami sebutkan di atas terpenuhi. Wallahu a’lam

  9. umar m alfath said:

    assalamu’alaikum wr wb.
    saya mau tanya, kalau fungsi sorban untuk apa ya? selama ini saya sholat dengan sorban,tapi sorban tersebut saya pakai untuk sajadah ( alas sujud )sekaligus sebagai pembatas dalam sholat ?
    bagaimana idealnya kita berpakaian saat sholat menurut sunnah rosul ?
    trimakasih atas jawaban yang diberikan, mohon dijawaban di cc kan ke email saya.
    wasalamu’alaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Sorban itu dipakai dan dililitkan di kepala. Hukumnya sunnah jika dia meniatkan untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Adapun pakaian dalam shalat maka:
    1. Menutup apa yang diperintahkan oleh syariat untuk ditutup.
    2. Tidak ketat dan transparan yang karenanya aurat bisa terlihat atau terbentuk.
    3. Tidak ada sesuatu pada pakaian tersebut yang bisa membuat orang yang shalat atau orang di belakangnya menjadi tidak khusyu’.
    4. Hendaknya memakai pakaian yang sopan dan indah, karena dia akan menghadap Allah Ta’ala.
    Tentunya disertakan dengan ketentuan pakaian secara umum, seperti:
    1. Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
    2. Bukan pakaian syuhrah.
    3. Tidak isbal (menutupi mata kaki) bagi laki-laki.
    Wallahu a’lam

  10. Icha said:

    Assalamu’alaikum Ustadz…
    Pak Ustadz, apa hukumnya bila ada seorang pedagang grosiran sembako membuat suatu kesepakatan dgn seorang pemilik modal,sipemilik modal meminjam kan uang sebesar 20 jt,pd saat uang tsb diberikan pemilik modal memotong bunga modal sebesar 1 jt , lalu pemilik modal setiap hari mengutip uang sebesar 400 ribu selama 50 hari, apakah kerjasama ini halal Pak Ustadz? Trimakasih sebelumnya atas jawabannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ini tidak halal karena merupakan transaksi riba dalam hutang piutang. Dimana hakikatnya dia pinjam uang hanya 20jt tapi dikembalikan 21jt.

  11. albantuly said:

    Bismillah. Assalamu’alaikum.
    Mohon djelaskan secara terperinci mengenai pakaian syuhrah dan syarat2 suatu pakaian trmasuk syuhrah.
    Apakah stiap yg brbeda dgn apa yg dpakai masyarakat tmsuk syuhrah?
    Krna ana bingung ktika smpat mmbaca artikel d http://www.ustadzaris.com yg bjudul Memakai Kopiah di Kampus.
    Atas jawabannya ana ucapkan jazakumullahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Jawaban masalah ini dan yang semisal dengannya sudah kami sebutkan pada salah satu komentar dari komentar-komentar terhadap artikel ini, silakan dibaca semua komentar yang ada.

  12. Ferry said:

    Assalamu’alaikum Ustadz…

    Apakah dibolehkan laki-laki sholat dengan menggunakan kaus kaki.

    Trimakasih sebelumnya atas jawabannya.
    wasalamu’alaikum

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Ia boleh, ini sama halnya dengan shalat menggunakan khuf (sepatu yang menutupi mata kaki) yang pembolehannya tersebut dalam banyak hadits.

  13. Sandy said:

    Assalamu’alaikum warokmatullahi wabarokatuh.
    Pa ustadz, sebelumnya minta maaf y, mo tanya seputar perhiasan?
    Kn sekarang banyak penomena laki-laki memakai gelang tangan n semisalnya (gelang magnet, bioFir/UV,karet,manik2 n jenis besi-besian lainnya?
    1. Apakah ini diperbolehkn menurut hukum islam (sunnah Rasulullah).
    2. Minta dcantumkan dalil2 n hadistnya y pa ustadz.

    Pa ustadz mohon maaf ngerepotkan lg nih?
    1. Ada nga artikel hukum Salam Ass wr wb / Askum, sbagai ganti salam Assalamu’alaikum, sebab wabah penomena sekarang kebanyakan penguna dunia chet shalamnya dsingkat-singkat gtu,,pernah sya tanya kpda pnguna?knpa ko disingkat Salamnya?,jawabnya kn cuman tulisan n yang pnting yg lain tau.
    2. N Artikel Shalat Berjamaah pa ustadz soal Shalat berjamaah n gerakan Shalat menurut sunnah Rasulullah (adab-adabnya). Permasalahanya dilihat dari penomena shalat tarawih, yg mana apabila jamaah sudah melakukan shalat 8 rakaat? Sbagian jamaah pulang n sebagian lg nyambung 23 rakaat? Tp berjamaahnya terpencar2 pa, ada y dpojokan n ada yg dsaf belakang, pdahal ddepannya msh kosong..mo dkasih tau segan krna bapa-bapa n dah pd berumur semua..n juga sebab pengetahuan agama sya minim jg pa,taunya low berjamaah lurus saf n rapat barisan ja.

    Pa Ustadz, maaf y low ngerepotin n bnyak nanyanya,tas pengetahuan makasih banget y Pa Ustadz.
    Moga pa Ustadz n tim selalu dberi kerkahan ilmu, rahmat n keselamatan dunia n akhiratnya. Amin Insyaallah : – ).

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Jika gelang dipakai dengan maksud kesehatan seperti gelang magnet, bioVir, dan seterusnya maka: Kalau memang terbukti secara klinis maka insya Allah tidak mengapa karena tidak ada dalil yang melarang berobat dengan cara seperti ini. Tapi jika dipakai bukan dengan maksud kesehatan maka sebaiknya ditinggalkan karena khawatir termasuk ke dalam tasyabbuh (penyerupaan) kepada wanita. Wallahu a’lam
    2. Kebiasaan menyingkat salam merupakan kebiasaan yang jelek dan harus ditinggalkan walaupun semua orang sudah paham maksud singkatan tersebut. Ucapan salam adalah doa seorang muslim untuk saudaranya, jika dia menyingkatnya maka hilanglah makna doanya.

  14. putri said:

    saya gadis berusia 19 tahun, baru seminggu saya memakai jilbab. godaannya sungguh banyak. disekeliling saya banyak sekali yg tidak memakai bahkan teman2 dekatpun tidak. seringkali terlintas dipikiran saya untuk melepasnya. saya juga memakai jilbab juga belum sempurna. walau sudah menutup dada tp saya masih menggunakan legging. bila begitu, percumakah saya memakai jilbab? dan apabila saya sering berpikiran untuk buka,apakah Allah akan marah pd saya?

    Tidak ada kebaikan yang percuma jika dikerjakan dengan ikhlas. Dan yakinkan diri anda bahwa Allah akan marah kepada anda jika anda melepaskan jilbab, bahkan dengan kemarahan yang lebih daripada kemarahan-Nya kepada anda ketika anda tidak memakai jilbab.
    Adapun jilbabnya belum sempurna, maka hendaknya dia bersyukur kepada Allah atas hidayah yang diberikan kepada anda untuk memakai jilbab, sambil terus-menerus meminta tambahan hidayah dan kekuatan iman agar bisa menyempurnakan jilbab yang anda pakai.
    Untuk mempertahankan apa yang sudah ada, sebaiknya anda mencari teman-teman bergaul yang juga berjilbab, mengikuti kajian-kajian guna mempertebal keimanan, dan menghindari teman-teman jelek yang bisa mempengaruhi cara perpakaian anda yang sudah bagus.

  15. ENI said:

    assalamu’alaikum..
    alhamdulillah sy sdah 4thn memakai jilbab. buat saya banyak sekali manfaatnya. tapi banyak lelaki tidak suka melihat sy seperti ini, bahkan jarang laki2 yang mau mendekati sy. pa lagi dengan umur sy yang smakin bertambah, membuat sy berfikitran. tolong bantuannya ustaz

    Waalaikumussalam.
    Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Insya Allah masih banyak lelaki saleh yang ingin menikah dengan wanita yang berjilbab. Mungkin saudari bisa meminta bantuan kepada orang alim yang ada di daerah saudari.

  16. ummu yahya said:

    assalamu’alaykum
    ustadz, apa hukumnya wanita sholat, dan berpakaian menggunakan sarung? “sarung” di sini adalah sarung yang kotak2 yang biasa dikenakan oleh laki-laki. Namun, tidak jarang ana melihat di negeri kita, sarung ini juga dikenakan oleh wanita. Apakah hal ini (ana sebagai wanita) ketika mengenakan sarung tsb termasuk melakukan tasyabuh bir rijaal? karena ana pernah ditegur oleh seseorang ketika sholat mengenakan bawahan sarung. Mohon penjelasannya..

    jazaakumulloohu khoiyron

    Waalaikumussalam.
    Yang termasuk perbuatan menyerupai lelaki adalah memakai pakaian yang khusus bagi lelaki. Adapun pakaian yang dipakai umum oleh lelaki dan wanita -seperti sarung di sini-, maka ini tidaklah mengapa dan bukan termasuk tasyabbuh.

  17. Pramudya said:

    assalamualaikim ustad, ana mw bertanya apakah hukumnya memakai celana jeans. Syukron ustad.

    Jika ketat dan membentuk aurat maka hal itu dilarang.

  18. Rinalldy said:

    assalamualaikim ustad,saya mw tanya, klo laki” sholat trus make gelang karet, itu boleh gak..???
    SYOKRON USTADZ…:)

    Waalaikumussalam.
    Shalatnya syah.

  19. Moh.Rif'an Saiq said:

    *Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    *Ustadz saya mau tanya…
    *Ada temen saya, Setiap hari dia tuh selalu memakai lensa di matanya. saya sendiri tidak tau tujuan temen saya itu memakai lensa tersebut, apakah hanya untuk bergaya saja atau yang lainnya.
    Padahal yang saya tahu kalo memakai lensa di matakan bisa merusak mata tersbut.

    * Yang saya tanyakan, Kalo hukumnya orang memakai lensa di mata tuh apa ???…

    jazaakumulloohu khoiyron…
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    Waalaikumussalam.
    Jika memang ada efek samping merusak, maka tidak boleh menggunakannya dengan dalil umum larangan mencelakakan diri.
    Dan jika tujuannya untuk merubah tampilan mata sehingga lebih indah terlihat oleh orang, maka hal ini tidak diperbolehkan karena termasuk dari perbuatan dusta.

  20. nadya said:

    Assalamualaikum
    Ustad,apakah bpleh seorang wanita berdandan,jika saya keluar rumah saya hanya memakai alas bedak dan bedak nya saja,dan itu tidak pula terlalu tebal,apakah itu dilarang?
    Mohon jawabannya ya ustad.

    Waalaikumussalam.
    Ya, itu termasuk berhias yang dilarang bagi wanita. Apalagi jika dia menampakkan aurat.

  21. Andi said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    1.Jadi pakaian yang syar’i untuk shalat itu sebenarnya kayak gimana pak ustadz?
    2.Terus bagaimana jika keadaanya itu seperti ini pak ustadz saya sedang berada di kampus terus saya mau shalat di mesjid dekat kampus tapi yang saya pakai saat itu cuman baju kaos oblong saja sama celana jeans atau levis kan tidak mungkin pak ustadz saya mau cari sarung lagi sementara yang saya pakai saat itu cuman itu adanya tapi saya biasa melipat celana saya pak ustadz hingga tidak melewati mata kaki saya ketika mau shalat kalau begitu hukumnya gimana pak ustadz?
    3.oh iya satu lagi pak ustadz bagaimana hukumnya shalat tapi maaf tidak mengenakan pakaian dalam apakah itu merupakan bid’ah atau tidak?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Yang penting menutup aurat dan tidak ketat.
    2. Kalau celana jeansnya ketat, maka sebaiknya anda menutupinya dengan sarung, kalau bisa membawa sarung dari rumah. Yang lainnya (kaos oblong) insya Allah sudah cukup. Tapi lebih baik lagi kalau bisa berpakaian ‘Islami’ dalam shalat.
    3. Tidak mengapa, hukumnya boleh dan tidak salah.

  22. Adi said:

    Assalamualaikum
    Ustad mau tanya nih apakah tidak mengapa kalau kita sholat trus memakai baju yang berwarna merah atau hitam?
    terus bagaimana hukumnya memakai peci,kopiah,songkok atau apalah namanya dalam sholat apakah itu termasuk sunnah atau wajib atau kah tidak mengapa kita sholat tanpa memakai penutup kepala?

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca di sini untuk pakaian berwarna: http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3114-hukum-pria-memakai-pakaian-warna-kuning-dan-merah.html
    Penutup kepala seperti di atas tidak wajib dan tidak juga sunnah dipakai. Jadi boleh saja shalat tanpa penutup kepala.

  23. zaki said:

    assalamu’alaikum ustadz

    bgini ustadz, saya mau bertanya..
    apakah di benarkan sholat dg hanya mengenakan busana kaos dalam tanpa kerah bahu (singlet) dg bawahan celana pendek yg panjangnya di bawah lutut?

    karena saya pernah mengetahui suatu jama’ah yg membolehkan berpakaian sholat macam itu. bila hal tsbt tidak di benarkan mohon ustadz sertakan hadist shahihnya.

    mohon pencerahannya,
    terima kasih banyak
    ———————–
    wassalamu’alaikum.wr.wb

    Waalaikumussalam.
    Tidak dibenarkan. Karena orang yang shalat harus menutupi kedua bahunya dengan pakaian saat shalat.

  24. ilma said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz, ana ingin tanya.

    1. Bolehkah memakai “bros” saat mengenakan jilbab?
    2. Apakah berjualan “bros” diperbolehkan dalam islam?
    3. Pekerjaan apa yang cocok bagi seorang wanita muslimah yang ingin bekerja?
    4. InsyaALLAH saat hari raya Idul Adha ana ingin ikut lomba pidato, ana ingin mengambil tema mengenai “Larangan Berpacaran” mohon dicarikan artikel islam mengenai Larangan Berpacaran.

    Mohon penjelasannya Ustadz,
    Jazakallahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    1. Boleh saja, asalkan tidak diperlihatkan kpd non mahram.
    2. Boleh saja.
    3. Ngurus rumah, suami dan anak-anak (klo dah ada. Klo belum, segera cari)
    4. Anda bisa search d google, insya Allah banyak.